Open Journal System (OJS) Universitas Bengkulu
Open Journal System (OJS) Universitas BengkuluNot a member yet
14213 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF QELECTRO TECH UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangkan media Qelectro Tech yang dapat meningkatkan prestasi belajar Dasar Teknik Listrik, Untuk mendapatkan media pembelajaran yang layak dalam pembelajaran Dasar Teknik Listrik kelas X SMK di Kabupaten Rejang Lebong, Untuk mendeskripsikan efektifitas penggunanan media Qelectro Tech untuk meningkatkan prestasi belajar Dasar Teknik Listrik. Penelitian ini termasuk dalam penelitian dan pengembangan (Research and Development). Subjek dalam penelitian adalah siswa kelas X TITL di SMKN 1 Rejang Lebong dan SMKN 6 Rejang Lebong. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, lembar penilaian dan tes prestasi belajar. Analisis data yang digunakan nilai rata-rata dan uji t menggunakan SPSS versi 26. Kesimpulan penelitian ini adalah Media pembelajaran interaktif Qelectro Tech yang dikembangkan dapat meningkatkan prestasi, Media pembelajaran interaktif Qelectro Tech yang dikembangkan memperoleh kriteria sangat layak untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Berdasarkan validasi ahli media dan ahli materi serta respon siswa dan dari uji coba skala terbatas maupun skala luas pada kelas eksperimen yang menggunakan Media pembelajaran interaktif Qelectro Tech dengan kelas kontrol yang tidak menggunakan media pembelajaran terdapat perbedaan yang signifikan, Media pembelajaran yang dikembangkan menarik, bervariasi dan dilengkapi simulasi rangkaian yang tepat dan efektif dapat membantu meningkatkan pretasi belajar pada pelajaran dasar teknik listrik siswa kelas X pada SMK di Kabupaten Rejang Lebon
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TREASURE HUNT UNTUK MENINGKATKAN KERJASAMA DAN PRESTASI BELAJAR
Tujuan penelitian ini mendeskripsikan penerapan metode Treasure Hunt, untuk meningkatkan kerjasama dan prestasi belajar pada mata pelajaran IPS kelas VII SMP Negeri 2 Mulak Ulu, serta mendeskripsikan efektifitas penerapan metode treasure hunt dalam meningkatkan kerjasama dan presatsi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 2 Mulak Ulu. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dipadukan dengan quasi eksperimen. Subjek penelitian ini adalah kelas VIIa SMP Negeri 2 Mulak Ulu sebagai kelas PTK dan kelas VIIb SMP Negeri 2 Mulak Ulu sebagai kelas eksperimen, dan VIIc SMP Negeri 2 Mulak Ulu sebagai kelas kontrol. Prosedur pelaksaan pada Penelitian Tindakan Kelas, setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan tes berupa evaluasi yang diberikan pada setiap akhir siklus. Pada penelitian quansi eksperimen, teknik pengumpulan data menggunakan teknik te
PRONUNCIATION OF ENGLISH HOMOPHONES: A STUDY OF UNDERGRADUATE EFL STUDENTS
The aims of this study are to find out students’ knowledge and pronunciation about homophone by students of eighth semester of English education study program at Bengkulu University. It employs qualitative research methods to collect data, including knowledge test and pronunciation test by using Praat and Live transcribe application. The result of this research revealed that in the knowledge test there are 36.5% students are in the excellent category and 32% students in the good category. Furthermore, 14.9% in the enough category, 16.2% students in the category of poor and 1.4% students in the category of very poor. While, in the pronunciation test there are 2 students in the good pronunciation, 2 students in the close to good pronunciation, and 6 students in the not good pronunciation. Moreover, there were 2 vowel, 2 consonant, and 3 diphthongs that the most students’ difficulty in pronouncing homophone, the phoneme are vowel /ɔ/, and /u/; consonant /t/, /d/, diphthong /ʊɚ/, /əʊ/ and /eɪ/. Based on the findings, the researcher found that students of eighth semester of English education study program still not good enough in mastering homophone
TINDAK TUTUR EKSPRESIF DALAM KOMENTAR PERMASALAHAN GEDUNG PARKIRAN DI AKUN X @UPIfess
