DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
Peran perawat terhadap motivasi kesembuhan pasien kanker payudara stadium lokal-lanjut: literature review
Kanker payudara adalah penyakit malignansi yang dimulai pada sel-sel payudara. Perawat kanker memiliki peran penting sebagai koordinator dalam perawatan. Pasoen akan mengalami hilangnya motivasi untuk sembuh karena tidak adanya dukungan dari lingkungan pasien. Karena dengan motivasi pasien akan memiliki keinginan untuk hidup dan keinginan untuk sembuh yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini mengetahui peran perawat terhadap motivasi kesembuhan pasien kanker payudara stadium lokal-lanjut. Jenis penelitian kuantitatif dengan metode literature review atau studi pustaka. Bahan analisa terdiri dari tiga jurnal dalam Bahasa Inggris Dan Bahasa Indonesia yang dapat diakses full-text dengan menggunakan database. Hasil penelitian menggunakan 1 jurnal internasional dam 2 jurnal nasional dan hasil penelitian ini bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku peran dan caring perawat dengan tingkat harapan sembuh pasien. Semakin perawat menunjukkan perilaku caring maka semakin besar pula nilai pada harapan sembuh pasien dan sebaliknya
Hubungan tingkat spiritualitas dengan tingkat kecemasan lansia diabetes melitus di Puskesmas Cangkringan
Latar Belakang: Lansia seringkali mengalami banyak gangguan kesehatan salah satunya adalah
penyakit seperti Diabetes Melitus (DM). Meningkatnya prevalensi DM menyebabkan munculnya
masalah kesehatan lain antara lain kesehatan psikologis yang buruk termasuk depresi, stress, kelelahan,
dan kecemasan. Lansia yang mengalami kecemasan memerlukan terapi kesehatan jiwa, dan juga
memberi motivasi untuk dengan meningkatkan spiritualitas dengan cara mendekatkan diri kepada
Tuhan.
Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat spiritualitas
dengan tingkat kecemasan pada lansia diabetes melitus di Puskesmas Cangkringan.
Metode: Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan studi penelitian
Cross Sectional. Responden penelitian terdiri dari 40 pasien dibetes mellitus di wilayah kerja Puskesmas
Cangkringan. Pengambilan data menggunakan teknik purpose sampling dengan instrument yang
digunakan adalah kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji spearman-rank.
Hasil: Hasil penelitian ini menyatakan bahwa tingkat spiritualitas pada pasien menyatakan 37,5%
memiliki kategori spiritualitas tinggi dengan tingkat kecemasan rendah 40%. Analisis spearman-rank
menunjukkan bahwa nilai r= -.635 dan p=0,000 (<0,05) mengidentifikasi bahwa terdapat hubungan
yang kuat antara dua variabel dengan korelasi hubungan negative atau berlawanan.
Simpulan dan saran : Dari hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara
tingkat spiritualitas dengan tingkat kecemasan lansia. diharapkan peneliti selanjutnya dapat meneliti
tentang faktor-faktor lain yang berhubungan dengan tingkat spritualitas dan tingkat kecemasan pada
lansia diabetes melitus
Efektivitas instrumen numeric rating scale dan visual analog scale pada pasien post operasi sectio caesarea : literature review
Latar Belakang: Sectio caesarea di masa sekarang menjadi pilihan alternatif
persalinan yang mudah dan nyaman. Ibu yang melahirkan dengan prosedur sectio
caesarea semakin meningkat dan kejadian nyeri post sectio caesarea juga semakin
meningkat. Dimana rasa nyeri yang muncul akibat sayatan dapat mengganggu
keadaan ibu. Alat ukur nyeri yang digunakan untuk menilai intensitas nyeri setelah
pembedahan antara lain numeric rating scale dan visual analog scale.
Tujuan: Mengetahui efektivitas instrumen nyeri numeric rating scale dan visual
analog scale pada pasien post operasi sectio caesarea. .
Metode:.Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan
mengumpulkan data melalui jurnal yang sesuai dengan topik penelitian.
Hasil: Berdasarkan hasil literature review nyeri yang dialami ibu post operasi
sectio caesarea efektif diukur dengan menggunakan instrumen NRS dan VAS. Ibu
post operasi sectio saesarea umunya mengalami nyeri berat, nyeri sedang dan nyeri
ringan. Level nyeri berat, sedang dan rigan dapat menurun dengan menggunakan
teknik relaksasi otot progresif. .
