DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
Perilaku caring perawat anestesi terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi: literature review
Latar Belakang: Kecemasan pre operasi merupakan sebuah hal umum yang
sering terjadi pada pasien pre operasi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
pengalaman operasi, jenis operasi, status ekonomi menjadi faktor terjadi nya
kecemasan. Jika tidak ditangani segera kecemasan pre operasi dapat
mempengaruhi berjalan nya operasi bahkan pembatalan operasi. Salah satu cara
untuk mengatasi kecemasan pasien pre operasi dengan dilakukan caring oleh
perawat anestesi. Caring merupakan hal yang mendasari nilai- nilai kemanusiaan
yang bersifat universal seperti kebaikan, rasa peduli pada orang lain sehimgga
dapat menurunkan kecemasan.
Tujuan: Mengetahui perilaku caring perawat anestesi terhadap kecemasan pasien
pre operasi.
Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah literatur review tentang perilaku
caring tehadap tingkat kecemasan pasien pre operasi. Penelurusan literature
dilakukan melalui google schoolar dan neliti. Keyword yang digunakan dalam
bahasa Inggris adalah pre operative, caring behavior, anxiety reduction.Dalam
bahasa Indonesia adalah pasien pre operasi, perilaku caring, tingkat kecemasan.
Penelurusan dilakukan dari tahun 2012 Sampai 2022. Hasil penelurusan dari
google schoolar dan neliti didapatkan 4 jurnal yang telah diskrinning sesuai
dengan kriteria inklusi yang diterima dan dianalisis.
Hasil: Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku
caring terhadap tingkat kecemasan pasien terbukti ada penurunan tingkat
kecemasan.
Saran: Diharapkan bagi perawat anestesi untuk meningkatkan interaksi yang baik
dengan pasien. Untuk peneliti selanjutnya dapat melanjutkan penelitian terkait
perilaku caring terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi
Pengaruh game terhadap tingkat kecemasan remaja sebelum tindakan operasi di rsud dr soedirman kebumen jawa tengah
Latar belakang: Pembedahan atau operasi merupakan cara yang dilakukan dengan
membuat sayatan pada bagian tubuh manusia, Tindakan pembedahan ini dilakukan bila ada
bagian tubuh manusia mengalami gangguan pada bagian dalam tubuh, secara umum
anestesi terbagi menjadi dua jenis yaitu general anestesi dan regional anestesi. Seseorang
yang akan dilakukan tindakan pembedahan sering kali merasakan kecemasan, Distraksi
merupakan metode menghilangkan kecemasan dengan mengalihkan perhatian pada hal lain
sehingga pasien dapat melupakan kekhawatiran yang dialaminya, salah satu faktor untuk
menurunkan kecemasan adalah dengan bermain game.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh game terhadap tingkat
kecemasan remaja sebelum operasi.
Metode penelitian: Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimental menggunakan desain
penelitian pre test and post test one group design, dengan mengukur satu kelompok yaitu
kelompok eksperimen, dimana kelompok eksperimen diberikan perlakukan bermain game.
Tehknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yang berjumlah 26
responden dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisa data di lakukan menggunakan uji
paired sampel t-test.
Hasil penelitian: dari 26 responden yang diperoleh, berdasarkan Jenis Kelamin, Laki-laki
memilliki jumlah lebih dominan yaitu sebanyak 15 responden (57,7%). Karakteristik
responden berdasarkan usia, sebagian besar responden termasuk dalam usia 21tahun
sebanyak 6 responden (23,1%). Berdasarkan jenis operasi, general anestesi lebih dominan
sebanyak 15 responden (57,7%). berdasarkan kecemasan pre test, sebagian besar
responden dalam kategori kecemasan sedang sebanyak 16 responden (61,5%). Berdasarkan
kecemasan post test, sebagian besar responden dalam kategori kecemasan ringan sebanyak
19 responden (73,1%). Hasil uji korelasi paired t test untuk mengetahui adanya pengaruh
game terhadap tingkat kecemasan remaja sebelum operasi pada kelompok eksperiment
didapatkan hasil 0,000 (p< 0,05), maka artinya terdapat pengaruh yang signifikan (berarti)
antara variabel independen dan variabel dependen.
