1,721,023 research outputs found
KAJIAN PSIKOLOGI PARA PEMAIN BAND SAKADATHU DALAM MUSIK CLUB MALAM DI LIQUID SEMARANG
Sakadathu merupakan salah satu band RnB populer yang sering menjadi homeband club malam di Semarang, salah satunya di Liquid Semarang. Musik keras, penonton rusuh, alkohol, pergaulan bebas sering terjadi dalam lingkungan club malam Liquid. Pengontrolan diri yang baik dibutuhkan para pemain band Sakadathu. Pengaruh dari lingkungan kalangan atas membuat gaya hidup salah satu pemain Sakadathu menjadi hedonis. Masalah penelitian ini adalah bagaimanakah psikologi para pemain band Sakadathu dalam musik club malam Liquid Semarang dilihat dari gaya hidup dan gaya bermusiknya. Tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan psikologi para pemain band Sakadathu.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan memaparkan hasil penelitian secara deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Teknik analisis penelitian ini terbagi dalam tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, menarik kesimpulan.
Sakadhatu terbentuk November 2011. Sakadathu pondasi, dalam mereka bermusik dan memilih nama yang unik menjadikan mereka lebih unggul dibandingkan dengan band pesaing mereka meskipun mereka sama-sama membawakan musik R&B sebagai aliran mereka bermusik. Sakadhatu beranggotakan Inu(drum), Pungky (bass), Adhi ( gitar), Vientan (keyboard), Dino, Girda, Helga (vokal). Konsep utama mereka sejak terbentuk adalah menjadi sebuah band longtrip yang solid, hingga saat ini Palu, Samarinda, dan Semarang, , Hard Rock Cafe Bali, menjadi motifasi mereka untuk terus berkembang dan menjadi band yang lebih baik. Psikologi pemain band Sakadathu dalam musik dunia malam dilihat dari gaya bermusik cukup fleksibel, tiap pemain mempunyai karakter diri dan karakter musik yang berbeda. Tetapi mereka saling melengkapi untuk menutupi kekurangan dalam diri masing-masing. Intigritas yang tinggi pada pekerjaannya dan memiliki sikap kesetiakawanan antar sesama anggota band. Dilain sisi Sakadathu terbilang kurang stabil dilihat dari gaya hidup. Lingkungan sehari-hari yang berinteraksi dengan kalangan atas dunia malam, hidupnya cederung menjadi boros dan hedonis.
Anggota band sakadhatu khususnya vokalis mengutamakan keselamatan dirinya dalam menghibur pengunjung dengan menjaga jarak aman dari jangkauan penunton saat penguasaaan panggung sehingga pengunjung tetap terhibur dan para personil khususnya vokalis tetap aman terkendali. Melihat fakta bahwasanya bekerja didunia musik tidak selamanya stabil,sebaiknya pemain band Sakadathu mulai membatasi pergaulan dengan kalangan yang kurang menguntungkan untuk diri sendiri. Sehingga dapat memberi sikap professional sebagai pekerja seni dan mendapat nama baik untuk diri sendiri dan orang lain. Serta Sakadathu akan mendapat penghasilan yang memuaskan tanpa adanya pengeluaran yang tidak penting
BENTUK MUSIK DAN FUNGSI KESENIAN JAMJANENG GRUP “SEKAR ARUM” DI DESA PANJER KABUPATEN KEBUMEN
Jamjaneng adalah jenis seni islam yang menggunakan iringan kendang, gong, kempul (ukel), kemeng, thuling (kenthung) dengan nyanyian lagu religi yang bernafaskan Islam. Istilah Jamjaneng berasal dari nama penciptanya yaitu Syech Jamjani. Kesenian jamjaneng biasa digunakan dalam acara hiburan dalam pernikahan, hiburan dalam khitanan, hiburan dalam acara slametan, sebagai pengisi disalah satu program kesenian di radio. Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mengetahui bagaimana bentuk musik kesenian jamjaneng grup “Sekar Arum” dalam mempertahankan eksistensinya di Desa Panjer Kelurahan Panjer Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen (2) Untuk mengetahui fungsi-fungsi apa saja yang ada dalam kesenian jamjaneng grup ”Sekar Arum” di Desa Panjer Kelurahan Panjer Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Dengan metode analisis keabsahan data. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa bentuk musik kesenian jamjaneng adalah homofonik dan poliritmik, artinya melodi yang dimainkan secara bersama-sama dan pola permainan ritmis yang berbeda. Kesenian jamjaneng menurut Sudarsono memiliki fungsi presentasi estetis, biasanya digunakan dalam acara Festival Jamjaneng Se-Kabupaten Kebumen, fungsi hiburan, biasanya digunakan dalam acara pernikahan, khitanan, dan slametan
PEMBELAJARAN SENI TARI DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL PADA SISWA KELAS VII D DI SMP NEGERI 1 MLONGGO
