DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
Program rehabilitasi sosial bagi penyalahgunaan narkotika di yayasan/LSM (studi kasus di Ponpes Al-Islamy)
Rehabilitasi Sosial narkoba merupakan pemulihan kembali agar terbebas dari narkoba. proses
rehabilitasi ini memerlukan waktu yang tidak sebentar, jika pasien tersebut telah kecanduan
narkoba dalam waktu lama. Jika sudah sampai pada tahap kecanduan narkoba, bisa dikenali
gejala nya seperti selalu ingin mengkonsumsi narkoba setiap hari dan keinginan untuk terus
menambah dosis pemakaian. Penelitian ini dilakukan guna mengungkap program rehabilitasi
sosial yang diberikan kepada para korban penyalahgunaan narkoba serta efek dari rehabilitasi
tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek
penelitian merupakan para korban penyalahguna narkotika yang berada di lembaga islamiah
PonPes Al-Islamy yang berjumlah 2 orang dan 1 orang narasumber. Penelitian ini menunjukkan
setiap individu memiliki permasalahan yang sama yaitu dukungan keluarga yang rendah. Subjek
SS memiliki gangguan mental emosi yang tidak terkontrol yang dapat membahayakan dirinya
sendiri serta kurangnya kasih sayang memicu munculnya keinginan untuk meluapkan kekesalan
dengan memakai narkotika dan menghabiskan waktu dilingkungan pergaulan bebas. Subjek SP
juga memiliki kualitas hidup yang sama dengan subjek sebelumnya yaitu kurangnya perhatian
dan kasih sayang orang tua sehingga mencari pengakuan di luar rumah dan berakhir dengan
penyalahgunaan narkoba. Narasumber SO significant other bahwa hampir 80% para santri di
PonPes Al-Islamy memiliki permasalahan terhadap keluarga. Sehingga dengan itu memicu
subjek SS dan SP untuk menyalahgunakan narkoba dengan tujuan untuk melampiaskan
penyesalan dan kekesalan selama ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di PonPes Al-Islamy
dengan menggunakan metode dan terapi keagamaan meliputi mandi taubat,sholat,dzikir dan puasa serta pemberian rehabilitasi sosial secara positif menjadikan para korban penyalahguna narkoba kembali beradaptasi di lingkungan baru
Pengaruh regulasi emosi terhadap resiliensi pada dewasa awal di Yogyakarta
Setiap orang akan mempunyai tugas perkembangannya masing-masing mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa sampai ke lansia. Tugas perkembangan harus dilalui supaya kehidupan menjadi bahagia dan tidak mengalami permasalahan yang berarti, khususnya bagi orang dewasa awal, karena masa dewasa awal ini masa puncaknya perkembangan bagi setiap orang. Dewasa awal adalah transisi dari masa remaja ke dewasa yang terjadi pada usia 18 sampai 25 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh regulasi emosi terhadap resiliensi pada dewasa awal di Yogyakarta. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji korelasi product moment Pearson dengan bantuan program SPSS 16 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang sangat signifikan antara variabel independen (Regulasi emosi) dan variabel dependen (Resiliensi) dengan taraf signifikan p = 0,00 < 0,01. Hal ini mengidentifikasikan bahwa adanya pengaruh antara regulasi emosi terhadap resiliensi pada dewasa awal di Yogyakarta
Pengaruh penambahan home program neurodevelopment treatment (NDT) terhadap peningkatan kemampuan duduk anak cerebral palsy diplegi usia 2– 10 tahun
Latar belakang: Cerebral palsy (CP) merupakan suatu kondisi kerusakan jaringan otak
pada pusat motorik atau jaringan penghubungnya, yang terjadi pada selama prenatal,
persalinan atau proses pembentukan syaraf pusat, ditandai dengan adanya paralisis,
paresis, gangguan kordinasi atau kelainan fungsi motorik. Anak CP spastik diplegi
memiliki karakteristik duduk dengan posisi W sitting saat duduk di lantai dan punggung
membungkuk hal tersebut akan mempengaruhi keseimbangan dan postur tubuh. Latihan
yang dapat dilakukan yaitu neurodevelopment treatment (NDT) dengan penambahan
home program. Tujuan: untuk mengetahui apakah ada pengaruh penambahan home
program neurodevelopment treatment (NDT) terhadap peningkatan kemampuan duduk
anak cerebral palsy diplegi usia 2-10 tahun. Metode penelitian: Penelitian ini merupakan
quasy experimental dengan rancangan two group pre and post test design. Teknik
pengambilan sampel adalah purposive sampling. Sampel berjumlah 16 anak dengan
kondisi cerebral palsy diplegi yang akan diukur pre test dan post test dengan GMFM-88.
