DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
LITERATUR REVIEW GAMBARAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA IBU BEKERJA
Menurut World Health Organization (WHO), cara terbaik menyediakan nutrisi bagi
bayi dengan memberikan yang mereka butuhkan yaitu dengan memberikan ASI
secara Ekslusif selama 6 bulan dilanjutkan hingga 2 tahun dengan pemberian
makanan pendamping yang sesuai sebagaimana dinyatakan dalam Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. ASI sudah diketahui keunggulannya namun
terjadi kecenderungan ibu tidak menyusui bayinya. Alasan yang dikemukakan ibu
diantaranya adalah karena ibu bekerja, tidak adanya dukungan dari suami dan
keluarga.Jenis penelitian pada studi ini adalah Study deskriptif dengan menggunakan
literatur review tentang gambaran pemberian ASI Eksklusif pada ibu bekeja.
Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan mencari sumber
melalui Elektronik Data Base. Elektronik database yang digunakan ialah google
scholar yang diawali dengan penentuan topik dan kata kunci untuk pencarian artikel
maupun jurnal. Gambaran pemberian ASI Ekslusif pada ibu bekerja dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya pengetahuan, pengalaman, dukungan suami, dukungan
orang tua, dukungan tenaga kesehatan. Selain itu juga faktor tempat kerja yang
mendukung maupun yang menghambat. Cara ibu bekerja memberikan ASI dapat
secara langsung, menggunakan ASI perah, dapat pula bergantian menyusui dengan
saudara yang juga sedang menyusui. Diharapkan atasan, rekan kerja, suami, dan
keluarga dapat memberikan dukungan kepada ibu menyusui agar sukses memberikan
ASI Ekslusif
KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB IUD PASCA PLASENTA
Salah satu tujuan yang harus dicapai dalam SDGs adalah mencapai kesetaraan
gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan dengan salah
satu indikatornya adalah tingkat kebutuhan pelayanan KB yang terpenuhi.
Pengunaan KB bertujuan untuk mencegah angka kematian pada ibu yang disebabkan
oleh 4T yaitu terlalu muda usia ibu hamil, terlalu tua usia ibu hamil, terlalu rapat
jarak kehamilan dan terlalu sering melahirkan.Penggunaan Kb IUD pasca Plasenta
ini merupakan salah satu cara yang penting dilakukan sebagai salah satu upaya untuk
mencegah terjadinya kehamilan yang terlalu rapat jaraknya karena alasan
lupa.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis literature yang berhubungan dengan
Karakteristik Akseptor KB IUD Pasca Plasenta. Metode yang digunakan dengan
menggunakan strategi secara komprehensif baik nasional maupun internasional,
seperti artikel dalam data base jurnal penelitian, pencarian melalui internet, tinjauan
ulang artikel antara lain proquest, EBSCO, dan juga google scholer. Pada tahap awal
pencarian artikel menggunakan kata kunci “Karakterisktik Akseptor KB IUD Pasca
Plasenta” dengan menggunakan 10 jurnal dengan rentang tahun terbit 2010-2020.
Kemudian memilih artikel yang sesuai dengan yang dibutuhkan oleh penulis.
Berdasarkan analisis didapatkan dukungan suami memiliki pengaruh paling besar
dalam penggunaan KB IUD pasca plasenta.Hal tersebut dikarenakan adanya budaya
patriarki pada masyarakat Indonesia yang mengharuskan seorang istri patuh dan
tunduk terhadap suami dan juga peran perempuan yang masih terbatas pada
pengambilan keputusan didalam keluarga, sedangkan suami masih sebagai
pengambil keputusan yang dominan termasuk juga dalam menentukan kontrasepsi
yang akan digunakan untuk mengatur kelahiran dalam rumah tangga tersebut.
