DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
Hubungan beban kerja dengan stres kerja tenaga kesehatan di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Kendal
Latar belakang :stres adalah tuntutan eksternal yang mengenai seseorang misalnya
objek dalam lingkungan atau sesuatu stimulus yang secara obyektif adalah berbahaya.
Stres juga bias diartikan sebagai tekanan, ketegangan, gangguan yang tidak
menyenangkan yang berasal dari luar diri seseorang. Beban kerja erat hubungannya
dengan stres kerja. Beban kerja yang berat dapat memengaruhi stres kerja yang berujung
pada penurunan produktivitas pekerjaan.
Tujuan :untuk mengetahui hubungan beban kerja terhadap stres kerja pada petugas
instalasi bedah sentral Rumah Sakit Islam Muhamadiyah Kendal.
Metode :Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasi dengan pendekatan Cross
Sectional. Jumlah populasi dan sampel dalam penelitian ini sebanyak 25 orang dengan
metode sampling yang digunakan yaitu total sampling dimana semua anggota populasi
dijadikan anggota sampel.
Hasil :karakteristik responden berdasarkan beban kerja, sebagian besar termasuk
kategori berat yaitu sebanyak 11 responden (44%). Stres kerja, sebagian besar termasuk
kategori tinggi yaitu sebanyak 25 responden (48%). Berdasarkan nilai significancy pada
hasil uji statistik menunjukan (p = 0,016 < 0,05) yang berarti ada hubungan beban kerja
dan stres kerja.
Simpulan :Ada hubungan beban kerja terhadap stres kerja pada petugas instalasi bedah
sentral Rumah Sakit Islam Muhamadiyah Kendal. Saran :Rumah sakit harus lebih
memperhatikan kesejahteraan petugas tenaga kesehatan dengan manajemen beban kerja
dan resiko kerja yang lebih baik dengan melakukan pengelolaan stress kerja petugas
tenaga kesehatan melalui pelatihan dan sistem pembagian tugas yang jelas sehingga
mengurangi resiko stres kerja
Kecemasan dan fatigue pada pasien hemodialisa: literature review
Latar Belakang : Pasien yang mengalami gagal ginjal kronik memerlukan suatu
penanganan untuk mempertahankan hidupnya, metode penunjang yang paling sering
dilakukan oleh pasien gagal ginjal kronik adalah hemodialisa. Pasien dengan terapi
hemodialisa dominan mengalami fatigue dan juga kecemasan.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum terkait kecemasa
dan fatigue pada pasie hemodialisa.
Metode : Penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan penelusuran artikel
menggunakan database Google Shcolar dan Pubmed dalam 5 tahun terakhir dari 1
Januari 2017 sampai 30 November 2021. Kata kunci yang digunakan, bahasa
Indonesia: Kecemasan dan Fatigue pada pasien hemodialisa kata kunci bahasa Inggris:
Anxiety and fatigue hemodialysis patients.
Hasil : Penelusuran didaptakan dari 8 artikel terdapat 4 artikel yang membahas tentang
fatigue dan mengatakan bahwa semua responden dominan mengalami fatigue.
Dibandingkan dengan pasien transpalati ginjal, pasien hemodialisa, dan pasien dengan
keganasan hematologi pravlensi fatigue paling tinggi yaitu pada pasien hemodialisa
mencapai 53,3%. Berdasarkan dari 8 artikel yang membahas tentang kecemasan
mengatakan bahwa semua responden dominan mengalami kecemasan dengan
peresentasi 78,4%. Dibandingkan dengan pasien transpalati ginjal, pasien hemodialisa,
dan pasien dengan keganasan hematologi pravlensi kecemasan paling tinggi yaitu pada
pasien hemodialisa(53.3%) .
Simpulan dan Saran : Fatigue dan kecemasan merupakan masalah yang sering
dialami oleh pasien hemodialisa. Diperlukan intervensi yang tepat untuk memantau dan
mengurangi fatigue dan kecemasan pada pasien hemodialisa
Hubungan pengetahuan tentang resusitasi jantung paru dengan motivasi mahasiswa anestesiologi dalam memberikan pertolongan gawat darurat di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
Latar belakang : Kegawatdaruratan secara umum adalah suatu keadaan
seseorang yang berada pada suatu kondisi yang mengancam hidupnya dan
memerlukan pertolongan pertama. Salah satu kasus kegawatdaruratan yang dapat
mengancam dan menyebabkan kematian adalah cardiac arrest atau henti jantung.
