Open Journal System (OJS) Universitas Bengkulu
Open Journal System (OJS) Universitas BengkuluNot a member yet
14213 research outputs found
Sort by
Peningkatan Ekonomi Melalui Pengolahan Durian di UKM Durian Rembangan Bersinar, Kabupaten Jember
Durian menjadi komoditas hortikultura yang menjadi primadona khususnya di Kabupaten Jember. Desa Kemuning Lor menjadi salah satu sentra durian di Lokasi pengabdian. Durian dibudidayakan secara turun temurun. Potensi tersebut tidak diiringi dengan Upaya pemasaran yang tepat, penjualan hanya dilakukan dengan menjual durian segar di pinggir jalan atau pada tengkulak sehingga pada saat panen raya harga menjadi turun drastic. Didasarkan hal tersebut, pengolahan produk turunan durian dapat menjadi Solusi peningkatan kemampuan ekonomi anggota UKM. Beberapa produk yang diolah adalah durian beku, pancake durian, dan selai durian. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan September di tahun 2025 di UKM Durian Rembangan Bersinar, Kabupaten Jember dengan jumlah peserta 30. Kegiatan ini menerapkan active participatory approach yang mengedepankan keaktifan dari para responden yang merupakan anggota dari UKM Durian Rembangan Bersinar, dengan beberapa kegiatan antara lain persiapan pelaksanaan, sosialisasi, dan penerapan teknologi. Berdasarkan hasil kegiatan diketahui terdapat peningkatan sebesar 90 persen pada aspek keterampilan pengolahan, serta 79 persen pada aspek pengetahuan. Kegiatan berlangsung lancar dan penuh antusias dari para peserta.Durian menjadi komoditas hortikultura yang menjadi primadona khususnya di Kabupaten Jember. Desa Kemuning Lor menjadi salah satu sentra durian di Lokasi pengabdian. Durian dibudidayakan secara turun temurun. Potensi tersebut tidak diiringi dengan Upaya pemasaran yang tepat, penjualan hanya dilakukan dengan menjual durian segar di pinggir jalan atau pada tengkulak sehingga pada saat panen raya harga menjadi turun drastic. Didasarkan hal tersebut, pengolahan produk turunan durian dapat menjadi Solusi peningkatan kemampuan ekonomi anggota UKM. Beberapa produk yang diolah adalah durian beku, pancake durian, dan selai durian. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan September di tahun 2025. Kegiatan ini menerapkan active participatory approach yang mengedepankan keaktifan dari para responden yang merupakan anggota dari UKM Durian Rembangan Bersinar, dengan beberapa kegiatan antara lain persiapan pelaksanaan, sosialisasi, dan penerapan teknologi. Berdasarkan hasil kegiatan diketahui terdapat peningkatan sebesar 90 persen pada aspek keterampilan pengolahan, serta 79 persen pada aspek pengetahuan. Kegiatan berlangsung lancar dan penuh antusias dari para pesert
Budidaya Hydroponic melalui Recycle Limbah Plastik sebagai Dukungan SDGs di SMAN 2 Bengkulu Selatan
Hidroponik merupakan metode budidaya tanaman dengan memanfaatkan air larutan pupuk cair sebagai sumber nutrinya. Tipe hidroponic yang diterapkan pada pada pengabdian ini yaitu wick system dengan memanfaatkan sumbu sebagai media penyalur nutrisinya. Pada kegiatan PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat) ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah plastik melalui hidroponic wick system sebagai upaya penanggulangan sampah dan pembentukan karakter peduli lingkungan pada Guru dan siswa. Perserta pengabdian merupakan siswa-siswi dari SMAN 2 Bengkulu Selatan. Metode kegiatan yang dilakukan pada pengabdian ini meliputi sosialisasi, pretest, pelatihan dan praktik pembuatan instalasi, pendampingan, perawatan tanaman, evaluasi (hasil panen dan postest). Hasil kegiatan menunjukan keterlibatan aktif dari siswa pada setiap tahapan dimulai dari sosialisasi-pemanenan hasil budidaya tanaman hidroponik. Tahapan sosialisasi telah dilakukan kepada Guru dan Mahasiswa dengan memberikan informasi awal tentang darurat sampah dan upaya penanggulangan melalu budidaya tanaman hidroponik. Guru dan Siswa aktif menyimak materi konsep tentang Recycle plastik dan teknis pembuatan sistem dari hidroponik. Selanjutnya, Guru dan siswa melaksanakan praktik perakitan instalasi hidroponik wick system, penyiapan media campuran, pembuatan lauratan nutrisi, pengisian lurutan nutrisi ke instalasi hidroponik, pemindahan bibit sayuran ke instalasi, perawatan tanaman hidroponik selama satu bulan, dan pemanenan tanamaan. Selain itu, pemahaman siswa terhadap hidroponik sebagai upaya edukasi lingkungan juga mengalami peningkatan yang ditunjukan pada hasil angket pretest dengan skor 2,7 (cukup) dan skor postest 