1,721,100 research outputs found
Oles Pardabaitak on the Batak Pakpak Ethnic: A Semiotic Study
This thesis is entitled “Oles Pardabaitak in Pakpak Ethnic:A Semiotics Study”. This study aims to (1). describe the motifs contained in the function of the pardabaitak of the Pakpak Batak ethnic group. (2). describe the function of the motifs contained in the oles pardabaitak of the Pakpak Batak ethnic group. (3). Describe the symbol value of the motifs contained in the Pakpak Batak ethnic pardabaitak oles. The theory used in analyzing the data is theory of semiotics put forward by Charles Sanders Pierce. The method used in this research is descriptive qualitative research with structured interview observation. Based on the results of research and discussion, the author found that there are 7 forms motif values of kelang pajonggir, gerga, epen buaya, gatip dabbal, sirat, rambu, sisi. In addition, there are 10 equipment pamapan, lili, pagabe, baliga, totar, pangihunan, hatolungan, patibohonan, sorha, panaitan. And the value of motif found in this study id the value of social solidarity, mutual cooperation, courtesy, harmony, discipline, welfare and gratitude.104 PagesSkripsi Sarjan
Tradisi Mukul Etnik Batak Karo: Kajian Semiotik
Penelitian ini adalah penulis membahas tentang tradisi Mukul Etnik Batak
Karo di desa Seberaya Kecamatan Tigapanah Kabupaten Karo yang dikaji dari
semiotik. Masalah dalam penelitian ini adalah (1)bentuk symbol dalam mukul,
(2)fungsi simbol yang terdapat dalam mukul dan(3)nilai yang terdapat dalam
tradisi mukul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk symbol tradis
imukul, fungsi simbol tradisi mukul dan nilai yang ada dalam tradisi mukul
.Metode yang digunakan dalam menganalisis masalah penelitian ini adalah
metode kualitatif dan teknik penelitian lapangan. Penelitian ini menggunakan teori
semiotik yang digagas olehC.S.Pierce.
Hasil penelitian ini mendeskripsikan bahwa tradisi mukul mempunyai
hubungan yang sangat berpengaruh dengan kehidupan social etnik Karo,Adapun
mukul tersebut dijadikan sebagai pedoman untuk menilai sebuah tindakan yang
dilakukan oleh seseorang terhadap yang lain maupun dijadikan sebagai bahan
dasar untuk menjalani kehidupan yang harmonis. Hal ini terlihat dilapangan
dengan makna-makna yang muncul sangat berkaitan dengan tindakan yang sering
dilakukan oleh etnik Karo.89 HalamanSkripsi Sarjan
Cerpen Sonduk Hela Karya M. Tansiswo Siagian di Desa Patane I, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba: Kajian Sosiologi Sastra
Skripsi ini berjudul “Cerpen Sonduk Hela Karya M. Tansiswo Siagian Di Desa
Patane I, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba”. Pada penelitian ini, bertujuan
untuk mendeskripsikan unsur-unsur intrinsik, nilai-nilai sosiologi sastra, serta
pandangan masyarakat terhadap Cerpen Sonduk Hela Karya M. Tansiswo Siagian.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori sosiologi sastra yang
dikemukakan oleh Ratna tahun 2003 dengan menggunakan metode penelitian
deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah data primer yang di
dapat dari lapangan dan data sekunder yaitu cerpen Sonduk Hela Karya M.
Tansiswo Siagian. Hasil yang diperoleh terdapat (6) unsur-unsur intrinsik, yaitu:
tema, alur/plot, penokohan, latar, sudut pandang, amanat. Nilai-nilai sosiologi
sastra mencakup: tanggung jawab, tolong menolong, kesetian, kepedulian. Dan
pandangan masyarakat Desa Patane I terhadap Cerpen Sonduk Hela Karya M.
Tansiswo Siagian.116 HalamanSkripsi Sarjan
Parjambaran dalam Upacara Saur Matua Etnik Batak Toba : Kajian Folklor
Endang Hutasoit, 2022. Judul Skripsi : PARJAMBARAN DALAM UPACARA
SAUR MATUA ETNIK BATAK TOBA : KAJIAN FOLKLOR. Masalah yang
terdapat pada penelitian ini adalah tahapan parjambaran, pesan parjambaran, dan
makna parjambaran dalam upacara saur matua. Pelaksanaan parjambaran
masih dilakukan di Desa Sigumpar Kecamatan Sigumpar Kabupaten Toba.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang parjambaran, pesan, dan
makna dalam upacara kematian saur matua. Susunan adat parjambaran yang
terdapat dalam skripsi ini sangatlah terstuktur dan dapat sebuah acuan untuk
pemahaman parjambaran. Penelitian ini memanfaatkan metode deskriptif yang
menggunakan teknik penelitian lapangan. 1). Adapun tahap-tahap parjambaran
dalam upacara adat saur matua ialah a). Marhusip-husip b). tonggo raja c).
