DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN KEJADIAN BERAT BAYI LAHIR RENDAH (BBLR): LITERATURE REVIEW
Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) adalah berat bayi lahir kurang dari 2500 gram.
Prevelansi global BBLR sebesar 15,5% yang berarti sekitar 20,6 juta bayi tersebut
lahir setiap tahun, dengan 96,5% di antaranya di Negara-negara berkembang. Bayi
berat lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu masalah utama dinegara
berkembang. Bayi dengan berat badan lahir rendah umumnya mengalami proses hidup
jangka panjang yang kurang baik. Apabila tidak meninggal pada awal kelahiran, bayi
BBLR memiliki risiko tumbuh dan berkembang lebih lambat dibandingkan dengan
bayi yang lahir dengan berat badan normal. Penyebab BBLR sampai saat ini masih
terus dikaji, beberapa studi menyebutkan penyebab BBLR adalah multifactor.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa faktor resiko BBLR antara lain Usia ibu,
Paritas, Umur kehamilan, Jarak kelahiran, Pendidikan ibu, Kadar Hb, Pekerjaan dan
Penyakit ibu. Dampak BBLR sangat serius dalam jangka panjang yaitu gangguan
pertumbuhan, perkembangan, penglihatan, pendengaran, penyakit paru kronis dan
frekuensi kelainan bawaan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan
karakteristik ibu bersalin dengan kejadian BBLR. Penelitian ini menggunakan metode
literature review. Sumber data didapatkan dari Google Sholar, Pubmed. Kriteria
inklusi Ibu bersalin, BBLR, Jurnal fulltext yang diterbitkan pada tahun 2011-2019
bahasa Indonesia dan Inggris. Berdasarkan 10 Jurnal penelitian didapatkan bahwa
Adanya hubungan karakteristik ibu dengan kejadian BBLR. Dari hasil literature
review yang meningkatkan faktor terjadinya BBLR yaitu usia ibu, paritas, Jarak
kehamilan, Pendidikan Ibu, Umur kehamilan, Hb, Penyakit dan Pekerjaan Ibu, faktor
yang paling dominan yaitu Usia dan Paritas Ibu. Penelitian ini diharapkan dapat
mencegah terjadinya BBLR dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang
perencanaan kehamilan dengan kerjasama lintas sektor
Literature Review Gambaran Temper Tantrum Pada Anak Autisme
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan secara menyeluruh yang
mengakibatkan hambatan dalam kemampuan sosialisasi, komunikasi, dan juga
perilaku. Perilaku tantrum merupakan suatu perilaku yang umum dan normal yang
terjadi pada anak. Perilaku temper tantrum terjadi pada anak autisme hal yang wajar
dalam tahap perkembangan emosionalnya. Namun apabila temper tantrum tidak
ditangani dengan tepat maka akan mempengaruhi perkembangan emosi hingga
selanjutnya. Pengaruh emosi terhadap lingkungan social dan pribadi anak diantarnya
ketegangan emosi anak dapat menggangu pada perkembangan motoric, ketegangan
emosi anak dapat mempengaruhi psikologis bentuk pelampiasan emosional yang
negative dilakukan secara berulang-ulang dapat menjadi kebiasaan yang dibawa
hingga anak dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian
temper tantrum pada anak autisme. Metode pada penelitian ini merupakan penelitian
literature review dengan menggunakan metode scoping review. Yang terdiri dari 5
tahapan yaitu focus review, framework PEOS (Population, Exposure, Outcome,
Study design), mengidentifikasi studi yang relevan strategi pencarian artikel
menggunakan data base dan grey literature, memetakan data, menyusun meringkas,
dan melaporkan hasil pembahasan. Hasil dalam penelitian 15 literature 2 tema
muncul sebagai hasil dari scoping review yaitu karakteristik kejadian temper tantrum
pada anak autisme, faktor penyebab terjadinya kejadian temper tantrum pada anak
autisme. Simpulan menunjukkan bahwa kejadian temper tantrum pada anak autisme
terjadi pada anak autisme berupa berteriak-teriak, mencubit,faktor - faktor yang
menyebabkan anak menjadi temper tantrum, dimana anak tidak mampu
mengungkapkan keinginannya, lapar, anak lelah, anak dalam keadaan stress, dan
anak autime yang mengalami temper tantrum akan melukai diri mereka sendiri.
