DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
Hubungan antara kecerdasan emosi dengan kematangan karir pada mahasiswa
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara kecerdasan emosi dan
kematangan karir pada mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah survei
menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada mahasiswa dari berbagai program studi di
Universitas „Aisyiah Yogyakarta. Sampel penelitian terdiri dari 124 responden mahasiswa yang
berasal dari berbagai program studi di Universitas „Aisyiah Yogyakarta. Kuesioner tersebut
mengukur tingkat kecerdasan emosi dan kematangan karir mahasiswa. Hasil analisis data
menunjukkan adanya hubungan positif antara kecerdasan emosi dan kematangan karir pada
mahasiswa. Lebih lanjut, dari hasil penelitian ditemukan bahwa nilai p<0,000 , menunjukkan
peningkatan kematangan karir seiring dengan peningkatan tingkat kecerdasan emosi. Implikasi
temuan ini menyoroti pentingknya pengembangan kecerdasan emosi sebagai faktor penunjang
kematangan karir di kalangan mahasiswa. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam
memperkaya pemahaman tentang faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan karir
mahasiswa
Perbedaan pengaruh pemberian abdominal drawing in dan myofascial release terhadap fleksibilitas trunk pada low back pain myogenic
Latar Belakang : Indonesia merupakan salah satu negara dengan masyarakat dengan
mayoritas berkerja sebagai buruh tani yang dimana buruh tani sering mengalami
permasalahan muskulo skeletal, salah satunya gangguan pada masalah pinggang
bawah atau low back pain. Hal ini sebagai pelopor menurunnya fleksibilitas trunk
pada buruh tani yang secara tidak langsung menurunkan kualitas aktivitas sehari-hari.
Dari hasil survei work relate disease menunjukan bahwa 60 % pekerja di sektor
pertanian mengalami keluhan low back pain myogenic yang 90% disebebkan oleh
kesalahan posisi tubuh dalam bekerja atau kecelakaan kerja. Untuk meningkatkan
fleksibilitas trunk pada buruh tani, maka intervensi yang diberikan adalah abdominal
drawing in dan myofascial release. Tujuan : Untuk mengetahui perbedaan pengaruh
pemberian abdominal drawing in dan myofascial release terhadapat fleksibilitas trunk
pada low back pain myogenic. Metode Penelitian : Penelitian ini adalah quasi
experimental dan rancangan penelitian ini menggunakan pre test dan post test.
Sebanyak 20 responden ditentukan dengan menggunakan teknik random sampling.
Intervensi dilakukan 4 minggu atau 12 kali pertemuan dengan frekuensi pemberian
intervensi yaitu 3 kali dalam seminggu. Alat ukur yang digunakan adalah trunk and
neck flexibility test untuk mengukur fleksibilitas trunk. Uji normalitas menggunakan
Saphiro Wilk Test. Uji hipotesis I menggunakan uji Paired sample t-test, uji hipotesis
II menggunakan uji Paired sample t-test, dan uji hipotesis III menggunakan uji
independent sampel T test. Uji Hasil : Hasil uji hipotesis I menggunakan Paired
sample t-test diperoleh nilai p=0,001 (p<0,05), hasil uji hipotesis II menggunakan
Paired sample t-test diperoleh nilai p=0,001(p<0,05), dan hasil uji hipotesis III
menggunakan uji independent sampel T test diperoleh nilai p=0,262 (p<0,05).
Kesimpulan : Tidak ada perbedaan pengaruh pemberian abdominal drawing in dan
myofascial release terhadap fleksibilitas trunk pada low back pain myogenic. Saran :
Saran untuk penelitian selanjutnya agar mampu mengontrol aktivitas harian responden
diluar jadwal perlakuan
Sinergitas Pemenuhan Kebutuhan Informasi melalui Program Paperbuk di Perpustakaan Unisa Yogyakarta
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT STRESS PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II: LITERATUR REVIEW
Latar Belakang : Diabetes Mellitus merupakan penyakit metabolisme dengan suatu
kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar
glukosa darah diatas nilai normal. Salah satu penyebab diabetes mellitus adalah
stress. Stress bagi penderita diabetes mellitus adalah sesuatu yang sangat merugikan
karena akan meningkatkan kadar gula darah. Stress dapat mempengaharuhi
psikologis seseorang, adapun salah satu manajemen perawatan pasien diabetes
mellitus adalah dengan adanya dukungan keluarga yang dapat membantu individu
untuk beradaptasi dengan segala situasi dan peristiwa yang tidak diinginkan.
