DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN PERAN ORANG TUA SEBAGAI ROLE MODEL DENGAN PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN (CTPS) PADA ANAK PRASEKOLAH DI BA AISYIYAH KADILANGGON, WEDI, KLATEN
Latar belakang: Perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS) merupakan salah satu program perilaku hidup bersih sehat (PHBS) di pemerintahan Indonesia yang akan ditanamkan sejak dini terutama anak-anak, rendahnya CTPS memungkinkan anak mengalami penyakit diare, influenza, infeksi dan ispa. Perilaku CTPS anak tidak terlepas dengan pentingnya peran orang tua sebagai role model dalam memberi contoh, arahan dan fasilitas sehingga CTPS dapat diterapkan dalam keseharian.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan peran orang tua sebagai role model dengan perilaku CTPS pada anak prasekolah di BA Aisyiyah Kadilanggon, Wedi, Klaten.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, desain korelasi dengan pendekatan waktu cross sectional. Teknik sampling menggunakan purposive sampling sebanyak 128 responden. Instrument menggunakan kuesioner dan checklist observasi dengan data primer. Teknik analisis menggunakan korelasi kendall’s Tau.
Hasil: Hasil penelitian ini terdapat 64 orang tua memiliki peran sebagai role model kategori baik sebanyak 43 (67,2%), cukup sebanyak 19 (29,7%) dan kurang sebanyak 2 (3,1%). Pada 64 anak yang memiliki perilaku CTPS kategori baik sebanyak 59 (92,2%), cukup sebanyak 5 (7,8%). Signifikan p-value sebesar 0,012<0,05 menunjukkan andanya hubungan yang signifikan antara peran orang tua sebagai role model dengan perilaku CTPS pada anak prasekolah di BA Aisyiyah Kadilanggon, Wedi, Klaten.
Simpulan dan Saran: Terdapat hubungan antara peran orang tua sebagai role model dengan perilaku CTPS pada anak prasekolah. Bagi orang tua diharapkan dapat meningkatkan perannya sebagai role model dalam CTPS 6 langkah sehingga anak dapat mempraktekan dengan benar dan menjadi kebiasaan
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TUBERKULOSIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GAMPING 1 SLEMAN YOGYAKARTA
Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Jumlah pasien TB di Indonesia urutan ke-2 di dunia setelah India, 10% dari total jumlah pasien TB di dunia. TB di DIY mencapai 1.141 orang. Tahun 2017 tercatat ada 428 penderita TB positif di Kabupaten Sleman. Pasien yang peneliti jumpai menyampaikan bahwa dukungan dari keluarga sangat di perlukan, agar pasien lebih patuh dan dapat mencapai pengobatan yang maksimal.
Tujuan: Diketahuinya hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien Tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Gamping 1 Sleman Yogyakarta.
Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 40 responden. Sampel yang diambil sebanyak 40 responden dengan teknik total sampling. Metode pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan analisis univariat dan bivariat. Analisis bivariat menggunakan derajat kepercayaan 95% atau nilai p ≤ 0,05.
Hasil: Ada hubungan dukungan keluarga yang baik dengan kepatuhan minum obat, dengan chi square sebesar 0,000 ( 0,000 ≤ 0,05 ).
Simpulan dan Saran: Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien tuberkulosis di wilayah puskesmas Gamping 1 Sleman. Diharapkan responden lebih aktif lagi dalam proses pemeriksaan setiap minggunya dan tidak lupa dalam mengkonsumsi obat, agar proses penyembuhan sesuai dengan target
HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN PERILAKU CARING PERAWAT PELAKSANA DI RS PKU MUHAMMADIYAH GAMPING
Latar Belakang:Perilaku caring dalam intervensi keperawatan sangat penting karena perilaku ini adalah pengalaman penting bagi pasien selama perawatan di rumah sakit. Perawat harus melayani pasien dengan sepenuh hati dan memerlukan kemampuan untuk memperhatikan orang lain, keterampilan intelektual, tehnikal dan interpersonal yang tercermin dalam perilaku caring. Penerapan caring dipengaruhi oleh kecerdasan spiritual, salah satunya yaitu kebiasaan membaca al-qur’an. Kebiasaan membaca al-qur’an merupakan kemampuan untuk memberi makna spiritual terhadap pemikiran, perilaku dan kegiatan.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan membaca al-qur’an dengan perilaku caring perawat pelaksana di RS PKU Muhammadiyah Gamping
Metodologi: Metode penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan rancangan correlational. Pendekatan waktu dengan menggunakan cross-sectional. Teknik samping yang digunakan adalah purposive sampling, jumlah responden sebanyak 69 perawat pelaksana. Uji statistic menggunakan Kendall tau.
