DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
STUDI LITERATUR: PERTUMBUHAN BAKTERI PADA MEDIA ALTERNATIF PENGGANTI NUTRIENT AGAR
Latar Belakang: Nutrient Agar (NA) termasuk jenis media yang paling umum
digunakan untuk pertumbuhan sebagian besar bakteri. Pertumbuhan bakteri
menggunakan media NA memerlukan biaya yang cukup mahal, mencapai Rp
500.000,- hingga Rp 1.500.000,-. Mahalnya harga media NA disebabkan karena
media sudah teruji secara klinis untuk pertumbuhan bakteri. Harga media NA
yang cukup mahal mendorong beberapa peneliti melakukan penelitian terkait
media alternatif pengganti Nutrient Agar yang berasal dari sumber alam. Tujuan:
Studi literatur ini bertujuan untuk meneliti pertumbuhan bakteri pada media
alternatif serta menganalisis perbedaan pertumbuhan bakteri pada media alternatif
tersebut. Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah studi
literatur. Penelusuran literatur menggunakan metode PICO pada database Google
Scholar. Jurnal diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Selanjutnya
jurnal dianalisis, disintesis, dibahas dan disimpulkan. Hasil: Media alternatif yang
digunakan pada literatur tersebut bersumber dari karbohidrat, protein dan sayuran.
Media alternatif dari sumber karbohidrat berasal dari bengkuang, umbi kuning,
umbi ungu, sedangkan media alternatif dari sumber protein berasal dari limbah
cair tahu, kacang hijau, koro benguk, kacang kedelai, tauge. Media alternatif dari
sumber sayuran berasal dari wortel, tomat, kubis, labu, tangkai bunga kol, kulit
jeruk, kulit kentang. Berdasarkan analisis literatur, terdapat pertumbuhan bakteri
pada media alternatif dari semua sumber alam. Bakteri pada masing-masing
sumber karbohidrat, protein dan sayuran menunjukkan pertumbuhan yang
berbeda, ketika dibandingkan dengan media kontrol Nutrient Agar. Kesimpulan:
Media alternatif dari sumber karbohidrat, protein maupun sayuran berpotensi
menjadi media pengganti Nutrient Agar. Saran: Penelitian lanjutan perlu
dikembangkan dengan mengelompokkan sumber media alternatif yang akan
digunakan, maupun bakteri yang akan ditumbuhkan pada media alternatif
KAJIAN LITERATUR GAMBARAN HISTOPATOLOGIS ORGAN SISTEM EKSKRESI TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI ASPIRIN
Latar Belakang: Aspirin atau asam asetilsalisilat adalah golongan Obat Anti
Inflamasi Non-Steroid (AINS) yang memiliki efek analgestik untuk
menghilangkan atau meringankan rasa nyeri, antipiretik untuk mengurangi
demam, dan antiinflamasi untuk mengurangi peradangan. Dibandingkan dengan
obat anti inflamasi non-steroid yang lain, penggunaan asam asetilsalisilat jauh
lebih banyak dan digolongkan dalam obat bebas. Begitu luas dan bebasnya
pengunaan asam asetilsalisilat (ASA) ini banyak digunakan tidak sesuai indikasi
maupun dosis dan lama pemberian. Pemberian aspirin yang berlebihan dapat
menyebabkan kerusakan pada organ tubuh, salah satunya organ sistem ekskresi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian aspirin dan
dosis aspirin yang dapat memengaruhi kerusakan jaringan histopatologis organ
sistem ekskresi tikus. Metode Penelitian: Metode yang digunakan yaitu metode
literature review yaitu dengan mengumpulkan sumber jurnal dengan
menggunakan metode PICO pada aplikasi Google, dan melalui beberapa database
seperti ScienceDirect dan PubMed. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa aspirin
menyebabkan kerusakan berupa degenerasi ringan hingga nekrosis atau kematian
sel pada organ sistem ekskresi tikus. Dosis aspirin yang mampu menyebabkan
kerusakan pada organ sistem ekskresi tikus yaitu mulai dari 50, 75, 100, 105, 140,
200 dan 600 mg/kg. Simpulan: Aspirin atau asam asetilsalisilat memberikan efek
atau pengaruh terhadap jaringan histopatologis organ sistem ekskresi tikus.