Simpulan: ada pengaruh yang signifikan antara bermain game terhadap tingkat kecemasan
remaja sebelum operasi
Pengetahuan dan perilaku merokok remaja Di Indonesia
Data WHO menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara ketiga dengan
jumlah perokok terbesar di dunia setelah Cina dan India. Peningkatan konsumsi
rokok berdampak pada makin tingginya beban penyakit akibat rokok dan
bertambahnya angka kematian akibat rokok. Survei Global Youth Tobacco Survey
(GYTS) di tahun 2014 menunjukkan bahwa sekitar 19,4% remaja pernah merokok
di usia 13-15 tahun. Prevalensi perokok aktif pada remaja laki laki adalah 35,3%
dan pada remaja perempuan 3,4%. Pengetahuan dan perilaku merokok pada remaja
telah beberapa kali diteliti sebelumnya, sehingga perlu dilakukan suatu literature
reivew untuk merangkum berbagai hasil penelitian tersebut. Mengetahui gambaran
tingkat pengetahuan dan perilaku tentang merokok pada remaja berdasarkan
literatur. Literature review pada 5 artikel penelitian yang diperoleh dari database
Pubmed, ClinicalKey, dan Google Scholar. Artikel yang digunakan dipublikasikan
pada tahun 2017-2021. Penentuan masalah menggunakan metode PICOST, proses
pencarian artikel penelitian menggunakan diagram PRISMA, dan penilaian
kelayakan artikel menggunakan The Joanna Briggs Institute (JBI) Critical
Appraisal. Berdasarkan 5 laporan penelitian yang dianalisis, didapatkan bahwa
tingkat pengetahuan dan perilaku merokok pada remaja di berbagai wilayah di
Indonesia memiliki gambaran yang sangat variatif. Beberapa daerah menunjukkan
tingkat pengetahuan dan perilaku merokok yang baik, sementara beberapa daerah
lainnya menunjukkan tingkat pengetahuan dan perilaku merokok yang buruk.
Tingkat pengetahuan dan perilaku merokok pada remaja di berbagai wilayah di
Indonesia memiliki pengetahuan baik sebanyak 192 responden (39,02%) dan hasil
pengetahuan yang buruk sebanyak 300 responden (60,98%)
Literature review: gambaran kadar hemoglobin dan ferritinserum pada anak thalassemiaβ mayor paska transfusi
Penyakit thalassemia β mayor merupakan penyakit yang umumnya ditandai
dengan penurunan globin seperti alfa thalassemia atau beta thalassemia. Cooley’s
anemia merupakan istilah penyakit thalassemia β mayor pertama yang dikenal
masyarakat di Negara AS dan Italia. Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa
ada sebanyak 60.000 bayi lahir penderita thalassemia β mayor. Penderita thalassemia β
mayor harus mempertahankan kadar hemoglobin >7 g/dL dengan cara melakukan
transfusi selama seumur hidup. Semakin bertambahnya usia penderita, semakin
meningkat juga frekuensi transfusi darah untuk menjaga kestabilan pertumbuhan. Jika
penderita tidak melakukan transfusi secara teratur dan melakukan pengobatan yang
tidak sesuai dengan aturan, hal tersebut dapat berdampak pada kadar hemoglobin dan
serum ferritin yang menurun. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hasil
penelusuran literatur terkait gambaran kadar haemoglobin dan serum ferritin pada anak
thalassemia beta mayor paska transfusi. Metode yang digunakan yaitu literature review
pada beberapa database seperti Google Scholar dan PubMed. Screening literatur
dilakukan berdasarkan kriteria inklusi penelitian dengan metode diagram PRISMA
(Preferred Reporting Items For Systematic Reviews and Meta Analyses). Sumber
literatur yang digunakan merupakan 10 artikel jurnal kemudian dianalisis secara
deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil olah data dari beberapa artikel jurnal
menunjukkan bahwa rerata kadar hemoglobin pada anak thalassemia beta mayor paska
transfusi yaitu 9,32 g/L. Kemudian, rerata kadar serum ferritin pada anak thalassemia
beta mayor paska transfusi yaitu 100 mcg/L. Kadar haemoglobin dan serum ferritin pada
anak thalassemia beta mayor paska transfusi yaitu masih dalam ambang batas normal
Prevalensi dan gambaran karakteristik ibu hamil dengan hbsag positif sebagai penanda infeksi hepatitis b di Puskesmas Kasihan ii tahun 2018-2021
Hepatitis merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia yang disebabkan oleh
infeksi virus. Indonesia menjadi negara terbesar kedua di Negara South East Asian
Ragion memiliki endemisitas tinggi Hepatitis B. Ibu hamil yang memiliki Hepatitis
B saat proses persalinan dapat menularkan infeksi virus terhadap bayi yang
dilahirkan, sehingga menyebabkan terjadinya berat badan lahir rendah.
