1,720,974 research outputs found
Efek Model Tumpangsari dan Pengaturan Barisan Jagung terhadap Evaluasi Keuntungan Hasil Jagung dan Kacang Nasi Kultivar Lokal Timor dalam Tumpangsari
The decrease of agricultural products is currently one of the challenges for agricultural researchers because of the increasingly narrow farmland and highly not used land areas. The land productivity and crop production with utilize joined crops in some areas of both seasonal and long life crops as a solution. Cultivation of rice been is intercrop between maize crops. The objective of this research is to know the effect of intercropping models and the arrangement of maize cropping on the results and to evaluate the benefits of Timor cultivars and beans in intercropping system. All treatments of the plot experiment were arranged in a Factorial Randomized Completely Block Design 3×2+monoculture with three replicates Treatment, the first factor is intercropping model consisting of three levels: interspace intercropping; and Salome intercropping (Timor model); Alternative intercropping and the second factor is the arrangement of maize cropping spacing: Single row; Double row. The parameters observed were the weight of the maize seed per plot (t/ha), the weight of the rice beans per plot (t/ha), total LER, total ATER, crop aggressivity, Plant Competition Ratio. The data collected were analyzed using Factorial Randomized Block Design Anova and then continued with Duncan test at level α 0,05 using SAS 9.01 program. The results showed that there was an interaction of dry weight of maize kernels per plot, total LER, total ATER, and the ratio of maize competition. Intercropping yields ≥1, which is advantageous in the intercropping model treatment as well as on the arrangement of crop rows. Menurunnya produksi hasil pertanian saat ini menjadi salah satu tantangan bagi peneliti-peneliti pertanian karena lahan pertanian semakin sempit serta tingginya luas lahan tidur. Salah satu cara tepat meningkatkan produksi lahan dan tanaman adalah dengan memanfaatkan ruang antara tanaman baik pada tanaman semusim maupun tanaman umur panjang. Salah satu ruang yang memungkinkan untuk membudidayakan tanaman kacang nasi adalah sela antar tanaman jagung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek model tumpangsari dan pengaturan barisan tanam jagung terhadap hasil dan evaluasi keuntungan hasil jagung dan kacang nasi kultivar lokal Timor dalam sistem tumpangsari. Perlakuan dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial 3×2+kontrol dan diulang 3 kali, faktor pertama adalah model tumpang sari yang terdiri dari tiga aras yaitu tumpangsari sela; dan tumpangsari Salome (model Timor ); tumpangsari gabungan dan faktor kedua adalah pengaturan barisan tanam jagung: Single Row; Doblerow. Parameter yang diamati adalah berat biji jagung per petak (t/ha), berat biji kacang nasi per petak (t/ha), total LER, total ATER, Agresivitas tanaman, Rasio Kompetisi tanaman. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan Analisis Anova Rancangan Acak Kelompok Faktorial kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf α 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi terhadap berat kering biji jagung per petak, total LER, total ATER, dan rasio kompetisi jagung. Tumpangsari memberikan hasil ≥1, yang berarti menguntungkan pada perlakuan model tumpangsari maupun pada pengaturan barisan tanaman
Pengaruh Bagian Organ dan Persentase Ekstrak Tanaman Kayu Putih (Melaleuca leucadendra L.) terhadap Perkecambahan Benih Jagung (Zea mays) dengan Metode Bioassay
Maize production has recently declined. This is as a result of shifting the utilization of productive lands into unproductive lands. Therefore, intercropping becomes one of alternative food production. The most potential land for growing food crops is the kayu putih based production forest. This study aims to determine the effect of organ parts and the percentage of kayu putih extracts on germination of maize seeds by bioassay method and determine the level of germination level resistance to allelopathy. The study was conducted in March-May 2015 in Bangun Tapan, Bantul, Yogyakarta. The design used in this research is Completely Randomized Design (CRD) Factorial. The first factor is the parts of the plant organ (E) used as the extract, consisting of 9 levels, namely: root 1 zone extract, 2 zone root extract, bark