DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI LANJUTAN DPT/HB-HiBDIWILAYAH KERJA PUSKESMAS PARAKAN
Imunisasi dalam sistem kesehatan nasional merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dalam upaya mencegah morbiditas dan mortalitas pada anak. Keberhasilan imunisasi sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan dukungan dari orang tua anak terutama seorang ibu. Namun masih banyak orang tua yang belum terlalu paham apa tujuan dan manfaat dari imunisasi. Tujuan dalam penelitiann ini adalah mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang imunisasi lanjutan DPT-HiB di Puskesmas Parakan, Kabupaten Temanggung. Metode penelitian yang digunkan adalah jenis penelitian deskriptif . Analisa data menggunakan analisa univariat. Dari hasil analisa data diperoleh bahwa sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 32 orang (82,1%), ibu dengan tingkat pengetahuan yang baik termasuk dalam kelompok umur 21-30 tahun sebanyak 20 orang, kemudian sebagian besar memiliki tingkat pendidikan SMA/SMK sebanyak 14 orang. 25 orang ibu dengan tingkat pengetahuan baik adalah ibu rumah tangga. Sebanyak 32 orang (82,1%) berpengetahuan baik, 3 orang (7,7%) berpengetahuan cukup dan 4 orang (10,3%) berpengetahuan kurang. Diharapkan bagi ibu balita untuk mempertahankan dan lebih aktif mencari informasi tentang pentingnya imunisasi lanjuta
LITERATURE REVIEW FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN PERSALINAN PREMATUR
Organisasi kesehatan dunia WHO Mendefinisikan kelahiran prematur sebagai
kelahiran yang terjadi sebelum 37 minggu kehamilan. Kelahiran prematur
berdampak pada buruknya kualitas hidup bayi. Kelahiran prematur merupakan salah
satu penyumbang terbesar pada mortalitas perinatal dan mordibitas neonatus, baik
jangka pendek maupun jangka panjang. Sekitar 19% kematian neonatal di indonesia
disebabkan oleh komplikasi kelahiran prematur. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi kejadian persalinan prematur.
Metode penelitian ini adalah literature review menggunakan 10 jurnal sesuai kriteria
dengan judul dan dianalisis, kata kunci yaitu kesesuaian dengan faktor – faktor yang
mempengaruhi kejadian persalinan prematur seperti usia ibu, paritas, riwayat
kelahiran prematur sebelumnya, jarak hamil yang terlalu dekat, anemia. Hasil :
Literature review sepuluh jurnal didapatkan hasil bahwa terdapat pengaruh faktor
usia ibu, faktor paritas, terdapat pengaruh faktor riwayat persalinan prematur
sebelumnya, terdapat pengaruh faktor jarak hamil terlalu dekat, dan terdapat
pengaruh faktor anemia dengan kejadian persalinan prematur.
Kesimpulan penelitian ini adalah faktor usia ibu, paritas, riwayat kelahiran prematur
sebelumnya, jarak hamil yang terlalu dekat dan anemia merupakan faktor yang
mempengaruhi kejadian persalinan prematur. Saran: pada penelitian ini diharapkan
dapat berguna untuk menambah wawasan tentang faktor – faktor yang
mempengaruhi persalinan prematur
MOTIVASI PENGGUNAAN SKINCARE DITINJAU DARI SELF-IMAGE PADA PRIA DI YOGYAKARTA
Dewasa ini bukan hanya wanita saja yang menggunakan produk-produk skincare
tetapi pria juga sudah mulai menggunakan produk skincare. Berdasarkan survei yang
dilakukan terhadap 258 pria, sebanyak 81% mengaku rutin menggunakan produk
skincare. Penelitian ini membahas tentang motivasi penggunaan skincare dan selfimage. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara motivasi
penggunaan skincare dengan self-image pada pria di Yogyakarta. Penelitian ini adalah
penelitian kuantitatif yang menggunakan metode korelasional. Sampel dalam
penelitian ini adalah pria pengguna skincare berusia 18-40 tahun yang berdomisili di
Yogyakarta. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebanyak 100
responden dengan menggunakan teknik sampling yaitu simple random sampling.
