DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN MOTIVASI KEPALA RUANG DENGAN KEPATUHAN PERAWAT DALAM PENERAPAN PRINSIP 7 BENAR PEMBERIAN OBAT DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
Latar Belakang: Kepatuhan perawat dalam menerapkan prinsip 7 benar pemberian obat
merupakan aspek penting dalam hal keselamatan pasien. Salah satu faktor yang
mempengaruhi kepatuhan perawat adalah motivasi. Permasalahan saat ini menunjukan bahwa
memberikan motivasi kepala ruang pada perawat di berbagai rumah sakit masih belum
optimal.
Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan antara motivasi kepala ruang dengan kepatuhan
perawat dalam penerapan prinsip 7 benar pemberian obat.
Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan menggunakan
rancangan penelitian Cross Sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasi
kepala ruang dengan kepatuhan perawat dalam penerapan prinsip 7 benar pemberian obat di
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 65
responden.
Hasil: hasil penelitian terhadap motivasi kepala ruang di RS PKU Muhammadiyah
Yogyakarta sebagian besar kategori baik sebanyak 29 orang (44,6%) dan kepatuhan perawat
di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta sebagian besar kategori tidak patuh sebanyak 54
orang (83,1%). Hasil perhitungan statistik menggunakan uji Kendall tau diperoleh nilai p
(0,01)<0,05, hal ini menunjukan bahwa ada hubungan antara motivasi kepala ruang dengan
kinerja kepatuhan perawat.
Simpulan dan saran: Ada hubungan antara motivasi kepala ruang dengan kepatuhan
perawat dalam penerapan prinsip 7 benar pemberian obat di RS PKU Muhammadiyah
Yogyakarta, ditunjukan dengan hasil uji Kendall tau diperoleh nilai p (0,01)<0,05. Saran:
Kepala ruang perlu meningkatkan pemberian motivasi dengan pujian atau delegasi tugas
yang menantang sesuai kemampuan masing-masing perawat untuk menggerakkan dan
meningkatkan kepatuhan
HUBUNGAN SELF CARE BEHAVIOR DENGAN KUALITAS HIDUP LANSIA HIPERTENSI DI PEJATEN GIRIWUNGU PANGGANG GUNUNGKIDUL YOGYAKARTA
Latar belakang : Hipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif yang
apabila penderita tidak menjalankan perilaku perawatan diri dengan baik dan
maksimal akan menimbulkan berbagai macam komplikasi sehingga kualitas hidup
lansia akan menurun. Kualitas hidup pada lansia membutuhkan self care behavior,
dimana perilaku perawatan diri penting sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup
pasien kronis, keluarga dan komunitas terutama lansia hipertensi
Tujuan : Untuk mengetahui hubungan self care behavior dengan kualitas hidup
lansia hipertensi di Pejaten Giriwungu Panggang Gunungkidu Yogyakarta.
Metode penelitian : Studi Deskriptif korelasional dengan rancangan cross sectional.
Subjek penelitian adalah lansia yang berusia 60 tahun keatas yang menderita
hipertensi dengan sampel 50 responden. Teknik Sampling menggunakan Total
Sampling . Analisa data menggunakan korelasi Kendall Tau.
Hasil penelitian : Menunjukkan bahwa self care behavior kurang baik (54,0%)
sedangkan kualitas hidup Cukup (60,0%). Hasil analisis Kendal Tau didapatkan nilai
P.value 0,000 dengan koefisien korelasi sebesar 0,490 menunjukkan adanya
hubungan antara self care behavior dengan kualitas hidup lansia hipertensi.
Simpulan dan Saran: Terdapat hubungan self care behavior dengan kualitas hidup
lansia hipertensi di Pejaten Giriwungu Panggang Gunungkidu Yogyakarta. Self care
behavior yang baik akan membuat kualitas hidup lansia hipertensi meningkat. Lansia
bisa mengikuti posyandu rutin agar dapat mengontrol secara rutin hipertensinya dan
selalu mengkonsumsi makan rendah garam dan juga melakukan olahraga rutin agar
kualitas hidup nya meningkat
HUBUNGAN HARGA DIRI DENGAN PERILAKU BULLY SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 PLERET BANTUL
Latar Belakang: Perilaku bully di sekolah menduduki tingkat teratas dari pengaduan
masyarakat ke KPAI di sektor pendidikan, dari tahun 2011 sampai Agustus 2014 KPAI
mencatat 369 pengaduan terkait masalah tersebut. Jumlah tersebut sekitar 25% dari total
pengaduan dibidang pendidikan sebanyak 1.480 kasus. Dampak perilaku bully yaitu anak
malas ke sekolah, prestasi akademik menurun secara drastis.
Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui Hubungan Harga Diri dengan Perilaku Bully
Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Pleret Bantul.
