DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Tepid Water Sponge Terhadap Pengetahuan Ibu dalam Penanganan Demam pada Anak Di Rumah: Literature Review
Latar belakang : Penanganan demam pada anak saat di rumah sangat penting
dilakukan. Kecemasan dan ketakutan yang berlebih dapat disebabakan karena
pendidikan kesehatan dan pengetahuan orangtua yang masih kurang tentang penanganan
demam pada anak. Penanganan demam pada anak dapat dilakukan salah satunya dengan
metode tepid water sponge yaitu mengkompres anak dengan air hangat. Hal ini
menunjukkan bahwa sangat diperlukan pendidikan kesehatan tentang penanganan
demam pada anak dengan tepid water sponge untuk meningkatkan pengetahuan
orangtua.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan
terhadap pengetahuan ibu dalam menangani demam menggunakan tepid water sponge
pada anak di rumah.
Metode : Jenis penelitian ini menggunakan quasy eksperimen dengan database yang
digunakan PubMed dan google scholar. Kata Kunci yang digunakan dalam penelitian ini
yakni pendidikan kesehatan, pengetahuan, tepid water sponge, penanganan demam pada
anak. Subyek dalam penelitian ini ibu yag memiliki anak demam usia 1-10 tahun. Tahun
terbit jurnal dari 1 Januari 2010-31 Desember 2020.
Hasil : Penelitian literature review ini menganalisis 4 jurnal dengan hasil terdapat
pengaruh antara pendidikan kesehatan tentang tepid water sponge dengan pengetahuan
ibu dalam menangani demam pada anak di rumah.
Simpulan dan Saran : Dari hasil penelitian literature review didapatkan hasil terdapat
pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan orangtua dalam penanganan
demam pada anak di rumah. Pendidikan kesehatan yang baik diharapkan dapat
meningkatkan pengetahuan orangtua dalam menangai demam pada anak
Perbedaan Pengaruh Core Stability dan Schroth Method Terhadap Derajat Kurva pada Adolescent Idopathic Scoliosis (AIS): Narrative Review
Latar Belakang: Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa
yang tentunya pada masa ini telah meliputi semua perkembangan, yang telah
dialami sebagai persiapan memasuki fase dewasa. Adolescent idiopathic
scoliosis merupakan jenis scoliosis yang paling umum yang menyerang 2%-4%
remaja, terutama yang melibatkan anak-anak yang berusia anatara 10-18. Core
stability merupakan sebuah latihan dalam mempertahankan kestabilan tulang
belakang dan melatih otot-otot inti (tranversus abdominis dan multifidus) yang
berperan penting dalam menjaga stabilitas postural. Schroth method merupakan
terapi rehabilitasi khusus Pasien scoliosis yang melibatkan latihan postur dan
latihan efektif dalam mengurangi rasa sakit dan memperbaiki kurva scoliosis.
Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan Pengaruh core stability dan schroth
method terhadap derajat kurva pada adolescent idiopathic scoliosis (AIS).
Metode: Penelitian ini Menggunakan metode nareative review dengan
framework PICO (Populations/patients/ /Problem, Intervention, Comparison,
Outcome). Pencarian artikel yang relevan menggunakan database (google
scholar, PubMed, Sciencedirect dan ProQuest). Sesuai keywords yang telah
ditentukan dan mengacu pada kriteria inklusi dan eksklusi. Proses seleksi artikel
menggunakan PRISMA flowchart yang kemudian dilakukan penilaian kritis
artikel dan penyusunan hasil ulasan narasi. Hasil: Hasil dari keseluruhan
pencarian artikel yang digunakan dari 4 database dengan keywords yang telah
ditentukan yaitu terdapat 25,799 artikel. Dan setalah dilakukan screening Judul
dan relevansi abstrak serta screening full text terdapat 10 jurnal yang
membuktikan bahwa core stability dan schroth method sama-sama efektif dalam
derajat kurva pada adolescent idiopathic scoliosis. Kesimpulan: ada Pengaruh
terhadap pemberian core stability dan schroth method terhadap derajat kurva
pada adolescent idiopathic scoliosis
PENGARUH PSIKOEDUKASI PADA PASIEN KANKER PAYUDARA YANG MENJALANI KEMOTERAPI
Latar Belakang : Dampak penyakit kanker payudara tidak hanya pada fisik tetapi
juga berdampak pada psikologis, yang paling sering ditemukan adalah
kecemasan.distres emosional,depresi, dan gangguan psikososial.Psikoedukasi
merupakan suatu intervensi yang dapat dilakukan pada individu, keluarga, dan
kelompok untuk membantu mekanisme koping dan mengurangi kecemasan yang
dialami klien kanker payudara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh psikoedukasi terhadap klien kanker payudara yang menjalani
kemoterapi
Tujuan: tinjauan literatur ini mengeksplorasi pengaruh pemberian psikoedukasi
klien kanker payudara yang menjalani kemoterapi.
