DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
Pengaruh posisi kerja terhadap nyeri punggung bawah pada karyawan laki – laki dan perempuan
Latar Belakang: Lingkungan kantor memiliki peran penting dalam kesehatan dan
kesejahteraan karyawan. Namun, kondisi kerja yang buruk dapat menyebabkan
penderitaan, penyakit, dan stres yang besar. Salah satu masalah yang sering terjadi
adalah nyeri punggung bawah, yang dapat disebabkan oleh posisi kerja yang tidak
ergonomis Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan pengaruh posisi kerja terhadap nyeri
punggung bawah pada karyawan laki-laki dan perempuan. Metode: Penelitian ini
menggunakan observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Analsisi data
menggunakan uji chi-square dan uji normalitas dengan Kolmogorov smirnov. Data
dikumpulkan melalui lembar persetujuan, kuisioner The Paint and Distress Scale
umtuk keluhan nyeri punggung bawah, dan lembar Rapid Office Strain Assessment
(ROSA) untuk menilai posisi kerja. Total responden sebanyak 60 orang, yang
merupakan pegawai Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman dan karyawan
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan
Keluarga Berencana Kabupaten Sleman. Teknik pengambilan sampel menggunakan
Teknik total sampling. Hasil : Hasil analisis didaptakan pada karyawan DISPORA
jenis kelamin p-value=0,185 (p>0,05) dengan nilai signifikansi 0,573 dan posisi kerja
didapatkan nilai p-value=0,034 (p<0,05) dan nilai signifikansi sebesar 0,238. Pada
karyawan DP3AP2KB jenis kelamin p-value=0,150 (p>0,05) dengan nilai signifikansi
0,443 dan posisi kerja didapatkan nilai p-value=0,044 (p<0,05) dan nilai signifikansi
sebesar 0,071. Kesimpulan : Tidak perbedaan pengaruh posisi kerja terhadap nyeri
punggung bawah pada karyawan laki – laki dan perempuan, faktor-faktor lain seperti
durasi kerja, jenis pekerjaan, dan postur kerja tampaknya memiliki peran dalam
timbulnya nyeri punggung bawah pada pekerj
Studi kasus teknik radiografi coccygeus pada kasus post reposisi subluksasi
Pemeriksaan radiografi coccygeus pada kasus post reposisi subluksasi dapat dilakukan dengan proyeksi, yaitu Anteriorposterior Axial, dan lateral (Kadek Chandra,2019). Sedangkan di Instalasi Raadiologi RSPAU dr. S. Hardjolukito hanya menggunakan proyeksi Anteriorposterior dan lateral. Penggunaan proyeksi ini dapat dilakukan untuk semua pemeriksaan coccygeus pada klinis apapun. Penelitian ini bertujuan untuk menegatahui prosedur pemeriksaan coccygeus dan alasan mengapa menggunakan proyeksi Anteriorposterior dan lateral pada kasus post reposisi subluksasi.
Metode penelitian ini adalah menggunakan kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus untuk mempelajari teknik pemeriksaan radiografi coccygeus pada kasus post reposisi subluksasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2022 sampai Juni 2023 di Instalasi radiologi RSPAU dr. S. Hardjolukito. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, dokumentasi dan wawancara lima radiografer dan satu dokter spesialis radiologi RSPAU dr. S. Hardjolukito. Setelah semua data terkumpul, selanjutnya melakukan analisis data sehingga dapat di tarik kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa teknik radiografi coccygeus pada kasus post reposisi subluksasi di Instalasi radiologi RSPAU dr. S. Hardjolukito dilakukan tanpa persiapan khusus. Proyeksi yang digunakan adalah proyeksi Anteriorposterior (AP) dan lateral. Alasan mengapa hanya menggunakan proyeksi Anteriorposterior (AP) karena hasil radiograf sudah dapat memberikan informasi pasien setelah di reposisi dan sebelum di reposisi, patologi subluksasi, dan sudah dapat menegakkan diagnosa. Peneliti menyarankan untuk menambahkan proyeksi Anterior Posterior (AP) Axial karena proyeksi tersebut dapat memperlihatkan gambaran coccygeus yang tidak superposisi dengan shympisis pubis
Hubungan Kecemasan Dengan Kepatuhan Diet pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II Di Puskesmas Mantrijeron
Latar belakang: Diabetes Melitus merupakan sekelompok penyakit metabolik yang
ditandai dengan kenaikan gula darah (hiperglikemia) disebabkan kesalahan sekresi
insulin, kerja insulin yang abnormal atau keduanya. Penderita Diabetes Melitus
cenderung mengalami kecemasan yang disebabkan karena pengobatan yang
membutuhkan waktu yang relatif lama. Penderita Diabetes Melitus yang mengalami
kecemasan cenderung mengalami masalah terapi pengobatan pada kepatuhan diet.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kecemasan dengan kepatuhan diet penderita
Diabetes Melitus tipe II di puskesmas mantrijeron.
Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode korelasi
dengan pendekatan waktu cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan
simple random sampling. Sampel pada penelitian ini sebanyak 100 responden yang
menjalani pengobatan Diabetes Melitus tipe II di Puskesmas Mantrijeron. Teknik
analisis data menggunakan kendall tau.
Hasil: Hasil penelitian ini menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kecemasan
dengan kepatuhan diet penderita Diabetes Melitus tipe II di Puskesmas Mantrijeron
(p=0,000 r=0,619). Hasil koefisien korelasi antar variabel sebesar 0,000 dengan
tingkat signifikan 0,619 menunjukan ada hubungan antara kecemasan dengan
kepatuhan deit pada pasien Diabetes Melitus tipe II di Puskesmas Mantrijeron dengan
kategori kuat.
Simpulan dan Saran: Dari hasil penelitian ini ditemukan adanya hubungan antara
kecemasan dengan kepatuhan diet penderita Diabetes Melitus tipe II di Puskesmas
Mantrijeron. Responden hendaknya dapat mengurangi kecemasan sehingga kepatuhan
diet meningkat
Hubungan Pengetahuan Perawat dengan Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Ruang Rawat Inap RSU PKU Muhammadiyah Bantul Yogyakarta
Latar belakang: Sistem manajemen K3RS berguna untuk meningkatkan kinerja K3.
Perawat dituntut melaksanakan upaya penerapan K3 yang dilaksanakan secara
terintegrasi, menyeluruh dan berkesinambungan sehingga resiko yang terjadi dapat
dihindari. Terjadinya penyakit dan kecelakaan kerja disebabkan oleh banyak faktor
salahsatunya pengetahuan SDM manusia. Pengetahuan K3 perawat sangat penting
dalam menjaga keselamatan pasien dan perawat.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan perawat
dengan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di Ruang Rawat Inap RSU PKU
Muhammadiyah Bantul Yogyakarta.
Metode: Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif
korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Subyek penelitian adalah perawat yang
bekerja di ruang rawat inap sejumlah 59 orang dengan pengambilan sampel
menggunakan teknik purposive sampling.
Hasil: Hasil penelitian dengan uji Kendall’s Tau diperoleh ada hubungan yang
signifikan antara pengetahuan perawat dengan penerapan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja di Ruang Rawat Inap p- value (0,000)< 0,05. Keeratan hubungan dengan nilai
signifikan t= 0,278 (Korelasi Kuat).
Simpulan dan Saran: Ada hubungan antara pengetahuan perawat dengan penerapan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Ruang Rawat Inap RSU PKU Muhammadiyah
Bantul Yogyakarta. Penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dan evaluasi serta
referensi pengetahuan dalam mengidentifikasi pengetahuan K3 untuk menghindari
kejadian kecelakaan kerja pada perawat di ruang rawat inap
Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Kejadian Dispepsia Pada Remaja Di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta
Latar Belakang : Dispepsia dapat didefinisikan sebagai rasa nyeri atau rasa tidak
nyaman pada perut bagian atas. Remaja merupakan salah satu yang beresiko terkena
sindrom dispepsia, dikarenakan sebagian besar remaja memiliki pola makan yang
tidak teratur. Dispepsia jika tidak segera diatasi maka dapat mengganggu aktivitas
sehari-hari bila hal ini dibiarkan terus menerus akan mengakibatkan ulkus lambung
yang fatal dan dapat mengakibatkan kematian. Salah satu faktor penyebab terjadinya
dispepsia adalah kecemasan. Bagi remaja, kecemasan adalah reaksi normal terhadap
stres. Kecemasan adalah perasaan khawatir yang berlebihan, gelisah, takut yang
dapat mempengaruhi seseorang.