Pembelajaran Seni Tari Dengan Menggunakan Media Audio Visual Pada Siswa Kelas VII D Di SMP Negeri 1 Mlonggo merupakan pembelajaran seni budaya khususnya seni tari dalam memanfaatkan pentingnya penggunaan media pembelajaran sebagai faktor penunjang pembelajaran berjalan secara maksimal. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah proses pembelajaran seni tari dengan menggunakan media audio visual pada siswa kelas VII D di SMP Negeri 1 Mlonggo?. Tujuan dalam penelitian ini adalah: Menjelaskan proses pembelajaran seni tari dengan menggunakan media audio visual pada siswa kelas VII D di SMP Negeri 1 Mlonggo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan pedagogik. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi dan analisis data. Pada teknik analisis data peneliti menggunakan tiga alur kegiatan yang harus dilakukan yaitu: mereduksi data, menyajikan data, serta menarik kesimpulan dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa kelas VII D SMP Negeri 1 Mlonggo melaksanakan proses pembelajaran dengan 3 tahap yaitu: 1) Persiapan terdiri dari Silabus dan RPP, 2) Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar terdiri dari peserta didik, guru, tujuan pembelajaran, proses pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, kurikulum, bahan pembelajaran, dan ruang pembelajaran yang kondusif, 3) Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar dengan menggunakan media audio visual terdiri dari: pembukaan, inti, dan penutup. Pelaksanaan 3 tahap dalam proses belajar mengajar seni tari dengan media audio visual peserta didik mampu menguasai materi dengan lebih mudah. Saran terkait penelitian yang sudah dilakukan yaitu penggunaan media audio visual sebagai salah satu variasi guru dalam menyampaikan materi pelajaran ditanggapi dengan baik oleh para siswa dan memotivasi mereka untuk lebih menyukai pembelajaran seni tari sehingga rasa cinta terhadap kebudayaan daerah lebih meningkat
BENTUK MUSIK DAN FUNGSI KESENIAN JAMJANENG GRUP “SEKAR ARUM” DI DESA PANJER KABUPATEN KEBUMEN
Jamjaneng adalah jenis seni islam yang menggunakan iringan kendang, gong, kempul (ukel), kemeng, thuling (kenthung) dengan nyanyian lagu religi yang bernafaskan Islam. Istilah Jamjaneng berasal dari nama penciptanya yaitu Syech Jamjani. Kesenian jamjaneng biasa digunakan dalam acara hiburan dalam pernikahan, hiburan dalam khitanan, hiburan dalam acara slametan, sebagai pengisi disalah satu program kesenian di radio. Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mengetahui bagaimana bentuk musik kesenian jamjaneng grup “Sekar Arum” dalam mempertahankan eksistensinya di Desa Panjer Kelurahan Panjer Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen (2) Untuk mengetahui fungsi-fungsi apa saja yang ada dalam kesenian jamjaneng grup ”Sekar Arum” di Desa Panjer Kelurahan Panjer Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Dengan metode analisis keabsahan data. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa bentuk musik kesenian jamjaneng adalah homofonik dan poliritmik, artinya melodi yang dimainkan secara bersama-sama dan pola permainan ritmis yang berbeda. Kesenian jamjaneng menurut Sudarsono memiliki fungsi presentasi estetis, biasanya digunakan dalam acara Festival Jamjaneng Se-Kabupaten Kebumen, fungsi hiburan, biasanya digunakan dalam acara pernikahan, khitanan, dan slametan
KAJIAN PSIKOLOGI PARA PEMAIN BAND SAKADATHU DALAM MUSIK CLUB MALAM DI LIQUID SEMARANG
Sakadathu merupakan salah satu band RnB populer yang sering menjadi homeband club malam di Semarang, salah satunya di Liquid Semarang. Musik keras, penonton rusuh, alkohol, pergaulan bebas sering terjadi dalam lingkungan club malam Liquid. Pengontrolan diri yang baik dibutuhkan para pemain band Sakadathu. Pengaruh dari lingkungan kalangan atas membuat gaya hidup salah satu pemain Sakadathu menjadi hedonis. Masalah penelitian ini adalah bagaimanakah psikologi para pemain band Sakadathu dalam musik club malam Liquid Semarang dilihat dari gaya hidup dan gaya bermusiknya. Tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan psikologi para pemain band Sakadathu.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan memaparkan hasil penelitian secara deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Teknik analisis penelitian ini terbagi dalam tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, menarik kesimpulan.