3,6 (sangat baik). Pengabdian ini memberikan dampak sangat positif dalam membangun pemahaman Edukasi lingkungan Guru dan Siswa melalui budidaya tanaman dengan Hidroponic Wick System yang memanfaatkan sampah plastik di lingkungan Sekolah.Hidroponik merupakan metode budidaya tanaman dengan memanfaatkan air larutan pupuk cair sebagai sumber nutrinya. Tipe hidroponic yang diterapkan pada pada pengabdian ini yaitu wick system dengan memanfaatkan sumbu sebagai media penyalur nutrisinya. Pada kegiatan PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat) ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah plastik melalui hidroponic wick system sebagai upaya penanggulangan sampah dan pembentukan karakter peduli lingkungan pada Guru dan siswa. Perserta pengabdian merupakan siswa-siswi dari SMAN 2 Bengkulu Selatan. Metode kegiatan yang dilakukan pada pengabdian ini meliputi sosialisasi, pretest, pelatihan dan praktik pembuatan instalasi, pendampingan, perawatan tanaman, evaluasi (hasil panen dan postest). Hasil kegiatan menunjukan keterlibatan aktif dari siswa pada setiap tahapan dimulai dari sosialisasi-pemanenan hasil budidaya tanaman hidroponik. Tahapan sosialisasi telah dilakukan kepada Guru dan Mahasiswa dengan memberikan informasi awal tentang darurat sampah dan upaya penanggulangan melalu budidaya tanaman hidroponik. Guru dan Siswa aktif menyimak materi konsep tentang Recycle plastik dan teknis pembuatan sistem dari hidroponik. Selanjutnya, Guru dan siswa melaksanakan praktik perakitan instalasi hidroponik wick system, penyiapan media campuran, pembuatan lauratan nutrisi, pengisian lurutan nutrisi ke instalasi hidroponik, pemindahan bibit sayuran ke instalasi, perawatan tanaman hidroponik selama satu bulan, dan pemanenan tanamaan. Selain itu, pemahaman siswa terhadap hidroponik sebagai upaya edukasi lingkungan juga mengalami peningkatan yang ditunjukan pada hasil angket pretest dengan skor 2,7 (cukup) dan skor postest 3,6 (sangat baik). Pengabdian ini memberikan dampak sangat positif dalam membangun pemahaman Edukasi lingkungan Guru dan Siswa melalui budidaya tanaman dengan Hidroponic Wick System yang memanfaatkan sampah plastik di lingkungan Sekolah
PENGEMBANGAN E-MODUL FISIKA BERBASIS LITERASI SAINTIFIK PADA MATERI USAHA DAN ENERGI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK
This study aimed to determine the feasibility, practicality, and effectiveness of a scientific literacy-based physics e-module on the topic of work and energy to improve students’ learning outcomes.This is a research and development (R&D) study employing the ADDIE development design. The research subjects consisted of a four validators, comprising two lecturers as media experts and two science/physics teachers as material experts, as well as two science/physics teachers and 32 students of SMP Negeri 2 Ende. Data were collected using questionnaires and pretest–posttest. The data were analyzed using the N-gain test.The results of the study show that the developed product is highly feasible for use as a learning resource, with a media expert assessment score of 88.75% and a material expert assessment score of 95.00%, both falling under the “highly feasible” category. The trial results from subject teachers and students indicate that the developed scientific literacy-based physics e-module is highly feasible for use, with an average score of 100% from subject teachers and 81.33% from students. Learning science/physics using the scientific literacy-based physics e-module can positively influence students’ learning outcomes, as evidenced by the N-gain test result of 0.81, which falls under the “high” category. The effectiveness test result reached 100%, categorized as “highly effective.” These findings indicate that the scientific literacy-based physics e-module is both highly feasible and highly effective for use.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan produk terhadap penggunaan e-modul fisika berbasis literasi saintifik pada materi usaha dan energi untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Penelitian pengembangan (Research adnd Development) dan menggunakan desain pengembangan ADDIE. Subjek dalam penelitian yaitu 4 validator yang terdiri dari 2 dosen sebagai ahli media dan 2 guru mata pelajaran IPA/Fisika sebagai ahli materi, serta 2 guru mata pelajaran IPA/Fisika dan 32 peserta didik SMP Negeri 2 Ende. Pengumpulan data dilakukan dengan lembar angket dan pretest-posttest. Analisis data dengan menggunakan uji N-gain.
