Open Journal System (OJS) Universitas Bengkulu
Open Journal System (OJS) Universitas BengkuluNot a member yet
14213 research outputs found
Sort by
The Pengaruh Model Learning Cycle Type 7E untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Kelas VII pada Konsep Perubahan Zat Pada Kehidupan Sehari - hari
Lack of student understanding of learning materials often results in low learning outcomes. Therefore, selecting the right learning model is an important factor in achieving learning objectives, because it can help students understand the material more deeply. One approach that is considered effective and innovative is the Learning Cycle Type 7E model. This study aims to analyze the effect of implementing the Learning Cycle Type 7E model on students' critical thinking skills on the concept of Changes in Substances in Daily Life. The research method used was a quasi-experimental design with a nonequivalent control group design, which was carried out in one of the Public Junior High Schools in Serang City. The research sample was selected using a purposive sampling technique, consisting of 36 students in the experimental class and 36 students in the control class. Data collection was carried out using a test instrument in the form of HOTS (High Order Thinking Skills) questions that had passed validity and reliability tests. The results showed that the application of the Learning Cycle Type 7E model had a significant effect on improving the critical thinking skills of eighth grade students on the concept of changes in substances in daily life. Based on the results of the Independent Sample T-Test, a significance value (Sig. 2-tailed) of <0.001 was obtained, which is smaller than 0.05. In addition, the results of Group Statistics show that the average pre-test score of the experimental class was 37.54, while the control class was 34.78. Meanwhile, the average post-test score of the experimental class reached 41.51, higher than the control class which obtained an average of 36.59. These findings indicate that the Learning Cycle Type 7E model is effective in improving students' critical thinking skills. Kurangnya pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran sering kali berdampak pada rendahnya hasil belajar. Oleh karena itu, pemilihan model pembelajaran yang tepat menjadi faktor penting dalam mencapai tujuan pembelajaran, karena dapat membantu peserta didik memahami materi secara lebih mendalam. Salah satu pendekatan yang dinilai efektif dan inovatif adalah model Learning Cycle Type 7E. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model Learning Cycle Type 7E terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik pada konsep Perubahan Zat dalam Kehidupan Sehari-hari. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group design, yang dilaksanakan di salah satu SMP Negeri di Kota Serang. Sampel penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling, terdiri atas 36 peserta didik pada kelas eksperimen dan 36 peserta didik pada kelas kontrol. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen tes berbentuk soal HOTS (High Order Thinking Skills) yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Learning Cycle Type 7E berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas VII pada konsep perubahan zat pada kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil uji Independent Sample T-Test, diperoleh nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar < 0,001, yang lebih kecil dari 0,05. Selain itu, hasil Group Statistics menunjukkan bahwa rata-rata nilai pre-test kelas eksperimen sebesar 37,54, sedangkan kelas kontrol 34,78. Sementara itu, rata-rata nilai post-test kelas eksperimen mencapai 41,51 lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yang memperoleh rata-rata 36,59. Temuan ini mengindikasikan bahwa model Learning Cycle Type 7E lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik
Analisis Komponen Makna Kata Bermakna ‘Berbicara’ dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa
Language is a reflection of a society's culture and way of thinking. Each word has a unique meaning that includes not only the literal definition but also social and cultural values. “speaking” in Indonesian and its Javanese equivalent have different shades of meaning, even though both belong to the Austronesian language family. In Indonesian, “speaking” refers to conveying intentions or ideas orally, while in Javanese the meaning can vary depending on the level of language used. The researcher's aim is to explore the meaning of the word “speak” in Indonesian and Javanese and identify the differences and similarities between them. The researcher utilized a qualitative descriptive methodological approach and a theoretical approach. The data collection technique uses listening