Jurnal Universitas Tidar
Not a member yet
1097 research outputs found
Sort by
DETERMINANTS OF CO₂ EMISSIONS: EMPIRICAL EVIDENCE FROM INDONESIA
Economic growth in developing countries is often accompanied by an increase in carbon dioxide (CO₂) emissions. Indonesia, as one of the largest economies in Southeast Asia, deals with a dilemma between driving for Gross Domestic Product (GDP) growth, open trade, and high dependence on fossil energy, all of which lead to serious impacts on environmental quality. This study aims to analyze the effect of GDP, open trade, and fossil energy consumption on Indonesia’s CO₂ emissions in the period 1994–2024 using 31 annual observations. The dataset is primarily obtained from the World Bank’s. The research applies descriptive method with OLS regression. The results indicate that GDP, open trade, and fossil energy consumption have a positive and significant impact on CO₂ emissions. GDP growth drives higher emissions through industrial and economic activities that are not yet fully aligned with environmentally friendly principles. Fossil energy consumption is proven to be the main driver of emissions, while open trade also contributes to rising emissions through the scale effect of economic activities
SUSTAINABLE AGRITOURISM DEVELOPMENT STRATEGIES IN MAGELANG REGENCY: A SWOT ANALYTICAL PERSPECTIVE
This study examines strategies for developing agritourism in Magelang Regency, Indonesia, as a driver of sustainable rural economic transformation. Agritourism integrates agricultural potential, cultural heritage, and tourism demand to enhance household income, community empowerment, and regional competitiveness. The research aims to formulate strategic directions to improve competitiveness and local economic benefits amid weak branding, uneven facilities, and seasonal dependency. Using descriptive and quantitative methods, the study applied SWOT and Internal-External (IE) Matrix analyses that integrate socio-economic, environmental, and technical dimensions. Data were collected from 100 tourists and 18 stakeholders, including agrotourism managers and SMEs. The results show that Magelang agritourism is positioned in Cell V of the IE Matrix, indicating a growth and build strategy. The dominant S-O strategy emphasizes digital promotion, attraction optimization, product diversification, and branding improvement. Empirical findings confirm that agrotourism generates multiplier effects through income growth, employment, SME competitiveness, and environmental conservation. The study contributes a holistic analytical framework and provides policy implications for sustainable and competitive agritourism development
Analisis Yuridis Konsepsi Ideal Pengaturan Artificial Intelegence di Tingkat Internasional oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa konsepsi ideal pengaturan arificial intelligence ditingkal global yang dapat dilakukan oleh Perserikatan Bangsa – Bangsa dalam menciptakan kepastian hukum melalui pengaturan pembatasan penggunaan dan pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di masa damai pada tingkat global. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis-normatif. Saat ini belum ada aturan hukum maupun kesepahaman yang seragam antara negara maupun organisasi internasional terkait kecerdasan buatan. Oleh karena itu, diperlukan peran organisasi yang memiliki kapasitas dan cakupan luas, seperti PBB, untuk menyatukan perbedaan pandangan yang ada. Peran PBB sangat penting dalam menentukan batasan pengembangan dan penggunaan AI agar tidak membahayakan manusia, tidak mengambil keputusan esensial dalam kehidupan manusia, serta memastikan bahwa AI dikembangkan demi keberlanjutan hidup manusia. PBB dapat mencegah risiko yang ditimbulkan oleh AI, seperti ancaman terhadap privasi, keamanan, dan diskriminasi, serta memastikan distribusi manfaat AI secara adil di antara negara-negara. Penggunaan dan pengembangan AI perlu memperhatikan tiga prinsip pokok: pertama, AI tidak boleh mengambil keputusan yang berdampak langsung terhadap manusia; kedua, pengguna dan pengembang bertanggung jawab secara hukum atas tindakan AI; dan ketiga, pengembangan AI harus bertujuan untuk kemaslahatan manusia serta melarang pengembangan AI dengan teknologi senjata (non-proliferasi)
Rekonseptualisasi Pemaafan Hakim dalam KUHP Nasional yang Berparadigma Daad-Dader Slachtoffer Straftrecht (Perbandingan dengan KUHP Portugal)
