Open Journal System (OJS) Universitas Bengkulu
Open Journal System (OJS) Universitas BengkuluNot a member yet
14213 research outputs found
Sort by
“THE RELATIONSHIP BETWEEN ARM MUSCLE STRENGTH, BACK MUSCLE STRENGTH, LEG MUSCLE STRENGTH, AND HAND-EYE COORDINATION WITH THE OVERHEAD VOLLEYBALL SERVING ABILITY OF MALE STUDENTS AT SMP 12 BENGKULU CITY”: “THE RELATIONSHIP BETWEEN ARM MUSCLE STRENGTH, BACK MUSCLE STRENGTH, LEG MUSCLE STRENGTH, AND HAND-EYE COORDINATION WITH THE OVERHEAD VOLLEYBALL SERVING ABILITY OF MALE STUDENTS AT SMP 12 BENGKULU CITY”
In performing a volleyball serve, arm muscle strength, back muscle strength, leg muscle strength, and hand–eye coordination make a fairly dominant contribution. Therefore, this study aims to determine the relationship between arm muscle strength, back muscle strength, leg muscle strength, and hand–eye coordination with the overhand serving ability of male students at junior high school 12 bengkulu city. this research is correlational and uses a survey method with test and measurement instruments. the subjects of the study were 16 male students of junior high school 12 bengkulu city. the data analysis technique used regression analysis at a 5% significance level. based on the results of the study, the first hypothesis test obtained a calculated r value of 0.770 > r table (0.05)(15) = 0.412. the second hypothesis test obtained a calculated r value of 0.698 > r table (0.05)(15) = 0.412. the third hypothesis test obtained a calculated r value of 0.784 > r table (0.05)(15) = 0.412. the fourth hypothesis test obtained a calculated r value of 0.809 > r table (0.05)(15) = 0.412. the fifth hypothesis test obtained a calculated f value of 17.443 > f table (3.36). it can be concluded that there is a significant relationship between arm muscle strength, back muscle strength, leg muscle strength, and hand–eye coordination with the overhand volleyball serving ability of male students at junior high school 12 bengkulu city.Dalam melakukan servis voli, kekuatan otot lengan, kekuatan otot punggung, kekuatan otot kaki, dan koordinasi tangan–mata memberikan kontribusi yang cukup dominan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kekuatan otot lengan, kekuatan otot punggung, kekuatan otot kaki, dan koordinasi tangan–mata dengan kemampuan servis overhand siswa laki-laki di SMP 12 Kota Bengkulu.
Penelitian ini bersifat korelasional dan menggunakan metode survei dengan instrumen tes dan pengukuran. Subjek penelitian adalah 16 siswa laki-laki di SMP 12 Kota Bengkulu. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi dengan tingkat signifikansi 5%.
Berdasarkan hasil penelitian, uji hipotesis pertama memperoleh nilai r hitung sebesar 0,770 > r tabel (0,05)(15) = 0,412. Uji hipotesis kedua memperoleh nilai r hitung sebesar 0,698 > r tabel (0,05)(15) = 0,412. Uji hipotesis ketiga memperoleh nilai r hitung sebesar 0,784 > r tabel (0,05)(15) = 0,412. Uji hipotesis keempat memperoleh nilai r hitung sebesar 0,809 > r tabel (0,05)(15) = 0,412. Uji hipotesis kelima memperoleh nilai F hitung sebesar 17,443 > F tabel (3,36).
Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kekuatan otot lengan, kekuatan otot punggung, kekuatan otot kaki, dan koordinasi tangan–mata dengan kemampuan servis overhand voli siswa laki-laki di SMP 12 Kota Bengkulu.
