Jurnal Pengembangan Kota
Not a member yet
208 research outputs found
Sort by
INDEKS KEBERLANJUTAN PROGRAM KOTAKU (KOTA TANPA KUMUH) DI KOTA MALANG
Program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) adalah sebuah program yang diinisiasi oleh Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jendral Cipta Karya pada tahun 2016. Pemerintah Kota Malang merupakan salah satu yang melakukan implementasi program ini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian campuran yang diimplementasikan dengan mengkombinasikan penelitian kualitatif dan kuantitatif dengan arah teoritis induktif. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan metode survei dan teknik analisa data menggunakan teknik ordinasi Rapfish. Indeks keberlanjutan Program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) di Keluruhan Bareng Kota Malang yaitu 59.174. Hal ini diartikan bahawa keberlanjutan program KOTAKU masuk dalam kategori cukup. Kategori ini mengindikasikan bahwa program ini dapat dikatakan tidak terlalu berjalan dengan baik namun juga tidak terlalu berjalan buruk/tidak baik
IDENTIFIKASI URBAN SPATIAL STRUCTURE MENGGUNAKAN DATA SPASIAL GOOGLE EARTH DAN GOOGLE MAPS
Struktur spasial wilayah dipengaruhi oleh perkembangan kota. Perkembangan kota yang cepat pada akhirnya memicu perubahan urban spatial structure. Tujuan penelitian ini yaitu untuk (1) mengidentifikasi pusat-pusat kegiatan/struktur spasial di kecamatan tersebut; (2) mengidentifikasi perkembangan struktur spasial Kecamatan Depok pada periode tahun 2007 ke 2019 dilihat dari bentuk morfologi/urban form. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan deduktif-kuantitatif. Penelitian ini menggunakan data spasial yang bersumber dari Citra Google Earth pada periode waktu tahun 2007 dan 2019 dan Google Maps. Identifikasi struktur spasial menggunakan analisis indeks sentralitas jumlah fasilitas pada setiap blok permukiman, sedangkan perkembangan struktur spasialnya dilihat dari elemen urban form (penggunaan lahan, pola jaringan jalan, kepadatan bangunan dan pola bentuk bangunan). Struktur spasial Kecamatan Depok termasuk kategori polycentric and dispersed. Bentuk morfologi Kacamatan Depok cenderung masuk kategori bentuk linier bermanik. Perkembangan lahan terbangun Kecamatan Depok menyasar daerah non terbangun pada sisi utara, tengah, dan timur wilayah. Daerah terbangun yang disasar merupakan lahan pertanian
PENGEMBANGAN MODEL PERKIRAAN PENUMPANG SAUM SEBAGAI DAMPAK PENGGUNAAN LAHAN PADA KAWASAN BERBASIS TRANSIT (STUDI KASUS: LRT KORIDOR III KOTA BANDUNG)
Transit-Oriented Development (TOD) merupakan konsep pengembangan kawasan perkotaan yang kerap diadopsi di Indonesia untuk mendukung penggunaan transit, terutama di perkotaan besar yang sudah memiliki rencana pengembangan kereta api perkotaan, seperti Kota Bandung. Konsep ini mengedepankan integrasi guna lahan dan sistem angkutan massal sehingga bentuk guna lahan di sekitar simpul transit atau stasiun menjadi penting. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa variabel-variabel yang berhubungan dengan guna lahan memberikan pengaruh terhadap peningkatan fungsi transit. Mayoritas kawasan TOD dan sistem transit di Indonesia masih dalam tahap perencanaan, sehingga kinerja nyata TOD dalam mendukung penggunaan transit belum dapat dipastikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model prediksi dampak kinerja bentuk penggunaan dan pengembangan lahan pada area potensi TOD terhadap jumlah pengguna transportasi publik. Model ini diharapkan dapat menjadi referensi pengukuran keefektifan rencana TOD dalam konteks pembangkitan pengguna transportasi publik baru. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda. Berdasarkan hasilnya, beberapa hal perlu dipertimbangkan dalam pengembangan model, yaitu pemilihan variabel, penentuan sampel dan pemilihan metode analisis
ALIRAN INOVASI KERAJINAN RAMBUT PALSU DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF DI PURBALINGGA
Kemampuan beradaptasi dengan cara merespon permintaan pasar dan inovasi pengolahan kerajinan rambut palsu di Purbalingga menjadikannya mampu bertahan hingga 68 tahun. Sebagai modal keberlanjutan usaha, inovasi mencakup proses pelaku usaha mengakses ide kreatif dari berbagai sumber dan menerapkannya sesuai kondisi dan kebutuhan. Inovasi mampu memberikan nilai tambah melalui berbagai penciptaan alternatif produk rambut palsu. Secara empiris inovasi tidak hanya berasal dari keahlian yang diwariskan, namun juga dari kepekaan memanfaatkan ide dan pengetahuan baru dari sumber lain. Aliran inovasi memberikan ilustrasi asal sumber ide kreatif dan bagaimana ide tersebut sampai kepada pelaku usaha, sehingga mampu menghasilkan diversifikasi produk, perluasan jejaring pemasaran maupun perolehan bahan baku untuk efisiensi proses produksi. Tujuan penelitian ini berpa identifikasi aliran inovasi industri kreatif kerajinan rambut