Open Journal System (OJS) Universitas Bengkulu
Open Journal System (OJS) Universitas BengkuluNot a member yet
14213 research outputs found
Sort by
One Class, One Pot, One Tree as a Sustainability Design Strategy in Environmental Management at SMP Negeri 1 Warureja
Environmental issues have become a global concern that requires serious attention, including in the education sector. This study aims to evaluate the "One Class, One Pot, One Tree" program as a sustainability design strategy for environmental management at SMP Negeri 1 Warureja. The research employed a descriptive qualitative approach with participants including students, teachers, and the principal. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and analysed thematically. The findings revealed that student participation reached 85%, reflecting the success of the experiential learning approach. The program also positively impacted the school environment, with an increase in green spaces by 35% (52.5 m²) and a reduction in the average environmental temperature by 1.5°C. However, challenges such as limited water resources and busy schedules were identified. Local community involvement and integration with the curriculum present opportunities to enhance program sustainability. In conclusion, the program not only improves students' environmental awareness but also establishes a sustainability education model that can be adopted by other schools in Indonesia
MENGUATNYA AUTOCRATIC LEGALISM: MELEMAHNYA KONSOLIDASI MASYARAKAT SIPIL UNTUK PELEMBAGAAN DEMOKRASI
Levitsky and Ziblatt emphasize that threats to democracy often occur gradually through mechanisms that are legal but fundamentally weaken the system. This phenomenon is called autocratic legalism: the use of law to legitimize undemocratic actions. This phenomenon highlights how policies that appear legitimate can be abused to perpetuate power or reduce public participation space. Once all constitutional constraints have been loosened, those in power can easily use legal instruments so that their actions appear legal. In reality, this phenomenon—mutatis mutandis—weakens the consolidation of civil society in the institutionalization of democracy and even pushes it toward authoritarianism. This is exactly the condition currently occurring in legislative practice in Indonesia. Laws are made solely to fulfill the needs and desires of a small group of political elites. Examples include revisions to the KPK Law (Anti-Corruption Commission) and the State-Owned Enterprises (BUMN) Law, and the enactment of the new Capital City (IKN) Law—all of which demonstrate the high intensity of autocratic legalism in Indonesia's legislative process. At the same time, legislative products that represent the aspirations of many people remain unfinished, such as the Bill on Indigenous Peoples, the Bill on Asset Forfeiture (related to corruption proceeds), and the Bill on the Protection of Domestic Workers. The problems to be answered in this research consist of two main issues: (1) What is the impact of autocratic legalism on the institutionalization of democracy in Indonesia?, and (2) How does autocratic legalism influence the weakening of civil society consolidation in Indonesia? This research aims to analyze two things, First, why is the institutionalization of democracy difficult to achieve in a situation where autocratic legalism is strengthening, and civil society consolidation is weakening? Second, the impact of autocratic legalism on the weakening of civil society consolidation in Indonesia. This research employs a doctrinal legal method, a conceptual approach, and qualitative analysis. The research findings show that the practice of autocratic legalism, which exploits legal procedures to legitimize power, has made the institutionalization of democracy difficult to function, due to the unsystematic pattern of relations between the executive and legislative branches in law-making, and executive dominance in this practice has reduced the essence of democracy and weakened human rights guarantees through the blurring of checks and balances functions, the strengthening of power coalitions, as well as the criminalization of criticism and restrictions on media freedom. Therefore, the practice of autocratic legalism must be halted through limiting presidential authority, strengthening judicial independence, and increasing meaningful public participation in government oversight.Levitsky dan Ziblatt menegaskan bahwa ancaman terhadap demokrasi sering kali berlangsung perlahan melalui mekanisme yang legal namun melemahkan sistem secara mendasar. fenomena ini disebut autocratic legalism yaitu penggunaan hukum untuk melegitimasi tindakan-tindakan yang tidak demokratis. Fenomena ini menyoroti bagaimana kebijakan yang tampaknya sah dapat disalahgunakan untuk melanggengkan kekuasaan atau mengurangi ruang partisipasi publik. Setelah semua batasan konstitusional dilonggarkan, penguasa akan dengan mudah menggunakan instrumen hukum sehingga tindakannya seakan-akan benar. Padahal fenomena ini mutatis mutandis akan melemahkan konsolidasi masyarakat sipil untuk pelembagaan demokrasi bahkan ke arah otoritarianisme. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dua hal: pertama, mengapa pelembagaan demokrasi sulit terwujud dalam situasi menguatnya autocratic legalism dan lemahnya konsolidasi masyarakat sipil; kedua, bagaimana dampak autocratic legalism terhadap melemahnya konsolidasi masyarakat sipil di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode hukum doktrinal dengan pendekatan konseptual dan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) praktik autocratic legalism yang memanfaatkan prosedur hukum untuk melegitimasi kekuasaan ternyata menyulitkan pelembagaan demokrasi dalam bekerja, dikarenakan tidak tersistemnya pola relasi antara eksekutif dan legislatif dalam pembentukan hukum; dan (2) dominasi eksekutif dalam praktik tersebut telah mereduksi esensi demokrasi serta melemahkan jaminan hak asasi manusia melalui pengaburan fungsi checks and balances, penguatan koalisi kekuasaan, serta kriminalisasi kritik dan pembatasan kebebasan media. Oleh karena itu, praktik autocratic legalism harus dihentikan melalui pembatasan kewenangan presiden, penguatan independensi lembaga peradilan, dan peningkatan partisipasi bermakna masyarakat dalam pengawasan pemerintahan
MANAJEMEN RISIKO PENGEMBANGAN AGROTECHNOPRENEURSHIP ABON LELE DI KABUPATEN JEMBER
Salah satu agrotechnopreneurship berbasis perikanan yang berpotensi dikembangkan di Kabupaten Jember adalah industri abon ikan lele. Pengembangan agrotechnopreneurship menghadapi beberapa risiko akibat adanya ketidakpastian pada kegiatan usahanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengelola risiko dalam pengembangan agrotechnopreneurship abon lele, dengan tujuan memberikan panduan praktis bagi para pemangku kepentingan agrotechnopreneurship di Kabupaten Jember dalam mendirikan dan mengembangkan usahanya. Metode manajemen risiko yang digunakan dalam penelitian ini meliputi wawancara dan observasi untuk mengidentifikasi risiko, Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk menilai tingkat keparahan dan kemungkinan terjadinya risiko, diagram tulang ikan (fishbone diagram) untuk menganalisis akar penyebab risiko, serta Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas strategi mitigasi risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 10 potensi risiko yang di antaranya terkait dengan pengembangan agrotechnopreneurship abon lele di Kabupaten Jember. Berdasarkan analisis kekritisan, teridentifikasi empat risiko utama dalam proses pengembangan agrotechnopreneurship abon lele, antara lain rendahnya kemampuan permodalan untuk pengembangan produk, proses produksi tidak kontinu, kegiatan promosi yang kurang intensif, dan kurangnya inovasi produk. Faktor manusia, metode, sarana, dan lingkungan diperhitungkan dalam mengevaluasi akar penyebab risiko. Hasil dari mitigasi risiko menunjukkan beberapa strategi prioritas yang dapat diterapkan yaitu perlunya peran pemerintah dalam memfasilitasi (akses dan kebijakan) peminjaman modal, menerapkan manajemen rantai pasok untuk mengelola distribusi bahan baku dan produk, berpartisipasi dalam acara atau pameran yang diselenggarakan oleh pemerintah, serta mengembangkan variasi rasa dan kemasan produk abon lele.Salah satu agrotechnopreneurship berbasis perikanan yang berpotensi dikembangkan di Kabupaten Jember adalah industri abon ikan lele. Pengembangan agrotechnopreneurship menghadapi beberapa risiko akibat adanya ketidakpastian pada kegiatan usahanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengelola risiko dalam pengembangan agrotechnopreneurship abon lele, dengan tujuan memberikan panduan praktis bagi para pemangku kepentingan agrotechnopreneurship di Kabupaten Jember dalam mendirikan dan mengembangkan usahanya. Metode manajemen risiko yang digunakan dalam penelitian ini meliputi wawancara dan observasi untuk mengidentifikasi risiko, Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk menilai tingkat keparahan dan kemungkinan terjadinya risiko, diagram tulang ikan (fishbone diagram) untuk menganalisis akar penyebab risiko, serta Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas strategi mitigasi risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 10 potensi risiko yang di antaranya terkait dengan pengembangan agrotechnopreneurship abon lele di Kabupaten Jember. Berdasarkan analisis kekritisan, teridentifikasi empat risiko utama dalam proses pengembangan agrotechnopreneurship abon lele, antara lain rendahnya kemampuan permodalan untuk pengembangan produk, proses produksi tidak kontinu, kegiatan promosi yang kurang intensif, dan kurangnya inovasi produk. Faktor manusia, metode, sarana, dan lingkungan diperhitungkan dalam mengevaluasi akar penyebab risiko. Hasil dari mitigasi risiko menunjukkan beberapa strategi prioritas yang dapat diterapkan yaitu perlunya peran pemerintah dalam memfasilitasi (akses dan kebijakan) peminjaman modal, menerapkan manajemen rantai pasok untuk mengelola distribusi bahan baku dan produk, berpartisipasi dalam acara atau pameran yang diselenggarakan oleh pemerintah, serta mengembangkan variasi rasa dan kemasan produk abon lele
PERANCANGAN KEMASAN TRANSPORTASI BUAH MELON (Cucumis melo L.)