Hasil penelitian menunjukan bahwa produk yang dihasilkan sangat layak digunakan sebagai sumber belajar berdasarkan penilaian ahli media sebesar 88,75% dan ahli materi sebesar 95,00% dengan kriteria sangat layak. Hasil uji coba guru mata pelajaran dan peserta didik menunjukan e-modul fisika berbasis literasi saintifik yang dikembangkan sangat layak untuk digunakan dengan rata-rata penilaian oleh guru mata pelajaran sebesar 100% dan peserta didik sebesar 81,33%. Pembelajaran IPA/Fisika dengan menggunakan e-modul fisika berbasis literasi saintifik dapat berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik, hal ini dibuktukan dengan hasil perhitungan menggunakan uji N-gain yaitu diperoleh
hasil sebesar 0,81 dengan kriteria tinggi. Hasil uji efektifitas diperoleh hasil sebesar 100% dengan kategori sangat efektif. Hal ini menunjukan bahwa e-modul fisika berbasis literasi saintifik sangat layak dan sangat efektif untuk digunakan.
Kata kunci: E-Modul Fisika; Literasi Saintifik; Hasil Belajar
Perancangan Filter Pasif Pada Gardu Traksi di Stasiun Citayam Guna Mengurangi Efek Distorsi Harmonisa
Electric Rail Trains (KRL) have become the most frequently used transportation mode for daily activities in the community. One of the existing problems within the operation system of Electric Rail Trains (KRL) lies in the current rectification process. During this rectification process, an effect occurs that can cause disturbances in the KRL's electrical system. This resulting effect is the harmonic effect. This study aims to address the problem of power quality degradation in the Electric Rail Train (KRL) at the Citayam Station Traction Substation, which is caused by this harmonic effect. The harmonic effect arises from the process of rectifying alternating current (AC) into direct current (DC) using a silicon rectifier, which can lead to voltage drop, speed reduction, or even the operational stoppage of the KRL.The research method used is quantitative descriptive. The study did not conduct direct measurements but instead used averaged assumption data from three related journals as primary data. The data analyzed were the values of Total Harmonic Distortion (THD) for both current and voltage, particularly focusing on the 5th, 7th, and 11th harmonic orders, which were identified as the highest contributors to the harmonic distortion. To mitigate the harmonics, this study designed a single-tuned passive filter using the ETAP (Electric Transient Analysis Program) software. The design aims to suppress the harmonic distortion, thereby improving the electrical power quality, maintaining the reliability of the traction substation, and optimizing KRL operations. The single-tuned passive filter designed in this research was capable of suppressing harmonics by up to 0.009%.Kereta rel listrik (KRL) menjadi transportasi yang paling sering digunakan setiap harinya oleh masyarakat untuk beraktivitas. Salah satu permasalahan yang ada dalam sistem perjalanan Kereta rel listrik (KRL) terdapat pada penyearahan arus listrik. Pada saat proses penyearahan terdapat efek yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada sistem kelistrikan kereta rel listrik. Efek yang dihasilkan adalah efek harmonisa. Untuk mengatasi permasalahan penurunan kualitas daya pada Kereta Rel Listrik (KRL) di Gardu Traksi Stasiun Citayam yang disebabkan oleh efek harmonisa. Efek harmonisa timbul dari proses penyearahan arus bolak-balik (AC) menjadi arus searah (DC) menggunakan silicon rectifier, yang dapat mengakibatkan penurunan tegangan, perlambatan, atau bahkan penghentian operasional KRL. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif. Penelitian ini tidak melakukan pengukuran langsung, melainkan menggunakan data asumsi yang dirata-ratakan dari tiga jurnal terkait sebagai data primer. Data yang dianalisis adalah nilai Total Harmonic Distortion (THD) arus dan tegangan, khususnya pada orde harmonisa ke-5, ke-7, dan ke-11 yang diidentifikasi sebagai penyumbang harmonisa tertinggi. Untuk meredam harmonisa, penelitian ini merancang filter pasif single tuned menggunakan perangkat lunak ETAP (Electric Transient Analysis Program). Rancangan ini bertujuan untuk meredam distorsi harmonisa, sehingga kualitas listrik kembali membaik dan menjaga keandalan gardu traksi serta mengoptimalkan perjalanan KRL.Filter pasif single tuned pada penelitian ini mampu meredam harmonisa hingga 0,009%
Penanganan Dampak Abu Vulkanik Letusan Gunung Lewotobi Terhadap Operasi Penerbangan