Kata kunci: kekuatan otot lengan, kekuatan otot punggung, kekuatan otot kaki, koordinasi tangan–mata, servis overhan
Development Of Basic Attacking Technique Training Using The Feet In Teqball Games For Pjkr Students Of The Class Of 2025
This study aims to develop a basic attack technique training model using the feet in Teqball for Physical education, health, and recreation (PJKR) students at Tadulako University. The research method used is Research and Development (R&D) with reference to the ten steps of Borg and Gall, including needs analysis, planning, initial product development, expert validation, revision, and phase I and II trials. The research subjects consisted of 15 students in the small group trial and 20 students in the large group trial, with the instrument being a rating scale questionnaire. The results of the phase I trial showed that several training models had met the feasibility criteria with a percentage range of 60%–77%, but several models needed to be revised because they were below 50%. After the revision, the phase II trial showed a significant improvement, where most models were in the “used” category with a percentage of 67%–98%. Validation by Teqball experts and learning experts also showed a high level of feasibility with a percentage of 67%–73%. Overall, the development of ten training models—ranging from two-touch attacks to reflex kicks—proved to be feasible and could be used as a learning and training tool to improve foot-attacking skills in Teqball.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model latihan teknik dasar menyerang menggunakan kaki dalam permainan Teqball bagi mahasiswa PJKR Universitas Tadulako. Metode penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan mengacu pada sepuluh langkah Borg and Gall, meliputi analisis kebutuhan, perencanaan, pengembangan produk awal, validasi ahli, revisi, serta uji coba tahap I dan II. Subjek penelitian terdiri atas 15 mahasiswa pada uji coba kelompok kecil dan 20 mahasiswa pada uji coba kelompok besar, dengan instrumen berupa angket skala penilaian. Hasil uji coba tahap I menunjukkan bahwa beberapa model latihan telah memenuhi kriteria kelayakan dengan kisaran persentase 60%–77%, namun beberapa model perlu direvisi karena berada di bawah 50%. Setelah revisi, uji coba tahap II menunjukkan peningkatan signifikan, di mana sebagian besar model berada pada kategori “digunakan” dengan persentase 67%–98%. Validasi ahli Teqball dan ahli pembelajaran juga menunjukkan tingkat kelayakan tinggi dengan persentase 67%–73%. Secara keseluruhan, pengembangan sepuluh model latihan—mulai dari serangan dua sentuhan hingga tendangan refleks—terbukti layak dan dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran maupun latihan untuk meningkatkan kemampuan menyerang menggunakan kaki dalam Teqball
Kontribusi Kegiatan Literasi Membaca Dasar, Minat Membaca, dan Kebiasaan Membaca Terhadap Kemampuan Membaca Siswa
Literacy is the ability to speak and think. Reading ability as one of the important elements of basic literacy skills, is contained in the elements of language literacy. This study aims to analyze the Contribution of Basic Reading Literacy Activities, Reading Interest, and Reading Habits to Students' Reading Comprehension Ability. This study uses a quantitative approach and Descriptive-Correlative method. The population of this study was third semester students of the Indonesian Language Education Study Program, FKIP, Bengkulu University. The research sample used purposive sampling (a sample with a specific purpose) of 33 class A students. Data collection used questionnaire and test techniques. The research instruments were (1) questionnaires to collect data on basic literacy activities, reading interest, and reading habits, with the option of using a five-point scale and (2) tests to collect data on reading comprehension abilities in the form of multiple-choice tests. The research instruments were questionnaires and reading ability tests that had been piloted. The main data analysis technique used multiple regression (R) and the Effective Contribution (SE%) formula to determine the contribution of all variables. The results of