extract, fresh leaf extract, leaf litter extract, root 1 zone extract + bark extract + extract fresh leaf + litter extract, 2 zone root extract + bark extender + fresh leaf extract + litter extract, bark extract + fresh leaf extract + litter extract, fresh leaf extract + leaf litter extract and a second factor is an extract concentration of 6 levels i.e control, 20 % extract, 40 % extract, 60 % extract, 80 % extract, 100 % extract with 10 mL size. There are 54 treatment combinations each repeated 3 times so the total research unit is 162 trays. Variable observation in this research is counting seed vigor and stress tolerance index on seed vigor. Research results indicates that there is no interaction between part treatment and percentage of kayu putih extract to germination of maize seeds, all parts of fresh organs of kayu putih plants at various concentrations are able to inhibit the growth and development of sprouts and put the maize sprouts at moderate level until susceptible in grouping stress tolerans index.Produksi tanaman jagung akhir-akhir ini terus mengalami penurunan. Hal ini sebagai akibat dari pergeseran pemanfaatan lahan-lahan produktif menjadi lahan tidak produktif. Oleh karena itu, tumpangsari menjadi salah satu alternatif produksi bahan pangan. Lahan yang paling berpotensi untuk menanam tanaman pangan adalah hutan produksi berbasis kayu putih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bagian organ dan persentase ekstrak tanaman kayu putih terhadap perkecambahan benih jagung dengan metode bioassay serta menentukan tingkat ketahanan kecambah terhadap alelopati. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2015 di Bangun Tapan, Bantul Yogyakarta. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Faktor pertama adalah bagian organ tanaman (E) yang digunakan sebagai ekstrak, terdiri dari 9 aras yaitu ekstrak akar zona 1, ekstrak akar zona 2, ekstrak kulit batang, ekstrak daun segar, ekstrak serasah daun, ekstrak akar zona 1 + ekstrak kulit batang + ekstrak daun segar + ekstrak serasah, ekstrak akar zona 2 + ekstrak kulit batang + ekstrak daun segar + ekstrak serasah, ekstrak kulit batang + ekstrak daun segar + ekstrak serasah, ekstrak daun segar + ekstrak serasah daun dan faktor kedua adalah konsentrasi ekstrak yang terdiri dari 6 level yaitu kontrol, ekstrak 20%, ekstrak 40%, ekstrak 60%, ekstrak 80%, ekstrak 100% dengan ukuran 10 mL. Terdapat 54 kombinasi perlakuan masing-masing diulang 3 kali sehingga total unit penelitian adalah 162 nampan. Variabel pengamatan dalam penelitian ini adalah menghitung vigor benih dan stress tolerance index pada vigor benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara perlakuan bagian organ tanaman dan persentase ekstrak kayu putih terhadap perkecambahan benih jagung, seluruh bagian organ segar tanaman kayu putih pada berbagai konsentrasi mampu menghambat pertumbuhan dan perkembangan kecambah dan menempatkan kecambah jagung pada level moderat sampai rentan dalam pengelompokan stress tolerance index
Pengaruh Jarak Tanam dan Takaran Pupuk Kandang Babi terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kacang Tanah (Arachis Hypogaea L.)
Peanut is one of the legume plants that play an important role for food needs, but it has a high economic value so much that makes peanuts in addition to food as well as industrial materials. This study aims to determine the effect of plant spacing and pig manure dosage on the growth and yield of peanut plants (Arachis hypogaea L.). This research was conducted in December 2016 - March 2017 in experimental farm of Agricultural Faculty of Timor University, using Randomized Block 3 Factor 3 × 3 repeated. The first factor is spacing with three stages: Planting spacing 40 cm × 20 cm, spacing 40cm × 30 cm, and spacing 40 cm × 40 cm; the second factor is the dosage of pig manure with three levels namely: 0 t / ha, 5 t / ha, 10 t / ha. The results showed no interaction between the treatment of pig manure dosage with the treatment of plant spacing on all parameters of observation except on the root length parameter. Provision of pig manure with a dose of 10 t / ha yielded the heaviest dry weight per hectare (1.72 t / ha.) And significantly different from the control. Planting spacing of 40 cm × 40 cm yields the number of plant pods (20.37 pods), dry seeds per heaviest plant (60.97 g), and 100 heaviest seeds (40.93 g.). Keywords: Planting Spacing, Pig Manure, Arachis hypogaea L.Kacang tanah merupakan salah satu tanaman leguminose yang sangat berperan penting bagi kebutuhan pangan, tetapi memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga banyak yang menjadikan kacang tanah selain bahan pangan juga sebagai bahan baku industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan takaran pupuk kandang babi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.). Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Desember 2016 - Maret 2017 di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Timor, dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial 3 × 3 diulang 3 kali. Faktor pertama adalah jarak tanam dengan tiga taraf yaitu: Jarak tanam 40 cm × 20 cm, Jarak tanam 40cm × 30 cm, dan Jarak tanam 40 cm × 40 cm; faktor kedua adalah dosis pupuk kandang babi dengan tiga taraf yaitu: 0 t/ha, 5 t/ha, 10 t/ha. Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara perlakuan takaran pupuk kandang babi dengan perlakuan jarak tanam terhadap semua parameter pengamatan kecuali pada parameter panjang akar. Pemberian pupuk kandang babi dengan takaran 10 t/ha menghasilkan biji kering per hektar terberat (1,72 t/ha.) dan berbeda nyata dengan kontrol. Pengaturan jarak tanam 40 cm × 40 cm menghasilkan jumlah polong pertanaman (20,37 polong), biji kering per tanaman terberat (60,97 g), dan 100 biji terberat (40,93 g)
Pengaruh Jenis Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Kultivar Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) di Lahan Kering
This research is to find out Effects Species Organic Fertilizers for growth and yield of few cultivar sweet potato (Ipomoea batatas, L.) on the arid land. The research was conducted in September 2020-December 2020 in the Faculty of Agriculture experimental garden, University of Timor, at Sasi Village, Kefamenanu, Timor Tengah Utara (TTU), using 2 factorial Stripe Plot Design (RPD). The first factor is the type of species organic fertilizers be composed of three stage namely: Control= without organic fertilizers, cow manure, goat manure. The second factor is cultivar sweet potato be composed of two level namely: red color sweet potato and purple color sweet potato. Comprise six combination treatment, was repeated 3 times so there are 18 units of research.The results research showed that there was interaction between the tipes of fertilizers treatment and sweet potato cultivar on the observed parameters of soil moisture content 80 HST, soil volume weight 40 HST, net assimilation rate, plant growth rate and harvest index.The application of types of fertilizer and cultivar of sweet potato, tipe of organic fertilizer of goat manure 64 g or equal with 10 t/ha produced the heaviest sweet potato tubers is 4,84 t/ha and cultivar sweet potato red color produced sweet potato tubers heaviest 3,49 t/ha.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk organik terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa kultivar ubi jalar (Ipomoea batatas L.) di lahan kering. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan September-Desember 2020 di Kebun Fakultas Pertanian Universitas Timor, Kelurahan Sasi Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan menggunakan rancangan Petak Berjalur (Stripe Plot Design) 2 faktorial. Faktor pertama adalah jenis pupuk organik yang terdiri dari 3 taraf yaitu: tanpa pupuk organik, pupuk kandang sapi dan pupuk kandang kambing. Faktor kedua adalah kultivar ubi jalar yang terdiri dari 2 taraf yaitu ubi jalar warna merah dan ubi jalar warna ungu. Terdapat enam kombinasi perlakuan, diulang sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 18 unit penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara perlakuan pemberian jenis pupuk dan kultivar ubi jalar terhadap parameter pengamatan kadar lengas tanah 80 HST, berat volume tanah 40 HST, laju asimilasi bersih, laju pertumbuhan tanaman dan indeks panen. Pemberian jenis pupuk dan kultivar ubi jalar, jenis pupuk organik kotoran kambing 64 g atau setara dengan 10 t/ha dapat menghasilkan umbi ubi jalar terberat yaitu 4,84 t/ha dan kultivar ubi jalar warna merah menghasilkan berat umbi ubi jalar terberat yaitu 3,49 t/ha
Pengaruh Model Tumpangsari dan Pengaturan Jarak Tanam Kacang Nasi (Vigna angularis L.) Kultivar Lokal terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung (Zea mays L.)
