DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
Pengaruh manual traksi terhadap penurunan nyeri pada penderita osteoarthritis : narrative review
Latar Belakang: Osteoarthritis merupakan suatu kelainan pada sendi yang
bersifat kronik dan progresif biasanya ditandai dengan adanya kerusakan pada
kartilago yang terletak di persendian tulang. Kerusakan kartilago ini bisa
disebabkan oleh stress mekanik atau perubahan biokimia pada tubuh. Terjadinya
Osteoarthritis dipengaruhi oleh berbagai faktor resiko seperti umur (proses
penuaan), genetic, kegemukan, cedera sendi, penyaki Banyak studi penelitian
yang berukalitas tinggi diperlukan dalam temuan ini, sehingga perlu dilakukan
pengkajian tentang pengaruh manual traksi terhadap penurunan nyeri pada
penderita Osteoarthritis.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Manual
Traksi terhadap penederita Osteoarthritis. Metode: Metode penelitian yang
digunakan yaitu narrative review dengan framework PICO (Population,
Intervention, Comparison, Otcome). Mengindentifikasi artikel menggunakan
database yang relevan (GoogleScholar dan PEDro) serta menetapkan PRISMA
flowchart yang disesuaikan dengan kriteria inklusi dan ekslusi dan selanjutkan
penilaian menggunakan critical appraisal dan menyusun ulasan narasi. Hasil
Peneilitian: Hasil review yang ditemukan didalam 10 jurnal didapatkan adanya
pengaruh Manual Traksi dalam mengatasi nyeri yang diukur dengan VAS (Visual
analogue Scale), dan meningkatkan ROM Sendi Lutut. Selain itu, peran
Fisioterapis sangat penting dalam proses rehabilitasi. Kesimpulan: Ada pengaruh
Manual Traksi serta peranan fisioterapis dalam mengatasi nyeri, meningkatkan
ROM dan aktifitas fungsional pada pasien Osteoarthritis. Saran: Hasil penelitian
ini diharapkan bisa dijadikan bahan lanjutan penelitian dan menambah
pengetahuan bagi Profesi Fisioterapis
Pengaruh ankle pumping exercise terhadap penurunan oedem ibu hamil trimester III di PMB Klinik Annisa
Latar Belakang: Problematika yang terjadi pada ibi hamil diantaranya oedem atau
bengkak yang terjadi di tungkai kaki. Oedem ini sendiri terjadi karena adanya
penekanan pada vena cava inferior olehh janin yang semakin bertumbuh. Kondisi
oedem ini sendiri menimbulkan rasa ketidaknyamanan pada ibu hamil dan rasa cemas
dikarenakan terjadinya perubahan pada fisik yang signifikan. Salah satu intervensi
yang dapat mengurangi oedem adalah ankle pumping exercise yang mana intervensi
untuk menghilangkan atau meminimalkan oedem pada tungkai kaki selama kehamilan.
Data ibu hamil PMB Klinik Annisa pada bulan Mei-Juni tahun2022 terdapat 59 ibu
hamil trimester III. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh ankle pumping exercise pada
ibu hamil trimester III yang mengalami oedem. Penelitian: Jenis penelitian pre
eksperiment pre and posttest one group, 20 ibu hamil menjadi responden dengan total
sampling yang memenuhi kriteria inklusi. Responden diberikan intervensi ankle
pumping exercise 6 kali sesi selama 3 minggu. Penelitian menggunakan alat ukur
midline yang terkaliberasi test. uji hipotesis menggunakan uji paired sample t test.
Hasil: Hasil uji paired sample t test p=0.000 (p<0,05) menunjukkan ada perbedaan
yang signifikan sebelum dan sesudah intervensi. Kesimpulan: ada pengaruh ankle
pumping exercise terhadap penurunan oedem pada tungkai kaki ibu hamil trimester III.
