DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DAN PERSONAL HYGIENE TERHADAP INFEKSI KECACINGAN SOIL TRANSMITTED HELMINTHS PADA ANAK
Latar Belakang: Infeksi kecacingan merupakan suatu penyakit yang disebabkan
oleh pencemaran parasit golongan nematoda usus atau yang biasa disebut Soil
Transmitted Helminths (STH). Penyakit kecacingan ini masih menjadi
permasalahan di dunia termasuk Indonesia, Indonesia menempati posisi negara
kedua infeksi STH di Asia Tenggara mencapai 55 juta jiwa. Anak cenderung
memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi dibandingkan dengan golongan umur
lainnya. Tingkat sanitasi lingkungan dan personal hygiene yang kurang baik
mengakibatkan anak mudah terkontaminasi cacing melalui kulit atau benda.
Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan infeksi kecacingan
STH dengan sanitasi lingkungan dan personal hygiene pada anak. Metode: Jenis
penelitian ini menggunakan systematic review dengan penelusuran 10 jurnal
penelitian terdahulu yang memiliki persamaan topik dalam waktu terbit tahun
2010-2020. Penelusuran jurnal dilakukan melalui Google scholar,
Pubmed/Medline, dan Directory of Open Acces Journals (DOAJ) dengan kata
kunci “sanitasi lingkungan, personal hygiene dan kecacingan STH pada anak”.
Hasil penelitian: Hasil analisis penelitian ini terdiri dari 5 jurnal Indonesia dan 5
jurnal negara lain yang menunjukan kejadian infeksi kecacingan mencapai diatas
50% dengan kategori prevalensi kecacingan tingkat tinggi. Infeksi kecacingan
terjadi pada anak usia dini dan sekolah dasar sekitar 2-10 tahun. Seluruh
penelitian dilakukan dengan uji statistik membuktikan adanya hubungan sanitasi
lingkungan dan personal hygiene terhadap kejadian infeksi kecacingan STH.
Simpulan dan saran: Telah disimpulkan adanya hubungan antara kejadian
kecacingan dengan sanitasi lingkungan dan personal hygiene pada anak usia dini
dan sekolah dasar yang berada di Indonesia maupun luar negeri. Pengamatan
kejadian infeksi kecacingan pada anak perlu selalu dilakukan agar mampu
menambah suatu data informasi dalam pencegahan terjadinya kecacingan STH
ANALISIS HASIL KONTROL KUALITAS PEMERIKSAAN KOLESTEROL DAN TRIGLISERIDA DI RS PKU MUHAMMADIYAH KOTA YOGYAKARTA
Latar Belakang: Salah satu pelaksanaan mutu internal laboratorium dapat
dilakukan dengan melakukan kontrol kualitas pada setiap pemeriksaan. Suatu
laboratorium kesehatan memiliki peran penting dalam penegakan diagnosis suatu
penyakit, maka diharapkan suatu laboratorium secara rutin melakukan evaluasi,
agar hasil kontrol kualitas dapat diketahui validitasnya. Tujuan: Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui akurasi, presisi, dan evaluasi grafik Levey-Jennings
menggunakan aturan Westgard pada analisis hasil kontrol kualitas pemeriksaan
kolesterol dan trigliserida di RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Metode:
Metode yang digunakan, yaitu kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif
analitik serta menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan
dalam penelitian ini berupa data sekunder yang diambil pada bulan Oktober
hingga Desember tahun 2019. Hasil: Pada penelitian ini nilai bias yang
didapatkan pada parameter kolesterol di bulan Oktober adalah 0,87%, pada bulan
November 3,03%, dan di bulan Desember 0,96%. Pada parameter trigliserida
didapatkan nilai bias 3,15% di bulan Oktober, 0,42% di bulan November, dan
0,45% di bulan Desember. Nilai KV yang didapatkan pada parameter kolesterol
di bulan Oktober adalah 2,55%, pada bulan November 1,64%, dan pada bulan
Desember 2,66%. Nilai KV untuk parameter trigliserida pada bulan Oktober
adalah 4,07%, pada bulan November 3,90%, dan 4,03% pada bulan Desember.