Disarankan pada bidan untuk memberikan KIE pada ibu sejak masa kehamilan
sehingga akan siap menggunakan kontrasepsi setelah melahirkan
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN RUPTURE PERINEUM PADA PERSALINAN NORMAL : LITERATURE REVIEW
Target Sustainable Development Goals (SDG’s) tahun 2030 yaitu menurunkan
Angka Kematian Ibu (AKI) di bawah 70 per 100.000 Kelahiran Hidup (KH). AKI di
Indonesia masih merupakan masalah prioritas di bidang kesehatan. Salah satu
penyumbang AKI adalah Rupture Perineum. Prevalensi ibu bersalin yang mengalami\ud
Rupture perineum pada beberapa Propinsi di Indonesia didapatkan bahwa satu dari
lima ibu bersalin yang mengalami Rupture perineum akan meninggal dunia dengan
persentasi 21,74%. Rupture perineum perlu mendapatkan perhatian karena dapat
menyebabkan disfungsi organ reproduksi wanita, sebagai sumber perdarahan, dan
sumber, atau jalan keluar masuknya infeksi, yang kemudian dapat menyebabkan
kematian karna perdarahan atau sepsis. Pemerintah telah melakukan beberapa upaya
untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), salah satunya adalah Program
Keluarga Harapan dari Kementerian Sosial, sebuah program pemberian bantuan
sosial bersyarat kepada Keluarga Miskin yang ditetapkan sebagai Keluarga Penerima
Manfaat. Disamping itu, salah satu upaya bidan untuk mencegah terjadinya Rupture
perineum adalah melindungi perineum pada kala dua persalinan dengan melakukan
penatalaksanaan persalinan sesuai standart asuhan persalinan normal. Literature
Review ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian
Rupture perineum pada ibu bersalin normal. Metode penulisan yang digunakan
dalam penulisan ini adalah Literature Review berbasis jurnal dengan metode
pencarian menggunakan electronic data base yang dapat diakses full text. Tahun
jurnal yang digunakan dibatasi 2011-2019. Database kesehatan yang relevan
termasuk Perpusnas, Garuda, Researchgate, Semantic Schoolar dan Google
Schoolar. Berdasarkan hasil review 10 jurnal, faktor-faktor yang mempengaruhi
kejadian Rupture perineum pada ibu bersalin spontan adalah Berat Bayi Lahir,
Paritas, Usia dan Jarak Kelahiran. Faktor yang paling dominan dalam kejadian
Rupture perineum pada ibu bersalin spontan adalah Paritas (primipara)
GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG SEKS BEBAS : STUDI LITERATURE RIVIVEW
Remaja di definisikan sebagai suatu periode perkembangan dari transisi antara
masa kanak-kanak dan dewasa, yang diikuti oleh perubahan biologis, kognitif,
dan sosio emosional. Seks bebas adalah hubungan antara dua orang dengan
jenis kelamin yang berbeda dimana terjadi hubungan seksual tanpa adanya
ikatan pernikahan. Di Indonesia, berdasarkan hasil survey 33 provinsi pada
tahun 2011, sebanyak 89% remaja SMP dan SMA di Indonesia pernah
berhubungan seks, 41% diantaranya melakukan aborsi. Dampak seks bebas
pada remaja yaitu menciptakan kenangan buruk bagi remaja, kehamilan yang
tidak diinginkan, pengguguran kehamilan, pembunuhan bayi, penyebaran
PMS, serta beban mental yang sangat berat bagi keluarga. Tujuan penelitian
untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja tentang seks bebas. Penelitian
ini menggunakan metode literature review, pencarian artikel melalui Google
Scholar dengan kata kunci: pengetahuan, remaja, seks bebas. Kriteria dalam
penelitian: artikel yang terbit dalam 10 tahun terakhir yaitu rentan waktu 2010
sampai 2020, berbahasa Indonesia, artikel yang diakses secara fulltext dalam
format pdf. Populasi dalam penelitian ini adalah semua remaja. Hasil penelitian
literature review ini menunjukkan dari 10 artikel, hanya ada 2 artikel yang
membahas pengetahuan tentang pengertian seks bebas dengan hasil keduanya
berpengetahuan baik, 5 artikel yang membahas pengetahuan tentang bentukbentuk perilaku seks bebas dengan hasil empat artikel berpengetahuan baik dan
satu artikel berpengetahuan kurang baik, 2 artikel yang membahas pengetahuan
tentang faktor yang mendorong seks bebas dengan hasil keduanya
berpengetahuan baik, dan hanya 5 artikel yang membahas pengetahuan tentang
dampak seks bebas dengan hasil tiga artikel berpengetahuan baik dan dua
artikel yang berpengetahuan kurang baik. Bidan diharapkan dapat memberikan
