DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
Literatur Review Hubungan Berat Badan Bayi Lahir Dengan Kejadian Ruptur Perineum
Rupture perineum adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya
jaringan secara alamiah karena proses desakan janin atau bahu pada saat persalinan.
Ruptur perineum yang tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat menjadi
penyumbang perdarahan, yang merupakan salah satu penyebab kematian ibu. Faktor
penyebab ruptur perineum antara lain posisi persalinan, cara meneran, pimpinan
persalinan, berat badan bayi baru lahir dan keadaan perineum. Semakin besar berat
badan bayi yang dilahirkan akan meningkatkan resiko terjadinya ruptur perineum.
Metode penelitian ini adalah penelitian literature review.Pencarian jurnal dilakukan
di portal jurnal online seperti Google Scholar.Kriteria inklusi dalam penelitian ini
yaitu jurnal yang diterbitkan pada tahun 2010- 2020 menggunakan bahasa
Indonesia.Hasil penelusuran jurnal didapatkan sebanyak 10 jurnal dilakukan review
dalam penelitian ini. Hasil review 10 jurnal didapatkan bahwa Bayi baru lahir yang
terlalu besar atau berat badan lahir lebih dari 4000 gram akan meningkatkan resiko
persalinan. Hal ini terjadi karena berat badan bayi besar sehingga sulit melewati
panggul dan menyebabkan terjadinya rupture perineum pada ibu bersalin.
Kesimpulan penelitian ini yaitu berdasarkan hasil review 10 jurnal, perineum
disebabkan oleh berat badan bayi baru lahir yang terlalu besar atau berat badan bayi
baru lahir lebih 4000 gram.semakin besar berat badan bayi yang dilahirkan akan
meningkatkan resiko terjadinya ruptur perineum, karena perineum tidak cukup kuat
menahan regangan kepala bayi dengan berat badan bayi yang besar, sehingga pada
proses kelahiran bayi dengan berat badan bayi lahir yang besar sering terjadi ruptur
perineum
SYSTEMATIC REVIEW: GAMBARAN KADAR HEMOGLOBIN, UREUM DAN KREATININ SERUM PADA PASIEN GAGAL GINJAL SETELAH HEMODIALISIS
Latar Belakang: Gagal ginjal yaitu suatu kondisi terjadinya gangguan pada
sistem ginjal sehingga menyebabkan kegagalan dalam mempertahankan
metabolisme elektrolit dalam darah. Penyakit gagal ginjal kronis merupakan salah
satu penyakit yang menjadi masalah besar di dunia. Pasien dengan ginjal yang
tidak berfungsi, perlu menjalani program pengobatan yaitu hemodialisis.
Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin dalam darah dapat menjadi acuan untuk
mengetahui adanya gangguan pada ginjal. Pemeriksaan kadar hemoglobin juga
penting karena pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis dapat terjadi
kehilangan darah. Tujuan Penelitian: Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui bagaimana gambaran kadar hemoglobin, ureum dan kreatinin pasien
gagal ginjal setelah hemodialisis. Metode: Jenis penelitian ini adalah systematic
review yang menggunakan literatur berupa artikel jurnal, penelusuran literatur
menggunakan database google cendekia dan DOAJ (Directory of Open Access
Journals) dengan metode PICO. Hasil Penelitian: Berdasarkan hasil literatur
review diketahui bahwa kadar hemoglobin pasien gagal ginjal setelah
hemodialisis mengalami rerata penurunan sebanyak 3,79%, Kadar ureum serum
mengalami rerata penurunan sebanyak 57,41%, dan kadar kreatinin mengalami
rerata penurunan sebanyak 47,06%. Simpulan: Disimpulkan bahwa terjadi
penurunan kadar hemoglobin, ureum dan kreatinin serum pada pasien gagal ginjal
yang telah menjalani hemodialisis.
