DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
Perbedaan Efektvitas Pemberian Strengthening Ball Roll dan Heel Raises Exercise terhadap Peningkatan Keseimbangan Statis pada Anak Flat Foot di SDN Sidoharjo
Latar Belakang : Flat foot merupakan kondisi yang ditandai dengan keadaan telapak
kaki yang datar atau rata. Keseimbangan statis merupakan sistem gerak yang berfungsi
untuk mengontrol dan mempertahakan posisi tubuh pada saat diam. Keseimbangan statis
dapat mengalami gangguan yang salah satu penyebabnya adalah flat foot. Latihan yang
dapat diberikan untuk meningkatkan keseimbangan statis antara lain strengthening ball
roll exercise dengan menggulirkan kaki pada bola, dan strengthening heel raises
exercise dengan latihan posisi kaki jinjit. Tujuan : Untuk mengetahui perbedaan
efektivitas pemberian strengthening ball roll dan heel raises exercise terhadap
peningkatan keseimbangan statis pada anak flat foot. Metode Penelitian : Penelitian ini
merupakan penelitian quasi eksperimental design dengan rancangan pre and post test
two group design. Sample pada penelitian ini siswa yang berusia 7 – 12 tahun yang
mengalami flat foot serta gangguan keseimbangan. Subyek penelitian ini berjumlah 36
orang, yang terbagi menjadi 2 kelompok, kelompok perlakuan I diberikan intervensi ball
roll exercise dan kelompok perlakuan II diberikan intervensi heel raises exercise. Kedua
kelompok mendapatkan intervensi selama 12 kali pertemuan selama 4 minggu dengan
frekuensi 3 kali dalam seminggu. Alat ukur keseimbangan yang digunakan adalah stork
stand test. Hasil : Hasil uji kelompok I dan kelompok II menggunakan uji wilcoxon test
dan diperoleh nilai p=0.000 yang berarti terbukti efektif terhadap peningkatan
keseimbangan statis. Hasil uji beda III menggunakan mann-whitney test dan diperoleh
nilai p=0.001 yang berarti ada perbedaan efektivitas pemberian ball roll exercise dengan
heel raises exercise terhadap peningkatan keseimbangan statis pada anak flat foot di
SDN Sidoharjo, Samigaluh. Keseimpulan : Ada perbedaan efektivitas dalam pemberian
ball roll exercise dan heel raises exerccise terhadap peningkatan keseimbangan statis
pada anak flat foot di SDN Sidoharjo, Samigaluh. Saran : Bagi fisioterapis dapat
menggunakan latihan strengthening heel raises exercise ini untuk meningkatkan
keseimbangan statis pada anak dengan kondisi flat foot
Hubungan tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada pasien pre operasi dengan general anestesi di IBS RS PKU Muhammadiyah Gamping
Latar Belakang: Masalah kecemasan merupakan reaksi emosional yang sering muncul pada pasien pre operasi. Kecemasan dianggap sebagai respon antisipasi pasien pre operasi terhadap suatu pengalaman yang dianggap sebagai suatu ancaman. Akibat dari kecemasan pasien pre operasi yang sangat hebat maka ada kemungkinan operasi tidak bisa dilaksanakan, karena pada pasien yang mengalami kecemasan sebelum operasi akan muncul kelainan seperti tekanan darah yang meningkat sehingga apabila tetap dilakukan operasi akan mengakibatkan kesulitan dalam menghentikan perdarahan.
Tujuan: Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Peningkatan Tekanan Darah pada Pasien Pre Operasi dengan General Anestesi di IBS RS PKU Muhammadiyah Gamping.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan design cross sectional dan Uji korelasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Spearman Rank (Rho).
Hasil: Terdapat hubungan antara tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada pasien pre operasi dengan general anestesi di IBS RS PKU Muhammadiyah Gamping dengan nilai signifikan 0.000 < 0.05.
Simpulan: Terdapat hubungan antara tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada pasien pre operasi dengan general anestesi di IBS RS PKU Muhammadiyah Gamping.
Saran: Penata anestesi selalu melakukan komunikasi efektik dengan pasien pre operasi yang berkaitan dengan kondisi pasien yang sedang dirasaka
Perbedaan pengaruh one legged stand exercise dan four square step exercise terhadap peningkatan keseimbangan dinamis pada lansia
Latar Belakang : Bertambahnya usia, lansia akan mengalami penurunan fisiologis
tubuh terutama yang berpengaruh pada pengontrol keseimbangan sehingga akan
berdampak pada gangguan keseimbangan. Gangguan keseimbangan dapat
menyebabkan resiko jatuh pada lansia. Keseimbangan dibagi menjadi dua macam
yaitu keseimbangan dinamis dan statis. Keseimbangan dinamis merupakan
kemampuan untuk mempertahankan posisi tubuh saat bergerak. Untuk meningkatkan
keseimbangan dinamis dapat diberikan intervensi one legged stand exercise dan four
square step exercise. Tujuan : Untuk mengetahui apakah ada perbedaan pengaruh one
legged stand exercise dan four square step exercise terhadap peningkatan
keseimbangan dinamis pada lansia. Metode : Jenis penelitian ini adalah eksperimental
dengan pre test and post test two group design. Sampel dalam penelitian ini berjumlah
22 orang. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok dengan masing-masing berjumlah 11
orang kelompok one legged stand exercise dan 11 orang four square step exercise.