Metodologi: Metode penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan rancangan
correlational. Pendekatan waktu dengan menggunakan cross-sectional. Teknik sampling
yang digunakan adalah simple random sampling, jumlah responden sebanyak 105
responden. uji statistik menggunakan spearman rank.
Hasil Penelitian: Hasil uji statistik menggunakan spearman rank dengan nilai koefisien
korelasi ( ) = -0,079 dan signifikan (p) = 0,420 > 0,05. Hasil tersebut menunjukkan
bahwa secara statistik tidak ada hubungan antara harga diri dengan perilaku bully.
Simpulan dan Saran: Tidak ada hubungan harga diri dengan perilaku bully siswa kelas
VIII SMP Negeeri 2 Pleret Bantul. Diharapkan kepada pihak sekolah untuk
mempertahankan cara mengajar berdasarkan nilai-nilai islam serta menanamkan harga
diri secara positif agar dapat membentuk kepribadian yang baik
HUBUNGAN POLA PEMBERIAN MAKAN DENGAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JETIS II BANTUL
Latar Belakang: Kejadian stunting merupakan salah satu masalah gizi yang dialami oleh
balita, yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan anak
seusianya. Kejadian stunting salah satu faktor penyebab utamanya adalah dikarenakan
pola pemberian makan yang salah dari orang tua, pola pemberian makan pada balita
stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Jetis II Bantul Yogyakarta sebagian besar adalah
kategori kurang sebanyak 18 balita (45,0%).
Tujuan: Mengetahui hubungan pola pemberian makan dengan stunting pada balita usia
24-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Jetis II Bantul.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasional dengan pendekatan
waktu retrospektif. Jumlah sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan teknik total
sampling sebanyak 40 responden. Alat yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
microtoise lalu diolah kedalam nilai terstandar (Zscore) dengan menggunakan buku
antopometri anak balita untuk mengukur stunting, Child Feeding Questionnaire (CFQ)
untuk mengukur pola pemberian makan. Data dianalisa menggunakan uji statistik
Kendall’s Tau.
Hasil: Analisis pada penelitian ini menggunakan kendall’s Tau dengan p-value sebesar
0,01<α (0,05).
Simpulan dan Saran: Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna secara
statistic terhadap pola pemberian makan dengan stunting pada balita di Wilayah Kerja
Puskesmas Jetis II Bantul Yogyakarta
HUBUNGAN SELF EFFICACY DENGAN KECEMASAN PADA PENDERITA HIPERTENSI DI DUSUN SAWAHAN DESA MARGOMULYO SEYEGAN SLEMAN YOGYAKARTA
Latar belakang: Hipertensi merupakan sebuah penyakit yang dikenal dengan the silent disease
dimana seseorang yang terkena penyait ini akan mengalami efek seperti komplikasi yang akan
merusak organ vital yang berat. Faktor penyebab hipertensi dibagi menjadi dua, terkontrol dan
tidak terkontrol. Fator yang tidak terkontrol salah satunya yaitu kecemasan. Kecemasan pada
pasien hipertensi ditandai dengan adanya gangguan alam perasaan yang ditunjukkan dengan
perasaan ketakutan dan kekhawatiran yang mendalam. Kecemasan dapat mempengaruhi kondisi
psikologis seeorang, dimana self efficacy menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
kecemasan pada pasien hipertensi.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan self efficacy dengan kecemasan pada penderita hipertensi
di Dusun Sawahan Desa Margomulyo Seyegan Sleman Yogyakarta.
Metodelogi: Metode penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan rancangan korelasional.
Pendekatan waktu pada penelitian ini dengan menggunakan cross-sectional. Teknik pengambilan
sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan total sampling, jumlah responden sebanyak 40
orang. Uji statistic dengan menggunakan Kendall Tau.
Hasil Penelitian: Hasil uji statistic menggunakan Kendall Tau dengan nilai koefisien korelasi ()
= 0,175 dan p-value 0,763>0,005. Hasil tersebut menunjukkan bahwa secara statistic tidak ada
hubungan antara self efficacy dengan ecemasan pada penderita hipertensi di Dusun Sawahan Desa
Margomulyo Seyegan Sleman Yogyakarta.
Kesimpulan dan saran: Tidak ada hubungan antara self efficacy dengan kecemasan pada
penderita hipertensi di Dusun Sawahan Desa Margomulyo Seyegan Sleman Yogyakarta.
Disarankan kepada penderita hipertensi di Dusun Sawahan Desa Margomulyo Seyegan Sleman
Yogyakarta menghindari faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan dan meningkatkan self
efficacy pada setiap pasien hipertensi
LITERATURE REVIEW: PERANAN ORANG TUA PADA PROSES BELAJAR SISWA SMP
Latar Belakang: Prestasi belajar adalah bukti keberhasilan usaha yang dapat
dicapai. Ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu faktor internal
dan eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang
terdiri dari faktor psikologis dan faktor fisiologis. Faktor eksternal yaitu faktor yang
berasal dari luar diri siswa yang meliputi lingkungan sosial (orang tua, dan
keluarga) dan lingkungan nonsosial. Orang tua adalah salah satu faktor eksternal
yang mempunyai peran yang sangat penting dan sangat dibutuhkan untuk menjaga
keberhasilan seorang siswa.
