DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
    6657 research outputs found

    ANALISIS POTENSI BAHAYA ERGONOMI DAN FISIK PADA RADIOGRAFER DI INSTALASI RADIOLOGI

    Get PDF
    Radiografer merupakan salah satu profesi kesehatan pada Instalasi Radiologi di Rumah Sakit. Kegiatan pekerjaan radiografer sering melakukan penangan terhadap pasien, alat, dan bahan secara manual menyebabkan radiografer dapat terpapar bahaya ergonomi dan bahaya fisik. Potensi bahaya ergonomi yang dapat berisiko mengalami gangguan keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) pada radiografer di instalasi radiologi. Sedangkan untuk potensi bahaya fisik yaitu dapat terpapar radiasi secara terus menerus hingga dapat menimbulkan efek stokastik dan efek non stokastik pada radiografer di instalasi radiologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi bahaya ergonomi dan bahaya fisik pada radiografer di instalasi radiologi. Penelitian ini dilakukan dengan studi literature atau literature review dengan jenis systematic literature review yaitu dengan mengumpulkan banyak referensi dari jurnal sebagai sumber data utama sebanyak dua jurnal, sumber data pendukung sebanyak 4 jurnal, buku dan peraturan lainnya. Dari sumber yang telah diambil kemudian dianalisis untuk ditarik kesimpulan sehingga diperoleh hasil yang dapat menjawab rumusan masalah. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa potensi bahaya ergonomi di instalasi radiologi yaitu dapat terjadinya keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) pada radiografer. Keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) terjadi di bagian tubuh punggung, leher, bahu, pergelangan tangan, dan lengan bawah. Hal ini terjadi karena instalasi radiologi belum memperhatikan peran ergonomi dalam meminimalisir terjadinya musculoskeletal disorders (MSDs) pada radiografer. Sedangkan untuk potensi bahaya fisik yaitu dapat terpaparnya radiasi sinar-X yang dapat menyebabkan efek non stokastik dan efek stokastik. Efek non stokastik berupa kemerahan pada kulit, kerontokan rambut, dan luka bakar. Sedangkan efek stokastik berupa sindrom dan kanker. Di instalasi radiologi sebaiknya dapat memperhatika peran ergonomi seperti tata letak tempat bekerja, postur tubuh dalam mengangkat pasien, menggeser dan memposisikan pesawat sinar-X, dan postur tubuh posisi saat duduk. Sedangkan untuk bahaya fisik dapat dilakukan pengendalian dengan cara menggunakan film badge atau TLD badge serta radiografer saat melakukan eksposi berada di balik bilik berlapis timbal dilengkapi dengan kaca timbal

    KEPATUHAN DIET PADA PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER (PJK): LITERATURE REVIEW

    Get PDF
    Latar Belakang : Fenomena masyarakat di Indonesia mengkonsumsi makanan berlemak, mengandung kolesterol dan makanan gorengan meningkatkan resiko terjadi PJK. Resiko tersebut dapat diturunkan dengan melakukan kepatuhan diet. Kepatuhan diet merupakan tingkat kesadaran penderita jantung koroner terhadap kebiasaan makanan sehari-hari. Perilaku tidak patuh akan meningkatkan resiko yang terkait dengan masalah kesehatan dan semakin memperburuk penyakit yang sedang diderita Tujuan : Mengetahui tingkat kepatuhan diet pada pasien penyakit jantung koroner berdasarkan penelusuran literature. Metode : Penelusuran literature dilakukan melalui google scholar dan pubmed. Keywords yang digunakan dala bahasa Indonesia adalah “Kepatuhan diet” dan “Penyakit Jantung Koroner (PJK)” sedangkan dalam bahasa Inggris adalah “Dietary Adherence” dan “Coronary Heart Disease”. Hasil : Hasil penelusuran didapatkan 486 jurnal. Dari 486 jurnal terdapat 2 jurnal yang duplikasi. Dari 484 jurnal tersebut sebanyak 480 jurnal dikeluarkan sehingga jurnal yang di review adalah sebanyak 4. Jurnal yang digunakan adalah jurnal Bahasa Indonesia. Simpulan dan Saran : Kepatuhan diet pasien penyakit jantung koroner dipengaruhi oleh dukungan keluarga yang baik. Pengetahuan juga mempengaruhi kepatuhan diet pasien penyakit jantung koroner. Akan tetapi pengetahuan tidak cukup kuat untuk merubah perilaku hidup sehat melalui diet apabila tidak didukung dengan gaya hidup atau kebiasaan dalam pola makan sehari-hari. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang berhubungan dengan kepatuhan diet pada pasien penyakit jantung koroner dari faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kepatuhan diet

