DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
Pengaruh sustained natural apophysical glides terhadap kemampuan fungsional pada neck pain: Narrative Review
Latar Belakang : Neck Pain merupakan nyeri ujung saraf yang terletak di berbagai
Ligament dan otot leher, serta sendi Unco Vertebral dan lapisan luar Discus (Anulus
Fibrocus). Intervensi yang dapat diberikan yaitu dengan Sustained Natural Apophysical
Glides dengan dosis 3-4 minggu setiap hari 1 sesi. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh
pemberian Sustained Natural Apophysical Glides terhadap kamampuan fungsional pada neck
pain. Metode : Penelitian ini menggunakan metode narrative review artikel berasal dari 3
databse, yaitu Google Scholar, PubMed, dan Scincedirect. Hasil : Dari 10 artikel yang
membahas tentang pemberian Sustained Natural Apophysical Glides pada penderita neck
pain didapatkan adanya penurunan nyeri dan peningkatan kemampuan fungsional dengan
lama intervensi 3 kali per minggu selama 2 minggu yaitu (P<0,05). Kesimpulan : Intervensi
Sustained Natural Apophysical Glides memiliki pengaruh yang efektif dalam penurunan
nyeri dan peningkatan kemampuan fungsional pada penderita neck pain
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Sikap Sadari Pada Remaja: Literatur Review
Latar Belakang : Kanker Payudara merupakan keganasan sel pada jaringan payudara.
Sadari (Periksa Payudara Sendiri) merupakan upaya awal yang dapat dilakukan oleh
masyarakat secara teratur setiap satu bulan sekali. Kanker payudara dapat dicegah
bahkan diobati secara total jika diketahui sejak awal.
Tujuan : Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengkaji literature review dan
menyimpulkan literature terdahulu terkait dengan hubungan tingkat pengetahuan
dengan sikap SADARI pada remaja
Metode : Penelitian ini menggunakan penelusuran literature dilakukan melalui google
scholar,pubmed, dan portal garuda. Keywords yang digunakan dalam Bahasa Inggris
knowledge attitude SADARI teenager. Sedangkan Bahasa Indonesia Pengetahuan
Sikap SADARI Remaja. Analisis kelayakan menggunakan JBI Crossectional berupa
checklist for Crossectional
Hasil : Didapatkan 5 artikel berbahasa Indonesia, kelima artikel tersebut menunjukkan
ada hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap SADARI
Simpulan dan saran : 5 artikel menunjukkan bahwa ada hubungan tingkat
pengetahuan dengan sikap SADARI. Remaja membutuhkan pemeriksaan SADARI
setiap bulannya, maka dari itu untuk remaja dapat meningkatkan pengetahuan dan
sikap serta selalu mengoptimalkan pemeriksaan SADARI untuk pendekteksi sejak dini
kanker payudara
Studi kasus tata letak ruang pada pelayanan pasien di Instalasi Radiologi RSUD Prambanan
Ruangan pemeriksaan radiografi harus mempunyai ukuran ruangan yang cukup memadai sehingga meningkatkan kinerja radiografer serta dalam satu ruangan tidak boleh terdapat 2 (dua) atau lebih pesawat sinar-X yang dioperasikan secara bersamaan (BAPETEN, 2020). Akan tetapi di Instalasi Radiologi RSUD Prambanan terdapat masalah dalam penataan ruangan yaitu CT Scan dan Ultrasonografi (USG) yang terletak pada ruangan yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tata letak ruang dan mengetahui apakah tata letak ruang di Instalasi Radiologi RSUD Prambanan berpengaruh terhadap proses pelayanan pasien.
Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus di Instalasi Radiologi RSUD Prambanan. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Subyek dalam penelitian ini terdiri dari tiga radiografer dan satu petugas administrasi radiologi. dengan objek penelitian tata letak ruang di Instalasi Radiologi RSUD Prambanan. Analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Instalasi Radiologi RSUD Prambanan terletak di antara Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan ruang rawat jalan dan memiliki beberapa ruangan diantaranya ruang tunggu pasien, ruang administrasi, ruang dokter spesialis radiologi, ruang kepala ruangan, ruang pemeriksaan konvensional, ruang pemeriksaan panoramik, ruang operator, ruang radiografer, ruang CT Scan dan USG. Terdapat beberapa hambatan yang ditimbulkan pada proses pelayanan terhadap pasien diantaranya yaitu menghambat proses pemeriksaan dikarenakan pasien harus berjalan memutar dari ruang tunggu pasien dengan tempat pemeriksaan CT Scan dan USG. Selain itu terdapat ruangan pemeriksaan CT Scan dan USG berada dalam ruang yang sama sehingga sedikit mengganggu proses pelayanan terhadap pasien. Saran penulis agar mengkaji ulang tentang penataletakan ruangan sehingga dapat mengurangi atau meminimalisir hambatan terhadap proses pelayanan terhadap pasien
Studi kasus pengujian kelayakan lead apron di Instalasi Radiologi Soerojo Hospital Magelang
Lead apron adalah Alat Pelindung Diri (APD) yang melindungi pekerja radiasi dari bahaya efek radiasi pengion. Lead apron digunakan untuk melindungi bagian tubuh terutama pada bagian thorax, abdomen, dan daerah pelvis. Pada Soerojo Hospital Magelang dari 10 lead apron 7 diantaranya sudah dilakukan pengujian sedangkan 3 lead apron belum adanya pengujian sejak dilakukan pembelian pada tahun 2021, sehingga perlu dilakukan pengujian 3 dari 10 lead apron tersebut yaitu model vest dan skirt berwarna gold. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pengujian lead apron di Instalasi Radiologi Soerojo Hospital Magelang apakah masih layak digunakan atau tidak.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional dengan pendekatan studi kasus untuk mencari tahu kualitas lead apron yang ada di Instalasi Radiologi Soerojo Hospital Magelang yang dilakukan dengan cara pengujian pada lead apron sesuai dengan peraturan KEMENKES 2009. Waktu pengumpulan data mulai dari September 2022 hingga Mei 2023. Analisis data yang digunakan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, kemudian ditarik kesimpulan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengujian lead apron di Instalasi Radiologi Soerojo Hospital Magelang yang telah dilakukan didapatkan bahwa ketiga lead apron tersebut masih dalam keadaan baik dan masih layak untuk digunakan. Namun pada Instalasi Radiologi Soerojo Hospital Magelang masih perlu ditingkatkan untuk frekuensi pengujian pada setiap lead apron. Dimana rentang pengujian lead apron dilakukan minimal 12 bulan sekali
Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap kebiasaan olahraga dan nyeri haid pada remaja putri kelas xii di SMA N 1 Mlati
Nyeri haid atau dismenore merupakan nyeri di bagian perut bawah saat menstruasi.
Hal ini dapat disertai dengan mual, muntah, sakit kepala, stres, depresi, cemas
berlebihan, dan keadaan sedih yang berlebihan sehingga mengganggu aktivitas sehari
hari. Maka dari itu, banyak upaya dilakukan untuk mengurangi keluhan nyeri haid
yaitu dengan cara farmakologis dan non farmakologis. Secara non farmakologis salah
satunya dengan olahraga rutin seperti jogging, lari, bersepeda, berenang dan senam
sebanyak 3-5 kali dalam seminggu. Salah satu cara untuk meningkatkan kebiasaan
olahraga para remaja tersebut melalui pendidikan kesehatan. Tujuan penelitian untuk
mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap kebiasaan olahraga dan nyeri
haid pada remaja putri kelas XII di SMA N 1 Mlati. Desain penelitian yang digunakan
adalah pre-experimental designs dengan metode one group pretest-posttest. Populasi
penelitian ini adalah seluruh remaja putri kelas XII di SMA N 1 mlati yang mengalami
nyeri haid sebanyak 50 responden dengan teknik pengambilan sampel menggunakan
total sampling. Data terdiri dari data primer. Skala nyeri menggunakan lembar verbal
descriptor scale. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat.
Analisis bivariat menggunakan uji Wilcoxon signed ranks test. Hasil uji Wilcoxon
signed rank test pada kedua variabel menunjukkan bahwa Asymp. Sig. (2-tailed)
adalah 0,000, karena nilai sig. (2-tailed) 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa
ada pengaruh Pendidikan kesehatan terhadap kebiasaan olahraga dan nyeri haid pada
remaja putri kelas XII di SMA N 1 Mlati. Saran pada responden olahraga dapat
dijadikan alternatif intervensi yang dapat dilakukan untuk meredakan nyeri hai
Kelekatan pada santriwati di pondok pesantren
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang menyediakan pondok sebagai tempat tinggal dan tempat belajar santri. Di pondok pesantren santri mengalami transisi kehidupannya dari yang sebelumnya selalu bersama orang tua hingga harus berpisah dengan orang tua memasuki lingkungan baru tanpa bantuan orangtua, sehingga santri membutuhkan figure yang dapat mendukung perkembangan santri di pondok pesantren. Maka dari itu dilakukannya penelitian ini untuk mendeskripsikan kelekatan santri saat berada di pondok pesantren. Kelekatan adalah tingkah laku yang dimiliki manusia, seperti kecenderungan ingin mencari kedekatan dengan orang lain dan mencari kepuasan antara anak dan figure lekatnya, seperti orang tua, sahabat, pengasuh, guru, dan sebagainya.
Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomonologi. Teknik yang digunakan untuk pengumpulan data adalah purposive sampling yaitu mencari informan dan subjek yang sudah di tentukan oleh peneliti dengan karakteristik santriwati yang tidak berdomisili Yogyakarta, Santriwati yang baru memasuki pondok kurang dari 1 tahun, Santriwati yang memasuki remaja awal, dan memiliki orangtua lengkap. Menggunakan metode penelitian observasi dan wawancara.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelekatan santriwati di pondok pesantren terhadap 2 subjek ini adalah kelekatan aman. Karena kedua subjek memiliki kelekatan yang baik dengan orang tua saat di rumah, memiliki kelekatan yang baik dengan figure lekat penggantinya seperti musyrifah, teman sebaya dan kakak kelas, sehingga memunculkan rasa aman, personality yang baik mudah bergaul cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sehingga memudahkan santri mengikuti kegiatan di pondok pesantren
Perbedaan pengaruh strengthening exercise dan proprioceptive exercise terhadap peningkatan stabilitas functional pada ankle instability pemain futsal
Latar Belakang : Stabilitas ankle suatu keadaan dimana ankle dalam keadaan stabil,
komponen dari sebuah kestabilan sendi ankle merupakan hasil dari saraf ,otot , dan
mechanical mechanism . Jika salah satu faktor ini tidak terpenuhi, maka ankle dapat
menjadi tidak stabil, atau yang dikenal sebagai ketidakstabilan pergelangan kaki (ankle
instability). Ankle instability dapat mempengaruhi penurunan stabilitas pada fungsi
pergelangan kaki (functional ankle).Tujuan : Mengetahui perbedaan pengaruh
strengthening exercise dan proprioceptive exercise terhadap peningkatan stabilitas
functional pada ankle instability pemain futsal. Metode : Eksperimental dengan
rancangan pre and post test two group design, Teknik pengambilan sampel
menggunakan purposive sampling,sampel berjumlah 20 orang yang dibagi menjadi 2
kelompok secara acak (random sampel) dengan program latihan 3x seminggu selama
6 minggu. Kelompok I diberikan intervensi strengthening exercise dan kelompok II
diberikan intervensi proprioceptive exercise. Alat ukur pada penelitian ini adalah
Balance error scoring system (BESS) Hasil : Hasil analisis data dengan paired sample
t-test pada kelompok I dan II menunjukan nilai p=0,000 (p<0,05). Hal ini menunjukan
adanya pengaruh pada setiap kelompok dan terjadi peningkatan stabilitas functional
pada ankle instability. Hasil analisis data dengan independent sample t-test
menunjukan nilai p=0,000 (p<0,05) berarti ada perbedaan pengaruh strengthening
exercise dan proprioceptive exercise terhadap peningkatan stabilitas functional pada
ankle instability pemain futsal. Kesimpulan : Ada perbedaan pengaruh strengthening
exercise dan proprioceptive exercise terhadap peningkatan stabilitas functional pada
ankle instability pemain futsal. Saran : Untuk peneliti selanjutnya , lebih mengontrol
aktivitas fisik diluar program peneliti yang dapat mempengaruhi peningkatan
stabilitas functional pada ankle instabilit
Hubungan pengetahuan dengan perilaku pelaksanaan mobilisasi dini pada pasien post operasi di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Latar Belakang: Pada masa pasca pembedahan sering ditemui berbagai tanda dan
gejala yang berhubungan dengan komplikasi pembedahan. Oleh karena itu proses
pemulihan pasca operasi sangat penting bagi pasien yaitu dengan mobilisasi dini.
Mobilisasi dini adalah pergerakan yang dilakukan sedini mungkin di tempat tidur
dengan melatih bagian tubuh untuk melakukan peregangan sampai belajar berjalan.
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pelaksanaan mobilisasi dini adalah
pengetahuan.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan
perilaku pelaksanaan mobilisasi dini pada pasien post operasi.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan
jenis penelitian descriptive correlation dengan desain cross sectional. Teknik
sampel menggunakan purposive sampling yang berjumlah 40 responden dengan
kriteria inklusi dan eksklusi. Analisa data di lakukan menggunakan uji korelasi
spearman.
Hasil: Hasil uji korelasi spearman untuk mengetahui adanya hubungan antara
pengetahuan dengan perilaku pelaksanaan mobilisasi dini didapatkan hasil 0,000 (p
< 0,05). Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 23
responden (57,5%), dan mayoritas responden melakukan mobilisasi dengan baik
sebanyak 26 responden (65,0%).
Simpulan: Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku
pelaksanaan mobilisasi dini pada pasien post operasi di RS PKU Muhammadiyah
Yogyakarta.
