DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN KECUKUPAN ASUPAN GIZI MAKRO, STATUS PENYAKIT INFEKSI, STATUS BBLR DAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 12-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NANGGULAN KULON PROGO
Latar Belakang: Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita dan bayi
dibawah lima tahun akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek
untuk usianya. Salah satu faktor yang menyebabkan stunting ialah kecukupan asupan
gizi makro, status penyakit infeksi, BBLR dan pemberian ASI eksklusif.
Tujuan: Mengetahui hubungan kecukupan asupan gizi makro, status penyakit infeksi,
status BBLR dan ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita usia 12-59 bulan
di Wilayah Kerja Puskesmas Nanggulan Kulon Progo Yogyakarta.
Metode Penelitian: Jenis penelitian ini menggunakan studi korelasi dengan pedekatan
cross sectional. Alat yang digunakan yaitu Kuesioner dan buku KIA. Teknik
pengambilan sampel menggunakan teknik Random sempling. Berjumlah 83
responden. Analisis statistik menggunakan uji Chi Square.
Hasil penelitian: Hasil penelitian ini didapatkan bahwa balita 24-59 bulan diwilayah
kerja Puskesmas Nanggulan Kulon Progo yang mengalami stunting sebanyak 32% dan
yang normal sebanyak 67,5%. Dalam penelitian ini didapatkan asupan gizi makro baik
dengan 97,6% kurang 2,4 %, penyakit infeksi 100,0% (normal), BBLR 19,3% tidak
BBLR 80,7% dan diberikan ASI Ekaklusif 2,4% dan tidak ASI eksklusif 97,6 %. Hasil
penelitian uji Chi-Square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara kecukupan asupan gizi makro (p-value1,000), status penyakit infeksi,
status BBLR( p-value 1,000) dan ASI eksklusif (p-value 0,103) dengan kejadian
stunting dengan keeratan rendah.
Simpulan dan saran: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kecukupan
asupan gizi makro (p-value 1,000), status penyakit infeksi, status BBLR (p-value
1,000) dan ASI eksklusif (p-value 0,103) dengan kejadian stunting. Diharapkan
penelitian ini dapat menjadi informasi tambahan bagi responden dan ibu dan
puskesmas untuk meningkatkan promosi kesehatan atau pencegahan terhadap stunting
agar terciptanya derajat kesehatan
HUBUNGAN KOMORBIDITAS DENGAN TINGKAT MORTALITAS PADA PASIEN SEPSIS DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
Latar Belakang: Sepsis menjadi penyebab utama kematian akibat infeksi. Adanya
komorbiditas pada pasien sepsis akan meneyababkan imunosupresi, dan dapat
mempersulit tubuh untuk mengatasi infeksi primer, bahkan akan meningkatkan risiko
infeksi sekunder yang akan memperburuk kondisinya dan bahkan bisa menyebabkan
mortalitas.
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komorbiditas dengan
tingkat mortalitas pada pasien sepsis di Rumah Sakit PKU Muhammadyah Yogyakarta.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus kontrol dengan menggunakan
pendekatan waktu Restropektif. Sampel diambil dari tahun 2017 – Juli 1010 berjumlah 74
dan merupakan pasien sepsis dan pernah dirawat inap di Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta. Pada penelitian ini terbagi menjadi dua bagian diagnosa
dimana sepsis menjadi diagnosa primer dan diagnosa sekunder. Pengambilan sampel
dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan checklist. Analisa data
non-parametrik menggunakan uji statistik Chi Square.
Hasil: Hasil penelitian ini menunjukan tingkat mortalitas dari tahun 2017 sampai Juli
2020 tinggi (64,9%), mayoritas mortalitas sepsis berdasarkan diagnosa yaitu pada
diagnose sekunder dengan jumlah responden sebanyak 50 dengan 29 responden (50,0%)
meninggal dan 21 responden (42,0%) tidak meninggal, dan memiliki komorbiditas rendah
sebanyak (94,6%). Hasil analisis dan uji statistik menunjukan tidak adanya hubungan
antara komorbiditas dengan tingkat mortalitas dengan hasil p-value 0,130 (p=0,05).
