Open Journal System (OJS) Universitas Bengkulu
Open Journal System (OJS) Universitas BengkuluNot a member yet
14213 research outputs found
Sort by
Private Vehicle Dependency In Pontianak City Through The Social Action Perspective
In Pontianak City, the increasing reliance on private vehicles has significantly contributed to traffic congestion, environmental pollution, and challenges in urban mobility, raising critical concerns about the declining use of public transportation options such as the oplets. This study investigates the underlying reasons for the preference for private vehicles among the residents of Pontianak and examines the resulting impacts of the shift from public to private transportation. Grounded in Max Weber's Social Action Theory, the research employs a qualitative method involving 14 purposively selected informants, with data analyzed using Miles and Huberman’s Interactive Model. The findings reveal that residents favor private vehicles due to a combination of internal factors—such as flexibility, comfort, time efficiency, convenience, economic considerations, safety, and travel purposes—and external factors, including inadequate public transportation infrastructure and weather conditions. These factors reflect how individual motives, rational choices, and situational influences shape transportation behavior. The shift has led to various impacts, including traffic congestion, air and noise pollution, higher accident risks, reduced social interaction, social stratification, and increasing individualism. The study concludes that enhancing the quality, accessibility, and attractiveness of public transportation is essential to reduce overdependence on private vehicles and promote more sustainable urban mobility in Pontianak.Ketergantungan pada kendaraan pribadi di Kota Pontianak meningkat pesat, sementara pilihan transportasi umum seperti oplet mengalami penurunan penggunaan. Penelitian ini mengkaji alasan-alasan mendasar di balik preferensi masyarakat Kota Pontianak terhadap kendaraan pribadi, serta dampak yang timbul akibat pergeseran dari transportasi umum ke transportasi pribadi. Studi ini menggunakan Teori Tindakan Sosial Max Weber dan metode kualitatif dengan 14 informan yang dipilih secara purposif. Data dianalisis menggunakan Model Miles dan Huberman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Kota Pontianak lebih memilih kendaraan pribadi dibandingkan oplet karena alasan seperti fleksibilitas, kenyamanan, efisiensi waktu, aksesibilitas, kemudahan, faktor ekonomi, kondisi transportasi umum yang kurang memadai, keamanan, tujuan perjalanan, jumlah penumpang, dan cuaca. Pertimbangan-pertimbangan ini menggambarkan bagaimana motif individu, nilai-nilai, dan faktor situasional memengaruhi pengambilan keputusan serta membentuk hasil sosial.
Perubahan dari transportasi umum ke kendaraan pribadi di Pontianak dapat menyebabkan kemacetan lalu lintas, polusi udara dan kebisingan meningkat, kecelakaan lalu lintas bertambah banyak, berkurangnya interaksi sosial antar individu serta terbentuknya kelas sosial dan individualisme. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan kualitas dan aksesibilitas transportasi umum guna mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi
Implementasi Prinsip Perlindungan Perempuan Korban Kekerasan: Studi di UPTD PPA Sumatera Barat
Violence against women continues to be a significant issue that calls for decisive government action. In response, the Indonesian government established the Regional Technical Implementation Unit for the Protection of Women and Children (UPTD PPA) through PPPA Regulation Number 4 of 2018. The West Sumatra Provincial Government has formed UPTD PPA to provide protection services for women victims of violence. However, challenges remain in aligning the implementation of these services with the protection principles mandated in the national legal framework. This study aims to describe how the UPTD PPA of West Sumatra Province applies the principles of protection in handling cases of violence against women. Data were gathered using a qualitative descriptive approach through in-depth interviews, observations, and document analysis. The research informants consisted of five officers from the UPTD PPA of West Sumatra Province. Data were analyzed using the Miles and Huberman model, which involves data coding, data display, and conclusion drawing. The findings show that the implementation of the principles of non-discrimination and the best interests of the victim is nearly ideal. However, gender equality has not been fully realized. The principle of justice is fully aligned with the legal basis, while the principle of recovery is only partially so.Kekerasan terhadap perempuan masih menjadi masalah serius yang memerlukan intervensi pemerintah yang kuat. Sebagai respon, pemerintah Indonesia membentuk Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) melalui Peraturan PPPA Nomor 4 Tahun 2018. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah membentuk UPTD PPA untuk memberikan layanan perlindungan bagi perempuan korban kekerasan. Namun, masih terdapat tantangan dalam menyelaraskan pelaksanaan layanan tersebut dengan prinsip-prinsip perlindungan yang diamanatkan dalam kerangka hukum nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana UPTD PPA Provinsi Sumatera Barat menerapkan prinsip-prinsip perlindungan dalam menangani kasus kekerasan terhadap perempuan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif feminis, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen. Informan meliputi 10 orang: 5 petugas UPTD PPA dan 5 perempuan korban yang menerima layanan dari lembaga tersebut. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman, yang meliputi pengkodean data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa prinsip nondiskriminasi dan kepentingan terbaik korban hampir terlaksana secara ideal. Prinsip keadilan sepenuhnya selaras dengan standar hukum. Namun, prinsip kesetaraan gender dan perlindungan dari kekerasan berulang belum terpenuhi secara ideal. Selain itu, prinsip partisipasi, pemulihan, dan kerahasiaan hanya diterapkan sebagian, sehingga kerahasiaan berisiko dilanggar. Temuan ini menyoroti perlunya perbaikan dalam pemberian layanan untuk memastikan kepatuhan penuh.