Volcanic ash poses a serious threat to aviation due to its abrasive nature and its tendency to melt at high temperatures, as evidenced by the 1982 British Airways incident at Mount Galunggung. The eruption of Mount Lewotobi from November 7 to 18, 2024, caused ash dispersion that disrupted operations at 13 airports, resulting in the cancellation of hundreds of domestic flights and dozens of international flights. This study employs a qualitative descriptive method, utilizing secondary data, to evaluate how the impacts of the eruption on aviation were managed. The results show that the response was carried out effectively in accordance with Regulation No. PM 95 of 2018, with no serious incidents reported. This was achieved through coordinated dissemination of VONA, VAA, and SIGMET reports, as well as the issuance of ASHTAM and NOTAM. Recommendations are focused on enhancing coordination, strengthening monitoring, and updating aviation operational procedures.Abu vulkanik menjadi ancaman serius bagi penerbangan karena sifatnya yang abrasif dan mudah meleleh pada suhu tinggi, seperti yang terjadi pada insiden British Airways 1982 di Gunung Galunggung. Letusan Gunung Lewotobi pada 7–18 November 2024 menimbulkan penyebaran abu yang mengganggu operasional 13 bandara, sehingga ratusan penerbangan domestik dan puluhan internasional harus dibatalkan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan data sekunder untuk mengevaluasi penanganan dampak erupsi terhadap penerbangan. Hasil menunjukkan penanganan telah dilakukan secara efektif sesuai Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor PM 95 Tahun 2018 tanpa adanya insiden serius, melalui koordinasi laporan VONA, VAA, SIGMET, hingga penerbitan ASHTAM dan NOTAM. Rekomendasi difokuskan pada peningkatan koordinasi, penguatan pemantauan, serta pembaruan prosedur operasional penerbangan
Dari Individu Ke Kolaboratif: Transformasi Budaya Sekolah Untuk Kesuksesan Kurikulum Merdeka
This study aims to describe the implementation of a collaborative culture in the planning, implementation, and evaluation of learning as well as to identify its challenges in the curriculum implementation at SMA Negeri 1 Bengkulu Selatan by employing a qualitative descriptive approach through interviews, observations, and document analysis, with participants consisting of the principal, vice principal for curriculum, teachers, and students. The findings reveal that a collaborative culture is integrated into the planning, implementation, and evaluation of learning, characterized by effective interaction, open communication, participatory leadership, and collective problem-solving that support the creation of student-centered learning. Nevertheless, the implementation of a collaborative culture faces challenges such as limited time, differences in perception, individualistic tendencies, difficulties in adapting to change, low participation, and high administrative workload. This study offers novelty by uncovering the dynamics of collaboration at the school level through the perspectives of various stakeholders, emphasizing the importance of institutional support and strengthening a collaborative work culture as strategies to enhance the effectiveness of curriculum implementation, while also contributing to the literature on collaboration-based curriculum implementation and providing practical implications for schools in building a sustainable collaborative culture.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan budaya kolaboratif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran serta mengidentifikasi tantangannya dalam implementasi Kurikulum di SMA Negeri 1 Bengkulu Selatan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui teknik wawancara, observasi, dan analisis dokumen, dengan partisipan terdiri atas kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru, dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya kolaboratif terintegrasi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran yang ditandai dengan interaksi efektif, komunikasi terbuka, kepemimpinan partisipatif, dan pemecahan masalah kolektif untuk mendukung terciptanya pembelajaran berpusat pada siswa. Namun demikian, penerapan budaya kolaboratif menghadapi tantangan berupa keterbatasan waktu, perbedaan persepsi, kecenderungan individualistik, kesulitan beradaptasi dengan perubahan, rendahnya partisipasi, serta beban administratif yang tinggi. Penelitian ini menawarkan kebaruan dengan mengungkap dinamika kolaborasi di tingkat sekolah melalui perspektif berbagai pemangku kepentingan, menegaskan pentingnya dukungan institusional dan penguatan budaya kerja kolaboratif sebagai strategi dalam meningkatkan efektivitas implementasi kurikulum, serta memberikan kontribusi pada literatur mengenai implementasi kurikulum berbasis kolaborasi sekaligus implikasi praktis bagi sekolah dalam membangun budaya kolaboratif yang berkelanjutan