Saran: Diperlukan penelitian lebih lanjut penelitian tentang mobilisasi dini seperti
menghubungkan faktor-faktor lainnya yang dapat mempengaruhi pelaksanaan
mobilisasi dini
Literature review: sensitivitas dan spesifisitas uji tubex tf dan uji widal dalam diagnosis pada pasien demam tifoid
Demam tifoid (Typhoid fever) biasa disebut tifus merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri yaitu Salmonella typhi yang menyerang bagian saluran pencernaan. Diagnosis penyakit demam tifoid sangat sulit dikarenakan tidak adanya gejala-gejala atau tanda yang spesifik, sehingga memerlukan diagnosis pemeriksaan laboratorium. Uji serologi digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid dengan mendeteksi antibodi yang spesifik, penegakan pemeriksaan demam tifoid seperti pemeriksaan Widal dan Tubex. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan sensitivitas dan spesifisitas metode Tubex TF dan metode Widal pada pemeriksaan bakteri Salmonella typhi pada penyakit demam tifoid. Menggunakan metode literature review, pencarian literature pada penelitian ini dilakukan pada tiga database yaitu Google Scholar, Google Cendekia, dan PubMed. Uji sensitivitas mengggunakan analisis Independent T Ujit didapatkan hasil perbedaan mean hasil analisis sensitivitas antara Tubex TF dan uji Widal sebesar 12.99 artinya rata-rata nilai sensitivitas Tubex TF lebih tinggi daripada rata-rata nilai sensitivitas uji Widal. Hasil uji analisis Independent T Ujit menunjukkan tidak terdapat perbedaan sensitivitas yang signifikan antara Tubex TF dengan Uji Widal karena didapatkan nilai signifikansi 0.200 > 0,05. Hasil uji spesifisitas dengan uji Mann whitney didapatkan hasil perbedaan mean hasil analisis spesifisitas antara Tubex TF dan uji Widal sebesar 2.72 artinya rata-rata nilai spesifisitas Tubex TF lebih tinggi daripada rata-rata nilai spesifisitas uji Widal dan tidak terdapat perbedaan spesifisitas yang signifikan antara Tubex TF dengan Uji Widal karena didapatkan nilai signifikansi 0.940 > 0,05. Tidak terdapat perbedaan sensitivitas dan spesifisitas yang signifikan antara Tubex TF dengan Uji Widal karena didapatkan nilai signifikansi menunjukkan nilai > 0,05. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang sensitivitas dan spesifisitas metode Tubex TF dalam deteksi demam tifoid karena hasil positif palsu dapat ditemukan pada orang dengan infeksi Salmonella Enterica Serotype Enteritidis
Perbedaan pengaruh ladder drill exercise dan lari t-sprint untuk meningkatkan kelincahan pada pemain sepakbola
Latar Belakang: Kelincahan yang dering disebut agility yaitu gerakan fleksibilitas
yang cepat tanpa kehilangan keseimbangan dan perpindahan dari posisi satu keposisi
lain dengan cepat dan tetap menjaga kesadarannya. Kelincahan merupakan faktor
utama pada pemain sepakbola, kelincahan yaitu kemampuan perpindahan gerakan
perubahan posisi tubuh dengan cepat. Kecepatan berlari merupakan salah satu unsur
fisik yang melengkapi teknik dasar permainan sepakbola dan memberikan peran yang
sangat penting dalam pencapaian prestasi yang optimal. Tujuan: Untuk mengetahui
perbedaan pengruh ladder drill dan t-sprint untuk meningkatkan kelincahan pemain
sepakbola. Metode penelitian: Penelitian ini enggunakan penelitian eksprimental
dengan rancangan randomized pre tets dn post test two group design bertujuan untuk
membandingkan perbedaan ladder drill dan t-sprint terhadap kelincahan pemain
sepakbola. Hasil: Hasil uji perlakuan kelompok menggunakan paired sampel t-test
pada kelompok perlakuan I dan II nilai p=0,037 (p<0,05) berate latihan yan diberikan
pada kelompok I dan kelompok II berpengaruh pada peningkatan kelincahan pemain
sepakbola dan hasil kelompok I dan II menunjukkan nilai p=0,059(p<0,05) yang
berarti idak ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara kelompok perlakuan I dan
kelompok perlakuan II. Kesimpulan: Tidak ada perbedaan pengaruh antar ladder drill
exercise dan t-sprint untuk meningkatkan kelincahan pemain sepakbola. Saran:
Peneliti selanjutnya dapat mengontrol aktifitas yang dilakukan oleh responden dan
mengetahui pola makan dari responden agar mengalami peningkatan kelincahan pada
permainan responde