Aplikasi X adalah salah satu media sosial di mana berita, informasi, dan kabar mudah ditemukan. Salah satunya adalah permasalahan gedung parkiran yang terjadi di Universitas Pendidikan Indonesia. Permasalahan ini ramai dibahas dan ditanggapi oleh para pengguna fasilitas di akun X base kampus, yaitu @UPIfess. Keramaian tersebut bermula dari sebuah unggahan karena keresahan akan ketidakteraturan gedung parkiran yang terjadi pada bulan September 2023. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tindak tutur ekspresif yang terdapat dalam kolom komentar unggahan permasalahan gedung parkiran Universitas Pendidikan Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini didasari oleh teori pragmatik. Tindak tutur ekspresif merupakan tuturan yang digunakan untuk mengekspresikan perasaan sikap penutur. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data dari penelitian ini adalah komentar terhadap salah satu unggahan yang dikumpulkan dengan metode dokumentasi. Analisis dilakukan dengan membaca, mengidentifikasi, memilah, mengklasifikasi, mencatat, dan menarik kesimpulan yang disajikan dengan deskripsi. Hasilnya menunjukkan adanya lima kategori tindak tutur ekspresif dari 12 data, yaitu mengkritik sebanyak 3 komentar, menyindir sebanyak 3 komentar, menyalahkan sebanyak 2 komentar, mengeluh sebanyak 2 komentar, dan memaki sebanyak 2 komentar
Optimalisasi Peran Kepala Sekolah dalam Manajemen Hubungan Sekolah dan Masyarakat di SMK Darur Roja Cinere Depok: Optimizing the Role of the School Principal in School–Community Relationship Management at SMK Darur Roja Cinere Depok
The relationship between schools and communities plays a strategic role in supporting educational quality and institutional sustainability. The principal holds a central managerial position in optimizing this relationship through leadership, communication, and participatory governance. This study aims to analyze the role of the principal in managing school-community relations at SMK Darur Roja Cinere Depok. A qualitative case study approach was employed, with data collected through in-depth interviews, observation, and documentation. The findings reveal that the principal plays a crucial role as a communicator, mediator, and decision-maker in strengthening cooperation with parents and the surrounding community. However, several challenges were identified, including limited community participation, communication gaps, and the absence of structured management mechanisms. The study concludes that optimizing the principal’s role requires strategic leadership, transparent communication, and systematic engagement with stakeholders. These findings contribute to the development of effective school-community management practices in vocational education institutions.Hubungan sekolah dan masyarakat merupakan faktor strategis dalam mendukung mutu pendidikan dan keberlanjutan lembaga sekolah. Kepala sekolah memiliki peran manajerial yang sangat penting dalam mengoptimalkan hubungan tersebut melalui kepemimpinan, komunikasi, dan tata kelola partisipatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kepala sekolah dalam manajemen hubungan sekolah dan masyarakat di SMK Darur Roja Cinere Depok. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah berperan sebagai komunikator, mediator, dan pengambil keputusan dalam membangun kerja sama dengan orang tua dan masyarakat sekitar. Namun demikian, masih terdapat kendala berupa rendahnya partisipasi masyarakat, hambatan komunikasi, serta belum adanya sistem manajemen hubungan yang terstruktur. Penelitian ini menyimpulkan bahwa optimalisasi peran kepala sekolah membutuhkan kepemimpinan strategis, komunikasi terbuka, dan pelibatan pemangku kepentingan secara sistematis
Peningkatan Daya Saing UMKM Olahan Pertanian Melalui Branding dan Strategi Pemasaran Digital
Kegiatan pengabdian masyarakat ini berfokus pada peningkatan kapasitas pelaku UMKM olahan pertanian di Desa Banyumas Lama, Kecamatan Kerkap, Kabupaten Bengkulu Utara. Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada tanggal 10 Mei 2025 di Balai Desa Banyumas dengan melibatkan 26 pelaku UMKM yang memproduksi berbagai olahan pertanian seperti keripik pisang, opak singkong, dan kerupuk. Meskipun desa ini memiliki potensi pertanian yang melimpah, para pelaku UMKM menghadapi kendala signifikan dalam pemasaran digital akibat keterbatasan infrastruktur internet dan rendahnya literasi digital. Metode pelaksanaan kegiatan mengintegrasikan tiga tahap utama yaitu persiapan (survei kebutuhan, perizinan, penyusunan materi), pelaksanaan (sosialisasi dan pelatihan interaktif tentang branding, pemasaran digital, dan manajemen penjualan), serta evaluasi partisipasi peserta. Pelatihan difokuskan pada penerapan IPTEKS melalui platform digital seperti Instagram dan Shopee, strategi branding produk, serta teknik