and note-taking techniques as well as the commensurate method with PUP basic technique and HBB advanced technique to analyze the data that has been obtained. The researcher differentiated the two languages with components of meaning differentiation based on objects in the form of one person and more than one person; volume in the form of whispering clearly and shouting; context in the form of anger, advising, and expressing; time in the form of a glimpse, a little long, and long; and distance in the form of near and far. The researcher differentiated the two languages with the components of meaning differentiation based on the object in the form of one person and more than one person; volume in the form of whispering clearly and shouting; context in the form of angry, advising, and expressing; time in the form of fleeting, rather long, and long; and distance in the form of near and far. The researcher obtained 34 speech data points that have the same meaning as "speaking" in two languages. There are 16 speeches in Indonesian, namely speaking; bertutur; berceramah; berbincang; bercakap; chatting; ngoceh; speech; greeting; interviewing; delivering; argue; answer; praise; complain; and scold; and there are 18 speeches in Javanese, namely ngomong; ndongeng; wicara; ngendika; ngerumpi; nyerita; matur; tembang; sambat; guneman; ngomyang; ngrembug; ngrasani; ngresula; nyacat; ngandani; wadul; dan nyeneni. This research is useful to better understand the linguistic and cultural richness contained in Indonesian and Javanese.Bahasa merupakan cerminan budaya dan cara berpikir suatu masyarakat. Setiap kata memiliki makna unik yang tidak hanya mencakup definisi harfiah, tetapi juga nilai-nilai sosial dan budaya. Kata “berbicara” dalam bahasa Indonesia dan padanannya dalam bahasa Jawa memiliki nuansa makna yang berbeda, meskipun keduanya termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Dalam bahasa Indonesia, “berbicara” mengacu pada penyampaian maksud atau ide secara lisan, sementara dalam bahasa Jawa, maknanya bisa bervariasi tergantung pada tingkatan bahasa yang digunakan. Tujuan peneliti adalah mengeksplorasi makna kata “berbicara” dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa serta mengidentifikasi perbedaan dan kesamaan di antara keduanya. Peneliti memanfaatkan pendekatan metodologis deskriptif kualitatif dan pendekatan teoritis. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak libat cakap dan teknik simak catat serta metode padan dengan teknik dasar PUP dan teknik lanjutan HBB untuk menganalisis data yang telah diperoleh. Peneliti membedakan dua bahasa tersebut dengan komponen pembeda makna berdasarkan objek berupa satu orang dan lebih dari satu orang; volume berupa berbisik, jelas, dan berteriak; konteks berupa marah, menasihati, dan mengungkapkan; waktu berupa sekilas, agak lama, dan lama; dan jarak berupa dekat dan jauh. Peneliti mendapatkan 34 data tuturan yang memiliki makna sama dengan “berbicara” dalam dua bahasa, terdapat 16 tuturan dalam bahasa Indonesia, yaitu berbicara; bertutur; berceramah; berbincang; bercakap; mengobrol; ngoceh; pidato; menyapa; mewawancarai; menyampaikan; berdebat; menjawab; memuji; mengadu; dan memarahi; dan terdapat 18 tuturan dalam bahasa Jawa, yaitu ngomong; ndongeng; wicara; ngendika; ngerumpi; nyerita; matur; tembang; sambat; guneman; ngomyang; ngrembug; ngrasani; ngresula; nyacat; ngandani; wadul; dan nyeneni. Penelitian ini bermanfaat untuk memahami lebih baik tentang kekayaan linguistik dan kultural yang terkandung dalam bahasa Indonesia dan Jawa
Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Kaur
Abstract
This study set out to ascertain the reading comprehension skills of SMA Negeri 2 Kaur's class XI pupils. In this work, a descriptive method with a quantitative approach was employed. The study's population consisted of 153 students from six classes in class XI at SMA Negeri 2 Kaur, 71 of whom were male and 82 of whom were female. A random sample procedure was utilized in this study to choose participants; 24 students, or 11% of the total, were chosen. The Student Reading Comprehension Ability Test was used as the method for gathering data. According to the study's findings, the average score for reading comprehension in Indonesian was 87.5 with a high understanding category, the ability to read comprehension in Biology with an average of 85.00 with a high understanding category, the ability to read comprehension in Islamic Religious Education with a value of 85.00 with a good category, and the ability to read comprehension in Geography with a value of 85.00 with a good ability category. From the overall results, students generally showed good reading comprehension abilities in all fields of study tested. The average value ranges between 85-87.5.