The Use of AI Generative Feedback in Writing Theses for 8th-Semester Students English Education Study Program at the University of Bengkulu
Thesis writing in higher education poses a significant challenge for many students. With the rapid advancement of Artificial Intelligence (AI), students have begun using AI tools, particularly to obtain feedback during the writing process. This study investigates how AI-generated feedback is utilized in thesis writing and explores students’ perceptions of its effectiveness. Six eighth-semester students from the English Education Study Program at the University of Bengkulu were selected using criterion sampling. A qualitative phenomenological design was adopted, and data were collected through semi-structured interviews and documentation. Thematic analysis revealed that students used Chat GPT as their primary tool and engaged in three main activities: requesting, receiving, and responding to feedback. Participants reported that the feedback was generally helpful in improving the quality of their thesis writing, especially in terms of clarity, coherence, and self-revision. However, concerns regarding the relevance and accuracy of the feedback prompted them to verify it through self-evaluation, discussions with peers, or consultations with their supervisors. Despite its limitations, AI-generated feedback was perceived as a valuable support tool that enhanced students' autonomy and writing development. This suggests that while AI cannot fully replace human feedback, it can significantly contribute to the academic writing process by fostering independent learning and revision
Exploring Constructivism in the Context of English Material Development for Senior High Schools: A Literature Review Approach
English language learning in high schools in Indonesia still focuses on theory, namely memorizing tenses, practicing grammar, and sentence structure, while communicative skills such as spontaneous speaking and real-life interactions receive very little attention. Previous research shows that students feel low on confidence and limited facilities and practice time. Psychological aspects such as self-confidence, student learning styles, technology integration, and authentic assessment are still rarely an integral part of teaching material design. This study aims to map best practices and weaknesses in the development of constructivist-based English teaching materials in high schools, with an integrative focus on the use of technology, variations in student learning styles, and authentic assessment, so that students' communication skills and confidence are improved. The method used is a literature review from 2018-2024 from national and international journals, proceedings, and research reports. This study uses thematic analysis techniques and framework analysis. The main findings indicate that approaches such as PjBL and CTL that involve projects, simulations, discussions, and real-life interactions can increase student engagement, creativity, critical thinking, and self-confidence. The integration of technology as a learning medium is indeed appealing, but its implementation has not been optimal in supporting authentic communication. Diversity in learning styles strengthens the effectiveness of teaching materials, and authentic assessments help measure students' actual abilities. This study fills a gap in the local literature by combining aspects of technology, learning styles, and authentic assessment within a single framework
Intrinsic and Extrinsic Motivation as Predictors of Academic English Reading Performance among Multidisciplinary University Students