Transportasi buah melon merupakan mata rantai penting dalam kegiatan pascapanen karena umumnya buah melon hanya dibudidayakan di beberapa sentra produksi sedangkan konsumen tersebar di daerah yang cukup jauh dari lokasi penanaman. Penelitian bertujuan untuk merancang kemasan tranportasi buah melon dan penataan buah dalam kemasan partisi yang tepat untuk meminimalkan potensi kerusakan buah. Penelitian ini meliputi pembuatan desain kemasan dan dan uji jatuh untuk menguji kekuatan kemasan. Pengujian dilakukan dengan menghitung kekuatan kemasan, simulasi 3 (tiga) kali pengangkutan berulang, menghitung susut bobot, dan melakukan uji jatuh. Selama simulasi pengangkutan, suhu berkisar antara 25,70°C hingga 34,10°C, kelembapan relatif berkisar antara 66.80% hingga 84%, dan nilai maksimum getaran sebesar 8,2 m/s2. Karton gelombang flute BC digunakan sebagai bahan kemasan dengan kapasitas 20 kg dan disusun dengan lima tipe meliputi simple cubic (SC) tanpa partisi, SC partisi karton, SC partisi jerami, SC partisi kertas, dan jumble tanpa partisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan kemasan yang dirancang dengan dimensi ukuran 50 x 33 x 35 cm adalah 351,49 kgf, dan dapat ditumpuk hingga 5 kemasan. Kerusakan paling sedikit terjadi pada SC partisi jerami dan kerusakan paling banyak terjadi pada SC tanpa partisi. Susut bobot terbesar terjadi pada SC partisi kertas 0,89%.Transportasi buah melon merupakan mata rantai penting dalam kegiatan pascapanen karena umumnya buah melon hanya dibudidayakan di beberapa sentra produksi sedangkan konsumen tersebar di daerah yang cukup jauh dari lokasi penanaman. Penelitian bertujuan untuk merancang kemasan tranportasi buah melon dan penataan buah dalam kemasan partisi yang tepat untuk meminimalkan potensi kerusakan buah. Penelitian ini meliputi pembuatan desain kemasan dan dan uji jatuh untuk menguji kekuatan kemasan. Pengujian dilakukan dengan menghitung kekuatan kemasan, simulasi 3 (tiga) kali pengangkutan berulang, menghitung susut bobot, dan melakukan uji jatuh. Selama simulasi pengangkutan, suhu berkisar antara 25,70°C hingga 34,10°C, kelembapan relatif berkisar antara 66.80% hingga 84%, dan nilai maksimum getaran sebesar 8,2 m/s2. Karton gelombang flute BC digunakan sebagai bahan kemasan dengan kapasitas 20 kg dan disusun dengan lima tipe meliputi simple cubic (SC) tanpa partisi, SC partisi karton, SC partisi jerami, SC partisi kertas, dan jumble tanpa partisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan kemasan yang dirancang dengan dimensi ukuran 50 x 33 x 35 cm adalah 351,49 kgf, dan dapat ditumpuk hingga 5 kemasan. Kerusakan paling sedikit terjadi pada SC partisi jerami dan kerusakan paling banyak terjadi pada SC tanpa partisi. Susut bobot terbesar terjadi pada SC partisi kertas 0,89%
Pengaruh Variasi Kaolin Sebagai Pengganti Sebagian Semen Terhadap Kuat Tekan Mortar
This study aims to determine the effect of using kaolin on the compressive strength of mortar compared to normal mortar, as well as to identify the optimum percentage of kaolin that yields the highest compressive strength. The research uses an experimental method with references from journals. The test specimens are made using cube molds with dimensions of 5 cm × 5 cm × 5 cm, totaling 100 specimens. Compressive strength tests will be conducted at the ages of 7, 14, 21, and 28 days.The cement replacement variations using kaolin are 10%, 20%, 30%, 40%, and 50%. The highest compressive strength value occurred at the 10% kaolin variation on day 28, with an average strength of 23.8 MPa. Compared to normal mortar, which has a strength of 23.6 MPa, the increase in compressive strength with 10% kaolin is minimal. Meanwhile, mortar with more than 20% kaolin shows a decrease in compressive strength compared to normal mortar
Komparasi Perilaku Struktur Jembatan dengan Elastomeric Bearing dan Lead Rubber Bearing Terhadap Gaya Gempa