Tujuan : Mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan kejadian dispepsia pada
remaja di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta.
Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan deskriptif korelasi dengan
pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian ini remaja di SMA Muhammadiyah 2
Yogyakarta sejumlah 89 responden dengan pengambilan sampel menggunakan
teknik Purposive Sampling. Pengumpulan data diukur menggunakan kuesioner dan
dianalisis menggunakan Chi-Square.
Hasil : Hasil penelitian didapatkan mayoritas tidak mengalami kecemasan sejumlah
83 orang dan remaja yang mengalami kecemasan sejumlah 6 orang. Sebagian besar
mengalami dispepsia positif sebanyak 68 orang dan remaja mengalami dispepsia
negatif sebanyak 21 orang. Dari data penelitian tersebut ditemukan hasil p value =
0,344 > (0,05) sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara tingkat
kecemasan dengan kejadian dispepsia pada remaja di SMA Muhammadiyah 2
Yogyakarta.
Simpulan dan Saran : Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas remaja mengalami
dispepsia tanpa dipengaruhi kecemasan. Maka dari itu disarankan remaja menjaga
pola makan dan menghindari faktor pendorong lain seperti ketidakteraturan pola
makan, stres, dan perilaku merokok
Hubungan antara kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Piyungan
Latar belakang :Lansia merupakan seseorang yang berusia lebih dari 60 tahun. Pada lansia
cenderung mengalami berbagai masalah masalah kesehatan. Peningkatan tekanan darah
merupakan suatu penyakit yang banyak di derita oleh lansia. Kecemasan merupakan salah satu
faktor yang melatarbelakangi terjadinya peningkatan tekanan darah karena pada saat seseorang
mengalami kecemasan maka pembuluh darah akan menyempit sehingga menyebakan tekanan
darah meningkat.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecemasan dengan
peningkatan tekanan darah pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Piyungan.
Metodelogi: Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan analitik
korelasi. Populasi dari penelitian ini adalah lansia yang berusia lebih dari 60 tahun di Dusun
Mandungan Srimartani sebanyak 80 orang dengan sampel penelitian sebanyak 44 orang yang
dihitung dengan rumus slovin. Sampel di ambil menggunakan dengan cara purposive sampling
dengan menetapkan kriteria inklusi & esklusi. Data diambil menggunakan survey, dengan
instrumen beruapa kuesioner geriatric anxiety scale dan dilakukan pengukuran tekanan darah
menggunakan tensimeter digital. Teknik analisis data menggunakan analisis Sperman Rank.
Hasil penelitian: Terdapat hubungan yang signifikan antara kecemasan dengan peningkatan
tekanan darah pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Piyungan, yang ditunjukan dengan nilai
hasil analisis korelasi dengan nilai rhitung sebesar 0,566 > rtabel(0,05)(44) (0,297). Nilai signifikan
atau nilai probalitas (0,000) dimana nilai tersebut lebih rendah dari strandart signifikan dari
0,05 atau (p < α ). Maka hipotesisinya berbunyi, Data H1: diterima dan H0: ditolak, sehingga
dapat diartikan bahwa terdapat hubungan Kecemasan dengan Peningkatan Tekanan Darah
yang signifikan pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Piyungan.
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada
lansia di wilayah kerja Puskesmas Piyungan.
Saran: Hasil penelitian ini di harapkan dapat menambah wawasan bagi lansia tentang
kecemasan dan tekanan darah dan lansia tidak khawatir apabila mengalami masalah tersebu
Hubungan volume ultrafiltrasi dengan perubahan tekanan darah pada pasien chronic kidney disease (CKD) di ruang hemodialisa RSUD Kota Yogyakarta
Latar Belakang : Chronic Kidney Disease (CKD) atau yang biasa disebut Penyakit
Ginjal Kronis menjadi salah satu masalah kesehatan dunia dengan tingginya beban
biaya kesehatan. Penderita CKD membutuhkan terapi pengganti ginjal yaitu
Hemodialisa (HD). Pasien yang menjalani proses HD akan mengalami gejala
kelebihan volume cairan pasca HD sampai menunggu HD selanjutnya. Saat tindakan
hemodialisa, pembuangan cairan dari tubuh terjadi melalui proses ultrafiltrasi. Volume
ultrafiltrasi yaitu proses perpindahan zat terlarut dan air yang disebabkan oleh
perbedaan hidrostatik dalam darah dan dialisat dengan mempertimbangkan berat
badan pasien. Saat ultrafiltrasi, cairan tubuh yang dibuang adalah cairan intravaskuler.