Saran: Peneliti menyarankan agar lebih banyak lagi penelitian yang mengangkat
permasalahan tentang pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis di
Indonesia, agar dapat dijadikan bahan pembelajaran
SYSTEMATIC REVIEW: IDENTIFIKASI FAKTOR JENIS KELAMIN DAN KELOMPOK USIA PADA PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE DENGAN PENDEKATAN KASUS TROMBOSITOPENIA
Latar Belakang: Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu masalah
kesehatan di Indonesia yang dapat muncul sepanjang tahun, penyakit menular ini
disebabkan oleh infeksi virus dengue dari gigitan nyamuk Aedes aegypti dan
dapat menyerang masyarakat dengan cepat hingga menyebabkan kematian dalam
waktu singkat. Manifestasi klinis laboratorium DBD ditandai dengan penurunan
jumlah trombosit (trombositopenia). Faktor jenis kelamin dan kelompok usia
berperan dalam menyebabkan tingginya kasus DBD di suatu wilayah. Tujuan
Penelitian: Mengetahui faktor jenis kelamin dan kelompok usia pada pasien
demam berdarah dengue dengan pendekatan kasus trombositopenia. Metode
Penelitian: Ulasan yang dilakukan pada dua database yaitu DOAJ dan Google
Scholar. Jurnal yang digunakan pada penelitian ini adalah jurnal yang
menjelaskan adanya pengaruh faktor jenis kelamin dan kelompok usia pada pasien
DBD dengan pendekatan kasus trombositopenia. Hasil Penelitian: Penelusuran
literatur diperoleh 10 jurnal yang menunjukkan bahwa kejadian DBD lebih sering
terjadi pada pasien berjenis kelamin laki-laki (56%) dan cenderung terjadi pada
penderita usia remaja 16-26 tahun (47%) dan pada anak-anak 1-15 tahun (37,4%).
Kasus trombositopenia terjadi pada semua kelompok usia, jumlah trombosit usia
1-15 tahun (74.123 sel/mm3), usia 16-25 tahun (62.721 sel/mm3), usia 26-45 tahun
(76.008 sel/mm3) dan penurunan jumlah trombosit paling rendah terjadi pada usia
lansia 46-65 tahun (58.088 sel/mm3). Simpulan: Faktor jenis kelamin dan
kelompok usia pada pasien dapat mempengaruhi kejadian demam berdarah
dengue dengan pendekatan kasus trombositopenia. Saran: Perlu dilakukan
penelitian lebih lanjut dengan menambahkan literatur dan variabel dependen
seperti penambahan komponen darah untuk pemeriksaan laboratorium pada
penyakit demam berdarah dengue
UJI KOEFISIEN KAPPA KATO KATZ DIBANDINGKAN DENGAN METODE LAIN DALAM PEMERIKSAAN INFEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTHS (STH)
Latar Belakang: Soil Transmitted Helminths (STH) adalah salah satu penyebab
terjadinya infeksi kecacingan. Keberhasilan program pengendalian kecacingan
bergantung pada kesepakatan kemampuan antar metode untuk mendeteksi
kecacingan. Nilai Koefisien Kappa dipakai untuk menentukan reliabilitas uji
diagnosis dua metode untuk mengukur konsistensi hasil penelitian. Tujuan
Penelitian: Mengetahui jenis-jenis metode pemeriksaan STH dan mengetahui
nilai Koefisien Kappa Kato Katz dibandingkan dengan metode lain dalam
mengidentifikasi STH. Metode Penelitian: Metode yang digunakan pada
penelitian ini yaitu metode deskripstif dengan jenis penelitian Systematic
Literature Review. Hasil Penelitian: Pada 10 jurnal, metode yang digunakan
adalah metode Kato Katz, yang dibandingkan dengan metode Mini FLOTAC,
McMaster, FEC, q PCR, Merthiolate Iodine Formalin, FES, dan Wet mount.