Mengadakan lebih banyak sosialisasi mengenai cara penanganan temper tantrum
pada anak autisme
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA PREEKLAMPSIA
Preeklampsia merupakan salah satu penyulit dalam kehamilan yang dapat
menyebabkan sakit berat, kecacatan jangka panjang, serta kematian ibu, janin dan
neonatus. Preeklampsia memiliki dampak serius pada ibu diantaranya adalah
solusio plasenta, hemolysis, oedema paru, neurologik, hepar, koagulasi dan
fibrionolisis, viskositas darah, dan pada janin preeklamsia dapat mengakibatkan
intrauterine Growth Retardations (IUGR), Prematuritas, oligohidramnion.
Terdapat banyak faktor resiko mempengaruhi terjadinya preeklampsia, seperti
primigravida , usia ibu yang ekstrem ( kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35
tahun), riwayat keluarga, preeklampsia/ eklampsia, penyakit, hipertensi kronik
yang sudah diderita sebelum hamil (superimposed preeclampsia), pendidikan dan
pekerjaan. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor risiko yang
berhubungan dengan kejadian preeklampsia. Jenis penelitian yang di gunakan
adalah penelitian literature review dengan menggunakan metode scoping review.
Yang terdiri dari empat tahapan yaitu: Organize yakni mengorganisasi literatur
yang akan ditinjau/direview, Synthesize yakni menyatukan hasil organisasi
literature menjadi satu ringkasan agar menjadi satu kesatuan yang padu dengan
mencari keterkaitan antara literature review. Identtify digunakan untuk
mengidentifikasi isu-isu literature review, formulate yaitu dengan merumuskan
pertanyaan yang membubuhkan penelitian lebih lanjut. Hasil telaah 10 jurnal
literature review, tiga muncul sebagai scoping review yaitu: Preeklampsia, faktor-
faktor yang mempengaruhi terjadinya preeklampsia, analisis terjadinya
preeklampsia. Preeklampsia diakibatkan oleh faktor imunologis yang sering
terjadi pada kehamilan pertama dan timbul lagi pada kehamilan selanjutnya, faktor
genetik atau faktor keturunan yang berperan dalam patogenesis preeklampsia dan
iskemik plasenta. Ibu hamil diharapkan dapat melakukan pencegahan dengan
meningkatkan edukasi dan informasi tentang empat terlalu dan selalu melakukan
kunjungan ANC secara ruti
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Pencegahan HIV dan AIDS pada Remaja
HIV (Human immunodeflciency virus) terus menjadi masalah kesehatan utama bagi
penduduk global, Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia memperkuat dan
mempertahankan layanan terintegrasi yang efektif secara biaya dan berkualitas tinggi
untuk memastikan tercapainya akses universal terhadap layanan pencegahan,
pengobatan dan mitigasi dampak HIV dan AIDS, berfokus pada populasi kunci
(termasuk remaja populasi kunci dan pekerja migran) masalah-masalah seksual
muncul pada masa remaja, penulan HIV dan AIDS dapat melalui hubungan seksual
yang tidak aman. Tujuan literature review Untuk mengetahui Faktor-faktor Yang
Mempengaruhi Perilaku Pencegahan HIV dan AIDS Pada Remaja. Metode
Penelitian ini adalah literature review, yang dilakukan dengan cara mengamati
penelitian sebelumnya yang terkait dengan topik. Hasil literature review yang
dilakukan menggunakan 12 jurnal didapatkan tiga faktor yang mempegaruhi perilaku
pencegahan HIV dan AIDS pada remaja yaitu Faktor predisposisi (ipredisposing
factors) Pengetahuan, Sikap, Kepercayaan dan keyakinan, Nilai-nilai. Faktor
pendukung (enabling factors) yaitu lingkungan fisik dan fasilitas. Faktor pendorong
(ireinforcing facors) yaitu teman sebaya. Kesimpulan dan Saran: setiap faktor saling
berkaitan satu dengan yang lainnya hingga dapat mengubah perilaku pencegahan
HIV dan AIDS pada remaja, peran tenaga kesehatan, orang tua dan guru sangat
dibutuhkan untuk membentuk perilaku pencegahan HIV dan AIDS. informasi adalah
hal yang paling banyak mempengaruhi perilaku pencegahan HIV dan AIDS,