pembuatan konten pemasaran yang efektif. Hasil evaluasi menunjukkan tingkat kehadiran mencapai 90% dengan 80% peserta berhasil mempraktikkan langsung materi yang diajarkan. Dampak positif program terlihat dari peningkatan kemampuan peserta dalam pembuatan akun digital, transformasi desain kemasan produk yang lebih profesional, serta pemanfaatan platform digital untuk pemasaran yang lebih luas. Beberapa UMKM bahkan telah berhasil mendapatkan pesanan dari luar daerah melalui platform digital. Untuk menjamin keberlanjutan program, diperlukan pendampingan berkala, peningkatan akses internet, dan kolaborasi strategis dengan dinas terkait.Kegiatan pengabdian masyarakat ini berfokus pada peningkatan kapasitas pelaku UMKM olahan pertanian di Desa Banyumas Lama, Kecamatan Kerkap, Kabupaten Bengkulu Utara. Desa ini memiliki potensi pertanian yang melimpah berupa produk olahan singkong dan pisang, namun menghadapi kendala dalam pemasaran digital due to keterbatasan infrastruktur internet dan rendahnya literasi digital. Metode pelaksanaan mencakup tiga tahap: persiapan (survei kebutuhan, perizinan, penyusunan materi), pelaksanaan (sosialisasi dan pelatihan interaktif tentang branding, pemasaran digital, dan manajemen penjualan), serta evaluasi partisipasi peserta. Sebanyak 26 pelaku UMKM berpartisipasi dalam pelatihan yang berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam pembuatan akun digital, strategi branding, dan teknik pemasaran online. Tingkat kehadiran mencapai 90% dengan 80% peserta mampu mempraktikkan langsung materi yang diajarkan. Dampak positif terlihat dari peningkatan desain kemasan produk yang lebih profesional dan pemanfaatan platform digital untuk pemasaran. Untuk keberlanjutan program, diperlukan pendampingan berkala, peningkatan akses internet, dan kolaborasi dengan dinas terkait
Osing Language in Intergenerational Discourse: A Sociolinguistic Case Study from Kemiren Village
Kemiren Village in Banyuwangi Regency is a vital site for preserving the Osing language, a key element of the region's cultural identity. However, the influence of modernization, national language policies, and digital media has led to a decline in Osing usage, especially among younger generations. This study explores generational differences in Osing language use across Millennials, Generation Z, and Generation Alpha. Using a descriptive qualitative method, data were collected through interviews, observations, and document analysis, and then analyzed using Bogdan and Biklen's qualitative analysis framework. The findings reveal that Millennials still actively use Osing in both family and community settings, but a shift toward Indonesian is evident. Among Generation Z, Osing is used primarily in informal contexts, whereas among Generation Alpha, it is used minimally, with a preference for Indonesian and foreign languages. Despite this decline, various revitalization efforts—such as digital promotion of Osing music, cultural tourism events, and local government policies that integrate Osing into school curricula—demonstrate ongoing community and institutional commitment. The study underscores the need for a comprehensive strategy that incorporates cultural, educational, technological, and familial dimensions to ensure the continued use and transmission of the Osing language and to safeguard Kemiren's intangible cultural heritage
Strategi Pengembangan Kampung Adat Gebong Memarong (Kampung Adat Gebong Memarong) sebagai Destinasi Pariwisata Berbasis Masyarakat (CBT) Budaya di Kabupaten Bangka
Kampung Adat Gebong Memarong in Bangka Regency represents a cultural heritage of the Bangka Malay community and holds significant potential as a cultural-based tourism destination. However, tourism management in this area remains suboptimal due to low community involvement and the absence of an integrated development strategy. This study aims to formulate development strategies for Kampung Adat Gebong Memarong as a sustainable Community-Based Tourism (CBT) destination that empowers the local community. A qualitative approach with a case study design was employed, integrating the Participatory Rural Appraisal (PRA) method to explore community perspectives and aspirations in a participatory manner. Data were collected through in-depth interviews, participatory observations, focus group discussions (FGDs), and community mapping. The data were analyzed using descriptive SWOT analysis, along with Internal Factors Analysis Summary (IFAS) and External Factors Analysis Summary (EFAS). The findings reveal that community involvement is still symbolic and limited to ceremonial activities. However, the PRA method proved effective in fostering a sense of ownership and collective responsibility among the