Saran: penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian ankle
pumping exercise dibandingkan dengan intervensi lain yang dapat membantu
menghilangkan atau meminimal oedem pada ibu hamil trimester III
Hubungan agility dengan resiko cedera pada pemain sepakbola
Latar Belakang: Agility atau kelincahan sangat dibutuhkan dalam permainan
sepakbola. Adanya komponen fisik yang salah satunya adalah agility merupakan
kemampuan yang dimiliki oleh pemain sepakbola dalam mengubah arah secara
cepat dan tepat tanpa kehilangan keseimbangan, adanya tingkat agility yang baik
pada pemain sepakbola dapat menghindari serangan dari lawan main sehingga
kontak fisik dengan lawan main dapat terhindar. Sedangkan bagi pemain yang
memiliki agility yang buruk sulit untuk melakukan gerakan secara cepat dan tepat
sehingga dapat meningkatkan resiko cidera pada saat dilapangan. Angka kejadian
cidera dalam permainan sepakbola di Yogyakarta sebanyak 37,1% untuk cidera
ankle, cidera lutut sebanyak 6,5%, dan cidera pada betis sebanyak 1,6%. Tujuan:
Untuk mengetahui hubungan agility dengan resiko cidera pada pemain sepakbola.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan
pendekatan cross sectional. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah
hexagonal test untuk mengukur agility dan fungsional movement screening (FMS)
digunakan untuk mengukur resiko cidera pada pemain sepakbola. Responden
dalam penelitian sebanyak 42 orang pemain sepakbola, analisis data
menggunakan uji korelasi Kendall tau. Hasil: Uji dengan Kendal tau
diperoleh nilai p = 0,000 (p < 0,05) artinya ada hubungan antara agility dengan
resiko cidera pada pemain sepakbola. Kesimpulan: Ada hubungan agility dengan
resiko cidera pada pemain sepakbola. Saran: Untuk peneliti selanjutnya
melakukan studi terhadap faktor resiko lain yang menyebabkan cidera pada
pemain sepakbola baik internal maupun eksternal atau faktor kondisi fisik yang
lain seperti endurance, speed, power, strength
Hubungan usia dengan kejadian shivering pada pasien pasca spinal anestesi di Recovery Room Rsud Dr. Soedirman Kebumen
Latar belakang: Anestesi spinal adalah pilihan yang dapat dilakukan untuk
tindakan pembedahan, karena memiliki kontrol nyeri yang lebih baik, anestesi
spinal juga dapat menghasilkan masa pemulihan post operasi yang lebih cepat,
meminimalkan penggunaan jumlah obat-obatan anestesi, dan mengurangi
penggunaan ruang perawatan intensif, namun teknik anestesi spinal memiliki efek
samping yang umum terjadi pada pasien operasi yaitu terjadinya menggigil
(shivering). Shivering atau kejadian menggigil adalah salah satu bentuk respon
dalam thermogenesis, yang ditandai dengan adanya peningkatan aktifitas muskular
yang sering terjadi setelah tindakan anestesi, khususnya anestesi spinal pada pasien
yang menjalani operasi. Shivering atau kejadian menggigil adalah salah satu bentuk
respon dalam thermogenesis, yang ditandai dengan adanya peningkatan aktifitas
muskular yang sering terjadi setelah tindakan anestesi, khususnya anestesi spinal
pada pasien yang menjalani operasi.
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia dengan kejadian
shivering pada pasien pasca spinal anestesi.
Metode penelitian: penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain
penelitian cross sectional survey. Teknik pengambilan sampel menggunakan
accidental sampling yang berjumlah 44 responden dengan kriteria inklusi dan
eksklusi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji korelasi spearman rank.
Hasil: dari 44 sampel yang diperoleh, 7 responden (15,9%) tidak mengalami
shivering, 16 responden (36,4%) mengalami shivering ringan, 14 responden
(31,8%) mengalami shivering sedang, dan 7 responden (15,9%) mengalami
shivering berat. Hasil uji korelasi spearman untuk mengetahui hubungan antara usia
dengan kejadian shivering pasca spinal anestesi diperoleh hasil dengan significancy
p value 0,000 lebih kecil dari 0,05 (p = 0,000 < 0,05), artinya terdapat hubungan
yang signifikan (mean) antara variable bebas dengan variable terikat.
