Open Journal System (OJS) Universitas Bengkulu

Open Journal System (OJS) Universitas Bengkulu
Not a member yet
    14213 research outputs found

    Analisis Perbandingan Metode Hirearchical, K-Means, dan K-Medoids Clustering dalam Pengelompokan Kasus Penyakit Menular di Bengkulu Tengah

    Full text link
    In Indonesia, infectious diseases are still a persistent problem. Experts have accumulated knowledge regarding the emergence of the disease. In the last ten years, Indonesia is still experiencing the problem of triple burden diseases. Where Indonesia is still hit by infectious diseases, non-communicable diseases (NCDs) and diseases that should have been resolved, apart from that, infectious diseases are also still a big problem that must be faced. Researchers are interested in conducting research on infectious diseases in Central Bengkulu Regency. When analyzing infectious diseases, grouping can be done. Cluster analysis is an approach to looking for similarities in data and placing similar data into groups. There are two grouping methods in cluster analysis, hierarchical methods and non-hierarchical methods. One of the cluster analyzes using hierarchical methods is the average linkage method, while non-hierarchical ones are K-Means and K-Medoids. The variables used in this research are TBC and DHF in 2022. The highest rates of TB and DHF occurred in Pondok Kelapa sub-district, namely 29 and 23 cases. Based on the results of the analysis, it consists of 2 clusters, with cluster 1 consisting of 9 sub-districts, while cluster 2 consists of 2 sub-districts. Based on the results of evaluating the best method using the Calinski-Harabasz Index, it was found that the K-medoids method was the best method with a value of 0. &nbsp

    Kinerja Peramalan Autoregressive Integrated Moving Average dan Seasonal Autoregressive Integrated Moving Average dalam Memprediksi Kejadian Gempa Bumi Sumatra

    Full text link
    Pulau Sumatra merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan tingkat risiko gempa bumi yang tinggi akibat jalur subduksi dan keberadaan sesar aktif. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan dan meramalkan magnitudo tertinggi gempa bumi tahunan di Pulau Sumatra menggunakan metode Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) dan Seasonal Autoregressive Integrated Moving Average (SARIMA). Data yang digunakan adalah magnitudo tahunan dari tahun 1900 hingga 2023. Sebelum pemodelan, dilakukan uji stasioneritas data melalui transformasi Box-Cox untuk varians dan uji Augmented Dickey-Fuller (ADF) untuk rataan. Setelah proses differencing, data dinyatakan stasioner terhadap rataan. Identifikasi model awal dilakukan dengan analisis plot ACF dan PACF, diikuti dengan seleksi model berdasarkan signifikansi parameter. Evaluasi model menggunakan kriteria AIC, BIC, MAE, RMSE, dan MAPE. Hasil analisis menunjukkan bahwa model SARIMA (1,1,1) (1,1,0)24 memiliki performa terbaik berdasarkan nilai AIC, BIC, MAE, dan MAPE. Namun, dalam tahap peramalan data testing, model ARIMA (2,1,2) menunjukkan hasil prediksi yang lebih mendekati nilai aktual. Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi penggunaan ARIMA dan SARIMA dapat membantu dalam memodelkan kejadian gempa bumi di Sumatra, dengan pemilihan model terbaik disesuaikan berdasarkan tujuan peramalan