Keywords: ability reading comprehension, of students of SMAN 2 Kaur
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS QUIZIZZ MATERI PARAGRAF PADA MAHASISWA TEKNIK MESIN POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
The quality of learning can be improved by using digital learning media. This study aims to develop a Quizizz-based learning media for paragraph material for students. This research is a research and development (R & D) with the ADDIE model including Analysis, Design, Development, Implementation and Evaluation. The stages in this study are design, development and implementation. The analysis stage is to analyze the needs of Quizizz-based learning media for paragraph material. The design stage is to create a Quizizz-based learning media product for paragraph material. The development stage is to compile questions that will be integrated with paragraph material in Quizizz-based learning media, conducting product validation with media experts, linguists, and material experts. The implementation stage is to apply Quizizz-based learning media for paragraph material to students during Indonesian Language lectures. The research subjects used students of the D3 mechanical engineering program at Sriwijaya State Polytechnic. The findings of this study are in the form of a product in the form of Quizizz-based learning media for paragraph material that is very valid and can be used for Indonesian Language lectures.Kualitas pembelajaran dapat ditingkat dengan penggunaan media pembelajaran menggunakan digital. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengembangan media pembelajaran berbasis quizizz materi paragraf pada mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan (R & D) dengan model ADDIE meliputi Analysis, Design, Development, Implementation dan Evaluation. Tahapan pada penelitian ini design, development dan implementation. Tahapan analysis yaitu melakukan analisis kebutuhan media pembelajaran berbasis quizizz materi paragraf. Tahapan design yaitu membuat produk media pembelajaran berbasis quizizz materi paragraf. Tahapan development yaitu menyusun butir soal yang akan diintegrasikan materi paragraf dalam media pembelajaran berbasis quizizz, melakukan validasi produk pada ahli media, ahli bahasa, dan ahli materi. Tahapan implementation yaitu menerapkan media pembelajaran berbasis quizizz materi paragraf pada mahasiswa saat perkuliahan Bahasa Indonesia. Subjek penelitian menggunakan mahasiswa program D3 teknik mesin Politeknik Negeri Sriwijaya. Temuan penelitian ini yaitu berupa produk berupa media pembelajaran materi paragraf berbasis quizizz telah sangat valid dan dapat digunakan untuk perkuliahan Bahasa Indonesi
Pengembangan Instrumen Penilaian Sumatif Berbasis Project-Based Learning dalam Pembelajaran Seni Rupa di Sekolah Dasar
The assessment of student learning outcomes in Visual Arts at the elementary school level often faces challenges such as low validity and reliability of assessment instruments, as well as teachers' limited ability to develop holistic project assessment rubrics. These issues affect the interpretation of students' learning outcomes. This study aims to develop a summative assessment instrument comprising multiple-choice questions, essay questions, and a project assessment rubric that is valid, reliable, and practical. The research employed a Research and Development (Borg & Gall, 1983) model involving needs analysis, design, validation, testing, and revision stages. The results showed item validity ranging from 0.45 to 0.53 and a reliability coefficient of 0.78, indicating good internal consistency. The mean combined score for multiple-choice and essay questions was 14.46, exceeding the "Excellent" threshold (≥13), indicating that students had achieved the expected competencies. The developed project assessment rubric also demonstrated good validation and was practical to use. Therefore, this instrument can serve as a solution to improve the quality of assessment in elementary schools, providing more holistic assessment and supporting meaningful learning.The assessment of student learning outcomes in Visual Arts at the elementary school level often faces challenges such as low validity and reliability of assessment instruments, as well as teachers' limited ability to develop holistic project assessment rubrics. These issues affect the interpretation of students' learning outcomes. This study aims to develop a summative assessment instrument comprising multiple-choice questions, essay questions, and a project assessment rubric that is valid, reliable, and practical. The research employed a Research and Development (Borg & Gall, 1983) model involving needs analysis, design, validation, testing, and revision stages. The results showed item validity ranging from 0.45 to 0.53 and a reliability coefficient of 0.78, indicating good internal consistency. The mean combined score for multiple-choice and essay questions was 14.46, exceeding the "Excellent" threshold (≥13), indicating that students had achieved the expected competencies. The developed project assessment rubric also demonstrated good validation and was practical to use. Therefore, this instrument can serve as a solution to improve the quality of assessment in elementary schools, providing more holistic assessment and supporting meaningful learning