Maralaman horja dan sebagainya 2). Pesan parjambaran a). pentingnya
mengetahui atau memahami silsilah (tarombo) kita didalam paradatan khususnya
upacara saur matua. 3). Fungsi folklor dalam upacara adat saur matua a). Ulu b).
Panambolon c). Ihur-ihur d). Lapaan e). Gonting f). Tanggalan g). Tulan Tombuk
h). Tulan Bona i). Tulan Panjungkot j). Somba-somba.87 HalamanSkripsi Sarjan
Herbs in the Batak Toba Ethnicity
In this research, the author entitled "Herbs in the Batak Toba Ethnicity". This research aims to describe the types of herbal plants of the Batak Toba ethnic group in Tanjungan village, the function of herbs in the Batak Toba ethnic group, the meaning of herbs in the Batak Toba ethnic group, and the cohesion of herbs in the Batak Toba ethnic group. The theories used in this research are the ecolinguistic theory proposed by Fill & Muhlhausler and the lexical semantic theory proposed by Pateda. The method used in this research is descriptive qualitative. This research shows that there are 41 types of herbs in the Batak Toba ethnic group in Tanjungan village, including: Alum-alum debata, andulpak, arsam, assi-assi, baoang rara, baoang bottar, baoang rambu, bulung holang, pinasa, bulung paet-paet, sangge- sangge, gambiri, guri-guri batu, hasior, hunik, hunik nabottar, indung hunik, jarango, jambut huting, kalippus, hatumbar na birong, napuran, oppu-oppu, pege, pege na rara, pirdot, bulu, sandduduk, sarindan, salagundi, sae-sae, seddok-seddok, silinjuang, sijukkot, simandaruma, simarhambing-hambing, sirittak, inggo, guri-guri, simarihur ni asu, attajau. and there are 38 herbal functions, 34 herbal meanings, as well as 17 "close" distance cohesions that grow in gardens or fields, 13 "very close" distance cohesions where these herbs grow in house yards and roadsides, 10 "very far" distance cohesions ” which grows in the forest, on every Toba Batak ethnic herb in Tanjungan village.104 PagesSkripsi Sarjan
Herbs in the Batak Toba Ethnicity
In this research, the author entitled "Herbs in the Batak Toba Ethnicity". This research aims to describe the types of herbal plants of the Batak Toba ethnic group in Tanjungan village, the function of herbs in the Batak Toba ethnic group, the meaning of herbs in the Batak Toba ethnic group, and the cohesion of herbs in the Batak Toba ethnic group. The theories used in this research are the ecolinguistic theory proposed by Fill & Muhlhausler and the lexical semantic theory proposed by Pateda. The method used in this research is descriptive qualitative. This research shows that there are 41 types of herbs in the Batak Toba ethnic group in Tanjungan village, including: Alum-alum debata, andulpak, arsam, assi-assi, baoang rara, baoang bottar, baoang rambu, bulung holang, pinasa, bulung paet-paet, sangge- sangge, gambiri, guri-guri batu, hasior, hunik, hunik nabottar, indung hunik, jarango, jambut huting, kalippus, hatumbar na birong, napuran, oppu-oppu, pege, pege na rara, pirdot, bulu, sandduduk, sarindan, salagundi, sae-sae, seddok-seddok, silinjuang, sijukkot, simandaruma, simarhambing-hambing, sirittak, inggo, guri-guri, simarihur ni asu, attajau. and there are 38 herbal functions, 34 herbal meanings, as well as 17 "close" distance cohesions that grow in gardens or fields, 13 "very close" distance cohesions where these herbs grow in house yards and roadsides, 10 "very far" distance cohesions ” which grows in the forest, on every Toba Batak ethnic herb in Tanjungan village.104 PagesSkripsi Sarjan
Tradisi Mukul Etnik Batak Karo: Kajian Semiotik
Penelitian ini adalah penulis membahas tentang tradisi Mukul Etnik Batak
Karo di desa Seberaya Kecamatan Tigapanah Kabupaten Karo yang dikaji dari
semiotik. Masalah dalam penelitian ini adalah (1)bentuk symbol dalam mukul,
(2)fungsi simbol yang terdapat dalam mukul dan(3)nilai yang terdapat dalam
tradisi mukul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk symbol tradis
imukul, fungsi simbol tradisi mukul dan nilai yang ada dalam tradisi mukul
.Metode yang digunakan dalam menganalisis masalah penelitian ini adalah
metode kualitatif dan teknik penelitian lapangan. Penelitian ini menggunakan teori
semiotik yang digagas olehC.S.Pierce.