Sampel dibagi menjadi 2 kelompok dengan masing-masing berjumlah 8. Penelitian ini
berlangsung selama 6 minggu, dengan dosis latihan 2x seminggu selama 6 minggu. Hasil:
Uji hipotesis I dan II menggunakan paired sample t-test, pada kelompok kontrol
neurodevelopment treatment dengan nilai p=0,082 (p<0,05) dan pada kelompok
penambahan home program neurodevelopment treatment (NDT) didapatkan nilai p=0,098
(p>0,05). Kesimpulan: Tidak ada pengaruh penambahan home program
neurodevelopment treatment terhadap peningkatan kemampuan duduk anak cerebral
palsy diplegi usia 2-10 tahun. Saran: Penelitian selanjutnya agar menambah waktu
penelitian dan mengontrol aktivitas kegiatan sampel dan spesifik sampel penelitian
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Osteoarthritis pada Lansia di Puskesmas Sanden Bantul Yogyakarta
Latar Belakang: Oesteoartritis merupakan penyakit degeneratif sendi akibat
pemecahan biokimia artikular (hialine) tulang rawan di sendi sinovial lutut sehingga
kartilago sendi rusak. Lansia rentan terkena osteoarthritis, karena terjadi perubahan
pada kolagen dan proteoglikan yang menurunkan ketegangan dari tulang rawan sendi
dan juga karena pasokan nutrisi yang berkurang untuk tulang rawan. Oesteoartritis ini
bisa dikarenakan oleh usia, genetik, trauma,obesitas, kebiasaan merokok.Tujuan:
penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi oesteoartritis
pada lansia di Puskesmas Sanden, Bantul Yogyakarta. Metode Penelitian: penelitian
ini merupakan observational analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah
responden sebanyak 38 orang lansia usia sama dengan 50 tahun ke atas dengan
Teknik pengambil sampel menggunakan total sampling. Instrument penelitian
menggunakan kuisioner Western Ontario and Mcmaster Universitas Oesteoartritis
Index (WOMAC) untuk oesteoarthritis. Analisis data dengan uji stastic SpearmanRank
program
SPSS
22. Hasil Penelitian: faktor-faktor yang mempengaruhi lansia
terhadap oesteoarthritis, usia (p=0,003), jenis kelamin (p=0,003), pekerjaan (p=
0,000), IMT (p=0,000), genetik (p=0,031), trauma (p=0,003). Kesimpulan: faktor
jenis kelamin, IMT, usia, pekerjaan, dan trauma mempengaruhi osteoarthritis pada
lansia di puskesmas Bantuil, Yogyakarta. akan tetapi untuk faktor genetik tidak
mempengaruhi osteoarthritis pada lansia di Puskesmas Sanden, Bantul Yogyakarta.