Metode: Pencarian literatur dilakukan dengan dua database terbesar Google
Scholar, dan, Pubmed, dengan kata kunci: Psikoedukasi, kanker
payudara,kemoterapi.Kriteria inklusi artikel terbit tahun 2015-2020, Studi Mixed
Methods, quasy experiment Appraisal Tool from JBI.
Hasil : Pencarian literatur ini mengeksplorasi pengaruh pemberian psikoedukasi pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Pendidikan kesehatan memerlukan penggunaan media, durasi efektif, dan metode terintegrasi yang tepat. sehingga memberikan efek pemberian psikoedukasi terhadap kecemasan, respon psikososial, hingga klien kanker payudara yang menjalani kemoterapi dan setiap penelitian memiliki hasil yang saling menguatkan.
Simpulan dan saran: Psikoedukasi merupakan suatu interventi yang dapat
dilakukan pada individu, keluarga, dan kelompok yang fokus mendidik
partisipanya mengenai tantangan dalam hidupnya, membantu partisipan
mengembangkan sumber-sumber dukungan, dan dukungan sosial dalam
menghadapi tantangan tersebut serta mengembangkan ketrampilan coping
FAKTOR RISIKO PERITONITIS PADA PASIEN CONTINUOUS AMBULATORY PERITONEAL DIALYSIS (CAPD) LITERATURE REVIEW
Latar belakang: Penyakit ginjal kronis adalah suatu keadaan yang ditandai dengan
penurunan fungsi ginjal yang irreversible pada suatu derajat yang memerlukan
terapi pengganti ginjal yang tetap, berupa dialisis atau transplantasi ginjal.
Penatalaksanaan pada pasien gagal ginjal kronik selain dengan terapi diet dan
medikamentosa, juga memerlukan terapi pengganti ginjal yang menjadi satusatunya pilihan untuk mempertahankan fungsi ginjal yang ada dan untuk
memperpanjang hidup pasien. Terapi pengganti ginjal yang biasanya dilakukan
adalah transplantasi ginjal, dialisis peritoneal, dan hemodialysis
Tujuan: mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi kejadian peritonitis pada
pasien Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) berdasarkan
penelusuran literature.
Metode: Penelusuran literatur dilakukan melalui google scholar, PubMed, Proquest
dan Science Direct. Keywords yang digunakan dalam bahasa Inggris adalah Risk
factors Peritonitis sedangkan dalam bahasa Indonesia adalah “Faktor risiko
peritonitis”. Penelusuran dilakukan sampai Januari 2021. Hasil penelusuran
didapatkan 5 artikel yang berfokus pada proses faktor risiko peritonitis pada pasien
CAPD.
Hasil: Hasil analisis kelima jurnal didapatkan beberapa karakteristik responden,
diantaranya adalah didapatkan hasil berdasarkan karakteristik berdasarkan usia
yaitu usia lansia awal 45-55 dan lansia akhir 56-70 tahun. Prealbumin dan
overhydration tinggi adalah prediktor independen Ada enam riwayat peritonitis
karena jamur dan tiga riwayat karena mikobakteri (satu Mycobacterium
tuberculosis complex dan dua Mycobac terium abcessus).
