DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
    6657 research outputs found

    PENGARUH DISKUSI KELOMPOK TERARAH TERHADAP PERILAKU PERAWATAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI PUSKESMAS DEPOK III SLEMAN

    Get PDF
    Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu faktor penting sebagai pemicu Penyakit Tidak Menular (Non Communicable Disease=NCD) seperti Penyakit Jantung dan stroke yang saat ini menjadi momok penyebab kematian nomer wahid di dunia. Perilaku perawatan pada penderita hipertensi merupakan salah satu cara penanganan yang harus dilakukan, dampak dari perilaku perawatan yang tidak sesuai yaitu munculnya berbagai macam komplikasi yang dapat memicu timbulnya berbagai macam penyakit pada pembuluh darah, ginjal, jantung, otak dan mata. Seseorang dengan pengetahuan yang cukup tentang perilaku perawatan hipertensi maka secara langsung akan bersikap positif dan menuruti aturan pengobatan, disertai munculnya keyakinan untuk dapat mengontrol penyakitnya. Salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku dalam perawatan hipertensi yaitu dengan pembelajaran melalui diskusi kelompok terarah. Tujuan Penelitian: Mengetahui pengaruh diskusi kelompok terarah terhadap perilaku perawatan hipertensi pada lansia di Puskesmas Depok III Sleman. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian pre eksperiment dengan rancangan penelitian pre test dan post test terhadap 1 kelompok (One group pre post test design). Pengambilan sampel menggunakan tehnik simple random sampling dengan jumlah responden sebanyak 10 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan analisis data menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil Penelitian: Hasil perhitungan statistik diperoleh p-value sebesar 0,005< (0,05), artinya ada pengaruh diskusi kelompok terarah terhadap perilaku perawatan hipertensi pada lansia dengan hipertensi di Puskesmas Depok III Sleman Yogyakarta Simpulan dan Saran: Ada pengaruh diskusi kelompok terarah terhadap perilaku perawatan hipertensi pada lansia di Puskesmas Depok III Sleman. Bagi perwat diharapkan dapat menerapkan metode diskusi kelompok terarah kepada lansia hipertensi sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan mengenai perilaku perawatan hipertensi yang sesuai sehingga penderita mempunyai perilaku yang baik untuk mencapai kehidupan yang optimal dengan penyakit hipertensi yang di derita

    PERBEDAAN PENGARUH PEMBERIAN LATIHAN DEEP NECK FLEXOR DENGAN SELF STRETCHING EXTENSOR TERHADAP DISABILITAS FUNGSIONAL LEHER KASUS FORWARD HEAD POSTURE PADA REMAJA

    Get PDF
    Latar belakang: Forward Head Posture didefinisikan sebagai kecenderungan ke depan dari kepala dalam kaitannya dengan garis tegak lurus teoritis yang tegak lurus dengan pusat tubuh gravitasi, sekarang postur kepala depan menjadi semakin umum karena peningkatan penggunaan computer dan smartphone menghabiskan lebih dari 20 jam seminggu. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian latihan Deep Neck Flexor dengan Self Stretching Extensor terhadap disabilitas fungsional leher kasus Forward Head Posture pada remaja. Metode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan yaitu quasy experimental, penelitian menggunakan metode rancangan pre and post test two group design sampel berjumlah 22 orang dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok perlakukan 1 berjumlah 11 orang yang melakukan latihan Deep Neck Flexor, kelompok perlakuan 2 berjumlah 11 orang yang melakukan Self Stretching Extensor. Alat ukur yang digunakan adalah Kuesiner Neck Disability Index. Hasil: Hasil uji menggunakan Paired Sampel t-test pada kelompok 1 p=0,000 (p<0,05)dan kelompok 2 p=0,000 (p<0,05), hal ini menunjukkan bahwaterhadap pengurangan disabilitas fungsional leher kasus Forward Head Posture pada remaja. Sedangkan Independen Sampel t-test pada kelompok perlakuan p=0,248 (p<0,05), hal ini menunjukkan perlakuan yang dilakukan pada kelompok perlakuan I dan II tidak ada perbedaan pengaruh pemberian latihan Deep Neck Flexor dengan Self Stretching Extensor terhadap disabilitas fungsionar leher kasus Forward Head Posture pada remaja. Kesimpulan: Tidak ada perbedaan pengaruh pemberian latihan Deep Neck Flexor dengan Self Stretching Extensor terhadap disabilitas fungsionar leher kasus Forward Head Posture pada remaja. Saran: Saran dari penelitian ini adalah Deep Neck Flexor dengan Self Stretching Extensor bisa diberikan pada remaja atau siswa dan siswi di kelas lain atau sekolah lain, ditempat terapi dan dirumah

