1,721,089 research outputs found
Seleksi Bakteri Endofit dari Tanaman Jabon, Sengon dan Tanjung untuk Pengendalian Meloidogyne sp. pada Tanaman Tomat.
Nematoda puru akar Meloidogyne sp. merupakan nematoda parasit tumbuhan yang menyerang akar dan menjadi masalah pada tanaman tomat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyeleksi bakteri endofit dari tiga spesies tanaman hutan, Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.), Sengon (Albizia chinensis (Osbeck) Merr.) dan Tanjung (Mimusops elengi L.) serta mengevaluasi potensinya untuk pengendalian Meloidogyne sp. pada tanaman tomat. Bakteri endofit diisolasi dengan metode sterilisasi permukaan dengan menggunakan TSA sebagai media tumbuh. Sebanyak 11 isolat bakteri endofit berhasil diperoleh dari tiga akar tanaman tersebut. Hasil uji hipersensitif pada daun tembakau menunjukkan semua isolat bakteri endofit tidak berpotensi sebagai bakteri patogen. Beberapa isolat memiliki potensi untuk menekan dan mengurangi timbulnya puru akar pada tanaman tomat hingga lebih dari 80%
Konsorsium Bakteri Endofit Asal Keladi, Alang-Alang, dan Putri Malu Sebagai Pemacu Pertumbuhan dan Pengendali Meloidogyne incognita pada Tomat
Nematoda puru akar Meloidogyne incognita merupakan endoparasit tanaman tomat yang menyebabkan gejala abnormal pada akar. Agen hayati jenis bakteri endofit potensial digunakan untuk pengendalian M. incognita. Bakteri endofit adalah bakteri yang hidup di dalam jaringan tanaman untuk sebagian atau seluruh hidupnya tanpa merugikan tanaman. Tujuan penelitian ini untuk mengisolasi dan menguji konsorsium bakteri endofit asal tanaman keladi, putri malu, dan alang-alang dalam mengendalikan nematoda puru akar M. incognita dan memacu pertumbuhan tanaman. Isolasi konsorsium bakteri endofit dilakukan dengan metode sterilisasi permukaan dengan alkohol 70% dan natrium hipoklorit 1.0%, kemudian dikulturkan pada media NA (Nutrient Agar). Sebanyak 12 isolat konsorsium bakteri endofit berhasil diisolasi dari akar tanaman keladi, alang-alang, dan putri malu. Konsorsium harus dipastikan aman secara biologis melalui uji hipersensitivitas dan uji hemolisis. Sebanyak 10 isolat konsorsium menunjukkan respon negatif. Sepuluh isolat konsorsium bakteri endofit secara in vitro mampu membunuh larva M. incognita mencapai 67% hingga 100%, memacu pertumbuhan tanaman mencapai 86.57%, menekan jumlah puru akar oleh M. incognita mencapai 75%, dan menekan populasi M. incognita di tanah mencapai 95%. Sebanyak 10 konsorsium bakteri endofit juga dapat memproduksi metabolit sekunder yang berbeda-beda. Hasil penelitian menunjukkan empat konsorsium yaitu PTM3, ALG5, TLS5 dan TLS1 berpotensi sebagai agen biologis untuk mengendalikan M. incognita. Penelitian ini memberikan informasi baru mengenai keefektifan konsorsium bakteri endofit dalam mengendalikan dan memacu pertumbuhan tanaman tomat
Pengendalian Meloidogyne spp. pada Tanaman Tomat dengan Bakteri Endofit dan Pupuk Organik Cair.