Berkurangnya jumlah cairan intravaskuler secara cepat saat proses hemodialisa akan
mempengaruhi volume pre load jantung. Hal tersebut dapat mempengaruhi perubahan
tekanan darah pada pasien HD.
Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara
volume ultrafiltrasi dengan perubahan tekanan darah pada pasien hemodialisa.
Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan
pendekatan cross sectional. Teknik yang digunakan purposive sampling dengan total
84 responden. Instrumen yang digunakan kuesioner data demografi, lembar observasi
dan Sphygmomanometer. Hubungan antara kedua variabel dianalisis dengan uji
korelasi Kendall Tau.
Hasil Penelitian : Volume ultrafiltrasi tertinggi dan terbanyak pada penelitian ini yaitu
4 liter dan responden tidak mengalami perubahan tekanan darah atau tetap. Uji korelasi
antara volume ultrafiltrasi dengan perubahan tekanan darah pada pasien hemodialisa
memperoleh nilai signifikansi dengan p value 0,718 (<0,05)
Kesimpulan : Tidak ada hubungan antara volume ultrafiltrasi dengan perubahan
tekanan darah pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD) di Ruang Hemodialisa
RSUD Kota Yogyakarta
Faktor yang mempengaruhi pernikahan usia dini di kecamatan Tempel, Sleman,Yogyakarta
Latar belakang: Pemerintah menetapkan usia ideal menikah bagi perempuan
dan laki-laki paling sedikit 19 tahun pada UU Perkawinan No.1 Tahun 1974.
Kenyataannya masih banyak remaja yang menikah pada usia di bawah 19
tahun. Jumlah dispensasi nikah di Kabupaten Sleman pada tahun 2020
sebanyak 258 kasus. pada tahun 2021 dengan 147 kejadian. Tujuan: Penelitian
ini dilakukan untuk mengetahui faktor yang mempengharuhi remaja
melakukan pernikahan dini di Kecamatan Tempel, Sleman, Yogyakarta.
Metode: Jenis penelitian inimenggunakan metode kualitatif deskriptif. Dalam
penelitian ini tidak ada sampel acak tetapi sampel bertujuan (purposive
sampling). Pengambilan data menggunakanmetode observasi, wawancara, dan
dokumentasi. Hasil: Dari berbagai faktor di atas, bisa kita lihat banyak faktor
yang melatar belakangi pernikahan usia dini. Beberapa antaranya adalah
persoalan ekonomi, pengetahuan, pendidikan, pola asuh orang tua, bahkan
sosial budaya juga mempengaruhi terjadinya pernikahan usia dini. Simpulan:
Dari hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pernikahan usia dini di
Kecamatan Tempel, Sleman Yogyakarta yaitu: faktor pengetahuan, faktor
pendidikan, faktor ekonomi, faktor pola asuh orang tua, faktor media sosial,
dan faktor kehamilan yang tidak diinginkan. Terkait faktor sosial budaya, Di
lapangan tidak ditemukan indikasi bahwa hal ini merupakan faktor para
remaja di Kecamatan Tempel melakukan pernikahan usia dini
Hubungan antara sikap kerja berdiri terhadap kelelahan kerja dan nyeri otot gastrocnemius pada karyawan pengolahan susu kambing di Turi Yogyakarta
Latar Belakang: Sikap kerja yang sering dilakukan oleh manusia dalam melakukan
pekerjaan antara lain duduk, berdiri, membungkuk, jongkok, berjalan dan lain-lain. Sikap
kerja tersebut dilakukan tergantung dari kondisi dalam sistem kerja yang ada dapat
menimbulkan kelelahan kerja sdapat menurunkan efisiensi, performa kerja dan nyeri otot
gastrocnemius biasanya timbul nyeri di daerah betis. Tujuan: Penelitian ini dilakukan
bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sikap kerja berdiri terhadap kelelahan kerja
dan nyeri otot gastrocnemius pada karyawan pengolahan susu kambing di Turi
Yogyakarta. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode survey analitik dengan