Hasil evaluasi grafik Levey-Jennings menunjukan tidak ada kontrol yang
mengikuti aturan Westgard. Simpulan: Simpulan penelitian ini yaitu didapatkan
akurasi yang baik, pada pemerikaan kolesterol didapatkan nilai bias tertinggi
3,03%, dan trigliserida tertinggi 3,15% pada bulan Oktober hingga Desember
tahun 2019. Presisi yang didapatkan menandakan tingkat ketelitian tinggi dengan
nilai KV tertinggi 2,66% untuk kolesterol dan untuk trigliserida tertinggi 4,30%.
Evaluasi grafik Levey-Jennings berdasarkan aturan Westgard tidak ditemukan
penyimpangan pada pemeriksaan kontrol di bulan Oktober hingga Desember
2019, ditandai dengan tidak ditemukannya nilai kontrol yang keluar dari batas
±2SD
STUDI LITERATUR PERBANDINGAN PENGGUNAAN MADU DAN NEUTRAL BUFFERED FORMALIN 10% DALAM FIKSASI JARINGAN
Latar Belakang: Neutral Buffered Formalin 10% merupakan larutan fiksasi standar
yang sering digunakan dalam pemeriksaan histologi. Neutral Buffered Formalin
merupakan bahan kimia yang memiliki tingkat toksisitas yang tinggi. Neutral
Buffered Formalin dalam jangka panjang dapat menyebabkan alergi serius pada
kulit, mata dan saluran pernapasan. Guna mengurangi paparan Neutral buffered
formalin 10% bagi kesehatan tenaga medis dan laboratoris maka peneliti
menggunakan bahan alternatif madu sebagai pengganti Neutral Buffered Formalin
10% dengan memperhatikan waktu fiksasi dan konsentrasi yang digunakan pada
pemeriksaan histologi sesuai dengan jurnal yang ditelaah. Tujuan Penelitian:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan penggunaan madu dan
Neutral Buffered Formalin 10% dalam fiksasi jaringan. Metode penelitian: Jenis
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan studi literatur
dengan menggunakan pola PICO. Pencarian kata kunci yang digunakan dapat
dilakukan di berbagai sumber seperti Google Scholar, Pubmed, Science direct dan
Research Gate. Hasil Penelitian: Berdasarkan studi literatur madu dapat digunakan
dengan konsentrasi 15% - 100%, lama waktu fiksasi yang paling optimal digunakan
yaitu selama 48 jam dan pH madu yang bersifat asam dapat digunakan untuk proses
fiksasi. Kriteria penilaian sediaan dengan melihat hasil gambaran histologi tidak
memberikan perbedaan yang signifikan antara penggunaan madu dan larutan Neutral
Buffered Formalin 10%. Simpulan: Madu adalah alternatif yang baik untuk
digunakan dalam proses fiksasi dan dapat digunakan sebagai pengganti Neutral
Buffered Formalin 10%. Saran: Sebaiknya dilakukan variasi waktu fiksasi dan
menjelaskan lebih dalam terkait hal yang dapat mempengaruhi bahan fiksasi alami
yang digunakan selain konsentrasi, pH dan waktu fiksasi
HUBUNGAN PENGETAHUAN PENGGUNAAN TAS PUNGGUNG TERHADAP KELUHAN NYERI LEHER PADA PELAJAR DI SMP PGRI KASIHAN BANTUL YOGYAKARTA
Latar belakang: Penggunaan tas yang memiliki beban terlalu berat atau tidak
dipakai dengan benar akan dapat menyebabkan masalah bagi anak-anak dan remaja,
Tas yang digunakan secara tidak tepat dapat melukai otot dan persendian dan dapat
menyebabkan bebarapa permasalahan seperti sakit pada punggung, leher, bahu,
scoliosis dan dapat menyebabkan perubahan pada postur tubuh, Penggunaan tas yang
kurang benar, beban yang terlalu berat dan kurangnya pengetahuan terhadap
penggunaan tas yang sesuai pada pelajar telah menjadi salah satu issue kesehatan
pada anak sekolah saat ini.
Tujuan : Untuk mengetahui hubungan pengetahuan penggunaan tas punggung
dengan keluhan nyeri leher pada pelajar di SMP PGRI Kasihan Bantul Yogyakarta
Metode Penelitian : Penelitian kuantitatif dengan pendekatan yang digunakan
adalah pendekatan korelasi, desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional.
