UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Adab dan Ilmu Budaya
Not a member yet
607 research outputs found
Sort by
Measuring the Influence of Philosophy on Arab Balaghah: A Critical Study of Amin al-Khuli\u27s Thought
Abstract: This article aims to explore the relationship between philosophy and balaghah, as well as the mutual influence between the two, focusing on Amin al-Khuli\u27s “Manahij Tajdid Fi al-Nahw Wa al-Balaghah Wa al-Tafsir Wa al-Adab.” The relationship between philosophy and balaghah is a rarely discussed topic, so this article offers a new perspective on the study of Arabic literature and philosophical thought. In this study, the main sources analyzed are al-Khuli\u27s works as well as several relevant articles and books, both those that discuss al-Khuli\u27s thoughts directly and those that highlight the historical development of philosophy and balaghah. The method used is descriptive-analytical, in which the research deeply examines primary and secondary literature related to the topic. The author attempts to identify the elements of philosophy in classical balaghah works, as well as to trace the traces of philosophical thought in the balaghah tradition. The research also examines the important role of the translation of Aristotle\u27s works into Arabic, which enriched the development of both disciplines. The results show that philosophical thought has long been present in the works of balaghah figures. This influence can be seen in written works that combine elements of philosophy and balaghah. Furthermore, the translation of classical Greek philosophical texts by Arab scholars further reinforced the importance of understanding philosophy for balaghah scholars. In conclusion, the relationship between philosophy and balaghah is mutually influential. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara filsafat dan balaghah, serta pengaruh timbal balik antara keduanya, dengan fokus pada karya Amin al-Khuli yang berjudul Manahij Tajdid Fi al-Nahw Wa al-Balaghah Wa al-Tafsir Wa al-Adab. Hubungan antara filsafat dan balaghah merupakan topik yang jarang dibahas, sehingga artikel ini menawarkan perspektif baru dalam kajian sastra Arab dan pemikiran filosofis. Sumber utama yang dianalisis adalah karya-karya al-Khuli serta beberapa artikel dan buku relevan lainnya, baik yang membahas pemikiran al-Khuli secara langsung maupun yang menyoroti perkembangan historis filsafat dan balaghah. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analitis dengan menelaah secara mendalam literatur primer dan sekunder yang berkaitan dengan topik. Penulis berupaya mengidentifikasi elemen-elemen filsafat dalam karya-karya balaghah klasik, serta menelusuri jejak pemikiran filosofis dalam tradisi balaghah. Penelitian ini juga mengkaji peran penting penerjemahan karya-karya Aristoteles ke dalam bahasa Arab, yang memperkaya perkembangan kedua disiplin ilmu tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran filosofis telah lama hadir dalam karya-karya tokoh balaghah. Pengaruh ini dapat dilihat dalam karya-karya tertulis yang menggabungkan elemen-elemen filsafat dan balaghah. Lebih lanjut, penerjemahan teks-teks filosofis Yunani klasik oleh para sarjana Arab semakin memperkuat pentingnya pemahaman filsafat bagi para ahli balaghah. Kesimpulannya, hubungan antara filsafat dan balaghah saling mempengaruhi satu sama lain
ANALISIS KETERAMPILAN SOSIAL PUSTAKAWAN DI UPT PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS LANCANG KUNING
Social skills are an individual\u27s ability to interact effectively with others in various social situations. These skills encompass how a person communicates, understands, and responds to their needs, emotions, and actions of others in a positive and constructive manner. The purpose of this study was to determine the social skills of librarians at the Library Service Unit of Lancang Kuning University. This research employs a qualitative descriptive method, with the subjects were librarians and library users at the UPT of Lancang Kuning University. The result show that librarians already have good social skills as seen from how librarians respond to librarians who enter wihout following the rules in the library, such as carriying