Kesimpulan: Instrumen nyeri yang dapat digunakan untuk menilai nyeri ibu post
operasi SC terdiri dari NRS dan VAS. Dari keempat artikel tersebut menunjukkan
bahwa 2 instrumen nyeri tersebut efektif dalam mengukur nyeri dengan level nyeri
ringan, nyeri sedang, dan nyeri berat, tetapi dari keempat artikel yang didapat lebih
efektif untuk digunakan yaitu instrumen nyeri VAS
Hubungan pengetahuan pasien dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi dengan tindakan spinal anestesi (literature review)
Latar Belakang: Kecemasan merupakan diagnosa keperawatan utama yang dialami
pasien pre operasi. Kecemasan merupakan kekhawatiran yang tidak jelas dan
menyebar, yang berkaitan dengan perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya.
Keadaan emosi ini tidak memiliki subjek yang spesifik. Kecemasan dialami secara
subjektif dan didokumentasikan secara interpersonal. Pasien yang kurang
pengetahuan tentang pre operasi tidak mengetahui konsekuensi operasi dan takut
terhadap prosedur operasi dapat mengakibatkan gangguan respon psikologis yang
sering menyertai adalah kecemasan.
Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui hubungan pengetahuan pasien dengan
tingkat kecemasan pasien pre operasi dengan tindakan spinal anestesi.
Metode Penelitian: Ini menggunakan study literature review dengan metode cross
sectional dimana pencarian sumber jurnal penelitian yang dipublikasikan di internet
menggunakan database website: PubMed, dan Google Scholar.
Hasil Penelitian: Ini terdapat hubungan pengetahuan pasien dengan tingkat
kecemasan pasien pre operasi dengan tindakan spinal anestesi. Pasien dengan tingkat
pengetahuan yang baik dapat membantu pasien dalam mempersiapkan dan
mengurangi kecemasan sebelum melakukan operasi dan pasien yang memiliki
pengetahuan yang rendah kurang dapat memahami mengenai informasi tentang
pembedahan dan anestesi.
Simpulan: Tingkat pengetahuan yang dimiliki pasien berhubungan secara signifikan
dengan tingkat kecemasan pasien, dikarenakan tingkat kecemasan dapat menurun
dengan meningkatnya tingkat pengetahuan.
Saran: Agar dapat menjadi bahan masukan dalam meningkatkan pelayanan
keperawatan yang sesuai pada pasien yang akan menjalani tindakan operasi, supaya
dapat meminimalisir angka kejadian kecemasan pasien sebelum melakukan tindakan
operasi
Dampak psikososial akibat kejadian pandemi Covid-19 pada tenaga medis : literature review
Covid-19 merupakan coronavirus jenis baru yang ditemukan di Wuhan, Hubei, Chinapadatahun 2019, semenjak kemunculannya hingga saat ini banyak dilaporkan ribuan bahkanjutaankasus terkait Covid-19, sehingga menyebabkan peningkatan beban kerja pada tenaga medisyang kemudian memunculkan respon kecemasan, stress, depresi, hingga PTSDpada tenagamedis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak psikososial yangdialami
tenaga medis selama masa pandemi Covid-19 berlangsung. Litertur Review : cross sectional
study menggunakan alur tabel prisma, dengan subjek adalah tenaga medis yang bekerja selamapandemi atau yang menangani kasus Covid-19, menggunakan naskah full teks, berbahasaIndonesia dan Inggris yang diterbitkan dari tahun 2020-2021. Dari jurnal yang dianalisisdidapatkan hasil bahwa dampak psikososial Covid-19 pada tenaga medis adalah ketakutan, kecemasan (anxiety), depresi, stres, gangguan tidur, burnout, beberapa tenaga medis jugamengubah kebiasaan berpakaian, beberapa juga menyatakan bahwa penggunaan APDdirasatidak nyaman, tidak merasa puas dengan ketersediaan APD selama masa pandemi, sertaketidakpuasaan terhadap jumlah tenaga medis dan dokter spesialis yang tidak sebandingdengan peningkatan jumlah kasus Covid-19. Dampak psikososial pada tenaga medis terbagi
menjadi 3 aspek, diantaranya aspek psikologis, fisik, dan sosial. Yang termasuk dalamaspekpsikologis yaitu, ketakutan, kecemasan (anxiety), depresi dan stress. Pada aspek fisikberupa, gangguan tidur, burnout, mengubah kebiasaan perpakaian, serta merasa terganggu atautidaknyaman ketika menggunakan APD. Sedangkan pada aspek sosial petugas medis merasatidakpuas dengan ketersediaan APD, serta merasa kekurangan dokter ataupun dokter spesialisyangmembantu dalam penanganan pandemi Covid-19
Faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan tindakan intubasi endotracheal tube selama intra anestesi pada pasien general anestesi literature review
Latar Belakang : Intubasi endotrakeal merupakan tindakan definitif terhadap manajemen
jalan napas yang memerlukan keterampilan yang harus dikuasai setiap tenaga anestesi.