Tujuan: Mengetahui peran orang tua pada proses belajar siswa SMP
Metode: Penelitian ini menggunakan studi literature, penulisan jurnal melalui
data base Google Scholar, dengan kata kunci “peran orang tua”, “proses belajar”,
dan “siswa SMP” didapat populasi sejumlah 270 jurnal, sampel yang digunakan
adalah 5 jurnal dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling yang
didapat berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.
Hasil: Berdasarkan hasil artikel yang dianalisa didapatkan bahwa orang tua
yang memiliki peran yang baik terhadap anaknya, akan mempengaruhi dalam
proses belajar anak.
Simpulan dan Saran: Peran orang tua dalam proses belajar siswa SMP sangat
dibutuhkan anak sebab orang tua merupakan lingkungan pertama yang mendidik
anak dalam keluarga. Untuk peneliti selanjutnya dapat menambahkan jurnal yang
lebih banyak dan jurnal lebih spesifik dengan topik yang akan diteliti, baik jurnal
nasional maupun internasional
HUBUNGAN KESEPIAN DENGAN RISIKO BUNUH DIRI PADA LANSIA DI DESA PLEMBUTAN KECAMATAN PLAYEN KABUPATEN GUNUNG KIDUL
Latar belakang: Kesepian merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling
banyak terjadi pada lansia sehingga dapat memicu terjadinya bunuh diri. Indonesia
tercatat memiliki jumlah angka kasus bunuh diri yang tinggi yaitu 1,6 sampai 1,8 per
100 jiwa. Kesepian yang memicu bunuh diri dialami pada lansia merupakan akibat
dari hubungan yang kurang baik atau kurang memuaskan dengan orang lain
disekitarnya.
Tujuan: Mengetahui hubungan kesepian dengan resiko bunuh diri pada lansia.
Metodologi: Metode penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan rancangan
descriptive correlational. Pendekatan waktu menggunakan cross-sectional. Teknik
pengambilan sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling uji statistik
menggunakan Kendall-Tau. Jumlah responden yang diambil sebanyak 53 lansia di
Desa Plembutan Kecamatan Playen Kabupaten Gunung kidul menggunakan alat ukur
instrumen tingkat kesepian dan untuk resiko bunuh diri dengan menggunakan
Kuesioner Suicide Behaviors Questinnare-Revised (SBQ-R).
Hasil penelitian : Hasil uji statistik menggunakan Kendall Tau dengan nilai
koefisien korelasi (Ʈ) = 0,110 dan signifikan (p) = 0,423>0,05. Hasil tersebut
menunjukan bahwa secara statistik tidak terdapat hubungan antara kesepian dan
resiko bunuh diri pada lansia.
Simpulan dan saran : Tidak ada hubungan antara kesepian dengan resiko bunuh
diri pada lansia, sehingga diharapkan lansia tetap memiliki koping yang baik dalam
menghadapi masalah, selain itu diharapkan dukungan keluarga, masyarakat sekitar
serta kader dan tenaga kesehatan untuk terus meningkatkan jumlah lansia yang tidak
beresiko bunuh diri
PENGARUH MASSAGE ENDORPHINE TERHADAP PENURUNAN NYERI DISMENOREA PADA SISWI KELAS VIII DI SMP PGRI KASIHAN BANTUL YOGYAKARTA
Latar belakang: Dismenorea adalah nyeri menstruasi yang disebabkan oleh kejang
otot uterus yang memiliki dampak cukup besar bagi remaja putri yang dapat
menyebabkan terganggunya aktivitas sehari-hari. Massage endorrphine mempunyai
efek merangsang tubuh ntuk melepaskan senyawa endorphine yang merupakan pereda
rasa sakit dan dapat menciptakan perasaan nyaman.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh massage endorphine
terhadap penurunan nyeri dismenorea pada siswi kelas VIII di SMP PGRI Kasihan
Bantul Yogyakarta.
Metode: Design penelitian ini menggunakan Pre Experimental Design yaitu One
Group Pretest Posttest. Responden penelitian ini terdiri dari 15 siswi diambil dengan
teknik Purposive Sampling. Pengumpulan data diperoleh dari lembar skala nyeri
Numerical Rating Scale (NRS).
Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh massage endorphine. Hasil
uji Wilcoxon Matched Pairs Test menunjukkan bahwa taraf signifikan p<0,005
diperoleh p=0,000 sehingga p<0,005.