    A Sebaran Spasial Karbon Tanah Gunung Marapi

    No full text
    [SPATIAL DISTRIBUTION SOIL CARBON MARAPI MOUNTAIN]. Volcanic activity will significantly affect the carbon component and its fraction in the soil. Volcanic soils have high carbon content. This study aimeds to map the soil carbon and its fraction vocanic soil of Mt. Marapi. A total of 93 soil samples were taken with a grid interval of 750 x 750 m at a depth of 0-20 cm spread across the Southwest, West and Northwest areas affected by the eruption of Mt. Marapi at a radius of 4.5-7 km from the peak. The parameters analyzed were: bulk density, soil pH, C-organic, C fractions. The results showed that, soil pH ranged from 4.59-6.19 (pH H2O) and 3.8-5.8 (pH KCl), C organic ranged from 3.00%-14.16%, C-very labile ranged from 0.001-0.045%, C-labile ranged from 0.14-1.41%, C boundts non-crystalline clay ranged from 0.20-2.10%, C-metal complex ranged from 0.11-1.70%. Soil pH in Northwest was different from those of in West and Southwest. Very labile carbon in Southwest slope was not the same as those found in West and Northwest. C-metal complex in Northwest soil did not the same as those found in West and Southwest. The diversity of carbon fractions can be used as a reference in tillage to maintain carbon storage and become a marker for soil health. Full text pdfAktivitas gunung api secara signifikan akan mempengaruhi komponen karbon dan fraksinya di dalam tanah. Tanah vulkanis memiliki kadar karbon yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan karbon tanah dan fraksinya pada tanah vulkanis Gunung Marapi. Sebanyak 93 sampel tanah diambil dengan interval grid 750 x 750 m pada kedalaman 0-20 cm yang tersebar di wilayah Barat Daya, Barat dan Barat Laut wilayah terdampak erupsi Gunung Marapi pada radius 4,5-7 km dari puncak erupsi. Parameter yang dianalisis yaitu: berat volume tanah, kemasaman tanah (pH H2O dan pH KCl), C-organik tanah, fraksionasi C tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pH tanah berkisar antara 4,59-6,19 (pH H2O) dan 3,8-5,8 (pH KCl), C-organik tanah berkisar antara 3,00%-14,16%, C-sangat labil tanah berkisar antara 0,001-0,045%, C-labil tanah berkisar antara 0,14-1,41%, C-terikat liat non kristalin tanah berkisar antara 0,20-2,10%, C- metal kompleks tanah berkisar antara 0,11-1,55. Tanah di wilayah Barat Laut memilik pH yang berbeda dengan pH tanah di wilayah Barat dan Barat Daya. Karbon sangat labil tanah di wilayah Barat Daya berbeda dengan karbon sangat labil tanah di wilayah Barat dan Barat Laut. Nilai C-metal kompleks tanah di wilayah Barat Laut berbeda dengan nilai C-metal kompleks tanah wilayah Barat dan Barat Daya. Keberagaman fraksi karbon ini dapat dijadikan acuan dalam pengolahan tanah dalam mempertahankan simpanan karbon serta menjadi penanda untuk kesehatan tanah. Kata kunci: dinamika karbon, fraksionasi karbon,,gunung api, pemetaan digital, tanah vulkani

    ANALISIS GEOTEKNIK DAN DINAMIK STRUKTUR UNTUK PERKUATAN ABUTMEN JEMBATAN WAY PAGAR ALAM YANG LONGSOR

    Full text link
    The Way Pagar Alam Bridge in Tanggamus Regency experienced failure at one of its widened abutments due to a combination of weak geotechnical conditions, rainfall infiltration, and riverbank erosion. This study aims to assess the structural and geotechnical conditions of the bridge and develop an effective reinforcement design. The methodology includes visual inspection, laboratory testing of soil, structural vibration monitoring, and slope stability analysis using limit equilibrium-based software. Vibration tests indicate that the bridge superstructure remains stiff, with vertical deflection well below the allowable limit. Subsurface investigations revealed the presence of expansive clay with low bearing capacity in shallow layers. Stability analysis shows that a combined reinforcement system—comprising a retaining wall, gabion protection, and mini piles—can enhance the slope safety factor to 1.99 (static) and 1.73 (dynamic), meeting applicable engineering standards. The proposed design is considered effective and applicable for bridge rehabilitation in tropical regions with soft subgrade conditions.Jembatan Way Pagar Alam di Kabupaten Tanggamus mengalami keruntuhan pada salah satu abutmen hasil pelebaran akibat kombinasi kondisi geoteknik lemah, infiltrasi air hujan, dan gerusan aliran sungai. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kondisi struktur dan tanah di sekitar jembatan serta merancang sistem perkuatan yang efektif. Metode yang digunakan mencakup pengamatan lapangan, survei dan investigasi geoteknik, uji getaran struktur, serta analisis stabilitas lereng menggunakan perangkat lunak berbasis keseimbangan batas. Hasil uji getar menunjukkan struktur atas jembatan masih kaku dengan defleksi vertikal berada di bawah batas izin. Investigasi tanah mengungkapkan lapisan lempung ekspansif dengan daya dukung rendah di kedalaman dangkal. Analisis stabilitas menunjukkan bahwa kombinasi dinding penahan tanah (DPT), bronjong, dan mini pile meningkatkan faktor keamanan lereng menjadi 1,99 (statis) dan 1,73 (dinamis), sesuai standar teknis. Desain ini dinilai efektif dalam mengatasi keruntuhan dan dapat menjadi acuan untuk rehabilitasi jembatan di wilayah bertanah lunak tropis