Kata Kunci: Kekerasan terhadap Perempuan, Perlindungan Perempuan, UPTD PPA, Prinsip Perlindungan, Pelaksanaan Perlindunga
Unpacking ideological affiliation through evaluative language: Attitudinal and coupling patterns in The Jakarta Post editorials
Editorials are widely recognized as a space where newspapers express their views and shape public opinion. While much attention has been given to the persuasive function of editorials, relatively little scholarly work has explored how evaluative language is used to build affiliation between writers and readers. This study addresses that gap by examining how The Jakarta Post constructs ideological affiliation through evaluative languages (attitudes), coupling patterns, and affiliation strategies. Drawing on Appraisal Theory within Systemic Functional Linguistics, the study explores how attitudes are constructed and combined with ideational content to position readers. The data were five editorial texts which were selected using a constructed week sampling method over a one-month period to ensure variety and balance. The findings show that appreciation is the most common type of attitude, which often appears in negative forms to criticize policies and institutional performance. Judgment is often used in the investigated editorials, especially when evaluating public figures. In contrast, affect appears less frequently, but it still plays an important role in conveying shared emotional concerns. These attitudes are usually presented through couplings with ideational elements such as actors, events, or policies. This combination makes the evaluations more persuasive. Two dominant coupling patterns were identified, namely [NEG + INDONESIA] which is used to criticize government performance and policy and [POS + INDONESIA] which highlights national values or collective goals. To foster alignment with readers, the editorials employ affiliation strategies such as conceding and overriding (a divisive strategy) and repetition (a solidary strategy) which help guide readers toward shared viewpoints or editorial stances. The findings shed light on a clearer understanding of how evaluative language in editorials builds ideological affiliation. The study offers theoretical insights into appraisal in Indonesian media discourse and practical contributions by highlighting how evaluative language shapes reader perspectives and supports media literacy development
Pengembangan E-Booklet Berbasis Kemandirian Belajar Siswa Pada Materi Suhu, Kalor, dan Pemuaian Kelas VII
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan E-Booklet berbasis pembelajaran mandiri pada topik Suhu, Kalor, dan Pemuaian, sebagai upaya untuk mendukung peningkatan pemahaman konsep dan pengembangan sikap belajar mandiri yang selaras dengan Kurikulum Merdeka. Inisiatif ini dilatarbelakangi oleh temuan lapangan yang menunjukkan rendahnya tingkat kemandirian dan prestasi belajar siswa, serta terbatasnya fasilitas laboratorium yang menghambat pemahaman konsep secara mendalam. Proses penelitian mengikuti model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) yang termasuk jenis Penelitian dan Pengembangan. Pada tahap pengembangan, e-booklet divalidasi oleh ahli media, ahli konten, dan praktisi, dengan hasil sebesar 81,08%, 93,06%, dan 86,11% masuk dalam kategori “Sangat Valid”. Sementara itu, respon siswa pada tahap implementasi mencapai 86,81% masuk dalam kategori “Sangat Baik”. Temuan ini menunjukkan bahwa E-Booklet yang dikembangkan tidak hanya layak digunakan sebagai bahan ajar alternatif, tetapi juga efektif dalam meningkatkan pembelajaran mandiri di kalangan siswa SMP kelas VII, khususnya dalam menguasai konsep Suhu, Kalor, dan Pemuaian.