Hasil Penelitian: Hasil uji statistik menggunakan Kendall tau dengan nilai koefisien korelasi () = 0,032 dan signifikan sebesar 0,779> 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa secara statistik tidak ada hubungan antara kebiasaan membaca al-qur’an dengan perilaku caring perawat pelaksana di RS PKU Muhammadiyah Gamping.
Simpulan dan Saran: Tidak ada hubungan antara kebiasaan membaca al-qur’an dengan perilaku caring perawat pelaksana di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Disarankan kepada perawat untuk membiasakan diri membaca al-qur’an sehingga perawat dapat memaknai hidup dan pekerjaanya sebagai pekerjaan yang mulia bukan hanya sekedar rutinitas tetapi dapat mengaitkannya atas dasar ibadah
LITERATUR REVIEW HUBUNGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DENGAN BURNOUT PERAWAT DI RUMAH SAKIT
Latar Belakang: Perawat merupakan bagian dari pemberi layanan keperawatan secara professional dalam tindakannya dilandasi dengan nilai-nilai professional keperawatan. Perawat sebagai tenaga kesehatan memiliki tuntutan kerja yang tinggi, perawat harus pandai dalam mengatur diri, baik dari segi sikap maupun emosi. Munculnya situasi yang tidak diinginkan dapat menuntut perawat dalam menghadapi berbagai masalah sehingga dapat membuat perawat rentan mengalami stress dalam bekerja yang berdampak pada penurunan fisik maupun emosional dan kelelahan mental sehingga mengakibatkan perawat mengalami burnout.
Tujuan: Tujuan penyusunan review untuk mengetahui hubungan komunikasi interpersonal dengan burnout perawat dirumah sakit.
Metode: Pencarian jurnal menggunakan database Google Schoolar dan Portal garuda dengan kata kunci komunikasi interpersonal, burnout dan perawat, sebanyak 5 jurnal yang dipilih untuk di review.
Hasil: Berdasarkan hasil dari studi literatur jurnal yang sudah dianalisis, menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara komunikasi interpersonal dengan burnout perawat.
Simpulan dan Saran: Terdapat hubungan antara komunikasi interpersonal dengan burnout perawat. Diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat menambahkan lebih banyak jurnal nasional dan internasional
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN MOTIVASI TERAPI PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK (PGK) YANG MENJALANI HEMODIALISIS (HD) DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
Latar Belakang: Penyakit Ginjal Kronik (PGK) adalah penurunan fngsi ginjal (filtrasi glomerulus) secara perlahan yang mengakibatkan kemampuan ginjal untuk mengeluarkan hasil metabolisme terganggu. Penyakit ini termasuk kedalam sepuluh besar penyakit yang menyebabkan kematian serta terjadi peningkatan prevelensi sebesar 0,38% di Indonesia. Hemodialisis (HD) merupakan salah satu terapi yang harus dilakukan. Motivasi merupakan faktor yang berpengaruh untuk mendorong untuk rutin menjalankan HD.
Tujuan: Mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan motivasi terapi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif korelasional menggunakan metode pendekatan cross sectiona. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. sampel berjumlah 65 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dukungan keluarga dan motivasi terapi. Analisis data menggunakan Kendall Tau.
Hasil: Hasil penelitian tidak terdapat hubungan anatara dukungan keluarga dengan motivasi terapi pada pasien penyakit ginjal konik yang menjalani hemodialisis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dengan menggunakan analisis Kendall Tau diperoleh nilai koefisien p-value 0,441. Nilai koefisien p-value sebesar 0,441 > 0,05 artinya hubungan bersifat negatif.
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan anatara dukungan keluarga dan motivasi terapi pada pasien ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakart. Diharapkan peneliti selanjutnya dapat meneliti beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi terapi pada pasien penyakit ginjal kronik
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN KANKER YANG MENGIKUTI KEMOTERAPI DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
Latar belakang : Penderita kanker yang menjalani pengobatan kemoterapi
umumnya memiliki banyak efek samping fisiologis yang bisa menimbulkan depresi
dan berdampak negatif terhadap kesejahteraan pasien sehingga diperlukan dukungan
keluarga yang baik untuk memecahkan masalah, diperoleh dari keluarga yang
berperan dalam adaptasi penderita kanker.