Simpulan dan Saran: Tidak ada hubungan antara komorbiditas dengan tingkat mortalitas
pada pasien sepsis di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Saran bagi Rumah
Sakit adalah tetap mempertahankan penyimpanan dokumentasi dan meningkatan
pencantatan dokumentasi dari segi tulisan maupun yang lainnya
LITERATUR REVIEW HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN KANKER PAYUDARA YANG MENJALANI KEMOTERAPI
Latar Belakang : Pasien kanker payudara dalam upaya penyembuhannya dengan melakukan terapi pengobatan, salah satu terapi yang diberikan yaitu dengan terapi kemoterapi. Pengobatan kemoterapi memiliki banyak efek samping secara fisiologis seperti gangguan harga diri, seksualitas, dan kesejahteraan psikologis pasien seperti kecemasan. Pertimbangan yang perlu diperhatikan pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi adalah kecemasan, efek kecemasan pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi akan menyebabkan penurunan pada aspek kualitas hidup. Kualitas hidup yang baik sangat penting agar pasien dapat meningkatkan status kesehatan yang baik. Penulis melakukan litertaur rivew karena adanya perbedaan dalam setiap penelitian sebelumnya sehingga mendapatkan informasi yang lebih relevan.
Tujuan : Mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas hidup pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi.
Metode : Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah Literatur Review. Pencarian literatur menggunakan Google Schoolar dan PubMed.
Hasil : Berdasarkan hasil artikel yang penulis analisa didapatkan bahwa tingkat kecemasan berhubungan dengan kualitas hidup pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi.
Simpulan dan Saran : Tingkat kecemasan dapat terjadi pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi karena adanya efek pengobatannya yang dapat mempengaruhi kehidupan pasien kanker payudara dari psiko-sosial. Untuk itu perawat diharapkan untuk melakukan skrining dan konseling klinik pada saat pasien melakukan pengobatan
HUBUNGAN AKTIFITAS FISIK DENGAN INDEKS MASA TUBUH (IMT) PADA MAHASISWA DALAM MASA COVID-19
Latar belakang : Penyebaran virus Covid-19 mengakibatkan banyak negara mengambil
kebijakan dengan membatasi perilaku sosial dengan Work From Home (WFH) yang
meningkatkan frekuensi keterpaparan layar dan perilaku menetap serta menurunkan
frekuensi aktifitas fisik baik pada anak, remaja, dewasa dan orang tua. Kurangnya
aktivitas fisik adalah salah satu penyebab meningkatnya angka obesitas pada mahasiswa
di negara maju dan berkembang. Menyebabkan terjadinya stress, ketidaknyamanan
(anxiety), serta meningkatkan resiko terjadinya penyakit tidak menular.
Tujuan : Mengetahui hubungan hubungan aktivitas fisik dengan IMT pada mahasiswa
dalam masa covid-19.
Metode : Penelitian kuantitatif dengan metode survey analitik menggunakan pendekatan
waktu cross-sectional. Total populasi 271 mahasiswa dengan sampel 158 orang diambil
menggunakan teknik Accidental Sampling. Uji statistik menggunakan Chi-square.
Variabel yang diteliti diantaranya aktivitas fisik, IMT, dan karakteristik mahasiswa
(usia, jenis kelamin, fakultas, domisili). Instrumen penelitian yang digunakan adalah
International Physical Activity Questionare (IPAQ), antopometri (BB dan TB), biodata
mahasiswa dan informed consent.
Hasil Penelitian : Dari total sampel, mahasiswa 27,8% tidak aktif secara fisik, dimana
11 100% mahasiswa obesitas merupakan mahasiswa yang tidak aktif. Sebanyak 155
mahasiswa 98,1% mengetahui manfaat aktifitas fisik dari TV 8,9% dan internet 88,6%.