Nematoda puru akar (Meloidogyne spp.) merupakan nematoda parasit
tumbuhan penting pada tanaman tomat. Pengendalian Meloidogyne spp. umumnya
dilakukan dengan aplikasi nematisida sintetis dan agen pengendali hayati.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keefektifan bakteri endofit dan pupuk
organik cair (POC) Bio-HaraPlus (P00200900766) untuk mengendalikan
Meloidogyne spp. pada tanaman tomat. Sebelas isolat bakteri endofit yang
digunakan dalam penelitian ini adalah APE35, APE33, APE22, APE15, BSK18,
BBT130, BBT110, BBT106, BBT102, BBT90, dan BBT25. Pengujian dilakukan
secara in vitro untuk mengetahui pengaruh bakteri endofit terhadap mortalitas larva
Meloidogyne spp. dan uji in vivo di rumah kaca untuk mengetahui pengaruh bakteri
endofit dan POC terhadap puru akar dan pertumbuhan tanaman. Berdasarkan uji in
vitro dan uji pemacu pertumbuhan tanaman diperoleh dua isolat terbaik yaitu
APE15 dan BBT90. Kedua isolat tersebut digunakan untuk pengujian di rumah
kaca. Aplikasi bakteri endofit dan POC di rumah kaca dilakukan dengan cara
perendaman dan penyiraman di sekitar akar tanaman. Hasil pengujian in vitro
menunjukkan semua isolat bakteri dapat meningkatkan persen mortalitas juvenil
Meloidogyne spp. hingga 59%. Hasil pengujian in vivo di rumah kaca menunjukkan
aplikasi bakteri dan POC mampu mengurangi jumlah puru akar 40-71%. Aplikasi
bakteri endofit dan POC mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman tomat hingga
17%, mampu menekan penetasan telur Meloidogyne spp. hingga 86% dan menekan
jumlah telur Meloidogyne spp. hingga 70%
Potensi Seduhan Alang-alang (Imperata cylindrica (L) Beauv.) untuk Pengendalian Meloidogyne spp. pada Tanaman Tomat
Tanaman hortikultura yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah tomat (Lycopersicum esculentum Mill.). Banyak permasalahan hama dan penyakit yang menjadi kendala pada pertanaman tomat. Salah satu penyakit penting adalah puru akar yang disebabkan oleh Meloidogyne spp. Upaya pengendalian yang telah dilakukan untuk mengurangi infeksi Meloidogyne spp. diantaranya rotasi tanaman, penggenangan air dan penggunaan pestisida. Salah satu alternatif untuk mengendalikan Meloidogyne spp. adalah penggunaan pestisida botanis karena sifatnya yang mudah terurai dan tidak mencemari lingkungan. Alang-alang berpotensi sebagai pestisida botanis yang mengandung senyawa aktif alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, dan tanin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi seduhan alang-alang sebagai pengendalian Meloidogyne spp. dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman tomat. Seduhan alang-alang diproduksi dengan metode fermentasi yang menggunakan 3 jenis bahan pelarut yang berbeda yaitu air (AA), air cucian beras (AB), dan air kelapa (AK) dengan waktu fermentasi yang berbeda-beda. Seduhan alang-alang diuji secara in vitro untuk mortalitas Meloidogyne spp. dan secara in vivo di rumah kaca. Hasil penelitian menunjukkan tiga jenis seduhan alang-alang mampu meningkatkan persentase mortalitas Meloidogyne spp. hingga 100%. Seduhan alang-alang juga dapat menekan jumlah puru pada akar dan populasi Meloidogyne spp. di tanah. Perlakuan seduhan alang-alang dengan bahan pelarut air cucian beras (AB) konsentrasi 75% memberikan hasil terbaik dalam menekan Meloidogyne spp. pada akar maupun dalam tanah. Ketiga jenis seduhan alang-alang juga berpotensi meningkatkan pertumbuhan tanaman tomat, perlakuan seduhan alang-alang dengan bahan pelarut air kelapa (AK) konsentrasi 75% merupakan hasil terbaik
Aplikasi Bakteri Endofit dengan Metode Perendaman Benih, Penyiraman pada Tanah, dan Pencelupan Akar terhadap Meloidogyne spp. pada Tanaman Tomat
Meloidogyne spp. merupakan nematoda parasit penting yang menjadi
kendala dalam budidaya tanaman tomat. Pengendalian nematoda puru akar
menggunakan pestisida yang berlebihan dan terus menerus dapat merusak
lingkungan. Bakteri endofit merupakan salah satu alternatif pengendalian nematoda
yang dapat dipertimbangkan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh
teknik aplikasi bakteri endofit terhadap Meloidogyne spp. pada tanaman tomat.
Isolat bakteri endofit yang digunakan adalah isolat G053, MSJ1H dan TSS1D.