Tujuan : Untuk mengetahui Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Stress
pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe II.
Metode : Metode penelitian ini adalah literature review. Rentang waktu penerbitan
jurnal dari tahun 2016-2023. Penyusunan menggunakan kerangka kerja alat pencari
menggunakan PICOST.
Hasil : Hasil uji penilaian artikel menggunakan critical appraisal JBI Analythical.
Hasil tersebut mendapatkan 5 jurnal dengan adanya hubungan dukungan keluarga
dengan tingkat stress pada pasien diabetes mellitus tipe II .
Simpulan dan Saran : Adanya hubungan dukungan keluarga dengan tingkat stress
pada pasien diabetes mellitus tipe II. Disarankan bagi penderita diabetes mellitus tipe
II dapat mencari tentang tanda dan gejala stress sehingga dapat segera mencari
bantuan atau dukungan dari keluarga
PENENTUAN UNIT COST PADA LAYANAN HEMODIALISA DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH GAMPING
Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui unit cost pada layanan hemodialisa di
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping menggunakan metode ABC (Activity
Based Costing), 2) menentukan perbandingan antara tarif yang ditetapkan rumah sakit
dengan unit cost metode ABC, 3) menentukan perbandingan antara tarif INA-CBG’s
dengan unit cost metode ABC. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian
kualitatif yang bersifat deskriptif analitis. Sumber data yang digunakan adalah data
primer dan sekunder.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) unit cost tindakan hemodialisa metode ABC
pada RS PKU Muhammadiyah Gamping yaitu sebesar Rp. 1.091.641. 2) Hasil dari
perbandingan tarif rumah sakit dengan unit cost metode ABC, terdapat seliih sebesar
Rp. 51.641. Hal ini menunjukkan bahwa tarif hemodialisa RS PKU Muhammadiyah
Gamping mengalami undercosting. Kondisi ini mengakibatkan adanya kerugian yang
ditanggung oleh rumah sakit untuk setiap layanan hemodialisa yaitu sebesar Rp
51.641. 3) Hasil perbandingan antara tarif INA-CBG’s dengan unit cost metode ABC
(Activity Based Costing) menunjukkan selisih sebesar Rp 150.041. Hal ini
menunjukkan bahwa rumah sakit mengalami undercosting. Kondisi ini
mengakibatkan adanya kerugian yang lebih besar yang harus ditanggung oleh rumah
sakit yaitu sebesar Rp 150.041
Efektivitas high intensity interval training terhadap peningkatan plasma soluble alpha klotho dan fungsi kognitif pada lansia di Puskesmas Sandenju
Latar belakang : Lansia merupakan kelompok manusia yang telah masuk ke tahap
akhir dari fase kehidupan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya
penyakit pada lansia, salah satunya pada saat lanjut usia akan menurunnya kadar SKlotho
pada
tubuh
lansia, dan apabila terjadi penurunan S-Klotho pada tubuh dapat
mempengaruhi penurunan fungsi Kognitif pada lansia. Ada beberapa cara yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan S-klotho pada tubuh yaitu dengan High Intensity
Interval Training. Tujuan: Untuk mengetahui Efektivitas High Intensity Interval
Training terhadap peningkatan Plasma Soluble Alpha Klohto dan Fungsi kognitif pada
lansia di Puskesmas Sanden. Metode: Penelitian ini menggunakan metode
eksperimental dengan rancangan pre test and post test one group dengan teknik
purposive sampling. Sampel berjumlah 19 responden. Responden diberikan latihan
selama 3 minggu dengan 3 kali pertemuan dalam satu minggu. Uji statistik
menggunakan Wilcoxon Signed Ranks, Instrumen penelitian menggunakan kuesioner
Six Item Cognitive Impairment Test (6CIT), dan pengukuran Kadar Plasma S-Klotho
menggunakan Enzyme linked Immunosorbent Assay (ELISA) dengan jenis ELISA
Sandwich .