PROSES KREATIF PENCIPTAAN MOTIF BATIK SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SENI BERBASIS BUDAYA LOKAL DI SEKOLAH DASAR
This article discusses the creative process in the creation of batik motifs as a learning medium for local culture-based art in elementary schools. Art learning through batik is seen as one of the effective approaches to develop creativity, cultural appreciation, and fine motor skills of students. This article focuses on the study of the creative process of creating batik motifs as a learning medium, the stages of the creative process which include the exploration of ideas, motif design and reflection of the work. Through an experiential learning pedagogical approach, students are given the opportunity to understand local cultural values while expressing their visual ideas freely and in a directed way. The motifs developed refer to regional cultural symbols, such as flora, and traditional geometric shapes, which are then processed into batik designs that are relevant to the aesthetic characteristics of elementary school children. This study uses a qualitative descriptive method, which is carried out through a literature review and reflection on the author's experience in participating in batik design workshops. The creative process studied includes the stages of preparation, incubation, illumination, and verification, all of which are relevant to be applied in fine arts learning. In this study, it is shown that integrating batik as a learning medium can develop visual skills, instill a sense of cultural love, and form characters such as perseverance, appreciation, and creativity. Therefore, the creative process of making batik can be an effective learning strategy in the context of the Independent Curriculum.Fine arts instruction in elementary schools plays a crucial role in fostering creativity, art appreciation, and instilling local cultural values. This article aims to examine the creative process of creating batik motifs as a contextual and meaningful medium for learning arts based on local culture. This research employs a qualitative descriptive method, conducted through literature review and reflection on the author's experience participating in a batik design workshop. The creative process examined includes the stages of preparation, incubation, illumination, and verification, all relevant for application in art instruction. The study's findings indicate that integrating batik as a learning medium can develop visual skills, instill a love of culture, and shape character traits such as perseverance, appreciation, and creativity. Therefore, the creative process of batik can be an effective learning strategy within the context of the Independent Curriculum.
Keywords: Batik, Creative Process, Local Culture, Art Learning, Elementary Schoo
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN ALAT EVALUASI BLOOKET PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 KOTA BENGKULU
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis teks laporan hasil observasi siswa kelas X di SMA Negeri 2 Kota Bengkulu dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang dibantu oleh alat evaluasi Blooket. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan setiap siklus terdiri atas tahapan perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 39 siswa kelas X SMA Negeri 2 Kota Bengkulu. Data yang dikumpulkan meliputi hasil tes kemampuan menulis teks laporan dan observasi aktivitas siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata meningkat dari 70,38 pada siklus pertama menjadi 81,43 pada siklus kedua. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa model Problem Based Learning (PBL) berbantuan alat evaluasi Blooket dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa secara signifikan. Selain itu, siswa lebih termotivasi dan aktif dalam proses pembelajaran. Kesimpulannya, model pembelajaran ini efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran menulis teks laporan hasil observasi pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Kota Bengkulu.