Maize and bean crops are two types of plants suitable for intercropping. The objective of this research is 1) growth and yield of maize in intercropping cropping pattern; 2) the best intercropping models in improving the growth and yield of maize; and 3) good plant spacing arrangement in cropping pattern of intercropping of maize and rice beans. The experiment was conducted in experimental garden of Fakultas Pertanian, Universitas Timor from December 2016 until March 2017. All treatments of the plot experiment were arranged in a Factorial Randomized Completely Block Design (RAK) 3 × 2 + monoculture with three replicates Treatment, the first factor is intercropping models consisting of three levels: interspace intercropping; and Salome intercropping; Alternative intercropping and the second factor is the arrangement of maize cropping spacing: Single row; Double row. The results showed the interaction between intercropping model and plant spacing arrangement to observation parameter of dry seed weight per plot, dry weight of seed per hectare. Maize crops intercropped with rice beans in the treatment of intercropping model of Salome with arrangement spacing double row resulted in the highest dry weight of seeds per plot of 269.31 g and 0.89 t / ha.Tanaman jagung dan kacang nasi adalah dua jenis tanaman yang cocok diterapkan pada pola tumpangsari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) pertumbuhan dan hasil jagung dalam pola tanam tumpangsari; 2) model tumpangsari terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung; dan 3) pengaturan jarak tanam yang baik dalam pola tanam tumpangsari jagung dan kacang nasi. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Timor, pada bulan Desember 2016 sampai Maret 2017, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah model tumpangsari yang terdiri dari tiga aras yaitu tumpangsari standar nasional (sistem sela), tumpangsari salome (model timor) dan gabungan. Faktor kedua adalah pengaturan Jarak tanam yang terdiri dari dua aras yaitu single row dan doble row. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara model tumpangsari dan pengaturan jarak tanam terhadap parameter pengamatan berat kering biji per petak, berat kering biji per hektar. Tanaman jagung yang ditumpangsarikan dengan kacang nasi pada perlakuan model tumpangsari salome dengan pengaturan jarak tanam doble row menghasilkan berat kering biji per petak paling tinggi yaitu sebesar 269,31 g dan 0,89 t/ha
Pendugaan Analisis Kemanfaatan Tumpangsari Kacang Nasi (Vigna angularis L.) dan Jagung (Zea mays L.) dalam Sistem Olah Lubang diperkaya Biochar dan Kompos
The Salome intercropping is planting two or more crops at the same time in the same planting hole. The utilization analysis of the intercropping of red mung bean (V. angularis L.) with maize (Z. Mays L.) on biochar and compost-enriched hole tillage method was performed at the Universitas Timor Faculty of Agriculture demo-plot in May 2018. The design of the salome intercropping analysis used a two-factor randomized network design (RBD). The first factor is that the biochar type consists of 3 levels, i.e. biochar rice husk (B1), sawdust biochar (B2), biochar siam weed (B3). The second element is compost (K), which consists of two stages, respectively compost-free (K0), and compost-free (K0) (K1). The variance results (ANOVA) showed that there was no interaction between the treatment factors, but there were interactions between the maize and the red mung bean in the aggressiveness parameter (A). Compared with other treatments, the Land Equivalent Ratio (LER) and Area Time Equivalent Ratio (ATER) parameters have the highest values (10,34 and 6,40) for non-biochar compost combination treatment (B0K1).Tumpang sari salome adalah penanaman dua atau lebih jenis tanaman pada waktu bersamaan di lubang tanam yang sama. Analisis kemanfaatan tumpangsari kacang nasi (Vigna angularis L.) dan jagung (Zea mays L.) dalam sistem olah lubang diperkaya biochar dan kompos telah dilaksanakan pada bulan Mei 2018 di kebun percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Timor. Rancangan penelitian tumpang sari salome yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama yakni jenis biochar terdiri dari 3 level yakni biochar sekam padi (B1), biochar serbuk gergaji (B2), biochar kirinyuh (B3). Faktor kedua yakni takaran kompos (K) terdiri dari 2 level yaitu tanpa kompos (K0), kompos (K1). Hasil sidik ragam (ANOVA) menunjukan bahwa tidak terjadi interaksi antar faktor perlakuan, namun pada parameter agresivity (A) tanaman jagung dan kacang terjadi interaksi. Parameter Land Equivalent Ratio (LER) dan Area Time Equivalend Ratio (ATER) memberikan nilai yang lebih tinggi (10,34 dan 6,40) pada kombinasi perlakuan kompos dengan tanpa biochar (B0K1) dibandingkan dengan perlakuan lainnya