Hasil : Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh nilai p 0,470 (p>0,05).
Kesimpulan : Tidak ada perbedaan pengaruh one legged stand exercise dan four
square step exercise terhadap peningkatan keseimbangan dinamis pada lansia. Saran
: Untuk peneliti selanjutnya dapat mengontrol aktivitas sehari-hari responden sebelum
dan sesudah latihan
Hubungan Pemberian Asi Eksklusif dengan Kejadian Gizi Kurang Pada Anak Usia 7-60 Bulan di Desa Getas Playen Gunungkidul Yogyakarta
Latar belakang : Gizi kurang merupakan kondisi yang menandakan pertumbuhan
anak. Gizi kurang dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti terhambatnya
pertumbuhan, malas beraktivitas, imunitas terganggu sehingga mudah terserang
penyakit infeksi, mengalami perubahan perilaku seperti tidak senang atau mudah
menangis. Gizi kurang memiliki keterkaitan terhadap pendapatan keluarga, kebiasaan
makan, pendidikan serta pemberian ASI eksklusif.
Tujuan : Untuk mengetahui hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian gizi
kurang pada anak usia 7–60 bulan di Desa Getas Playen Gunungkidul Yogyakarta.
Metode penelitian : Desain studi kuantitatif korelasional dengan rancangan cross
sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling
berjumlah 86 responden, instrumen lembar checklist pemberian ASI dan pengukuran
berat badan. Analisis data univariat dan bivariat menggunakan uji chi square.
Hasil penelitian : Hasil uji chi square menunjukkan pemberian ASI Eksklusif
sebanyak (82,6%) dengan gizi kurang (BB/U) sebanyak (9,3%) didapatkan nilai p
value = 1,000 menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pemberian ASI
eksklusif dengan kejadian gizi kurang pada anak usia 7-60 bulan.
Simpulan dan Saran: Tidak terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif
dengan kejadian gizi kurang pada anak usia 7-60 bulan di Desa Getas Playen
Gunungkidul Yogyakarta dan diharapkan peneliti selanjutnya dapat meneliti faktor
lain misalnya kebiasaan makan dan jumlah anggota keluarga
Hubungan Lingkungan Fisik Dengan Kejadian Insomnia Pada Lansia di Tarudan Bangunharjo Sewon Bantul
Latar Belakang: Lansia merupakan tahap akhir dari perkembangan manusia.
Struktur penduduk dunia, termasuk Indonesia saat ini sedang mengalami proses
penuaan yang ditandai dengan peningkatan jumlah dan proporsi penduduk usia
lanjut. Di Indonesia lansia berjumlah 9,77% dari total penduduk pada tahun 2010
dan akan mencapai 11,34% atau 28,8 juta jiwa pada tahun 2020 dimana sekitar
60% lansia di Indonesia dilaporkan menderita insomnia.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan lingkungan fisik dengan kejadian insomnia
pada lansia di Tarudan Bangunharjo Sewon Bantul Yogyakarta.
Metode penelitian: Desain penelitian corelation analitik dengan pendekatan cross
sectional. Subjek penelitian adalah lansia yang tinggal di Tarudan Bangunharjo
Sewon Bantul Yogyakarta dengan sampel 50 responden, Teknik pengambilan
sampel dengan total sampling. Pengambilan data mengenai lingkungan fisik
menggunakan kuesioner lingkungan fisik, sedangkan insomnia menggunakan
KSPBJ-Insomnia Rating Scale. Analisis data menggunakan Spearman Rank.
Hasil Penelitian: Menunjukkan bahwa sebagian besar lansia di Tarudan
Bangunharjo Sewon Bantul Yogyakarta mengalami lingkungan fisik kategori
cukup buruk sebanyak 22 orang (44%). Sedangkan insomnia pada lansia sebanyak
21 orang (42%) mengalami insomnia berat. Hasil analisis spearman rank
didapatkan nilai 0,000 <α (0,05) dengan koefisien korelasi sebesar 0,874
menunjukkan keeratan hubungan dalam rentang tinggi.