palsu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Wawancara mendalam dilakukan kepada 10 narasumber yang dipilih menggunakan teknik snowballing. Analisis kronologis perkembangan usaha diilustrasikan secara deskriptif dan spasial didukung teknik triangulasi menggunakan desk study. Temuan penelitian menunjukkan aliran inovasi kerajinan rambut palsu di Purbalingga tidak hanya bersumber dari pengetahuan yang diwariskan, tetapi juga pengetahuan baru dari interaksi dengan pabrik rambut palsu, pelatihan dan mitra kerja pemasaran. Perluasan perkembangan pasar hingga skala regional juga berperan terhadap aliran inovasi dan munculnya kerajinan rambut palsu di luar Purbalingga. Aliran inovasi juga terjadi antar pelaku usaha melalui interaksi dan pembelajaran sosial dalam hubungan keluarga, tenaga kerja, dan kompetisi usaha
APPLICATION OF IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS (IPA) METHOD FOR GENDER BASED PUBLIC TRANSPORTATION PLANNING IN CORRIDOR I BUS RAPID TRANSIT SEMARANG CITY
Gender-based public transport planning ensures accommodation of user group preferences to minimize inequality and discrimination among passenger needs. In the practice of accessing BRT Corridor I in Semarang City, it was identified that there were 3 aspects that determined the gap, namely: security, comfort, and accessibility. Importance Performance Analysis is used to describe the level of access gap by comparing service performance provided with passenger expectations. Of 70 respondents answered, 53 women and 17 men, two findings can be concluded. First, it was found that the value of disparity in male and female user groups was equally negative (-) which meant that services received by users were less than expected, with greater levels of access gaps for female user groups compared to male user groups with the value of the gap in women is -0.67 and in men -0.52. This shows that the problem of inequality in the female user group is more urgent to be addressed to meet adequate transportation needs and minimize the access gap that occurs in the female user group. Second, the main priority needs for handling access gaps in the female user group include accessibility aspects and comfort aspects, while in the male user group only the accessibility aspect is concerned. The role and purpose of the movement conducted are two key factors in priority differentiation
SUHU PERMUKAAN LAHAN DAN INTENSITAS PEMANFAATAN RUANG DI PERKOTAAN YOGYAKARTA
Penelitian bertujuan untuk menemukan hubungan suhu permukaan lahan (SPL) dan intensitas pemanfaatan ruang di Perkotaan Yogyakarta. Data SPL didapatkan dari pengolahan citra Landsat OLI 8 perekaman bulan Juni tahun 2018 dengan metode Split Window Analysis (SWA). Variabel operasional intensitas pemanfaatan ruang meliputi KDB, KLB, KDH, dan jumlah lantai. Data intensitas pemanfaatan ruang didapatkan dengan observasi secara langsung melalui 80 sampel yang disebar di Perkotaan Yogyakarta. Hasil pengolahan Landsat menunjukkan SPL Perkotaan Yogyakarta pada tahun 2018 berada pada rentang 28,280C sampai 41,920C dengan rata-rata 36,20C. Suhu tinggi terkonsentrasi di pusat kota dan menurun pada area pinggiran. Hasil observasi lapangan menujukkan intensitas pemanfaatan ruang di Perkotaan Yogyakarta cukup tinggi dengan rata-rata nilai KDB 62%, KLB 1,1 dan KDH 32%. Analisis keterkaitan menunjukkan bahwa intensitas pemanfaatan ruang memiliki hubungan kuat dengan SPL. Variabel KDB, KLB dan jumlah lantai memiliki keterkaitan positif dengan SPL, sebaliknya KDH memiliki keterkaitan negatif dengan SPL
THE IMAGE OF KAMPUNG BALUWARTI AS A JAVANESE CULTURAL EDU-TOURISM DESTINATION BASED ON THE CULTURE OF SURAKARTA SUNANATE PALACE
Kampung Baluwarti is a cultural edu-tourism destination in Surakarta City, Central Java, Indonesia. Systematically, this study aims to: 1) identify the characteristics of the tourism products of Kampung Baluwarti; 2) study the development strategies of the image of Kampung Baluwarti as a cultural edu-tourism destination in Surakarta and formulate the cultural education tour packages that are tailored to existing potentials, environment, and regional planning. The research applied a descriptive-qualitative method with PASOLP (Product Analysis of Outdoor Leisure Planning Sequence) which offers a creative, pragmatic, and operational approach to modern tourism area planning. In this case, the research conducted two PASOLP stages: defining the object and attraction and providing recommendations on the needs and priorities. The data collection technique was conducted by collecting the necessary information through interviews with key informants. Field observation carried out the existing condition. Besides, a literature study was used to dig up literary information related to Kampung Baluwarti that was not obtained in interviews and observation. Besides, a literature study was used to explore literary information related to Kampung Baluwarti that was not obtained in interviews and observation. The results show that the tourism products, in this case, have multiple roles: not only for conservation and preservation purposes but also for improving the economy of the local people living in the area. Development strategies that are tailored to product characteristics, local community conditions, and planning are formulated with Javanese traditional tour packages that can form the image of Kampung Baluwarti as a cultural edu-tourism destination in Surakarta. Therefore, cultural edu-tourism destination carries the appropriate concept in developing tourism strategies based on the Javanese culture of Surakarta Sunanate Palace