Saran: untuk peneliti selanjutnya diharapkan untuk analisa lebih lanjut mengenai
faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan osteoarthritis yang belum di teliti oleh
peneliti saat ini, seperti merokok, osteoporosis, hipertensi, dan kekurangan vitamin
D
Hubungan antara keaktifan berorganisasi dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa keperawatan anestesiologi universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
Latar Belakang : Mahasiswa adalah insan akademik, dalam kegiatannya
mahasiswa tidak terlepas dari rasa cemas. Cemas yang tidak dapat dikendalikan
akan menimbulkan dampak negatif secara emosional. Organisasi kemahasiswaan
merupakan faktor penyebab kecemasan, mahasiswa yang mengikuti organisasi
kemahasiswaan dinilai memiliki potensi lebih besar terhadap keadaan cemas.
Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara keaktifan berorganisasi dengan
tingkat kecemasan pada mahasiswa keperawatan anestesiologi Universitas
‘Aisyiyah Yogyakarta.
Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan deskriptif korelasional dengan
metode Cross Sectional. Teknik sampling menggunakan Proportional Stratified
Random Sampling pada 72 mahasiswa angkatan 2019, 2020, dan 2021.
Pengumpulan data menggunakan kuesioner keaktifan berorganisasi untuk
mengukur tingkat keaktifan berorganisasi dan kuesioner DASS (Depression Anxiety
Stress Scale) untuk mengukur tingkat kecemasan. Data ini dianalisa dengan uji
Spearman Rank.
Hasil : Hasil penelitian antara keaktifan berorganisasi dan tingkat kecemasan
didapatkan nilai korelasi 0.511 dan p-value 0.000 yang artinya terdapat hubungan
yang cukup dengan arah korelasi hubungan positif, yaitu semakin tinggi skor
keaktifan berorganisasinya maka semakin tinggi skor tingkat kecemasannya.
Simpulan : Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah terdapat hubungan
yang signifikan antara keaktifan berorganisasi dengan tingkat kecemasan
mahasiswa Keperawatan Anestesiologi Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta.
Saran : Perlu adanya perhatian khusus dari pihak pengajar terhadap mahasiswa
yang aktif berorganisasi. Mungkin bisa dalam bentuk dosen pembimbing atau dosen
pendamping kemahasiswaan yang bertugas sebagai konseling. Serta perlu
dilakukan lebih lanjut mengenai faktor-faktor keaktifan berorganisasi yang
menyebabkan cemas pada mahasiswa
Pengaruh pemberian workplace exercise terhadap kelelahan pada karyawan BPBD Sleman
Latar Belakang : Kelelahan merupakan suatu masalah kesehatan pada saat bekerja
atau keadaan fisiologi proses terjadinya penurunan kerja fisik. Penyebab kelelahan
bergantung pada karakteristik dari akitivitas yang berlebihan, kurang istirahat, kondisi
fisik yang lemah, kurang berolahraga, dan tekanan sehari-hari dapat menyebabkan
kelelahan. Tujuan : Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui mekanisme dan
pengaruh dari pemberian workplace exercise terhadap kelelahan kerja pada karyawan
BPBD Sleman. Metode Penelitian : Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif
dengan pendekatan Quasi Experimental dengan desain pre tes and post test one group
dengan jumlah sampel 22 responden yang diberikan workplace exercise. Penelitian ini
dilakukan selama 14 kali pertemuan dan diukur menggunakan Industrial Fatique
Research Commite (IFRC). Hasil : Hasil dari uji hipotesis dengan menggunakan
Wilcoxon sign rank test di dapatkan hasil sebelum dan sesudah diberikannya intervensi
Workplace Exercise dengan nilai signifikan 0,00. Karena nilainya 0,00 lebih kecil dari
< 0,05 yang berarti adanya pengaruh pemberian intervensi Workplace Exercise
terhadap penurunan kelelahan pada karyawan BPBD Sleman. Kesimpulan : Adanya
pengaruh dari intervensi workplace exercise terhadap penurunan kelelahan. Saran :
Penelitian selanjutnya bisa menggunakan variable lainnya atau dengan menggunakan
sampel yang lebih banya
Hubungan konsep diri dengan tingkat stres terhadap penyelesaian skripsi mahasiswa keperawatan anestesiologi di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
Latar Belakang :Mahasiswa semester akhirmemiliki tanggung jawab untuk
menyelesaikan skripsi. Proses pengerjaan skripsi yang dihadapi seorang mahasiswa
bukanlah hal yang mudah, tidak sedikit mahasiswa yang mengalami stresdalam
proses mengerjakan tugas akhir atau skripsi. Solusi yang bisa dilakukan pada
individu yang mengalami stres adalah dengan cara berorientasi pada tugas berarti
upaya mengatasi masalah tersebut secara sadar, realistis, dan rasional atau memiliki
konsep diri yang baik.