Semakin tinggi dosis yang diberikan, maka semakin besar peluang kerusakan
yang akan terjadi. Saran: Selanjutnya dilakukan penelitian eksperimental
mengenai bahan-bahan yang bersifat protektif terhadap kerusakan organ sistem
ekskresi yang diinduksi aspirin dengan variasi dosis dan lamanya pemberian
SYSTEMATIC REVIEW: ANALISIS KANDUNGAN SENYAWA AKTIF CARICA PUBESCENS TERHADAP INTERLEUKIN-8 PADA PENYAKIT DIARE
Latar Belakang: Penyakit diare masih menjadi persoalan global dengan derajat
kesakitan dan kematian yang tinggi di berbagai negara. Di Indonesia tahun 2013
tercatat bahwa diare masih merupakan penyebab kematian bayi yang terbanyak
yaitu 46%, sedangkan dalam penyebab kematian untuk golongan usia anak 1-4
tahun disebabkan oleh diare sebanyak 25%. Salah satu tanaman yang berpotensi
dijadikan sebagai sumber obat untuk penyakit diare adalah tanaman Carica
pubescens karena mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, tannin, fenol, dan
saponin. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui efek dan mekanisme pemberian
Carica pubescens sebagai imunomodulator terhadap interleukin-8 pada penyakit
diare serta untuk mengetahui efektivitasnya sebagai obat antidiare. Metode
penelitian: Metode yang digunakan adalah systematic review dengan
menggunakan data sekunder dari literatur yang memenuhi kriteria dan relevan
dengan masalah penelitian. Kriteria jurnal yaitu jurnal yang diterbitkan tahun
2011-2020, full text, dalam bahasa Inggris dan Indonesia, serta merupakan
penelitian eksperimental. Strategi penelusuran literatur dilakukan dengan
menggunakan kata kunci yang mengacu pada pola kerangka alat pencari yaitu
PICO (Population/Patient, Intervention, Comparison, Outcome) dengan kata
kunci yang digunakan adalah diare, Carica pubescens, dan interleukin-8. Hasil
Penelitian: Terdapat kandungan senyawa aktif flavonoid, alkaloid, tanin, saponin,
fenol, dan triterpenoid pada Carica pubescens yang berperan terhadap interleukin-
8 pada penyakit diare. Terdapat juga aktivitas antiinflamasi dengan adanya
senyawa flavonoid yang menghambat dan memodulasi pelepasan sejumlah
mediator inflamasi, serta efektif sebagai obat antidiare karena mampu berinteraksi
langsung pada bakteri dengan menghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare.
Simpulan: Kandungan Carica pubescens dapat berperan dalam aktivitas
interleukin-8 sebagai antiinflamasi dan antidiare. Saran: Diperlukan metode
penelitian lebih lanjut mengenai kandungan senyawa aktif Carica pubescens yang
berperan langsung terhadap interleukin-8 pada penyakit diare
ANALISIS HASIL KONTROL KUALITAS PEMERIKSAAN High Density Lipoprotein (HDL) DAN Low Density Lipoprotein (LDL) DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
Latar Belakang: Kontrol kualitas merupakan salah satu kegiatan dari pemantapan
mutu internal. Laboratorium memiliki peran penting dalam menegakan suatu
diagnosis, sehingga diharapkan memiliki mutu yang baik agar hasil dapat
dipertanggungjawabkan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
akurasi, presisi, dan grafik Levey-Jennings menggunakan aturan Westgard pada
analisis kontrol kualitas pemeriksaan high density lipoprotein (HDL) dan low
density lipoprotein (LDL) di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Metode:
Metode yang digunakan yaitu kuantatif dengan desain penelitian deskriptif analitik
dan pendekatan secara cross sectional. Hasil: Proses penelitian ini dilaksanakan di
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta sampel yang digunakan adalah kontrol HDL
dan LDL berupa data sekunder yang diambil pada bulan Oktober 2019-Maret 2020.
Kemudian data tersebut dianalisis dengan cara menghitung rerata (mean), Standard
Deviation (SD), akurasi, presisi, serta melihat grafik Levey-Jennings berdasarkan
aturan Westgard. Hasil penelitian ini menunjukan nilai akurasi HDL dan LDL yang
baik sedangkan nilai presisi HDL dan LDL ada beberapa bulan yang keluar dari
rentang, hal ini masih bisa dikatakan cukup baik karena mendekati nilai normal.