Kata Kunci : Problem Based Learning, Kemampuan menulis, Blooket, Teks Laporan Hasil Observasi
ABSTRACT
This study aimed to improve the ability of 10th-grade students at SMA Negeri 2 Kota Bengkulu to write observation report texts by implementing the Problem-Based Learning (PBL) model, supported by the evaluation tool Blooket. This classroom action research was conducted in two cycles, with each cycle comprising the stages of planning, implementation, action, observation, and reflection. The research subjects consisted of 39 10th-grade students from SMA Negeri 2 Kota Bengkulu. Data collected included the results of tests on writing observation report texts and observations of student activities. The results indicated that the average score increased from 70.38 in the first cycle to 81.43 in the second cycle. Based on these findings, it can be concluded that the Problem-Based Learning (PBL) model, assisted by the evaluation tool Blooket, significantly enhances students' writing skills. Moreover, students demonstrated higher motivation and engagement during the learning process. In conclusion, this learning model is effective in improving the quality of teaching observation report text writing for 10th-grade students at SMA Negeri 2 Kota Bengkulu.
Keywords: Problem Based Learning, Writing skills, Blooket, Observation Report Text
Pengembangan Website Mikrobo Pada Pembelajaran Blended Learning Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Materi Bakteri
Dibutuhkan keterampilan berpikir kritis yang mampu mendukung perubahan dalam era globalisasi. Salah satu cara untuk meningkatkan keterampilan tersebut adalah menggunakan media pembelajaran yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan website Mikrobo pada pembelajaran blended learning materi bakteri untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Metode yang digunakan adalah research and development (R&D) dengan desain penelitian model Hannafin & Peck. Pengumpulan data melibatkan kuesioner dan wawancara guru. Selain itu dilakukan juga tahapan penilaian kebutuhan (need assessment), mendesain web Mikrobo dan implementasinya dengan disertai proses evaluasi serta revisi pada setiap tahapnya. Web Mikrobo mendapat kriteria penilaian sangat valid dari ahli media dan materi dengan nilai sebesar 3,36 dan 3,56. Uji coba kelompok kecil dan besar oleh siswa kelas X IPA SMAN 4 Rangkasbitung menunjukan nilai sebesar 3,42 dan 3,32 dengan kriteria sangat valid juga. Hasil penilaian menunjukan bahwa web ini mudah digunakan, sangat informatif, memiliki tampilan menarik, dan menampilkan gambar serta video dengan resolusi tinggi. Uji efektivitas dilakukan menggunakan metode one-group pretest- posttest design pada 35 siswa menghasilkan nilai N-Gain sebesar 0,52 yang termasuk pada kategori sedang. Hasil ini menunjukan bahwa penggunaan web Mikrobo cukup efektif untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran blended learning materi bakteri.Web Mikrobo dapat digunakan oleh guru sebagai alternatif media pembelajaran. Web ini juga dapat digunakan oleh siswa diluar jam sekolah sebagai sumber daya tambahan yang melengkapi materi di kelas. Tentunya Web Mikrobo ini harus dikembangkan secara berkelanjutan dengan menyesuaikan perkembangan kurikulum serta perkembangan teknologi informasi.Dalam era globalisasi, informasi dapat diakses dengan mudah dan berkembang dengan sangat cepat. Diperlukan keterampilan berpikir yang mampu mendukung perubahan-perubahan tersebut, salah satu keterampilan berpikir tersebut adalah keterampilan berpikir kritis. Salah satu caranya dengan menggunakan media pembelajaran yang tepat. Oleh karena itu perlu dikembangkan media pembelajaran yang dapat memfasilitasi perkembangan keterampilan berpikir kritis peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan website Mikrobo pada pembelajaran blended learning materi bakteri dalam rangka meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Metode yang digunakan adalah research and development (R&D) dengan desain penelitian model Hannafin & Peck meliputi tahapan penilaian kebutuhan (need assessment), desain dan implementasi dengan disertai proses evaluasi dan revisi pada setiap tahapnya. Hasil yang diperoleh penilaian terhadap media oleh ahli media dan materi masing-masing sebesar 3.36 dan 3.56 dengan kriteria sangat valid. Uji coba kelompok kecil dan besar oleh siswa kelas X IPA SMAN 4 Rangkasbitung sebesar 3.42 dan 3.32 dengan kriteria sangat valid. Uji efektivitas menggunakan one-group pretest- posttest design pada 35 siswa menghasilkan nilai N-Gain sebesar 0.52 yang termasuk pada kategori sedang, yang mengartikan penggunaan website Mikrobo cukup efektif untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran blended learning materi bakteri