Aplikasi yang digunakan adalah perendaman benih, penyiraman suspensi bakteri,
dan pencelupan akar. Metode perendaman benih, benih tomat direndam dalam
suspensi bakteri endofit dengan konsentrasi 109-1010 CFU/ml selama 6 jam.
Metode penyiraman suspensi bakteri, bibit tanaman tomat yang berumur 3 MST
disiram dengan 20 ml suspensi bakteri endofit pada konsentrasi 109-1010 CFU/ml
disekitar perakaran tanaman. Metode pencelupan akar, bibit tanaman tomat yang
berumur 3 minggu setelah tanam (MST) dicabut dan dicelupkan akarnya dalam
suspensi bakteri pada konsentrasi 109-1010 CFU/ml selama 30 menit. Parameter
yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah dan berat kering
tajuk, berat basah akar, dan jumlah puru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
metode aplikasi bakteri endofit dengan penyiraman pada tanah dan pencelupan
akar lebih baik dari pada metode perendaman benih dalam menekan puru akar.
Isolat bakteri TSS1D dengan metode pencelupan akar menunjukkan hasil yang
paling baik dalam menekan puru akar dibandingkan dengan isolat lainnya.
Pengamatan terhadap persentase kematian nematoda secara in vitro menunjukkan
bahwa semua kultur filtrat bakteri endofit mampu mematikan larva Meloidogyne
spp. lebih dari 90%
Deteksi dan ldentifikasi Nematoda Puru Akar pada Tanaman Krisan Berdasarkan Karakter Morfologi dan Molekuler
Chrysanthemum (Dendranthema grandiflorum Tzvelev) is a horticultural commodity that has significant economic value for Indonesia. One of the constraints in the production of chrysanthemum is infection of root knot nematodes (Meloidogyne spp.). The objective of this research was to identify species of Meloidogyne associated with chrysanthemum in West Java based on morphological and molecular characters. Morphological identification method is based on the shape and size of eggs, second stage juveniles, males and females perineal pattern of nematodes. Molecular identification was done through polymerase chain reaction (PCR) using primer pairs specific to M. incognita, M. javanica and M. arenaria. The result showed identification morphologically was found three species of Meloidogyne namely M. javanica, M. incognita and M. arenaria based on the molecular characterization, M. javanica is the only one of species that associated with chrysanthemum in West Java
Keefektifan Limbah Tanaman Brassicaceae Sebagai Pengendali Nematoda Puru Akar (Meloidogyne Spp.)
Meloidogyne spp. merupakan salah satu patogen tular tanah yang menyerang bagian akar tanaman dengan menimbulkan gejala puru. Tanaman yang terinfeksi berat oleh nematoda puru akar (NPA) dapat menyebabkan sistem perakaran mengalami disfungsi secara total. Apabila tanaman terinfeksi berat oleh nematoda, sistem perakaran dalam menyerap unsur hara akan berkurang dan menyebabkan jaringan pengangkut mengalami gangguan, sehingga tanaman mudah layu dalam keadaan kering, tanaman menjadi kerdil, pertumbuhan terhambat dan mengalami klorosis. Nematoda puru akar dapat menurunkan produksi 15 % sampai 95 % sehingga diperlukan upaya pengendalian. Tanaman dari famili Brassicaceae dilaporkan dapat digunakan sebagai biofumigan karena mengandung glukosinolat (GSL). GSL mengandung senyawa nitrogen (N) dan belerang (S) dari hasil metabolit sekunder pada tanaman. Proses hidrolisis GSL terjadi jika senyawa ini kontak dengan enzim mirosinase. Kontak antara GSL dan enzim mirosinase terjadi ketika jaringan tanaman robek dan tersedianya air. Hidrolisis glukosinolat menghasilkan senyawa isothiosianat (ITS) yang sangat toksik terhadap organisme tanah termasuk nematoda.