bags into the circulation room, noisy visitors, visitors who bring food and drinks, and users who repeatedly committing mistakes. Furthermore, librarians are willing to listen to users even while engaged in other tasks, addressing their complaints, and understanding their needs. Friendly attitude facilitates effective communication between librarians and the users. Additionally, librarians were capable of delivering verbal statements, such as setting boundaries and actively listening, as well as employing non verbal communication, including facial expressions, hand gestures, vocal intonation, and a professional appearance, to create responsive and communicative interactions
Sunni dan Syi\u27ah: Dinamika Sejarah dan Tantangan dalam Membangun Peradaban Islam Global
Abstract: This research aims to examine the historical dynamics as well as the roles and challenges of Sunni and Shi\u27a in building a global Islamic civilization. Sunni and Shi\u27a as two major sects often have different views and often contradict each other. In addition to cooperation, it is not uncommon for conflicts to decorate the relationship between these two schools. This research is a qualitative research using a literature review. This study shows that historically, Sunni-Shi\u27a differences began with leadership disputes after the death of the Prophet Muhammad (PBUH), which later developed into theological, ideological, and practical differences. The main difference between the two lies in the concept of leadership (caliphate vs. imamah), the source of law, and the view of the Prophet\u27s companions. Conflicts between Sunnis and Shi\u27ites are often triggered by political and geopolitical factors. However, efforts for dialogue, educational reform, and cross-sectarian cooperation also continue to be carried out for the sake of harmonization of relations. Furthermore, the dynamics of relations between Sunnis and Shi\u27a are not solely antagonistic. History records that in addition to conflicts, there were also periods of collaboration and mutual influence between the two, both in the intellectual and cultural fields. These two schools played an important role in building the Islamic scientific tradition. In the context of an increasingly connected and complex world, the challenges faced by Muslims require cross-sectarian solidarity, not sharpening differences. Thus, the future of global Islamic civilization will be largely determined by the ability of Sunnis and Shi\u27a to understand, respect, and work together for the common good.
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika sejarah serta peran dan tantangan sunni dan syi’ah dalam membangun peradaban Islam global. Sunni dan syi’ah sebagai dua aliran besar kerap memiliki perbedaan pandangan dan sering bertentangan. Selain kerjasama, tak jarang konflik menghiasi hubungan kedua aliran ini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan kajian kepustakaan. Penelitian ini menunjukkan bahwa secara historis, perbedaan Sunni-Syi’ah bermula dari sengketa kepemimpinan pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, yang kemudian berkembang menjadi perbedaan teologis, ideologis, dan praktik keagamaan. Perbedaan utama antara keduanya terletak pada konsep kepemimpinan (khilafah vs. imamah), sumber hukum, dan pandangan terhadap sahabat Nabi. Adapun konflik antara Sunni dan Syi’ah seringkali dipicu oleh faktor politik dan geopolitik. Namun demikian, upaya dialog, reformasi pendidikan, dan kerja sama lintas mazhab juga terus dilakukan demi harmonisasi hubungan. Lebih jauh, dinamika hubungan antara Sunni dan Syi’ah tidak semata-mata bersifat antagonistik. Sejarah mencatat bahwa selain konflik, terdapat pula masa-masa kolaborasi dan saling pengaruh di antara keduanya, baik dalam bidang intelektual maupun budaya. Kedua mazhab ini berperan penting dalam membangun tradisi keilmuan Islam. Dalam konteks dunia yang semakin terhubung dan kompleks, tantangan yang dihadapi umat Islam membutuhkan solidaritas lintas mazhab, bukan justru mempertajam perbedaan. Dengan demikian, masa depan peradaban Islam global akan sangat ditentukan oleh kemampuan Sunni dan Syi’ah untuk saling memahami, menghargai, dan bekerja sama demi kemaslahatan bersama.