Faktor penyebab keberhasilan penanganan kegawatdaruratan yaitu pengetahuan,
pengalaman dan motivasi. Pengetahuan yang baik akan meningkatkan motivasi
dalam memberikan pertolongan gawat darurat. Resusitasi Jantung Paru (RJP)
sangat dibutuhkan bagi orang yang ditemukan tidak sadarkan diri yaitu orang
yang tidak teraba denyut nadinya untuk mengembalikan dan mempertahankan
fungsi vital organ pada korban henti napas dan henti jantung.
Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk mengatahui hubungan antara pengetahuan
tentang resusitasi jantung paru terhadap motivasi mahasiswa anestesiologi dalam
memberikan pertolongan gawat darurat di Universitas „Aisyiyah Yogyakarta.
Metode Penelitian : Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif analitik
dengan desain potong lintang (Cross Sectional). Teknik Pengambilan sampel
menggunakan teknik purposive sampling yang berjumlah 54 responden dengan
kriteria inklusi dan eksklusi.
Hasil Penelitian : hasil uji chi square untuk mengetahui adanya hubungan antara
pengetahuan dengan motivasi di dapatkan hasil 0,0015 ( p <0,05), mayoritas
responden dengan pengetahuan baik memiliki motivasi yang kuat sebanyak 24
responden ( 77,4% ).
Simpulan : Ada hubungan antara pengetahuan tentang resusitasi jantung paru
terhadap motivasi mahasiswa anestesiologi dalam memberikan pertolongan gawat
darurat dengan nilai p-value 0,015 (<0,05).
Saran : Peneliti selanjutnya di harapkan dapat melakukan modifikasi untuk
pengambilan data kepada mahasiswa anestesiologi, dan meneliti lebih dalam
faktor faktor yang mempengaruhi pengetahuan dan motivasi pada mahasiw
Pengaruh deep transverse friction massage (metode cyriax) dan nerve tendon gliding exercise terhadap penurunan nyeri carpal tunnel syndrome pada pembatik
Latar belakang : Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah penyakit pada pergelangan tangan yang diakibatkan karena pekerjaan dengan gerakan berulang-ulang pada posisi abnormal secara terus menerus dan dilakukan dalam waktu yang lama sehingga saraf median di pergelangan tangan menjadi terjepit atau tertekan. Pengrajin batik adalah pekerja yang menggambar atau mendesain berbagai jenis kainbatik. Kegiatan yang dilakukan seluruhnya menggunakan tangan dengan melakukan gerakan berulang pada posisi tangan fleksi (menekuk ke bawah), dan posisi tangan ekstensi (menekuk ke atas). Hal tersebut dapat menyebabkan suatu masalah bagi pekerja, salah satunya nyeri pada pergelangan tangan pekerja. Untuk mengatasi gangguan tersebut dapat diberikan intervensi deep transverse friction massage (metode cyriax) dan nerve tendon gliding exercise. Tujuan : Untuk mengetahui
pengaruh deep transverse friction massage (metode cyriax) dan nerve tendon gliding exercise terhadap penurunan nyeri CTS pada pembatik. Metode Penelitian :Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimental dengan metode pre and post test two group design. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 14 orang. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok masing masing berjumlah 7 orang kelompok intervensi dan 7 orang kelompok kontrol. Hasil : Hasil uji hipotesis I menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05) menunjukkan bahwa kombinasi dua intervensi berpengaruh dalam menurunkan nyeri CTS pada pembatik. Kesimpulan : Dari penelitian ini terdapat pengaruh pemberian deep transverse friction massage (metode cyriax) dan nerve tendon gliding exercise terhadap penurunan nyeri carpal tunnel syndrome pada pembatik. Saran : Penelitian selanjutnya diharapkan untuk melakukan studi terhadap faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan CTS
Pengaruh core strengthening exercise dengan pilates exercise terhadap keseimbangan pasion stroke : narrative review
Latar Belakang : Stroke didefinisikan sebagai gangguan fungsional otak yang terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinis baik lokal maupun global yang
