UMMAT Scientific Journals (Universitas Muhammadiyah Mataram)
Not a member yet
13083 research outputs found
Sort by
Pelatihan teknik presentasi efektif bagi para guru dan siswa-siswi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten
Abstrak Keterampilan presentasi yang kuat sangat penting bagi para guru dan siswa-siswi, meningkatkan komunikasi, keterlibatan, dan hasil pembelajaran secara keseluruhan, serta membangun kepercayaan diri dan mempersiapkan siswa-siswi untuk kesuksesan di masa mendatang. Presentasi yang efektif memanfaatkan hubungan antara penyaji dan audiens dengan sebaik-baiknya. Hal ini mempertimbangkan sepenuhnya kebutuhan audiens untuk menarik minat mereka, mengembangkan pemahaman mereka, menginspirasi kepercayaan diri mereka dan mencapai tujuan penyaji. Dengan demikian, penting untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan bagi para guru dan siswa melalui kegiatan pelatihan teknik presentasi yang efektif. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) ini adalah, meningkatnya pemahaman dan keterapilan presentasi efektif para guru dan siswa-siswi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan ini mendapatkan tanggapan positif, karena dianggap dapat meningkatkan pemahaman guru dan siswa tentang komunikasi efektif, keterampilan presentasi, dan penggunaan alat bantu visual, serta mendorong kepercayaan diri dalam menyampaikan ide secara jelas dan menarik di depan audiens. Kata kunci: teknik presentasi; komunikasi efektif; para guru; siswa-siswi. Abstract Strong presentation skills are crucial for both teachers and students, enhancing communication, engagement, and overall learning outcomes, as well as building confidence and preparing students for future success. Presenting well means achieving a high level of impact in front of a group of people, delivering a presentation that inspires and motivates others, or communicating information in a powerful way. An effective presentation makes the most of the relationship between presenter and audience. It fully considers the audience’s needs to capture their interest, develop their understanding, inspire their confidence, and achieve the presenter’s goals. Therefore, it is important to improve the understanding and skills of teachers and students through training activities on effective presentation techniques. The purpose of this community service (PkM) activity is to increase the understanding and skills of effective presentations among teachers and students of Public Senior High School (SMAN) 1 Cimarga, Lebak Regency, Banten Province. The results showed that this training activity received a positive response, because it was considered to improve teachers’ and students’ understanding of effective communication, presentation skills, and the use of visual aids, as well as boosting confidence in conveying ideas clearly and compellingly in front of an audience. Keywords: presentation techniques; effective communication; teachers; students
Edukasi gizi dan pengenalan Stik BAYORLE sebagai PMT berbasis pangan lokal untuk pencegahan stunting pada balita
Abstrak Stunting masih menjadi masalah gizi serius di Indonesia, termasuk di Kelurahan Mulyorejo. Yang ditetapkan sebagai wilayah prioritas penanganan stunting di Kota Malang. Upaya pencegahan dilakukan melalui pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal, salah satunya adalah stik BAYORLE (bayam, wortel, lele) yang kaya protein, zat besi, dan vitamin. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan memperkenalkan dan mengevaluasi tingkat kesukaan masyarakat terhadap terhadap stik BAYORLE sebagai alternatif PMT bergizi untuk mendukung pertumbuhan balita secara optimal serta meningkatkan kemandirian pangan keluarga. Kegiatan Pengabmas dilakukan melalui tiga tahap yaitu perencanaan, pembuatan media edukasi poster, dan pelaksanaan di tiga Posyandu Kelurahan Mulyorejo. Rangkaian pelaksanaan kegiatan meliputi pembuatan stik BAYORLE dan produk pembanding (bola nori), uji kesukaan ibu balita dengan formulir hedonik sederhana, serta serta edukasi gizi melalui media poster. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa stik BAYORLE lebih disukai panelis dibandingkan bola nori pada aspek rasa, aroma, warna, dan tekstur. Produk ini berpotensi dikembangkan sebagai PMT berbasis pangan lokal untuk mendukung pencegahan stunting. Disarankan adanya pengembangan formulasi, variasi bentuk, serta edukasi berkelanjutan kepada kader dan ibu balita agar pemanfaatan pangan lokal semakin optimal. Kata kunci: stunting; Pemberian Makan Tambahan (PMT); pangan lokal. Abstract Stunting remains a major nutritional issue in Indonesia, including in Mulyorejo Village, a priority area for stunting management in Malang City. One prevention effort is providing supplementary feeding (PMT) from local food sources, such as BAYORLE sticks (spinach, carrots, and catfish) which are rich in protein, iron, and vitamins. This community service program aimed to introduce BAYORLE sticks and assess community preference as a nutritious PMT alternative to support toddler growth and strengthen family food independence. Activities were conducted in three stages: planning, preparation of educational poster media, and implementation in three Posyandu (Integrated Health Posts). Implementation included producing BAYORLE sticks and a comparison product (nori balls), testing maternal preferences using a simple hedonic scale, and delivering nutrition education through posters. Results showed BAYORLE sticks were more preferred than nori balls in terms of taste, aroma, color, and texture. This indicates their potential for development as a local food-based PMT to help prevent stunting. Future efforts should focus on improving formulations, creating product variations, and providing continuous education for health cadres and mothers to optimize local food utilization. Keywords: stunting; Supplementary Feeding (PMT); local food
Pelatihan pembuatan bakso ikan terbang pada POKLAHSAR Mosso Indah di Labuang, Sulawesi Barat
AbstrakKelurahan Mosso merupakan wilayah penghasil ikan terbang di Sulawesi Barat. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan pelatihan dan penerapan cara pembuatan bakso ikan terbang yang baik dan benar. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada Hari Minggu, tanggal 5 Juli 2025 yaitu pemberian materi dan penerapan pembuatan bakso ikan terbang di lingkungan Somba, Kelurahan Mosso, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Metode kegiatan ini adalah pemberian materi cara pembuatan bakso dan penerapan pembuatan bakso ikan terbang secara langsung. Kegiatan ini diikuti oleh kelompok Pokhlaksar Mosso Indah dengan jumlah anggota 10 orang terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara dan anggota mitra usaha. Pengukuran tingkat pengetahuan peserta dilakukan melalui pre-test dan post-test dengan rentang skor 0–100, sedangkan keterampilan dinilai menggunakan skala 1–4. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada rata-rata pengetahuan peserta, yaitu dari 50 menjadi 80 setelah pelatihan. Selain itu, sebanyak 85 % peserta mencapai level keterampilan ≥3, yang mengindikasikan bahwa sebagian besar peserta telah memiliki kemampuan baik dalam proses produksi dan pengemasan produk bakso ikan terbang. Hasil dari kegiatan ini adalah peningkatan keterampilan dan pengetahuan baru kepada kelompok mitra usaha dalam penerapan pembuatan bekso ikan terbang dengan baik dan benar yang dapat meningkatkan kualitas bakso ikan terbang. Selain itu, kelompok mitra usaha diberikan pengetahuan terkait dengan pengemasan produk bakso ikan terbang sehingga daya simpan lebih lama. Keywords: ikan terbang; masyarakat; bakso ikan terbang; pengemasan; Sulawesi Barat Abstract Mosso Village is a producer of flying fish in West Sulawesi. The purpose of this activity is to provide training and the proper method for making flying fish meatballs. The community service activity was conducted on Sunday, July 5, 2025, which included the provision of materials and the practical application of making flying fish meatballs in the Somba area, Mosso Village, Majene Regency, West Sulawesi Province. The method of this activity is the provision of material on how to make meatballs and the direct application of making flying fish meatballs. This activity was attended by the Mosso Indah Pokhlaksar group, consisting of 10 members including the chairman, secretary, treasurer, and business partner members. Participants' knowledge levels were measured using a pre-test and post-test with a score range of 0–100, while skills were assessed using a scale of 1–4. The evaluation results showed a significant increase in participants' average knowledge, from 50 to 80 after the training. Furthermore, 85% of participants achieved a skill level ≥3, indicating that most participants had developed good skills in the production and packaging of flying fish meatballs. The outcome of this activity was an increase in skills and new knowledge for the business partner group in the proper and correct application of making flying fish meatballs, which can improve the quality of flying fish meatballs. Additionally, the business partner group was provided with knowledge related to packaging flying fish meatball products to extend their shelf life. Kata kunci: flying fish; community; meatball production; packaging; West Sulawes