Analisis data yang digunakan yaitu product moment. Hasil uji hipotesis menunjukkan
bahwa self-image memiliki pengaruh yang signifikan terhadap motivasi penggunaan
skincare dengan nilai P = 0,000 < 0,05. Hasil uji pearson correlation product moment
didapatkan hasil rhitung (0,375) > rtabel (0,195). Sumbangan efektif self-image dalam
mempengaruhi motivasi penggunaan skincare pada pria di Yogyakarta yaitu sebesar
13,1% sedangkan 86,9% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain
HUBUNGAN PREEKLAMSIA DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI RSU PKU MUHAMMADIYAH BANTUL
Angka kematian bayi dan ibu di dunia serta di Indonesia masih merupakan suatu masalah
yang serius dikarenakan angka tersebut merupakan suatu indikator kesehatan nasional.
Penyebab umum kematian bayi dan neonatal di Kabupaten Bantul adalah bayi berat lahir
rendah (BBLR). Salah satu faktor penyebab terjadinya BBLR adalah faktor penyakit ibu
penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan yaitu salah satunya adalah
preeklamsia.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Hubungan Preeklamsia Dengan
Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di RSU PKU Muhammadiyah Bantul Tahun
2019. Rancangan penelitian ini dengan menggunakan metode Observasional Analitik
Korelasional dengan pendekatan case control. Cara pengambilan Sampel dalam penelitian
ini menggunakan tehnik total sampling dengan jumlah seluruh sampel penelitian adalah 174
Bayi Baru Lahir. Tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data
sekunder dengan mengumpulkan data rekam medik bayi dan data rekam medik ibu. Tehnik
analisis yang digunakan adalah uji chi squere. Bayi yang mengalami BBLR sebanyak 87
(50%), tidak mengalami BBLR sebanyak 87 (50%), yang mengalami preeklamsia sebanyak
45 (25,9%), tidak mengalami preeklamsia sebanyak 129 (74,1%). Hasil penelitian
berdasarkan uji chi squere menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara preeklamsia
dengan dengan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR) dengan p=0,863 dan odds rasio
sebesar 0,942. Kesimpulan tidak ada hubungan antara preeklamsia dengan kejadian bayi
berat lahir rendah (BBLR) nilai p value sebesar 0,863 >0,05.
Disarankan agar dilakukan analisis lebih lanjut dari faktor maternal lainnya terhadap
kejadian BBLR di RSU PKU Muhammadiyah Bantul
GAMBARAN PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI PASCA SALIN
Salah satu upaya Pemerintah untuk mengendalikan penduduk yaitu melalui pengaturan jarak kelahiran. KB juga menjadi salah satu cara yang efektif untuk mencegah mortalitas ibu dan anak karena dapat menolong pasangan suami istri menghindari kehamilan resiko tinggi, menurunkan resiko kematian ibu melalui pencegahan kehamilan, penundaan usia kehamilan serta menjarangkan kehamilan, terutama pada ibu pasca salin sebelum nifas 40 hari. Penelitian ini untuk mengetahui gambaran pemilihan alat kontrasepsi pasca salin. Penelitian ini merupakan jenis penelitian Literature Review. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu pasca salin pada 10 tahun terakhir. Dari 12 literatur dihasilkan alat kontrasepsi pasca salin oleh ibu dapat dipengaruhi beberapa faktor antara lain: pendidikan, dukungan suami, akses informasi, dan konseling dari tenaga kesehatan. Peneliti menyarankan pada tenaga kesehatan agar dapat memanfaatkan media yang efektif untuk membangun persepsi positif dan peningkatan pengetahuan tentang KB pasca salin
LITERATURE REVIEW PEMBERIAN KURMA TERHADAP PERCEPATAN KALA I FASE AKTIF PERSALINAN
Persalinan lama erat kaitannya dengan peningkatan morbiditas pada ibu dan bayi, meningkatkan abnormalitas pada fisiologi persalinan. Ketika proses persalinan berlangsung, ibu memerlukan stamina dan kondisi tubuh yang prima. Metabolisme pada ibu bersalin akan mengalami peningkatan, hal tersebut diakibatkan terjadinya peningkatan kegiatan otot tubuh yang disertai dengan adanya kecemasan. Kegiatan otot tubuh ibu saat mengedan memerlukan energi yang optimal. Kurma adalah buah penguat yang kaya akan karbohidrat. Karbohidrat ini adalah gula sederhana, diserap dan digunakan oleh sel sesaat setelah dikonsumsi. Tujuan penelitian ini adalah megetahui pengaruh pemberian kurma pada Ibu