Tujuan : Untuk mengetahui adanya hubungan antara Konsep Diri dengan Tingkat
Stres terhadap penyelesaian skripsi Mahasiswa Keperawatan Anestesiologi di
Universitas Aisyiyah Yogyakarta.
Metode Penelitian : Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kuantitatif korelasi denganpendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Populasidalampenelitian ini berjumlah 114
orang dan sampel yaitu mahasiswa DIVKeperawatanAnestesiologi Angkatan
2019Universitas‘AisyiyahYogyakarta dengan sampel berjumlah 80 orang dengan
pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling. Instrumen penelitian
menggunakan kuesioner Tingkat stres (PSS) dan kuesioner konsep diri (Tennesse
Self Concept Scale). Teknik analisis data menggunakan uji korelasi Spearman
Rank.
Hasil : Terdapat hubungan antara konsep diri dengan tingkat stres dengan nilai Sig
sebesar 0.009 ≤ 0,05. Berdasarkan kriteria tingkat korelasi signifikan dengan p -
0.29maka hubungan dukungan sosial dengan tingkat stres memiliki hubungan
cukup kuat.
Saran :Diharapkan peneliti selanjutnya dapat meneliti faktor-faktor penyebab dari
stres pada mahasiswapada saat penyelesaian skripsi
Hubungan pengetahuan perawat dengan pelaksanaan keselamatan pasien di bangsal bedah setiyaki RSUD P Senopati Bantul
Latar Belakang: Keselamatan Pasien merupakan sistem yang dirancang untuk
membuat perawatan pasien lebih. Upaya mencapai keselamatan pasien sangat
bergantung pada pengetahuan perawat. Dalam melakukan perannya, Perawat
harus berpartisipasi aktif untuk mewujudkan keselamatan pasien dengan baik di
rumah sakit. Pengetahuan perawat tentang keselamatan pasien memiliki dampak
yang signifikan terhadap kinerja mereka sendiri dalam menerapkan dan
menegakkan langkah-langkah keselamatan pasien di rumah sakit
Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan hubungan pengetahuan perawat
dengan pelaksanaan keselamatan pasien di Bangsal Bedah Setiyaki RSUD
Panembahan Senopati Bantul.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif Analitik
dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan Total
sampling yang berjumlah 18 responden dengan kriteria inklusi dan eksklusi.
Analisa data di lakukan menggunakan uji Exact Fisher Test.
Hasil Penelitian: Dari 18 sampel yang diperoleh, didapatkan hasil bahwa
responden dengan pengetahuan kurang sebanyak 4 (22,3%) dan Pengetahuan baik
ada 14 (77,7%) orang. Hasil uji korelasi exact fisher untuk mengetahui adanya
hubungan antara pengetahuan perawat terhadap pelaksanaan keselamatan pasien
di dapatkan hasil 0,002 ( p < 0,05), maka artinya terdapat hubungan yang
signifikan antara variabel independen dan variabel dependen.
Simpulan: Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan pearawat terhadap
pelaksanaan pelaksanaan keselamatan pasien di Bangsal Bedah Setiyaki RSUD
Panembahan Senopati Bantul.
Saran: Diperlukan penelitian lebih lanjut penelitian tentang pengetahuan perawat
seperti menghubungkan faktor-faktor lainnya yang dapat mempengaruhi
pelaksanaan keselamatan pasien.