Kesimpulan: Penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa nilai
akurasi HDL dan LDL sangat baik, nilai akurasi berkisar antara 90-110%.
Sedangkan hasil presisi HDL dan LDL ada beberapa bulan yang keluar dari rentang
maksimal, nilai normal presisi HDL dan LDL maksimal 5%. Hasil evaluasi grafik
Levey-Jennings tidak ada nilai kontrol yang mengikuti aturan Westgard
SYSTEMATIC REVIEW: TROMBOSITOPENIA PADA PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN HEMODIALISA
Latar Belakang: Penyakit gagal ginjal kronik (GGK) dapat ditandai dengan adanya
kelainan struktural atau fungsional yang terjadi lebih dari 3 bulan. Pasien gagal ginjal
kronik dengan stadium tertentu diharuskan menjalani terapi pengganti ginjal seperti
hemodialisa. Pemeriksaan penunjang untuk pasien hemodialisa dapat dilakukan
dengan pemeriksaan hematologi seperti pemeriksaan jumlah trombosit. Penurunan
jumlah trombosit dibawah 150.000 permikroliter darah disebut dengan
trombositopenia. Penurunan jumlah trombosit sampai dengan terjadinya
trombositopenia sering terjadi pada pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisa.
Tujuan Penelitian: Mengetahui adanya trombositopenia pada penyakit gagal ginjal
kronik dengan hemodialisa. Metode Penelitian: Metode yang digunakan pada
penelitian ini yaitu Systematic Review dengan menggunakan metode PICO sebagai
metode dalam pencarian jurnal. Hasil Penelitian: Menurut kategori jenis kelamin
pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisa terbanyak adalah laki-laki, sedangkan
menurut kategori usia terbanyak pada rentang usia 39-64 tahun dan terdapat
penurunan jumlah trombosit sampai dengan terjadinya trombositopenia pada pasien
gagal ginjal kronik dengan hemodialisa, hal tersebut dikaitkan dengan adanya faktor
pemberian heparin yang berulang pada saat proses hemodialisa sehingga
mengakibatkan respon imunologis serta adanya pengaruh perbedaan membran
dialyzer yang digunakan pada saat proses hemodialisa. Kesimpulan: Adanya
penurunan trombosit sampai dengan terjadinya trombositopenia pada pasien gagal
ginjal kronik dengan hemodialisa. Saran: Bagi peneliti selanjutnya perlu
dilakukannya penelitian yang lebih mendalam guna adanya keterbaruan mengenai
abnormalitas jumlah trombosit pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani
hemodialisa dengan memperhatikan kategori lamanya frekuensi hemodialisa, jenis
heparin, penyakit penyerta, stadium gagal ginjal kronik, parameter fungsi trombosit
dan adanya upaya dari petugas kesehatan untuk melakukan pengontrolan ketat
pemberian heparin dan memperhatikan jenis membran dialyzer yang tepat bagi
pasien
PERBEDAAN STATIC STRETCHING DENGAN MYOFASCIAL RELEASE TECHNIQUE TERHADAP PENURUNAN NYERI OTOT BETIS PADA WANITA PENGGUNA HEELS: METODE NARRATIVE REVIEW
Latar Belakang: Static stretching merupakan intervensi untuk mengurangi
kekakuan otot atau muscle tendon unit (MTU) serta meningkatkan range of motion.