    PERBEDAAN PENGARUH TENS-INIT DAN TENS-MRT TERHADAP GANGGUAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL LEHER PADA CERVICAL ROOT SYNDROME

    Get PDF
    Latar belakang ; Cervical Root Syndrome adalah suatu keadaan dimana terjadi penekanan atau iritasi akar saraf yang keluar dari segmen vertebra cervical sehingga menimbulkan rasa nyeri, menjalar hingga bahu atau lengan yang kemudian menimbulkan suatu gangguan kemampuan fungsional leher. Hal ini sering dikaitkan dengan pengaruh usia, kebiasaan sikap dalam bekerja, serta jenis kelamin. Keadaan tersebut sering menjadikan perubahan fisiologis baik pada tulang, otot, maupun system saraf. Perubahan tersebut menyebabkan timbulnya nyeri hingga menurunkan kemampuan fungsional bagi penderitanya, bahkan ketegangan otot-otot leher akan berdampak pada kerja system saraf yang selanjutnya mengganggu fungsi kerja otot level di bawahnya. Tujuan Penelitian : untuk mengetahui perbedaan intervensi TENS-INIT dan TENS – MRT terhadap gangguan fungsional leher pada CRS. Metode Penelitian : Penelitian ini bersifat eksperimental dengan rancangan pre and post test two group design. Sampel berjumplah 20 orang dibagi menjadi 2 kelompok secara acak. Pada kelompok 1 deberikan intervensi TENS- INIT, dan kelompok 2 deberkan TENS-MRT. Pengukuran indek dengan Neck Disability Index (NDI) pada saat dan setelah intervensi. Dilakukan sebanyak 4 kali tindakan dengan waktu 2 minggu. Hasil Penelitian : Dari uji normalitas data dengan uji Saphiro wik test dinyatakan data normal. Uji homogenitas dengan Lavenet?s test dinyatakan data homogen. Untuk uji hipotesis 1 dan 2 pada kdua kelompok didapatkan p 0,000 sehingga pada kedua perlakuan dinyatakan berpengaruh. Pada uji hipotesis III diperoleh nilai p = 0,141 sehingga p>0,05, disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan pengaruh antara TENS-INIT dan TENS- MRT. Kesimpulan ; Tidak ada perbedaan antara TENS-INIT dan TENS – MRT terhadap gangguan kemampuan fungsional leher pada CRS. Saran : disarankan pada penderita CRS untuk bersikap ergonomis saat beraktifitas, berperilaku hidup sehat

    PERBEDAAN PENGARUH MUSCLE ENERGY TECHNIQUE DAN CONTRACT RELAX TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL PADA MYOFACIAL TRIGGER POINT UPPER TRAPEZIUS PENGEMUDI BUS

    Get PDF
    Latar Belakang: Mengemudi Bus merupakan salah satu pekerjaan yang beresiko mengalami penurunan kemampuan fungsional akibat Myofacial Trigger Point Upper Trapezius. Hal ini dikarenakan waktu operasional Bus yang lebih dari 8-11 jam perhari dengan waktu istirahat rata-rata 30-45 menit serta posisi kerja dengan leher dalam posisi diam dengan jangka waktu lama serta posisi kemudi bus yang tidak aergonomis mengakibatkan pengemudi mengemudi dengan posisi forward head posture dalam waktu lama. Hal ini mengakibatkan penurunan kemampuan fungsional. Tujuan: untuk mengetahui perbedaan pengaruh muscle energy technique dan contract relax terhadap peningkatan kemampuan aktifitas fungsional pada pengemudi bus. Metode: quasy experimental pre and post-test two group design, jumlah sampel 34 di bagi 2 kelompok. Kelompok I perlakuan muscle energy technique dan perlakuan kelompok II contract relax. Penelitian ini di lakukan selama 2 minggu dengan 3x latihan per minggu. Hasil: uji normalitas Saphiro Wilk Test dan uji homogenitas dengan Lavene’s Test. Hasil paired sample t-test kelompok I nilai p = 0,000. Hasil paired sample t-test kelompok II nilai p = 0,000 yang berarti ada peningkatan kemampuan aktifitas fungsional pada pengemudi bus. Hasil independent sample t-test didapatkan nilai p = 0,565. Kesimpulan: tidak ada perbedaan pengaruh muscle energy technique dan contract relax terhadap peningkatan kemampuan aktifitas fungsional pada pengemudi bus. Saran:bagi peneliti selanjutnya dapat menggunakan muscle energy technique untuk peningkatan kemampuan aktifitas fungsional pada pengemudi bus dan diharapkan untuk membandingkan contract relax dengan variabel bebas lainnya