Pemberdayaan peternak melalui optimalisasi penggunaan alat pencacah rumput odot untuk pembuatan silase serta pemanfaatan teknologi di Kulon Kali Farm
AbstrakBanyuwangi mempunyai potensi terhadap budidaya kambing perah untuk mendukung kebutuhan susu. Tujuan kegiatan ini adalah mendukung peningkatan potensi Kulon Kali Farm melalui pemanfaatan alat pencacah rumput odot, peningkatan kualitas rumput odot melalui pembuatan silase serta pemanfaatan teknologi untuk pemasaran yang dihadiri 17 peserta. Kulon Kali Farm berfokus pada budidaya kambing perah yaitu kambing perah Saanen dan Sapera dengan produk yang dihasilkan susu segar dan susu pasteurisasi. Kambing perah memerlukan pakan untuk kebutuhan nutrisi, jenis pakan yang diberikan meliputi konsentrat dan hijauan jenis rumput odot. Namun mempunyai permasalahan yaitu memerlukan banyak waktu untuk mempersiapkan pakan, banyak limbah pakan. Pembuatan silase menjadi solusi untuk menjaga ketersediaan rumput odot dengan tetap mempertahankan nutrisinya serta mengoptimalkan pemanfaatan alat pencacah rumput odot supaya efisiensi tenaga dan waktu. Selain itu, untuk meningkatkan penjualan produk dari Kulon Kali Farm diperlukan pelatihan pemanfaatan teknologi. Metode kegiatan pengabdian kepada peternak di Kulon Kali Farm meliputi 1) pelatihan peternak di Kulon Kali Farm 2) evaluasi pelaksanaan kegiatan melalui pretest dan post test. Kegiatan mendapat respon positif dari peternak melalui diskusi narasumber dan peserta, peserta mengetahui penggunaan alat pencacah rumput, peserta melaksanakan pembuatan silase, peserta memahami penggunaan teknologi sebagai sarana promosi. Kata kunci: kambing; odot; silase; teknologi AbstractBanyuwangi has potential for dairy goat farming to support milk supply needs. The objective of this activity is to support the enhancement of Kulon Kali Farm's potential through the use of a grass chopper, improving grass quality through silage production, and utilizing marketing technology, attended by 17 participants. Kulon Kali Farm focuses on dairy goat farming, specifically Saanen and Sapera dairy goats, producing fresh milk and pasteurized milk. Dairy goats require feed to meet their nutritional needs, with the types of feed provided including concentrates and forage such as odot grass. However, there are challenges, such as the time-consuming process of preparing feed and the generation of feed waste. Silage production offers a solution to ensure the availability of odot grass while maintaining its nutritional value and optimizing the use of grass choppers to enhance labor and time efficiency. Additionally, to boost sales of Kulon Kali Farm’s products, training in technology utilization is required. The methods of community service activities for farmers at Kulon Kali Farm include: 1) training for farmers at Kulon Kali Farm, 2) evaluating the implementation of activities through pre-tests and post-tests. The activities received positive feedback from farmers through discussions with experts and participants, participants learned how to use the grass chopper, participants conducted silage production, and participants understood the use of technology as a promotional tool. Keywords: goat; odot; silage; technology
Pemberdayaan masyarakat Desa Suci melalui pembuatan briket ramah lingkungan limbah batok kelapa
Abstrak Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Desa Suci, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, yang memiliki potensi limbah batok kelapa melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal. Tujuan program ini adalah memberdayakan masyarakat melalui pelatihan pembuatan briket ramah lingkungan berbahan dasar limbah batok kelapa sebagai alternatif bahan bakar yang hemat, bersih, dan bernilai ekonomis. Metode pelaksanaan meliputi tiga tahapan, yaitu persiapan (perencanaan, pengadaan alat dan bahan, serta pembekalan konsep), pelaksanaan (pengarangan batok, penghalusan arang, pencampuran dengan perekat, pencetakan, dan pengeringan), serta evaluasi (penilaian kualitas briket dan refleksi bersama masyarakat). Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam mengolah limbah menjadi produk bernilai tambah. Briket yang dihasilkan memiliki karakteristik padat, tahan lama, dan nilai kalor sekitar 4.000–5.000 kalori/kg dengan asap minimal, sehingga ramah lingkungan. Harga jual briket yang direkomendasikan kepada peserta sebesar Rp20.000/kg. Program ini tidak hanya mengatasi masalah limbah, tetapi juga membuka peluang usaha baru, mengurangi ketergantungan pada LPG dan kayu bakar, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kata kunci: briket; batok kelapa; pemberdayaan masyarakat; energi alternatif; pengolahan limbah. Abstract This community service activity was carried out in Suci Village, Panti District, Jember Regency, which has abundant coconut shell waste potential but has not been optimally utilized. The goal of this program is to empower the community through training in making environmentally friendly briquettes from coconut shell waste as an alternative fuel that is economical, clean, and economically valuable. The implementation method includes three stages, namely preparation (planning, procurement of tools and materials, and providing a concept), implementation (shell composition, charcoal refinement, mixing with adhesive, molding, and drying), and evaluation (briquette quality assessment and reflection with the community). The results of the activity showed an increase in community understanding and skills in processing waste into value-added products. The resulting briquettes are characterized by being dense, durable, and have a calorific value of around 4,000–5,000 calories/kg with minimal smoke, making them environmentally friendly. This program not only addresses the waste problem, but also opens up new business opportunities, reduces dependence on LPG and firewood, and improves community welfare. Keywords: briquettes; coconut shells; community empowerment; alternative energy; waste processin
Optimalisasi pembiasaan makan sehat bergizi dan hidup berkelanjutan di MI Al Hidayah Bangli melalui teknologi sekolah cerdas pangan berbantuan IoT (Internet of Things)
Abstrak MI Al Hidayah Bangli merupakan sekolah inklusif dengan 5 (lima) orang siswa berkebutuhan khusus (autisme dan tuna grahita) dari total siswa 100 orang (5%). Seluruh siswa di sekolah ini berasal dari etnis Jawa serta beragama Islam. Disabilitas, bahasa, budaya, etnik, kepercayaan, dan gender merupakan aspek yang memengaruhi inklusifitas. Pendidikan karakter merupakan bagian penting dalam sistem pendidikan, karena melalui pendidikan karakter akan terbentuk individu yang inklusif, terdidik, dan toleransi. Pendidikan karakter dapat dicapai melalui salah satu bentuk yaitu Pusat Kegiatan Belajar melalui kegiatan terpadu yaitu “Sekolah Cerdas Pangan” di MI Al Hidayah Bangli. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini menyediakan media pembelajaran multiliterasi berbasis ketahanan pangan di MI Al Hidayah. Sehingga, akan terbentuk pembiasaan makan sehat bergizi dan dan hidup berkelanjutan yang akan membentuk karakter yang inklusif. Teknologi Sekolah Cerdas Pangan dilaksanakan dalam beberapa tahap. Yang pertama adalah penanaman tanaman pangan (stroberi) dan tanaman obat (jahe) di Kebun Cerdas berbantuan teknologi IoT (Internet of Things). Yang kedua adalah edukasi dan praktik pembiasaan makan sehat bergizi berbantuan media pembelajaran flipbook digilat ber ISBN dengan judul Pangan Sehat. Yang ketiga adalah pengolahan sampah pangan menjadi ekoenzim berbantuan flip book digital. Evaluasi keberhasilan program dapat dilihat berdasarkan data terkuantifikasi, melalui pre-test dan post-test terhadap guru dan siswa di MI Al Hidayah Bangli. Hasil evaluai menunjukkan peningkatan pemahaman tentang teknologi IoT sebesar 81,70%; tentang pangan sehat 82,42%; tentang pengolahan sampah pangan 81,08%, serta tentang literasi budaya dan kewargaan sebesar 81,54%. Kata kunci: multiliterasi; IoT; sekolah cerdas pangan; pembiasaan makan sehat bergizi; kebun cerdas. Abstract MI Al Hidayah Bangli is an inclusive school accommodating five students with special needs (autism and intellectual disability), constituting 5% of the total student population of 100 individuals. All students in this school are of Javanese ethnicity and adhere to the Islamic faith. Disability, language, culture, ethnicity, belief, and gender are aspects that influence inclusivity. Character education is a crucial component within the education system, as it fosters the development of inclusive, educated, and tolerant individuals. Character education can be achieved through various forms, one of which is the Learning Activity Center (Pusat Kegiatan Belajar), implemented through the integrated activity "Smart Food School" (Sekolah Cerdas Pangan) at MI Al Hidayah Bangli. The objective of this community engagement activity is to provide multiliteracy learning media based on food security at MI Al Hidayah. Consequently, this initiative aims to establish a habit of healthy and nutritious