DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN STATUS FUNGSIONAL DENGAN HARGA DIRI PASIEN STROKE DI POLIKLINIK SARAF RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
Latar Belakang: Stroke merupakan penyebab tertinggi kematian di dunia dengan
jumlah persentase 51% angka kematian.Stroke adalah penyakit kardiovaskuler yang
menyebabkan penderita stroke mengalami gangguan fisik, sehingga pasien stroke
secara psikologis juga mengalami “kehilangan”, kehilangan kebebasan dalam
beraktivitas. Dengan adanya kehilangan tersebut menyebabkan pasien mengalami
penurunan harga diri.
Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan dukungan status fungsional dengan harga
diri pasien stroke di Poliklinik Saraf PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, metode
desksriptif korelasi dengan pendekatan waktu cross sectional. Pengambilan sampel
dengan menggunakan teknik accidental sampling dengan jumlah sampel 32
responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Rosenberg self esteem yang
diterjemahkan oleh Azwar (2018) dan kuesioner Indeks barthel diadaptasi dari
Saryono (2011) dan analisis data menggunakan spearman rank. Pengambilan data
penelitian dilakukan pada10 Desember 2018-16 Januari 2019.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian terdapat hubungan yang bermakna antara status
fungsional dengan harga diri pasien stroke di Poliklinik Saraf RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta dengan nilai spearman correlation sebesar -0,054<0,05
dan memiliki nilai correlation coefisien 0,769 dalam kategori kuat.
Kesimpulan dan Saran: Ada hubungan yang bermakna antara status fungsional
dengan harga diri pasien stroke di Poliklinik Saraf RS PKU Muhammadiyah
Yogyakarta. Diharapkan peneliti selanjutnya meneliti faktor lainnya (faktor
lingkungan dan kehilangan pekerjaan) yang mempengaruhi status harga diri pasien
stroke
PERBEDAA PENGARUH SLUMP STRETCHING NEUROMOBILIZATION DENGAN WILLIAM FLEXION EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN FUNGSIONAL LBP MYOGENIC
Latar belakang: Low Back Pain (LBP) merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal akibat dari ergonomi yang salah. 90% kasus LBP bukan disebabkan oleh kelainan organik, melainkan oleh kesalahan posisi tubuh dalam bekerja. Beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian LBP meliputi karakteristik individu misal usia, jenis kelamin, Indeks Massa Tubuh (IMT), tinggi badan, kebiasaan olahraga, lama kerja dan posisi kerja. Faktor dari Low Back Pain Myogenic adalah adanya spasme otot daerah punggung bawah sehingga mengakibatkan rasa nyeri dan terjadi potensial adanya keterbatasan saat bergerak. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh perbedaan Slump Stretching Neuromobilization dan William Flexion Exercise terhadap peningkatan fungsional LBP Myogenic. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Eksperimental dengan pre and post test design. Sampel penelitian ini pasien yang mengalami LBP Myogenic di TOKO BATIK PLENTONG dimana kelompok eksperimen 1 diberikan perlakuan Slump Stretching Neuromobilization dan kelompok eksperimen 2 diberikan perlakuan William Flexion Exercise. Intervensi dilakukan selama 4 minggu dengan frekuensi latihan 3 kali seminggu. Alat ukur pada penelitian ini adalah Oswestry Disability Index. Hasil: hasil uji hipotesis III menggunakan independent sample t-test diperoleh nilai p : 0,446 (p<0,05). Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan pengaruh Slump Stretching Neuromobilization dan William Flexion Exercise terhadap peningkatan kemampuan fungsional pada pasien Low Back Pain Myogenic. Saran: diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk memperpanjang waktu penelitian untuk mengetahui keefektifan intervensi yang diberika
PENGARUH MANUAL LYMPH DRAINAGE VODDER (MLDV) TERHADAP OEDEM LENGAN KARENA LYMPHEDEMA PASCA OPERASI CARCINOMA MAMMAE DI RUMAH SAKIT BETESDHA
