3 research outputs found
Evaluasi Perkuatan Tanah Eksisting dan Perencanaan Alternatifnya pada Timbunan Jalur Ganda Kereta Api Mojokerto – Sepanjang (Studi Kasus: KM. 48+350 s.d 48+850)
Proyek pembangunan jalur ganda lintas selatan yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) adalah salah satu bentuk upaya pemerintah untuk meningkatkan kapasitas transportasi kereta api di Pulau Jawa. Pada section Mojokerto – Sepanjang pekerjaan paket delapan (8) atau tepatnya pada ruas KM. 48+350 s.d KM. 48+850, digunakan perkuatan tanah untuk meningkatkan daya dukung tanah dasar. Perkuatan tanah yang digunakan pada ruas tersebut adalah penggalian tanah dasar sedalam 1 meter, pancang rel tipe R33 sedalam 5 meter dengan jarak 1 meter, timbunan tanah berbutir dibungkus geotekstil, dan timbunan tanah pilihan. Perkuatan tanah tersebut digunakan secara tipikal dan dilakukan tanpa perbaikan tanah terlebih dahulu sepanjang ruas KM. 48+350 s.d KM. 48+850. Kondisi tersebut perlu dievaluasi untuk mengetahui bagaimana keamanan tanah dasar terhadap pemampatan, stabilitas timbunan, dan efisiensi biaya material yang digunakan. Sekaligus direncanakan bagaimana perkuatan tanah alternatif yang memenuhi tiga kriteria tersebut. Berdasarkan hasil analisis data tanah, tanah dasar pada KM 48+350 s.d 48+850 didominasi oleh tanah kohesif berkonsistensi sangat lunak hingga sedang dengan kedalaman 5,8 – 9,2 meter. Kondisi tersebut membuat timbunan tidak aman terhadap pemampatan tanah dasar yang terjadi, karena rate of settlement¬-nya melebihi batas izin yang telah ditentukan ( 1,5, hanya saja terdapat zona yang memiliki nilai SF cukup besar, sehingga dinilai kurang efisien. Total biaya material untuk perkuatan tanah eksisting adalah sebesar Rp14.471.814,88. Mengingat tanah dasar KM 48+350 s.d 48+850 merupakan tanah lunak dan memiliki rate of settlement yang melebihi batas izin, maka perlu dilakukan perbaikan tanah untuk mempercepat waktu pemampatan sekaligus meningkatkan daya dukungnya. Perbaikan tanah dilakukan menggunakan Prefabricated Vertical Drain (PVD) pola persegi jarak 0,8 meter dengan kedalaman 9 meter. Dibutuhkan waktu 10 minggu untuk mencapai derajat konsolidasi 90%. Disisi lain, direncanakan pula perkuatan tanah alternatif untuk meningkatkan daya dukung tanah dasar terhadap beban timbunan awal pada setiap zona. Perkuatan tanah alternatif yang dipilih adalah perkuatan menggunakan geotekstil tipe UW-10HL (T¬ult = 100 kN/m) dengan jumlah lapisan dan panjang yang berbeda-beda berdasarkan masing-masing zona. Perkuatan tanah menggunakan geotekstil dipilih karena lebih efisien dalam aspek biaya material dibandingkan dengan perkuatan menggunakan mini pile beton precast 20x20 cm, dengan selisih mencapai 58,91%. Total biaya material yang dibutuhkan untuk perbaikan tanah dasar dan perkuatan menggunakan geotekstil adalah sebesar Rp8.360.959.482. Nilai tersebut efisien sebesar 42,22% atau sebesar Rp6.110.065.333 jika dibandingkan dengan total biaya material perkuatan tanah eksisting. Sehingga perbaikan dan perkuatan tanah tersebut dapat diusulkan sebagai alternatif untuk perkuatan tanah eksisting pada Proyek Pembangunan Jalur Ganda Kereta Api Mojokerto – Sepanjang KM. 48+350 s.d 48+850.