Berdasarkan data Kabupaten Bantul tahun 2019 bayi yang memiliki berat badan
lahir rendah terdapat 5,7%, dan kasus tertinggi yaitu di wilayah kerja Puskesmas
Kasihan II. Untuk memperoleh informasi tentang prevalensi dan gambaran
karakteristik ibu hamil dengan HBsAg positif sebagai penanda infeksi Hepatitis B
di Puskesmas Kasihan II tahun 2018-2021. Penelitian ini memakai metode
deskriptif menggunakan data sekunder. Untuk menentukan prevalensi, sampel yang
digunakan adalah semua pasien ibu hamil yang melakukan pemeriksaan HBsAg di
Puskesmas Kasihan II tahun 2018-2021, dan karakteristik dilihat dari data rekam
medik ibu hamil yang memiliki HBsAg positif. Prevalensi ibu hamil dengan
HBsAg positif di Puskesmas Kasihan II sebesar 2%, ibu hamil terbanyak pada umur
20-34 tahun sebanyak 10 orang (76,9%), tingkat pendidikan sekolah menengah atas
sebanyak 9 orang (69,2%), ibu hamil yang tidak bekerja sebanyak 12 orang
(92,3%), trimester I sebanyak 10 orang (76,9%), jumlah kehamilan >1 sebanyak 10
orang (76,9%), berat badan pada ibu hamil umur 40-60 kg sebanyak 11 orang
(84,6%), hemoglobin >10 sebanyak 9 orang (69,2%), dan berat badan lahir rendah
sebanyak 10 orang (76,9%). Prevalensi Ibu hamil dengan HBsAg positif adalah 2%
dan diketahui bahwa karakteristik yaitu memiliki umur, pendidikan sekolah
menengah atas, tidak bekerja, usia kehamilan saat terdeteksi, jumlah kehamilan,
berat badan ibu hamil, hemoglobin, dan berat badan bayi lahir. Perlunya
peningkatan kewaspadaan petugas kesehatan untuk melakukan pemeriksaan
Literature review: analisis perbedaan kadar trigliserida perokok dan bukan perokok pada penderita diabetes melitus tipe 2
Kebiasaan buruk masyarakat yang sulit dihentikan dari kehidupan sehari-hari
salah satunya adalah merokok. Pada rokok terdapat nikotin yang dapat
meningkatkan lipolisis dan asam lemak yang tidak memiliki konsentrasi serta
mempengaruhi profil lemak darah seperti trigliserida. Kadar trigliserida dapat juga
dipengaruhi oleh berbagai macam faktor penyakit. Pada penderita diabetes melitus
tipe 2 trigliserida dibentuk dari kelebihan glukosa yang menyebabkan peningkatan
kadar trigliserida dalam darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
perbedaan kadar trigliserida perokok dan bukan perokok pada penderita diabetes
melitus tipe 2. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review berupa
penelitian deskriptif kualitatif. Penelusuran dilakukan dengan menggunakan kata
kunci berdasarkan PICO (diabetes; smoker; triglycerides) untuk digunakan pada
database PubMed dan Google Scholar menggunakan aplikasi Harzing Pop
dengan hasil 10 jurnal. Hasil penelitian literature review dari semua penelusuran
yang digunakan yaitu perbedaan kadar trigliserida perokok dan bukan perokok
pada penderita diabetes melitus tipe 2 didasarkan pada lama merokok dan
banyaknya jumlah batang rokok yang dikonsumsi. Hal tersebut mengakibatkan
tingginya kadar trigliserida yang dibuktikan dengan hasil uji Kolmogorov-smirnov
p value 0,004 (p <0,05). Antara perokok elektrik dengan perokok tembakau tidak
terdapat perbedaan signifikan berdasarkan uji Independent T-Test p value 0,146 (p
>0,05). Sedangkan pada penderita diabetes melitus terkontrol dan tidak terkontrol
dengan hasil uji statistik p value 0,793 (p >0,05) juga menunjukkan tidak adanya
perbedaan yang bermakna pada kadar trigliserida. Berdasarkan uji yang telah
dilakukan, terdapat perbedaan kadar trigliserida pada penderita diabetes melitus
tipe 2 yang dipengaruhi oleh faktor risiko seperti usia, jenis kelamin, konsumsi
rokok per hari, lama merokok, status gizi dan beberapa faktor lainnya. Kadar
trigliserida perokok pada penderita diabetes melitus tipe 2 lebih tinggi
dibandingkan yang bukan perokok pada penderita diabetes melitus tipe 2
dikarenakan profil lipid pada tubuh yang berubah akibat nikotin dalam rokok yang
meningkatkan kadar trigliserida
Literature review: deteksi dini penyakit tumor sel darah acute myeloid leukimia (AML) menggunakan pewarnaan giemsa, wright, dan kombinasi wright-giemsa
Leukimia merupakan kanker yang berasal dari sel-sel. Leukimia dapat
dibedakan menjadi akut dan kronis. Penyakit Acute Myeloid Leukimia atau AML
merupakan kanker darah yang dapat ditandai dengan transformasi ganas dan
gangguan diferensiasi sel progenitor dari seri meiloid. Penelitian ini bertujuan
menjelaskan hasil penelusuran literature terkait gejala dari penyakit AML lebih
awal menggunakan metode pewarnaan Giemsa, Wright, dan kombinasi WrightGiemsa.