Penelitian ini dilatarbelakangi karena pengaturan mengenai konsep rechterlijk pardon dan syarat-syarat penjatuhannya di KUHP Nasional masih berparadigma kepada perbuatan dan pelaku tindak pidana (daad-dader straftrecht) dan belum berparadigma kepada korban tindak pidana (slachtoffer). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah konsep pemaafan hakim yang diatur dalam KUHP Nasional sudah berparadigma daad-dader slachtoffer straftrecht atau tidak dan menganalisis perbandingannya dengan konsep pemaafan hakim dibeberapa negara yang sudah berparadigma daad-dader slachtoffer straftrecht serta bentuk rekonseptualisasi pemaafan hakim dalam KUHP Nasional yang berparadigma daad-dader slachtoffer straftercht. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan peraturan perundang-undangan, perbandingan, dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pemaafan hakim dalam KUHP Nasional yang akan diberlakukan dalam sistem peradilan pidana di Indonesia ke depan belum berparadigma daad-dader slachtoffer stracftrecht, hal ini dapat dilihat dari syarat-syarat penjatuhan vonis pemaafan hakim yang hanya mempertimbangkan dari segi perbuatan dan pelaku tindak pidana seperti ringannya perbuatan, keadaan pribadi pelaku atau keadaan pada waktu terjadinya tindak pidana. Hal ini berbeda dengan konsep pemaafan hakim di Portugal yang sudah berparadigma daad-dader slachtoffer straftercht karena syarat penjatuhan vonis pemaafan hakim tidak hanya mempertimbangkan dari perspektif perbuatan dan pelaku tindak pidana, tetapi juga dari perspektif korban tindak pidana seperti dampak yang ditimbulkan kepada korban. Oleh karena itu, diperlukan suatu penyempurnaan dengan melakukan rekonseptualisasi pemaafan hakim dalam KUHP Nasional yang berparadigma daad-dader slachtoffer straftrecht seperti ada atau tidaknya pemaafan dari korban atau keluarga korban
The Influence of Indonesian Development Index to Modernization Level of 38 Indonesian Provinces in 2023
This study examines the relationship between modernization level and the human development index using linear regression on 34 observations. The findings reveal a highly significant and robust positive correlation: modernization level accounts for nearly 89% of the variation in the human development index (R square = 0.8881). A one-unit increase in modernization level is associated with an approximate 3.54-unit rise in the human development index (coeff. = 3.543167, p < 0.001), with a 95% confidence interval of [2.895228, 4.191105]. The overall model is highly significant (F(1, 32) = 124.07, p < 0.001), confirming modernization\u27s strong predictive power. Theoretically, these results strongly support modernization theories, affirming that societal modernization directly and substantially improves human well-being, encompassing health, education, and living standards. The high R2 suggests modernization is a primary driver of human development. Practically, these findings have significant implications for policymakers, particularly in Indonesia. Given the strong positive link, accelerating modernization through investments in infrastructure, education, technology, and economic diversification will likely yield substantial gains in human development. Policies promoting industrialization, technological adoption, and improved access to education and healthcare should be prioritized as direct pathways to achieving higher human development indice
Evaluasi Sistem Pentanahan Pada Transformator Daya
Transformator daya merupakan salah satu peralatan yang paling penting dalam gardu induk. Transformator berfungsi untuk menurunkan tegangan tinggi menjadi tegangan rendah yang kemudian disalurkan ke masyarakat agar dapat digunakan sesuai rating peralatan atau beban yang digunakan pada umumnya. Sampai kira-kira tahun 1910, sistem-sistem tenaga listrik pada gardu tidak diketanahkan. Hal ini dapat dimengerti karena pada saat itu sistem-sistem tenaga listrik masih kecil jadi bila ada gangguan fasa ke tanah arus gangguan masih kecil dan biasanya masih kurang dari 5 ampere. Pada umumnya bila arus gangguan itu sebesar 5 ampere atau lebih kecil, busur listrik yang timbul pada kontak-kontak antara kawat yang terganggu dan tanah masih dapat padam sendiri. Tetapi sistem-sistem tenaga itu makin lama makin besar, baik panjangnya maupun tegangannya.Dengan demikian arus yang timbul bila terjadi gangguan tanah makin besar, sehingga dibutuhkan pembumian yang baik pada transformator dengan nilai resistansi sekecil mungkin
PERBAIKAN FAKTOR DAYA MOTOR INDUKSI PENGGERAK POMPA AIR DI MATA AIR KANOMAN MAGELANG MENGGUNAKAN KAPASITOR BANK
Pompa air adalah sebuah perangkat mekanis yang bertugas mengangkat cairan dari tempat yang rendah ke tempat yang lebih tinggi. Dalam sistem pompa air ini ada sebuah penggerak yaitu motor listrik. Berbeda dengan pompa air rumahan, pompa air yang digunakan suatu mata air untuk perusahaan menggunakan pompa yang memiliki motor listrik dengan penggunaan daya yang jauh lebih tinggi, motor listrik yang digunakan umumnya motor listrik induksi 3 fasa. Motor induksi tiga fasa adalah motor yang sering digunakan dalam berbagai aplikasi, mulai dari penggunaan dalam skala rumah tangga hingga skala industri besar. Hasil pengukuran bahwa fasa S Kanoman 1 memiliki nilai yang dibawah standar PLN yakni bernilai 0,781, fasa R dan fasa T nya memiliki nilai yang berada di atas standar. Pada Kanoman 2, faktor daya yang masih dibawah standar PLN terdapat pada fasa S dan fasa T dengan nilai 0,834 dan 0,827. Perbandingan antara perhitungan nilai kapasitor dan simulasi didapatkan hasil bahwa pada fasa S pompa air Kanoman 1 nilai errornya adalah yang terendah yaitu 2,07% dan pada fasa S Kanoman 2 nilai errornya adalah yang tertinggi yaitu 41,6%.