the study indicate that there is a positive and highly significant relationship between the independent variables and the dependent variable (R=0.729; F=10.954). With a large Effective Contribution (SE) of Basic Literacy Activities, Reading Interest, and Reading Habits to Students' Reading Ability of 53.1% and the remaining 46.9% is a contribution outside the three independent variables. Specifically, the effective contribution (SE) of the variables (1) Basic Reading Literacy Activities of 45.72%, (2) Reading Interest of 3.65%), and (3) Reading Habits of 3.72%). These results indicate that the large contribution to students' reading ability is not only determined by these three variables but is also determined by other variables. However, the largest effective contribution of the three variables that influence the dependent variable is obtained from the basic reading literacy activity variable
ANALISIS RESPON DAYA PEMANAS PADA FASILITAS HEATING CONTROL
Currently the Fassip-01 strand to Fassip-07 uses a control system of two positions (on-off) in controlling heaters to maintain stopping conditions when experiments are carried out. Nuclear Termofluidal System Research Group Develops the Heating Control Facility that functions as a Heating Control System Test Facility using PID system control (proportional integral derivative) to overcome the problem of existing residual heat due to the use of the Kend system This test was conducted to find out the analysis of 4 heater power before the experiment took place and analyzed RTM (Risetime) Setpoint 40.45, and 50 degrees. In this experiment the method used was an experiment so that the results were obtained in the form of accuracy values, heater positions, high energy consumption, poor power settings, large residual heat and time difference ratio in each setpoint.Saat ini Fassip-01 Strand to Fassip-07 menggunakan sistem kontrol dua posisi (on-off) dalam mengendalikan pemanas untuk mempertahankan kondisi berhenti ketika eksperimen dilakukan. Kelompok Penelitian Sistem Termofluidal Nuklir mengembangkan fasilitas kontrol pemanasan yang berfungsi sebagai fasilitas uji sistem kontrol pemanas menggunakan kontrol sistem PID (derivatif integral proporsional) untuk mengatasi masalah panas residu yang ada karena penggunaan poin KENT. Dalam percobaan ini metode yang digunakan adalah percobaan sehingga hasilnya diperoleh dalam bentuk nilai akurasi, posisi pemanas, konsumsi energi tinggi, pengaturan daya yang buruk, panas residu besar dan rasio perbedaan waktu di setiap setpoint
Keanekaragaman Jenis Kupu-Kupu (Subordo Rhopalocera) di Pulau-Pulau Kecil Bagian Selatan Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau
Kupu-kupu merupakan serangga yang tergolong dalam ordo Lepidoptera yang memiliki keunikan pada warna dan bentuk sayapnya, serta memegang peranan penting dalam ekosistem. Kupu-kupu berperan penting sebagai bioindikator lingkungan yang bersih sekaligus sebagai penyerbuk berbagai tanaman berbunga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode transek jalur dan metode jelajah pada tujuh tipe habitat yang berbeda, yaitu hutan, kebun campuran, rawa, mangrove, bekas tambang, permukiman, dan pantai. Setiap jalur transek memiliki panjang 100 meter dengan lebar pengamatan 20 meter di setiap sisi, sedangkan metode jelajah dilakukan untuk melengkapi pencatatan jenis di luar jalur transek. Data dianalisis menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H’), Indeks Kemerataan (E), dan Indeks Dominasi (D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 50 jenis kupu-kupu yang tergolong dalam lima famili dengan nilai H’ = 3,44 (tinggi), E = 0,88 (tinggi), dan D = 0,05 (rendah). Famili Nymphalidae memiliki jumlah jenis terbanyak dibandingkan famili lainnya. Hasil ini menunjukkan bahwa pulau-pulau kecil bagian selatan Bintan memiliki keanekaragaman kupu-kupu yang tinggi dan komunitas yang relatif stabil
Formulasi Busa dari Lateks Cair (Hevea brasiliensis) Asal Kabupaten Musi Rawas