Latar belakang: Probelmatiaka pada pasien carcinoma mammae pasca operasi terapi radiasi dan kemoterapi yang paling banyak terjadi adalah oedem lengan karena lympedema. Insiden oedem lengan terkait lymphedema yang terjadi pasca opersi carcinoma mammae berkisar antara 6% sampai 63%. Kondisi oedem lengan karena lymphedema dapat menciptakan kecacatan yang cukup besar, nyeri, gerak terbatas, berat, mati rasa, morbiditas psikososial, dan kualitas hidup yang berkurang. Data pasien carcinoma mammae RS Betesdha dari bulan Januari sampai September tahun 2018 berjumlah 211 dan 30 pasien mengalami oedem lengan karena lymphedema. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh Manual Lymph Drainage Vodder (MLDV) terhadap oedem lengan karena lymphedeme pada pasien carcinoma mammae pasca prosedur operasi dan terapi radiasi serta kemoterapi. Metode Penelitian: Jenis penelitian Quasi Eksperimental pre test and post test one gruop design, 14 pasien menjadi responden dengan purposive sampling. Responden diberikan intervensi Manual Lymph Drainage Vodder (MLDV) 9 kali sesi tindakan selama 3 minggu. Penelitian menggunakan alat ukur midline yang terkaliberasi dengan cara mengukur grith (lingkar lengan). Uji normalitas dengan Shapiro wilk test. Uji hipotesis menggunakan uji paired sample t-test. Hasil: Hasil uji paired sample t-test p=0,00 (p<0,05) menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah intervensi. Kesimpulan: Ada pengaruh Manual Lymph Drainage Vodder (MLDV) Tergadap oedem lengan karena lymphedema pasca Operasi Carcinoma Mammae. Saran: Peneliti selanjutnya diharapkan untuk mengembangkan peneliti MLDV dikaitkan misalnya dengan faktor hormonal, psikis, genetic
PERBEDAAN PENGARUH MYOFASCIAL RELEASE DAN DEEP FRICTION TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL PADA MYOFASCIAL PAIN SYNDROME OTOT UPPER TRAPEZIUS KARYAWAN ADMINISTRASI RUMAH SAKIT
Latar Belakang: Aktivitas kerja berhadapan dengan komputer pada karyawan
administrasi merupakan salah satu kontribusi sedentary life dengan posisi statis
setidaknya tujuh jam sehari serta ergonomi yang kurang mendukung jika dibiarkan
terlalu lama akan menyebabkan myofasial pain syndrome pada otot upper upper
trapezius. Tujuan: untuk mengetahui perbedaan pengaruh antara myofascial release
dengan deep friction pada myofascial pain syndrome otot upper trapezius terhadap
peningkatan kemampuan fungsional pada karyawan administrasi rumah sakit.
Metode: randomized rancangan pre and post test group two design. Jumlah sampel
10, dibagi dua kelompok. Kelompok 1 mendapat perlakuan myofascial release.
Kelompok 2 mendapat perlakuan deep friction. Peneitian dilakukan selama dua
minggu, dengan 9 kali terapi. Hasil: Uji normalitas menggunakan Uji Saphiro Wilk
Test dan uji homogenitas dengan Lavene Test. Hasil paired sample t-test kelompok 1
nilai p =0,002. Hasil paired sample t-test kelompok 2 nilai p=0,002. Yang berarti
kedua kelompok ada peningkatan kemampuan fungsional. Hasil Hasil paired sample
t-test kelompok 1 nilai p =0,813. Kesimpulan: tidak ada perbedaan pengaruh antara
myofascial release dengan deep friction pada terhadap peningkatan fungsional
myofascial pain syndrome otot upper trapezius karyawan administrasi rumah sakit
PERBEDAAN PENGARUH CORE STABILITY EXERCISE DENGAN AQUATIC EXERCISE PADA LOW BACK PAIN MYOGENIC TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL DI RST MAGELANG
Latar Belakang : Low Back Pain Myogenic dapat mengakibatkan spasme pada otot
menimbulkan penderita merasakan nyeri. Low back pain dapat diberikan tindakan
fisoterapi antara lain core stability exercise dan aquatic exercise. Tujuan :
Mengetahui perbedaan pengaruh core stability exercise dengan aquatic exercise pada
low back pain myogenic terhadap peningkatan kemampuan fungsional di RST
Magelang. Metodologi : Jenis penelitian yang akan digunakan adalah kuantitatif
dengan experimental. Pengambilan sampel menggunakan perhitungan rumus Pocock.