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan limbah Brassicaceae sebagai biofumigasi untuk mengendalikan Meloidogyne spp. pada tanaman tomat pada skala mikroplot di lapangan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Nematologi Tumbuhan dan Kebun Percobaan IPB Pasir Sarongge, Desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Kebupaten Cianjur. Mikroplot disiapkan dengan ukuran satu meter persegi dengan tinggi mikroplot 18-20 cm dan jarak antar setiap mikroplot 50 cm. Limbah kubis, lobak, brokoli, sawi putih, dan pakcoy dikumpulkan dari tempat pengemasan sayur di sekitar tempat penelitian. Limbah Brassicaceae yang telah dikumpulkan dicacah dengan menggunakan peralatan tradisional kurang lebih 1 cm, kemudian dicampur dengan tanah mikroplot yang telah dibuat. Tanah yang telah dicampur dengan lima jenis limbah Brassicaceae ditutup dengan menggunakan mulsa plastik yang telah disiapkan. Sebelum pemberian limbah Brassicaceae diambil tanah sebanyak 400 ml pada 25 titik setiap mikroplot untuk mengukur efek perlakuan limbah Brassicaceae terhadap nematoda. Pengambilan sampel kedua 10 hari setelah pemberian limbah Brassicaceae. Sebelum pembukaan mulsa plastik dilakukan pengukuran suhu tanah dengan menggunakan termometer batang yang ditancapkan kedalam tanah 15-20 cm selama 5 menit. Setelah pemberian limbah Brassicaceae, mikroplot dibiarkan terbuka dan ditanami bibit tomat berumur 4 minggu. Percobaan disusun menggunakan rancangan dua faktorial dalam rancangan acak lengkap. Faktor pertama adalah jenis limbah Brassicaceae dan factor kedua adalah dosis limbah / mikroplot. Percobaan disusun terdiri dari 6 ulangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi limbah Brassicaceae efektif dalam menurunkan populasi NPA dan nematoda parasit tumbuhan (NPT) lain pada tanah. Keefektifan lima jenis limbah Brassicaceae dalam menurunkan NPA pada kubis 41.68 %, sawi putih 47.63 %, pakcoy 52.95 %, brokoli 53.98 % dan lobak 58.30% sedangkan pada NPT kubis 52.53 %, sawi putih 55.91 %, pakcoy 50.54 %, brokoli 56.38 % dan lobak 55.21%. Dosis limbah Brassicaceae menurunkan populasi NPA pada kontrol 20.70 %, 0+mp 38.50 %, 10%+mp 69.96 %, dan 20%+mp 74.92% sedangkan untuk NPT pada kontrol 42.78 %, 0+mp 45.62 %, 10%+mp 64.71 % dan 20%+mp 63.32%. Limbah Brassicaceae meningkatkan suhu tanah sebesar 2 hingga 4 oC. Limbah Brassicaceae meningkatkan bobot kering tajuk dan akar pada dosis 10%+mp dan 20%+mp. Limbah lobak dengan dosis 10%+mp dan 20%+mp meningkatkan bobot akar dan tajuk yang lebih baik pada tanaman tomat. Limbah Brassicaceae dengan dosis 10%+mp dan 20%+mp meningkatkan jumlah buah tanaman tomat pada sebesar 53-64 buah. Perlakuan lima jenis limbah Brassicaceae dengan dosis 10%+mp dan 20%+mp memberikan pengaruh terhadap bobot buah tanaman tomat sebesar 5.51 hingga 5.04 kg. Aplikasi limbah Brassicaceae efektif menurunkan populasi NPA, NPT dan meningkatkan pertumbuhan tanaman tomat pada mikroplot di lapangan
Management of Vascular Streak Dieback (VSD) on Cocoa Plants by farmers in East Luwu Regency and the Potential of Endophytic Bacteria as Control Agents
Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomi potensial untuk peningkatan devisa negara. Produktivitas kakao belum tercapai secara optimal karena kurangnya perawatan dan pemeliharaan yang dilakukan petani sehingga intensitas serangan hama dan penyakit masih cukup tinggi. Rendahnya produktivitas kakao juga dipengaruhi oleh penyakit, salah satu diantaranya yaitu Vascular Streak Dieback (VSD) yang disebabkan oleh cendawan Oncobasidium theobromae. Penyakit VSD dapat terjadi mulai dari fase pembibitan, tanaman muda, maupun tanaman dewasa yang berproduksi. Pengendalian penyakit VSD masih sulit dilakukan karena cendawan O. theobromae merupakan cendawan parasit obligat menginfeksi jaringan xilem tanaman yang terlindung dan sulitnya mengembangbiakkan pada media buatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi pengetahuan, sikap, dan tindakan petani dalam pengelolaan hama dan penyakit padatanaman kakao serta mengkaji potensi isolat bakteri endofit dalam mengendalikan penyakit VSD.