Responden dalam penelitian ini berjumlah 83 siswa, pengambilan sampel
menggunakan teknik proportional random sampling. Pengambilan data pengetahuan
menggunakan kuesioner dan pengukuran nyeri menggunakan VAS (Visual Analog
Scale).
Hasil Penelitian : Hasil uji normalitas menggunakan metode Kolmogorov Smirnov
didapatkan kesimpulan bahwa nilai sampel berdistribusi tidak normal (nilai p =
0,000). Kemudian dilakukan uji korelasi Kendall’s tau didapatkan hasil nilai
koefisien korelasi (r) sebesar 0,050 > 0 berarti kekuatan korelasi antar variabel
termasuk sangat lemah dan ρ-value sebesar 0,650 ≤ 0,05 yang berarti tidak terdapat
hubungan pengetahuan backpack safety terhadap nyeri leher.
Simpulan dan Saran : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan
penggunaan tas punggung dengan keluhan nyeri leher pada pelajar di SMP PGRI
Kasihan Bantul Yogyakarta. Pelajar tetap diberikan pemahaman mengenai cara
menggunakan tas punggung yang baik dan benar agar terhindar dari beberapa
penyakit musculoskeletal lainny
SYSTEMATIC REVIEW: PENGKAJIAN ZAT FIKSASI ALTERNATIF PENGGANTI NBF (Neutral Buffer Formaline) 10% DALAM BIDANG HISTOPATOLOGI
Latar belakang: Pemrosesan jaringan merupakan langkah yang dilakukan untuk
mengetahui struktur jaringan secara mikroskopis yang berfungsi sebagai penegak
diagnosis penyakit. Fiksasi merupakan bagian dari tahapan pra analitik yang paling
penting dalam pemeriksaan histopatologi. Fiksasi bertujuan untuk mengawetkan
jaringan dan mengeraskan jaringan, sehingga struktur jaringan dapat dipertahankan
seperti kondisi saat masih hidup. Neutral Buffer Formaline (NBF) 10% merupakan
salah satu jenis cairan fiksatif yang paling banyak digunakan dalam pembuatan
preparat histologi. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Badan Occupational Safety and
Health Administration (OSHA) mengklasifikasikan formaldehid sebagai bahan karsinogen
kelas 1. Itu sebabnya beberapa penelitian telah dilakukan untuk penggantian formalin
sebagai zat fiksasi menggunakan pemanis alami. Tujuan: Membandingkan efektivitas
larutan gula, jaggery, khandsari dan NBF 10% dalam memfiksasi jaringan. Metode:
Jenis penelitian menggunakan penelitian systematic review. Hasil: Pemanis alami
jaggery 30%, jaggery 100%, khandsari 30% dan gula pasir 10% dapat memberikan
gambaran kualitas jaringan yang baik. Jaggery konsentrasi 100% dapat digunakan
dalam skala besar dengan penambahan kristal timol sebagai anti mikroba. Simpulan:
Telah dibuktikan oleh beberapa penelitian yang menggunakan pemanis alami bahwa
gula pasir tebu, jaggery dan khandsari dapat digunakan sebagai zat fiksasi pengganti
NBF 10% dalam bidang histopatologi. Saran: Penelitian lanjutan mengenai pemanis
alami gula selain jaggery (gula pasir dan khandsari) dengan menggunakan jaringan
patologis manusia untuk memastikan konsentrasi optimum yang dapat digunakan
sebagai zat fiksasi pengganti NBF 10% dalam bidang histopatologi
HUBUNGAN FLEKSIBILITAS HAMSTRING TERHADAP KELINCAHAN PADA PEMAIN BADMINTON SKRIPSI
Latar Belakang: Fleksibilitas adalah kemampuan jaringan otot memanjang secara
maksimal hingga lingkup gerak sendi penuh tanpa rasa nyeri. Fleksibiltas menjadi
faktor yang penting dalam mempengaruhi kelincahan karena semakin lentur jaringan
otot atau jaringan yang secara bersama-sama bekerja seperti sendi, ligamen, dan
tendon maka juga akan didapatkan peningkatan kelincahan dan semakin kecil
kemungkinan untuk mengalami cidera. Kemampuan fleksibiltas yang terbatas dapat
menyebabkan penguasaan teknik yang kurang baik dan prestasi yang rendah,
sedangkan secara langsung kelincahan adalah kemampuan untuk merubah arah posisi
tubuh dengan cepat dan tepat pada waktu sedang bergerak tanpa kehilangan