Musi Rawas is one of the major rubber plantations (Hevea brasiliensis) in South Sumatra. However, prolonged fluctuations and the decline in natural rubber prices have contributed to reduced household income among rubber farmers, affecting their economic stability. This situation highlights the need to enhance the added value of natural rubber products as a strategy to improve farmer welfare and support the achievement of Sustainable Development Goal (SDGs) 1, which aims to alleviate poverty. One promising approach is the utilization of natural rubber latex for foam production through formulation optimization, particularly by adjusting the concentration of zinc-mercaptobenzothiazole (ZMBT), a secondary accelerator known to influence physical properties. This study aimed to evaluate the effect of ZMBT concentrations on the physical properties of natural rubber latex foam. The research was conducted from February to June 2025 at the Integrated Laboratory, Institut Teknologi Muhammadiyah Sumatera, utilizing natural rubber latex sourced from local farmers in Musi Rawas. Three ZMBT concentrations were tested, namely 0.5 phr (A), 1.0 phr (B), and 2.0 phr (C), while all other formulation ingredients were kept constant. The physical properties evaluated included Compression Set (ASTM D395-16e1), Hardness Shore A, Tensile Strength, and Elongation at Break (ASTM D412-16). Based on the results of the research and analysis conducted, it can be concluded that the optimal concentration of ZMBT is at 1 phr, exhibiting physical characteristics including a Compression Set of 86.29%, a Hardness Shore A of 60.05 E.S., a Tensile Strength of 0.1 MPa, and an Elongation at Break of 370%
PENGEMBANGAN PROTOTIPE ALAT PERAGA ASAS BERNOULLI BERBASIS ARDUINO UNO UNTUK PEMBELAJARAN FLUIDA DINAMIS
ABSTRAK
Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan pengembangkan prototipe alat peraga fisika Asas Bernoulli berbasis Arduino Uno untuk membuktikan konsep asas bernoulli pada fluida dinamis. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keterbatasan alat peraga untuk menunjang kegiatan praktikum di sekolah. Saat ini penggunaan venturimeter manual masih banyak digunakan untuk pembelajaran fluida dinamis, dengan adanya penerapan teknologi berbasis arduino uno pada alat peraga venturimeter, pengukuran dapat dilakukan secara otomatis dan real-time, sehingga mampu meminimalisir kesalahan manusia (human error) dalam proses eksperimen. Alat ini dirancang menggunakan Water Flow Sensor YF-B5 dan YF-S201 untuk mengukur nilai debit pada venturimeter. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah Research and Developmen (R&D) dengan model pengembangan 4D yang meliputi Define, Design, Development dan Disseminate. Berdasarkan hasil dari validasi ahli peraga didapatkan bahwa pengembangan prototipe alat peraga ini masuk kategori sangat layak dengan persentase sebesar 83.33% sehingga alat ini cocok digunakan pada praktikum fisika khususnya asas bernoulli untuk meningkatkan pemahaman konspstual siswa serta meningkatkan hasil belajar siswa.
Kata kunci: Arduino uno, asas bernoulli, sensor flowmeter
ABSTRACT
This research aims to determine the feasibility of developing a prototype of Bernoulli Principles physics teaching aids based on Arduino Uno to prove the concept of Bernoulli's principle in dynamic fluids. This research is motivated by the limitations of teaching aids to support practicum activities in schools. Currently, the use of manual venturimeter is still widely used for dynamic fluid learning, with the application of Arduino Uno-based technology in venturimeter props, measurements can be made automatically and in real-time, so as to minimize human error in the experimental process. This tool is designed using YF-B5 and YF-S201 waterflow sensors to measure the discharge value on the venturimeter. The research method used is Research and Development (R&D) with a 4D development model which includes Define, Design, Development and Disseminate. Based on the results of the validation of the teaching assistants, it was found that the development of this teaching aid prototype was categorized as very feasible with a percentage of 83.33% so that this tool is suitable for use in physics practicum, especially the principle of Bernoulli to improve students' conceptual understanding and improve student learning outcomes.