    Model Penentuan Nilai Mahasiswa Pada Aspek Partisipasi Belajar Dengan Pendekatan Fuzzy Tsukamoto

    Full text link
    This study aims to determine the model of student learning participation value and also to determine the criteria for student participation that triggers the value of student learning participation. This study has 5 variables, namely attendance participation, questioning participation, giving ideas participation, helping friends and group discussion activity, each of which has a certain weight. The application of fuzzy logic in this assessment uses fuzzy tsukamoto, the fuzzy rules obtained are 46 rules. The defuzzification results get 87.47 with a very good category, so out of 31 participants who get a fairly good category are 21 participants, participants who get a good category are 9 participants and those who get a very good category are 1 participant.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model nilai partisipasi belajar mahasiswa juga untuk menentukan kriteria partisipasi mahasiswa yang menjadi pemicu terhadap nilai partisipasi belajar mahasiswa. Penelitian ini memiliki 5 variabel yaitu partisipasi kehadiran, partisipasi bertanya, partisipasi memberi gagasan, keaktifan membantu teman dan keaktifan diskusi kelompok masing-masing memiliki bobot tertentu. Penerapan logika fuzzy dalam penilaian ini menggunakan fuzzy tsukamoto, aturan fuzzy yang didapat sebanyak 46 rule. Hasil defuzzifikasi mendapatkan 87.47 dengan kategori sangat baik, maka dari 31 partisipan yang mendapatkan kategori cukup baik sebanyak 21 partisipan, partisipan yang mendapatkan kategori baik sebanyak 9 partisipan dan yang mendapatkan kategori sangat baik sebanyak 1 partisipan

    Penerapan Metode Multi Attribute Utility Theory (MAUT) Untuk Menentukan Prioritas Penerima Bantuan Bencana Alam (Studi Kasus: BPBD Bengkulu Tengah)