Pengetahuan, Sikap, Kepercayaan atau keyakinan dan nilai-nilai, hal ini bisa
terbentuk karena ada informasi dari orang di sekitar
LITERATUR REVIEW FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERILAKU BULLYING PADA REMAJA
Bullying berarti sebuah perilaku agresif yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa
orang kepada orang yang dianggap lebih lemah dengan niat untuk melukai dan
dilakukan secara terus menerus. Bullying di kalangan remaja adalah masalah global,
remaja yang terkena dampak intimidasi di sekolah berkisar antara kurang dari 10%
hingga lebih dari 65%. Dampak yang terjadi pada siswa ialah menurunnya
kesejahteraan psikologis dan penyesuaian sosial yang buruk yaitu merasakan banyak
emosi negatif seperti marah, dendam, kesal, tertekan, malu, sedih, tidak nyaman, dan
terancam namun tidak berdaya untuk menghadapinya, memungkinkan siswa
merasakan tidak nyaman dan prestasi akademis akan terganggu karena kesulitan
menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk
melakukan kajian literatur mengenai fakor-faktor penyebab perilaku bullying pada
remaja. Jenis penelitian ini adalah penelitian literature review, penelusuran dilakukan
di database elektronik Google Schoolar dengan menggunakan kata kunci “bullying”,
“Harga diri”, “Pola asuh”, “Teman Sebaya”, “Lingkungan sekolah”, “Lingkungan
sosial”, “Media”. Tahun terbit artikel antara tahun 2015 sampai 2020, dan terdapat 6
artikel yang terindeks ISBN/ISSN sedangkan 4 artikel tidak terindeks. Hasil literature
review dari 10 (sepuluh) jurnal yang telah di analisis bahwa faktor-faktor penyebab
perilaku bullying pada remaja di antaranya yaitu harga diri, pola asuh, teman sebaya,
lingkungan sekolah, lingkungan sosial, dan media. Dari faktor-faktor tersebut yang
dominan berpengaruh pada penyebab perilaku bullying yaitu Pola Asuh, dan teman
sebaya. Diharapkan penelitian ini dapat menambah informasi terkait faktor-faktor
bullying dan dapat mencegah terjadinya perilaku bullying terhadap remaja, selain itu
orang tua wajib memberikan pola asuh yang baik atau demokratis agar penerus
generasi terhindar dari perilaku bullying
EFEKTIVITAS METODE PENYULUHAN DENGAN CERAMAH DAN AUDIO VISUAL TERHADAP PENGETAHUAN TENTANG ANEMIA PADA REMAJA PUTRI
Anemia merupakan masalah gizi masih banyak terjadi di dunia baik pada
negara berkembang maupun negara maju. Remaja putri yang menderita anemia akan
meningkatkan risiko anemia pada saat hamil. Hal ini akan berdampak negatif
terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan serta berpotensi
menimbulkan komplikasi kehamilan dan persalinan, bahkan menyebabkan kematian
ibu dan anak. Dampak lain yang dapat terjadi dari anemia remaja yaitu
mengakibatkan gangguan pada perkembangan psikomotor, kemampuan intelektual
dan perubahan perilaku pada anak remaja. Faktor yang sangat mempengaruhi
kejadian anemia adalah faktor pengetahuan. Salah satu bentuk pendidikan kesehatan
yang dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan remaja terhadap anemia
yaitu dengan melakukan penyuluhan dengan menggunakan metode tertentu. Tujuan
penelitian untuk mengetahui efektivitas metode penyuluhan dengan ceramah dan
audio visual terhadap pengetahuan tentang anemia pada remaja putri. Penelitian ini
merupakan penelitian dengan literature review yang dilakukan dengan pencarian di
data base google scholar, portal garuda, proques dengan rentang waktu 10 tahun
terakhir. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa penyuluhan dengan menggunakan
metode audio visual lebih efektif untuk meningkatkan pengetahuan responden
dibanding metode ceramah. Hal ini karena metode penyuluhan dengan audio visual
akan memberikan rangsangan melalui mata mencapai 75% dan telinga 13% sehingga
dapat memberikan hasil yang lebih optimal. Selain itu metode tersebut menyajikan