Simpulan dan Saran: Terdapat pengaruh massage endorphine terhadap penurunan
nyeri dismenorea pada siswi kelas VIII di SMP PGRI Kasihan Bantul Yogyakarta.
Saran bagi siswi yang mengalami dismenorea di SMP PGRI Kasihan dapat
menggunakan terapi non farmakologis yaitu massage endorphine karena massage
endorphine efektif dalam menurunkan nyeri dismenorea
HUBUNGAN STATUS NUTRISI DENGAN KEJADIAN INSOMNIA PADA LANJUT USIA DI POSYANDU LANSIA NGUDI WARAS DUSUN MERTEN GADINGHARJO SANDEN BANTUL
Latar belakang:. Gangguan tidur pada lansia merupakan masalah yang sering terajadi
pada lansia dan jika tidak ditangani akan berdampak serius dan akan menjadi gangguan
tidur yang kronis. Di Indonesia insomnia pada lansia tergolong tinggi yaitu sekitar
67% dari populasi yang berusia di atas 65 tahun. Salah satu faktor yang menyebabkan
insomnia pada lansia berkurangnya asupan makanan akan berdampak pada berat
badan yang akan menimbulkan Insoomnia
Tujuan :mengetahui hubungan status nutrisi dengan kejadian insomnia pada lansia di
Posyandu Lansia Ngudi Waras Dusun Merten Gadingahrjo Sanden Bantul.
Metode: Jenis penelitian deskriptif korelasi, dengan pendekatan cross sectional.
Sampel dalam penelitian ini adalah lansia yang ada di Posyandu Lansia Ngudi Waras
Dusun Merten Gadingharjo berusaia usia 60-85 tahun yang berjumlah 40 orang.
Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Alat ukur yang digunakan
adalah timbangan berat badan, alat ukur tinggi badan dan kuesioner KSPBJ Insomnia
Rating Scale. Teknik analisis data menggunakan Kendall Tau.
Hasil: Uji statsitsik dengan menggunakan kendall tau diidapatkanp value = 0.122
(p>0.05)
Simpulan dan Saran: Tidak terdapat hubungan status nutrisi dengan kejadian
insomnia pada lansia di Posyandu Lansia Ngudi Waras Dusun Merten Gadingharjo
Sanden Bantul. Diharapkan lansia dapat mengatur dan memperlihatkan status
nutrisinya dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi serta menjadi acuan lansia
untuk mengatur isnomnia lansia sehingga tercapai kualitas hidup yang sehat dan
terhindar dari resiko insomnia
HUBUNGAN KEBIASAAN JAJAN TERHADAP STATUS GIZI ANAK KELAS 5 DI SD KEMBANGSARI 1 PIYUNGAN
Latar Belakang: Anak usia sekolah adalah masa yang rawan karena anak lebih
banyak melewatkan waktu makan. Jajanan adalah makanan dan minuman yang
diolah pengrajin makanan disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual. Untuk
memelihara kesehatan dan status gizi yang optimal tubuh perlu mengkonsumsi
makanan yang bergizi seimbang, dengan demikian kebutuhan gizi anak dapat
tercukupi dengan baik apabila anak rajin untuk mengkonsumsi sayur dan buah yang
kaya akan zat gizi.
Tujuan: Mengetahui hubungan kebiasaan jajan terhadap status gizi anak kelas 5 di
SD Kembangsari 1.
Metode: Metode Penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi non
eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Subyek penelitian ini anak kelas 5
di SD Kembangsari 1 sebanyak 39 anak. Pengumpulan data menggunakan kuesioner
kebiasaan jajan dan observasi langsung.
Hasil: Hubungan kebiasaan jajan dengan status gizi anak memiliki tingkat yang
lemah. Kebiasaan jajan anak dapat dilihat berdasarkan kuesioner yang dibagikan,
diperoleh kriteria Baik 2,6%; Cukup 76,9% dan Kurang 20,5%. Status gizi
berdasarkan hasil IMT diperoleh, Kurang 53,8%; Baik 33,3% dan Berlebih 12,8%.
Uji Chi square dapat diterima apabila nilai signifikansi kurang dari 0,05. Dilakukan
perhitungan uji Chi square dengan hasil 0,055 artinya hubungan kedua varibel
lemah, hubungan yang lemah diakibatkan oleh faktor yang tidak dikendalikan.
Kesimpulan : Dapat ditarik simpulan bahwa hubungan antara kebiasaan jajan
dengan status gizi pada anak kelas 5 SD Kembangsari 1 menunjukkan kedua variabel
memiliki hubungan yang lemah.
Saran : Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam dalam penelitian
selanjutnya, untuk mengambil dengan penelitian yang berbeda atau intervensi yang
dapat mengetahui kebiasaan jajan.
Kata Kunci: Jajan, Status Gizi, Usia Sekola