Sampel yang akan digunakan yaitu pasien Instalasi Rehab Medik RST Magelang
sebanyak 20 responden selama 4 minggu. Penelitian ini menggunakan kuisoner dan
alat ukur oswestry disability indexs. Metode analisis yang digunakan adalah uji
statistik menggunakan uji Wilcoxon dan Mann Whitney. Hasil : Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa (1) Terdapat pengaruh core stability exercise terhadap
kemampuan fungsional pada pasien low back pain myogenic dengan uji wilcoxon
dengan p-value didapat 0,011<0,05. (2) Terdapat pengaruh aquatic exercise dan core
stability exercise terhadap kemampuan fungsional pada pasien low back pain
myogenic. terdapat pengaruh aquatic exercise dan core stability exercise terhadap
kemampuan fungsional pada pasien low back pain myogenic dengan uji wilcoxon
nilai p-value didapat 0,033<0,05. Kesimpulan : Terdapat perbedaan pengaruh core
stability exercise dengan aquatic exercise pada low back pain myogenic terhadap
peningkatan kemampuan fungsional di RST Magelang. Uji beda hasil mean rank
0,033<0,05 sehingga perlakuan II aquatic exercise dan core stability exercise lebih
efektif dibandingkan perlakuan I core stability exercise. Saran : Bagi responden
diharapkan dapat menjadi pertimbangan tindakan fisioterapi low back pain lebih
efektif untuk meningkatkan kemampuan fungsional yaitu dengan aquatic exercise
dan core stability exercise
PERBEDAAN PEMBERIAN FREE ACTIVE EXERCISE DENGAN HOLD RELAX STRETCHING TERHADAP PENINGKATAN LINGKUP GERAK SENDI LUTUT PADA LANSIA
Latar Belakang: proses degeneratif mengalami kemunduran fisik perubahan sistem
persendian, sistem otot dan jaringan tubuh lainnya.
Tujuan: Mengetahui pengaruh free active exercise terhadap peningkatan LGS lutut.
Mengetahui pengaruh hold relax stretching terhadap peningkatan LGS lutut.
Mengetahui perbedaan pengaruh free active exercise dan hold relax stretching pada
peningkatan LGS lutut pada lansia.
Metode: Menggunakan metode quasi experiment, desain penelitian two group pre
test and post test. Sampel 24 orang. Kelompok I diberikan free active exercise dan
kelompok II diberi latihan hold relax stretching. Dilakukan selama 2 minggu
sebanyak 6 kali latihan. Alat ukur penelitian goniometer, pengukuran dilakukan
sebelum dan sesudah latihan. Data menggunakan SPSS 2.5.
Hasil: analisa data dengan paired sample t-test pada kelompok I dan kelompok II
menunjukkan nilai fleksi p=0,003 nilai ekstensi= 0,015 menunjukkan (p>0,05)
disimpulkan ada pengaruh pada setiap kelompok dalam peningkatan LGS lutut. Hasil
independent sampel t-test menunjukkan nilai fleksi p=0,979 nilai ekstensi p=0,871
(p>0,05) berarti tidak ada perbedaan pengaruh pemberian free active exercise dan
hold relax stretching terhadap peningkatan LGS lutut.
Kesimpulan: tidak ada perbedaan pengaruh antara pemberian free active exercise
dan hold relax stretching terhadap peningkatan LGS lutut.