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah E-Booklet berbasis kemandirian belajar pada materi Suhu, Kalor, dan Pemuaian, sebagai upaya dalam mendukung peningkatan pemahaman konsep dan pembentukan sikap belajar mandiri sesuai arah Kurikulum Merdeka. Inisiatif ini dilatarbelakangi oleh temuan di lapangan mengenai rendahnya tingkat kemandirian dalam belajar dan pencapaian belajar siswa, serta keterbatasan fasilitas laboratorium yang menghambat pemahaman konsep secara mendalam. Proses penelitian ini mengikuti model pengembangan ADDIE ( Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation ), yang termasuk dalam jenis penelitian Research and Development . Pada tahap pengembangan, e-booklet divalidasi oleh ahli media, ahli materi, dan ahli praktisi, dengan hasil masing-masing 81,08%, 93,06%, dan 86,11%, dalam kategori “Sangat Valid”. Sementara itu, respon siswa pada tahap implementasi mencapai angka 86,81%, dikategorikan “Sangat Baik”. Temuan ini menunjukkan bahwa E-Booklet yang dikembangkan tidak hanya layak digunakan sebagai bahan alternatif terbuka, tetapi juga efektif dalam mendorong belajar kemandirian siswa SMP kelas VII, khususnya dalam memahami materi Suhu, Kalor, dan Pemuaian
KARAKTERISTIK MORFOLOGI POLEN (Calamus acehensis)
Calamus acehensis (Rustiami), known as Aceh jernang rattan, is an endemic plant with high economic value in Aceh Province. This jernang produces red resin from its fruit which is used as a natural dye for rattan handicrafts as well as in traditional medicine, such as wound medicine, headaches, and post-natal pilis. The advantage of C. acehensis over other jernang species lies in its rapid growth and high resin production at a young age. At the age of two years, the plant has reached a height of two meters and started to bear fruit. Distinctive morphological features include stem internodes up to 50 cm, leaves up to 2 meters long, petioles 35 cm long, and black leaf sheaths with long and dense spines. This study aims to assess pollen morphology to determine its pollination system and taxonomic status. Pollen samples were taken from C. acehensis growing in Rieseh Tengoh Village, Aceh and from cultivation in Jambi. Analysis was conducted using a Scanning Electron Microscope (SEM) at the UGM Integrated Research and Testing Laboratory. Results showed that both samples had small pollen size, 1.212 µm (Aceh) and 1.116 µm (Jambi), with a single monocolpate aperture shape and flat exine ornamentation. These characteristics indicate the potential for wind-assisted cross-pollination (xenogamy) (anemogamy), providing important insights for the conservation and cultivation of Acehnese jernang.Calamus acehensis (Rustiami), dikenal sebagai rotan jernang Aceh, merupakan tumbuhan endemik yang bernilai ekonomi tinggi di Provinsi Aceh. Jernang ini menghasilkan resin merah dari buahnya yang digunakan sebagai pewarna alami untuk kerajinan rotan serta dalam pengobatan tradisional, seperti obat luka, sakit kepala, dan pilis pasca melahirkan. Keunggulan C. acehensis dibandingkan jenis jernang lainnya terletak pada pertumbuhan yang cepat dan produksi resin yang tinggi pada usia muda. Pada usia dua tahun, tanaman ini sudah mencapai tinggi dua meter dan mulai berbuah. Ciri morfologi khas meliputi ruas batang hingga 50 cm, panjang daun sampai 2 meter, tangkai daun 35 cm, serta selubung daun berwarna hitam dengan duri panjang dan padat. Penelitian ini bertujuan mengkaji morfologi polen untuk menentukan sistem penyerbukan dan status taksonominya. Sampel polen diambil dari C. acehensis yang tumbuh di Desa Rieseh Tengoh, Aceh dan dari budidaya di Jambi. Analisis dilakukan menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu UGM. Hasil menunjukkan bahwa kedua sampel memiliki ukuran polen kecil, yaitu 1,212 µm (Aceh) dan 1,116 µm (Jambi), dengan bentuk aperture monocolpate tunggal dan ornamentasi eksin rata. Karakteristik ini menunjukkan potensi penyerbukan silang (xenogami) yang dibantu angin (anemogami), memberikan wawasan penting untuk konservasi dan budidaya jernang Aceh
Pengembangan LKPD Berbasis Model SSCS (Search, Solve, Create, And Share) Materi Pemisahan Campuran Untuk Menumbuhkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Kelas VIII SMP
Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mencari tahu tingkat validitas dan respon siswa terhadap bahan ajar LKPD berbasis model SSCS untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kritis siswa. Digunakan model pengembangan 4-D dengan tahapan define, design, develop, disseminate. Metode yang peneliti pakai ialah metode Research and Development (R&D) dengan instrumen berupa angket wawancara, angket respon siswa, dan angket validasi. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil persentase validasi bahan ajar LKPD yang diperoleh dari validator ahli materi 90,20% (sangat valid), validator ahli bahan ajar 87,70% (sangat valid), validator ahli praktisi 90,97% (sangat valid). Hasil dari tingkat respon siswa menunjukkan nilai persentase dengan rata-rata 86,07% (sangat valid). Melalui temuan tersebut dapat ditarik simpulan bahwa LKPD berbasis model SSCS materi pemisahan campuran dapat siswa gunakan pada kegiatan pembelajaran IPA.Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mencari tahu tingkat validitas dan respon siswa terhadap bahan ajar LKPD berbasis model SSCS untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kritis siswa. Digunakan model pengembangan 4-D dengan tahapan define, design, develop, disseminate. Metode yang peneliti pakai ialah metode Research and Development (R&D) dengan instrumen berupa angket wawancara, angket respon siswa, dan angket validasi. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil persentase validasi bahan ajar LKPD yang diperoleh dari validator ahli materi 90,20% (sangat valid), validator ahli bahan ajar 87,70% (sangat valid), validator ahli praktisi 90,97% (sangat valid). Hasil dari tingkat respon siswa menunjukkan nilai persentase dengan rata-rata 86,07% (sangat valid). Melalui temuan tersebut dapat ditarik simpulan bahwa LKPD berbasis model SSCS materi pemisahan campuran dapat siswa gunakan pada kegiatan pembelajaran IPA
Efektivitas Model Pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan Canva Terhadap Pemahaman Konsep Sistem Koloid Siswa Kelas XI SMAN 1 Girsang Sipanganbolon
The purpose of this study was to determine the effectiveness of the Problem-Based Learning model assisted by Canva on the understanding of colloid system concepts among 11th grade students at SMAN 1 Girsang Sipanganbolon using an experimental research method with a quasi-experimental design. Data collection techniques used a multiple-choice test validated by expert validators, with instruments consisting of problem-solving ability test questions. The research subjects were 60 students from Grade XI Science Class 2 and Grade XI Science Class 4. Data analysis techniques included normality tests, homogeneity tests, and hypothesis testing using the paired sample t-test.The results obtained in this study indicate an improvement in the learning outcomes of grade XI students at SMAN 1 Girsang Sipanganbolon, particularly in the subject matter of colloid systems. This improvement in learning outcomes can be seen from the average pretest score of 49.67 and the average posttest score of 84.67 in the experimental class. These scores indicate a significant improvement in student learning outcomes. The homogeneity test was conducted, and the significance value obtained was greater than 0.05 (> 0.05), thus meeting the criterion where the sample is homogeneous. In the paired sample t-test, the t-value obtained was 18.542, which is greater than the t-table value of 1.699, and the sig (two-tailed) was 0.000, which is smaller than the α value (0.05), thus concluding that the problem-based learning model assisted by Canva is effective in improving students' understanding of colloid systems in grade XI at SMAN 1 Girsang Sipanganbolon. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran problem based learning berbantuan canva terhadap pemahaman konsep sistem koloid siswa kelas XI SMAN 1 Girsang Sipanganbolon menggunakan metode penelitian eksperimen dengan jenis quasi-experimental design. Teknik pengumpulan data menggunakan tes pilihan ganda yang telah divalidasi oleh validator ahli, instrumen berupa soal tes kemampuan memecahkan masalah. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 2 dan siswa kelas XI IPA 4 berjumlah 60 orang. Teknik analisis data menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, uji hipotesis dengan menggunakan uji paired sample t -test.
Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar peserta didik kelas XI di SMAN 1 Girsang Sipanganbolon khususnya pada materi konsep Sistem koloid. Peningkatan hasil belajar tersebut dapat dilihat dari nilai rata-rata pretest yaitu sebesar 49,67 dan untuk nilai rata-rata posttest yaitu sebesar 84,67 pada kelas eksperimen. Nilai tersebut menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada hasil belajar peserta didik. Hasil uji homogenitas dilakukan dam diperoleh nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (> 0,05) sehingga memenuhi syarat dimana sampel adalah homogeny. Pada uji paired sample t-test diperoleh nilai thitung sebesar 18,542 yang dimana nilia tersebut lebih besar daripada ttabel yaitu 1,699 dan untuk nilai sig (2 tailed) diperoleh sebesar 0,000 yaitu lebih kecil dari nilai α (0,05) sehingga dapat disimpulkan terdapatnya efektivitas model pembelajaran problem based learning berbantuan canva terhadap pemahaman konsep sistem koloid siswa kelas XI SMAN 1 Girsang Sipanganbolon
Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Treffinger Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Struktur Atom di SMA Negeri 2 Pematangsiantar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Treffinger Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Struktur Atom. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Pematangsiantar dengan populasi siswa kelas XI yang terdiri dari 2 kelas. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Kuantitatif dengan desain menggunakan metode Quasi Experiment dengan desain non-equivalent control group desain. Sampel penelitian ini ialah kelas XI-4 sebagai kelas Eksperimen dan Kelas XI-5 sebagai kelas Kontrol. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui pre-test sebelum diberikan perlakuan dan post-test setelah diberi perlakuan. Teknik analisi data yang digunakan ialah uji hipotesis yang terdiri dari uji paired sample t-test dan uji independent sample t-test untuk membandingkan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berdasarkan hasil uji paired sample t-test diperoleh nilai pada kelas eksperimen mengalami peningkatan dengan rata-rata nilai pre-test yang diperoleh 53, 53 dan rata-rata nilai post-test 89,59 dan dengan nilai thitung 28,067 lebih besar dari ttabel 1,692, dengan nilai sig (2-tailed) yang diperoleh 0,000 < 0,05. Pada uji independent t-test diperoleh nilai post-test pada kelas kontrol sebesar 83,35 dan eksperimen 89,59. Dengan nilai thitung sebesar 5,054 lebih besar dari ttabel 1,668 dan nilai sig (2-tailed) diperoleh 0,000 < 0,05. Dari kedua uji hipotesis yang dilakukan H0 ditolak dan Ha diterima, dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh penerapan model pembelajaran Treffinger terhadap hasil belajar siswa pada materi Struktur Atom.Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Treffinger Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Struktur Atom. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Pematangsiantar dengan populasi siswa kelas XI yang terdiri dari 2 kelas. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Kuantitatif dengan desain menggunakan metode Quasi Experiment dengan desain non-equivalent control group desain. Sampel penelitian ini ialah kelas XI-4 sebagai kelas Eksperimen dan Kelas XI-5 sebagai kelas Kontrol. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui pre-test sebelum diberikan perlakuan dan post-test setelah diberi perlakuan. Teknik analisi data yang digunakan ialah uji hipotesis yang terdiri dari uji paired sample t-test dan uji independent sample t-test untuk membandingkan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berdasarkan hasil uji paired sample t-test diperoleh nilai pada kelas eksperimen mengalami peningkatan dengan rata-rata nilai pre-test yang diperoleh 53, 53 dan rata-rata nilai post-test 89,59 dan dengan nilai thitung 28,067 lebih besar dari ttabel 1,692, dengan nilai sig (2-tailed) yang diperoleh 0,000 < 0,05. Pada uji independent t-test diperoleh nilai post-test pada kelas kontrol sebesar 83,35 dan eksperimen 89,59. Dengan nilai thitung sebesar 5,054 lebih besar dari ttabel 1,668 dan nilai sig (2-tailed) diperoleh 0,000 < 0,05. Dari kedua uji hipotesis yang dilakukan H0 ditolak dan Ha diterima, dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh penerapan model pembelajaran Treffinger terhadap hasil belajar siswa pada materi Struktur Atom.