    Full text link
    Indonesia, as an equatorial archipelago located between the Asian and Australian continents, faces high risks of natural disasters, particularly floods and landslides. These disasters cause various adverse impacts, such as infrastructure damage, psychological trauma, and social and economic losses for victims. The Regional Disaster Management Agency (BPBD), as the primary institution for disaster response, must provide effective services for community recovery, thus requiring a fast and accurate system. Therefore, this research aims to develop a Decision Support System (DSS) using the Multi-Attribute Utility Theory (MAUT) method to assist BPBD in determining priority recipients of disaster aid. The advantage of the MAUT method lies in its ability to process multi-criteria decisions, consider stakeholder preferences, and produce quantitative and transparent outputs. The system was built using PHP and designed with Unified Modeling Language (UML). Testing was conducted on 16 alternative datasets, producing a priority ranking based on the highest scores. Accuracy tests showed an 87.5% success rate, while black-box testing achieved 100%. The highest preference score (0.92083) proves MAUT's accuracy in decision-making.Indonesia sebagai negara kepulauan di garis khatulistiwa yang terletak antara Benua Asia dan Australia memiliki risiko tinggi terhadap bencana alam, terutama banjir dan tanah longsor. Bencana tersebut menyebabkan berbagai dampak buruk, seperti kerusakan infrastruktur, trauma psikologis, serta kerugian sosial dan ekonomi bagi korban. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebagai lembaga utama penanganan bencana harus memberikan pelayanan efektif untuk pemulihan masyarakat, sehingga memerlukan sistem yang cepat dan akurat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan membangun Sistem Pendukung Keputusan (SPK) dengan metode Multi Attribute Utility Theory (MAUT) guna membantu BPBD menentukan prioritas penerima bantuan bencana. Keunggulan metode MAUT terletak pada kemampuannya mengolah keputusan multikriteria, mempertimbangkan preferensi stakeholder, serta menghasilkan output kuantitatif dan transparan. Sistem ini dibangun menggunakan PHP dan dirancang dengan Unified Modeling Language (UML).  Pengujian dilakukan terhadap 16 data alternatif, menghasilkan peringkat prioritas berdasarkan skor tertinggi. Hasil uji akurasi menunjukkan tingkat keberhasilan 87,5%, sementara pengujian black box berjalan 100%. Skor preferensi tertinggi (0,92083) membuktikan keakuratan MAUT dalam pengambilan keputusan. Kata Kunci: Banjir, Longsor,  Bantuan, Sistem Pendukung Keputusan, Metode MAUT

    Integrasi Ekowisata Berbasis Pesisir: Strategi Peningkatan Nilai Ekonomi Dan Lingkungan

    Full text link
    The lack of integration of the ecotourism management system often causes problems in the attraction aspect, resulting in a decrease in tourist visits both regionally, nationally and internationally. The main objective of the research is to develop a strategy to increase economic and environmental value in the form of integrating three coastal-based ecotourisms. The data used are primary data (qualitative data) and secondary data (quantitative data). The Bengkulu City was used as an urban-based research case with coastal characteristics. The three ecotourism objects taken are Fort Marlborough ecotourism, Kampong Cina ecotourism, and Pantai Panjang ecotourism. Data collection was carried out using in-depth interviews, observation, and documentation methods. Data analysis was carried out using descriptive analysis methods and SWOT analysis. The results of the research show that there are nine strategies that are capable of building coastal-based integrated ecotourism that is highly attractive and capable of increasing economic and environmental value, namely: formulate a grand design for the integration of three coastal ecotourism destinations appropriately; build strong coordination and synergy with various stakeholders; improve the charm of the physical form of ecotourism consistently; provide strengthening, literacy, and guidance to the community; conduct an in-depth study of the various shortcomings of the three destinations; building a positive image of integrated coastal ecotourism destinations; increasing the strength of attraction through improving the quality of representative economic facilities/facilities (culinary tourism); improving the quality of human resources in the form of training and benchmarking to increase professionalism; and conducting intensive dialogue and discussions between stakeholders.  The lack of integration of the ecotourism management system often causes problems in the attraction aspect, resulting in a decrease in tourist visits both regionally, nationally and internationally. The main objective of the research is to develop a strategy to increase economic and environmental value in the form of integrating three coastal-based ecotourisms. The data used are primary data (qualitative data) and secondary data (quantitative data). The Bengkulu City was used as an urban-based research case with coastal characteristics. The three ecotourism objects taken are Fort Marlborough ecotourism, Kampong Cina ecotourism, and Pantai Panjang ecotourism. Data collection was carried out using in-depth interviews, observation, and documentation methods. Data analysis was carried out using descriptive analysis methods and SWOT analysis. The results of the research show that there are nine strategies that are capable of building coastal-based integrated ecotourism that is highly attractive and capable of increasing economic and environmental value, namely: formulate a grand design for the integration of three coastal ecotourism destinations appropriately; build strong coordination and synergy with various stakeholders; improve the charm of the physical form of ecotourism consistently; provide strengthening, literacy, and guidance to the community; conduct an in-depth study of the various shortcomings of the three destinations; building a positive image of integrated coastal ecotourism destinations; increasing the strength of attraction through improving the quality of representative economic facilities/facilities (culinary tourism); improving the quality of human resources in the form of training and benchmarking to increase professionalism; and conducting intensive dialogue and discussions between stakeholders