eating and sustainable living, which will subsequently shape an inclusive character. The Smart Food School Technology was executed in several phases: First phase involved the cultivation of food crops (strawberries) and medicinal plants (ginger) in the Smart Garden (Kebun Cerdas) with the assistance of IoT (Internet of Things) technology. Second phase comprised education and practical implementation of healthy and nutritious eating habits, utilizing a digital flipbook learning medium with an ISBN, titled Pangan Sehat (Healthy Food). Third phase focused on processing food waste into eco-enzymes, also supported by a digital flipbook. The program's success was evaluated based on quantified data obtained from pre-tests and post-tests administered to teachers and students at MI Al Hidayah Bangli. Evaluation results indicated an increase in understanding: 81,70% regarding IoT technology; 82,42% concerning healthy food; and 81,08% pertaining to food waste processing; and 81,54% cultural literacy Keywords: multiliteracy; IoT; smart garden; smart food school; habituation of eating nutritious and healthy foo
Pelatihan pelayanan prima dan strategi promosi pada UMKM ritel di Desa Cikeas Udik
AbstrakUsaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan sektor yang berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, namun masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal kualitas pelayanan dan strategi promosi. Program Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan di Desa Cikeas Udik dengan tujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan pelaku UMKM ritel dalam memberikan pelayanan prima serta mengoptimalkan strategi promosi, baik konvensional maupun digital. Metode kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif melalui ceramah interaktif, diskusi, simulasi, studi kasus, serta pendampingan praktis. Evaluasi dilakukan dengan instrumen pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasil menunjukkan adanya kenaikan skor rata-rata dari 13 pada pre-test menjadi 17 pada post-test, yang mengindikasikan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta terkait pelayanan prima dan strategi promosi. Hasil ini membuktikan bahwa pelatihan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kapasitas UMKM ritel lokal. Kegiatan ini diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa sebagai model pemberdayaan UMKM berkelanjutan. Kata kunci: pelayanan prima; strategi promosi; UMKM ritel. AbstractMicro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) are a sector that contributes significantly to the national economy, but still face various challenges, particularly in terms of service quality and promotional strategies. This Community Service Program was implemented in Cikeas Udik Village with the aim of improving the understanding and skills of retail MSMEs in providing excellent service and optimizing promotional strategies, both conventional and digital. The activity method used a participatory approach through interactive lectures, discussions, simulations, case studies, and practical mentoring. Evaluation was conducted using pre-test and post-test instruments to measure the increase in participants' knowledge. The results showed an increase in the average score from 13 in the pre-test to 17 in the post-test, indicating a significant increase in participants' understanding of excellent service and promotional strategies. These results prove that the training has a positive impact on increasing the capacity of local retail MSMEs. This activity is expected to be replicated in other regions with similar characteristics as a model for sustainable MSME empowerment. Keywords: excellent service; promotion strategy; retail MSMEs
Transformasi kompetensi guru sekolah dasar melalui pengembangan media pembelajaran augmented reality berbasis Assemblr Edu
Abstrak Penguasaan teknologi Augmented Reality (AR) menjadi kebutuhan mendesak bagi guru dalam menciptakan media pembelajaran yang inovatif dan selaras dengan Kurikulum Merdeka. Namun, keterbatasan pelatihan dan akses informasi menjadi kendala utama, khususnya bagi guru di daerah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru MGMP Informatika Kabupaten Lombok Timur dalam mengembangkan bahan ajar berbasis AR. Metode pelaksanaan terdiri atas tiga tahap utama: (1) workshop dan pelatihan hands-on penggunaan platform Assemblr Edu dan Canva 3D, (2) pendampingan intensif, serta (3) evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kemampuan yang signifikan, di mana 12 dari 15 peserta (80%) berhasil mengembangkan media pembelajaran AR yang siap