berlangsung lebih dari 24 jam atau dapat menimbulkan kematian disebabkan oleh gangguan peredaran darah pada otak. Menurut penyebabnya stroke dibagi dua yaitu stroke hemoragik akibat pecahnya pembuluh darah otak dan stroke iskemik (stroke non hemoragik) akibat adanya trombus atau embolus pada pembuluh darah otak. Sesuatu yang dapat mempengaruhi seseorang terkena stroke adalah hipertensi, merokok, dislipidemia, diabetes melitus, obesitas, alkohol, gaya hidup tidak sehat selain itu usia, jenis kelamin dan riwayat penyakit keluarga juga dapat menjadi faktor resiko sesorang terkena stroke. Tujuan : untuk mengetahui pengaruh pemberian Core Strengthening Exercise dengan Pilates Exercise terhadap keseimbangan pasien stroke berdasarkan 15 jurnal Narrative Review. Metode : jenis metode yang digunakan adalah Narrative Review dimana pencarian literature melalui Google scholar, Research gate, dan NCBI yang diterbitkan minimal pada tahun 2012. Strategi pencarian menggunakan PICO (Patient, Intervention, Comparison, Outcome) kemudian dipilih melalui kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil : Core Strengthening Exercise dan Pilates Exercise memiliki efektivitas terhadap keseimbangan pasien stroke berdasar pada analisis 15 jurnal. Kesimpulan : Hasil dari 15 artikel yang telah penulis review terdapat 13 artikel yang menyatakan bahwa intervensi Core Strenghtening Exercise dan Pilates Exercise terbukti efektif dalam meningkatkan
keseimbangan pada pasien stroke. Kedua intervensi sama sama memberikan hasil yang bisa meningkatkan keseimbangan pada pasien stroke. Saran : Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu edukasi serta pelatihan dalam menangani pasien terkait keluhan kurangnya keseimbangan pada pasien stroke dengan metode Core Strengthneing Exercise dan Pilates Exercise
Citra tubuh pasien diabetes mellitus dengan ulkus kaki diabetikum: literature review
Untuk mengetahui citra tubuh pada pasien diabetes mellitus dengan ulkus kaki diabetikum.
Dalam menilai kualitas literatur, peneliti menggunakan metode cross sectional, quantitative.
Database yang digunakan untuk mencari artikel adalah Google Scholar dan Pubmed yang
dipublikasikan dalam rentang waktu tanggal 1 Januari 2019 sampai dengan 20 September
2020. Dalam penelitian kami pasien mengalami citra tubuh yang rendah. Sedangkan sebagian
lain menerima keaadan tubuh mereka. Citra tubuh adalah gambaran atau perspektif seseorang
pada dirinya serta pikiran dan perasaan yang dihasilkan dari persepsi tersebut. Perasaan ini bisa
menjadi positif, negatif, atau keduanya dan ini tergantung dari masing-masing individu dan
faktor lingkungan. Salah satu yang mengakibatkan gangguan citra tubuh adalah ulkus kaki
diabetikum dimana dapat merubah kondisi tubuh pasien dan menyebabkan pasien mengalami
persepsi yang berbeda pada diri mereka sebelumnya. Pada pasien ulkus diabetikum yang
mengalami gangguan citra tubuh beberapa diantaranya kita dapat selalu memotivasi,
mendukung, tolerasi, menghormati dan tidak mendiskriminasi pasien dengan ulkus kaki diabetikum
Efektifitas penggunaan selimut elektrik dan selimut alumunium foil pada pasien post sectio caesarea yang mengalami hipotermi: literature review
Latar Belakang :Anestesi spinal menurunkan batas untuk memicu vasokonstriksi
dan menggigil sekitar 0,6°C. Akibatnya, efek yang terjadi setelah anestesi regional
adalah hipotermi. Penatalaksanaan hipotermia yang dapat dikerjakan meliputi
tindakan non farmakologis serta farmakologis. Teknik terapi non farmakologis
dapat dilakukan dengan memberikan selimut hangat, mengatur suhu lingkungan
yang memadai, serta menggunakan penghangat cairan untuk tranfusi dan cairan.
Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efektivitas penggunaan
selimut elektrik dan selimut aluminium foil terhadap pasien post section caesarea
yang mengalami hipotermia berdasarkan penelusuran literature.
Metode : Jenis penelitian ini adalah literature review dengan jurnal yang
didapatkan dari Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect yang diterbitkan pada
tahun 2011-2021
Hasil : sebanyak 4 penelitian yang layak untuk dilakukan review sebanyak 2 artikel
mengatakan bahwa selimut elektrik memiliki peningkatan suhu kurang lebih 1,540C
dalam waktu 60 menit dan 2 artikel lainnya mengatakan bahwa Selimut
Alumunium foil memiliki kecepatan kurang lebih 0,8-0,90C dalam waktu 60 menit
Kesimpulan : Selimut elektrik memiliki tingkat keefektifan yang lebih unggul
dibandingkan selimut alumunium foil pada pasien post sectio caesarea yang
mengalami hipotermi
Hubungan self-management dengan kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Gamping II Sleman
Kontrol gula darah merupakan hal yang sangat krusial bagi pasien Diabetes Mellitus
sebagai upaya untuk mencegah terjadinya komplikasi akut maupun kronik. Diperlukan
self-management DM untuk mengendalikan kadar gula darah agar tetap berada dalam
batas normal. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui tingkat self-management dan
hubungan self-management dengan kadar gula darah sewaktu pada pasien DM tipe 2 di
wilayah kerja Puskesmas Gamping II Sleman Yogyakarta. Penelitian ini adalah
penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian deskriptif korelasional.