penyuluhan kepada remaja terkait pengetahuan tentang seks sebagai upaya
pencegahan dan penanggulangan seks bebas
INDIKASI PERSALINAN SECTIO CAESAREA DAN KOMPLIKASI PASCA PERSALINAN SECTIO CAESAREA: NARRATIVE REVIEW
Persalinan sectio caesarea mengalami peningkatan yang terus menerus selama
beberapa dekade terakhir, fenomena ini meningkat terutama di negara-negara maju,
dan mulai merebak di negara-negara berkembang terutama ASIA.Penelitiannarrative
review mengenaiindikasi persalinan sectio caesarea dan komplikasi pasca persalinan
sectio caesarea ini dilakukan karenabanyaknya penelitian sebelumnya yang
membahas mengenai indikasi dan juga komplikasi dari persalinan sectio
caesareaakan tetapi masih banyak perbedaan antara indikasi dan komplikasi yang
terjadi dalam satu penelitian dengan penelitian lainya. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahuiindikasi persalinan sectio caesarea dan komplikasi pasca persalinan
sectio caesarea. Metode yang digunakan yaitu mengidentifikasi research question
dengan framework PEOS identifikasi artikel yang publikasi dari tahun 2010-2020
menggunakan database yang relevan (Pubmed, dan G-Schoolar,) dengan kata kunci,
Hasil artikel di jabarkan menggunakan mapping artikel berdasarkan nilai prevalensi
dan OR. Hasil dalam pencarian di database di dapatkan 1.071 artikel setelah
dilakukan penyaringan judul dan relevansi abstrak, didapatkan 10 artikel yang
memenuhi kriteria dan memunculkan 2 tema yaitu indikasi dan komplikasi
persalinan sectio caesarea. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah Indikasi
persalinan sectio caesarea yaitu indikasi mutlak berdasarkan ibu dan janin,relatif
berdasarkan riwayat sectio caesarea,Oligohidramnion,Gemeli,dan Ibu dengan HIV+,
Sosialberdasarkan APS (atas permintan sendiri). Komplikasi pasca persalianan sectio
caesarea yaitu perdarahan post partum, sepsis post partum, infeksi post partum, syok
post partum, laserasi total, rupture uterus
SYSTEMATIC REVIEW : KADAR SERUM IRON PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS
Latar Belakang : Gagal Ginjal Kronis (GGK) adalah gangguan atau penurunan
fungsi ginjal secara progresif dan irreversibel yang ditandai dengan nilai Laju Filtrasi
Glomerulus (LFG) <60 mL/min/1,73 m² yang terjadi lebih dari 3 bulan. Menurut
World Health Organization (WHO) prevalensi gagal ginjal di Indonesia akan
meningkat pada tahun 1995-2025 sebesar 41,4%. Pemeriksaan laboratorium
hematologi yang dapat digunakan untuk skrining, diagnosis, terapi dan monitoring
pada kasus ini adalah pemeriksaan status besi yaitu serum iron. Serum iron adalah
jumlah besi yang berikatan dengan transferin yang beredar di tubuh. Penyakit ini
sering menyebabkan komplikasi antara lain anemia, hipertensi dan diabetes mellitus.
Tujuan Penelitian : Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kadar serum iron
pada pasien gagal ginjal kronis stadium 5, dengan hemodialisis dan pra-hemodialisis.
Metode Penelitian : Jenis penelitian ini ialah systematic review yang menggunakan
jurnal penelitian ilmiah, pencarian jurnal menggunakan database google cendikia
dan PubMed dengan metode PICO.
Hasil Penelitian : Kadar serum iron pada pasien gagal ginjal kronis stadium 5 yaitu
50-158 μg/dL, 80,53 μg/dL dan 80,66 μg/dL. Kemudian, kadar serum iron pada
pasien gagal ginjal kronis dengan hemodialisis yaitu 54 μg/dL, 57,50 μg/dL dan 59-
158 μg/dL. Sedangkan kadar serum iron pada pasien gagal ginjal kronis pra-
hemodialisis yaitu 85,59 μg/dL, 98 μg/dL dan 101,67 μg/dL.
Simpulan : Kadar serum iron pada pasien gagal ginjal kronis pada stadium 5,
dengan hemodialisis, maupun pra-hemodialisis yaitu masih dalam ambang batas
normal.
Saran : Sebaiknya dilakukan pemeriksaan status besi lain pada pasien gagal ginjal
kronis pada stadium 3, 4, 5 dan pada pasien dengan atau tanpa komplikasi
ANALISIS HASIL KONTROL KUALITAS PEMERIKSAAN GLUKOSA DAN KOLESTEROL DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
Latar Belakang: Pelayanan laboratorium klinik merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan yang berguna untuk menegakkan diagnosis, yaitu dengan
cara menetapkan penyebab penyakit serta penunjang tingkat kewaspadaan dini.