Latihan peregangan otot yang dilakukan secara aktif mampu mendukung dan
mengkontrol gerak sendi, dan mampu menahan stress selama beraktivitas seperti
berdiri maupun berjalan.Sedangkan Myofascial release technique merupakan
kombinasi dari manual terapi bagian otot yang spesifik dengan penggunaan
stretching sebagai stimulasimengembalikan adaptasi fisiologis otot serta
kapasitasnya dengan meningkatkan mobilisasi dan mengembalikan struktur jaringan
lunak dan menjaga keseimbangan. Sehingga fisioterapi memiliki peran memberikan
latihan seperti static stretching dan myofascial releasetechniqueyang dapat
digunakan untuk menurunkannyeriototbetis.Tujuan Penelitian: Untuk
mengetahui perbedaan static stretching dengan myofascial release technique
terhadap penurunan nyeri otot betis pada wanita pengguna heels. Metode Penelitian:
Menggunakan narrative reviewdengan framework PICO untuk mengidentifikasi
artikel Pubmed, Google Scholar, Wiley, dan PEDro dengan kata kunci yang
ditentukan, kemudian dimasukan dalamflowchart, data hasil narasi , menyusun,
meringkas dan melaporkan hasil. Hasil: Hasil menunjukan dimana identifikasi
artikel yang membahas myofascial releasetechnique lebih berpengaruh dalam
menurunkan nyeri otot betis dengan nilai rata-rata selisih 9,632, sedangkan
static stretchingdengan nilai rata-rata selisih hanya 4,74.Kesimpulan: Ada
perbedaaan yang signifikan antara intervensi static stretching dengan
myofascial releasetechnique terhadap penurunan nyeri otot betis pada wanita
pengguna heels. Saran: Diharapkan dapat menambah wawasan tentang static
stretching dan myofascial release technique terhadap keluhan nyeri otot betis pada
wanita pengguna heels
PENGARUH HIDROTERAPI DAN MANUAL TERAPI TERHADAP PENINGKATAN RANGE OF MOTION (ROM) PADA ARTRITIS SENDI INDIVIDU DENGAN HEMOFILIA : LITERATUR REVIEW
Latar Belakang : Hemofilia merupakan penyakit perdarahan akibat kerusakan faktor
pembekuan darah dalam tubuh. Individu yang mengalami hemofilia sampai saat ini tidak
dapat disembuhkan dan perdarahan yang paling sering terjadi di dalam sendi. Ada
beberapa jenis hemofilia antara lain yaitu hemofilia A akibat kekurangan faktor VIII,
hemofilia B akibat kekurangan faktor IX. Ada beberapa alternatif intervensi yang dapat
digunakan fisioterapi untuk mengembalikan kemampuan gerak dan fungsi individu
dengan hemofilia seperti hidroterapi dan manual terapi. Tujuan : untuk mengetahui
pengaruh hidroterapi dan manual terapi terhadap peningkatan range of motion (ROM)
pada artritis sendi individu dengan hemofilia. Metode Penelitian : penelitian ini adalah
penelitian studi kepustakaan dengan metode literatur review. Pencarian artikel dilakukan
melalui beberapa databased seperti PubMed, google scholar dan science direct.
Pengumpulan data dilakukan sengan PICO step. Hasil pencarian data didapatkan 2
artikel tentang hidroterapi dan 3 artikel tentang manual terapi melalui PubMed, 2 artikel
tentang hidroterapi dan 2 artikel tentang manual terapi melalui pencarian google scholar
dan 1 artikel tentang manual terapi melalui pencarian science direct. Hasil Penelitian :
hasil review dalam penelitian ini menunjukan bahwa ada peningkatan range of motion
(ROM) setelah diberikan intervensi hidroterapi dan manual terapi pada artritis sendi
individu dengan hemofilia. Kesimpulan : ada pengaruh hiroterapi dan manual terapi
terhadap peningkatan range of motion (ROM) pada artritis sendi individu dengan
hemofilia
FAKOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN GIZI LEBIH PADA BALITA USIA 12-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NGAMPILAN KOTA YOGYAKARTA
Masalah gizi di Indonesia saat ini memasuki masalah gizi ganda (Double burden).
Artinya, masalah gizi kurang (Underweight) belum teratasi sepenuhnya, sementara
muncul masalah gizi lebih (Overweight). Kejadian Overweight terus mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun baik pada kelompok anak-anak maupun dewasa.