Alasan tidak dilakukannya aktivitas fisik karena rasa malas 52,5%, tidak ada teman
19%, serta tidak ada waktu 12,7%. Hasil uji statistik Chi-square menunjukkan hubungan
yang signifikan antara aktifitas fisik dengan IMT (0,000 < 0,05). Tidak ada hubungan
antara karakteristik usia (0,630 > 0,05.), jenis kelamin (0,251 > 0,05), dan fakultas
(0,951 > 0,05) dengan aktivitas fisik pada mahasiswa dalam masa covid-19.
Kesimpulan : Ada hubungan aktifitas fisik dengan IMT pada mahasiswa dalam masa
covid-19.
Saran : Agar menjadi acuan dalam mengidentifikasi serta perencanaan upaya intervensi
yang tepat untuk menetapkan regulasi
NARRATIVE REVIEW PERBEDAAN PENGARUH OTAGO EXERCISE DAN SQUARE STEPPING EXERCISE TERHADAP KESEIMBANGAN DINAMIS PADA LANSIA
Latar Belakang : Meningkatnya jumlah penduduk lansia dan umur harapan hidup
berdampak besar terhadap kesehatan masyarakat, salah satunya yaitu dampak dari
penurunan keseimbangan dinamis, dengan adanya penurunan tersebut akan
berpengaruh pada keadaan postural dan kemampuan lansia dalam menjaga
keseimbangan tubuh. Sehingga lansia mudah mengalami resiko jatuh. 30-50% lansia
berusia 60 tahun ke atas mengalami jatuh setiap tahunnya. Untuk menanggulangi
resiko jatuh adanya intervensi latihan Otago Exercise dan Square Stepping
ExerciseTujuan : Untuk mengetahui apakah ada pengaruh Otago Exercise dan Square
SteppingExercise terhadap keseimbangan dinamis pada lansia. Metode : Penelitian ini
menggunakan penelitian Narrative Review. Pencarian jurnal dilakukan di portal jurnal
online seperti PubMed, PEDro, Google Scholar dan Science Derect kriteria inklusi
dalam penelitian ini full text tentang intervensi Otago Exercise dan Square Stepping
Exercise, di terbitkan minimal dalam kurun waktu 2010-2020, dan metode yang
digunakan adalah Eksperimental Study, Randomize Control Trial dan masing-masing
alat yang digunakan. Hasil : Hasil riview 10 jurnal Otago Exercise bahwa ada
peningkatan keseimbangan dinamis pada lansia dari masing-masing alat yang
digunakan. Hasil review 10 jurnal Square Stepping Exercise bahwa ada peningkatan
keseimbangan dinamis pada lansia dari masing-masing alat yang digunakan
Kesimpulan : Otago Exercise dan Square Stepping Exercise sama-sama mempunyai
pengaruh dalam meningkatkan keseimbangan dinamis pada lansia.
Saran :Otago Exercise dan Square Stepping Exercise dapat diberikan sebagai
alternative intervensi untuk lansia yang mengalami gangguan keseimbangan dinamis
PERANCANGAN RUMAH BAHAGIA LANSIA YANG BERFOKUS KEPADA KESEHATAN DENGAN PENDEKATAN HEALING GARDEN DI SLEMAN,YOGYAKARTA
Yogyakarta merupakan provinsi yang memiliki tingkat lanjut usia (lansia) tertinggi di
Indonesia dengan jumlah 13,97%. Memasuki usia lanjut seseorang akan mengalami
beberapa perubahan seperti perubahan fisik, psikologi, social dan lingkungan yang dimana
dapat berpengaruh pada aktifitas sehari-hari lansia tersebut. Dengan adanya permasalahan
tersebut pemerintah Yogyakarta khususnya Kabupaten Sleman akan menyediakan satu
wadah yang diberinama Rumah bahagia Lansia. Rumah bahagia Lansia merupakan
bangunan yang dapat mewadahi aktifitas-aktifitas lansia dari pagi hingga sore hari dan