Terdapat 8 jurnal yang mengidentifikasi Ascaris lumbricoides dengan nilai
rentang Kappa 0,0425 (sangat jelek)-0,95 (sangat baik). Terdapat 7 jurnal yang
mengidentifikasi Trichuris trichiura dengan nilai rentang Kappa -0,0180 (sangat
jelek)-0,96 (sangat baik). Terdapat 7 jurnal yang mengidentifikasi cacing tambang
dengan nilai rentang Kappa 0,28 (kurang)-0,944 (sangat baik). Simpulan: Metode
FEC, q PCR, McMaster, Mini FLOTAC, FES, Wet mount, dan Merthiolate Iodine
Formalin dapat digunakan sebagai alternatif metode lain dalam pemeriksaan STH
selain Kato Katz. Metode terbaik dalam mengidentifikasi Ascaris lumbricoides
yaitu Merthiolate Iodine Formalin dilihat dari nilai Koefisien Kappanya sebesar
0,95 (sangat baik). Metode terbaik dalam mengidentifikasi Trichuris trichiura
yaitu Merthiolate Iodine Formalin dilihat dari nilai Koefisien Kappanya sebesar
0,96 (sangat baik). Metode terbaik dalam mengidentifikasi cacing tambang yaitu
FES dilihat dari nilai Koefisien Kappanya sebesar 0,944 (sangat baik). Saran:
Peneliti selanjutnya diharapkan untuk melakukan pengembangan penelitian dan
melakukan penelitian secara langsung mengenai uji Koefisien Kappa Kato Katz
dibandingkan dengan metode lain dalam pemeriksaan infeksi STH
Pendidikan Kesehatan Pertolongan Pertama Cedera Terhadap Pengetahuan dan Sikap Guru dalam Praktik Penanganan Cedera Siswa Di Sekolah Dasar: Literature Review
Anak usia sekolah cenderung aktif dan banyak bergerak, hal ini menyebabkan anak
usia sekolah rentan terkena cedera, saat di sekolah guru bertanggung jawab terhadap
siswa, jika terjadi cedera guru wajib menolong siswa. Oleh sebab itu guru harus
memiliki pengetahuan dan sikap yang bagus agar saat mereka menolong siswa
intervensi yang di lakukan tepat. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui
pendidikan kesehatan pertolongan pertama terhadap pengetahuan dan sikap guru
dalam praktik penanganan cedera siswa di sekolah dasar. Metode yang digunakan
dalam penulisan artikel ini adalah Literatur Review. Penelusuran artikel dilakukan
melalui Google Scholar, penelusuran artikel dilakukan mulai dari tahun 2010 sampai
dengan 2020. Artikel yang di dapat sebanyak 25.270. kemudian di ekslusi didapatkan
sebanyak 19780 karena melebihi rentan waktu yang telah ditentukan, 1.120 Artikel
diekslusi karena tidak tersedia full text. 4.370 jurnal dilakukan assesmen kelayakan
dan 4.365 jurnal diekslusi karena tidak sesuai dengan tujuan pada penelitian ini
sehingga didapat 5 jurnal yang dilakukan review Berdasarkan hasil artikel yang
penulis analisa didapatkan bahwa pendidikan kesehatan pertolongan pertama
berpengaruh terhadap pengetahuan dan sikap guru dalam praktik penanganan cedera
siswa di sekolah dasar. Guru adalah orang pertama yang menolong siswa jika terjadi
cedera di sekolah oleh karena itu guru harus meningkatkan pengetahuan dan sikap agar
pertolongan pertama yang di berikan lebih efektif
PENGARUH LATIHAN KNEE TUCK JUMP TERHADAP PENINGKATAN POWER OTOT TUNGKAI: METODE NARRATIVE REVIEW
Latar belakang: Power merupakan salah satu komponen yang penting pengaruhnya
dalam bola voli karena power dibutuhkan untuk otot tungkai untuk meningkatkan
kekuatan dan kecepatan saat jumping. Apabila terjadi penurunan power otot tungkai
maka atlet akan sulit atau menurunnya performa jumping saat melakukan teknik yang
membutuhkan loncatan sehingga dapat terjadinya cidera dan dapat menurunkan
prestasi. Untuk menanggulangi terjadinya resiko tersebut terdapat latihan knee tuck
jump. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh latihan knee tuck jump terhadap
peningkatan power otot tungkai. Metode penelitian: Metode penelitian ini adalah
penelitian narrative review. Pencarian jurnal dilakukan di Google Scholar dan
Proquest. Kriteria inklusi yaitu jurnal penelitian full text tentang knee tuck jump
untuk meningkatkan power otot tungkai, jurnal bahasa Inggris dan Indonesia,
responden usia 15-17 tahun laki-laki dan perempuan, diterbitkan dalam 10 tahun
terakhir. Hasil penelusuran artikel didapatkan 10 jurnal yang akan dilakukan review
dalam penelitian ini. Hasil penelitian: Dari hasil 10 artikel secara umum
menyebutkan bahwa latihan knee tuck jump memang terbukti signifikan mampu
meningkatkan power pada otot tungkai. Terdapat 5 artikel yang menyebutkan bahwa
knee tuck jump lebih berpengaruh daripada latihan lain yang diberikan, dan terdapat
5 artikel yang menyebutkan bahwa latihan knee tuck jump berpengaruh terhadap
power otot tungkai namun tidak lebih berpengaruh atau tidak ada perbedaan yang