Keywords: Arduino one, fluid dynamis, bernoulli principle, flowmeter senso
PENGARUH PENGGUNAAN PHET SIMULASI TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR FISIKA: UPAYA MENJAWAB TANTANGAN TRANSFORMASI PEMBELAJARAN FISIKA ERA SOCIETY 5.0
ABSTRAK
Pembelajaran fisika seringkali dihadapkan pada berbagai tantangan, yakni konsep yang abstrak, metode pengajaran yang kurang interaktif dan tidak berorientasi student centered, serta keterbatasan fasilitas laboratorium yang berdampak pada rendahnya hasil belajar dan kurangnya pengembangan keterampilan abad 21 yang krusial di era Society 5.0. Menjawab permasalahan ini, penelitian ini bertujuan untuk menganalsis pengaruh penggunaan simulasi PhET terhadap peningkatan hasil belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 1 Watubangga. Metode penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pendekatan Nonequivalent Control Group Designs. Sampel penelitian terdiri dari dua kelas yang dipilih secara cluster random sampling, satu sebagai kelompok eksperimen yang menerima pembelajaran fisika menggunakan simulasi PhET, dan satu sebagai kelompok kontrol yang menerima pembelajaran konvensional. Instrumen tes hasil belajar fisika divalidasi secara komprehensif, termasuk validitas isi menggunakan koefisien Aiken's V dan validitas empiris menggunakan model Rasch, serta reliabilitas diukur dengan Cronbach's Alpha. Analisis data menggunakan deskriptif statistic dan analisis inferensial dengan uji-t independen pada skor N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan hasil belajar fisika yang signifikan pada kelompok eksperimen dibandingkan dengan kelompok kontrol, yakni hasil deskriptif statistik rerata skor N-Gain kelompok eksperimen 0.38 (kategori sedang) dan uji inferensial diperoleh nilai p < 0.001 dari uji-t independen. Temuan ini menyimpulkan bahwa simulasi PhET merupakan alat yang efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep siswa yang berdampak pada peningkatan hasil belajar fisika, sekaligus menjadi strategi inovatif untuk menjawab tantangan transformasi pembelajaran fisika di era Society 5.0, yakni mempersiapkan siswa dengan keterampilan abad ke-21 yang relevan.
Kata kunci : PhET Simulasi, Hasil Belajar Fisika, Transformasi Pembelajaran, Society 5.0
ABSTRACT
Physics learning faces various challenges, including abstract concepts, teaching methods that are insufficiently interactive and not student-centered, and limited laboratory facilities. These issues contribute to low learning outcomes and insufficient development of 21st-century skills that are crucial in the Society 5.0 era. To address these problems, this study aims to analyze the effect of using PhET simulations on improving the physics learning outcomes of 10th-grade students at SMA Negeri 1 Watubangga. This research is quasi-experimental with Nonequivalent Control Group Design approach. The sample consisted of two classes selected through cluster random sampling: one as the experimental group, which received physics instruction using PhET simulations, and one as the control group, which received conventional instruction. The learning outcome test instrument underwent comprehensive validation, including content validity using Aiken’s V and empirical validity through the Rasch model. Reliability was assessed using Cronbach’s Alpha. Data were analyzed using descriptive statistics and inferential statistics with an independent t-test on normalized gain (N-Gain) scores. The results revealed a statistically significant improvement in the learning outcomes of the experimental group compared to the control group, with an average N-Gain score of 0.38 (categorized as moderate). The inferential analysis yielded a p-value < 0.001 in the independent t-test. These findings suggest that PhET simulations are effective tools for enhancing students’ conceptual understanding that positively impacting physics learning outcomes. Moreover, PhET simulations offer an innovative instructional strategy for transforming physics education in the Society 5.0 era, particularly in preparing students with relevant 21st-century competencies.