UNDERSTANDING FACTORS OF USING PUBLIC TRANSPORTATION AMONG WOMEN IN KUALA LUMPUR
In recent decades, the percentage of women working outside their homes has ascended in many developing countries depicts the needs on the understanding of how women travel daily. Many claims, public transportation facilities, and infrastructure related to it do not consider the needs of women travelers but fit men's standards. As a result, many face difficulties became dependent on men for traveling or facing safety-related issues that deter them to use public transportation independently. Thus, this study is to identify factors of public transportation usage among women users in Kuala Lumpur. The study has able to identify three main attributes in public transportation usage factors that influence women users. Using the Structural Equation Modelling (SEM) researchers have found that situational attributes have a larger influence on public transportation frequency, in the use of public transportation and surrounding condition of the public transportation in the mode choice decisions of their travel preferences.
PERGESERAN PEMANFAATAN RUANG KORIDOR JALAN BENDUNGAN HILIR TERHADAP RDTR DKI JAKARTA
Jakarta merupakan kota metropolitan yang memiliki kawasan pusat bisnis, yaitu Kawasan Segitiga Emas Jakarta. Pertumbuhan Kawasan Segitiga Emas Jakarta mempengaruhi kawasan disekitarnya, salah satunya ialah Koridor Jalan Bendungan Hilir. Pada tahun 1952, Pemerintah Jakarta membuka Jalan Bendungan Hilir untuk dijadikan kawasan permukiman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pergeseran kegiatan pemanfaatan ruang terhadap RDTR DKI Jakarta di Koridor Jalan Bendungan Hilir Kota Jakarta Pusat. Metode penelitian yang digunakan ialah analisis deskriptif kuantitatif dan analisis Analytic Hierarchy Proccess (AHP). Hasil yang didapat dalam penelitian ialah Koridor Jalan Bendungan Hilir didominasi oleh pemanfaatan ruang usaha sebesar 83%. Pergeseran pemanfaatan ruang pada tahun 2014-2019 sebesar 3% dari pemanfaatan ruang hunian dan sosial budaya menjadi pemanfaatan ruang usaha. Berdasarkan perhitungan AHP, faktor ketidaksesuain pemanfaatan ruang dengan RDTR disebabkan oleh kurang efektifnya pengendalian pemanfaatan ruang. Sejak diberlakukannya RDTR DKI Jakarta pada tahun 2014, kondisi pemanfaatan ruang di Koridor Jalan Bendungan Hilir sudah dipenuhi oleh pemanfaatan ruang usaha. Pergeseran pemanfaatan ruang yang terjadi di Koridor Jalan Bendungan Hilir perlu diperhatikan karena pemanfaatan ruang hunian dan pemanfaatan ruang usaha memiliki karakteristik yang berbeda. Sehingga, kedua pemanfaatan ruang tersebut membutuhkan perencanaan penataan ruang yang berbeda menyesuaikan dengan karakteristiknya
PARTICIPATION OF MALIOBORO’S PARKING ATTENDANTS RELOCATION IN RIGHT TO THE CITY PERSPECTIVE
Right to the city become one of essential point in New Urban Agenda discussion, as the adoption of Sustainable Development Goals which includes point 11 on Sustainable Cities and Human Settlements. Right to the city is a concept which encloses political power, land ownership, and social justice within globalized cities which run into rapid change. Lefebvre describes the right to the city as people cry and demand a transformed and renewed urban life. Participation is seen as a basic right in the concept of the right to the city. This article drawing on a study case of relocation of Malioboro’s parking attendants. The relocation itself was one of the policies to revitalize tourism area along Malioboro street. In the process, there are some resistances from Malioboro’s parking attendants emerge as their concern on their sustainability after the relocation into the new place. Based on the field research, this article concludes that the process of participation that occurs does not meet up with parking attendants aspiration and the process is ruined by the government. Public participation is ineffective at the process and ruined as the government intervention in Malioboro parking attendants organization. The ineffectiveness of public participation is due to the logic of technocratic participation and the government's informal approach to some parking attendants