gerak, gambar, dan suara sehingga terlihat lebih menarik dan tidak monoton. Saran
penelitian ini adalah diharapkan tenaga kesehatan dapat menggunakan metode audio
visual berupa film pendek/ video animasi atau media/alat peraga yang lain dalam
melakukan penyuluhan khususnya tentang anemia pada remaja agar mudah dipahami
dan diterapkan dalam perilaku sehari-hari sebagai langkah pencegahan anemia
LITERATURE REVIEW DETERMINAN STATUS GIZI REMAJA
Status gizi anak dan remaja ini merupakan satu dari tujuh belas tujuan yang akan
dicapai dalam Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 yang merupakan program
MDGs (Milleum Development Goals) yang diadopsi dari PBB tahun 2000. Seiring
dengan peningkatan populasi remaja di Indonesia, masalah gizi remaja perlu mendapat
perhatian khusus karena berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tubuh
serta dampaknya pada masalah gizi dewasa. Pada status gizi remaja terdapat berbagai
faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan status gizi pada remaja. Pengetahuan
gizi yang mendalam untuk pemberian asupan energi pada tubuh serta melakukan
kebiasaan sarapan yang baik dapat terlihat dari status gizi. Tujuan dalam penelitian ini
yaitu untuk mengetahui hubungan pengetahuan gizi, kecukupan energi, kebiasaan
sarapan dan faktor lain yang berhubungan dengan status gizi remaja. Jenis penelitian
ini penelitian literature review dimana dapat dijelaskan bahwa literature review adalah
uraian tentang teori, temuan, dan bahan penelitian lainnya yang diperoleh dari bahan
acuan yang akan dijadikan landasan kegiatan penelitian. Variabel yang digunakan
pada penelitian ini terdapat variabel bebas yaitu pengetahuan gizi, kecukupan energi,
kebiasaan sarapan dan faktor – faktor lain, serta variabel terikat pada penelitian ini
yaitu status gizi remaja. Hasil literature review sepuluh jurnal bahwa determinan status
gizi remaja dapat menyebabkan terjadinya perbedaan pada status gizi masing – masing
remaja. Pengetahuan gizi remaja tidak berhubungan dengan status gizi remaja.
Kecukupan energi dan kebiasaan sarapan mempunyai hubungan dengan status gizi
remaja. Faktor lain yang behubungan dengan status gizi remaja meliputi aktivitas fisik,
lingkungan, genetik, psikis, penghasilan keluarga. Pada penelitian ini diharapkan dapat
berguna untuk menambah wawasan tentang faktor – faktor status gizi pada remaja
LITERATURE REVIEW HUBUNGAN PREEKLAMPSIA DENGAN KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH
Bayi berat Lahir Rendah (BBLR) yaitu bayi baru lahir yang beratnya saat lahir kurang
<2500 gram. BBLR tidak hanya dapat terjadi pada bayi yang mengalami premature,
tapi juga bisa terjadi pada bayi yang cukup bulan yang mengalami hambatan
pertumbuhan selama kehamilan. Komplikasi yang langsung dapat terjadi pada bayi
berat lahir rendah antara lain hipotermia, hipoglikemia gangguan cairan dan elektolit
hiperblirubinemia, infeksi dan sidrom gawat nafas. Tujuan penelitian untuk
mengetahui kejaian preeclampsia, kejadian BBLR dan factor yang mempengaruh
BBLR. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
literature review. Hasil review dari 10 jurnal literature, kejadian preeklamsia lebih
sedikit dari pada ibu tanpa preeclampsia lebi besar, Simpulan: kejadian preeklampsia
masih teerus meningkat dan bblr terus meningkat Diantaranya faktor umur, paritas,
jarak kehamilan, berat badan bayi. Diharapkan bagi seluruh ibu untuk melakukan
deteksi dini lebih awal agar dapat mempersiapkan proses persalinan baik agar tidak
terjadi kompikasi. Saran diperlukan peningkatan pengetahuan dan pemahaman ibu
hamil tentang Faktor risiko BBLR dan upaya pencegahannya. Ibu hamil yang memiliki
penyakit preeklampsia akan beresiko lebih besar melahirkan bayi dengan BBLR dan
diharapkan kepada ibu hamil dapat melakukan pemeriksaan kepada tenaga kesehatan