community. The SWOT analysis identified strengths in cultural authenticity and community solidarity, while weaknesses were found in human resource and institutional capacity. The conclusion of this study emphasizes the importance of strengthening community capacity, establishing multi-stakeholder partnerships, and integrating cultural narratives into digital promotion. This study contributes to the development of an inclusive and sustainable tourism model based on local wisdom.Kampung Adat Gebong Memarong di Kabupaten Bangka merupakan warisan budaya masyarakat Melayu Bangka dan memiliki potensi besar sebagai destinasi pariwisata berbasis budaya. Namun pengelolaan pariwisata di wilayah ini masih kurang optimal akibat rendahnya partisipasi masyarakat dan tidak adanya strategi pengembangan yang terintegrasi. Studi ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan Kampung Adat Gebong Memarong sebagai destinasi Pariwisata Berbasis Masyarakat yang berkelanjutan dan memberdayakan masyarakat lokal. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang diterapkan, mengintegrasikan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) untuk mengeksplorasi perspektif dan aspirasi masyarakat secara partisipatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, diskusi kelompok terfokus (FGD), dan pemetaan komunitas. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif SWOT, serta Ringkasan Analisis Faktor Internal (IFAS) dan Ringkasan Analisis Faktor Eksternal (EFAS). Temuan menunjukkan bahwa interaksi masyarakat masih bersifat simbolis dan terbatas pada kegiatan seremonial. Namun, metode PRA terbukti efektif dalam menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab kolektif di kalangan masyarakat. Analisis SWOT mengidentifikasi kekuatan dalam keaslian budaya dan solidaritas masyarakat, sementara kelemahan ditemukan dalam sumber daya manusia dan kapasitas institusional. Kesimpulan studi ini pentingnya memperkuat kapasitas masyarakat, serta membangun kemitraan multi-pihak
Pengaruh Pengaruh Model Pembelajaran OIDDE Berbasis SETS Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Peserta Didik pada Materi Ekologi
This study aimed to determine the effect of the SETS-based OIDDE model on students' problem-solving abilities in ecology material. This type of research is a quasi-experimental study with a non-equivalent control design group method involving class VIIC as the experimental class and class VIIK as the control class as samples taken randomly through random sampling techniques. The instruments used to support this research data consist of problem-solving ability test instruments in the form of essay questions, test instruments including validation questionnaire sheets, model implementation observation sheets and student response questionnaire sheets. The results of the study with a hypothesis test using Mann Whitney showed results of 0.000 <0.05 which indicated the acceptance of H1 and the rejection of H0. These results indicate that the SETS-based OIDDE model has an effect on students' problem-solving abilities.This study aims to determine the effect of the SETS-based OIDDE model on students' problem-solving abilities in ecology material. This type of research is a quasi-experimental study with a non-equivalent control design group method involving class VIIC as the experimental class and class VIIK as the control class as samples taken randomly through random sampling techniques. The instruments used to support this research data consist of problem-solving ability test instruments in the form of essay questions, test instruments including validation questionnaire sheets, model implementation observation sheets and student response questionnaire sheets. The results of the study with a hypothesis test using Mann Whitney showed results of 0.000 <0.05 which indicated the acceptance of H1 and the rejection of H0. These results indicate that the SETS-based OIDDE model has an effect on students' problem-solving abilities.