bersalin terhadap percepatan kala 1 fase aktif persalinan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode scoping review. Yang terdiri dari 5 tahapan, yaitu: melakukan focusing review, dengan framework PEOS (Population, Exposure, Outcome, dan Study design), melakukan literature searching menggunakan database yang relevan, melakukan critical appraisal untuk menilai kualitas literatur, melakukan data ekstraksi, menganalisis dan melaporkan hasil, PRISMA Flowchart (Preferred Reporting Items for systematic reviews and meta Analysis), digunakan untuk menggambarkan alur pencarian literatur. Hasil pencarian dari 10 literatur menyatakan bahwa buah kurma berpengaruh signifikan terhadap kemajuan atau percepatan kala I persalinan. Baik menggunakan buah kurma, sari kurma, kurma basah, kurma kering, jus kurma maupun ekstrak kurma muda. Ibu hamil disarankan agar mulai mengkosumsi kurma dalam 4 minggu terakhir atau di usia kehamilan 37 minggu sebelum persalinan
Literature Review Pengalaman Ibu dengan Anak Stunting
Stunting merupakan salah satu masalah yang menghambat perkembangan manusia
secara global. Masyarakat beranggapan bahwa kasus stunting terjadi karena faktor
genetik, tetapi faktor genetik hanya berperan 5% dalam kasus stunting. Cara lain
untuk mencegah stunting ialah memantau tumbuh kembang anak dengan
memeriksakannya ke posyandu terdekat untuk mendeteksi dini terjadinya
kemungkinan gangguan pada pertumbuhan anak, lebih memprioritaskan keperluan
asupan gizinya. Penelitian bertujuan untuk megetahui bagaimana pengalaman ibu
dengan anak stunting. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah
Literature Review tentang Pengalaman Ibu dengan Anak Stunting sumber yang
digunakan penelitian ini didapatkan dari elektronik database yaitu melalui google
scholar dan PubMed kemudian menggunakan artikel maupun jurnal dalam kurun
waktu 1 tahun terakhir. Ada 1.696 jurnal yang ditemukan kemudian di screening di
sesuaikan dengan variabel yang ditentukan namun hanya 10 jurnal yang memenuhi
kriteria dan dimasukkan dalam analisis. Hasilnya adalah petugas kesehatan jarang
menyampaikan istilah stunting sehingga mereka tidak paham dengan apa yang
dimaksud stunting. Pola asuh yang kurang baik dapat menyebabkan stunting pada
anak usia sekolah. Ibu dengan pola asuh baik akan cenderung memiliki balita dengan
status gizi yang lebih baik daripada ibu dengan pola asuh yang kurang. Dengan
pendapatan yang rendah, biasanya mengkonsumsi makanan yang lebih murah dan
menu yang kurang bervariasi, sebaliknya pendapatan yang tinggi umumnya
mengkonsumsi makanan yang lebih tinggi harganya, tetapi penghasilan yang tinggi
tidak menjamin tercapainya gizi yang baik. Kesimpulannya adalah stunting bukanlah
kejadian karena masalah gizi sehingga masyarakat menganggap biasa akan informasi
tersebut. Memengaruhi pola asuh yang kurang baik akibat pendapatan ekonomi yang
tidak dialokasikan dengan baik
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG MENCUCI TANGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI PUSKESMAS MINGGIR SLEMAN
Departemen Kesehatan Republik Indonesia memperbaharui tatalaksana diare yang
dikenal dengan istilah LINTAS Diare (Lima Langkah Tuntaskan Diare). Muatannya
ada lima yaitu: pemberian oralit segera, obat zink minimal 6 bungkus/penderita diare,
dan untuk 10 hari berturut-turut untuk semua kasus diare (pencegahan diare
berulang), teruskan pemberian ASI dan makanan, antibiotik hanya boleh dipakai
pada diare berdarah, serta edukasi kepada pasien untuk beberapa hal penting terkait
penyakit dan penatalaksanaannya (Kemenkes RI, 2015). Upaya lain yang dilakukan
pemerintah dalam menurunkan angka kesakitan dan angka kematian karena diare
adalah dengan menetapkan Case Fatality Rate (CFR) pada saat Kejadian Luar Biasa
(KLB) kurang dari 1 jumlah kasus diare sebanyak 285 per 1.000 penduduk yang
tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia KEPMENKES RI
No: 1216 Tahun 2001 Edisi ke-5 tahun 2007. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang mencuci tangan dengan
kejadian diare pada balita di Puskesmas Minggir Kabupaten Sleman Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan metode
cross sectional. Tekhnik pengambilan sampel menggunakan non probability
