DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
    6657 research outputs found

    Literature review: pengaruh pemberian suplemen vitamin c dan vitamin d terhadap interleukin 6 pada COVID-19

    Get PDF
    Corona virus disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit yang disebabkan virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) dan menjadi pandemi di awal tahun 2020. Kadar interleukin-6 (IL-6) merupakan penanda inflamasi yang akan meningkat pada kasus COVID-19. Penyakit ini dapat diterapi dengan pemberian vitamin C dan vitamin D yang berperan sebagai anti-oksidan dan anti-inflamasi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian suplemen vitamin C dan vitamin D terhadap kadar interleukin-6 pada COVID-19. Metode yang digunakan, yaitu ulasan pada dua database PubMed dan Google Scholar. Jurnal yang diulas memuat pengukuran dosis vitamin C dan vitamin D terhadap kadar IL-6 pada pasien COVID-19 dengan status keparahan tinggi. Hasil penelusuran literatur diperoleh 10 jurnal yang menunjukkan bahwa sesudah pemberian vitamin C dosis tinggi sebanyak 12 g terdapat penurunan persentase kadar IL-6 sebesar 95,3% dibanding sebelum pemberian, sedangkan vitamin D dosis tinggi sebesar 60.000 IU terdapat penurunan kadar IL-6 mencapai 3 pg/mL dari sebelumnya yakni 15 pg/mL. Variasi penambahan dosis tinggi menunjukkan kecenderungan kadar IL-6 yang semakin rendah di COVID-19. Beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas pemberian vitamin C dan D antara lain: usia, jenis kelamin, komorbid dan berat badan. Kesimpulan pada penelitian ini Pemberian vitamin C dan vitamin D dengan dosis tinggi berperan sebagai imunosupresor kadar IL-6 pada pasien COVID-19 dengan tingkat keparahan yang tinggi. Disarankan penelitian lebih lanjut perlu dilakukan terkait dosis dan waktu yang optimal dalam pemberian vitamin C dan vitamin D terhadap penurunan sitokin pro-inflamasi lainnya pada penyakit COVID-19

    Literature review: Pengaruh pemberian metanil yellow dosis bertingkat terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus

    Get PDF
    Metanil Yellow merupakan bahan pewarana sintetik berbentuk serbuk, berwarna kuning kecoklatan, bersifat larut air dan alkohol, agak larut dalam enzen dan eter, serta sedikit larut dalam aseton. Pewarna ini umumnya digunakan sebagai pewarna pada tekstil, kertas, tinta, plastik, kulit, dan cat, serta sebagai indikator asam-basa di laboratorium. Namun pada prakteknya, di Indonesia pewarna ini sering disalahgunakan untuk mewarnai berbagai jenis pangan antara lain kerupuk, mie, tahu, dan jajanan yang berwarna kuning, seperti gorengan. Berdasarkan struktur kimianya, metanil yellow dan beberapa pewarna sintetik dikategorikan dalam golongan azo. Namun, metanil yellow termasuk pewarna golongan azo yang telah dilarang digunakan pada pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Metanil Yellow dosis bertingkat terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus. Penelitian ini mengunakan metode telaah literature review yang dilakukan dari beberapa sumber data antara lain Google scholar dan Pubmed dengan menggunakan kata kunci pola PICO. Berdasarkan penelitian pada empat jurnal literature menunjukkan dosis metanil yellow atau pewarna makanan yang diperoleh yaitu 0,5 mg/mL, 1 mg/mL, 10 mg/mL, 3 gr/mL, 25 mg/Kg, 50 mg/kg, 75 mg/Kg 100 mg/kg, 200 mg/kg. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin besar pemberian pewarna makanan terutama metanil yellow atau pewarna lainnya semakin besar kemungkinan mengalami kerusakan jaringan hispatologi pada ginjal. Pengaruh pemberian metanil yellow dosis bertingkat terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus antara lain terjadinya inflamasi, degenerasi sel, nekrosis, serta berdampak pada penurunan albumin dalam ginjal