Numerous studies in the last decade have predominantly examined reading motivation among English major students, leaving limited evidence from multidisciplinary non-English majors in social sciences and humanities. This present study aims to examine the intrinsic and extrinsic motivation levels and their relationship with academic reading performance among 150 undergraduate students from five non-English majors at two private universities in Bukittinggi, Indonesia. This quantitative correlational research design collected the data through a reading motivation questionnaire comprising intrinsic and extrinsic dimensions, and an academic English reading test. The data were analyzed descriptively (mean and standard deviation) and inferentially using Pearson correlation analysis. The results revealed that students’ academic reading ability was at a moderate-to-high level (M = 78.4, SD = 7.6). Students have better academic reading performance in literal comprehension than in inferential and evaluative comprehension. Additionally, the statistical analysis results show that there is a significant correlation between students’ intrinsic motivation and their reading performance (r = 0.47, p < 0.001). In contrast, the correlation between students’ intrinsic motivation and reading performance was lower (r = 0.21, p. < 0.005). These findings suggest that the most influential factor to foster students’ ability in academic reading was intrinsic motivation
Tindak Tutur Direktif Guru pada Kegiatan Mengajar di SLBN 5 Kota Bengkulu
Directive speech acts play an important role in the learning process, as they are used by teachers to direct, control, and manage students’ responses so that learning objectives can be achieved effectively. This study aims to characterize the directive speech acts used by teachers during learning activities at SLBN 5 Kota Bengkulu. The study focuses on issues related to the use of teachers’ directive speech acts in classroom learning at SLBN 5 Kota Bengkulu. A descriptive method was employed in this research. The study was conducted at SLBN 5 Kota Bengkulu, with data sources consisting of teachers’ directive utterances during Indonesian language learning activities. Data were collected through observation, audio recording, and field notes. Data analysis was carried out through several stages: (1) transcribing oral data into written form, (2) identifying data based on types of directive speech acts, (3) classifying data according to their categories, (4) interpreting the data, and (5) drawing conclusions. The results indicate that teachers’ directive speech acts in Indonesian language learning include (1) requests (requestives), (2) questions (questions), (3) commands (requirements), (4) prohibitions (prohibitives), (5) permissions (permissives), and (6) advice (advisories). In the context of learning at SLBN 5 Kota Bengkulu, these directive speech acts function to direct students’ attention, regulate learning behavior, and assist students in understanding learning instructions in accordance with the needs of students with special needs.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi tindak tutur yang diarahkan guru yang terjadi selama kegiatan pembelajaran di SLBN 5 Kota Bengkulu. Penelitian ini mengangkat sebuahpermasalahan, khususnya tindak tutur direktif guru dalam kegiatan pembelajaran di SLBN 5 Kota Bengkulu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan d SLBN 5 Kota Bengkulu. Sumber data dalam peneitian ini berupa tuturan direktif guru pada kegiatan mengajar bahasa Indonesia. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, teknik rekam, dan catatan lapangan. Langkah-langkah pengolaan data yang dilakukan yaitu (1) mentranskripsi data dari lisan menjadi tulisan, (2) mengidentifikasi data berdasarkan jenis-jenis tindak tutur direktif, (3) mengkasifikasi data berdasarkan kelompoknya, (4) menginterpretasi data, dan (5) menyimpulkan data. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh tindak tutur direktif guru dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia meliputi (1) Tindak tutur direktif permintaan (requestives) ditandai dengan kata “tolong, ayo, yok, coba”. (2) Tindak tutur direktif pertanyaan (questions) ditandai dengan kata “apa, kenapa, dan berapa diiringi dengan intonasi bertanya. (3) Tindak tutur direktif persyaratan/perintah (requirements) ditandai dengan kata “ambil sini, diam, sini, ulang, dan sesuai dengan konteksnya”. (4) Tindak tutur direktif melarang (prohibitives) ditandai dengan “kata tidak boleh, jangan, udah sesuai dengan konteks”. (5) Tindak tutur direktif persilaan/pemberian izin (permissives) ditandai kata “silahkan, boleh, bawa sini sesuai dengan konteks”. (6) Tindak tutur direktif nasihat (advisories) ditandai dengan kata “dikurangi, dirapikan, belajar lagi sesuai dengan konteks” dan ditemukannya strategi langsung dan tidak langsung dalam kegiatan mengajar