    PERBANDINGAN INFORMASI CITRA ANATOMI CLAVICULA PADA KASUS FRAKTUR PROYEKSI AP DAN AP AXIAL

    Get PDF
    Clavicula adalah tulang penyokong yang memfiksasi lengan dibagian lateral dan salah satu patologi yang sering terjadi pada clavicula adalah fraktur. Teknik pemeriksaan radiografi clavicula pada kasus fraktur menggunakan proyeksi AP,AP axial dan Serendipity view. Menurut Bontrager (2014), dapat menggunakan proyeksi AP dan proyeksi axial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pemeriksaan radiografi clavicula pada kasus fraktur dan untuk mengetahui perbedaan anatomi radiografi proyeksi AP dan arah sinar menyudut axial. Penelitian ini termasuk jenis penelitian literature review, menggunakan berbagai sumber tertulis seperti jurnal dan textbook. Data – data yang sudah diperoleh kemudian dianalisis dengan metode analisis deskriptif. Pengambilan data dilakukan pada bulan Desember 2020–Juni 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik pemeriksaan radiografi clavicula pada kasus fraktur yaitu pasien erect/supine di meja pemeriksaan pemeriksaan, posisi objek ditengah kaset, dengan bahu yang rileks, adanya tiga penyudutan dengan arah AP horizontal/vertikal tegak lurus, arah AP axial 15°-30° dan Serendipity view. Pada anatomi radiografi clavicula dengan kasus fraktur proyeksi AP yaitu seluruh clavicula berpusat pada gambar,kepadatan seragam, separuh lateral clavicula di atas skapula, dengan setengah medial melapisi dada, pada AP axial clavicula diproyeksikan di atas tulang rusuk dan skapula dengan ujung medial tumpang tindih dengan tulang rusuk pertama atau kedua, clavicula dalam penempatan horizontal,Seluruh clavicula bersama dengan sendi akromioklavikular dan sternoklavikularis pada Serendipity view tampak sternoclavicular joint dan proksimal atau medial dari clavicula superpossisi dengan coste

    STUDY LITERATURE PROSEDUR PEMERIKSAAN RADIOGRAFI OSSA PEDIS PADA PASIEN MULTIPLE TRAUMA

    Get PDF
    Pasien dengan multiple trauma tidak dapat diposisikan seperti pasien pada umumnya dikarenakan tidak diperbolehkan memaksakan anggota tubuh yang mengalami cedera ke posisi tertentu dan arah sinar penyudutan dalam pemeriksaan radiografi ossa pedis yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan radiografi ossa pedis pada pasien multiple trauma dan perbedaan informasi anatomi pedis pada proyeksi 10° chepalad dan 15° chepalad menurut kajian teoritis. Jenis penelitian yang digunakan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kepustakaan atau literature review. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari hasil penelitian yang sudah diterbitkan dalam jurnal online nasional maupun internasional. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian diperoleh bahwa prosedur pemeriksaan radiografi ossa pedis pada pasien multiple trauma tidak ada persiapan khusus, hanya melepas benda logam atau benda lain yang dapat menimbulkan artefak pada kaki. persiapan alat dan bahan pada pemeriksaan radiografi ossa pedis pada pasien multiple trauma, meliputi pesawat sinar-X siap pakai, Image Receptor (IR) ukuran 24 x 30 cm, Marker, Alat fiksasi, dan pengolah film, pada pasien multiple trauma dilakukan dengan proyeksi anteroposterior (AP), proyeksi lateral, dan proyeksi oblik. Pada proyeksi anteroposterior (AP), arah sumbu sinar disudutkan 10° chepalad. Perbedaan informasi anatomi radiografi ossa pedis pada proyeksi Anteroposterior (AP) 10° chepalad dan proyeksi Anteroposterior (AP) 15° chepalad yaitu pada proyeksi Anteroposterior (AP) 10° chepalad, interphalangeal joint lebih terlihat jelas, celah antara medial cuneiform dan intermediate cuneiform lebih terlihat jelas dan Cuboid lebih terlihat jelas dibandingkan proyeksi Anteroposterior (AP) 15° chepalad, sedangkan pada anatomi Tarsal, Metatarsal, Navicular, Sessamoid, dan Metatarsophalangeal Joint menampilkan informasi anatomi yang terlihat sama pada kedua penyudutan