Penelitian pertama merupakan penelitian lapangan dengan pengamatan tanaman di lahan kakao dan wawancara langsung dengan petani menggunakan acuan kuesioner terstruktur di Kecamatan Burau dan Wotu di Kabupaten Luwu Timur. Jumlah responden petani adalah 50 petani untuk setiap kecamatan, pemilihan petani responden dilakukan secara purposive sampling dengan pertimbangan mudah ditemui dan lokasi kebun yang mudah dijangkau. Penelitian kedua adalah melakukan screening beberapa isolat bakteri endofit terhadap penyakit VSD. Kegiatan ini meliputi persiapan isolat bakteri endofit, pembibitan benih kakao, penempatan bibit kakao pada pohon kakao yang bergejala VSD, aplikasi bakteri endofit dengan cara penyiraman dan penyemprotan, pengamatan peubah agronomi serta pengamatan intensitas penyakit. Kegiatan di laboratorium dilanjutkan dengan isolasi patogen dari bibit kakao yang menunjukkan gejala VSD dengan media water agar.
Penelitian pertama menunjukkan sebagian besar petani responden merupakan kelompok tani aktif. Hama dan penyakit adalah permasalahan utama yang dihadapi petani dalam budi daya kakao. Mayoritas petani responden menggunakan klon MCC 02 pada lahan kakaonya dan jarak tanam yang digunakan yaitu 3x3 m. Penyakit yang ditemukan pada lahan kakao petani diantaranya, yaitu VSD, busuk buah, jamur upas, dan kanker batang. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan melalui penggunaan pestisida kimia dan pemangkasan (teknik budi daya). Petani kakao di Kecamatan Burau dan Wotu rutin melakukan pemangkasan sebagai salah satu teknik pengendalian penyakit pada lahan kakao. Pemangkasan pada tanaman kakao yang dilakukan petani bertujuan untuk membuang cabang yang sakit serta memacu pertumbuhan bunga dan buah.
Penelitian kedua menunjukkan bahwa dari 8 isolat bakteri endofit yang diuji, hanya salah satu bakteri endofit yaitu isolat LCA 19 yang mampu menunjukkan hasil yang positif dan mampu meningkatkan pertumbuhan bibit kakao dibanding kontrol. Namun, hal ini berbeda dengan hasil pengamatan intensitas penyakit yang menunjukkan bahwa perlakuan bakteri endofit belum mampu untuk menurunkan keparahan penyakit yang disebabkan oleh cendawan O. theobromae. Hasil isolasi cendawan pada bibit kakao yang bergejala VSD, ditemukan adanya asosiasi beberapa cendawan seperti Fusarium sp., Rhizoctonia sp., dan Colletotrichum sp.
Konsorsium bakteri endofit sebagai agens biokontrol nematoda puru akar Meloidogyne incognita pada tomat
Tomat merupakan komoditas hortikultura penting di Indonesia. Buah tomat
banyak digunakan sebagai bahan baku industri makanan dan dapat dikonsumsi
dalam kondisi segar. Salah satu kendala budidaya tomat adalah infeksi patogen.
Nematoda puru akar (NPA) Meloidogyne incognita merupakan patogen penting
pada tanaman tomat, yang menyebabkan tanaman kerdil, mudah layu, daun
menguning, dan akar berpuru. Infeksi NPA juga menyebabkan tomat menjadi
rentan terhadap infeksi Ralstonia solanacearum, dan Fusarium oxysporum.
Keberadaan puru menyebabkan rusaknya sistim dan fungsi perakaran, sehingga
hasil panen tomat menurun.