Simpulan dan Saran: Terdapat hubungan lingkungan fisik dengan kejadian
insomnia pada lansia di Tarudan Bangunharjo Sewon Bantul Yogyakarta oleh
sebab itu, disarankan kepada kader untuk mengidentifikasi bagi lansia yang
mengalami gangguan tidur
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Perawatan Stroke Terhadap Pengetahuan Caregiver di Wilayah Puskesmas Godean I
Pasien post stroke membutuhkan waktu lama untuk memulihkan serta memperoleh
fungsi penyesuaian diri. Caregiver penting bagi pasien stroke karena memberikan
perawatan lanjutan untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri, namun selalu tidak siap
menjalani perannya karena kurangnya informasi dan pengetahuan dalam merawat pasien
stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan
perawatan stroke terhadap pengetahuan caregiver di wilayah Puskesmas Godean I.
Penelitian kuantitatif dengan rancangan Pre-Eksperimental, desain penelitian One
Group Pretest-Posttest sampel sebanyak 21 responden. Teknik sampel yang digunakan
yaitu Total Sampling. Alat penelitian kuesioner, power point, Leafleat. Analisis data
menggunakan Uji Statistik Wilcoxon. Hasil Uji Statistik Wilcoxon nilai signifikasi
didapatkan sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti ada pengaruh pendidikan kesehatan
perawatan stroke terhadap pengetahuan caregiver. Simpulan penelitian didapatkan
bahwa sebelum dilakukan pendidikan kesehatan sebagian besar responden memiliki
pengetahuan kurang dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan seluruh responden
memiliki pengetahuan baik. Bagi caregiver untuk meningkatkan pengetahuan perawatan
stroke
Hubungan antara pernikahan usia muda dengan kejadian kanker serviks literatur review
Latar belakang: Kanker serviks menempati urutan kedua kanker terbanyak pada
perempuan setelah kanker payudara, baik di dunia maupun Indonesia. Kanker serviks
disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) yang biasa ditularkan melalui
hubungan seksual. Saat ini kanker leher rahim masih merupakan masalah kesehatan
perempuan yang perlu diperhatikan secara serius sehubungan dengan tingginya
prevalensi kanker rahim di Indonesia. Pernikahan dini merupakan salah satu faktor
yang diduga menjadi penyebab tingginya prevalensi terjadinya kanker serviks di
Indonesia.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pernikahan usia muda dengan kejadian
kanker serviks secara Literature review.
Metode: Penelitian ini menggunakan literature review dengan menggunakan
databased google scholar dan meggunakan uji kelayakan JBI Critical Appraisal Tools
Study Cross Sectional. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah wanita menikah di
usia muda.
Hasil: Dari 4 jurnal dalam penelitian ini mengatakan bahwa risiko kanker serviks
meningkat seiring dengan mudanya usia melakukan hubungan seksual pertama kali.
Hubungan seksual pada usia muda akan meningkatkan risiko untuk terkena kanker
serviks, selain karena masih berkembangnya sel-sel serviks kemudian dipacu
rangsangan dari sel mani yang berasal dari hubungan seksual
Kesimpulan: Aktivitas seksual dini dan paritas yang tinggi dapat meningkatkan risiko
seorang perempun terkena kanker serviks, semakin dini perempuan melakukan
hubungan seksual untuk yang pertama kalinya, maka semakin tinggi risiko terkena
kanker servik
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN KUALITAS TIDUR PADA PASIEN HIPERTENSI: LITERATURE REVIEW
Latar Belakang: Kecemasan merupakan unsur kejiwaan yang menggambarkan perasaan, keadaan emosional yang dimiliki oleh seseorang pada saat menghadapi kenyataan atau kejadian dalam hidupnya. Kecemasan yang dialami penderita hipertensi berdampak pada kualitas tidur yang dirasakannya. Kecemasan yang berlebihan akan membuat seseorang sulit untuk mulai tidur, sehingga dapat menyebabkan kualitas tidur yang buruk. Kualitas tidur adalah keadaan seseorang selama tertidur dalam keadaan tidak sering terbangun dan mudah untuk tertidur. Kualitas tidur yang buruk dapat berdampak pada kesehatan sesorang terutama bagi penderita hipertensi.
Tujuan: Untuk mengetahui kualitas tidur pasien hipertensi. Untuk mengetahui tingkat kecemasan pada pasien hipertensi. Untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur pada pasien hipertensi.
Metode: Penelitian literature review menggunakan instrumen JBI Critical Apraisal Checklist for Cross Sectional yang terdiri dari 8 pertanyaan. Database yang digunakan Google Scholar dan Portal Garuda dengan kriteria inklusi yang ditentukan. Jurnal yang didapatkan kemudian dilakukan uji kelayakan untuk selanjutnya dilakukan sintesis kualitatif.