Pada fasa S Kanoman 1 memliki rugi daya yang paling tinggi yaitu 8,1kW dan pada fasa R Kanoman 2 memiliki rugi daya yang paling sedikit yaitu sebesar 2,8kW. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan nilai faktor daya pada fasa – fasa yang memiliki nilai faktor daya yang masih di bawah standar PLN, yaitu sebesar 0,85.  
Gaya Bahasa Kiasan dalam Antologi Puisi Malam Tamansari Karya Suminto A. Sayuti dan Alternatifnya sebagai Bahan Ajar Puisi Kelas X
This study analyzes the importance of understanding figurative language in poetic works, particularly in the poetry anthology "Malam Tamansari" by Suminto A. Sayuti, which is rich in aesthetic and local cultural values. This study aims to describe the types of figurative language found in the anthology and examine their relevance as alternative poetry teaching materials for 10th graders in high school. This study utilizes Gorys Keraf\u27s theory of figurative language, which classifies figurative language into rhetorical and figurative language styles such as simile, metaphor, allegory, personification, and others. The research method used is descriptive qualitative and employs a stylistic approach. Data were collected through careful and systematic note-taking of the contents of the "Malam Tamansari" poetry collection, then analyzed and classified based on the types of figurative language identified. Data validity was checked using researcher triangulation to ensure the accuracy and objectivity of the analysis. The results of this study indicate that there are twelve types of figurative language styles found in the Malam Tamansari poetry anthology, namely simile, metaphor, allegory, personification, allusion, eponym, epithet, synecdoche, metonymy, hypalase, irony, and innuendo. The dominant figurative language style found in this work is metaphor. In addition, this poetry anthology has met the criteria of linguistic, psychological, and cultural background aspects so that it is suitable to be used as an alternative poetry teaching material for grade X high school students. Knowledge of figurative language styles is expected to improve students\u27 understanding, appreciation, and creative abilities in literature learning
Integrasi Nilai-nilai Filsafat Pendidikan dalam Pendekatan Humanistik pada Pembelajaran Bahasa Indonesia
Makalah ini membahas integrasi nilai-nilai filsafat pendidikan dalam pendekatan humanistik pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Filsafat pendidikan memberikan dasar normatif dan arah tujuan bagi praktik pembelajaran, sedangkan pendekatan humanistik menempatkan peserta didik sebagai pusat proses belajar dengan memperhatikan potensi, kebebasan, dan pengalaman pribadi. Keduanya memiliki titik temu dalam pandangan bahwa pendidikan harus berorientasi pada pengembangan kemanusiaan secara utuh, bukan sekadar transfer pengetahuan. Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, pendekatan humanistik memungkinkan siswa untuk berekspresi, berinteraksi, dan mengembangkan kepekaan bahasa sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam filsafat pendidikan. Melalui integrasi ini, guru dapat mengembangkan model pembelajaran yang bermakna, kreatif, dan menumbuhkan karakter positif peserta didik.
PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN DAN STRATEGI PEMASARAN PRODUK LIDI SAWIT PADA PEREMPUAN SUKU AKIT
Indonesia, sebagai negara dengan keanekaragaman budaya dan suku, memiliki potensi yang signifikan dalam mengembangkan ekonomi berbasis komunitas, terutama di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Salah satu contoh konkret adalah Pulau Rupat, khususnya Desa Hutan Panjang, yang dihuni oleh Suku Akit. Suku ini menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam akses pendidikan dan peluang ekonomi, yang lebih dirasakan oleh perempuan. Untuk mengatasi permasalahan ini, Tim PPK Ormawa Himabisnis melaksanakan program pelatihan kewirausahaan dan strategi pemasaran produk lidi sawit, yang merupakan sumber daya lokal yang belum dimanfaatkan secara optimal. Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan partisipasi ekonomi perempuan Suku Akit, serta menciptakan peluang ekonomi baru yang berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam program ini mencakup observasi lapangan, pendekatan partisipatif, sosialisasi, pelatihan, dan evaluasi. Melalui kegiatan ini, diharapkan perempuan Suku Akit dapat lebih mandiri secara ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk memberikan dampak positif bagi komunitas Suku Akit secara keseluruhan, dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi ketimpangan sosial. Dengan demikian, inisiatif ini tidak hanya berfokus pada pemberdayaan individu, tetapi juga pada pengembangan komunitas yang lebih inklusif dan berkelanjuta