Tujuan: Mengetahui akurasi, presisi, dan grafik Levey-Jennings menggunakan
aturan Westgard pada analisis kontrol kualitas pemeriksaan glukosa dan kolesterol
di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Metode: Metode yang digunakan yaitu
metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif analitik dengan
pendekatan cross sectional. Hasil: Hasil kontrol glukosa bulan September-
November diperoleh nilai mean yaitu: 77,6 mg/dL, 78,3 mg/dL, 78,3 mg/dL.
Standard Deviation (SD) diperoleh hasil yaitu: 4,01 mg/dL, 2,93 mg/dL, 5,04
mg/dL. Akurasi atau bias (%) diperoleh hasil yaitu: 4,39%, 3,54%, 3,61%. Pada
perhitungan Koefisien Variasi (KV) ada nilai yang keluar dari standar. Nilai yang
keluar yaitu 5,17% pada bulan September dan 6,44% pada bulan November.
Standar KV maksimum untuk kontrol glukosa yaitu ≤ 5%. Hasil kontrol kolesterol
bulan September-November diperoleh nilai mean yaitu: 250,0 mg/dL, 244,1
mg/dL, 249,3 mg/dL. Standard Deviation (SD) diperoleh hasil yaitu: 8,32 mg/dL,
6,22 mg/dL, 4,08 mg/dL. Akurasi atau bias (%) diperoleh hasil yaitu: 3,69%,
0,87%, 3,03%. Koefisien Variasi (KV) masuk dalam nilai standar, standar KV
maksimum untuk kontrol kolesterol yaitu ≤ 6%. Kemudian untuk grafik Levey-
Jennings berdasarkan aturan Westgard tidak ada nilai kontrol yang mengikuti
aturan 12s, 13s, 22s, R4s, 10x. Simpulan: Hasil akurasi atau bias (%) sangat baik
yaitu pada rentang 3,54%-4,39% untuk glukosa dan 0,87%-3,69% untuk
kolesterol, hasil presisi untuk kontrol glukosa yaitu ada nilai yang keluar dari
standar, nilai yang keluar yaitu 5,17% pada bulan September dan 6,44% pada
bulan November. Hasil presisi untuk kontrol kolesterol semua nilai masuk dalam
rentang yang telah ditetapkan, serta hasil evaluasi grafik Levey-Jennings
berdasarkan aturan Westgard untuk kontrol glukosa dan kolesterol tidak ada nilai
kontrol yang mengikuti aturan 12s, 13s, 22s, R4s, 10x
SYSTEMATIC REVIEW: PENGARUH KONDISI PENYIMPANAN DARAH ETHYLENE DIAMINE TETRAACETIC ACID (EDTA) TERHADAP JUMLAH TROMBOSIT METODE HEMATOLOGY ANALYZER
Latar Belakang: Kontrol kualitas merupakan salah satu kegiatan dari pemantapan
mutu internal. Laboratorium memiliki peran penting dalam menegakan suatu
diagnosis, sehingga diharapkan memiliki mutu yang baik agar hasil dapat
dipertanggungjawabkan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
akurasi, presisi, dan grafik Levey-Jennings menggunakan aturan Westgard pada
analisis kontrol kualitas pemeriksaan high density lipoprotein (HDL) dan low
density lipoprotein (LDL) di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Metode:
Metode yang digunakan yaitu kuantatif dengan desain penelitian deskriptif analitik
dan pendekatan secara cross sectional. Hasil: Proses penelitian ini dilaksanakan di
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta sampel yang digunakan adalah kontrol HDL
dan LDL berupa data sekunder yang diambil pada bulan Oktober 2019-Maret 2020.
Kemudian data tersebut dianalisis dengan cara menghitung rerata (mean), Standard
Deviation (SD), akurasi, presisi, serta melihat grafik Levey-Jennings berdasarkan
aturan Westgard. Hasil penelitian ini menunjukan nilai akurasi HDL dan LDL yang
baik sedangkan nilai presisi HDL dan LDL ada beberapa bulan yang keluar dari
rentang, hal ini masih bisa dikatakan cukup baik karena mendekati nilai normal.
Kesimpulan: Penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa nilai
akurasi HDL dan LDL sangat baik, nilai akurasi berkisar antara 90-110%.