Kata kunci: Hasil Belajar; Struktur Atom; Treffinger
 
Sensory Circle Time (Sencleti): Media Pembelajaran untuk stimulasi Kemampuan Motorik Halus Anak Usia Dini: Indonesia
This study aims to examine the effect of Sencleti (Sensory Circle Time) media on fine motor skills development in children aged 4-5 years at TK Izzatul Islam Muaro Jambi. A pre-experimental design with one-group pretest-posttest was employed, involving 13 children selected through non-probability sampling techniques. Data were collected using a fine motor skills assessment rubric and analyzed using the Wilcoxon Matched Pairs Test. The results revealed a t-calculated value of 16.503, which exceeded the t-table value, indicating a significant difference between pretest and posttest scores. The findings demonstrate that Sencleti media has a significantly positive impact on fine motor skills development in children aged 4-5 years. The novelty of this research lies in the utilization of Sencleti media as an innovative learning approach that systematically combines sensory stimulation with fine motor skill development to enhance hand-eye coordination, concentration, and manipulative skills in early childhood. Future research should replicate this study with larger sample sizes and include control groups to strengthen the validity of the findings.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media Sencleti (Sensory Circle Time) terhadap kemampuan motorik halus anak usia 4–5 tahun di TK Izzatul Islam Muaro Jambi. Berdasarkan hasil observasi awal, ditemukan bahwa 12 dari 13 anak menunjukkan kemampuan motorik halus yang belum berkembang secara optimal, terutama dalam aktivitas seperti memegang pensil, mewarnai, menulis, dan menggunakan sendok. Media pembelajaran yang digunakan sebelumnya dinilai kurang bervariasi dan belum mengakomodasi stimulasi sensorik secara optimal. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain Pre-Experimental One-Group Pretest-Posttest Design. Sampel berjumlah 13 anak dari kelompok TK A yang dipilih melalui teknik non-probability sampling. Instrumen yang digunakan berupa rubrik penilaian motorik halus. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Match Pairs Test. Hasil analisis menunjukkan nilai t-hitung sebesar 16,503 lebih besar dari t-tabel, yang mengindikasikan adanya perbedaan signifikan antara nilai pretest dan posttest. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media Sencleti berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kemampuan motorik halus anak usia 4–5 tahun di TK Izzatul Islam Muaro Jambi
Pembelajaran Mitigasi Bancana Di PAUD
Disaster mitigation education is critically important to introduce from an early age, as young children are among the most vulnerable populations during disasters. This study aims to examine the implementation of disaster mitigation education in early childhood education (ECE) settings and identify teachers' needs in delivering disaster-related content to young learners. A survey method was employed involving 67 ECE teachers in Badung Regency. Data were collected through a Google Forms questionnaire distributed via WhatsApp and analyzed using descriptive quantitative analysis. The findings revealed that only 11.9% of teachers frequently conduct disaster response simulations with children, while 19.4% rarely conduct them, 62.7% occasionally, and 6% never. Regarding content coverage, 89.4% of teachers include both pre-disaster and during-disaster phases in their instruction, while 10.6% focus solely on the during-disaster phase. The disaster simulation types implemented include earthquakes (77.6%), fires (9%), floods (7.5%), and volcanic eruptions (4.5%), while 1.4% of teachers do not include any disaster simulations.
Additionally, 98.5% of teachers expressed the need for technology-based and interactive disaster mitigation learning media, while only 1.5% considered traditional simulations adequate. The study concludes that introducing disaster mitigation education at an early age can equip children with essential knowledge and skills for effective disaster response. Therefore, engaging and contextually relevant learning media and activities are crucial for enhancing disaster preparedness education in early childhood settings.Pembelajaran mitigasi bencana menjadi hal sangat sangat penting dikenalkan sejak dini. Hal ini dikarenakan anak usia dini merupakan individu yang rentan menjadi korban bencana. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai bentuk pelaksanaan pembelajaran mitigasi bencana di PAUD serta mengidentifikasi kebutuhan guru dalam menyampaikan materi mitigasi bencana kepada anak usia dini. Penelitian ini menggunakan metode survei dan melibatkan 67 guru PAUD yang berdomisili di Kabupaten Badung. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket yang disusun dalam format Google Form dan didistribusikan melalui aplikasi WhatsApp. Analisis data dilakukan dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa: 1) Hanya 11,9% guru yang sering melakukan simulasi tanggap bencana kepada anak usia dini, 19,4% jarang, 62,7% kadang-kadang, dan 6% tidak pernah. 2) Cakupan materi pembelajaran mitigasi bencana yang disampaikan oleh guru kepada anak usia dini terdiri dari 89,4% yang mencakup tahap pra-bencana dan saat bencana, sementara 10,6% hanya mencakup tahap saat bencana saja. 3) Cakupan pembelajaran mitigasi bencana sebanyak 77,6% mengarah pada simulasi gempa, 9% simulasi kebakaran, 7,5% simulasi banjir, 4,5% simulasi gunung meletus, dan 1,4% tidak mencakup semua materi bencana tersebut. 4) Sebanyak 98,5% guru PAUD memerlukan media pembelajaran mitigasi bencana yang berbasis teknologi dan bersifat interaktif dan 1,5% menyatakan cukup dengan simulasi biasa. Pembelajaran mitigasi bencana yang diberikan sejak dini akan memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada anak agar siap dan tanggap saat terjadi bencana. Untuk itu, diperlukan media dan kegiatan pembelajaran mitigasi bencana yang menarik dan kontekstual bagi anak usia dini