Pengambilan sampel dilakukan dengan non probability sampling dengan teknik
purposive sampling dan didapatkan 50 responden. Analisis data menggunakan uji
statistik Kendall Tau. Hasil penelitian didapatkan ada hubungan antara self-management
dengan kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Gamping
II Sleman. Self-management direkomendasikan untuk dapat diterapkan sebagai salah
cara melakukan management kontrol gula darah sewaktu
Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan discharge planning :literature review
Discharge planning sebaiknya dilakukan sejak pasien diterima di rumah sakit. Selama ini discharge planning sering diidentikan dengan pemberian pelayanan atau persiapan menjelang
pasien pulang. Pelaksanaan discharge planning yang optimal dapat mengurangi hari perawatan, yang tentu saja mengurangi biaya perawatan. Tujuan dari penelitian adalah untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan discharge planning di rumah sakit.
Metode dalam pencarian sumber data artikel dilakukan melalui database Google scholar dan
scienceDirect (2017-2022) untuk mengambil artikel yang relevan yang diterbitkan dalam
Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Inklusi study design menggunakan Cross Sectional.
Abstrak atau teks lengkap artikel penelitian ditinjau sebelum dimasukan ke dalam ulasan sesuai
dengan kriteria inklusi dan penilaian kualitas menggunakan JBI Critical Appraisal.
Berdasarkan hasil literature review didapatkan faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan
discharge planning adalah personel, keterlibatan & partisipasi, Komunikasi, waktu dan
perjanjian & konsensus
Pengaruh neurodevelopmental treatment terhadap perkembangan gross motor pada pasien cerebral palsy : narrative review
Latar Belakang: Anak Cerebral Palsy (CP) mengalami kerusakan utama pada sistem sistem saraf pusat. Kerusakan tersebut mempengaruhi postur dan perkembangan gerak. Sehingga terjadinya gangguan pada kontrol motorik. Disfungsi motorik kasar pada anak CP menyebabkan anak mengalami keterbatasan gerak, perilaku menetap, ketergantungan pada orang lain dalam melakukan aktivitas sehari-hari, dan kesulitan dalam bersosialiasi dengan lingkungan. Intervensi NDT yang merupakan salah satu terapi yang popular dalam penanganan CP. Dasar pendekatan ini adalah adanya kelainan motorik
yang terlihat pada anak CP disebabkan perkembangan artipikal berhubungan dengan kontrol postur dan reflek karena mempengaruhi sistem saraf pusat. Tujuan: Untuk mengetahui Pengaruh Neurodevelopmental Treatment Terhadap Perkembangan Gross Motor Pada Pasien Dengan Cerebral Palsy. Metodologi: Metode penelitian yang digunakan yaitu narrative review dengan framework PICO (Population, Intervention, Comparison, Outcome). Mengidentifikasi artikel menggunakan database yang relevan (PubMed dan Google Scholar), kemudian memasukkan kedalam PRISMA flowchart, data hasil ulasan narasi, menyusun, meringkas, dan melaporkan hasil. Hasil:
Terdapat 17,137 artikel dari datababase yang telah teridentifikasi. Ditemukan 10 artikel paling relevam yang sesuai didapatkan bahwa NDT berpengaruh terhadap
perkembangan motorik kasar pasien CP. Instrumen pengukuran menggunakan GMFM (Gross Motor Meassurement Scale) yang telah banyak digunakan oleh peneliti dalammengukur motorik kasar. Intervensi NDT diberikan dengan dosis 60 menit setiap sesi dengan 3 kali pertemuan setiap minggu. Kesimpulan:
adanya pengaruh Nerodevelopmental treatment terhadap perkembangan motorik kasar pasien CP. Saran: Peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian lanjutan terkait pengaruh NDT terhadap pasien CP dengan tipe tipe
CP menggunakan metode experimental