    STUDY LITERATURE REVIEW TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOGRAFI VERTEBRAE CERVICAL PADA KASUS TRAUMA

    Get PDF
    Trauma cervical adalah kondisi serius yang dapat menyebabkan disabilitas permanen atau bahkan kematian. Pemeriksaan radiologi cervical merupakan pemeriksaan untuk menampakkan kelainan-kelainan pada cervical seperti trauma. Tujuan karya tulis ilmiah ini untuk mengetahui prosedur pemeriksaan cervical trauma dan hasil citra radiograf cervical trauma pada proyeksi AP tegak lurus dan proyeksi AP axial 15o-20o chepalad. Jenis penelitian dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan literature review Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prosedur pemeriksaan cervical pada klinis trauma memiliki kesamaan dengan prosedur pemeriksaan radiografi cervical pada umumnya. Proyeksi Lateral merupakan proyeksi utama pada kasus trauma karena, hampir separuh dari semua tulang cervical tampak pada radiograf. Untuk mengoptimalkan teknik pemeriksaan cervical pada kasus trauma dengan menggunakan proyeksi swimmer’s atau proyeksi oblique, dengan proyeksi ini dapat menampakkan cervicothoracic junction. Hasil radiografi pada proyeksi AP tegak lurus dan AP axial 15o-20o chepalad menunjukkan terdapat perbedaan yaitu, hasil radiograf pada proyeksi AP axial 150-200 chepalad bayangan mandibula terlempar dan tidak superposisi dengan vertebrae C3, tampak kompresi di antara C3-C7 dan diskus intervetebralis lebih tampak terbuka sedangkan pada proyeksi AP tegak lurus bayangan mandibula superposisi dengan C3 dan diskus intervertebralis kurang terbuka

    STUDI LITERATUR PADA REPEAT FILM ANALYSIS DI INSTALASI RADIOLOGI

    Get PDF
    Quality Assurance atau jaminan mutu adalah salah satu program manajemen yang digunakan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dengan cara melakukan pengumpulan data kemudian mengkajinya secara sistematis. Repeat analysis merupakan bagian dari quality assurance yang memiliki tujuan untuk menampilkan data tentang penggunaan film dan penolakan film dalam periode tertentu. Angka pengulangan film dengan menggunakan modalitas computed radiography masih sering terjadi, berdasarkan peraturan menteri kesehatan No. 129 Tahun 2008, dapat diketahui bahwa kejadian kegagalan pelayanan rontgen adalah ≤ 2%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab utama repeat film di Insatalasi Radiologi berdasarkan literatur. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Metode pengambilan data dilakukan dengan pencarian artikel-artikel ilmiah yang sudah dipublikasikan dalam berbagai jurnal ilmiah. Selanjutnya analisis data yaitu dilakukan pembahasan secara mendalam isi dari beberapa referensi yang sudah didapatkan dan dibuat kesimpulan untuk menjawab rumusan masalah yang ada. Hasil penelitian yang berdasarkan review literatur yang digunakan dapat diketahui bahwa faktor utama penyebab terjadinya pengulangan film adalah faktor positioning. Faktor positioning ini dipengaruhi oleh kesalahan dalam memposisikan pasien atau pasien yang dalam keadaan tidak kooperatif sehingga mempunyai resiko tinggi terjadinya pengulangan film. Faktor kedua yang mempengaruhi terjadinya pengulangan film menurut hasil review adalah faktor eksposi. Adapun solusi untuk menekan angka pengulangan film menurut salah satu literatur yang digunakan adalah dengan cara meningkatkan keterampilan radiografer dalam melakukan pemeriksaan, memperhatikan positioning pada pasien yang tidak kooperatif, penentuan faktor eksposi dan pemberian edukasi kepada pasien serta atau keluarga pasien dengan melakukan komunikasi yang efektif