PENGEMBANGAN MEDIA ASSEMBLR EDU DENGAN MODEL PEMBELAJARAN ANCHORED INSTRUCTION PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN : Development of Assemblr Edu Media with an Anchored Instruction Learning Model for Environmental Pollution Material
Perkembangan teknologi telah mempengaruhi pola belajar generasi Alpha yang akrab dengan perangkat digital. Teknologi yang peneliti pilih sebagai media pembelajaran adalah teknologi Augmented Reality. Penelitian ini bertujuan mengembangkan media pembelajaran Assemblr Edu berbasis teknologi Augmented Reality yang dikolaborasikan dengan model pembelajaran Anchored Instruction untuk materi pencemaran lingkungan. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model 4D (Define, Design, Develop, Disseminate) yang disederhanakan menjadi tiga tahap. Subjek penelitian adalah 28 siswa kelas 7 SMP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan media Assemblr Edu dengan model pembelajaran Anchored Instruction pada materi pencemaran lingkungan menunjukkan kategori “Sangat Valid” dengan dengan rata-rata skor 82,25%. Media Assemblr Edu dengan model pembelajaran Anchored Instruction pada materi pencemaran lingkungan dikategorikan sebagai media pembelajaran yang valid dan layak digunakan dalam proses pembelajaranPendidikan dan ilmu pengetahuan saat ini mengalami perkembangan yang mempengaruhi proses pembelajaran generasi saat ini. Generasi saat ini sebagian besar adalah generasi Alpha yang tumbuh dan berkembang di era perkembangan teknologi yang cepat. Sehingga salah satu komponen proses pembelajaran yaitu media pembelajaran juga memerlukan perubahan dan perkembangan menyesuaikan karakteristik generasi saat ini, di mana teknologi mendominasi kehidupan sehari-hari mereka. Teknologi yang peneliti pilih sebagai media pembelajaran adalah teknologi Augmanted Reality. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sebuah media pembelajaran yang dapat memfasilitasi pembelajaran aktif dan berbasis masalah yang menggunakan teknologi sebagai media menyajikan masalah dan penyelesaian atau model pembelajaran Anchored Instruction yang dikolaborasikan dengan teknologi Augmanted Reality. Metode penelitian ini menggunakan model pengembangan 4D. Selain itu, penelitian ini juga akan memperhatikan aspek desain antarmuka pengguna yang menarik bagi generasi Alpha, serta integrasi teknologi yang relevan dan mudah diakses. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan media Assemblr Edu dengan model pembelajaran Anchored Instruction pada materi pencemaran lingkungan menunjukkan hasiI yang valid dan layak digunakan
PENGARUH PERILAKU DIGITAL ORANG TUA TERHADAP POLA PARENTING ANAK USIA REMAJA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perilaku digital orang tua terhadap pola parenting pada anak usia remaja. Pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif-inferensial digunakan, dengan pengumpulan data melalui angket berskala Likert kepada 400 responden di Kabupaten Karawang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perilaku digital orang tua bervariasi, dengan smartphone sebagai perangkat utama dan internet sebagai sumber informasi serta pembelajaran, sementara media sosial menjadi saluran utama akses informasi; (2) pola parenting yang diterapkan sangat positif dan mendukung perkembangan anak; dan (3) terdapat pengaruh signifikan antara perilaku digital dengan pola parenting. Penelitian ini memberikan temuan baru mengenai keterkaitan perilaku digital orang tua dengan pola pengasuhan di era modern. Hasil ini menekankan pentingnya program yang memperkuat literasi digital dan keterampilan adaptif orang tua agar pemanfaatan teknologi mendukung pengasuhan positif, bukan menggantikan peran penting orang tua dalam perkembangan remaja