Aplikasi bakteri endofit merupakan salah satu cara pengendalian NPA. Akan
tetapi keefektifan konsorsium bakteri endofit sebagai agens pengendali M.
incognita belum banyak dilaporkan. Konsorsium bakteri endofit adalah seluruh
bakteri yang hidup di dalam jaringan tanaman dan dapat ditumbuhkan pada media
buatan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh; (1) konsorsium bakteri endofit
yang berpotensi menekan keparahan penyakit puru akar pada tomat, (2) formulasi
kompos konsorsium bakteri endofit yang berpotensi mengendalikan M. incognita
dengan daya simpan yang tinggi.
Konsorsium bakteri endofit diisolasi dari 16 jenis tanaman yaitu bambu
(Bambusa bambos), mint (Coleus amboinicus), bit merah (Beta vulgaris), gingseng
(Talinum triangulare), pecah beling ungu (Strobilanthes crispus), pacar air
(Impatiens balsamina), tomat (Lycopersicum esculentum), serai (Cymbopogon
nardus), padi (Oryza sativa), tithonia (Tithonia diversifolia), kumis kucing
(Orthosiphon aristatus), binahong (Anredera cordifolia), jinten (Nigella sativa),
temulawak (Curcuma xanthorrhiza), garut (Maranta arundinacea), dan cabai rawit
(Capsicum frutescens). Isolasi dilakukan menggunakan media Tryptone Soya Agar
(TSA) 20% dan 50%, Nutrient Agar (NA) 20% dan 50%, dan King’s B agar.
Konsorsium bakteri endofit diuji keamanannya dengan uji hipersensitifitas, uji
hemolisis, dan uji patogenesitas. Sebanyak 80 konsorsium yang diperoleh, 16
konsorsium dinyatakan aman untuk diuji lanjut.
Uji lanjut dilakukan untuk mengetahui potensi setiap konsorsium bakteri
endofit sebagai agens biokontrol. Parameter yang diuji adalah kemampuan
konsorsium bakteri endofit dalam memacu pertumbuhan bibit tanaman tomat,
produksi enzim, produksi senyawa sianida, dan pengaruhnya terhadap infeksi NPA
pada tomat. Konsorsium bakteri dengan performa terbaik diformulasi dalam bentuk
kompos. Formulasi tersebut juga diuji kemampuannya sebagai biopestisida
terhadap NPA pada tomat.
Seluruh konsorsium bakteri endofit memiliki pengaruh positif terhadap
pertumbuhan bibit tomat. Berat segar bibit tomat yang diberi perlakuan konsorsium
bakteri endofit meningkat sampai dengan 39.60%. Tinggi bibit tomat yang diberi
perlakuan konsorsium bakteri endofit juga meningkat sampai dengan 17.65%.
Beberapa penyakit penting pada tanaman tomat terjadi pada fase pembibitan.
Tanaman yang mampu tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan patogen
menginfeksi tanaman akan terhindar dari penyakit. Kemampuan tersebut adalah
mekanisme escape (penghindaran).
Keefektifan konsorsium bakteri endofit sebagai agens hayati terlihat dari
menurunnya populasi nematoda dan tingkat kerusakan akar. Lebih lanjut
konsorsium bakteri endofit diketahui mampu menekan skala kerusakan akar tomat
37%, jumlah puru 31.25%, jumlah M. incognita di akar 39% dan di tanah 42.98%.
Aplikasi konsorsium bakteri endofit mampu meningkatkan pertumbuhan tomat
yang terinfeksi M. incognita. Tanaman tomat terinfeksi M. incognita dengan
perlakuan konsorsium bakteri endofit mengalami peningkatan hingga 11.91%
(panjang akar), 12.96% (berat segar), 15.94% (berat kering), 27.34% (tinggi
tanaman), dan 40.98% (jumlah daun). Secara umum seluruh konsorsium bakteri
endofit memiliki potensi yang baik sebagai agens hayati. Namun demikian
konsorsium TmtN2 dan TmtN5 memberikan pengaruh paling baik pada tanaman
tomat dibandingkan konsorsium lainnya.