Kata Kunci : Pengetahuan, Perawat, Keselamatan pasien
Daftar Pustaka : 22 (2014-2022
Hubungan metode pembelajaran daring terhadap learning loss pada mahasiswa keperawatan anestesiologi angkatan 2019 Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
Latar Belakang: Metode pembelajaran daring merupakan sistem pembelajaran yang dilakukan dengan tidak bertatap muka langsung, tetapi menggunakan platform yang dapat membantu proses belajar mengajar yang dilakukan meskipun jarak jauh. Metode pembelajaran daring memiliki pengaruh pada learning loss mahasiswa. Learning loss merupakan fenomena kehilangan pengetahuan dan keterampilan baik umum maupun khusus secara akademis. Tingkat learning loss mahasiswa menunjukkan seberapa relevan metode pembelajaran daring perguruan tinggi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat Hubungan Antara Metode Pembelajaran Daring Terhadap Learning Loss Pada Mahasiswa Keperawatan Anestesiologi angkatan 2019 Universitas Aisyiyah Yogyakarta.
Metode Penelitian: Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif Cross Sectional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan Simple Random Sampling, berjumlah 88 responden dengan kriteria. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner google form. Analisa data menggunakan uji statistik Spearman Rank.
Hasil:. Hasil uji korelasi Spearman Rank didapatkan hasil 0.000 (p<0,05) dengan nilai Correlation Coeffiecient -0,410 menunjukkan hubungan korelasi negatif yang signifikan dan cukup kuat antara metode pembelajaran daring terhadap learning loss pada mahasiswa.
Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pembelajaran daring terhadap learning loss mahasiswa Keperawatan Anestesiologi angkatan 2019 Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.
Saran: Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membandingkan metode pembelajaran daring dan learning loss mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran daring di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
Kombinasi Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (Tens) dan Theraband Exercise Lebih Baik di Banding Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (Tens) dalam Menurunkan Nyeri Osteoarthritis Lutut di Rumah Sakit Condong Catur
Latar Belakang: Osteoarthritis merupakan multifaktorial progresif penyakit sendi yang
ditandai dengan nyeri kronis dan disfungsi kemampuan fungsional. Gejala utama
osteoartritis adalah gangguan nyeri dan pergerakan yang dapat mempengaruhi gangguan
fungsional. Prevalensi Osteoarthritis di Indonesia ditinjau berdasarkan dari usia yaitu
pada usia 40 tahun terdapat 5%, untuk usia 40-60 tahun memiliki presentase 30%,
sedangkan 65% untuk usia lebi dari 61 tahun. Modalitas Transcutaneus Electrical Nerve
Stimulation (TENS) dan Theraband Exercise merupakan tindakan fisioterapi yang dapat
digunakan untuk mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot dan kemampuan
fungsional. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penurunan nyeri
Osteoarthritis lutut dengan kombinasi Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation
(TENS) dan Theraband Exercise Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan
metode Eksperimental two group pretest-posttest design. Sebanyak 26 sampel ditentukan
dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok
yaitu kelompok I dengan perlakuan Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS)
dan kelompok II dengan perlakuan Theraband Exercise. Penelitian ini dilakukan selama
4 minggu dengan frekuensi 2 kali dalam seminggu. Alat ukur yang digunakan yaitu
Numerical Rating Scale (NRS). Hasil: Hasil hipotesis III menggunakan Mann Whitney
diperoleh nilai p=0,020 (p<0,005) yang berarti Kombinasi Transcutaneus Electrical
Nerve Stimulation (TENS) dan Theraband Exercise lebih menurunkan nyeri
osteoarthritis lutut. Kesimpulan: Kombinasi Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation
(TENS) dan Theraband Exercise lebih baik dibanding Transcutaneus Electrical Nerve
Stimulation (TENS) dalam menurunkan nyeri osteoarthritis lutut. Saran: Bagi Peneliti
selanjutnya diharapkan dapat mengontrol sampel dari beragam aktivitas