Historical Synopsis of Nifāq (Hypocrisy) and Prophetic Response in Madinah
Abstract: This historical study investigates the emergence and dynamics of hypocrisy (nifāq) in the early Islamic community of Madinah and explores the strategic responses of Prophet Muḥammad (SAW) in mitigating internal threats posed by the Munāfiqūn (hypocrites). Using a historical-analytical method, the research draws upon primary sources such as the Qur’an, ḥadīth, classical sīrah, and early Islamic historiography, while contextualizing the findings with modern scholarly insights. The study identifies a series of conspiratorial acts orchestrated by ‘Abdullāh b. Ubayy and his followers—ranging from military desertion, rumor-spreading, alliance with enemies, to attempts at division through rival institutions. The analysis demonstrates that the Prophet’s (SAW) leadership was historically grounded in restraint, long-term vision, and political maturity, prioritizing social cohesion over immediate retribution. By interpreting these responses as part of a conscious historical strategy, the research highlights the relevance of the Prophetic model in contemporary Muslim leadership, especially in managing intra-community tensions and ideological fragmentation. This paper contributes to Islamic historical scholarship by revisiting early Madinan society through the lens of conflict and governance and proposes further interdisciplinary research that bridges prophetic leadership with historical and political thought in Islamic civilization.
Abstrak: Studi sejarah ini menyelidiki kemunculan dan dinamika kemunafikan (nifāq) dalam komunitas Islam awal Madinah dan mengeksplorasi tanggapan strategis Nabi Muhammad (SAW) dalam mengurangi ancaman internal yang ditimbulkan oleh Munāfiqūn (munafik). mengunakan metode historis-analitis, penelitian ini mengacu pada sumber-sumber primer seperti Al-Qur\u27an, ḥadīth, sīrah klasik, dan historiografi Islam awal, sambil mengkontekstualisasikan temuan dengan wawasan ilmiah modern. Studi ini mengidentifikasi serangkaian tindakan konspirasi yang diatur oleh \u27Abdullāh b. Ubayy dan para pengikutnya—mulai dari desersi militer, penyebaran rumor, aliansi dengan musuh, hingga upaya perpecahan melalui lembaga saingan. Analisis menunjukkan bahwa kepemimpinan Nabi (SAW) secara historis didasarkan pada pengekangan, visi jangka panjang, dan kematangan politik, memprioritaskan kohesi sosial daripada pembalasan segera. Dengan menafsirkan tanggapan ini sebagai bagian dari strategi sejarah yang sadar, penelitian ini menyoroti relevansi model Profetik dalam kepemimpinan Muslim kontemporer, terutama dalam mengelola ketegangan intra-komunitas dan fragmentasi ideologis. Makalah ini berkontribusi pada keilmuan sejarah Islam dengan meninjau kembali masyarakat Madinan awal melalui lensa konflik dan pemerintahan, dan mengusulkan penelitian interdisipliner lebih lanjut yang menjembatani kepemimpinan profetik dengan pemikiran sejarah dan politik dalam peradaban Islam
REPRESENTING RELIGION AND GENDER STEREOTYPES IN HOMEIRA QADERI’S DANCING IN THE MOSQUE (2020)
This study examines how religion contributes to the construction of gender stereotypes in Afghan society as represented in Homeira Qaderi’s memoir Dancing in the Mosque (2020). The memoir illustrates how patriarchal norms legitimized through religious discourse restrict women’s education, autonomy, and social participation. To analyze this issue, the research applies Susan Lanser’s feminist narratology, which emphasizes the mimetic function of narrative and its connection to lived reality. Through a close reading of narrative elements such as voice, focalization, and symbolic space, the study demonstrates that religion is often instrumentalized to justify cultural practices that sustain gender inequality. At the same time, Qaderi’s act of storytelling functions as a form of resistance, breaking silences, and challenging patriarchal authority by amplifying women’s voices. These findings show that feminist narratology provides an effective framework for linking narrative structures to the realities of Afghan women’s lives. The research underscores the importance of literature in exposing oppression, strengthening feminist critique, and contributing to the discourse on social change