Prevalensi gizi lebih di Kota Yogyakarta pada tahun 2017 tercatat 605 balita
mengalami gizi lebih (Overweight). Prevalensi gizi lebih tiga tertinggi berada diwilayah
kerja Puskesmas Ngampilan sebesar 6,57%. Di Puskesmas Ngampilan telah diketahui
bahwa prevalensi kejadian gizi lebih pada tahun 2018 yaitu sebanyak 15 kasus yang
tersebar di Kelurahan Ngampilan dan Kelurahan Notoprajan. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi lebih pada
balita usia 12-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Ngampilan Kota Yogyakarta.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan case
control, dengan total sampling, diperoleh 15 responden balita gizi lebih dan 15
responden balita gizi baik. Hasil penelitian diperoleh sebagian besar responden berjenis
kelamin perempuan 17 (56,7 %). Berdasarkan uji statistic menggunakan chi square dan
spearman rank menunjukkan ada hubungan antara riwayat genetic P value 0,002,
tingkat pendidikan ibu p value 0, 035, pengetahuan ibu p value 0,032, dan riwayat
pemberian makan (MPASI) p value 0,032 terhadap kejadian gizi lebih pada balita usia
12-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Ngampilan. Jadi semua variabel yang diteliti
memiliki hubungan dengan kejadian gizi lebih. Pihak puskesmas sebaiknya melakukan
evaluasi terkait program yang sudah dilakukan dalam penanganan kasus gizi lebih
HUBUNGAN PARITAS DENGAN KEJADIAN PREEKLAMPSIA PADA IBU BERSALIN
Preeklampsia merupakan salah satu komplikasi pada kehamilan. Tekanan darah
yang tinggi pada usia kehamilan 20 minggu menjadi petunjuk awal adanya
preeklampsia. Paritas pada ibu merupakan salah satu faktor terjadinya preeklampsia.
Paritas adalah jumlah janin dengan berat badan lebih dari 2500gram yang pernah
dilahirkan, hidup maupun mati, bila berat badan tidak diketahui, maka dipakai umur
kehamilan lebih dari 24 minggu. Oleh karena itu kejadian Preeklampsia harus di
tangani dengan tepat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Hubungan Paritas
dengan Kejadian Preeklampsia pada Ibu Bersalin. Hasil dari telaah 12 jurnal yaitu 7
jurnal ada hubungan ritas dengan kejadian preeklampsia. 5 jurnal tidak terdapat
hubungan paritas dengan kejadian preeklampsia. Simpulan Paritas merupakan salah
satu faktor resiko terjadinya preeklampsia pada ibu bersalin, namun banyak juga
faktor lainnya yang dapat menjadi penyebab kejadian preeklampsia pada ibu
bersalin. Saran Bagi Tenaga Kesehatan diharapkan dapat meningkatkan pelayanan
kesehatan. Bagi instutusi sebagai tambahan wawasan dalam bidang kebidanan
khususnya tentang preeklampsia, sedangkan bagi masyarakat diharapkan dapat
menambah ilmu pengetahuan untuk meningkatkan pemahaman
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN DUKUNGAN TENAGA KESEHATAN PADA PRAKTIK PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF : LITERATURE REVIEW
Latar Belakang : Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan paling sempurna dengan
kandungan gizi yang sesuai untuk kebutuhan bayi. Bayi yang mendapatkan makanan
pendamping ASI yang salah dapat menyebabkan gangguan pencernaan yang
berakibat gangguan pertumbuhan dan meningkatkan Angka Kematian Bayi (AKB).
Dukungan dari keluarga dan dukungan dari tenaga kesehatan sangat menentukan
keberhasilan ASI eksklusif. Semakin besar dukungan maka akan meningkatkan
kemampuan, motivasi dan percaya diri ibu untuk tetap bertahan menyusui.
Tujuan : Mengkaji ulang literatur dan menemukan gap terkait dukungan keluarga
dan dukungan tenaga kesehatan pada pemberian ASI eksklusif.
Metode : Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah Literatur
Review. Pencarian artikel melalui Google Scholar dengan analisis PICO dan
menggunakan kata kunci Dukungan Keluarga, Dukungan Tenaga Kesehatan, ASI
Eksklusif yang dikolaborasikan dengan operator Boolean “DAN”.
Hasil : Berdasarkan dari 10 artikel yang penulis analisa, 7 artikel yang meneliti
mengenai hubungan dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif didapatkan
ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan pemberian ASI
eksklusif. Dukungan keluarga yang paling berpengaruh adalah dukungan dari suami.
Sedangkan 3 artikel lainnya meneliti tentang hubungan dukungan tenaga kesehatan
dengan pemberian ASI eksklusif didapatkan ada hubungan dukungan
tenagakesehatan dengan pemberian ASI eksklusif. Dukungan tenaga kesehatan yang
paling berpengaruh adalah perawat dan bidan
Simpulan : Berdasarkan hasil dari artikel yang direview didapatkan kesimpulan
bahwa dukungan keluarga dan dukungan tenaga kesehatan sangat berpengaruh dalam
pemberian ASI eksklusif