Hasil penelitian ini mendeskripsikan bahwa tradisi mukul mempunyai
hubungan yang sangat berpengaruh dengan kehidupan social etnik Karo,Adapun
mukul tersebut dijadikan sebagai pedoman untuk menilai sebuah tindakan yang
dilakukan oleh seseorang terhadap yang lain maupun dijadikan sebagai bahan
dasar untuk menjalani kehidupan yang harmonis. Hal ini terlihat dilapangan
dengan makna-makna yang muncul sangat berkaitan dengan tindakan yang sering
dilakukan oleh etnik Karo.89 HalamanSkripsi Sarjan
Cerita Rakyat Naimarbintang Etnik Mandailing Kajian: Psikologi Sastra
Folklore Ethnic Study of Literary Psychology Folklore is essentially an oral story
that has long lived among the people. Folklore can be regarded as a form of
cultural and historical wealth of a nation. Spread Folklore usually spreads and
develops from one generation to another in one scope and ethnicity. However,
because folklore is usually inherited by telling it and rarely has a written synopsis
of the story, the story often experiences distortion so that it is often very different
from the original story. The purpose of this thesis is to describe the id, ego, and
superego contained in the folklore of Naimar bintang Bintang Ethnic Mandailing
Literary Psychology Study. The theory that the writer uses is Sigmund Freud's
theory of literary psychology. This thesis uses a qualitative descriptive method.
The results of this study include id, ego, superego in the folklore of Naimar
bintang the study of literary psychology. From the results of the study found id,
ego, and superego in the folklore of Naimar bintang the study of literary
psychology. The internal id acts as the most basic personality system that
functions to avoid unpleasant situations and achieve pleasant ones. The ego
functions as an effort to satisfy needs and reduce individual tension. The superego
controls the id and directs the ego. Id, ego, and superego are found in the
characters in the folklore of Naimar bintang ethnic Mandailing112 HalamanSkripsi Sarjan
Retret Rumah Adat Karo: Kajian Semiotik
Penelitian ini adalah tentang retret pada rumah adat etnik Karo di Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo yang ditinjau dari kajian semiotik. Retret merupakan warisan budaya nenek moyang kita sejak dulu hingga sekarang. Retret yang terdapat pada rumah adat etnik Karo sangat erat dikaitkannya hal-hal mistis dan religius.
Metode dasar yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan objek/subjek penelitian seseorang pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya.
Hasil penelitian lapangan menunjukkan bahwa retret mempunyai hubungan yang sangat berpengaruh dengan kehidupan sosial etnik Karo, adapun retret tersebut dijadikan sebagai pedoman untuk menilai sebuah tindakan yang dilakukan oleh seseorang terhadap yang lain maupun dijadikan sebagai bahan untuk menjalanai kehidupan yang harmonis. Hal ini terlihat pengertian yang terungkap dilapangan dengan makna-makna yang muncul sangat berkaitan dengan tindakan yang sering dilakukan oleh etnik Karo.
Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa retret adalah lukisan ataupun ukiran tradisional yag biasanya dilukiskan pada dinding-dinding rumah adat etnik Karo yang mengandung unsur mistis dan penolak bala dari segala roh-roh jahat dan untuk menentukan fungsi dan makna dari retret Pada Dinding Rumah Adat Karo tersebut.Skripsi Sarjan
Mengket Rumah Mbaru Etnik Batak Karo: Kajian Hipersemiotika
Dalam penelitian ini penulis membahas tentang mengket rumah mbaru Etnik Karo, kajian hipersemiotika Masalah dalam penelitian ada dua 1) mendeskripsikan tahapan upacara mengket rumah mbaru Etnik Batak Karo dan 2) mendeskripsikan simbol yang berubah pada upacara adat mengket rumah mbaru Etnik Batak Karo. Metode yang digunakan dalam menganalisis masalah penelitian ini adalah metode kualitatif dengan penelitian lapangan. Objek ini dikaji teori hipersemiotika (Piliang) hipersemiotik yang terdapat pada upacara adat mengket rumah mbaru meliputi: tanda sebenarnya (proper signs), tanda palsu (pseudo signs), tanda dusta (false signs), tanda daur ulang (recycled sings), tanda arifisial (arificial signs), tanda ekstrim (superlative signs.81 HalamanSkripsi Sarjan
- …