Saran: disarankan untuk memperpanjang waktu penelitian
PERBEDAAN PENGARUH PLAY THERAPY DAN VIRTUAL REALITY TERHADAP PENINGKATAN ATENSI PADA ANAK ATTENTION DEFISIT HIPERACTIVITY DISORDER (ADHD)
Latar Belakang : Inatensi pada anak ADHD menjadikan masalah utama dalam
proses belajar disekolah. Gejala gangguan atensi pada anak ADHD, dapat dilihat dari
kegagalan anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak
yang mengalami kesulitan dalam pemusatan perhatian juga ditandai dengan kurang
mendengarkan dan tidak mau nenatap lawan bicaranya. Prevalensi anak ADHD
sebanyak 5,29% dan selalu meningkat setiap tahunnya, yang mengalami penurunan
atensi sebanyak 15,3%. Tujuan : Untuk mengetahui perbedaan pengaruh Play
Therapy dan Virtual Reality Terhadap peningkatan Atensi pada anak Attention
Defisit Hiperactivity Disorder (ADHD). Metode Penelitian : Jenis penelitian yang
digunakan yaitu quasy experimental, penelitian menggunakan metode rancangan pre
and post test two group design sampel berjumlah 8 orang dibagi menjadi 2
kelompok, kelompok perlakukan 1 berjumlah 4 orang yang diberikan intervensi Play
Therapy, kelompok perlakuan 2 berjumlah 4 orang yang diberikan intervensi Virtual
Reality. Alat ukur yang digunakan adalah kuesiner SNAP Rating Scalae IV . Hasil :
Hasil uji menggunakan Paired sampel t-test pada kelompok 1 p=0,003 (p<0,05) dan
kelompok II p=0,001 (p<0,05), hal ini menunjukkan bahwa kedua perlakuan yang
diberikan pada kelompok I dan II meniliki pengaruh terhadap peningkatan Atensi
pada anak ADHD. Sedangkan Independen sampel t-test pada kelompok perlakuan
p=0,129 (p>0,05), hal ini menunjukkan perlakuan yang dilakukan pada kelompok
perlakuan I dan II tidak memiliki perbedaan pengaruh terhadap peningkatan Atensi
pada anak ADHD. Kesimpulan : Tidak ada perbedaan Pengaruh Play Therapy Dan
Virtual Reality Terhadap Peningkatan Atensi Pada Anak Attention Defisit
Hiperactivity Disorder (ADHD). Saran : Saran dari hasil penelitian ini adalah Play
Therapy dan Virtual Reality bisa diberikan pada anak ADHD di sekolah, ditempat
terapi dan dirumah
PENGARUH PENYULUHAN TERHADAP PENGETAHUAN PENATALAKSANAAN PREMENSTRUAL SYNDROME (PMS) PADA REMAJA KELAS X DI PONDOK PESANTREN IBNUL QOYYIM PUTRI YOGYAKARTA
Premenstrual Syndrome (PMS) memiliki prevalensi lebih tinggi di negara-negara Asidibandingkan dengan negara-negara Barat, bahwa gejala PMS dialami sekitar 65,7%remaja putri. Salah satu faktor penyebab yaitu kurangnya pengetahuan remaja dalammenyikapi keluhan PMS yang dirasakan. Baiknya pengetahuan remaja untukmencegah terjadinya PMS guna mengurangi angka kesakitan pada remaja. Sebaliknykurangnya pengetahuan remaja tentang penatalaksanaan PMS maka akameningkatkan angka kesakitan pada remaja yang mengarah ke PremenstruaDysphoric Disorder (PMDD). Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegaterjadinya keluhan PMS pada remaja yaitu meningkatkan pengetahuan remajterhadap penatalaksanaan PMS dengan melakukan penyuluhan. Mengetahui pengaruh
penyuluhan terhadap pengetahuan penatalaksanaan Premenstrual Syndrome (PMSpada remaja kelas X di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putri Yogyakarta. Design
Penelitian Pre exsperiment rancangan one grup pretest-posttest. Sampel dalampenelitian ini 40 orang. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner.