Islamic Legal Review of the Tradition of Laylat al-Henna in Wedding Ceremonies in Arab-Indonesia Descendant Families in Palu City
Abstract: One tradition that is currently still in effect and practiced by the community is the tradition of using henna in wedding ceremonies. The issue that arises in this henna usage tradition is that, with the advancement of technology, various types of henna have proliferated in the market, some of which are mixed with chemicals that can form a waterproof layer, thus making the color of the henna more intense and accelerating absorption. The diversity of henna types has led many people to doubt the naturalness of the ingredients contained in henna paste and may impede purity in worship. The purpose of this research is to analyze the issues related to the use of henna in the context of Islamic law, using empirical legal research methods and a sociology of Islamic law approach. This research then produces several conclusions: first, there are two types in the categorization of henna paste, namely natural henna with a reddish-brown color and black henna, which is the result of mixing natural henna with chemical substances. In the community\u27s view, black henna should not be used. Second, the tradition of using henna in the Arab-Indonesian community in Palu is referred to as Laylat al-Henna, which has symbolic meaning, such as the hope that the prospective bride will soon have offspring, bringing happiness to the family that will be established. The Laylat al-Henna tradition falls into the category of \u27urf shahih because it does not contradict Sharia, both in the text and other legal sources.Abstrak: Penggunaan henna dalam upacara pernikahan masih menjadi tradisi yang umum di masyarakat. Masalah yang muncul dalam tradisi penggunaan henna ini adalah, dengan kemajuan teknologi, berbagai jenis henna telah banyak beredar di pasaran, beberapa di antaranya dicampur dengan bahan kimia yang dapat membentuk lapisan tahan air sehingga membuat warna henna lebih pekat dan mempercepat penyerapan. Keberagaman jenis henna ini membuat banyak orang meragukan kealamian bahan yang terkandung dalam pasta henna dan dapat menghambat kesucian dalam beribadah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis permasalahan terkait penggunaan henna dalam konteks hukum Islam, dengan menggunakan metode penelitian hukum empiris dan pendekatan sosiologi hukum Islam. Penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan: pertama, terdapat dua jenis dalam klasifikasi pasta henna, yaitu henna alami dengan warna merah kecoklatan dan henna hitam yang merupakan hasil campuran henna alami dengan bahan kimia. Dalam pandangan masyarakat, henna hitam sebaiknya tidak digunakan. Kedua, tradisi penggunaan henna di kalangan masyarakat Arab-Indonesia di Palu disebut dengan Laylat al-Henna, yang memiliki makna simbolis, seperti harapan agar calon pengantin segera mendapatkan keturunan, membawa kebahagiaan bagi keluarga yang akan dibentuk. Tradisi Laylat al-Henna termasuk dalam kategori \u27urf shahih karena tidak bertentangan dengan syariat, baik dalam teks maupun sumber hukum lainnya
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KOLEKSI DI PERPUSTAKAAN AKADEMIK NEGARA BAGIAN IMO NIGERIA DAN TANZANIA
Libraries play a strategic role in improving the quality of education by providing informative and relevant collections. Collection development policies are essential, particularly for academic libraries that support theses and research conducted by the academic community. This study employs a literature review method, referencing various sources such as scientific books, journal articles, research reports, and regulations in both printed and electronic formats. Additionally, the study compares two journal articles discussing collection development policies in academic libraries in Africa, namely the Imo State Academic Library and the Tanzanian Academic Library. The findings indicate that both libraries have implemented collection development policies, including selection, acquisition, user studies, preservation, weeding, evaluation, and collaboration. However, the involvement of users in the selection process of library materials remains limited. Therefore, this study recommends increased user involvement in the selection process, the establishment of a Collection Development Department, periodic weeding, and enhanced collaboration among libraries