    Pengaruh Waktu Pewarnaan Giemsa Dengan Variasi Konsentrasi Pada Pemeriksaan Mikroskopis Malaria di Puskesmas Remu Kota Sorong

    Get PDF
    Pemeriksaan mikroskopis malaria dengan membuat sediaan darah tebal dan darah tipis dengan membandingkan gambaran mikroskopis plasmodium pada kedua sediaan tersebut kemudian dilakukan pewarnaan Giemsa dengan konsentrasi 3%, 5% dan 10% dengan waktu pengecatan masing-masing 45 menit, 30 menit dan 10 menit untuk mengetahui apakah pada waktu yang digunakan memberikan gambaran hasil mikroskopis yang baik atau tidak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya pengaruh waktu pewarnaan giemsa dengan variasi konsentrasi pada pemeriksaan mikroskopis malaria serta mengetahui adanya perbedaan gambaran Plasmodium pada kedua sediaan darah dan mengetahui faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan mikroskopis. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian eksperimen. Data pada penelitian ini diuji dengan uji statistik Friedman. Hasil penelitian berdasarkan waktu pewarnaan dan konsentrasi dengan uji Friedman memiliki nilai Sig. 0,015 ˂ 0,05 artinya terdapat pengaruh waktu pewarnaan Giemsa dengan variasi konsentrasi pada pemeriksaan mikroskopis malaria. Berdasarkan hasil pengamatan terdapat perbedaan pada kedua sediaan yaitu sitoplasma lebih tipis pada sediaan darah tipis dan parasit lebih terlihat jelas pada sediaan darah tebal dan dapat digunakan untuk melihat kepadatan parasit. Plasmodium falcifarum memiliki bentuk beraturan dan sitoplasma tipis. Plasmodium vivax memiliki bentuk tidak beraturan dan sitoplasma tebal Adapun faktor yang mempengaruhi hasil pengamatan yaitu pembuatan apusan dan kualitas Giemsa. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh waktu pewarnaan Giemsa dengan variasi konsentrasi. Saran dari penelitian ini dapat menggunakan pewarnaan Giemsa 3% selama 45 menit pada pemeriksaan mikroskopis malaria agar memberikan hasil gambaran yang baik dan dapat dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat gambaran Plasmodium dengan menggunakan metode pemeriksaan yang berbeda

    Literature review: Efektivitas ekstrak daun katuk hijau (sauropus androgynus l.) dalam menghambat pertumbuhan bakteri escherichia coli dan staphylococcus aureus secara in vitro

    Get PDF
    Penyakit diare merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia dengan angka kesakitan dan kematian yang masih tinggi. Diare salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus, masih menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat. World Health Organization (WHO) memperkirakan sekitar 80% penduduk di dunia masih bergantung pada pengobatan tradisional salah satunya adalah daun katuk (Sauropus androgynus L.) memiliki banyak manfaat dalam kehidupan. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun katuk dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Metode yang digunakan adalah literature review dengan menggunakan metode PICO melalui database Google Scholar, PubMed, dan Science Direct. Jurnal yang digunakan pada penelitian ini sepuluh tahun terakhir (2011-2022). Hasil menunjukkan bahwa diameter zona hambat, ekstrak daun katuk konsentrasi 100% dan 80% lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Daun katuk berpengaruh terhadap menghambat pertumbuhan bakteri dan mengandung senyawa alkaloid, saponin, flavonoid, dan tanin yang berfungsi sebagai antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus

    Pemeriksaan rheumatoid factor (RF) pada wanita menopause

    Get PDF
    Rheumatoid Arthritis (RA) merupakan penyakit sistem imun dan autoimun yang menyebabkan peradangan kronis pada sendi dan jaringan sinovial. Penderita RA memiliki autoantibodi yang dikenal dengan rheumatoid factor (RF). Hubungan antara RF pada wanita menopause yaitu terdapat autoantibodi rheumatoid factor di dalam serumnya. Penurunan hormon estrogen menyebabkan wanita menopause mengeluhkan nyeri otot dan sendi. Mengetahui pemeriksaan dan kadar rheumatoid factor (RF) pada wanita menopause. Penelitian ini menggunakan metode literature review, pencarian literature dilakukan pada dua database yaitu PubMed, dan Google Scholar. Pemeriksaan kadar RF (metode aglutinasi latex) prinsip HumaTex RF berdasarkan reaksi aglutinasi antara rheumatoid factor (RF) dari spesimen pasien atau serum kontrol dengan human imunoglobulin G (IgG) yang dilapisi dalam partikel latex polistiren. Reaksi positif ditandai dengan aglutinasi yang terbentuk. Hasil penelitian didapatkan kadar RF menunjukkan hasil non reaktif pada wanita menopause, dan tidak ada pengaruh hasil kadar RF pada wanita menopause. Beberapa wanita manapouse ditemukan mengalami gejala yang mengarah ke RA tetapi gejala tersebut terjadi karena adanya penyakit asam urat yang gejalanya hampir sama dengan rheumatoid arthritis. Wanita menopause kemungkinan menunjukkan perubahan respon imun karena ketersediaan hormon estrogen yang berkurang. Penurunan hormon estrogen pada saat menopause akan menganggu dalam penyerapan kalsium yang berfungsi sebagai pembentukan tulang dan mempertahankan massa tulang sehingga tulang akan menjadi mudah rapuh dan tipis. Kadar RF menunjukkan hasil non reaktif pada wanita menopause, dan tidak ada pengaruh hasil kadar RF pada wanita menopause yang ditinjau dari lamanya menopause. Pemeriksaan RF dengan aglutinasi latex dapat membantu diagnosa rheumatoid arthritis (RA) pada wanita menoapause, tetapi bukan pemeriksaan spesifik untuk penyakit rheumatoid arthritis (RA). Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut secara deskriptif analitik tentang kadar rheumatoid factor (RF) pada wanita menopause

    Efektivitas pertumbuhan koloni bakteri staphylococcus aureus pada pembuatan media agar darah menggunakan varian jenis darah: literature review

    Get PDF
    Sampel darah digunakan dalam proses pembuatan media agar darah yang berfungsi sebagai media tumbuh bakteri seperti Staphylococcus aureus. Media agar darah digunakan untuk mendeteksi dan membedakan kemampuan hemolisis bakteri. Perbedaan zona hemolisis bakteri dapat dapat dibedakan menjadi tiga jenis hemolisis yang dapat membantu membedakan jenis bakteri satu dengan bakteri lainnya. Tiga jenis hemolisis tersebut yaitu alfa hemolisis, beta hemolisis dan gamma hemolisis. Sampel darah yang menjadi gold standard pada pembuatan media agar darah adalah darah domba. Darah domba memiliki keterbatasan yaitu sulit untuk didapatkan karena perlunya perawatan khusus yang tidak cocok dengan iklim tropis, sehingga ada beberapa penelitian yang menggukan varian darah lain yang bisa digunakan sebagai alternatif. Varian darah yang digunakan pada penelitian ini adalah darah domba, manusia, kambing dan ikan. Metode penelitian berbasis literature review dengan membandingkan jurnal-jurnal mengenai varian darah yang digunakan dalam pembuatan media agar darah untuk pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Hasil yang didapatkan adalah secara mayoritas jurnal yang telah dikaji menumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan morfologi dan klasifikasi hemolisis yang sama seperti pada media darah domba. Terdapat sedikit perbedaan pada diameter zona hemolisis darah ikan tetapi tetap dapat digunakan sebagai alternatif penumbuhan bakteri Staphylococcus aureus karena memiliki klasifikasi hemolisis yang sama