Kegagalan mengelola saluran napas adalah penyebab morbiditas maupun mortalitas yang
dapat dicegah pada pasien yang menjalani anestesi umum. Enam puluh empat persen dari
henti jantung selama anestesia umum disebabkan oleh kesulitan intubasi endotrakeal yang
menyebabkan oksigenasi dan atau ventilasi tidak adekuat dan sekitar 55–93%
menyebabkan kematian atau kerusakan otak.
Tujuan Penelitian : Berdasarkan literature review penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Keberhasilan Tindakan Intubasi
Endotracheal Tube Selama Intra Anestesi Pada Pasien General Anestesi.
Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan metode Literature Review atau
kepustakaan dari dua database yaitu Pubmed dan Science Direct. Terdapat sebanyak 340
artikel dari Pubmed dan 25.801 artikel dari Sciencedirect. Setelah dilakukan seleksi dengan
menggunakan kriteria inklusi dan JBI critical appraisal didapatkan sebanyak 6 artikel
yang terdiri dari 4 artikel dengan studi Cross Sectional, 1 artikel Randomized Controlled
Trial (RCT), dan 1 artikel Quassy Experimen untuk dianalisis oleh peneliti.
Simpulan : Terdapat 6 jurnal yang saling berhubungan. Dari hasil literature review yang
dilakukan pada 6 jurnal terkait, peneliti mendapatkan hasil bahwa prediktor kesulitan
intubasi adalah Uji Mallampati Cormack-Lehane, Uji Mallampati Modifikasi, Uji
Mallampati Ekstensi, Upper Lip Biting Test(ULBT) , Uji Jarak Tiromental, Acromio Axillo
Siprasternal Notch Index (AASI), Videolaringoskop dan Laringoskop dire
Pengaruh pemberian terapi rileksasi napas dalam untuk menurunkan kecemasan pasien pre operasi di instalasi bedah sentral literature review
Latar belakang : Kecemasan merupakan perasaan khawatir yang di alami
seseorang dengan ancaman yang terjadi yang belum diketahui penyebabnya
dengan jelas. Salah satu penyebab timbulnya kecemasan ialah ketika seseorang
mengalami ancaman, seperti pada pasien yang akan dilakukan operasi. Pemberian
teknik relaksasi napas dalam pada pasien pre operasi berpengaruh terhadap tingkat
kecemasan. Pada pasien sebelum menjalani operasi mengalami penurunan tingkat
kecemasan secara bertahap setelah diberikan relaksasi napas dalam.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi
relaksasi napas dalam untuk menurunkan kecemasan pasien pre operatif di Instalasi
Bedah Sentral (IBS) berdasarkan penelusuran literatur.
Metode : penelitian ini menggunakan pencarian database Mendeley dan PubMed,
Online Library (2017-2021) dengan bahasa indonesia dan Inggris. Seleksi
literature dengan naskah sesuai topik penelitian dengan desain Quasi Eksperimen
studies.analisis artikel dengan menggunakan JBI Quasi Eksperimen dengan peer
review.
Hasil : penelurusan literature didapatkan bahwa kecemasan pasien pre operasi
berada pada kecemasan sedang hingga berat. Latihan relaksasi napas dalam dapat
menurunkan tingkat kecemasan yang dialami pasien sebelum menjalani operasi.
Simpulan : Teknik relaksasi membuat pasien dapat mengontrol diri ketika terjadi
rasa tidak nyaman atau nyeri, stress fisik dan emosi pada nyeri. Sehingga
pemberian relaksasi napas dalam terhadap pasien pre operasi berpengaruh secara
signifikan terhadap penurunan tingkat kecemasan.
Saran : Diharapkan kepada tenaga kesehatan khususnya penata anestesi dapat
menerapkan terapi relaksasi napas dalam untuk mengurangi derajat kecemasan
pada pasien pre operasi di IBS.
Kata kunci : Pasien Pre Operasi, Terapi Relaksasi Pernafasan Dalam, Tingkat
Kecemasa
Pengaruh pemberian terapi musik klasik untuk menurunkan kecemasan pasien pre operasi di IBS literature review
Latar Belakang: Kecemasan didefinisikan sebagai respon emosional yang
ditandai oleh perasaan waswas, takut, dan khawatir yang timbul ketika individu
merasa terancam. Dimana tindakan operasi menjadi salah satu dari ancaman
tersebut. Perasaan cemas akan terus meningkat 30-150 menit sebelum operasi
berlangsung yang dapat mempengaruhi sistem hemodinamik dan sangat berisiko
untuk dilakukan operasi sehingga meningkatkan penggunaan obat anestesi yang
berdampak pada waktu pulih sadar pasien dan peningkatan risiko infeksi.