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model OIDDE berbasis SETS terhadap kemampuan pemecahan masalah peserta didik pada materi ekologi. Jenis penelitian ini yaitu quasy experiment dengan metode non equivalent control design group yang melibatkan kelas VIIC sebagai kelas eksperimen dan kelas VIIK sebagai kelas kontrol sebagai sample yang diambil secara acak melalui teknik random sampling. Instrumen yang digunakan dalam mendukung data penelitian ini terdiri dari instrumen tes kemampuan pemecahan masalah yang berupa soal uraian, instrumen tes yang meliputi lembar angket validasi, lembar observasi keterlaksanaan model dan lembar angket respon peserta didik. Hasil penelitian dengan uji hipotesis menggunakan Mann Whitney menunjukkan hasil 0,000<0,05 yang mengindikasikan diterimanya H1 dan ditolaknya H0. Hasil tersebut menunjukkan bahwa model OIDDE berbasis SETS berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah peserta didik
IMPLEMENTASI E-MODUL BERBASIS LITERASI SAINS TEMA AYO SIAGA BENCANA UNTUK MELATIH KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA SMP
Achieving learning objectives in a successful learning process cannot be separated from one of the students' internal factors, namely independence, especially learning independence. One of the development research that has been carried out by Kristina (2022) is to produce supporting products for teaching materials that can encourage student independence in the form of electronic modules (e-modules). Therefore, efforts are made to implement the E-module to train students' independent learning. This research aims to analyze the implementation of a scientific literacy-based e-module with the theme Let's Prepare for Disasters in training junior high school students' independent learning. The research subjects were class VII students of SMP Negeri 2 Kramatwatu who took science lessons using the e-module. The research method used is descriptive qualitative with data collection techniques in the form of observing learning implementation, observing students' independent learning activities, and learning independence questionnaires. The results of the research showed that the implementation of learning using e-modules went very well, reaching 93.4% at the first meeting and 96.4% at the second meeting. Observations of student learning independence showed an average observation result of 74.3% at the first meeting and 86.1% at the second meeting. Student learning independence questionnaire data supports observation results with an average of 81.1% in the "very good" category. These data show that the e-module based on scientific literacy with the theme Let's Prepare for Disasters is able to effectively train junior high school students' learning independence, as seen from the consistency between learning implementation, student activities in learning independence, and the results of students' perceptions through the learning independence questionnaire.Tercapainya tujuan pembelajaran dalam keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari salah satu faktor internal peserta didik yaitu kemandirian terutama kemandirian belajar. Salah satu penelitian pengembangan yang telah dilakukan oleh Kristina (2022) dalam menghasilkan produk pendukung bahan ajar yang dapat mendorong kemandirian siswa berupa modul elektronik (e-modul). Oleh karena itu upaya dilakukan untuk mengimplementasikan E-modul tersebut untuk melatih kemandirian belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi e-modul berbasis literasi sains dengan tema Ayo Siaga Bencana dalam melatih kemandirian belajar siswa SMP. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII SMP Negeri 2 Kramatwatu yang mengikuti pembelajaran IPA menggunakan e-modul tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi keterlaksanaan pembelajaran, observasi aktivitas kemandirian belajar siswa, serta angket kemandirian belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran menggunakan e-modul berjalan dengan sangat baik, yaitu mencapai 93,4% pada pertemuan pertama dan 96,4% pada pertemuan kedua. Observasi kemandirian belajar siswa menunjukkan rata-rata hasil observasi sebesar 74,3% pada pertemuan pertama dan 86,1% pada pertemuan kedua. Data angket kemandirian belajar siswa pendukung hasil observasi dengan rata-rata 81,1% pada kategori “sangat baik”. Data tersebut menunjukkan bahwa e-modul berbasis literasi sains tema Ayo Siaga Bencana mampu melatih kemandirian belajar siswa SMP, terlihat dari konsistensi antara keterlaksanaan pembelajaran, aktivitas siswa dalam kemandirian belajar, dan hasil persepsi siswa melalui angket kemandirian belajar