Sakadhatu terbentuk November 2011. Sakadathu pondasi, dalam mereka bermusik dan memilih nama yang unik menjadikan mereka lebih unggul dibandingkan dengan band pesaing mereka meskipun mereka sama-sama membawakan musik R&B sebagai aliran mereka bermusik. Sakadhatu beranggotakan Inu(drum), Pungky (bass), Adhi ( gitar), Vientan (keyboard), Dino, Girda, Helga (vokal). Konsep utama mereka sejak terbentuk adalah menjadi sebuah band longtrip yang solid, hingga saat ini Palu, Samarinda, dan Semarang, , Hard Rock Cafe Bali, menjadi motifasi mereka untuk terus berkembang dan menjadi band yang lebih baik. Psikologi pemain band Sakadathu dalam musik dunia malam dilihat dari gaya bermusik cukup fleksibel, tiap pemain mempunyai karakter diri dan karakter musik yang berbeda. Tetapi mereka saling melengkapi untuk menutupi kekurangan dalam diri masing-masing. Intigritas yang tinggi pada pekerjaannya dan memiliki sikap kesetiakawanan antar sesama anggota band. Dilain sisi Sakadathu terbilang kurang stabil dilihat dari gaya hidup. Lingkungan sehari-hari yang berinteraksi dengan kalangan atas dunia malam, hidupnya cederung menjadi boros dan hedonis.
Anggota band sakadhatu khususnya vokalis mengutamakan keselamatan dirinya dalam menghibur pengunjung dengan menjaga jarak aman dari jangkauan penunton saat penguasaaan panggung sehingga pengunjung tetap terhibur dan para personil khususnya vokalis tetap aman terkendali. Melihat fakta bahwasanya bekerja didunia musik tidak selamanya stabil,sebaiknya pemain band Sakadathu mulai membatasi pergaulan dengan kalangan yang kurang menguntungkan untuk diri sendiri. Sehingga dapat memberi sikap professional sebagai pekerja seni dan mendapat nama baik untuk diri sendiri dan orang lain. Serta Sakadathu akan mendapat penghasilan yang memuaskan tanpa adanya pengeluaran yang tidak penting
ANALISIS KOMPOSISI MUSIK TERBANG JIDUR GRUP GAPURA SEJATI DESA JATIWETAN KECAMATAN JATI KABUPATEN KUDUS
Terbang Jidur adalah salah satu kesenian tradisional di Kabupaten Kudus yang masih eksis dan dilestarikan. Grup Gapura Sejati adalah salah satu kelompok yang masih melestarikan kesenian Terbang Jidur. Dalam permainannya kesenian Terbang Jidur tidak menambahkan alat musik modern dan secara turun-temurun hanya menggunakan alat instrument asli yaitu empat terbang dan satu jidur. Lagu yang dibawakan Grup Gapura sejati seluruhnya adalah lagu Islami, lagu yang sering dibawakan yaitu Lagu Sola dan Lagu Tanaqol. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana komposisi musik Terbang Jidur Grup Gapura Sejati di Desa Jatiwetan Kecamatan Jati Kabupaten Kudus. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan komposisi permainan Terbang Jidur.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang digunakan adalah lagu Sola dan lagu Tanaqol. Teknik pengumpulan data adalah dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data bertujuan menganalisa, menjelaskan, dan mendeskripsikan data dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto dan sebagainya.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Pola ritme ditemukan pada seluruh instrumen terbang Grup Gapura Sejati dan pola permainannya berbeda antara alat satu dengan yang lain namun terdengar harmonis. (2) Melodi yang digunakan dalam lagu Sola dan Tanaqol seluruhnya menggunakan melodi vokal, dalam arti ini tidak ada alat melodis yang digunakan Grup Gapura Sejati.(3) Lagu Sola termasuk lagu tiga bagian, A-B-C, yang terdiri atas A – B – B – C – C. Lagu Sola mempunyai urutan kalimat A(a,x), B (b,y), C (c,z). Lagu Tanaqol termasuk lagu empat bagian, A-B-C-D, yang terdiri atas A – B – B – C – C – D - D. Dalam lagu Tanaqol terdapat urutan kalimat A(a,x), B (b,y), B’ (b’,y’), C (c,z), C (c,z), C’(c’,z’), D (d,xx), D’ (d,xx). (4) Syair lagu Sola dan Tanaqol menggunakan bahasa arab dan bercerita tentang riwayat Nabi Muhammad SAW. Tempo yang dimainkan pada kedua lagu tersebut menggunakan tempo cepat, yang bertujuan sebagai tanda ajakan dakwah. (5) Dinamik kedua lagu dapat diketahui pada saat terjadi pengulangan, ditandai tempo yang bertambah cepat