Dibutuhkannya penatalakasaan kecemasan pre operasi yang dapat dilakukan
dengan terapi farmakologi dan nonfarmakologi. Musik klasik sebagai salah satu
terapi nonfarmakologi yang memiliki dampak positif dalam memberikan
ketenangan dan rileksasi melalui respon sistem saraf pusat.
Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi
musik klasik untuk menurunkan kecemasan pasien pre operasi di IBS.
Metode: Metode penelitian menggunakan database Mendeley, Science Direct, dan
PubMed sejak tahun 2017-2021, berbahasa Indonesia dan Inggris. Literature yang
telah sesuai dengan topik penelitian selanjutnya dilakukan uji kelayakan
menggunakan JBI quasy experiment dan Randomized Controlled Trial (RCT)
oleh dua reviewer.
Hasil: Hasil analisa literature didapatkan bahwa pemberian terapi musik klasik
dapat merangsang otak dalam memproduksi hormon endorfin dan serotonin yang
dapat memberikan sensasi ketenangan sehingga mengurangi kecemasan pada
pasien yang akan dilakukan prosedur operasi.
Simpulan: Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh terapi musik
klasik untuk menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi di IBS.
Saran: Diharapkan kepada penata anestesi untuk dapat menerapkan hasil
penelitian ini di lahan klinis
Hubungan peran teman sebaya dengan bullying pada remaja di SMP Negeri 3 Gamping Sleman Yogyakarta
Latar Belakang: Bullying merupakan suatu tindakan atau perilaku menyakiti baik
dalam bentuk fisik, verbal, psikologis maupun bullying di media sosial yang
dilakukan oleh seseorang maupun sekelompok orang yang merasa lebih kuat
kepada korban yang lebih lemah secara fisik, mental, dan psikologis dengan
tujuan melukai perasaan/membuat tertekan yang bisa dilakukan secara berkalikali. Faktor terjadinya bullying diantaranya adalah peran teman sebaya.
Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan peran teman sebaya dengan bullying
pada remaja kelas IX di SMP Negeri 3 Gamping Sleman Yogyakarta.
Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan
pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan
Proportionate Random Sampling dengan sampel 127 responden. Instrument
penelitian ini menggunakan kuesioner. Hasil penelitian dianalisis menggunakan
uji Kendall Tau.
Hasil Penelitian: Peran teman sebaya pada siswa kelas IX di SMP Negeri 3
Gamping Sleman Yogyakarta di dominasi oleh kategori cukup (52%). Bullying
pada pada siswa kelas IX di SMP Negeri 3 Gamping Sleman Yogyakarta di
dominasi oleh kategori rendah (98,4%). Dan dari hasil uji Kendall Tau diperoleh
p=0,188 dengan koefisien korelasi sebesar -0,117.
Simpulan dan saran: Tidak terdapat hubungan antara peran teman sebaya
dengan Bullying pada remaja kelas IX di SMP Negeri 3 Gamping Sleman
Yogyakarta dengan keeratan hubungan di kategorikan sangat lemah
Efektivitas edukasi berbasis homecare terhadap self-efficacy caregiver dalam melakukan perawatan luka sederhana ulkus diabetik di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Diabetes Melitus (DM) telah menjadi masalah kesehatan secara global. DM
dapat menimbulkan berbagai komplikasi kronik salah satunya ulkus diabetik. Peran
caregiver sangat penting dalam proses optimalisasi penyembuhan ulkus diabetik.
Hambatan internal seperti self-efficacy dan motivasi mempengaruhi caregiver dalam
perawatan ulkus diabetik. Untuk mengetahui efektivitas edukasi berbasis homecare
terhadap self-efficacy caregiver dalam melakukan perawatan luka sederhana ulkus
diabetik. Penelitian ini menggunakan penelitian quasy experiment design dengan
rancangan penelitian one group pre-test – post-test. 16 caregiver terlibat dalam
penelitian ini dengan pendekatan accidental sampling dari bulan Januari-Juli 2022.
Modifikasi kuisioner Foot Care Confidence Scale (FCCS) digunakan untuk mengukur
self-efficacy caregiver. Hasil analisis dengan paired t-test mendapatkan nilai p=0,000
yang menunjukkan bahwa adanya pengaruh signifikan dari edukasi berbasis homecare
terhadap self-efficacy caregiver dalam melakukan perawatan ulkus diabetik di RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta. Edukasi berbasis homecare meningkatkan self-efficacy
caregiver dalam melakukan perawatan ulkus diabetik. Edukasi berbasis homecare
menjadi alternative metode edukasi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan selfefficacy caregiver sebagai intervensi keperawatan untuk meningkatkan peran keluarga