Simpulan dan saran: dari penelitian ini adalah faktor risiko peritonitis pada pasien
CAPD adalah serum albumin yang rendah, hiponatremia, glukosa serum,
overhydration, usia lanjut, pendidikan rendah dan bakteri gram
HUBUNGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT RUMAH TANGGA DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA: LITERATURE REVIEW
Latar Belakang: Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat
dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Masalah
stunting pada balita masih menjadi perhatian khusus di dunia. Prevalensi di
Indonesia masih melebihi ambang batas yang ditetapkan dari WHO yaitu sebesar
20%. Salah satu penyebab stunting pada balita yaitu perilaku hidup bersih dan sehat.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan perilaku hidup bersih dan sehat rumah tangga
dengan kejadian stunting pada balita.
Metode Penelitian: Dengan menggunakan metode Literature Review, yaitu dengan
menggunakan PICO dan penelusuran jurnal menggunakan database melalui Google
Scholar. Hasil dari penelusuran jurnal ditemukan 7 jurnal yang didapatkan dari
Google Scholar. Jurnal yang akan direview menyesuaikan dengan kriteria insklusi
dan kriteria eksklusi. Kata kunci yang digunakan yaitu stunting dan PHBS.
Hasil: Lima dari ketujuh jurnal penelitian mengenai perilaku hidup bersih dan sehat
rumah tangga dengan kejadian stunting memberikan hasil yang signifikan, yang
ditunjukkan dengan hasil analisis bahwa kejadian stunting banyak dialami pada
PHBS dengan kategori kurang baik. Hal ini dibuktikan dengan beberapa indikator
seperti, tidak merokok didalam rumah, aktifitas fisik, mengkonsumsi buah dan sayur,
dan fasilitas jamban masih dalam kategori rendah.
Kesimpulan: Beberapa jurnal penelitian membuktikan bahwa terdapat hubungan
perilaku hidup bersih dan sehat rumah tangga dengan kejadian stunting
LITERATURE REVIEW : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENINGKATAN KADAR CD4 PADA PASIEN HIV YANG MENDAPAT HIGHLY ACTIVE ANTIRETROVIRAL THERAPY (HAART)
Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan salah satu infeksi virus yang
menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) sehingga menyebabkan
turunnya kekebalan tubuh manusia. Penurunan kadar CD4 menunjukan adanya
virus dalam tubuh, sehingga diperlukan adanya Highly Active Antiretriviral
Therapy (HAART) yang dapat menurunkan jumlah virus dan meningkatkan jumlah
CD4 dalam tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor
yang mempengaruhi peningkatan kadar CD4 pada pasien HIV yang mendapat
HAART. Metode penelitian pencarian literatur dilakukan melalui tiga database
yaitu Google Scholar, Science Direct, dan PubMed dengan metode PICO. Jurnal
yang digunakan dalam penelitian ini memiliki ketentuan sepuluh tahun terakhir dari
2011 hingga 2021 dengan jenis penelitian eksperimental dan kajian pustaka. Hasil
penelusuran literatur diperoleh sepuluh jurnal yang menunjukan bahwa kadar CD4
mengalami peningkatan setelah dilakukannya terapi HAART. Usia dan jenis
kelamin secara signifikan dikaitkan dengan peningkatan kadar CD4 setelah
pemberian terapi HAART (<0,05), Jumlah CD4 awal secara signifikan dikaitkan
dengan peningkatan kadar CD4 (<0,05), Kepatuhan minum obat secara signifikan
dikaitkan dengan peningkatan jumlah CD4 (<0,05), dan Jenis HAART yang
digunakan secara signifikan dikaitkan dengan peningkatan kadar CD4 (<0,05).