Keywords: PhET Simulations, Physics Learning Outcomes, Instructional Transformation, Society 5.0Pembelajaran fisika seringkali dihadapkan pada berbagai tantangan, yakni konsep yang abstrak, metode pengajaran yang kurang interaktif dan tidak berorientasi student centered, serta keterbatasan fasilitas laboratorium yang berdampak pada rendahnya hasil belajar dan kurangnya pengembangan keterampilan abad 21 yang krusial di era Society 5.0. Menjawab permasalahan ini, penelitian ini bertujuan untuk menganalsis pengaruh penggunaan simulasi PhET terhadap peningkatan hasil belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 1 Watubangga. Metode penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pendekatan Nonequivalent Control Group Designs. Sampel penelitian terdiri dari dua kelas yang dipilih secara cluster random sampling, satu sebagai kelompok eksperimen yang menerima pembelajaran fisika menggunakan simulasi PhET, dan satu sebagai kelompok kontrol yang menerima pembelajaran konvensional. Instrumen tes hasil belajar fisika divalidasi secara komprehensif, termasuk validitas isi menggunakan koefisien Aiken's V dan validitas empiris menggunakan model Rasch, serta reliabilitas diukur dengan Cronbach's Alpha. Analisis data menggunakan deskriptif statistic dan analisis inferensial dengan uji-t independen pada skor N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan hasil belajar fisika yang signifikan pada kelompok eksperimen dibandingkan dengan kelompok kontrol, yakni hasil deskriptif statistik rerata skor N-Gain kelompok eksperimen 0.38 (kategori sedang) dan uji inferensial diperoleh nilai p < 0.001 dari uji-t independen. Temuan ini menyimpulkan bahwa simulasi PhET merupakan alat yang efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep siswa yang berdampak pada peningkatan hasil belajar fisika, sekaligus menjadi strategi inovatif untuk menjawab tantangan transformasi pembelajaran fisika di era Society 5.0, yakni mempersiapkan siswa dengan keterampilan abad ke-21 yang relevan
STRUKTUR KRISTAL DAN SIFAT KEMAGNETAN NANOPARTIKEL CoZnFe2O4 YANG DIENKAPSULASI DENGAN POLIETILEN GLIKOL (PEG-4000)
ABSTRAK
Telah berhasil disintesis nanopartikel ferit spinel campuran nanokristalin cobalt zink ferit (CoZnFe₂O₄) dengan enkapsulasi PEG-4000 menggunakan metode kopresipitasi, dengan massa bubuk PEG-4000 divariasikan sebesar 0; 0,5; 1,0; 2,0; 2,5; dan 3,0 g. Berdasarkan hasil karakterisasi difraksi sinar-X (XRD), ditemukan puncak difraksi spinel utama (2θ) yang terkait dengan bidang (220), (311), (400), (422), (511), dan (440) yang sesuai dengan struktur spinel kubik fase tunggal dengan kelompok ruang Fd3m. Ukuran partikel CoZnFe₂O₄ berkurang setelah dienkapsulasi dengan PEG-4000, dari 14 nm menjadi 11 nm. Analisis Fourier Transform Infrared (FTIR) menunjukkan getaran regangan intrinsik logam–oksigen pada rentang frekuensi 431 cm⁻¹ dan 595 cm⁻¹ yang berasal dari getaran logam–oksigen pada subkisi oktahedral dan tetrahedral, sedangkan sampel CoZnFe₂O₄ yang dienkapsulasi menunjukkan getaran khas PEG, yaitu C–O, C–H, dan O–H pada masing-masing frekuensi 1064 cm⁻¹, 1481 cm⁻¹, dan 3437 cm⁻¹. Koersivitas nanopartikel CoZnFe₂O₄ yang tidak dienkapsulasi menurun setelah dienkapsulasi dengan PEG-4000, dari 252 Oe menjadi 49 Oe, yang dikaitkan dengan penurunan ukuran partikel. Magnetisasi saturasi (Ms) nanopartikel CoZnFe₂O₄ yang tidak dienkapsulasi juga berkurang dari 29 emu/g menjadi 13 emu/g setelah dienkapsulasi dengan PEG-4000.
Kata kunci - Nanopartikel cobalt zink ferit (CoZnFe₂O₄), Kopresipitasi, Enkapsulasi, PEG-4000.
ABSTRACT
Mixed spinel cobalt zinc ferrite (CoZnFe₂O₄) nanoparticles encapsulated with PEG-4000 were successfully synthesized using the coprecipitation method with PEG-4000 powder masses of 0, 0.5, 1.0, 2.0, 2.5, and 3.0 g. X-ray diffraction (XRD) analysis revealed the main spinel diffraction peaks at (220), (311), (400), (422), (511), and (440), confirming a single-phase cubic spinel structure with space group Fd3m. The particle size of CoZnFe₂O₄ decreased from 14 nm to 11 nm after encapsulation with PEG-4000. Fourier Transform Infrared (FTIR) spectra showed intrinsic metal–oxygen stretching vibrations at 431 cm⁻¹ and 595 cm⁻¹ associated with octahedral and tetrahedral sublattices, respectively, while the encapsulated samples exhibited characteristic PEG vibrations of C–O, C–H, and O–H at 1064 cm⁻¹, 1481 cm⁻¹, and 3437 cm⁻¹. The coercivity of bare CoZnFe₂O₄ nanoparticles decreased from 252 Oe to 49 Oe after PEG-4000 encapsulation, which is attributed to the reduction in particle size. In addition, the saturation magnetization (Ms) decreased from 29 emu/g for the unencapsulated nanoparticles to 13 emu/g for the PEG-4000 encapsulated samples.