Hasil: Hasil penelitian menggunakan Wilcoxon Signed Ranks pada responden di
dapatkan nilai hipotesis I Asymp. Sig. (2-tailed) yaitu 0,011 dan Hipotesis II Asymp.
Sig. (2-tailed) yaitu 0,007 nilai Asymp Sig <0,05 dimana yang berarti ada pengaruh
pemberian High Intensity Interval Training terhadap peningkatan Level Plasma
Soluble Alpha Klotho dan fungsi kognitif pada lansia di puskesmas sanden.
Kesimpulan: Ada Efektivitas High Intensity Interval Training (HIIT) terhadap
peningkatan Plasma Soluble Alpha Klohto (S-Klotho) dan Fungsi kognitif pada lansia
di Puskesmas Sanden. Saran: Peneliti selanjutnya dapat melakukan pemilihan
sampel yang representatif dengan desain penelitian yang lebih rinci dan kontrol yang
lebih baik serta memonitoring aktivitas sampel
Evaluasi Kepuasan Pengguna Perpustakaan Digital dengan menggunakan EUCS: Studi Kasus Perpustakaan Digital Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
Pengaruh Terapi Relaksasi Otot Progresif Terhadap Stres Remaja Hafidz Qur’an Pondok Pesantren Tahfidz Riyadhul Quran Yogyakarta
Latar Belakang: Stres merupakan suatu keadaan dimana seseorang
mengalami ketegangan karena adanya kondisi lingkungan yang
mempengaruhinya. Tidak terkecuali para Santri yang tinggal di Pondok
Pesantren, karena lingkungan yang memiliki peraturan ketat santri merupakan
individu yang potensial mengalami stres, stres dapat diturunkan melalui
pemberian terapi relaksasi otot progrsif.
Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian terapi relaksasi otot progresif
dalam menurunkan stres pada Remaja Hafidz Qur’an.
Metode Penelitian: Penelitian pre-eksperimen One Group Pretest-Posttest
Desig. Populasi Remaja Hafidz Qur’an. Sampel sebanyak 31 orang teknik
pengambilan sampel adalah non-probability sampling. Instrumen DASS 42
berjumlah 14 aitem, menggunakan uji non parametrik yaitu uji wilcoxon.
Hasil : Sebelum diberikan intervensi stres sedang 26 orang (83,9%), stres
berat 5 orang (16,1%) setelah diberikan intervensi stres berat tidak ada, ringan
26 orang (83,9%), stres sedang 4 orang (12,9%), stres normal 1 orang (3,2%).
Dan dilakukan Uji wilcoxon didapatkan hasil Sig (2-tailed) 0.000<0,05.
Kesimpulan: Terapi relaksasi otot progresif berpengaruh signifikan dalam
menurunkan tingkat stres Remaja Hafidz Qur’an .
Saran: diperlukan penelitian lebih lanjut menggunakan metode true
eksperimen, agar memberikan kontrol, pengawasan dan screening yang lebih
ketat sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang baru
Studi kasus pemantauan kesehatan pada pekerja radiasi di Instalasi Radiologi RSUD Muntilan
Pemeriksaan kesehatan pada pekerja radiasi Menurut Perka BAPETEN No. 6 Tahun 2010 dilakukan saat sebelum bekerja, selama bekerja dan saat akan memutuskan hubungan kerja, yang wajib dilakukan paling sedikit satu kali setahun. Instalasi Radiologi RSUD Muntilan sudah terdapat pemantauan kesehatan pada pekerja radiasi, akan tetapi tidak dilakukan pemeriksaan kesehatan pada pekerja radiasi saat akan memutuskan hubungan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan pemantauan kesehatan pada pekerja radiasi dan untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan pemantauan kesehatan pada pekerja radiasi di Instalasi Radiologi RSUD Muntilan dengan standar Perka BAPETEN tahun 2010.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini dilakukan mulai dari bulan Desember 2022 hingga September 2023 di Instalasi radiologi RSUD Muntilan. Pengumpulan data dilalukan dengan cara observasi, dokumentasi dan wawancara kepada Petugas Proteksi Radiasi dan kepala instalasi radiologi RSUD Muntilan. Setelah data diperoleh, selanjutnya dilakukan analisis data sehingga dapat ditarik kesimpulan dan saran.