Tujuan : Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tingkat depresi
pada pasien kanker yang mengikuti kemoterapi.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian quantitative correlation dengan
pendekatan penelitian menggunakan cross sectional. Pengambilan sampel
menggunakan teknik accidental sampling. Sampel berjumlah 52 responden.
Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan analisis datamenggunakan uji
Kendalls tau.
Hasil :Hasil penelitian terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat
depresi pada pasien kanker yang mengikuti kemoterapi di RS PKUMuhammadiyah
Yogyakarta dengan harga koefisien sebesar p-value sebesar 0,00<0,05 dan memiliki
keeratan hubungan sebesar 1,000 artinya memiliki keeratanhubungan sangat kuat.
Simpulan dan saran :Ada hubungan antar dukungan keluarga dengan tingkat
depresi pada pasien kanker yang mengikuti kemoterapi di RS PKU
MuhammadiyahYogyakarta. Diharapkan peneliti selanjutnya meneliti beberapa
faktor yangmempengaruhi tingkat depresi pada pasien kanker yang mengikuti
kemoterapiterutama faktor demografi dan pendidikan. Penelitian ini
menyarankanuntuk responden menjalin komunikasi yang baik dengan keluarga
NARRATIVE REVIEW: PERBEDAAN PEMBERIAN BRIDGING EXERCISE DAN INFRA RED DENGAN STRETCHING HAMSTRING DAN INFRA RED UNTUK MENGURANGI NYERI LOW BACK PAIN MYOGENIK PADA LANSIA
Latar Belakang : Lansia adalah fase yang pasti terjadi pada setiap manusia.
Pada lansia terjadi penurunan kondisi fungsional pada tubuh, sehingga dapat dengan
mudah terserang penyakit. Salah satu penyakit yang biasa diderita adalah low back
pain (LBP) myogenik. LBP disebabkan karena terjadi spasme pada otot, terjadi cedera
pada tulang belakang, atau terjadi karena ada kelainan pada tulang belakang.
Fisioterapi dapat memberikan penanganan untuk mengurangi LBP myogenik pada
lansia berupa pemberian exercise seperti bridging exercise dan stretching hamstring
dan menggunakan alat modalitas seperti Infra Red (IR). Tujuan: untuk mengetahui
pengaruh bridging exercise dengan stretching hamstring dan infra red untuk
mengurangi nyeri LBP pada lansia. Metode: metode penelitian ini adalah penelitian
Narrative Review. Pencarian jurnal dilakukan di portal jurnal online seperti Google
Scholar dan Scincedirect. Hasil penelusuran jurnal yang didapat berjumlah 10 junal
yang meliputi, 2 jurnal mengenai faktor- faktor yang dapat mempengaruhi LBP, 4
jurnal bridging exercise dan IR, dan 4 jurnal stretching hamstring dan IR. Hasil:
didapatkan hasil adanya penurunan nyeri terhadap LBP pada bridging exercise dan IR
dengan rata- rata 3,53 dengan stretching hamstring dan IR dengan rata- rata 1,70,
sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadinya penurunan nyeri pada LBP.
Kesimpulan :adanya perbedaan pemberian bridging exercise dengan stretching
hamstring dan IR terhadap nyeri pada LBP myogenik. Saran :untuk penelitian
selanjutnya sebaiknya melakukan penelitian dengan secara langsung agar diperoleh
data yang releven
PENGARUH PEMBERIAN KINESIOTAPING TERHADAP PENURUNAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENGRAJIN BATIK : NARRATIVE REVIEW
Latar belakang : Nyeri Punggung Bawah merupakan salah satu gangguan
muskuloskeletal akibat dari ergonomi yang salah. 90% kasus nyeri punggung bukan
disebabkan oleh kelainan organik, melainkan kesalahan posisi tubuh dalam bekerja.