Metode yang digunakan adalah metode literature review pada beberapa
data base antara lain Google Scholar, Pubmet.gov, dan ScienceDirect. Screening
literatur dilakukan dengan metode PRISMA (Preferred Reporting Items For
Systematic Reviews and Meta Analyses) pemilihan literatur berdasarkan kriteria
inklusi. Terdapat 10 jurnal yang digunakan sebagai sumber literature yang
dianalisis secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan
bahwa apusan darah tepi pasien penderita AML memiliki persentase sel blast
leukosit >20% yaitu berkisar antara 21-93,5% dengan sebagian kasus yang
menunjukkan adanya gambaran sel darah merah (eritrosit) normokromik
normositer dan berinti serta adanya giant trombosit. Hasil penelitian menunjukkan
apusan darah tepi dengan pewarnaan Giemsa menunjukkan inti sel berwarna biru
keunguan, granula berwarna merah muda. Pewarnaan Wright inti sel dan granula
tampak lebih jelas terlihat kemerahan dengan warna yang lebih jelas dibandingkan
dengan Giemsa. Pewarnaan kombinasi Wright-Giemsa terdapat kelebihan dari
setiap zat warna granula, plasma, dan inti lebih jelas terlihat. Perlu adanya
penelitian lanjutan mengenai perbandingan ketiga pewarnaan untuk menemukan
pewarnaan yang baik dalam sediaan apusan darah
Kualitas air sumur gali berdasarkan parameter bakteriologis di kabupaten bantul
Sumur gali adalah salah satu sumber air bersih yang paling umum di daerah
pedesaan karena mudah dibangun dan dirawat. Sumur gali menyediakan air yang
berasal dari lapisan tanah yang relatif dekat dari permukaan tanah. Oleh karena
itu, sumur gali sangat mudah terkontaminasi melalui rembesan. Pemeriksaan
kualitas air sumur gali dapat dilakukan dengan uji hitung jumlah bakteri dengan
metode Most Probable Number (MPN). Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis kualitas bakteriologis air sumur gali di Kabupaten Bantul. Metode
yang digunakan yaitu pengambilan data sekunder dari Laboratorium Kesehatan
Daerah Kabupaten Bantul dan Puskesmas Pandak I. Teknik Penelitian ini
menggunakan sampling purposive. Analisis data menggunakan deskriptif. Jumlah
tertinggi sumur gali yang tidak memenuhi syarat Permenkes RI No.