Pengaruh Jenis Teh Kompos dan Mulsa Organik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kacang Mungo (Vigna mungo (L.) Hepper) Var. Lokal Timor
These mungo beans come from India and have been cultivated since ancient times and are one of the most valuable beans in India and Pakistan. Mungo beans in East Nusa Tenggara, especially in South Central Timor District, subdistrict Amanatun Utara known as 'fue metan'. Along with the development era of production fue metan decreased even almost extinct because only a handful of farmers who still maintain save by continuing to cultivate this type of beans. This study aims to determine the effect of compost tea and mulch type on growth and yield of mungo been plant. The design used in this research is Factorial Randomized Block Design, 4 × 3 and repeated 3 times. The first factor is compost tea consisting of four levels namely: without compost tea, compost tea leaf kerinyu, compost tea leaves Gamal, compost tea leaves kerinyu + leaf Gamal and the second factor is the type of organic mulch consists of three levels of control, the organic mulch of grass, mulch organic from sawdust. The results showed that compost tea was able to increase the harvest index by 26-37% from control. Giving mulch on soil increases moisture level indicates better soil binding power so as to increase the weight of crop seeds. Kacang mungo ini berasal dari India dan telah dibudidaya dari zaman kuno serta merupakan salah satu kacang yang sangat berharga di India dan Pakistan. Kacang mungo di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kecamatan Amanatun Utara dikenal dengan nama ‘fue metan’. Seiring dengan perkembangan zaman hasil produksi fue metan semakin menurun bahkan hampir punah karena hanya segelintir petani yang masih menjaga, menyelamatkan dengan terus membudidayakan jenis kacang ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis teh kompos dan jenis mulsa terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang mungo. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok faktorial 4 × 3 dan diulang 3 kali. Faktor pertama adalah jenis teh kompos terdiri dari empat aras yaitu kontrol, teh kompos daun kerinyu, teh kompos daun gamal, teh kompos daun kerinyu + daun gamal dan faktor kedua adalah jenis mulsa organik terdiri dati tiga aras yaitu kontrol, mulsa organik dari rumput, mulsa organik dari serbuk gergaji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian teh kompos mampu meningkatkan indeks panen sebesar 26-37% dari kontrol. Pemberian mulsa pada tanah meningkatkan kadar lengas tanah mengindikasikan daya ikat air tanah lebih baik sehingga mampu meningkatkan berat biji per tanaman. 
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA LETMAFO TIMUR MELALUI PEMBUATAN BRIKET BERBAHAN FESES TERNAK DAN BATOK LONTAR UNTUK MENDONGKRAK PEREKONOMIAN LOKAL
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat Desa Letmafo Timur, Kecamatan Insana Tengah, Kabupaten Timor Tengah Utara, melalui pelatihan pembuatan briket berbahan feses ternak dan batok lontar sebagai upaya meningkatkan perekonomian lokal dan mengurangi pencemaran lingkungan. Desa Letmafo Timur memiliki potensi sumber daya berupa limbah feses ternak dari aktivitas peternakan dan batok lontar yang melimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi tiga tahapan utama, yaitu (1) tahap persiapan yang mencakup koordinasi dengan pemerintah desa, survei bahan baku, dan persiapan alat serta modul pelatihan; (2) tahap pemberian materi tentang energi alternatif, pengelolaan limbah, serta manfaat ekonomi pembuatan briket; dan (3) tahap pelatihan praktik langsung pembuatan briket berbahan feses ternak dan batok lontar menggunakan teknologi sederhana. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa masyarakat sangat antusias dan aktif mengikuti seluruh rangkaian pelatihan. Peserta berhasil memahami proses pembuatan briket, mulai dari pengeringan bahan, karbonisasi batok lontar, pencampuran, pencetakan, hingga pengeringan produk akhir. Briket yang dihasilkan memiliki kualitas cukup baik dengan daya nyala yang lama dan minim asap. Kegiatan ini juga meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan limbah serta menumbuhkan jiwa kewirausahaan berbasis potensi lokal
Karakterisasi Morfologi dan Komponen Hasil Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) Asal Pulau Timor