    Hubungan leukositosis dan leukopenia dengan immunoglobulin macroglobulin (igm) dan immunoglobulin gama (igg) pada penyakit demam tifoid: literature review

    Get PDF
    Demam tifoid adalah penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri gram negatif Salmonella typhi maupun Salmonella paratyphi A, B, C. Transmisi terjadi melalui air yang tercemar Salmonella typhi pada daerah endemik, sedangkan pada daerah non endemik, makanan yang tercemar karier merupakan sumber utama. Respon imun yang khas dimulai dengan peningkatan antibodi IgM terhadap antigen yang menstimulasi (imunogen). Fase ini diikuti dengan produksi antibodi IgG terhadap antigen tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, penderita demam tifoid dapat ditemukan adanya leukopenia, leukositosis atau leukosit yang normal. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana hubungan leukositosis dan leukopenia dengan immunoglobulin macroglobulin (IgM) dan immunoglobulin gama (IgG) pada penyakit demam tifoid. Metode yang digunakan yaitu literature review yang dilakukan dengan mengumpulkan data pustaka berdasarkan kata kunci P (Patient), I (Intervention), C (Comparison) dan O (Outcome) yaitu Google Scholar, PubMed dan DOAJ. Berdasarkan hasil literature review dari 10 jurnal yang di uji statistik dengan uji Chi Square diperoleh nilai p�value >0,05 pada tiap jurnal. Simpulan: tidak berpengaruh signifikan secara statistik antara reaktifitas IgG dan IgM dengan leukositosis maupun leukopenia pada pasien demam tifoid yang artinya pada pasien demam tifoid tidak bisa menjadikan kondisi leukopenia dan leukositosis dari hasil hematologi sebagai acuan timbulnya demam tifoid setelah terdeksi reaktifitas IgM dan IgG

    Hubungan dukungan keluarga dengan perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi: literature review

    Get PDF
    Dukungan keluarga dapat memberikan dampak positif terhadap lansia dalam pengendalian hipertensi yang dialaminya. Penderita yang mendapatkan perhatian keluarga akan jauh lebih mudah melakukan perubahan perilaku kearah lebih sehat daripada penderita yang kurang mendapatkan perhatian dari keluarga.dari penelitian ini adalah untuk memperoleh pemahaman yang lebih tentang upaya pengendalian hipertensi untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan dan akibat hipertensi yaitu tentang hubungan dukungan keluarga dengan perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi.pencarian literature menggunakan data base Google Scholar, Pubmed Dengan kata kunci bahasa Indonesia adalah “dukungan keluarga, perilaku ,lansia, pengendalian hipertensi” sedangkan kata kunci bahasa Inggris adalah “Family support, and elderly behavior and hypertension control.” penelusuran yang dilakukan dari tahun 2018-2022.berdasarkan hasil penelurusan yang telah dilakukan didapatkan sebanyak 36 artikel, kemudian diskrining sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi, setelah itu dilakukan uji kelayakan menggunakan format JBI dan didapatkan lima artikel yang layak dan dapat digunakan. Berdasarkan hasil review dari kelima artikel terdapat hubungan dukungan keluarga dengan perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi.terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi. Didapatkan bahwa dukungan keluarga adalah salah satu factor penguat (reinforcing factor) yang sangat mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang.Rendahnya dukungan keluarga menyebabkan buruknya upaya pengendalian hipertensi pada lansia

    Literature review : pengaruh pemberian terapi vitamin C terhadap morfologi dan kualitas spermatoza hewan uji yang dipapar asap rokok