sampling dengan metode accidental sampling dan di hitung dengan jumlah sampel
dalam penelitian ini adalah 81 orang. Alat pengumpulan data penelitian ini
menggunakan kuesioner. Hasil uji statistik menggunakan Chi-Square di dapatkan
hasil p-value = 0,000 (p-value < 0,05), hasil uji statistik didapatkan ada hubungan
pengetahuan ibu tentang mencuci tangan dengan kejadian diare pada balita di
Puskesmas Minggir Sleman. Terdapat hubungan pengetahuan ibu tentang mencuci
tangan dengan kejadian diare pada balita. Tenaga kesehatan di Puskesmas perlu
meningkatkan kegiatan pemberian informasi dan penyuluhan kepada ibu balita
mengenai penyakit diare serta pencegahannya
Faktor Ibu Yang Berhubungan Dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) memiliki efek jangka panjang dan jangka
pendek. Efek jangka pendek yang seringkali terjadi pada BBLR yaitu hipotermi,
hipoglikemia, dan masalah pemberian ASI yang memberikan peluang kematian
neonatal pada bayi BBLR delapan kali lebih besar dibandingkan bayi dengan berat
normal. Studi menyebutkan tiga faktor penyebab BBLR yaitu faktor ibu, faktor
janin, faktor plasenta. Diketahuinya Faktor Ibu yang Berhubungan dengan Kejadian
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Penelitian ini adalah penelitian literature
review dengan menggunakan jurnal. Pencarian jurnal dilakukan di portal jurnal
online di google scholar yang diterbit pada tahun 2010 - 2020 menggunakan
bahasa Indonesia, inggris dan fulltext. Berdasarkan 10 jurnal yang dikaji terdapat 7
jurnal menyebutkan bahwan faktor ibu seperti karakterisitik, status gizi, riwayat
penyakit, usia kehamilan, paritas memiliki hubungan dengan kejadian BBLR.
Namun terdapat 3 jurnal yang menyebutkan bahwa karakteristik ibu seperti Umur,
Pendidikan dan Pekerjaan tidak ada hubungannya dengan kejadian Berat Badan
Lahir Rendah (BBLR). Disimpulkan bahwa Faktor ibu yang berhubungan dengan
kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah karakteristik ibu, status gizi
yang kurang, riwayat penyakit (Anemia), Usia kehamilan (Prematur), Paritas (1
dan ≥ 4). Diharapkan ibu hamil sebaiknya rutin memeriksakan kehamilan minimal
4 kali selama hamil dan bagi tenaga kesehatan melakukan skrining kesehatan pada
ibu hamil
HUBUNGAN METODE KONTRASEPSI HORMONAL DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PADA WANITA USIA SUBUR (WUS) DI PUSKESMAS TEMPEL II
Keputihan adalah kondisi vagina saat mengeluarkan cairan atau lendir meneyerupai nanah.
Data menunjukan 75% wanita di Indonesia pasti mengalami keputihan.Salah satu faktor
yang melatar belakangi kejadian keputihan pada wanita usia subur (WUS) adalah
penggunaan kontrasepsi hormonal. Keputihan meningkat 50% dibandingkan dengan
wanita yang tidak memakai kontrasepsi hormonal. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan metode kontrasepsi hormonal dengan kejadian keputihan pada
wanita usia subur (WUS) di Puskesmas Tempel II. Jenis penelitian kuantitatif dengan
pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan quota sampling.
Sampel pada penelitian ini sebanyak 40 wanita usia subur yang menjadi akseptor aktif KB
hormonal. Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data menggunakan kuisioner yang
telah dilakukan uji validitas menggunakan rumus korelasi person product moment dan
reliabilitas menggunakan rumus splid half. Metode analisa yang digunakan yaitu analisis
univarit dan bivariat. Data yang diperoleh diolah secara stastik dengan menggunakan
rumus chi square. Berdasarkan hasil analisa diperoleh bahwa dari 40 responden penelitian
menunjukan 47,5% responden menggunakan KB suntik, 27,5% responden menggunakan
KB pil dan 25% responden menggunakan KB implant. Dari seluruh responden pada
penelitian ini menunjukan 70% mengalami keputihan dan 30% tidak mengalami keputihan.
Terdapat hubungan antara metode kontrasepsi hormonal dengan kejadian keputihan pada
wanita usia subur (WUS) di Puskesmas Tempel II dengan nilai p value 0,012 (nilai <0,05),
keeratan hubungan termasuk kategori sedang nilai C=0,425 (0,40-0,599). Wanita usia
subur (WUS) yang menjadi akseptor aktif kontrasepsi hormonal di Puskesmas Tempel II
diharapkan bisa mempertimbangkan untuk memilih metode kontrasepsi yang sesuai