Hasil: Hasil dari 10 jurnal menyatakan bahwa adanya hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur pada pasien hipertensi, yang berarti bahwa pasien dengan tingkat kecemasan ringan memiliki kualitas tidur yang lebih baik dibandingkan dengan pasien yang memiliki tingkat kecemasan berat.
Saran: Diharapkan tenaga kesehatan terutama perawat dapat membantu untuk meningkatkan kualitas tidur melalui penanganan kecemasan pada penderita hipertensi
Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan pasien dm tipe 2 dalam menjalankan terapi insulin: literatur review
Latar belakang: Diabetes mellitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang terjadi
ketika pankreas tidak dapat menghasilkan hormon insulin yang cukup atau ketika
tubuh tidak efektif menggunakan insulin yang dihasilkan. Penyakit ini juga menjadi
penyebab utama kebutaan, penyakit jantung, dan gagal ginjal. Komplikasi ini dapat
dicegah jika penderita mau melakukan tatalaksana terapi farmakologi yaitu terapi
insulin. Pasien di tuntut untuk patuh dalam pengobatan, ketidak patuhan pasien dapat
meningkatkan resiko komplikasi dan bertambah parahnya penyakit yang diderita.
Tujuan penelitian: Menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan
pasien dm tipe 2 dalam menjalankan terapi insulin melalui literaturreview.
Metode penelitian:Penelitian ini merupakan penelitian literatur review, dengan
analisis masalah menggunakan PICOST dan penilian kelayakan menggunakan JBI
Critical Appraisel,peneliti menggunakan dua database: Google Scholar dan Pubmed.
Penelitian ini menggunakan metode cross sectional
Hasil penelitian: dari 4 (empat) artikel yang dilakukan analisis menyebutkan adanya
hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan pasien dm tipe 2 dalam menjalankan
terapi insulin.
Simpulan dan saran: bahwa dukungan keluarga yang baik mampu meningkatkan
kepatuhan pasien dm tipe 2 dalam menjalankan terapi insulin.Saran yang dapat
diberikan oleh peneliti untuk penelitian melalui literature review adalah diharapkan
penelitian ini dapat berguna, bagi peneliti selanjutnya diharapkan bermanfaat dalam
panelitian literature review yang lain dan dapat menggali lebih banyak informasi
terkait materi yang diambil
Literature review: gambaran histopatologi hati tikus dengan pemberian ekstrak pegagan (centella asiatica)
Centella asiatica (CA) mengandung banyak bahan aktif yang memberikan banyak manfaat bagi tubuh salah satunya sebagai agen antiinflamasi. Ekstrak CA berguna sebagai hepatoprotektor. Keracunan obat dapat mengakibatkan kerusakan pada hati, karena hati berperan mendetoksifikasi racun di dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran histopatologi hati setelah diinduksi ekstrak CA dan manfaat CA sebagai antiinflamasi, juga variasi dosis serta lama waktu pemberian ekstrak CA terhadap gambaran histopatologi hati. Pencarian literature dilakukan pada tiga database yaitu PubMed, Google Cendekia, dan Google Scholar. Senyawa bioaktif dalam CA antara lain senyawa madekasosida (madecassoside) yang berperan memperbaiki kerusakan sel sehingga madekasosida diketahui sebagai senyawa antiinflamasi. Variasi dosis dan lama waktu pemberian CA memberikan efek yang berbeda. Penggunaan dosis tinggi dan dosis rendah tergolong aman dan efektif menyembuhkan kerusakan sel hati. Pengamatan mikroskopis terlihat jaringan hati tikus yang diinduksi obat dosis tinggi menunjukkan struktur histologi tidak normal, organ seluler yang terdistorsi disertai dengan vakuola, sel hipertrofik, kerusakan seluler, peradangan, pelebaran sinusoid interseluler, dan kemacetan di vena sentral. Sedangkan preparat jaringan hati tikus yang keracunan obat secara oral dan diberi perawatan dengan CA menunjukkan susunan hepatosit dan sinusoid yang mendekati normal, disertai dengan kongesti vena sentral (CV) ringan. Senyawa madekasosida sebagai agen antiinflamasi pada CA, perbedaan variasi dosis dan lama waktu dalam pemberian CA berpengaruh dalam proses perbaikan kerusakan sel dan memberikan efek yang berbeda, serta terdapat perbedaan struktur hati yang mengalami kerusakan setelah induksi obat dosis tinggi dan mengalami perbaikan setelah diinduksi CA. Perlu dilakukan penelitian dengan induksi obat yang sama untuk memicu kerusakan sel agar diketahui lebih lanjut efek toksisitas obat tersebut