signifikan dari latihan lainnya yang diberikan. Kesimpulan: Latihan knee tuck jump
berpengaruh meningkatkan power pada otot tungkai. Saran: Latihan knee tuck jump
dapat digunakan sebagai intervensi dalam upaya meningkatkan power pada otot
tungkai
PENGARUH GAZE STABILITY EXERCISE DAN SWISS BALL EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN KESEIMBANGAN LANSIA: NARRATIVE REVIEW
Latar Belakang : Populasi lansia di Indonesia cukup tinggi dan terdapatnya keluhan
pada lansia yaitu meningkatnya risiko jatuh yang disebabkan karena terjadinya
penurunan keseimbangan, apabila lansia mengalami jatuh akan menyebabkan cedera
yang serius bahkan menyebabkan kematian. Maka dari itu, pemberian Gaze Stability
Exercise dan Swiss Ball Exercise cocok digunakan untuk meningkatkan
keseimbangan statis maupun dinamis pada lansia, dan diperkuat beberapa artikel
penelitian mengenai pengaruh Gaze Stability Exercise dan Swiss Ball Exercise
terhadap keseimbangan lansia. Tujuan : Untuk mengetahui apakah ada pengaruh
Gaze Stability Exercise dan Swiss Ball Exercise terhadap peningkatan keseimbangan
lansia. Metode Penelitian : Menggunakan metode Narrative Review, yaitu dengan
mengumpulkan sepuluh artikel penelitian, dengan melakukan identifikasi kata kunci
menggunakan format PICO serta menentukan kriteria inklusi dan ekslusi untuk
menentukan artikel yang akan dipilih. Pencarian artikel dilakukan pada tiga database
(Google Translate, PubMed dan PEDro). Hasil Penelitian : Lima artikel penenlitian
terkait Gaze Stability Exercise dan lima artikel penelitian terkait Swiss Ball Exercise
melaporkan hasil yang signifikan dalam peningkatan keseimbangan lansia. Namun,
sartu artikel terkait Gaze Stability Exercise melaporkan hasil yang tidak signifikan
terhadap peningkatan keseimbangan lansia. Kesimpulan : beberapa artikel penelitian
membuktikan bahwa kedua intervensi tersebut terbukti berpengaruh terhadap
peningkatan keseimbangan lansia.tetapi tidak semua artikel penelitian memberikan
hasil yang signifikan. Saran : Peneliti selanjutnya dapat meneliti mengenai efek
Gaze Stability Exercise dan Swiss Ball Exercise dengan metode penelitian lain,
seperti eksperimental agar kedua intervensi terbukti dapat meningkatkan
keseimbangan lansia
EFEKTIFITAS CORE STABILITY EXERCISE PADA MC KENZIE EXERCISE TERHADAP PENURUNAN NYERI PUNGGUNG BAWAH DENGAN METODE NARRATIVE REVIEW
Latar Belakang : Dalam melakukan aktifitas sehari-hari manusia kadang lupa untuk
menjaga posisi ergonomis sehingga dapat terjadi kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja
yang paling sering terjadi adalah nyeri punggung bawah. Ada beberapa modalitas
fisioterapi yaitu Core Stability exercise dan Mc Kenzie Exercise yang digunakan salah
satunya untuk menurunkan nyeri punggung bawah.Tujuan : Untuk mengetahui
efektifitas Core Stability exercise pada Mc Kenzie Exercise Terhadap penurunan nyeri
punggung bawah. Metode Penelitian : Metode penelitian ini adalah penelitian narrative
review. Pencarian jurnal dilakukan di portal jurnal online seperti google scholar,
PubMed, dan PEDro. Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu jurnal penelitian full text
berupa Core Stability exercise dan Mc Kenzie Exercise yang digunakan untuk
menurunkan nyeri punggung bawah. Jurnal dalam bahasa Inggris maupun bahasa
Indonesia, memiliki responden baik laki-laki maupun perempuan, diterbitkan tahun
2010-2020. Hasil penelusuran jurnal didapatkan sebanyak 5 jurnal Core Stability
exercise dan 5 jurnal Mc Kenzie Exercise dilakukan review dalam penelitian ini. Hasil
Penelitian : hasil review didapatkan hasil bahwa ada penurunan nyeri punggung bawah.
Kesimpulan : Core Stability exercise dan Mc Kenzie Exercise sama – sama efektif
dalam menurunkan nyeri punggung bawah
PENGARUH PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH LANSIA: METODE NARRATIVE REVIEW
Latar belakang: Seiring bertambahnya usia pada lansia akan terjadi perubahan
fisiologis yang di sertai dengan berbagai macam masalah kesehatan yang
menyebabkan tingginya penyakit degeneratif, fungsi jaringan dan organ tubuh pun
akan semakin mengalami penurunan terutama pada system kardiovaskuler yaitu
penyakit hipertensi. Hipertensi mengakibatkan angka kematian yang tinggi (high case
fatality rate) juga berdampak kepada penurunan kualitas hidup Tujuan: Untuk
mengetahui pengaruh Progressive Muscle Relaxation (PMR) terhadap penurunan
tekanan darah lansia. Metode penelitian: Metode penelitian ini adalah penelitian
narrative review. Pencarian jurnal dilakukan di Google Scholar, PubMed dan PEDro.