diharapkan dapat mampu membantu proses penyembuhan untuk penyakit yang diderita
oleh lansia tersebut khususnya tulang. Untuk menciptakan Rumah Bahagia Lansia yang
sehat secara optimal maka dibutuhkan bagian luar bangunan yang dapat berfungsi sebagai
area penyembuhan dan tempat lansia untuk melakukan kegiatan-kegiatan atau aktivitas
seperti berkebun dan berolahraga. Penerapan fungsi luar bangunan ini menggunakan
konsep Healing Garden
Perancangan Instalasi Gawat Darurat Terpadu Pada Kawasan PKU Muhammadiyah Gamping
Merespon permasalahan yang ada pada Instalasi Gawat Darurat PKU Muhammadiyah Gamping saat
ini yaitu meningkatnya jumlah pasien dan kurangnya kebutuhan ruang Instalasi Gawat Darurat
(IGD) pada PKU Muhammadiyah Gamping, sehingga dibutuhkan perluasan pada Instalasi Gawat
Darurat tersebut. Perancangan tersebut menggunakan konsep “Integrated Space” yang tujuannya
untuk merancang sebuah ruangan dengan efektif dan berintegrasi satu sama lain, sesuai dengan
kebutuhan dan standar perancangan ruang, selain itu juga memudahkan sirkulasi dan aktifitas
penggunanya. Instalasi Gawat Darurat beroperasi dan menerima pasien darurat selama 24 jam, oleh
karena itu penggunaan listrik pada bangunan tersebut sangatlah banyak, sehingga penggunaan solar
panel untuk menyimpan energi yang nantinya dapat disimpan untuk kebutuhan bangunan tersebut
HUBUNGAN DUKUNGAN PASANGAN DENGAN MOTIVASI KERJA BURUH
Latar belakang : Di Indonesa pekerja buruh identik dengan istilah pekerja
kasar, sehingga hal tersebut dapat memicu stigma masyrakat bahwa pekerja
buruh merupakan pekerja rendahan. Umumnya buruh adalah mereka yang
bekerja pada usaha seseorang dan diberikan imbalan oleh orang yang memiliki
usaha tersebut, tentu sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Maka
sebenarnya buruh tidak jauh berbeda dengan tenaga kerja lainnya, seperti
karyawan, misalnya. Melihat persepsi negatif yang timbul, tentunya pekerja
buruh sangat membutuhkan sebuah dukungan dari orang-orang terdekat yang
dapat meningkatkan motivasi kerja buruh. Seorang pasangan merupakan
subyek terdekat bagi buruh yang sudah menikah, sehingga dukungan pasangan
dapat menjadi kebutuhan primer bagi buruh dalam meningkatkan motivasi
kerja.
Tujuan : Literatur review ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan
pasangan dengan motivasi kerja buruh.
Metode literature review : literature review ini menganalisis isi jurnal.
Terdapat 5 jurnal subyek dewasa dengan kata kunci: dukungan pasangan, dan
motivasi kerja buruh.
Hasil penelitian : Hasil literature review berdasarkan hasil analisis kelima
jurnal, dapat ditemukan hal penting terkait hubungan dukungan pasangan
dengan motivasi kerja. Dukungan pasangan akan mengurangi tekanan kerja
sehingga motivasi kerja akan meningkat.
Simpulan : Berdasarkan hasil literature review menunjukkan adanya
hubungan antara dukungan pasangan dengan motivasi kerja buruh. Dukungan
pasangan merupakan faktor yang dapat mengurangi tekanan kerja sehingga
motivasi kerja akan meningkat. Buruh perempuan lebih membutuhkan
motivasi kerja karena mereka mengalami konflik pekerjaan-keluarga. Buruh
laki-laki lebih mudah mendapatkan motivasi karena posisi laki-laki sebagai
pencari nafkah keluarga.