    VARIASI KONSENTRASI SENG KLORIDA (ZnCl2) SEBAGAI AKTIVATOR ARANG AKTIF BERBAHAN BAKU KULIT BUAH SALAK PADANGSIDIMPUAN

    Full text link
    Kulit buah salak dapat menjadi bahan dasar pembuatan arang aktif karena mengandung senyawa selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang berpotensi tinggi sebagai sumber karbon. Pemanfaatan limbah kulit buah salak sebagai bahan baku arang aktif juga merupakan upaya dalam mengurangi limbah agroindustri sekaligus meningkatkan nilai tambahnya. Pembuatan arang aktif dari kulit buah salak dilakukan melalui dua tahap utama, yaitu proses karbonisasi dan aktivasi. Aktivasi kimia menggunakan bahan kimia ZnCl2 sebagai aktivator diketahui dapat menghasilkan mutu arang aktif yang lebih baik dibandingkan aktivasi fisika. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi aktivator seng klorida (ZnCl2) terbaik dalam pembuatan arang aktif kulit buah salak asal Padangsidimpuan. Penelitian dilaksanakan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan enam perlakuan konsentrasi ZnCl2 (5%, 10%, 15%, 20%, 25%, dan 30%) dan tiga ulangan. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf signifikansi 5%. Hasil menunjukkan bahwa variasi konsentrasi aktivator berpengaruh nyata terhadap rendemen, kadar air, kadar abu, kadar zat volatil, kadar karbon terikat, dan daya serap iodium. Aktivasi dengan ZnCl2 30% memberikan hasil terbaik dengan rendemen 62,29% dan serapan iodium 960,25 mg/g, serta kadar air, abu, zat volatil, dan karbon terikat masing-masing 7,15%, 8,32%, 3,96%, dan 80,56%.Kulit buah salak dapat menjadi bahan dasar pembuatan arang aktif karena mengandung senyawa selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang berpotensi tinggi sebagai sumber karbon. Pemanfaatan limbah kulit buah salak sebagai bahan baku arang aktif juga merupakan upaya dalam mengurangi limbah agroindustri sekaligus meningkatkan nilai tambahnya. Pembuatan arang aktif dari kulit buah salak dilakukan melalui dua tahap utama, yaitu proses karbonisasi dan aktivasi. Aktivasi kimia menggunakan bahan kimia ZnCl2 sebagai aktivator diketahui dapat menghasilkan mutu arang aktif yang lebih baik dibandingkan aktivasi fisika. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi aktivator seng klorida (ZnCl2) terbaik dalam pembuatan arang aktif kulit buah salak asal Padangsidimpuan. Penelitian dilaksanakan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan enam perlakuan konsentrasi ZnCl2 (5%, 10%, 15%, 20%, 25%, dan 30%) dan tiga ulangan. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf signifikansi 5%. Hasil menunjukkan bahwa variasi konsentrasi aktivator berpengaruh nyata terhadap rendemen, kadar air, kadar abu, kadar zat volatil, kadar karbon terikat, dan daya serap iodium. Aktivasi dengan ZnCl2 30% memberikan hasil terbaik dengan rendemen 62,29% dan serapan iodium 960,25 mg/g, serta kadar air, abu, zat volatil, dan karbon terikat masing-masing 7,15%, 8,32%, 3,96%, dan 80,56%

    Short Communication: Behavioural Adaptations in Mating Patterns of Timor Deer (Cervus timorensis) in Captive Conditions in Kediri Facilities, East Java