Tujuan : Untuk mengetahui Apakah ada Pengaruh Pemberian Kinesiotaping
Terhadap Penurunan Nyeri Punggung Bawah: Narrative Review. Metode : Penelitian
ini menggunakan penelitian narrative review. Pencarian jurnal dilakukan di portal
jurnal online seperti Science Direct, Google Scholar, dan PubMed. Didapatkan
sebanyak 7 jurnal pada variabel terikat dan bebas yang kemudian dilakukan
skrinning sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil Penelitian : Dari 6 jurnal
pengaruh pemberian KT yang menunjukkan hasil yang signifikan dan 1 jurnal yang
menunjukkan hasil yang tidak signifikan serta terdapat 4 jurnal yang menunjukkan
hasil signifikan dalam penurunan nyeri dengan menggunakan instrumen pengukuran
nyeri VAS. Kesimpulan : Ada pengaruh pemberian kinesiotaping terhadap
penurunan nyeri punggung bawah. Saran : Pemberian kinesiotaping dapat diberikan
secara rutin sebagai alternatif intervensi untuk mengurangi keluhan nyeri punggung
bawah
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN RISIKO JATUH PADA LANSIA : NARRATIVE REVIEW
Latar belakang : Bertambahnya usia akan diiringi dengan timbulnya berbagai
penyakit, penurunan fungsi tubuh, keseimbangan tubuh dan risiko jatuh. Jatuh adalah
penyebab utama cedera atau kematian di seluruh dunia. Setiap tahun, orang
meninggal karena jatuh. Jatuh diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu usia, jenis
kelamin, indeks massa tubuh dan aktivitas fisik. STujuan : untuk mengetahui faktor
risiko jatuh pada lansia berdasarkan penyebab, karakteristik, sampel, dan intervensi.
Metodologi : Metode penelitian yang di gunakan yaitu narrative review dengan
beberapa pola salah satunya adalah dengan format PICO (population,
intervention/exposure, comparison, dan outcome). Penelusuran dilakukan melalui
PubMed dan Google Scholar dengan kata kunci. Hasil penelitian : Berdasarkan
hasil review 17 jurnal yang berasal dari 14 negara menyebutkan bahwa faktor risiko
jatuh pada lansia disebutkan yaitu Indeks Massa Tubuh (IMT), jenis kelamin,
aktivitas fisik, takut jatuh, penyakit yang diderita, penggunaan obat berlebihan,
riwayat jatuh, dan perokok. Kesimpulan: Dari 14 negara faktor risiko tertinggi
disebutkan yaitu indeks massa tubuh (IMT) dan aktivitas fisik berada di urutan ketiga
tertinggi disebutkan
PERENCANAAN ECO SMART HOSPITAL DI YOGYAKARTA
Kesehatan merupakan bagian penting bagi semua orang untuk menjalankan
aktivitas-nya, seperti bekerja, belajar dan bermain. Karena itu, penyediaan sarana
dan prasarana kesehatan yang berkualitas sangat diperlukan untuk memberikan
pelayanan yang baik bagi masyarakat. Salah satu pelayanan kesehatan yang harus
disediakan untuk menunjang kesehatan masyarakat adalah rumah sakit. Menurut
UU RI No. 44 Tahun 2009, rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan
yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang
menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat.Issue Kesehatan
Indonesia yang di era modern dan Potensi pertumbuhan eksponensial dan
peningkatan kemampuan teknologi baru dalam kedokteran, perkembangan IT yang
cepat, pengembangan dan implementasi ide-ide revolusioner selama beberapa tahun
terakhir telah menandai prospek pembentukan model perawatan kesehatan yang
sangat berbeda. Saat ini, perawatan kesehatan dianggap sebagai salah satu bidang
prioritas pembangunan di banyak negara di dunia. Tren utama adalah mencari
peluang yang menjanjikan di bidang sosial dan ekonomi. Perencanaan ini
menggunakan konsep eco smart hospital dengan indikator konsep smart dalam
bidang, Circulation, Energy, Technology, Waste serta menggunakan pendekatan
Ecology yang menjadi referensi solusi arsitektur Rumah sakit yang memungkinkan
meminimalisir terjadinya pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan
Lingkungan rumah sakit merupakan salah satu aspek yang juga perlu diperhatikan
dan juga perlu dikelola dengan baik. Untuk itu rumah sakit harus berevolusi dan
terus meningkatkan performa dalam bidang pelayanan kepada pasien maupun
pengunjung maupun terhadap lingkungan sekitar sehingga terciptanya rumah sakit
demi menjawab permasalahan kesehatan dan lingkungan