Humour as a Reflection of Linguistic Intelligence in the Indonesian Language within the Islamic Cultural Context
This study delves into the intricate interplay of humour, psycholinguistics, morphology, themes, rema, and language intelligence in the Indonesian language context. Employing a detailed analysis of seven humorous texts, the research dissects linguistic constructs that emphasize abrupt contextual shifts and cognitive disruptions as the core of Indonesian humour. By investigating the strategic use of themes and rhema, this study reveals how humour often arises from semantic illusions, morphological play, and phonological ambiguity that challenge the reader’s expectations. Through a psycholinguistic lens, it highlights the cognitive processes involved in humour comprehension, demonstrating the pivotal role of language intelligence in detecting and appreciating linguistic incongruities. Additionally, the study connects these humorous strategies to broader Islamic cultural values, such as adab (etiquette), ikhlas (sincerity), hikmah (wisdom), and amanah (moral responsibility), showing how humour reflects ethical communication embedded within Islamic civilisation. The research concludes that humour in Indonesian is a linguistic phenomenon and a reflection of cultural and spiritual intelligence, emphasising how language structure and religious values converge in crafting and appreciating comedic expressio
Menggugat Khilafah Islamiyah: Sejarah Politik Islam dalam Pembacaan Farag Fouda
Abstract: Farag Fouda, a prominent Muslim intellectual who tragically fell victim to the brutality of Islamist fundamentalist groups in Egypt, was one of the key figures who sought to critically examine Islamic history. His exploration and reinterpretation of Islamic political history ultimately made him a target of violent fundamentalist groups in the country. Fouda’s thoughts on the relationship between religion and the state called for a thorough historical inquiry and a new interpretive framework for understanding Islamic political history. This article employs a qualitative-descriptive approach based on library research to analyze Fouda’s critical reflections on the political history of Islam. It aims to present Farag Fouda’s historical perspectives, particularly his critiques of Islamic political history. The article is structured around three main themes: Fouda’s critique of political Islam, his reading of Islamic political history, and his analysis of the historical trajectory from the era of the Khulafa al-Rashidun to the Abbasid period. These thematic categories are formulated based on the assumption that Fouda’s views on the religion-state relationship fundamentally underpin his interpretation of Islamic history. Through his writings, Fouda offers a sharp critique, systematically exposing the weaknesses in the ideological foundations of the Khilafah Islamiyah.
Abstrak: Farag Fouda, tokoh pemikir muslim yang menjadi korban tragis kelompok fundamentalis Islam di Mesir, adalah salah satu tokoh yang berusaha membaca dengan kritis sejarah Islam. Namun, sebab penelusuran dan interpretasinya atas sejarah politik Islam menyebabkan dirinya menjadi sasaran kebrutalan kelompok fundamentalis Islam di Mesir. Pemikiran Farag Fouda tentang hubungan agama dan negara, menghendaki kerja penelusuran sejarahnya pada interpretasi baru atas sejarah politik Islam. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis studi pustaka (library research) untuk memahami pikiran dan pembacaan kritis Fouda atas sejarah politik Islam. Artikel ini akan menyajikan pemikiran historis Farag Fouda atas sejarah Islam, terutama mengenai Sejarah politik Islam. Ketegori pembahasan dalam artikel ini adalah mengenai; Kritik Farag Fouda tentang Islam Politik; Pembacaannya atas sejarah Islam Politik; dari masa khulafa’aurrasyidun hingga masa Abbasiyah. Kategori pembahasan tersebut dirumuskan berdasarkan asumsi bahwa pemikiran Farag Fouda mengenai hubungan agama dan negara, sesungguhnya ikut serta melandasi interpretasinya terhadap sejarah Islam. Fouda menyajikan kritik dalam pembacaannya, ia menguraikan dengan baik kelemahan-kelemahan argumen khilafah Islamiyah.