Indonesia memiliki tingkat kegempaan cukup tinggi, sehingga infrastruktur seperti jembatan yang memiliki kesederhanaan bentuk sangat rentan terhadap kerusakan struktural, untuk itu diperlukan sistem isolasi seismik yang mampu mereduksi respon dinamis akibat beban gempa. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan perilaku struktur jembatan eksisting dengan sistem Elastomeric Bearing (EB) support dan Sistem Isolasi Seismik yaitu, Lead Rubber Bearing (LRB) terhadap pengaruh gaya gempa. Metode penelitian dengan pemodelan numerik menggunakan software SAP2000, mengacu pada SNI 1725-2016, SNI 2833-2016 dan Buku Peta Deagregasi Bahaya Gempa Indonesia untuk Perencanaan dan Evaluasi Infrastruktur Tahan Gempa. Analisis yang digunakan adalah time history dengan input tiga data gempa representatif (Quirihue, Hyuganda, Ki_se). Parameter utama yang dianalisis meliputi displacement (perpindahan), defleksi (lendutan), periode alami dan frekuensi. Hasil analisis menunjukkan bahwa sistem LRB mampu menurunkan perpindahan strutkur secara signifikan, yaitu 30-154%, dibandingkan EB pada semua gempa. Defleksi maksimum menunjukkan perbedaan relatif kecil hanya sekitar 1,3%, namun nilai lendutan LRB lebih kecil. Periode alami jembatan dengan LRB meningkat hingga 121,9%, yang membuat struktur lebih fleksibel, menurunkan frekuensi getar serta mengurangi gaya gempa yang bekerja pada struktur
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBER HEADS TOGETHER UNTUK MENINGKATKAN TANGGUNG JAWAB DAN PRESTASI BELAJAR
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Number Heads Together untuk meningkatkan tanggung jawab dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas VIII SMPN 1 Mulak Ulu Lahat. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas VIII semester ganjil tahun pelajaran 2023/2024 SMPN 1 Mulak Ulu. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dan kuasi eksperimen. Metode pengumpulan data pada penelitian ini mengunakan lembaran observasi untuk mengukur proses pembelajaran dan tanggung jawab siswa, serta untuk mengukur prestasi belajar digunakan tes. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis skor rata-rata dan uji-t test. Analisis data pada penelitian kuasi eksperimen untuk mengukur pengaruh model pembelajaran pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dilakukan menggunakan uji-t dua sampel tidak berhubungan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Number Heads Together dapat meningkatkan tanggung jawab dan prestasi belajar siswa kelas VIII SMPN 1 Mulak Ulu Laha
PENGEMBANGAN MULTIMEDIA DENGAN APLIKASI SMART APPS CREATOR 3 UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan media smart apps creator 3 yang dapat meningkatkan prestasi belajar Dasar Teknik Elektronika. Penelitian ini termasuk dalam penelitian dan pengembangan (Research and Development) dengan model ADDIE. Populasi dan sampel dalam penelitian adalah siswa kelas X TEI SMKN 1 Rejang Lebong berjumlah 34 siswa. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, lembar penilaian dan tes prestasi belajar. Analisis data yang digunakan nilai rata-rata dan uji t menggunakan SPSS versi 26. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Media pembelajaran interaktif smart apps creator 3 yang dikembangkan dapat meningkatkan prestasi. (2) Media pembelajaran yang dikembangkan menarik, bervariasi dan dilengkapi simulasi rangkaian yang tepat dan efektif dapat membantu meningkatkan pretasi belajar pada pelajaran dasar teknik listrik siswa kelas X pada SMK Negeri 1 Rejang Lebong. (4) Media pembelajaran interaktif smart apps creator yang dikembangkan memperoleh kriteria sangat layak untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Berdasarkan validasi ahli media dan ahli materi serta respon siswa
PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN ROLE PLAYING BERBASIS MULTIMEDIA UNTUK MENINGKATKAN KECERDASAN VERBAL LINGUISTIC DAN KECERDASAN INTERPERSONAL