    PERBEDAAN EFEKTIVITAS RELAKSASI NAFAS DAN BIRTH BALL TERHADAP TINGKAT NYERI PERSALINAN KALA I FASE AKTIF DI PMB NILAWATI BALIKPAPAN

    Get PDF
    Abstrak: Nyeri pada kala I persalinan merupakan nyeri yang berat dengan waktu yang lebih lama, untuk itu perludiperlihatkan penanganan untuk mengatasi nyeri pada kala I persalinan. Pengurangan intensitas nyeri persalinan dapat mempercepat persalinan kala I pada ibu bersalin salah satunya yaitu dengan melakukan latihan Relaksasi Napas dan Birth ball. Oleh karena itu penelitian ditujukan untuk mengetahui efektivitas Relaksasi Nafas dan Birth Ball terhadap tingkat nyeri persalinan kala I fase aktif. Jenis penelitian ini adalah Quasy Ekperiment dengan rancangan Pretest- Posttest Design. Sampel penelitian ibu bersalin kala I fase aktif berjumlah 36 orang. Sampel dibagi menjadi dua kelompok yang memenuhi kriteria inklusi, kelompok perlakuan diberikan latihan Birth ball, selama 30 menit dan sebanyak 5 gerakan, kelompok kontrol diberikan perlakuaan Relaksasi Napas. Teknik pengambilan sampel menggunakan Quota Sampling. Uji statistik yang digunakan adalah Independent T-Test. Instrumen yang digunakan adalah skala Visual Analog Scale (VAS). Hasil analisis data diperoleh antara relaksasi nafas dan latihanbirth ballterhadap nyeri persalinan kala I fase aktifdiperoleh nilai beda rata-rata nyeri persalinan kala I fase aktif sebelum dan sesudah relaksasi nafas adalah 2,2778 dengan nilai p 0,001< 0,05 sedangkan beda rata-rata nyeri persalinan kala I fase aktif sebelum dan sesudah birth ball adalah 1,778 dengan nilai p 0,003< 0,05 artinya ada perbedaan efektivitas relaksasi nafas dan birth ball terhadap tingkat nyeri persalinan kala I fase aktif. Relaksasi nafas lebih efektif dalam menurunkan tingkat nyeri persalinan kala I fase aktif dibandingkan birth ball. Saran bagi ibu bersalin diharapkan dapat melakukan latihan birth ball dan teknik relaksasi nafas dalam sebagai terapi nonfarmakologi

    EVALUASI PELAKSANAAN PENYULUHAN SKRINING KANKER PAYUDARA DAN KANKER SERVIKS PADA WUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TEGALREJO

    Get PDF
    Kanker payudara dan kanker serviks merupakan salah satu penyebab utama kematian pada wanita. Sebanyak 87 % kasus kanker serviks terjadi dinegara berkembang. Kanker payudara menempati urutan pertama pada wanita di dunia dan meningkat secara teratur dan kasus kanker payudara terdiagnosa pada stadium akhir yaitu pada stadium IV. Keterlambatan ditemukan kasus kanker disebabkan karena rendahnya cakupan deteksi atau skrining. Tujuan penelitian ini diketahuinya hasil evaluasi pelaksanaan penyuluhan skrining kanker payudara dan kanker serviks pada wanita usia subur (WUS) diwilayah kerja puskesmas Teglarejo. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan pendekatan cross sectional, populasi dan sampel 63 responden, menggunakan total sampling dan instrumen kuesioner. Hasil evaluasi penyuluhan skrining kanker payudara dan kanker serviks di Puskesmas Tegalrejo didapatkan penyuluhan kanker payudara sebanyak 37 responden (58,7%) memberikan penilaian cukup dan pada penyuluhan kanker serviks sebanyak 36 responden (57,1 %) memberikan penilaian cukup. Penelitian ini menunjukkan bahwa wanita usia subur (WUS) memberikan penilaian cukup terhadap penyuluhan yang telah dilakukan oleh Puskesmas Tegalrejo. Diharapkan bagi bidan dan tim promosi kesehatan untuk meningkatkan upaya promotif dan preventif terutama mengenai skrining kanker payudara dan kanker serviks dan diharapkan bagi wanita usia subur (WUS) untuk lebih aktif mencari informasi serta mengikuti setiap kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi khusunya skrining kanker payudara dan kanker serviks