    STUDI LITERATUR TEKNIK PEMERIKSAAN KNEE JOINT PADA KASUS OSTEOARTHRITIS PASIEN NON KOOPERATIF

    Get PDF
    Knee joint merupakan sendi femorotibial antara kondilus femur dan kondilus tibia. Salah satu patologi pada knee joint yaitu osteoarthritis.Teknik pemeriksaan radiografi knee joint adalah teknik penggambaran dengan menggunakan sinar-x untuk memperoleh radiograf knee joint dalam membantu menegakkan diagnosa, proyeksi pemeriksaan osteoarthritis biasanya menggunakan AP weight bearing dan lateral. Namun pada beberapa pasien osteoarthritis, sering mengalami kesulitan ketika harus berdiri dan mengikuti instruksi radiografer karena kondisinya yang non kooperatif. Sehingga memerlukan bantuan dari keluarga dalam pemeriksaan. Tujuan penelitian untuk mengetahui proyeksi optimal yang digunakan pada pemeriksaan knee joint pasien non kooperatif dan mengetahui proteksi radiasi pada pemeriksaan knee joint pasien non kooperatif. Jenis penelitian dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah adalah kualitiatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2020-Juli 2021. Pada penelitian ini penulis menggunakan berbagai sumber tertulis seperti jurnal dan textbook yang relevan dengan judul Karya Tulis Ilmiah. Sumber data yang diambil terdiri dari sumber data utama dan sumber data pendukung. Analisis data menggunakan anotasi bibliografi dengan cara mengumpulkan data berdasarkan konsep, kemudian dikupas berdasarkan topik dan dibandingkan dengan semua sumber, setelah itu ditarik sebuah kesimpulan dan saran. Hasil penelitian yaitu proyeksi optimal pada pemeriksaan radiografi knee joint pada kasus osteoarthritis dengan pasien non kooperatif menggunakan proyeksi skyline inferosuperior dan merchant method. Proteksi radiasi yang digunakan pada pemeriksaan knee joint pasien non kooperatif dengan pasien kooperatif pada prinsipnya sama yaitu memegang teguh asas-asas proteksi radiasi seperti justifikasi, optimasi dan limitasi untuk melindung pasien, atau keluarga pasien dari bahaya radiasi yang tidak diperlukan selama pemeriksaan. Sebaiknya dalam pemeriksaan knee joint petugas harus memastikan proyeksi yang tepat dengan terus mengutamakan proteksi radiasi saat pemeriksaan

    STUDI LITERATUR PROSEDUR TEKNIK PEMERIKSAAN HISTEROSALPINGOGRAPHY PADA KASUS INFERTILITAS DENGAN HSG SET

    Get PDF
    Pemeriksaan radiografi Histerosalpingography pada kasus inferilitas terdapat beberapa proyeksi diantaranya AP, oblique kanan dan kiri. Pada kasus infertilitas menggunakan proyeksi AP sudah cukup untuk menampakan tuba fallopi. Akan tetapi jika menggunakan proyeksi AP saja maka hasil radiograf kurang optimal. Maka dari itu di perlukannya proyeksi tambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pemeriksaan Histerosalpingography (HSG) menggunakan HSG set pada kasus Infertilitas dan untuk mengetahui hasil radiografi pemeriksaan Histerosalpingography (HSG) dengan teknik HSG set pada kasus Infertilitas. Penelitian ini termasuk jenis penelitian literature review, menggunakan berbagai sumber tertulis seperti jurnal dan textbook. Data – data yang sudah diperoleh kemudian dianalisis dengan metode analisis deskriptif. Pengambilan data dilakukan pada bulan September 2020–Juni 2021. Hasil penelitian Teknik pemeriksaan Histerosalpingography (HSG) menggunakan HSG set pada kasus Infertilitas menggunakan proyeksi AP, oblique kanan dan kiri, tetapi juga menggunakan proyeksi oblique kanan dan kiri. Posisi pasien miring kesebelah kanan 30 – 45 derajat untuk proyeksi oblique kanan, sisi kanan belakang dekat dengan kaset. Sedangkan untuk proyeksi oblique kiri posisi pasien miring kesebelah kiri 30 – 45 derajat, sisi kiri belakang dekat kaset. Pada proyeksi AP tampak cavum uterus terisi kontras, tuba kanan dan kiri terisi kontras dan tampak spill atau tumpahan media kontras. Pada proyeksi Oblique kanan tampak uterus normal berbentuk segitiga, fundus dan apex pada sisi inferior, tampak speculum maupun partubator di rongga uterus. Pada proyeksi Oblique kiri menunjukkan rongga uterus normal, bagian distal tuba uterus melebar secara bilateral. Sebaiknya pada pemeriksaan Histerosalpingography pada kasus infertilitas menggunakan HSG set menggunakan proyeksi oblique kanan dan kiri agar tuba fallopi kanan dan kiri tampak terlihat lebih jelas

    EVALUASI HASIL PEMERIKSAAN KOLESTEROL LDL MENGGUNAKAN METODE DIREK (CHOD-PAP) DAN INDIREK (FRIEDEWALD): LITERATURE REVIEW