Cayenne pepper is one of the germplasm from the island of Timor known as un makaos, un lili, un fua melu or una. Timor cayenne has a unique form that is small in size ranging from 0.5-2 cm in length and a very spicy taste. Small in size between 0.5-2 cm long and very spicy taste. The purpose of this study was to identify the morphological characters and components of the results of cayenne pepper un makaos. The research method is based on the framework of the provisions of UPOV (International Union for the Protection of New Varieties of Plants) and the standards set by IPGRI (International Plant Genetic Resources Institute). The results showed that the characterization of the morphology of cayenne in the island of Timor was identified as having plant habitus with compact branching, cylindrical stem shape, shortening of more than three segments and having green stems. The chili leaves are ovate and green with flat leaf edges and tapered leaf tips. It has a white flower crown with anther blue flowers and an upright flower position on the cayenne tree. Green fruit color before ripe and red when cooking. Has a hornshaped fruit shape (horn shaped) with a blunt fruit tip and has the form of calix enveloping (wrapping). The character of the yield component has a measured average value of 9,47-15,08 g of fruit plant, the average number of fruit plants is 0,73-0,82 g, cayenne has a fruit length of 0,73-0,82 cm and fruit has a diameter of 0,36-0,38 cm.Cabai rawit merupakan salah satu plasma nutfah asal pulau Timor dikenal dengan sebutan un makaos, un lili, un fua melu atau un ana. Cabai rawit Timor memiliki kekhasan bentuk yakni berukuran kecil dengan panjang berkisar 0,5-2 cm dan rasa yang sangat pedas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi karakter morfologi dan komponen hasil un makaos. Metode penelitian dilakukan berdasarkan kerangka ketentuan UPOV (International Union for The Protection of New Varieties of Plants) dan standar yang ditetapkan oleh IPGRI (International Plant Genetic Resources Institute). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakterisasi morfologi cabai rawit pulau Timor teridentifikasi memiliki habitus tanaman dengan percabangan yang kompak, bentuk batang silindris, pemendekan ruas lebih dari tiga dan memiliki batang berwarna hijau. Daun cabai berbentuk ovate (bentuk bulat telur, bagian terlebar dekat pangkal daun) dan berwarna hijau dengan tepi daun rata dan ujung daun meruncing. Mahkota bunga berwana putih dengan anter bunga berwarna biru serta kedudukan bunga tegak pada pohon cabai rawit. Warna buah hijau pada saat sebelum matang dan berwarna merah pada saat masak. Memiliki bentuk buah hornshaped (berbentuk tanduk) dengan ujung buah yang tumpul serta memiliki bentuk kaliks enveloping (membungkus). Karakter komponen hasil diantaranya bobot buah per tanaman memiliki nilai rata-rata sebesar 9,47-15,08 g, rata-rata jumlah buah per tanaman sebanyak 125,67-169,67 buah, cabai rawit memiliki panjang buah 0,73-0,82 cm dan buah memiliki diameter 0,36-0,38 cm
EFFECTS OF GOAT FECES COMPOST RESIDUE AND SHALLOT ZPT ON THE GROWTH OF SHALLOT (Allium Fistulosum L.)
This study aims to determine the effect of goat feces compost residue and plant growth regulators (PGR) on the growth and yield of spring onions (Allium fistulosum L.) in dry land. The study was conducted in February-April 2023 at the Dry Land Study Center, Timor University and the Laboratory of the Faculty of Agriculture, Timor University, North Central Timor Regency, East Nusa Tenggara. The study used a factorial randomized block design with two factors: first, residues of various doses of goat feces compost (control, 20 tons/ha, 30 tons/ha, 40 tons/ha), and second, shallot PGR with three concentrations (100 ml/L, 200 ml/L, 300 ml/L). The parameters observed included environmental conditions, growth, and plant yield. The results showed an interaction between goat feces compost residue and PGR on the number of leaves two weeks after planting and plant weight per plot. The application of goat feces compost fertilizer with a higher dose (20-40 tons/ha) increased plant growth, including the number of leaves, root length, root volume, and harvest index. Meanwhile, the application of shallot PGR significantly affected the harvest index, although it did not significantly affect other parameters. The right dose and concentration of both treatments can increase the yield of spring onions. This study shows that the right combination of goat feces compost fertilizer and PGR can increase plant yields, especially in dry land conditions
- …