implementasi. Kegiatan ini tidak hanya berhasil meningkatkan literasi teknologi digital peserta, tetapi juga mendorong terciptanya media pembelajaran interaktif yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa. Disimpulkan bahwa pelatihan semacam ini efektif dalam mempercepat adopsi teknologi di kelas dan perlu diperluas cakupannya kepada guru mata pelajaran lainnya. Kata kunci: augmented reality; informatika; media pembelajaran interaktif; pelatihan guru. Abstract Mastery of Augmented Reality (AR) technology is an urgent need for teachers in creating innovative learning media that is in line with the Merdeka Curriculum. However, limited training and access to information are major obstacles, especially for teachers in rural areas. This community service activity aims to improve the competence of MGMP Informatics teachers in East Lombok Regency in developing AR-based teaching materials. The implementation method consists of three main stages: (1) workshops and hands-on training on the use of the Assemblr Edu and Canva 3D platforms, (2) intensive mentoring, and (3) evaluation through pre-tests and post-tests. The evaluation results showed a significant improvement in skills, with 12 out of 15 participants (80%) successfully developing AR learning media that was ready for implementation. This activity not only succeeded in improving the participants' digital technology literacy but also encouraged the creation of interactive learning media that could increase student engagement. It was concluded that this type of training was effective in accelerating the adoption of technology in the classroom and needed to be expanded to teachers of other subjects. Keywords: augmented reality; informatics; interactive learning media; teacher training
Pelatihan budidaya maggot berbasis kandang dual-zona untuk ekonomi sirkular Desa Wonosari
Abstrak Desa Wonosari, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, menghadapi permasalahan serius dalam pengelolaan sampah organik yang sebagian besar masih dibuang atau dibakar, menimbulkan pencemaran lingkungan dan hilangnya potensi ekonomi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengintegrasikan teknologi tepat guna berupa mesin shredder dan kandang maggot dual-zona untuk mendukung budidaya larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai solusi zero waste berbasis ekonomi sirkular. Mesin shredder digunakan untuk mencacah limbah organik rumah tangga dan pasar menjadi bubur halus, sedangkan kandang dual-zona berukuran 2,5 m × 1,5 m × 1 m dengan tambahan laci 0,5 m didesain tanpa sudut siku-siku agar lalat BSF tidak menempel di rangka, serta memisahkan ruang terang untuk perkawinan dan ruang gelap-lembap untuk oviposisi. Pelatihan teknis kepada Karang Taruna Desa Wonosari dilakukan secara partisipatif, mencakup pengoperasian shredder, manajemen kandang, serta siklus budidaya maggot hingga panen. Hasil implementasi menunjukkan shredder mampu mengolah 120–160 kg sampah organik per hari, sementara kandang menghasilkan tingkat penetasan telur 85–90% dengan produksi maggot konsisten. Maggot dipanen pada usia 10–12 hari dengan ukuran 1–1,2 cm dan kandungan protein tinggi, dimanfaatkan sebagai pakan unggas dan ikan, sedangkan residu organik diolah menjadi pupuk kompos. Dampak yang dicapai tidak hanya mengurangi praktik pembakaran sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui penguatan unit pengelola sampah desa berbasis Karang Taruna. Integrasi mesin shredder dan kandang maggot inovatif terbukti efektif dalam mengurangi sampah organik, meningkatkan produktivitas budidaya maggot, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat pedesaan berbasis konsep zero waste. Kata kunci: mesin shredder; kandang dual-zona; zero waste; ekonomi sirkular; maggot Abstract Wonosari Village, Puger District, Jember Regency, faces serious problems in the management of organic waste, most of which is still disposed of or burned, causing environmental pollution and loss of economic potential. This service activity aims to integrate appropriate technology in the form of shredder machines and dual-zone maggot cages to support the cultivation of Black Soldier Fly (BSF) larvae as a zero waste solution based on a circular economy. The shredder is used to chop household and market organic waste into fine slurries, while the 2.5 m × 1.5 m × 1 m dual-zone cage with an additional 0.5 m drawer is designed without right angles to keep BSF flies from sticking to the frame, as well as separating a light room for mating and a dark-damp room for oviposition. Technical training to the Wonosari Village