عبد القاهر الجرجاني مادحًا نظام الملك: استغلال الفضاء الأدبي للدعم السياسي وعلاقة المثقّف بالسلطة في الإسلام الكلاسيكي
اشتهر عبد القاهر الجرجاني بوصفه أبرز منظري البلاغة العربية. غير أن سيرته الذاتية لم تزل شحيحة بالمعلومات عن حياته، لا سيما فيما يتعلق بالجوانب الاجتماعية والسياسية المحيطة به. ومن الجدير بالدراسة قيامه بمدح نظام الملك - الوزير السلجوقي - من خلال أبيات شعرية. وهذا مثير للتساؤل، إذ إنه، إلى جانب كونه لغويا، كان معروفًا أيضًا بالزهد، الأمر الذي تناقض في الظاهر مع مدحه للحاكم. علاوة على ذلك، استخدم الجرجاني في مدحه الشعر، وهو أهمّ أشكال أدبية تتمتع بالمكانة العليا في نظام التواصل العربي. ستُجيب هذه الدراسة على سبب إنشاء الجرجاني أبياتا شعرية في مدح نظام الملك، بالرغم من تناقضها مع نزعته الزهدية، وكيف تبلورت العلاقة بين المثقفين والسلطة السياسية في هذه الحالة. بعد تحليل المعطيات بواسطة مقاربة تحليل الخطاب النقدي، توصّل الباحث إلى أن شعر الجرجاني تم صياغته كدعم فكري للنظام الذي دعم الخطاب الديني المشترك بين الكيانين، حيث يتمثّل ذلك في المذهبين الشافعي والأشعري. وتسفر العلاقة بين الجرجاني ونظام الملك تناغمًا متبادلًا بين السلطتين المعرفية والسياسية في الإسلام الكلاسيكي. فكان النظام بحاجة إلى دعم المثقّفين لكسب الشرعية والشعبية؛ وفي المقابل، قامت السلطة السياسية بدعم المثقّفين من خلال الترسيم الأيديولوجي لمدرستهم الفكرية، الأمر الذي يمكّن من انتشار الأيديولوجيا التي يتبناها المثقفون.Sebagai perumus balagah, ‘Abd al-Qāhir al-Jurjānī bukanlah sosok yang asing. Namun, rekam biografinya masih sangat minim, apalagi ulasan tentang sisi sosio-politik yang melingkupinya. Di antara yang bisa digali adalah puisi madah yang dia gubah untuk Niẓām al-Mulk, perdana menteri Dinasti Seljuk. Dalam konteks al-Jurjānī, ini menjadi unik, karena selain sebagai seorang linguis, ia juga dikenal akan kecenderungan zuhudnya, yang secara lahiriah kontradiktif dengan pujiannya terhadap penguasa. Lebih jauh, al-Jurjānī tidak hanya memuji melalui ucapan profan, tetapi melalui puisi, karya sastra yang memiliki tempat penting dalam sistem komunikasi Arab. Riset ini akan menjawab mengapa al-Jurjānī menggubah puisi untuk memuji Niẓām al-Mulk padahal itu berlawanan dengan kezuhudannya; dan bagaimana relasi kaum intelektual dengan otoritas politik pada kasus ini. Setelah data dianalisis dengan pendekatan analisis wacana kritis, kesimpulannya adalah bahwa puisi al-Jurjānī digubah sebagai dukungan kaum intelektual terhadap rezim yang menyokong wacana keagamaan yang sama-sama dianut oleh entitas mereka berdua, yaitu mazhab Syafi\u27i dan Asy\u27ari. Relasi al-Jurjānī dan Niẓām al-Mulk menunjukkan simbiosis timbal balik antara otoritas intelektual dan otoritas politik dalam Islam klasik. Rezim membutuhkan dukungan kaum intelektual untuk mendapatkan legitimasi dan popularitas. Sebaliknya, dukungan otoritas politik berupa formalisasi ideologi oleh rezim akan memfasilitasi penyebaran ideologi yang dianut oleh kaum intelektual.Tulisan ini bertujuan untuk memperjelas relasi antara entitas intelektual dan entitas politik di era Islam klasik, sebagaimana tercermin