    Get PDF
    Latar Belakang: Kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) merupakan lipoprotein yang berperan dalam pengangkutan fraksi lemak, terutama kolesterol dari hati menuju ke sel perifer. Pemeriksaan kolesterol LDL dapat dilakukan dengan 2 metode yaitu metode direk dan indirek. Pengukuran kadar Kolesterol LDL metode direk (chod-pap) dilakukan secara langsung pada alat sedangkan metode indirek dilakukan pemeriksaan kadar kolesterol, trigliserida dan HDL kolesterol terlebih dahulu kemudian dihitung dengan rumus friedewald. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana evaluasi pemeriksaan LDL Kolesterol dengan menggunakan metode direk (chod-pap) dan metode indirek (friedewald) pada sampel serum atau plasma manusia dan kadar kolesterol LDL menggunakan metode direk (chod-pap) dan metode indirek (friedewald) pada sampel serum atau plasma manusia. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan melakukan pencarian literatur metode PICO pada 3 database yaitu Google scholar, PubMed dan ResearchGate. Hasil: hasil pada pemeriksaan LDL langsung (direk) dan LDL tidak langsung (Indirek) dan mendapatkan hasil dari uji statistik p<0.05 yaitu, menunjukkan bahwa signifikan sebuah metode pemeriksaan kolesterol LDL menuju pada pemeriksaan dengan metode secara langsung (direk), hasil dengan p>0,05 atau α =0.05 yaitu, menujukkan bahwa tidak ada signifikansi bermakna dari hasil pemeriksaan LDL kolesterol metode direk dan metode indirek, akan tetapi disarankan pemeriksaan kadar kolesterol sebaiknya menggunakan metode direk (chod-pap) karena dapat mengukur secara langsung kadar LDL kolesterol dan miliki keunggulan lebih daripada metode indirek (friedewald). Simpulan: Terdapat perbedaan hasil antara metode direk (chod- pap) dan indirek (friedewald) pada pemeriksaan kolesterol LDL dan penggunaan metode lebih baik menggunakan metode langsung (direct) dari pada secara tidak langsung (indirect), adapun metode langsung yang digunakan pada penelitian ini chod- pap dan tidak langsung dengan formula Friedewald

    ANALISIS HASIL KONTROL KUALITAS PEMERIKSAAN HEMATOKRIT DAN TROMBOSIT DI LABORATORIUM RS PKU MUHAMMADIYAH GAMPING YOGYAKARTA

    Get PDF
    Pemantapan mutu laboratorium berkaitan dengan hasil uji yang harus sesuai berdasarkan standar oprasional prosedur tiap parameter uji sehingga dapat memberikan hasil permeriksaan yang berkualitas. Pemeriksaan hematokrit dan trombosit adalah uji yang sering dilakukan di Laboratorium. Menjamin hasil uji tepat dan teliti maka kontrol kualitas perlu dilakukan. Kontrol kualitas berfungsi untuk mendeteksi dan membuat koreksi pada kesalahan analitik suatu pemeriksaan laboratorium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui presisi, akurasi, dan evaluasi grafik kontrol Levey-Jenninngs menggunakan aturan Westgard pada pemeriksaan hematokrit dan trombosit. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif, menggunakan data sekunder kontrol harian pemeriksaan hematokrit dan trombosit pada alat Hematology Analyzer Dymind- D5CRP pada bulan Oktober dan November. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai CV pemeriksaan hematokrit bulan Oktober dan November yaitu 2,895% dan 2,230%, nilai bias yaitu 0,8% dan 2,5%. Sedangkan pada trombosit didapatkan nilai CV yaitu 9,002% dan 4,945%, nilai bias yaitu -1,9% dan -7,4%. Evaluasi grafik Levey-Jennings dengan aturan Westgard terdapat kontrol yang keluar dan mendapat aturan peringatan 12s, aturan penolakan 13s, dan aturan penolakan 10x. Kesimpulan dari penelitian ini adalah didapatkan akurasi yang baik pada pemeriksaan hematokrit dan trombosit. Pada pemeriksaan hematokrit didapatkan hasil presisi sedangkan pada pemeriksaan trombosit kurang presisi. Evaluasi grafik Levey-Jennings dengan aturan Westgard terdapat kontrol yang keluar, sehingga pemeriksaan bahan kontrol dan instrumen harus dilakukan

    6,596

    full texts

    6,657

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