keseimbangan dan kesadaran. Kelincahan digunakan untuk mengkoordinasikan
gerakan-gerakan berganda atau simultan, mempermudah penguasaan teknik-teknik
tinggi, mempermudah orientasi terhadap lawan dan lingkungan. Tujuan:
Mengetahui hubungan fleksibilitas hamstring terhadap kelincahan pada pemain
badminton. Metode: Penelitian korelasi analitik observational dengan menggunakan
pendekatan cross sectional dan memilki sampel sebesar 25 orang. Penelitian ini
menggunakan uji statistik univariat dan bivariat dengan menggunakan uji normalitas
Shapiro Wilk dan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil: Didapatkan hasil p
0,750 atau p>0,05 yang artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan diantara
kedua variabel. Kesimpulan: tidak ada korelasi atau hubungan antara fleksibilitas
hamstring terhadap kelincahan pada pemain badminton. Saran: Melakukan
penelitian yang lebih lanjut terkait dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi
kelincahan serta menambah jumlah responden dalam penelitian
PENGARUH PEMBERIAN CLOSE KINATIC CHAIN TERHADAP PENINGKATAN FUNGSIONAL LANSIA PENDERITA OSTEOATRITIS KNEE NARRATIVE REVIEW
Pendahuluan : Osteoatritis knee merupakan penyakit degeneratif penyebab paling
utama keterbatasan gerak dan fungsi extremitas bawah. Hal tersebut akan
menimbulkan faktor resiko yang dapat berkembang kuat menjadi penurunan
kemampuan fungsional seutuhnya dan menjadikan turunya produktifitas seseorang.
Penderita osteoartritis knee pada umumnya banyak mengeluhkan adanya nyeri lutut
dan kekakuan sendi yang dapat menyebabkan masalah dalam melakukan aktivitas
sehari-hari Walaupun penyakit ini bukan merupakan penyakit yang mendapat sorotan
lebih terutama di dunia kesehatan, namun osteoatritis masih menjadi problem
kesehatan yang terjadi hampir di berbagai dunia. Tujuan : Mengetahui pengaruh
pemberian close kinetic chain terhadap peningkatan kemampuan fungsional lansia
penderita osteoatritis lutut. Metode : Menggunakan metode narrative review dengan
pencarian jurnal dilahkukan menggunakan 3 database (Pubmed, Google Scholar, dan
PEDro) dengan kurun waktu tahun terbit jurnal antara 2010-2020. Hasil : Dari 10
jurnal pengaruh pemberian close kinetic chain terhadap peningkatan kemampuan
fungsional menunjukan hasil signifikan dalam peningkatan kemampuan fungsional
dengan 3 jenis instrumen pengukuran kemampuan fungsional yaitu WOMAC, FIQ,
KOOS-PS. Kesimpulan : Close kinetic chain memilki pengaruh terhadap peningkatan
kemampuan fungsional lansia penderita osteoatritis sebagai intervensi yang efektif.
Saran : Bagi peneliti selanjutnya diharapkan menambah jumlah literatur yang ada
untuk dapat mengembangkan penelitian serta alat ukur pada jurnal penelitian ini
diharapkan sama agar memudahkan dalam mengukur hasil
HUBUNGAN LAMA KERJA DENGAN FORWARD HEAD POSTURE PADA PEKERJA WARNET : A NARRATIVE REVIEW
Latar Belakang: Seiring berjalanya waktu, perkembangan teknologi dan informasi di
berbagai bidang mengalami kemajuan seperti adanya smartphone dan komputer.
Pekerja warnet merupakan pekerjaan duduk di depan komputer yang cederung lama
sekitar 8 jam ataupun lebih.Pekerja jenis ini seringkali mengalami keadaan postur yang
kaku, beban otot yang statis akibat tugas berulang-ulang serta tuntutan kerja tinggi yang
menyebabkan adanya ketergantungan bekerja sambil duduk menjadi lebih besar maka
dengan keadaan tersebut dapat membuat pekerja warnet mengalami forward head
posture. Beberapa pekerja yang melakukan pekerjaan, dalam waktu yang lama atau
bekerja di depan meja dengan posisi membungkuk dengan waktu yang lama dapat
menimbulkan gangguan ketegangan dan peregangan otot dan ligamen di sekitar leher.