PEMBELAJARAN SENI TARI DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL PADA SISWA KELAS VII D DI SMP NEGERI 1 MLONGGO
Pembelajaran Seni Tari Dengan Menggunakan Media Audio Visual Pada Siswa Kelas VII D Di SMP Negeri 1 Mlonggo merupakan pembelajaran seni budaya khususnya seni tari dalam memanfaatkan pentingnya penggunaan media pembelajaran sebagai faktor penunjang pembelajaran berjalan secara maksimal. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah proses pembelajaran seni tari dengan menggunakan media audio visual pada siswa kelas VII D di SMP Negeri 1 Mlonggo?. Tujuan dalam penelitian ini adalah: Menjelaskan proses pembelajaran seni tari dengan menggunakan media audio visual pada siswa kelas VII D di SMP Negeri 1 Mlonggo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan pedagogik. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi dan analisis data. Pada teknik analisis data peneliti menggunakan tiga alur kegiatan yang harus dilakukan yaitu: mereduksi data, menyajikan data, serta menarik kesimpulan dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa kelas VII D SMP Negeri 1 Mlonggo melaksanakan proses pembelajaran dengan 3 tahap yaitu: 1) Persiapan terdiri dari Silabus dan RPP, 2) Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar terdiri dari peserta didik, guru, tujuan pembelajaran, proses pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, kurikulum, bahan pembelajaran, dan ruang pembelajaran yang kondusif, 3) Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar dengan menggunakan media audio visual terdiri dari: pembukaan, inti, dan penutup. Pelaksanaan 3 tahap dalam proses belajar mengajar seni tari dengan media audio visual peserta didik mampu menguasai materi dengan lebih mudah. Saran terkait penelitian yang sudah dilakukan yaitu penggunaan media audio visual sebagai salah satu variasi guru dalam menyampaikan materi pelajaran ditanggapi dengan baik oleh para siswa dan memotivasi mereka untuk lebih menyukai pembelajaran seni tari sehingga rasa cinta terhadap kebudayaan daerah lebih meningkat
KARAWITAN PENDUKUNG KESENIAN BARONGAN RISANG GUNTUR SETO DI KABUPATEN BLORA
Musik pendukung dalam seni pertunjukan sangat diperlukan, baik itu gamelan ataupun musik tradisional lainnya, dan musik modern. Karena hal itu akan menambah kekuatan dan menciptakan suasana yang dimaksud dalam pementasan tersebut. Demikian pula dalam kesenian barongan, karawitan pengiring juga mampu membantu dan menambah daya ungkap dan kekuatan tersendiri. Akan tetapi musik iringan yang dimainkan oleh grup kesenian barongan berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Seperti grup Risang Guntur Seto, grup ini memiliki ciri khas dari temponya yang cepat dan terkesan energik, sehingga grup ini menjadi trendsetter bagi grup kesenian barongan di blora lainnya terutama dari segi pola iringan musiknya. Untuk mengetahui musik iringan/ karawitan pendukung barongan grup ini, rumusan masalah yang dapat dikaji dari penelitian ini adalah bagaimanakah karawitan pendukung kesenian barongan Risang Guntur Seto di Kabupaten Blora?