Simpulan dari penelitian ini yaitu terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi
peningkatan kadar CD4 yaitu usia, jenis kelamin, jumlah CD4 awal, kepatuhan
minum obat, dan jenis HAART yang digunakan
LITERATURE REVIEW : PERBANDINGAN PEWARNAAN GIEMSA DAN LEISHMAN PADA SEDIAAN APUS DARAH TIPIS
Teknik pewarnaan merupakan bagian terpenting dalam pemeriksaan sediaan apus
darah tipis karena bertujuan untuk mempertajam atau memperjelas morfologi sel
serta parasit darah, sehingga dapat dibedakan di bawah mikroskop. Pewarnaan
Romanowsky menjadi teknik pewarnaan yang banyak digunakan karena
memberikan hasil yang memuaskan pada sediaan apus darah tipis. Pewarnaan
Romanowsky meliputi pewarnaan Giemsa, Wright, Leishman, May-Grundwald
serta pewarnaan Jenner. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan prosedur,
waktu serta hasil pewarnaan Giemsa dan Leishman pada sediaan apus darah tipis.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian literature review. Pewarnaan
Leishman merupakan pewarnaan berbasis alkohol sehingga fiksasi dilakukan
bersamaan dengan proses pewarnaan, sedangkan pada pewarnaan Giemsa fiksasi
dilakukan sebelum pewarnaan agar cat dapat menyerap dengan sempurna. Total
waktu yang dibutuhkan untuk pewarnaan Leishman yaitu 9-22 menit, sedangkan
pewarnaan Giemsa membutuhkan waktu selama 20-50 menit. Hasil pewarnaan
tampak keseluruhan serta parasit malaria pada sediaan apus darah tipis diwarnai
dengan baik oleh kedua pewarnaan. Morfologi sel darah merah, nukleus dan
sitoplasma sel darah putih didapatkan hasil pewarnaan yang baik pada Leishman
dibandingkan Giemsa 10%. Pewarnaan Leishman lebih unggul dibandingkan
pewarnaan Giemsa 10% dalam mewarnai sediaan apus darah tipis. Keunggulan
tersebut meliputi prosedur pewarnaan yang mudah, waktu pewarnaan yang singkat
serta hasil pewarnaan yang baik pada tampak keseluruhan sediaan apus darah tipis,
morfologi sel darah merah, nukleus dan sitoplasma sel darah putih serta parasit
malaria. Perlu adanya penelitian lanjutan mengenai perbandingan kedua pewarnaan
dengan menggunakan sampel selain darah dengan variasi konsentrasi pewarnaan
Giemsa untuk menemukan pewarnaan yang baik dalam pengamatan pada sediaan
apus darah tipis
PENGARUH PEMBERIAN PURSED LIPS BREATHING EXERCISE TERHADAP PENURUNAN DERAJAT SESAK NAFAS PADA PPOK : NARRATIVE REVIEW
Latar Belakang: Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) merupakan sejumlah
gangguan yang mempengaruhi pergerakan udara dari dan keluar paru. Gangguan yang
paling sering adalah bronchitis kronis, emfisema, dan asma bronkhial. Penyakit paru
obstruktif kronik (PPOK) akan berdampak negatif terhadap kesehatan penderita,
termasuk pasien yang berumur > 40 tahun akan menyebabkan disabilitas penderitanya.
PPOK merupakan salah satu faktor resiko terjadinya gangguan kardiovaskuler dan
penyebab utama dari hipertensi serta gangguan kardiopulmonal. Bahaya PPOK
tersebut merupakan ancaman terhadap kematian yang tinggi baik di negara maju
maupun negara berkembang. Tujuan: Untuk mengetahui pemberian pursed lips
breathing exercise terhadap penurunan derajat sesak nafas pada PPOK Narrative
Review. Metode: Metode penelitian yang digunakan yaitu narrative review dengan
framework PICO (Population, Intervention, Comparison, Outcome).Mengidentifikasi
artikel menggunakan database yang relevan (Googlescholar, Sciencedirect, ) dengan
kata kunci yang telah disesuaikan. Seleksi artikel dengan menggunakan Prisma
flowchart. Hasil: Dari hasil keseluruhan Pencarian artikel menggunakan 2 database
terdapat 950 artikel. Setelah dilakukan screening judul dan relevansi abstrak diperoleh
10 artikel yang menjelaskan tentang pursed lips breathing. Kesimpulan: Dapat
disimpulkan bahwa intervensi Pursed lips breathing terbukti efektif diberikan pada
pasien PPOK dengan gejala ringan hingga berat pada kelompok usia >30 tahun.