SYSTEMATIC REVIEW: ANALISIS FAKTORFAKTOR RISIKO YANG MEMENGARUHI KEJADIAN LEPTOSPIROSIS DI JAWA TENGAH DAN JAWA TIMUR
Latar Belakang: Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis (penyakit yang
secara alami dapat menular dari hewan ke manusia) paling luas tersebar di seluruh
dunia terutama di negara-negara tropis termasuk Indonesia. Jumlah data kasus
Leptospirosis di beberapa wilayah di Indonesia menunjukkan kenaikan setiap
tahunnya, hingga dinyatakan KLB di beberapa wilayah. Tujuan: Menganalisis
faktor-faktor risiko yang memengaruhi kejadian kasus Leptospirosis di Jawa
Tengah dan Jawa Timur. Metode: Systematic Review dengan pencarian sumber
literatur pada tiga basis data yaitu Google Scholar, PubMed dan DOAJ. Hasil:
Hasil analisis penelusuran literatur diperoleh 10 jurnal yang menunjukkan adanya
hubungan faktor risiko keberadaan tikus, jenis pekerjaan, penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD), keberadaan genangan air serta kondisi/kebersihan rumah
dengan adanya kejadian Leptospirosis di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu,
faktor risiko yang paling memengaruhi kejadian Leptospirosis di Jawa Tengah
dan Jawa Timur yaitu faktor keberadaan tikus. Kesimpulan: Faktor-faktor risiko
yang berpengaruh terhadap kejadian Leptospirosis di Jawa Tengah dan Jawa
Timur yaitu keberadaan tikus (OR = 6,107 dan 10,545), jenis pekerjaan (OR =
6,317 dan 2,67), penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) (OR = 3,66 dan 7,50),
keberadaan genangan air di sekitar rumah (OR = 4,1 dan 22) dan kondisi/
kebersihan rumah (OR = 6,882) dengan dibuktikan hasil nilai p < 0,05. Faktor
risiko yang paling memengaruhi kejadian Leptospirosis di Jawa Tengah dan Jawa
Timur adalah faktor keberadaan/kontak dengan tikus di rumah maupun di sekitar
rumah. Saran: Perlu dilakukan penelitian selanjutnya yang lebih mendalam
dengan variabel faktor risiko yang lebih beragam serta daerah penelitian yang
lebih luas
SYSTEMATIC REVIEW : PENGARUH DAYA HAMBAT EKSTRAK JAHE MERAH (Zingiber officinale) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERIStreptococcus pyogenes PADA PENYAKIT PIODERMA
Latar Belakang : Penyakit infeksi merupakan jenis penyakit yang menjadi
permasalahan di bidang kesehatan, salah satunya yaitu penyakit kulit.
Pioderma adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri pembentuk
pion. Penyebab utama adalah bakteri Streptococcus pyogenes, Pengobatan
untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri patogen dapat menggunakan
antibiotik, Semakin meningkatnya resistensi bakteri terhadap beberapa
antibiotik membuat banyak peneliti melakukan penelitian tentang berbagai
tanaman yang mengandung antimikroba sebagai pengobatan tambahan untuk
mendukung terapi antibiotik. Salah satunya adalah tanaman Jahe Merah.
Tujuan Penelitian : Menganalisis pengaruh ekstrak jahe merah (Zingiber
officinale) terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus pyogenes. Metode
Penelitian : Pencarian literatur dilakukan melalui dua database yaitu
Google Scholar dan PubMed dengan metode PICO. Jurnal yang digunakan
pada penelitian ini memiliki ketentuan sepuluh tahun terakhir (2010-2020)
dengan jenis penelitian eksperimental dan kajian pustaka. Hasil Penelitian :
Analisis dari beberapa jurnal didapatkan bahwa ekstrak jahe merah pada
konsentrasi 10%, 20% 30% dam 40% mampu menghambat pertumbuhan
bakteri Streptococcus pyogenes dengan kisaran diameter zona hambat 12
mm hingga 20,75 mm. Simpulan : Ekstrak jahe merah dapat menghambat
pertumbuhan bakteri Streptococcus pyogenes pada konsentrasi 10% hingga
40%. Saran : Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan
penelitian secara langsung dengan menambah variasi konsentrasi ekstrak
jahe merah supaya terdapat berbagai varian konsentrasi