Keywords - Cobalt zinc ferrite nanoparticles (CoZnFe₂O₄); Coprecipitation; Encapsulation; PEG-4000.Telah berhasil disintesis nanopartikel ferit spinel campuran nanokristalin kobalt zink ferit (CoZnFe₂O₄) dengan enkapsulasi PEG-4000 menggunakan metode kopresipitasi, dengan massa bubuk PEG-4000 divariasikan sebesar 0; 0,5; 1,0; 2,0; 2,5; dan 3,0 g. Berdasarkan hasil karakterisasi difraksi sinar-X (XRD), ditemukan puncak difraksi spinel utama (2θ) yang terkait dengan bidang (220), (311), (400), (422), (511), dan (440) yang sesuai dengan struktur spinel kubik fase tunggal dengan kelompok ruang Fd3m. Ukuran partikel CoZnFe₂O₄ berkurang setelah dienkapsulasi dengan PEG-4000, dari 14 nm menjadi 11 nm. Analisis Fourier Transform Infrared (FTIR) menunjukkan getaran regangan intrinsik logam–oksigen pada rentang frekuensi 431 cm⁻¹ dan 595 cm⁻¹ yang berasal dari getaran logam–oksigen pada subkisi oktahedral dan tetrahedral, sedangkan sampel CoZnFe₂O₄ yang dienkapsulasi menunjukkan getaran khas PEG, yaitu C–O, C–H, dan O–H pada masing-masing frekuensi 1064 cm⁻¹, 1481 cm⁻¹, dan 3437 cm⁻¹. Koersivitas nanopartikel CoZnFe₂O₄ yang tidak dienkapsulasi menurun setelah dienkapsulasi dengan PEG-4000, dari 252 Oe menjadi 49 Oe, yang dikaitkan dengan penurunan ukuran partikel. Magnetisasi saturasi (Ms) nanopartikel CoZnFe₂O₄ yang tidak dienkapsulasi juga berkurang dari 29 emu/g menjadi 13 emu/g setelah dienkapsulasi dengan PEG-4000
ANALISIS HUJAN LEBAT DI CILACAP MENGGUNAKAN MODEL ECMWF, CITRA SATELIT, DAN DATA OBSERVASI
ABSTRAK
Kejadian hujan sangat lebat di Kabupaten Cilacap pada 8–9 Oktober 2022 yang memicu banjir pada 9 Oktober 2022 menunjukkan adanya interaksi berbagai skala atmosfer yang kompleks dan belum banyak dibahas dalam studi sebelumnya. Penelitian ini menganalisis mekanisme penguatan konveksi pada skala global, regional, dan lokal dengan mengintegrasikan indeks NINO 3.4, IOD, MJO, suhu permukaan laut, pola aliran angin, data ECMWF, serta citra satelit Himawari-8 band 13. Hasil analisis menunjukkan bahwa kombinasi La Niña dan IOD negatif yang diikuti anomali suhu permukaan laut positif di selatan Jawa membentuk latar kondisi basah yang signifikan, namun fase 4 MJO yang secara klimatologis cenderung melemahkan konveksi justru tidak menghambat perkembangan awan. Ketidaksesuaian ini dijelaskan oleh adanya penguatan konvergensi regional dan pendinginan suhu puncak awan hingga −76,9 °C, yang menandakan pertumbuhan awan konvektif secara intensif. Pada skala lokal, indeks stabilitas atmosfer menunjukkan kondisi labil yang memicu terbentuknya hujan sangat lebat pada 8 Oktober 2022 antara pukul 18.00–21.00 UTC. Temuan ini menegaskan bahwa hujan ekstrem di Cilacap bukan hanya dipicu oleh kondisi globa yang basah, tetapi oleh hubungan antara anomali termal regional dan ketidakstabilan lokal yang mampu meniadakan efek pelemahan konveksi dari MJO fase 4. Studi ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika berbagai skala pemicu hujan ekstrem di pesisir selatan Jawa dan dapat berkontribusi pada peningkatan akurasi peringatan dini banjir berbasis kondisi atmosfer aktual.