Saran : keperawatan jiwa agar memiliki caring terkait dengan masalah
kesehatan psikologis para pekerja khususnya di Indonesia. Salah satunya
dengan cara melakukan penelitian/melanjutkan penelitian sebelumnya. Sebagai
bentuk upaya menambah, atau bahkan menggali pengetahuan
PERBANDINGAN STRES KERJA GURU SEKOLAH DASAR PADA SISTEM PEMBELAJARAN FULLDAY DAN HALFDAY DI KECAMATAN GAMPING
Latar Belakang : Stres kerja merupakan suatu kondisi ketegangan seseorang yang akan
berpengaruh pada perubahan emosi, pola pemikiran, serta kondisi fisik seseorang. Stres kerja
muncul akibat adanya perbedaan antara kemampuan individu dengan tuntutan pekerjaan yang
ada. Stres kerja dapat menimbulkan gejala fisiologis, gejala perilaku bahkan gejala
psikologis. Stres kerja dapat terjadi pada guru dengan sistem pembelajaran yang berbeda
yakni sistem pembelajaran fullday dan halfday.
Tujuan : Mengetahui Perbedaan Stres Kerja Guru Sekolah Dasar Pada Sistem Pembelajaran
Fullday Dan Halfday Di Kecamatan Gamping.
Metode : Penelitian ini deskriptif komparasi dengan pendekatan cross sectional. Uji statistik
menggunakan uji beda Mann-Whitney. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive
sampling sebanyak 96 responden yang terbagi dalam dua kelompok, kelompok guru sekolah
sistem pembelajaran fullday 54 orang dan kelompok guru sekolah sistem pembelajaran
halfday 45 orang.
Hasil Penelitian : Sebagian besar guru memiliki stres sedang. Guru fullday 82,3% dan guru
halfday 57,8%. Hasil uji statistik Mann-Whitney didapat r=0,008 dan taraf signifikan 0,05 pvalue = 0,008 < 0,05. Hasil statistik menunjukkan terdapat perbedaan antara stres kerja guru
sekolah dasar pada sistem pembelajaran fullday dan halfday.
Simpulan dan Saran : Terdapat perbedaan antara stres kerja guru sekolah dasar pada sistem
pembelajaran fullday dan halfday di Kecamatan Gamping. Stres kerja guru pada sistem
pembelajaran fullday lebih tinggi dibandingkan dengan guru pada sistem pembelajaran
halfday.
Disarankkan para guru dapat memanajemen pola koping, sehingga dapat meminimalisir
terjadinya stres kerja
PERBEDAAN FARTLEK TRAINING DAN INTERVAL TRAINING TERHADAP PENINGKATAN KEBUGARAN PADA REMAJA : LITERATURE REVIEW
Latar Belakang : Kebugaran adalah hal yang paling penting yang dibutuhkan
oleh tubuh setiap individu. Tubuh yang bugar akan membantu seseorang dalam
menyelesaikan tugas dan pekerjaannya tanpa rasa malas dan lelah yang
berlebihan. Tingkat kebugaran fisik Indonesia adalah 4,07% untuk kategori baik.
Ini berarti lebih dari 95% kondisi kebugaran jasmani masyarakat Indonesia kurang
baik, atau bahkan sangat buruk. Gambaran kondisi kebugaran jasmani pelajar
sesuai dengan survey yang dilakukan oleh pusat kebugaran jasmani Nasional
tergambar bahwa tingkat kebugaran fisik siswa SD, SMP, SMA atau Sederajat
yang memiliki kategori sangat baik adalah 0%, kategori baik 7%, sementara
sisanya adalah kategori sedang. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui perbedaan pengaruh fartlek training dan interval training terhadap
peningkatan kebugaran pada remaja. Metode : Metode penelitian ini adalah
penelitian literature review. Pencarian jurnal dilakukan dibeberapa database yaitu
google schoolar, Pubmed, dan pedro. Hasil : Penelusuran jurnal didapatkan
sebanyak 5 jurnal fartlek training dan 5 jurnal interval training untuk dilakukan
review dalam penelitian ini. Kesimpulan : Ada perbedaan pengaruh antara fartlek
training dan interval training terhadap peningkatan kebugaran pada remaja.
Dimana fartlek training lebih berpengaruh dalam meningkatkan kebugaran pada
remaja dengan rata-rata selisih 57.262, sedangkan interval training rata-rata
selisih adalah 23.616. Saran : Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat
menambah referensi pada fisioterapis dalam menentukan program latihan yang
tepat untuk meningkatkan kebugaran