Simpulan: H0 ditolak Ha diterima yang berarti ada hubungan yang signifikan
antara usia dengan kejadian shivering pasca spinal anestesi di rumah sakit dr.
Soedirman Kebumen.
Saran: Pasien yang mengalami kejadian shivering bisa diberikan selimut hangat
atau cairan hangat sebagai tatalaksana shivering
Perilaku Deteksi Dini Kanker Serviks Pada Wanita Usia Subur Dengan Metode IVA: Literature Riview
Kanker serviks adalah keganasan yang terjadi di dalam leher Rahim/serviks dikarenakan
adanya tumor ganas/karsinoma. Umumnya penyebab kanker serviks ini adalah human
papilloma virus atau HPV. Salah satu problem kanker serviks yang sering terjadi saat ini adalah
sepertiga dari kasus kanker serviks datang ke tempat pelayanan kesehatan sudah pada stadium
lanjut, dimana kanker sudah menyebar ke organ–organ lain disekitar tubuh. Menurut data
Kemenkes RI pada tahun 2018 tentang data rekapitulasi deteksi dini kanker serviks dengan
IVA Test dari jumlah sasaran 37.415.483 hingga tahun 2017 jumlah pemeriksaan yaitu
3.040.116 dan cakupan pemeriksaan yaitu 2,978% (Andarwati, Indriani, and Sulistyaningsih
2020). Kurangnya informasi kesadaran wanita Indonesia untuk melakukan pemeriksaan IVA
tes secara teratur masih rendah. Di Indonesia, cakupan deteksi dini terhadap kejadian kanker
masih berada pada posisi kurang dari 5% sehingga banyak ditemukan kasus kanker leher rahim
yang sudah memasuki stadium lanjut. (Rahma and Prabandari 2012). Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui perilaku deteksi dini kanker serviks pada wanita usia subur dengan
metrode IVA berdasarkan penelusuran literature.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif
dengan metode Cross Sectional dan literature riview atau studi pustaka. Bahan analisa terdiri
dari 3 jurnal dalam Bahasa Indonesia yang dapat diakses full-text. Penelitian menggunakan 3
jurnal nasional yang menjelaskan tentang perilaku deteksi dini kanker serviks pada wanita usia
subur dengan metode IV
Pengaruh Aktivitas Fisik Terhadap Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Mellitus Tipe-2 : Literature Review
Latar Belakang: Pasien DM Tipe II di Indonesia mengalami peningkatan jumlah
penderita sebanyak 2% setiap tahunnya. Salah satu faktor penyebab penyakit DM
Tipe II adalah kurangnya aktivitas fisik.
Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aktivitas
fisik terhadap kadar gula darah pada pasien DM Tipe II.
Metode: Penelusuran literatur dilakukan melalui Google Schoolar dan PubMed.
Keywords yang digunakan dalam bahasa Inggris adalah exercise dan diabetic
mellitus sedangkan dalam bahasa Indonesia adalah aktivitas fisik dan kadar gula
darah .Penelusuran dilakukan sampai Juni 2021. Hasil penelusuran didapatkan 5
artikel yang sesuai dengan topik yang direview.
Hasil: berdasarkan hasil artikel yang penulis analisa didapatkan bahwa adanya
pengaruh atara kurangnya beraktivitas fisik dengan naiknya kadar gula darah pada
pasien diabetes meliitus tipe 2.
Simpulan dan Saran: Penderita diabetic millitus tipe 2 yang melakukan aktivitas
fisik seperti berjalan kaki, naik sepeda, melakukan pekerjaan sehari-hari dalam
kategori berat, sedang, maupun ringan memilik dampak terhadap kadar gula darah.
Pengaruh latihan fisik setiap individu terhadap pneurunan glukosa darah,
tergantung pada intensitas, durasi, jenis, dan frekuensi latiha