Kriteria inklusi yaitu jurnal penelitian full text tentang progressive muscle relaxation
untuk neurunkan tekanan darah, jurnal bahasa Inggris dan Indonesia, responden usia
40-74 tahun laki-laki dan perempuan, diterbitkan dalam 10 tahun terakhir. Hasil
penelusuran artikel didapatkan 12 jurnal yang akan dilakukan review dalam penelitian
ini. Hasil Penelitian: Hasil narrative review ini menunjukkan bahwa dari 7 artikel
didapatkan hasil bahwa progressive muscle relaxation secara signifikan dapat
menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolic, Progressive muscle relaxation dapat
menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik dengan dengan p-value = 0,000 atau
(<0,05). Kesimpulan: Progreesive muscle relaxation efektif dalam menurunkan
tekanan darah pada lansia dengan hipertensi. Saran: Bagi peneliti selanjutnya
diharapkan dapat melanjutkan penelitian dengan intervensi yang berbeda serta lebih
memperhatikan kriteria inklusi dan ekslusi dari kriteria serta kualitas jurnal yang akan
digunakan
PENGARUH AKTIVITAS FISIK TERHADAP KOGNITIF PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DITINJAU DENGAN METODE NARRATIVE REVIEW
Latar Belakang: Ada asumsi yang menyatakan bahwa aktivitas fisik memiliki efek
mampu meningkatkan kinerja fungsi kognitif anak usia sekolah dasar. Namun, masih
sedikit bukti penelitian yang telah ditemukan. Kognitif mempunyai peran penting
dalam pembelajaran di sekolah dan mampu mempengaruhi prestasi anak pada usia
sekolah dasar. Tujuan: Untuk mengetahui apakah ada pengaruh aktivitas fisik
terhadap fungsi kognitif pada anak usia sekolah dasar. Metode Penelitian:
Menggunakan metode narrative review, yaitu mengumpulkan sepuluh artikel yang
sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi dan diidentifikasi menggunakan rumus
PICO. Menentukan kata kunci untuk pencarian di database. Menggunakan tiga
database yaitu Pubmed, Pedro, dan Google Scholar. Setelah melakukan pencarian di
tiga database, dan tahap terakhir adalah membuat sebauh diagram yaitu PRISMA Flow
Chart. Hasil Penelitian: Aktivitas fisik mampu meningkatkan kinerja pada fungsi
kognitif. Komponen fungsi kognitif yang dipengaruhi seperti attention, konsentrasi,
memori, psikomotorik, fungsi eksekutif, penalaran logis, faktor verbal, faktor numerik,
dan faktor spasial. Selain itu, juga mempengaruhi massa lemak, massa bebas lemak,
kebugaran otot, kardiorespirasi, dan kortisol saliva. Ada enam jurnal yang
mendapatkan hasil signifikan aktivitas fisik meningkatan kinerja fungsi kognitif pada
tetapi tidak semua jurnal mendapatkan hasil yang signifikan, ada empat jurnal yang
mendapatkan hasil yang tidak signifikan dalam meningkatan fungsi kognitif pada anak
usia sekolah dasar. Kesimpulan: Ada pengaruh aktivitas fisik terhadap kognitif pada
anak usia sekolah dasar. Ada jurnal yang mendapatkan hasil yang tidak signifikan,
disebabkan oleh beberapa hal seperti perubahan pembuluh darah di otak yang
menyebabkan kelelahan otak, diperlukan sesi latihan dengan durasi yang lebih lama,
tingkat kesulitan yang tinggi menyebabkan tuntutan / upaya kognitif yang substansial
selama latihan, menghabiskan sumber daya kognitif anak-anak dan menghambat
perbaikan dalam kognitif. Saran: Untuk peneliti selanjutnya, saya harapkan nanti
mampu untuk melakukan penelitian dipelayanan fisioterapi dengan responden anak
usia sekolah dasar, dengan memperhatikan karakteristik aktivitas fisik, jenis aktivitas
fisik dan melakukan penilaian sebelum, segera sesudah, dan 1 jam setelah melakukan
aktivitas fisik