pada hubungan antara ‘Abd al-Qāhir al-Jurjānī dan Niẓām al-Mulk, yang mana al-Jurjānī telah menggubah puisi pujian untuk Niẓām al-Mulk. Fenomena ini dapat menimbulkan tanda tanya serius tentang motivasi atau alasan khusus di baliknya, mengingat bahwa al-Jurjānī selalu dikenal hanya sebagai seorang perumus teori balagah Arab, sedangkan Niẓām al-Mulk terkenal sebagai tokoh dinasti Seljuk yang bekerja sebagai perdana menteri selama beberapa waktu di bawah beberapa raja mereka. Fakta bahwa ‘Abd al-Qāhir adalah seorang yang zuhud yang berlepas diri dari kemewahan dunia dan berbagai impaknya, menjadikan masalah ini semakin rumit. Apa yang ia lakukan dalam memuji rezim politik dapat dianggap tercela dalam diskursus tasawuf. Lebih jauh, al-Jurjānī tidak hanya memujinya melalui ucapan profan, tetapi melalui puisi, suatu jenis karya sastra unik yang memiliki tempat penting di antara sistem komunikasi Arab. Berdasarkan hal itu, isu penelitian ini terbagi dalam dua pertanyaan: Pertama, mengapa ‘Abd al-Qāhir al-Jurjānī menggunakan ruang sastra itu untuk memuji menteri Niẓām al-Mulk, padahal al-Jurjānī dikenal seorang zuhud yang menghindari politik? Kedua, bagaimana relasi kaum intelektual dengan kekuasaan politik yang tampak dalam kasus ‘Abd al-Qāhir dan Niẓām al-Mulk? Untuk menjawab dua masalah ini, peneliti menganalisis data menggunakan pendekatan analisis wacana kritis Norman Fairclough, serta temuan penelitian yang relevan dan beberapa pendekatan prosedural sekunder. Akhirnya, peneliti sampai kepada dua kesimpulan berikut: Pertama, puisi ‘Abd al-Qāhir, sebagai karya dalam ruang sastra yang dikhususkan untuk Niẓām al-Mulk, menunjukkan dukungan kaum intelektual terhadap rezim yang menyokong wacana keagamaan yang sama-sama dianut oleh entitas intelektual dan rezim tersebut. Menurut para sejarawan, al-Jurjānī dan Niẓām al-Mulk keduanya adalah penganut mazhab Syafi\u27i dan juga Asy\u27ari. Niẓām al-Mulk juga memanfaatkan kekuatan politiknya untuk memberikan dukungan terhadap penyebaran kredo-kredo Asy\u27ari dan menjalankan yurisprudensi Syafi\u27i melalui mazhab di institusi-institusi pendidikan yang didirikannya. Di sisi lain, al-Jurjānī telah merumuskan teori retorika berdasarkan diskursus teologis Asy\u27ari dan pada saat yang sama mencoba untuk melawan para penentangnya (terutama kaum Mu\u27tazilah) dan menyingkirkan mereka dari otoritas pengetahuan. Tujuan bersama dan kesamaan diskursif memotivasi ‘Abd al-Qāhir untuk menggubah puisi untuk memuji Niẓām al-Mulk, terlepas dari tradisi kaum zuhud terhadap para penguasa. Kedua, relasi Abd al-Qahir al-Jurjānī dan Niẓām al-Mulk menunjukkan kekuatan kemitraan yang bersimbiosis timbal balik antara otoritas intelektual dan otoritas politik dalam Islam klasik. Rezim membutuhkan dukungan kaum intelektual untuk mendapatkan legitimasi dan popularitas. Sebaliknya, dukungan otoritas politik berupa formalisasi ideologi oleh rezim akan memfasilitasi penyebaran ideologi yang dianut oleh kaum intelektual