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan karawitanologi, menggunakan metode penelitian dekriptif kualitatif dengan objek penelitian adalah grup kesenian barongan Blora Risang Guntur Seto, dan desain penelitian studi kasus. Lokasi penelitian berada di Jalan Gunung Wilis Nomor 12A Kelurahan Kunden Kecamatan Blora Kabupaten Blora. Sasaran kajian dalam penelitian ini adalah karawitan pendukung kesenian barongan Risang Guntur Seto. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Inti dari musik iringan kesenian barongan Risang Guntur Seto adalah musik barongan bonang mo-nem laras slendro yang dimainkan dalam tempo yang cepat dan terus menerus kecuali pada saat iringan tembang dan lagu-lagu. Ketika musik ini dimainkan, penggerong dan sinden bersahutan memberikan alok. Lagu-lagu yang dibawakan menceritakan tentang sejarah barongan, liriknya berisi tentang keperkasaan dari barongan itu sendiri, dan musiknya mencerminkan ciri khas Kabupaten Blora. Sebagian besar gendhing nya berbentuk lancaran. Namun ada pula tembang macapat dan lagu populer anak-anak sebagai selingan.
Berdasarkan hasil penelitian di atas, saran bagi grup kesenian barongan Blora Risang Guntur Seto agar lebih mengkreasikan musik iringan seperti menambah jenis bentuk gendhing yang lain sehingga koleksi lagu pun bertambah. Serta mempertahankan kekompakan antar pemain
NILAI ESTETIS KESENIAN DANGSAK DI DESA WATULAWANG KECAMATAN PEJAGOAN KABUPATEN KEBUMEN
Kesenian Dangsak adalah kesenian rakyat yang berasal dari Desa Watulawang Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen. Kesenian Dangsak adalah tarian jogetan yang pemainnya menggunakan topeng/Cepet dan diiringi musik tradisional. Topeng terbuat dari kayu dibentuk sedemikian rupa menyerupai buto/raksasa dan mengenakan rambut panjang yang terbuat dari ijuk aren atau dalam bahasa Watulawang disebut Duk.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan estetis koreografis dan emik. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui dan mendiskripsikan nilai estetis Kesenian Dangsak di Desa Watulawang Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen melalui aspek bentuk, bobot/isi, dan penampilan. Pokok permasalahan dalam penelitian adalah bagaimana bentuk kesenian Dangsak, bagaimana penampilan dalam kesenian Dangsak dan bagaimana bobot atau isi yang terkandung dalam kesenian Dangsak. Lokasi penelitian berada di rumah bapak Dawintana selaku ketua Paguyuban Kesenian Dangsak Tri Tunggal. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teori Ad-Shead.