Youth Organization is carried out in a participatory manner, including shredder operation, cage management, and maggot cultivation cycle until harvest. The results of the implementation showed that the shredder was able to process 120–160 kg of organic waste per day, while the cage produced an egg hatching rate of 85–90% with consistent maggot production. Maggot are harvested at the age of 10–12 days with a size of 1–1.2 cm and a high protein content, used as poultry and fish feed, while organic residues are processed into compost. The impact achieved not only reduces the practice of burning waste, but also opens up new economic opportunities through the strengthening of Karang Taruna-based village waste management units. The integration of shredder machines and innovative maggot cages has proven effective in reducing organic waste, increasing maggot cultivation productivity, and strengthening the economic independence of rural communities based on the zero waste concept. Keywords: shredder machine; dual-zone enclosure; zero waste; circular economy; maggo
Pemberdayaan masyarakat dasawisma melalui edukasi pengelolaan sampah dan pemasaran produk berbasis daur ulang plastik
Abstrak Permasalahan sampah plastik di lingkungan permukiman masih menjadi isu yang mendesak karena volumenya terus meningkat dan proses penguraiannya membutuhkan waktu yang sangat lama. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan dan pengolahan sampah menjadi faktor utama yang memperparah kondisi tersebut. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu-ibu Dasawisma Anggrek, RT 22, Kelurahan Pelita, Kecamatan Samarinda Ilir, dalam mengelola sampah rumah tangga serta memahami dasar pemasaran dan branding produk hasil daur ulang. Sehingga kegiatan ini belum sampai ke praktik daur ulang sampah plastik. Kegiatan dilaksanakan melalui metode penyuluhan, pelatihan serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Evaluasi dilakukan terhadap dua variabel, yaitu pengetahuan pengelolaan dan pengolahan sampah serta pengetahuan tentang pemasaran dan branding produk. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta. Rata-rata peningkatan pengetahuan pengelolaan dan pengolahan sampah mencapai 22%, dari 52% menjadi 74%, sedangkan peningkatan pengetahuan pemasaran dan branding produk mencapai 18%, dari 28% menjadi 46%. Peningkatan paling signifikan terjadi pada aspek pemilahan sampah dan kesadaran akan pentingnya pengurangan penggunaan plastik. Kegiatan ini juga mendorong munculnya ide-ide kreatif peserta dalam menghasilkan produk ramah lingkungan bernilai jual, seperti lampu lampion, tas dan tempat pensil. Dengan demikian, kegiatan ini berhasil meningkatkan literasi lingkungan dan membuka peluang ekonomi sirkular berbasis rumah tangga di komunitas Dasawisma. Kata kunci: limbah plastik; pengelolaan sampah; pemasaran produk; edukasi lingkungan; dasawisma. Abstract The issue of plastic waste in residential areas remains an urgent problem due to its ever-increasing volume and the fact that it takes a very long time to decompose. The lack of public knowledge about waste management and processing is a major factor exacerbating this situation. This community service activity aims to increase the knowledge of the women of Dasawisma Anggrek, RT 22, Kelurahan Pelita, Kecamatan Samarinda Ilir, in managing household waste and understanding the basics of marketing and branding recycled products. Therefore, this activity has not yet reached the stage of plastic waste recycling. The activity was carried out through counseling, training, and evaluation using pre-tests and post-tests. The evaluation was conducted on two variables, namely knowledge of waste management and processing, and knowledge of product marketing and branding. The results of the pre-test and post-test showed an increase in participants' knowledge. The average increase in knowledge of waste management and processing reached 22%, from 52% to 74%, while the increase in knowledge of product marketing and branding reached 18%, from 28% to 46%. The most significant improvement occurred in the aspects of waste sorting and awareness of the importance of reducing plastic use. This activity also encouraged participants to come up with creative ideas for producing marketable environmentally friendly products, such as lanterns, bags, and pencil cases. Thus, this activity succeeded in increasing environmental literacy and opening up opportunities for household-based circular economy in the Dasawisma community. Keywords: plastic waste; waste management; product marketing; environmental education; dasawisma