Kata kunci : Hujan Lebat, Ecmwf, Citra Satelit, Observasi, Cilacap
ABSTRACT
The extreme rainfall event in Cilacap Regency on 8–9 October 2022, which triggered flooding on 9 October 2022 reflects the interaction of complex atmospheric processes across multiple scales and that has not been extensively explored in previous studies. This research investigates the mechanisms that enhanced convection at global, regional, and local scales by integrating the NINO 3.4 index, IOD, MJO, sea surface temperature, wind patterns, ECMWF data, and Himawari-8 band 13 satellite imagery. The analysis shows that the combination of La Niña and a negative IOD accompanied by positive sea surface temperature anomalies south of Java established a markedly moist background environment. However, despite the climatological tendency of MJO phase 4 to suppress convection, it did not inhibit cloud development during this event. This apparent inconsistency is explained by strengthened regional scale convergence and cloud top cooling reaching −76.9 °C, indicating vigorous convective growth. At the local scale, atmospheric stability indices reveal highly unstable conditions that triggered the very heavy rainfall observed on 8 October 2022 between 18.00–21.00 UTC. These findings demonstrate that the extreme rainfall in Cilacap was driven not only by moist global conditions but also by the interplay between regional thermal anomalies and local instability, which effectively counteracted the convective suppression typically associated with MJO phase 4. This study provides a more comprehensive understanding of the multiscale dynamics that trigger extreme rainfall along the southern coast of Java and contributes to improving the accuracy of flood early-warning systems based on real-time atmospheric conditions.
Keywords : Heavy Rainfall, Ecmwf, Satellite Imagery, Observation, CilacapKejadian hujan sangat lebat di Kabupaten Cilacap pada 8–9 Oktober 2022 yang memicu banjir pada 9 Oktober 2022 menunjukkan adanya interaksi berbagai skala atmosfer yang kompleks dan belum banyak dibahas dalam studi sebelumnya. Penelitian ini menganalisis mekanisme penguatan konveksi pada skala global, regional, dan lokal dengan mengintegrasikan indeks NINO 3.4, IOD, MJO, suhu permukaan laut, pola aliran angin, data ECMWF, serta citra satelit Himawari-8 band 13. Hasil analisis menunjukkan bahwa kombinasi La Niña dan IOD negatif yang diikuti anomali suhu permukaan laut positif di selatan Jawa membentuk latar kondisi basah yang signifikan, namun fase 4 MJO yang secara klimatologis cenderung melemahkan konveksi justru tidak menghambat perkembangan awan. Ketidaksesuaian ini dijelaskan oleh adanya penguatan konvergensi regional dan pendinginan suhu puncak awan hingga −76,9 °C, yang menandakan pertumbuhan awan konvektif secara intensif. Pada skala lokal, indeks stabilitas atmosfer menunjukkan kondisi labil yang memicu terbentuknya hujan sangat lebat pada 8 Oktober 2022 antara pukul 18.00–21.00 UTC. Temuan ini menegaskan bahwa hujan ekstrem di Cilacap bukan hanya dipicu oleh kondisi globa yang basah, tetapi oleh hubungan antara anomali termal regional dan ketidakstabilan lokal yang mampu meniadakan efek pelemahan konveksi dari MJO fase 4. Studi ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika berbagai skala pemicu hujan ekstrem di pesisir selatan Jawa dan dapat berkontribusi pada peningkatan akurasi peringatan dini banjir berbasis kondisi atmosfer aktual