Postur tubuh yang biasa dilakukan pada pekerja static adalah Forward Head Posture.
Tujuan: Untuk mengetahui apakah ada hubungan lama kerja dengan Forward Head
Posture pada pekerja warnet. Metode Penelitian: Menggunakan metode Narrative
Review, yaitu dengan mengumpulkan sepuluh artikel penelitian lalu dilakukan review.
Hasil: Hasil review dari 10 jurnal menyatakan bahwa ada hubungan lama kerja dengan
forward head posture dari masing – masing alat ukur yang digunakan. Kesimpulan:
Ada hubungan lama kerja dengan forward head posture pada pekerja warnet. Saran
Untuk Peneliti Selanjutnya : Peneliti dapat melakukan penilitian lebih lanjut terkatit
penelitian tersebut terhadap profesi yang mempunyai resiko
PENGARUH THERABAND EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN KESEIMBANGAN DINAMIS PADA LANSIA NARRATIVE REVIEW
Latar Belakang: Lansia merupakan seseorang yang berusia 60 tahun ke atas.
Banyak permasalahan yang sering dihadapi seiring dengan bertambahnya usia, salah
satunya adalah gangguan keseimbangan dinamis. Faktor yang mempengaruhi
terjadinya gangguan keseimbangan dinamis terdiri dari faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal terdiri dari usia dan jenis kelamin, sedangkan faktor
eksternalnya berupa lingkungan dan penggunaan alas kaki. Intervensi yang dapat
diaplikasikan pada kasus gangguan keseimbangan dinamis adalah Theraband
Exercise. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh Theraband Exercise terhadap
peningkatan keseimbangan dinamis pada lansia. Metode: Jenis penelitian ini adalah
Narrative Review dengan menggunakan metode framework PICO (Population,
Intervention, Comparison, Outcome). Pencarian artikel mengunakan 3 database yaitu
PubMed, Google Schoolar dan Scient Direct yang diterbitkan dalam kurun waktu
2010–2020 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil Penelitian: Setelah
dilakukan screening judul dan full text, didapat 5 artikel yang tidak sesuai dengan
kriteria inklusi dan 10 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi. 10 artikel tersebut
menyatakan bahwa Theraband Exercise berpengaruh terhadap peningkatan
keseimbangan dinamis pada lansia. Kesimpulan: Theraband Exercise dapat
digunakan sebagai salah satu intervensi fisioterapi dalam meningkatkan
keseimbangan dinamis pada lansia. Saran: Diharapkan bisa menambah literature
yang lebih baik untuk kesempurnaan untuk penelitian selanjutnya
Literature Review: Korelasi Profil Lipid dan Kadar Gula Darah Puasa pada Penderita Dengan Diabetes Melitus Tipe 2
Latar Belakang: Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit
metabolik dengan karakteristik hiperglikemia. Hiperglikemia pada diabetes
melitus terjadi akibat defek pada sekresi insulin, kerja insulin atau umumnya
keduanya.
Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui adanya korelasi kadar gula darah puasa
dengan kadar profil lipid pada pasien DM tipe 2.
Metode Penelitian: Skripsi ini menggunakan metode literature review, yaitu
dengan cara mengumpulkan informasi dari berbagai media seperti buku, jurnal,
dan lain-lain. Jurnal biasanyaditemukan dengan cara mencari di internet dengan
menggunakan metode PICO.
Hasil Penelitian: Berdasarkan temuan 10 jurnal yang telah dianalisis didapatkan
hasil yaitu diabetes melitus dan dislipidemia.
Simpulan: Gula darah memiliki peranan terhadap kenaikan kadar lemak darah.
Peningkatan kadar glukosa darah berbanding lurus dengan peningkatan kadar
kolesterol total, LDL, HDL dan trigliserida yang menyebutkan kenaikan kadar
trigliserida dan kolestrol berkaitan erat dengan peningkatan kadar glukosa darah
Saran: Skripsi ini memiliki banyak kekurangan dikarenakan minimnya sumber
dan pengetahuan yang penulis dapatkan. Penulis masih kurang mampu dan tidak
menemukan sumber jurnal dalam bahasa inggris