    Get PDF
    Merokok merupakan aktivitas yang berdampak buruk bagi tubuh termasuk organ reproduksi. Kebiasaan merokok dapat meningkatkan terjadinya stres oksidatif atau ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan di dalam tubuh sehingga memicu tingginya kadar ROS dalam tubuh, tingginya kadar ROS (Reactive Oxygen Species) tersebut dapat menyebabkan terganggunya proses pembentukan spermatozoa. Pemberian vitamin C di percaya dapat memperbaiki kualitas spermatozoa akibat dari radikal bebas yang berasal dari asap rokok. kandungan antioksidan yang tinggi dalam vitamin C mampu menekan stres oksidatif dan menurunkan kadar ROS. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya pengaruh pemberian vitamin C terhadap perbaikan morfologi dan kualitas spermatozoa pada hewan uji yang dipapar asap rokok. Pencarian literature dilakukan dengan tiga database yaitu Pubmed, Google Scholar, dan Science Direct. Jurnal yang membahas pengaruh dari pemberian vitamin C terhadap morfologi dan kualitas spermatozoa hewan uji yang dipapar asap rokok. Hasil penelusuran diperoleh 10 jurnal yang menunjukkan bahwa pada kelompok hewan uji yang diberikan vitamin C terjadi penurunan abnormalitas morfologi dan peningkatan kualitas spermatozoa, yang berarti bahwa kandungan antioksidan dalam vitamin C berpengaruh dalam memelihara struktur, perkembangan dan fungsi sel-sel spermatozoa. Pemberian vitamin C dapat memperbaiki morfologi serta meningkatkan kualitas spermatozoa pada hewan uji yang dipapar asap rokok. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut degan menggunakan sumber vitamin C yang lebih spesifik dan dengan menggunakan dosis yang lebih bervariasi

    Pengaruh elevasi kaki terhadap kestabilan tekanan darah pada pasien sectio caesarea dengan spinal anestesi literature review

    Get PDF
    Latar Belakang : Hipotensi merupakan suatu kondisi dimana terjadi penurunan pada tekanan darah arteri yang mencapai >20% dibawah nilai absolut atau dasar dari tekanan darah sistolik dibawah 90% atau nilai MAP (Mean Arterial Pressure) yang berada dibawah 60 mmHg. Salah satu dari komplikasi akut yang paling sering terjadi pada pasien dengan spinal anestesi adalah hipotensi. Hipotensi menjadi salah satu efek yang ditimbulkan karena spinal anestesi yang dilakukan pada wanita hamil memiliki angka kejadian hipotensi sekitar 80%. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menangani terjadinya hipotensi pada pasien sectio caesarea dengan spinal anestesi yakni salah satunya adalah elevasi kaki. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh elevasi kaki terhadap kestabilan tekanan darah pada pasien sectio caesarea dengan spinal anestesi berdasarkan penelusuran literatur. Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan metode literature review dan melakukan pencarian literatur menggunakan metode PICOST menggunakan 2 database yakni Pubmed dan Google Scholar. Jurnal yang digunakan pada penelitian ini yakni jurnal dengan rentang waktu sepuluh tahun terakhir (2012-2021). Hasil : Elevasi kaki pada pasien sectio caesarea dengan spinal anestesi menunjukkan bahwa tindakan elevasi kaki yang dilakukan setelah dilakukan spinal anestesi dapat mengurangi kejadian hipotensi. Elevasi kaki memiliki efek pada hemodinamik yang dapat memberi kestabilan tekanan darah pada pasien sectio caesarea dengan spinal anestesi. Kesimpulan : Elevasi kaki mempunyai keefektifan dalam mengatasi ketidakstabilan tekanan darah setelah spinal anestesi dan elevasi kaki efektif dapat membantu dalam mengatasi hipotensi atau penurunan tekanan darah pada elevasi kaki 400 atau 450. Elevasi kaki kurang efektif dalam mengatasi hipotensi atau penurunan tekanan darah jika elevasi kaki hanya 300 walaupun dapat meningkatkan tekanan darah namun tidak banyak karena tidak cukup dalam mendorong darah yang terkumpul pada perifer sirkulasi sentral atau ekstremitas bawah. Saran : Elevasi kaki dapat digunakan sebagai salah satu tindakan untuk menjaga kestabilan tekanan darah pada pasien sectio caesarea dengan spinal anestesi

    6,596

    full texts

    6,657

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