Seluruh konsorsium diuji kemampuannya menghasilkan enzim protease,
enzim kitinase, hidrogen sianida, menambat nitrogen, dan melarutkan fosfor. Enzim
protease, enzim kitinase, dan hidrogen sianida berperan penting untuk
mengendalikan patogen tanaman. Kemampuan bakteri menambat nitrogen dan
melarutkan fosfor menunjukkan potensi bakteri tersebut sebagai agens pemacu
pertumbuhan tanaman. Hasil uji menunjukkan 15 konsorsium memproduksi enzim
protease, 11 konsorsium memproduksi enzim kitinase, 5 konsorsium memproduksi
hidrogen sianida, 4 konsorsium mampu menambat nitrogen, dan 4 konsorsium
mampu melarutkan fosfor.
Pada tanaman tomat konsorsium TmtN2 dan TmtN5 merupakan konsorsium
dengan potensi biokontrol terbaik. Dua formulasi bakteri tersebut diformulasi agar
mudah disimpan, diangkut dan diaplikasikan di lapangan. Formulasi dilakukan
dengan bahan pembawa kompos yang diperkaya dengan molase dan pepton. Hasil
formulasi menunjukkan setiap minggu terjadi penurunan populasi konsorsium
TmtN2 dan TmtN5. Meskipun terjadi penurunan populasi, kedua konsorsium
mampu bertahan sampai minggu ke-8. Formulasi dari kedua konsorsium tersebut
juga efektif mengendalikan M. incognita dan meningkatkan pertumbuhan tanaman
tomat. Tanaman tomat yang diberi perlakuan dengan formulasi TmtN2 memiliki
berat segar tanaman 43.17% lebih baik dibandingkan tanaman kontrol. Aplikasi
formulasi kedua konsorsium efektif menekan populasi NPA di tanah sebesar
40.38% (TmtN2) dan 53.64% (TmtN5). Penekanan populasi tersebut berpengaruh
pada tingkat kerusakan akar. Aplikasi formulasi TmtN2 dan TmtN5 secara
berurutan mampu menekan 42.16% dan 50.88% tingkat kerusakan akar tomat.
Penelitian ini memberikan informasi baru bahwa konsorsium bakteri endofit
asal akar berbagai macam tanaman berpotensi sebagai agens biokontrol M.
incognita. Seluruh konsorsium mampu menekan inokulum M. incognita sekaligus
meningkatkan pertumbuhan tanaman tomat. Formulasi konsorsium bakteri endofit
yang dihasilkan dari penelitian ini diharapkan mampu menjadi salah satu solusi
dalam pengendalian NPA yang ramah lingkungan
Deteksi dan Identifikasi Aphelenchoides besseyi Christie pada Lima Varietas Padi dengan Polymerase Chain Reaction (PCR)
Aphelenchoides besseyi Christie merupakan nematoda parasit tumbuhan penting pada padi dan menyebabkan kehilangan hasil hingga 54%. A. besseyi dapat bertahan selama delapan bulan hingga tiga tahun setelah panen dan dapat ditularkan melalui benih. Informasi mengenai nematoda A. besseyi di Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat infeksi nematoda A. besseyi pada benih padi dari lima varietas, yaitu Pak Tiwi 1, IR64, Ciherang, IPB 3S, dan SL 8 SHS dan mengidentifikasi A. besseyi secara morfologi dan molekuler dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Lima gram benih dari setiap varietas diekstraksi dengan menggunakan metode Baermann yang telah dimodifikasi. Identifikasi secara morfologi dilakukan dengan pengamatan preparat semipermanen nematoda dewasa. Identifikasi molekuler dengan PCR terdiri dari beberapa tahap, yaitu ekstraksi, amplifikasi, dan elektroforesis DNA. Amplifikasi DNA menggunakan pasangan primer spesifik untuk mengamplifikasi ITS 1 dan 2. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa A. besseyi didapatkan pada lima varietas dengan jumlah individu nematoda yang berbeda-beda. Jumlah nematoda tertinggi didapatkan pada varietas Pak Tiwi 1 dan jumlah terendah didapatkan pada IR64. A. besseyi memiliki ciri khas yang dapat dibedakan dengan nematoda lain, seperti mukro. Amplifikasi DNA nematoda menunjukkan hasil positif dengan ukuran fragmen DNA sekitar 830 bp. Hasil tersebut membuktikan bahwa nematoda yang didapatkan pada kelima varietas adalah A. besseyi
- …