pendekatan Cross Sectional dengan teknik Purposive Sampling. Sampel dalam penelitian
ini diperoleh dari rumus Slovin yaitu 60 orang. Alat ukur instrumen yang digunakan pada
penelitian ini adalah kuesioner Fatigue Assesment Scale, Rapid Entire Body Assesment,
dan pengukuran Visual Analogue Scale. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
karakteristik mayoritas responden berumur 51-60 tahun, masa kerja mayoritas 1-5 tahun,
sikap kerja berdiri kategori sedang sebanyak 32 orang (53.3%), mengalami kelelahan
kerja sebanyak 53 orang (88.3%), nyeri otot gastrocnemius kategori nyeri sedang
sebanyak 24 orang (40.0%), ada hubungan antara sikap kerja berdiri terhadap kelelahan
kerja pada karyawan pengolahan susu kambing di Turi Yogyakarta (p=0,039), ada
hubungan antara sikap kerja berdiri terhadap nyeri otot gastrocnemius pada karyawan
pengolahan susu kambing di Turi Yogyakarta (0,021). Simpulan: Ada hubungan antara
sikap kerja berdiri terhadap kelelahan kerja dan nyeri otot gastrocnemius pada karyawan
pengolahan susu kambing di Turi Yogyakarta. Saran: Bagi karyawan pengolahan susu
kambing di Turi Yogyakarta untuk mengurangi sikap kerja berdiri terlalu lama, kelelahan
kerja dan nyeri otot gastrocnemius di sarankan 30 menit atau 1 jam sekali melakukan
peregangan
Pengaruh Pemberian Kegel Exercise Terhadap Penurunan Gejala Inkontinensia Urin Pada Lansia
Latar Belakang : Inkontinensia urin merupakan kondisi seseorang tidak mampu
menahan buang air kecil yang sering terjadi pada lansia, kondisi ini terjadi karena
faktor penuaan dan penurunan kekuatan otot dasar panggul. Hal ini menjadi salah
satu faktor yang dapat menyebabkan lansia mengalami gejala inkontinensia urin. Di
Indonesia angka kejadian inkontinensia urin sebanyak 25-35%, serta di Yogyakarta
angka kejadian inkontinensia urin sebesar 14,47%. Gejala inkontinensia urin timbul
saat belum sampai toilet dan mengompol saat sedang tidur. Kegel exercise adalah
latihan yang dapat menguatkan dan mengontrol kerja otot dasar panggul. Penurunan
otot dasar panggul akan menyebabkan inkontinensia urin. Kondisi inkontinensia urin
didukung melalui usia, jenis kelamin, IMT, riwayat diabetes, perubahan hormon,
perubahan kekuatan otot, dan merokok. Proses peningkatan otot dasar panggul perlu
dilakukan kegel exercise, latihan ini mampu menguatkan otot dasar panggul serta
dapat mencegah terjadinya inkontinensia urin. Tujuan Penelitian : Mengetahui
mekanisme pengaruh pemberian kegel exercise terhadap penurunan gejala
inkontinensia urin pada lansia. Metode : Eksperimental dengan pendekatan quasi
experiment melakukan perlakuan pre dan post test one group design, teknik
pengambilan sampel menggunakan total sampling, sampel berjumlah 33 orang
dengan program latihan 3x seminggu selama 4 minggu. Instrument penelitian
menggunakan kuesioner International Consultation on Incontinence QuestionnaireUrinary
Shorth Form (ICIQ-UI SF), serta analisis data menggunakan uji statistic
deskriptif, uji normalitas, dan uji hipotesis. Hasil : Uji hipotesis menggunakan
paired sample t-test menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian kegel exercise
terhadap penurunan gejala inkontinensia urin pada lansia (P=0,00 P<0,05).
Simpulan : Terdapat pengaruh pemberian kegel exercise terhadap penurunan gejala
inkontinensia urin pada lansia. Saran : Penelitian selanjutnya dapat menggunakan
alat ukur perineometer untuk menentukan kekuatan otot dasar panggul, serta
menyertakan kelompok kontrol