416/Menkes/per/IX/1990 yaitu Puskesmas Pandak I. Terdapat 133 sumur gali di
Puskesmas Pandak I kualitas air sumur galinya menunjukan bahwa 51 sumur gali
(38,34%) memenuhi syarat dengan total Coliform < 50/100mL dan 82 sumur gali
(61,66%) tidak memenuhi syarat dengan total Coliform ˃50/100 mL. Desa
Wijirejo dengan sumur gali yang memenuhi syarat 25 sumur gali (49,01%) dan
tidak memenuhi syarat 26 sumur gali (50,99%) dan desa Gilangharjo dengan
sumur gali yang memenuhi syarat 27 sumur gali (32,92%) dan tidak memenuhi
syarat 55 sumur gali (67,08%). Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul diharapkan
memberikan perhatian dan kerjasama dengan instansi terkait dalam upaya
perbaikan kondisi fisik sumur gali, sehingga dapat tersedianya kondisi fisik sumur
gali dengan kualitas dan kuantitas yang memenuhi syarat kesehatan
Literature review: analisis perbedaan kadar kolesterol perokok dan bukan perokok pada penderita diabetes melitus tipe 2
Kebiasaan merokok berpengaruh besar terhadap kesehatan salah satunya
meningkatkan kadar kolesterol di dalam tubuh. Peningkatan kolesterol dapat
berdampak pada kesehatan seperti menyebabkan penyakit jantung, strok, bahkan
batu empedu. Sebanyak 22% perokok aktif memiliki risiko lebih tinggi terserang
diabetes melitus dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Hal tersebut
dikarenakan rokok merupakan salah satu faktor risiko yang berpengaruh besar
dalam kontrol metabolik. Mengetahui perbedaan kadar kolesterol perokok dan
bukan perokok pada penderita diabetes melitus tipe 2. Jenis literature review
penelitian yang digunakan yaitu narrative review. Penelusuran jurnal penelitian
menggunakan dua database yaitu PubMed dan Google Scholar. Penelusuran pada
literatur review menggunakan pola PICO, yaitu Population/Patient/Problem
(diabetes melitus type 2), Intervention (smokers), Comparison (Non- Smoker),
Outcome (cholesterol level) yang digunakan sebagai kata kunci pencarian pada
penelusuran database. Terdapat 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan
ekslusi pada penelitian diketahui rata-rata kadar kolesterol perokok lebih tinggi
yaitu 23,1% dibanding bukan perokok sebesar 15,4%. Sebanyak 5 subyek
perokok menunjukkan kadar kolesterol normal dengan rerata (41,7%) sedangkan
pada 12 subyek (100%) bukan kolesterol rerata kadar kolesterol sebesar 165,7
mg/dL dengan nilai P=0,916. Kelompok perokok memiliki rerata kadar LDL
serum (181,48 ± 43,499 mg/dl) lebih tinggi dibandingkan kelompok bukan
perokok (162,11 ± 12,454 mg/dL) dengan nilai P=0,076. Rerata kadar kolesterol
HDL darah pada perokok sebesar 44,37 mg/dL sedangkan bukan perokok sebesar
49,13 mg/dL dengan nilai P=0,460. Kadar kolesterol perokok lebih tinggi
dibandingkan bukan perokok, namun tidak ada perbedaan kadar kolesterol pada
penderita diabetes melitus yang tidak merokok. Faktor risiko pada kasus kadar
kolesterol perokok dan bukan perokok pada penderita diabetes melitus yaitu usia,
makanan, dan aktivitas fisik. Saran peneliti selanjutnya dapat menyempurnakan
komponen yang kurang dalam penelitian ini dengan melakukan penelitian
lanjutan
Literature review : pengaruh ekstrak kulit salak (salacca zalacca (gaertner) voss) sebagai anti fungi terhadap pertumbuhan candida albicans
Candidiasis is one of the most common fungal infections in Indonesia caused by
the fungus Candida albicans. Fungal infections occur in 20-25% of the world's
population and become a common infection problem encountered every day.
Fungal treatment using antibiotics that are often used has unwanted side effects, so
it is necessary to look for alternative treatments using natural ingredients. One of
the plants that are efficacious as medicine is salak (Salacca zalacca (Gaertner)
Voss). This study aims to determine the effect of bark extract (Salacca zalacca
(Gaertner) Voss) as antifungal on the growth of Candida albicans. The method
used literature review; literature searches were carried out through three databases,
namely Google Scholar, PubMed and IOP with the PICO method. The journals used
in this study had provisions for the last ten years (2011-2021). The results of a
literature search were obtained by twelve journals showing that bark extract
(Salacca zalacca) was extracted by maceration, reflux and chemical filtration
methods with 70% and 96% ethanol solvents. Salak bark extract (Salacca zalacca)
contains phytochemical compounds flavonoids, tannins, saponins, alkaloids,
terpenoids and quinones that act as antifungal Candida albicans. Salak bark extract
(Salacca zalacca) can inhibit the growth of Candida albicans fungus at the highest
concentration of 15% which can inhibit 16,091 mm and is the maximum inhibitory
power, an increase in concentration of 20% reduces the inhibition to 14,579 mm in
the category of strong inhibition