Dari hasil penelitian, pelaksanaan pemantauan kesehatan bagi pekerja radiasi di Instalasi Radiologi RSUD Muntilan dilaksanakan satu kali pertahun. Pemantauan kesehatan yang dilaksanakan yaitu pemeriksaan kesehatan saat sebelum bekerja dan selama bekerja, sedangkan pemeriksaan kesehatan saat akan memutuskan hubungan kerja tidak dilaksanakan. Kegiatan konseling hanya dilaksanakan konsultasi saja antar pekerja radiasi dengan Petugas Proteksi Radiasi. Untuk pemeriksaan kesehatan khusus dan penatalaksanaan kesehatan bagi pekerja radiasi yang mendapat paparan radiasi berlebih belum pernah dilaksanakan. Sebaiknya pemantauan kesehatan dilakukan pemeriksaan kesehatan pada saat sebelum memutuskan hubungan kerja, melakukan konseling dengan psikolog serta dibuatkan SOP untuk pemantauan kesehatannya
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Stres Akademik Pada Mahasiswa Keperawatan Tingkat Akhir di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
Latar Belakang : Stres dapat terjadi pada siapapun, termasuk diantaranya pada mahasiswa.
Stres akademik merupakan perasaan tertekan yang dialami mahasiswa baik secara fisik
maupun emosional, akibat tuntutan akademik untuk mendapatkan hasil belajar yang baik.
Penyebab stres akademik muncul karena memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan
tugas-tugas akademik yang semakin banyak.
Tujuan Penelitian : Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi stres akademik
mahasiswa keperawatan tingkat akhir di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta meliputi faktor
kondisi fisik, konflik, perilaku, dan lingkungan.
Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain
penelitian deskriptif korelasional. Subjek dari penelitian ini adalah mahasiswa
keperawatan tingkat akhir di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta berjumlah 87 responden.
Alat dan metode pengumpulan data menggunakan kuesioner Depression Anxiety and
Stress (DASS) dan kuesioner faktor-faktor yang mempengaruhi stres akademik. Analisis
data menggunakan uji chi square dengan bantuan software statistik komputer.
Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres akademik yang dialami
mahasiswa keperawatan tingkat akhir, normal (28,7%) stres ringan (17,2%), stres sedang
(31%), stres berat (17,2%), dan stres sangat berat (5,7%). Faktor yang berpengaruh secara
signifikan terhadap stres akademik yaitu Faktor Perilaku (p=0,00 < 0,05), Faktor konflik
(p=0,000 < 0,05), Faktor kondisi fisik (p=0,026 < 0,05), dan Faktor lingkungan (p=0,048
< 0,05).
Simpulan dan Saran : Terdapat hubungan antara hubungan faktor perilaku, konflik,
kondisi fisik, dan lingkungan terhadap stres akademik mahasiswa. Diharapkan bagi
mahasiswa tingkat akhir untuk lebih tenang dan santai dalam menyusun skripsi,
menghindari rasa gelisah, mengontrol emosi menjadi lebih tenang agar tidak mengalami
stres akademik, menghindari terjadinya konflik dengan dosen atau teman, menjaga
kondisi fisik agar tidak mengalami stres akademik, dan diharapkan juga bagi mahasiswa
tingkat akhir untuk selalu berada pada lingkungan yang baik yaitu yang lingkungan yang
tenang agar ketika berpikir dapat lebih tenang dan fokus