    Full text link
    The Timor deer (Cervus timorensis), an endemic species of Indonesia, faces a severe population decline caused by habitat degradation, illegal hunting, and limited conservation initiatives. Captive breeding represents a strategic measure to enhance reproductive performance and ensure species persistence. This study examined the mating behaviour of Timor deer at the Brigif-16/Wira Yudha facility, Kediri, emphasising the effects of environmental conditions, social dynamics, and enclosure management. A total of 15 adult males and 40 adult females were monitored over two months using scan sampling across four daily periods (06:00–12:00, 12:00–15:00, 15:00–18:00, and 18:00–24:00). Results indicated that mating-related behaviors accounted for 18.7% of total activities, with the highest occurrence in the morning (06:00–12:00; 42.5% of mating events). Male-to-male competition represented 11.3% of all observations, also peaking in the morning, while female affiliative behaviours reached 15.8% during the same period. Activity levels declined sharply during midday heat (12:00–15:00; 8.6% of mating events) and in the evening (18:00–24:00; 6.2%), indicating strong environmental influence. Compared with wild populations, captive deer exhibited more clustered behavioural patterns, likely due to controlled feeding schedules, enclosure design, and the absence of predators. These findings suggest that reproductive monitoring and interventions should prioritise morning sessions when mating and social interactions are most frequent. Management practices that consider natural rhythms, minimise midday heat stress, and optimise social grouping can significantly improve welfare and reproductive output. Beyond practical applications, this study contributes to the understanding of polygynous cervid reproductive ecology under captive conditions. The insights gained provide a framework for refining conservation breeding strategies not only for Timor deer but also for other threatened ungulates facing similar challenges

    Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi daging ayam petelur afkir di Kecamatan Selupu Rejang, Bengkulu

    No full text
    This study aims to examine the community’s decision-making process for purchasing culled layer chicken meat and to identify the factors that affect its consumption in the Selupu Rejang Subdistrict. The research was conducted from April to June 2024 in Talang Lahat, Baru Palbatu, Simpang Nangka, and Karang Jaya Urban Villages. The sample comprised 60 respondents, selected through purposive sampling based on the criterion of consuming culled layer chicken meat. The analysis of factors affecting the consumption of purchasing culled layer chicken meat employed multiple linear regression.  The results show an Adjusted R² of 0.639, indicating that the independent variables explain 63.9 percent of the variance in culled layer chicken meat consumption. Simultaneously, the independent variables significantly influence the consumption. The independent variables with a significant effect are family size, education level, and broiler chicken meat price. Family size and education level have substantial adverse effects (P < 0.05), whereas broiler chicken price has a significant positive impact (P < 0.05) on consumption of culled layer chicken meat. The decision-making process in consuming culled layer chicken meat includes need recognition, information search, evaluation of alternatives, purchase decision, and post-purchase behavior.Penelitian bertujuan untuk mengkaji proses pengambilan keputusan masyarakat saat melakukan pembelian daging ayam petelur afkir dan menentukan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi daging ayam petelur afkir di Kecamatan Selupu Rejang berdasarkan karakteristik konsumen. Penelitian dilakukan pada masyarakat di Kecamatan Selupu Rejang yang mengkonsumsi daging ayam petelur afkir dan telah berusia diatas 20 tahun. Penelitian dilakukan pada Bulan Juni 2024 di Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Lokasi yang dipilih yaitu Kelurahan Talang Lahat, Kelurahan Baru Palbatu, Kelurahan Simpang Nangka, dan Kelurahan Karang Jaya secara purposive sampling berdasarkan pertimbangan responden yang mengkonsumsi protein hewani daging ayam petelur afkir. Jumlah sampel yang digunakan yaitu 60 responden dengan jumlah pada masing-masing kelurahan yaitu 15 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan dalam mengkonsumsi daging ayam petelur afkir meliputi pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan perilaku pascapembelian. Jumlah anggota keluarga dan pendidikan signifikan (P<0,05) berpengaruh negatif terhadap jumlah konsumsi daging ayam petelur afkir, sedangkan harga ayam broiler signifikan (P<0,05) berpengaruh positif terhadap jumlah konsumsi daging ayam petelur afkir pada masyarakat Kecamatan Selupu Rejang, Bengkulu

    12,606

    full texts

    14,213

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Open Journal System (OJS) Universitas Bengkulu is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