Analisis data dilakukan dengan Wilcoxon. Pengetahuan remaja sebelum penyuluhapenatalaksanaan PMS paling banyak dalam kategori cukup sebanyak 20 responde(50%). Pengetahuan remaja setelah diberikan penyuluhan tentang penatalaksanaaPMS paling banyak dalam kategori baik sebanyak 28 responden (70%). Ada pengarupenyuluhan terhadap pengetahuan remaja tentang penatalaksanaan PMS hal iniditunjukan dari hasil uji statistik dengan wilcoxon diperoleh p value sebesar 0.00dimana nilai p value < 0,05. Menambah wawasan baru tentang pengetahuapenatalaksanaan PMS sehingga remaja bisa melakukan pencegahan agar tidak terjadiPremenstrual Dysphoric Disorder (PMDD) dan bekerjasama dengan Puskesmas
GAMBARAN PENGELUARAN ASI PADA IBU POST PARTUM DI RUMAH BERSALIN NURANI SLEMAN TAHUN 2018
Berdasarkan studi penelitian yang dilakukan di Rumah Bersalin Nurani, Sleman –
Yogyakarta pada tanggal 20 januari 2018, jumlah ibu bersalin di Rumah Bersalin
Nurani tahun 2017 sebanyak 404 orang. Dari 404 orang tersebut, yang memberikan
ASI saja pada bayinya yaitu sebanyak 382 orang (94,5 %), dan 22 orang (5,5 %)
memberikan susu formula kepada bayinya. Pemberian susu formula ini dikarenakan
adanya masalah pengeluaran ASI. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengeluaran ASI
yaitu usia ibu, paritas, makanan yang dikonsumsi ibu, ketenangan jiwa dan fikiran,
penggunaan alat kontrasepsi, perawatan payudara, anatomi buah dada, pola istirahat,
isapan anak, obat, dan hormone. Tujuan dari pada penelitian ini yaitu untuk
mengetahui gambaran pengeluaran ASI pada ibu post partum di Rumah Bersalin
Nurani Sleman. Metode yang digunakan menggunakan metode deskriptif dengan
pendekatan kuantitatif. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 responden dengan
teknik quota sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan lembar observasi
dengan analisis univariat. Hasil analisis menggambarkan pengeluaran ASI pada Ibu
post partum di Rumah Bersalin Nurani sebesar 76,7% lancar. Dengan adanya
gambaran tersebut, diharapkan dapat dijadikan acuan bidan dalam memberikan
pelayanan selanjutnya, khususnya pada ibu post partum
Hubungan Karakteristik Psikologis Jenis Kelamin dengan Frekuensi Kekambuhan pada Pasien Skizofrenia Di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta
Latar belakang: Skizofrenia merupakan penyakit mental serius. Setiap pasien
skizofrenia memiliki potensi kambuh pasca perawatan di rumah sakit. Kekambuhan
akan merugikan, baik dari segi fisik, finansial dan waktu. Karakteristik psikologis jenis
kelamin merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kekambuhan pada
pasien skizofrenia.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara karakteristik psikologis jenis kelamin dengan
frekuensi kekambuhan pada pasien skizofrenia di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Grhasia
Yogyakarta.
Metode penelitian: Rancangan deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional.
Sampel penelitian adalah 92 pasien skizofrenia di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Grhasia
Yogyakarta dan diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data
diperoleh melalui rekam medis dan kuesioner penelitian.
Hasil penelitian: Analisis chi-square menunjukkan bahwa pada taraf signifikansi p=0,1
(taraf kesalahan 10%) diperoleh nilai p=0,188 sehingga p>0,1.
Simpulan dan saran: Tidak ada hubungan antara karakteristik psikologis jenis kelamin
dengan frekuensi kekambuhan pada pasien skizofrenia di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa
Grhasia Yogyakarta, untuk itu pasien dan keluarga diharapkan memahami karakteristik
psikologis jenis kelamin pasien guna mengantisipasi dan mengurangi frekuensi
kekambuha