Hasil penelitian mengenai latar belakang kesenian Dangsak, bentuk pertunjukan kesenian Dangsak dan nilai estetis kesenian Dangsak. Nilai estetis yang terkandung dalam kesenian Dangsak terdiri dari tiga aspek yaitu aspek bentuk, bobot dan penampilan. Aspek bentuk meliputi gerak yang dinamis dan kuat, penggunaan topeng berkarakter buto sebagai ciri khas dari kesenian Dangsak, sedangkan tata busana menggunakan pakaian warna hitam yang memberi kesan seram dan mistis. Aspek bobot meliputi Susana yang ada dalam kesenian Dangsak yang mistis. Gagasan dapat terlihat dari ragam gerak yang ditarikan oleh penari kesenian Dangsak. Aspek penampilan meliputi bakat dan ketrampilan yang harus dimiliki setiap pemain kesenian Dangsak. Penampilan kesenian Dangsak dibagi menjadi lima babak yaitu babak gunungan, babak sembahan, babak kiprahan, babak janturan dan babak ndem-ndeman. Sarana yang mendukung kesenian dangsak diantaranya tata pentas, properti dan tata suar
KESENIAN GAMBANG KROMONG DI PERKAMPUNGAN BUDAYA BETAWI SETU BABAKAN JAKARTA SELATAN : KAJIAN SEJARAH DAN ENKULTURASI
Kota Jakarta yang menjadi kota metropolitan membuat lingkungannya menerima banyak budaya luar yang mempengaruhi peradabannya. Kebudayaan Betawi, termasuk kesenian tradisi di dalamnya, kini tersingkir mundur oleh kebudayaan-kebudayaan lain yang masuk ke Jakarta. Para generasi muda yang adalah mata rantai pelestarian, justru banyak yang melupakan dan tidak mengenal kesenian tradisinya, sehingga membuat pewarisan antar generasi tersebut nyaris terputus. Di tengah kondisinya yang terpojokkan, masih ada pihak-pihak yang peduli terhadap kelestarian kesenian tradisi Betawi. Dukungan masyarakat dan pemerintah daerah DKI Jakarta, membuat kesenian tradisi Betawi kini mampu sedikit bernapas lega. Rumusan masalah dari skripsi ini adalah bagaimana sejarah Gambang Kromong di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan dan bagimana proses enkulturasi kesenian tersebut di tengah masyarakatnya saat ini. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana sejarah dan proses pembudayaan kembali (enkuturasi) Gambang Kromong di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan.
Menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif, penelitian ini memperoleh data-datanya melalui teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi dokumen. Data yang diperoleh diperiksa keabsahannya melalui teknik triangulasi. Proses analisis data menggunakan model deskriptif kualitatif dimana data-data penelitian melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data/penarikan kesimpulan.
Hasil dari penelitian ini menemukan fakta bahwa kesenian Gambang Kromong di Setu Babakan sudah ada sejak sebelum ditetapkannya Perkampungan Budaya Betawi di wilayah tersebut, namun kesenian Gambang Kromong itu melalui keadaan naik turun hingga akhirnya bertahan dengan kondisinya yang ada pada saat ini. Berawal dari program pemerintah DKI Jakarta yang mengadakan pembinaan kesenian di lingkungan Setu Babakan yang menjadi wilayah Perkampungan Budaya Betawi, hingga akhirnya warga masyarakat berinisiatif mendirikan sebuah wadah kesenian berupa Sanggar Seni Betawi Setu Babakan melalui swadaya masyarakat. Sanggar Seni Betawi Setu Babakan berdiri sejak tahun 2002 dan terus berkembang hingga saat ini, mengadakan pelatihan kesenian-kesenian Betawi diantaranya, Gambang Kromong, Tari, Teater, Silat Beksi. Proses enkulturasi kesenian tradisi Gambang Kromong di wilayah Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan terjadi melalui proses nonformal yaitu sanggar, dan secara informal melalui keluarga dan lingkungan masyarakat. Proses enkulturasi melalui sanggar terjadi secara teratur dan terprogram dalam latihan rutin di Sanggar Seni Betawi Setu Babakan yaitu pada hari Jumat malam dan hari Minggu pagi. Peserta didik sanggar menerima pelajaran dari pendidik atau pelatihnya dengan melalui beberapa tahapan yaitu, proses perkenalan, proses melihat, meniru, serta proses pembinaan. Proses enkulturasi dalam keluarga dan lingkungan masyarakat terjadi melalui proses pelaziman terhadap anak (peserta didik). Proses enkulturasi dalam secara informal di dalam keluarga, terjadi karena para orang tua yang merupakan panjak (pemusik) Gambang Kromong, biasa mengajak anaknya saat latihan-latihan baik itu di sanggar maupun dirumah. Anak dari panjak yang ikut menyaksikan latihan menjadi terbiasa mendengar, melihat, dan bahkan mencoba bermain-main dengan alat Gambang Kromong, membuatnya menjadi suka musik Gambang Kromong dengan sendirinya, dan kemudian mempelajari musik ini dari orang tuanya
- …