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan metode pembelajaran role playing berbasis multimedia untuk meningkatkan kecerdasan verbal linguistic dan kecerdasan interpersonal di kelompok B Tk Baitul Ilmi Kota Bengkulu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (action research) dengan 3 siklus meliputi 4 langkah yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi dilanjutkan dengan dengan quasi experiment. Sampel penelitian adalah anak didik kelompok B1 TK Baitul Ilmi kota Bengkulu. Subjek penelitian adalah B1 untuk PTK, B2 untuk kelas control dan B3 untuk kelas eksperimen yang ditentukan dengan menggunakan undian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua cara yaitu observasi guru dan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) penerapan metode role playing berbasis multimedia dapat meningkatkan kecerdasan verbal linguistic dan kecerdasan interpersonal anak TK. Baitul Ilmi. Langkah-langkah pelaksanaan metode role playing berbasis multimedia dilakukan dengan pengamatan pihak lain. Hasil pelaksanan mengungkapkan bahwa terjadi peningkatan kecerdasan verbal linguistic dan kecerdasan interpersonal anak dari “Belum Berkembang” pada siklus I, menjadi “Mulai Berkembang” pada siklus II dan “Berkembang Sesuai Harapan” pada siklus III. 2) Penelitian ini membuktikan bahwa penerapan metode role playing berbasis multimedia akan lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan mempergunakan metode konvensional. Hasil penelitian pada kelas ekspermen dan kelas control memperlihatkan bahwa terdapat peningkatan signifikan dalam kecerdasan verbal linguistic dan kecerdasan interpersona
Peningkatan Pengetahuan Guru Bahasa Inggris Tentang Penulisan Proposal Penelitian Tindakan Kelas di Kota Lahat
Salah satu kendala dalam pengembangan profesinalisme guru saat ini adalah terkait dengan penulisan dan pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian PTK ini dapat dilaksanakan dengan terlebih dahulu merancang proposal yang berisi semua hal yang perlu dilakukan untuk melakukan penelitian tersebut. Agar guru dapat menulis proposal PTK, diperlukan suatu kegiatan sosialisasi membekali mereka dengan pengetahuan mengenai penulisan proposal PTK. Kegiatan pengabdian ini diharapkan mampu menjadi solusi untuk meningkatkan pengetahuan guru bahasa Inggris tentang cara menulis proposal PTK serta meningkatkan kesadaran guru akan pentingnya PTK dalam pengembangan karier sebagai guru. Kegiatan pengabdian ini diikuti oleh 31 orang guru Bahasa Inggris di Tingkat SMP dan SMA di Kota Lahat Sumatera Selatan. Metode yang digunakan adalah metode pelatihan yang dilakukan melalui tahapan 1) persiapan peserta dan perlengkapan kegiatan pengabdian, 2) pemaparan materi dan diskusi grup melalui Zoom Cloud Meeting, 3) Diskusi lanjutan melalui Grup WhatApps, dan 4) evaluasi kegiatan melalui pre-test dan post-test. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa pengetahuan guru tentang PTK mengalami peningkatan dari nilai rata-rata 8,322 pada pre-test menjadi 12,032 pada post-test. Selain itu guru-guru juga telah mampu merancang kerangka proposal PTK dan diharapkan kegiatan ini dilanjutkan dengan kegiatan seperti pembimbingan penulisan proposal dan pelaksanaan penelitian berdasarkan proposal yang dirancang.Salah satu kendala dalam pengembangan profesinalisme guru saat ini adalah terkait dengan penulisan dan pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dapat dilaksanakan dengan terlebih dahulu merancang proposal yang berisi semua hal yang perlu dilakukan untuk melakukan penelitian tersebut. Agar guru-guru dapat menulis proposal PTK, diperlukan suatu kegiatan sosialisasi yang membekali mereka dengan pengetahuan mengenai penulisan proposal PTK. Kegiatan pengabdian ini diharapkan mampu menjadi solusi untuk meningkatkan pengetahuan guru bahasa Inggris tentang cara menulis proposal PTK serta meningkatkan kesadaran guru akan pentingnya PTK dalam pengembangan karier sebagai guru. Kegiatan pengabdian ini diikuti oleh 31 orang guru Bahasa Inggris di Kota Lahat Sumatera Selatan yang terdiri dari guru SMP dan SMA. Metode yang digunakan adalah metode sosialisasi yang dilakukan melalui tahapan 1) persiapan peserta dan perlengkapan kegiatan pengabdian, 2) pemaparan materi dan diskusi grup melalui Zoom Cloud Meeting, 3) Diskusi lanjutan melalui Grup WhatApps, dan 4) evaluasi kegiatan melalui pre-test dan post-test. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa pengetahuan guru tentang PTK mengalami peningkatan dari nilai rata-rata 8.322 pada pre-test menjadi 12,032 pada post-test. Selain itu guru-guru juga telah mampu merancang kerangka proposal PTK dan diharapkan kegiatan ini dilanjutkan dengan kegiatan seperti pembimbingan penulisan proposal dan pelaksanaan penelitian berdasarkan proposal yang dirancang