Saran: Pursed lips breathing dapat diberikan sebagai alternatif intervensi untuk
pasien yang menderita PPOK
PERANAN PROYEKSI ANTEROPOSTERIOR INLET DAN OUTLET TERHADAP INFORMASI ANATOMI PELVIS PADA KASUS FRAKTUR (STUDI LITERATUR)
Pelvis merupakan salah satu dari organ yang berfungsi sebagai alas dasar
dari rongga abdomen dan sebagai penghubung antara kolumna vertebra dengan
ekstremitas bawah. Salah satu kelainan yang sering terjadi pada pelvis adalah
fraktur. Fraktur adalah putusnya salah satu bagian (jaringan) pada bagian tulang
yang mengalami benturan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, salah
satunya dibagian radiologi yang sangat pesat dapat membantu dalam menangani
penegakan diagnosa fraktur. Pemeriksaan radiografi pada pelvis menggunakan
proyeksi standar, yaitu menggunakan proyeksi Anteroposterior (AP). Namun,
dalam situasi tertentu jika ada kecurigaan trauma atau fraktur maka dibutuhkan
proyeksi khusus atau tambahan dapat menggunakan proyeksi AP, AP inlet, dan AP
outle. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prosedur pemeriksaan
radiografi pelvis dan peranan proyeksi anteroposterior (AP) inlet dan outlet yang
digunakan pada kasus fraktur.
Jenis penelitian dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini adalah (literature
review) systematic literature dengan pendekatan studi literatur. Metode
pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi mencari dan menggali
data yang relevan dengan topik permasalahan. Waktu penelitian dilakukan
pada bulan September 2020 – Juni 2021. sumber yang penulis temukan yaitu
kurang lebih 50, dan yang penulis gunakan yaitu berjumlah 12 sumber, dengan
textbook berjumlah 4 dan jurnal berjumlah 8
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prosedur pemeriksaan radiografi
pelvis dengan kasus fraktur dapat menggunakan proyeksi AP, AP inlet, dan AP
outlet. Proyeksi AP inlet berperan dalam menentukan fraktur dari bagian pelvis
anterior dan proyeksi AP outlet baik untuk melihat fraktur pada area pubis bilateral
dan ischium. Sebaiknya dalam melakukan pemeriksaan pelvis dengan klinis fraktur
ditambahkan proyeksi AP inlet dan outlet karena memberikan hasil radiografi yang
lebih efektif sehingga dapat membantu dokter dalam menegakkan diagnosa dan
menentukan tindakan selanjutnya
STUDI KASUS KUALITAS ANTARA BETON ANTI RADIASI DENGAN BATA MERAH DI PASARAN UNTUK PENAHAN RADIASI
Bidang radiologi adalah salah satu instalasi penunjang medik,
menggunakan sumber radiasi pengion (sinar-X) untuk mendiagnosis adanya suatu
penyakit berupa gambaran anatomi tubuh yang ditampilkan dalam film radiografi.
Dalam pengunaan radiasi sinar-x wajib menegakkan asas proteksi radiasi. Proteksi
radiasi meliputi 3 prinsip yaitu justifikasi, limitasi dan penerapan optimisasi.Cara
untuk mengendalikan bahaya radiasi ada 3 yaitu-waktu, jarak, dan penggunaan
perisai pelindung, salah satu pelindung antara lain tembok atau beton anti radiasi
dengan material khusus. Sehingga perlu dilakukan perbandingkan beton dengan
komposisi pasir pantai trisik dan semen tiga roda dengan perbandingan 1:5
sebagai beton tahan radiasi sinar-x dengan beton yang ada di pasaran yaitu bata
merah di 20 lokasi di DIY.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan
pengujian batako tahan radiasi dengan batako dari produsen yang ada di DIY
untuk membandingkan konsistensi atenuasi linier pada setiap produsen bata
merah. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Radiologi Universitas Aisyiyah
Yogyakarta dilaksanakan mulai bulan Oktober 2019 sampai April 2021.
Hasil peneliti ini yaitu laju dosis radiasi pada masing-masing batako yang
dilakukan pengujian memiliki hasil yang tidak sama dalam mempengaruhi
koefisiensi atenuasi linier. Dari hasil koefisien atenuasi yang di dapatkan dalam
menahan laju dosis radiasi hasil terbaik terdapat dari batako tahan radiasi yang
terbuat dari pasir pantai Trisik dan campuran semen PPC Tiga Roda. Hasil terbaik
kedua bata merah dari Sleman. Hasil terbaik ketiga bata merah dari Gunung
Kidul. Hasil terbaik keempat bata merah dari Kulon Progo. Hasil terbaik kelima
bata merah dari Bantul. Hasil keenam atau paling rendah bata merah dari Kota
Yogyakarta