    HUBUNGAN SENAM HAMIL DENGAN KEJADIAN RUPTURE PERINEUM DI PUSKESMAS MLATI II

    Get PDF
    Kematian ibu pertama di Indonesia disebabkan oleh perdarahan. Perdarahan salah satunya disebabkan oleh robekan jalan lahir. Resiko rupture perineum dapat diminimalisir dengan persiapan dini baik psikologis maupun jasmani yakni dengan senam hamil. Senam hamil bertujuan agar dapat melakukan tugas persalinan dengan kekuatan dan kepercayaan diri dibawah bimbingan penolong persalinan normal (fisiologis). Melalui senam hamil, diperoleh keadaan prima dengan melatih dan mempertahankan kekuatan otot dinding perut, otot dasar panggul serta jaringan penyangganya untuk berfungsi saat persalinan berlangsung. Penelitian ini bertujuan diketahui hubungan senam hamil dengan rupture perineum di Puskesmas Mlati II tahun 2018. Jenis Penelitian ini adalah survey analitik dengan pendekatan retrospektif. Dan pengambilan sampling ini menggunakan purposive sampling dan accidental sampling berjumlah 51 responden. Metode pengumpulan data dengan metode pengisian checklist di Puskesmas Mlati II. Penelitian ini dilakukan dari bulan Oktober sampai Juli 2018. Diperoleh nilai dari uji Fisher?s Exact Test didapatkan Pvalue = 1 sehingga dapat disimpulkan ha ditolak bahwa tidak hubungan senam hamil dengan kejadian rupture perineum di Puskesmas Mlati II tahun 2018. Diharapkan masyarakat mengikuti kegiatan senam hamil secara rutin sejak usia kehamilan 24-28 minggu seminggu 2 kali. Dengan harapan manfaat senam hamil dapat diterima secara maksimal terutama dalam persiapan persalinan. Dan bidan yang menolong proses persalinan memperhatikan beberapa aspek penyebab rupture perineum saat memberikan asuhan persalinan. Sehingga resiko rupture perineum kecil bahkan tidak ada

    Perbedaan Activities Of Daily Living pada Pasien Stroke Hemoragik dan Non Hemoragik Paska Perawatan Di RS Bethesda Yogyakarta Tahun 2018

    Get PDF
    Latar Belakang: Activities Of Daily Living pada klien paska stroke dilihat dari kemandirian penderita penyakit stroke untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Berbagai kerusakan neurologik menyebabkan kemunduran fungsi kognitif dan keseimbangan gerak. Perawatan stroke hemoragik khususnya dan non hemoragik harus lebih ditingkatkan untuk fungsi neurologisnya dan mempercepat pemulihan. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemandirian activities of daily living pada pasien stroke hemoragik dan non hemoragik paska perawatan di RS Bethesda Yogyakarta. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode Comparative Study dengan pendekatan Cross Sectional. Menggunakan Sample Random Sampling dengan masing-masing 30 responden stroke hemoragik dan non hemoragik dengan jumlah 60 orang. Instrumen yang digunakan kuesioner ADL Kazt Indeks. Uji statistik menggunakan uji t-test independent sample. Hasil: Hasil uji t-test independent sample diperoleh ADL pasien stroke hemoragik rerata 1,27 dan ADL stroke non hemoragik rerata 0,83 nilai signifikasi P-value 0,009 < 0,005 dengan demikian ada perbedaan activities of daily living (ADL) pada pasien stroke hemoragik dan non hemoragik paska perawatan di RS Bethesda Yogyakarta.. Simpulan: Pada pasien stroke non hemoragik dalam kemandirian activities of daily livingnya lebih baik dibandingkan pada pasien stroke hemoragik paska perawatan di RS Bethesda Yogyakarta. Saran: Meningkatkan program rehabilitasi stroke jangka pendek dan jangka panjang dengan pendekatan secara multi disiplin yang komprehensif

    6,596

    full texts

    6,657

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