Sedangkan hasil presisi HDL dan LDL ada beberapa bulan yang keluar dari rentang
maksimal, nilai normal presisi HDL dan LDL maksimal 5%. Hasil evaluasi grafik
Levey-Jennings tidak ada nilai kontrol yang mengikuti aturan Westgard
SYSTEMATIC REVIEW: KORELASI PENYAKIT HEPATITIS B DENGAN RHEUMATOID ARTHITIS (RA) PADA PASIEN YANG MENJALANI TERAPI DISEASE-MODIFYING ANTIRHEUMATIC DRUG (DMARD)
Latar Belakang: Rheumatoid arthritis (RA) merupakan suatu penyakit autoimun sistemik
berupa kelainan multisistem yang etiologinya belum diketahui secara pasti dan
dikarateristikkan dengan destruksi sinovial. Pasien dengan diagnosis RA umumnya
mendapatkan terapi Disease-Modifying Antirheumatic Drug (DMARD) untuk melindungi
sendi (tulang dan kartilago) akibat proses destruksi. Pemberian terapi DMARD jangka
panjang memiliki efek samping berupa penekanan respon imun pada pasien. Oleh karena
itu pemeberian terapi DMARD jangka panjang dapat berdampak pada munculnya Infeksi
virus Hepatitis B di pasien RA. Tujuan Penelitian: Mengetahui pengaruh terapi DMARD
terhadap reaktivitas penyakit Hepatitis B pada pasien Rheumatoid arthritis (RA). Metode
Penelitian: Systematic Review melalui penulusuran pustakan pada database Google
Scholard dan Pubmed dengan metode PICO. Hasil Penelitian: Diperoleh 10 jurnal yang
menunjukkan bahwa pasien Rheumatoid arthritis (RA) yang menjalani terapi DMARD
dalam jangka panjang memiliki resiko terhadap munculnya virus Hepatitis B. Reaktivasi
virus hepatitis B (HBV) lebih banyak terjadi pada pasien RA yang menjalani terapi
DMARD dengan kombinasi transplantasi organ. Beberapa faktor yang dapat
mengakibatkan reaktivasi HBV meliputi faktor usia, jenis kelamin, cuaca, genetik,
pengaruh hormonal serta tidak diberikannya profilaksis antivirus pada pasien RA.
Simpulan: Terdapat kolerasi antara penyakit Hepatitis B dengan Rheumatoid Arthritis
(RA) pada pasien yang menjalani terapi DMARD jangka panjang. Tingginya kemungkinan
terjadinya reaktivasi HBV pada pasien RA sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor resiko
yang menyertainya. Saran: perlu penelitian lebih lanjut terkait efek memberian terapi
DMARD pada pasien RA dengan modifikasi dosis dan lamanya terapi dilakukan
ANALISIS HUBUNGAN INDEKS MASA TUBUH (IMT) DENGAN KESEIMBANGAN LANSIA
Latar Belakang: Lansia adalah seseorang yang berumur 60 tahun ke atas.
Permasalahan yang sering dihadapi seiring dengan memasuki periode lanjut usia
salah satunya adalah masalah keseimbangan. Faktor penyebab gangguan
keseimbangan dapat berupa faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
antara lain usia, jenis kelamin, pekerjaan, nutrisi, dan riwayat jatuh, sedangkan
untuk faktor eksternalnya disebabkan oleh lingkungan dan penggunaan alas kaki.
Berat badan yang tidak ideal juga merupakan salah satu penyebab dari gangguan
keseimbangan pada lansia. Berat badan erat kaitannya dengan Indeks Masa Tubuh
(IMT). Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui hubungan Indeks Masa Tubuh (IMT)
dengan keseimbangan lansia. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan
penelitian kualitatif. Jenis penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan
pendekatan Cross Sectional. Pengambilan sampel dengan teknik Purposive
Sampling. Sampel berjumlah 45 lansia. Instrumen penelitian menggunakan Timed Up
and Go Test. Metode analisis menggunakan uji statistik univariat dan bivariat. Uji
normalitas menggunakan Shapiro-Wilk test dan uji korelasi menggunakan uji
Kendall’s Tau test. Hasil Penelitian : Ada hubungan Indeks Masa Tubuh
(p=0,0002) dimana (p<00,5) yang menunjukan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima,
berarti “ada hubungan Indeks Masa Tubuh (IMT) dengan keseimbangan lansia”.
Kesimpulan: ada hubungan Indeks Masa Tubuh (IMT) dengan keseimbangan lansia.
Saran: Peneliti selanjutnya dapat menggunakan sampel yang lebih banyak atau
dapat membahas mengenai faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi
keseimbangan lansia