==================================================================================================================================
The dual-track South Crossline construction project, a National Strategic Project (PSN), is one of the government's efforts to enhance railway transportation capacity on the island of Java. In the Mojokerto – Sepanjang section, specifically in the eighth (8th) work package or precisely in the stretch from KM. 48+350 to KM. 48+850, soil reinforcement is employed to improve the bearing capacity of the subgrade. The soil reinforcement used in this stretch involves excavating the subgrade to a depth of 1 meter, installing R33-type rail piles to a depth of 5 meters with a 1-meter spacing, using geotextile-wrapped granular soil fill, and selecting specific soil fill. The soil reinforcement is applied uniformly and is carried out without prior soil improvement along the stretch from KM. 48+350 to KM. 48+850. This condition needs evaluation to determine the subgrade's stability against compression, embankment stability, and the cost efficiency of the materials used. Simultaneously, plans are made for alternative soil reinforcements that meet these three criteria. Based on soil data analysis, the subgrade from KM 48+350 to 48+850 predominantly comprises very soft to medium consistency cohesive soil with a depth of 5.8 – 9.2 meters. This condition renders the embankment unsafe against subgrade compression, as its settlement rate exceeds the specified limit (< 2 cm/year) for more than the first 4 years of the construction process. Meanwhile, in terms of stability of embankments for reinforcing existing soil, embankments in Zones 6, 9, and 10 are deemed unsafe and unstable as they possess a Safety Factor (SF) value of less than 1.5. Conversely, embankments in other zones are considered safe and stable due to SF values exceeding 1.5. However, there are zones with sufficiently high SF values, which are considered less efficient. The total material cost for the existing soil reinforcement is IDR14,471,814,88. Considering that the subgrade from KM 48+350 to 48+850 is soft and has a settlement rate exceeding the limit, soil improvement is necessary to expedite the consolidation time and enhance its bearing capacity. Soil improvement is conducted using a Prefabricated Vertical Drain (PVD) with a square pattern at 0.8-meter intervals and a depth of 9 meters. It takes 10 weeks to achieve 90% consolidation. On the other hand, alternative soil reinforcement is planned to enhance the subgrade's bearing capacity against the initial embankment load in each zone. The chosen alternative soil reinforcement involves using geotextile types UW-10HL (Tult = 100 kN/m) with varying layers and lengths based on each zone. Geotextile soil reinforcement is chosen for its cost efficiency compared to reinforcement using precast concrete mini piles of 20x20 cm, with a cost difference of up to 58,91%. The total material cost required for subgrade improvement and geotextile reinforcement is IDR8,360,959,482. This amount is efficient by 42,22%, or IDR6,110,065,333. when compared to the total material cost of existing soil reinforcement. Therefore, the soil improvement and reinforcement can be proposed as an alternative to the existing soil reinforcement in the Mojokerto – Sepanjang Dual-Track Railway Project from KM. 48+350 to 48+850
Proyek Pembangunan Jalur Ganda Jalan KA Lintas Selatan Jawa Km. 43+800 S/D 49+500 antara Mojokerto – Sepanjang Lintas Surabaya – Solo (Paket: Jgms-8)
Pembangunan jalur ganda lintas selatan merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang bertujuan untuk meningkatkan kapasistas transportasi kereta api. Salah satunya adalah proyek pembangunan jalur ganda KM 43+800 s.d KM. 49+500 antara Mojokerto – Sepanjang. Proyek ini memiliki nilai Rp146.161.697.000 dan waktu pelaksanaan selama 28 bulan, yang dikerjakan oleh PT. Wijaya Karya dan PT. Nazma Tata Laksana. Detail lingkup pekerjaan pada proyek ini meliputi pembangunan railway track sepanjang 5,7 km, pembangunan struktur bawah stasiun Tarik dan pembangunan jembatan kereta api dengan bentang 250 m. Proyek ini merupakan salah satu proyek yang menarik, dikarenakan memiliki lingkup pekerjaan yang luas dan melibatkan keahlian setiap bidang dalam teknik sipil. Kerja praktik berlangsung selama 2 bulan, yang dimulai pada Bulan Desember 2022 sampai dengan Bulan Februari 2023. Berdasarkan kurva S rencana proyek, pada saat kerja praktik dimulai seharusnya progres proyek sudah mencapai 76,5%, sedangkan di akhir kerja praktik, proyek pembangunan telah mencapai progres sebesar 82,8%. Sedangkan untuk capaian progres aktual, proyek ini mengalami keterlambatan daripada sebagaimana mestinya, yakni pekerjaan struktur bawah jembatan, pekerjaan jembatan bentang kedua dan pekerjaan perkuatan tanah. Pekerjaan-pekerjaan itulah yang menjadi bahan pengamatan selama kerja praktik. Hasil diskusi dengan pihak kontraktor menyimpulkan bahwa hal tersebut disebabkan oleh debit aliran sungai yang besar dengan durasi yang tidak menentu, sehingga mengganggu pelaksanaan pekerjaan elemen struktur jembatan. Selama kerja praktik, pihak PT. WIKA – NTL KSO memberikan arahan untuk selalu mengikuti dan mengamati pekerjaan yang ada di lapangan serta memberikan beberapa penugasan terkait masalah-masalah yang terjadi di lapangan. Salah satu penugasan yang diberikan adalah analisis kekuatan elemen struktur yang ada di sungai terhadap debit aliran sungai. Penugasan tersebut diberikan karena adanya kemungkinan banjir pada sungai dan berisiko merusak elemen struktur yang ada. Didapatkan hasil analisis bahwa beberapa elemen struktur seperti jembatan akses dan borepile kuat terhadap debit aliran sungai, serta untuk steel sheet pile perlu dilakukan perkuatan dengan menggunakan baja profil WF. Selain itu, kerja praktik juga menjadi wadah untuk menerapkan teori-teori yang didapat di kelas pada kasus nyata di lapangan.
===========================================================================================================================
The construction of the double-track southern cross line is one of the National Strategic Projects (PSN) aimed at improving railway transportation capacity. One of them is the double-track construction project from KM 43+800 to KM 49+500 between Mojokerto - Sepanjang. This project has a value of Rp146,161,697,000 and a duration of 28 months, carried out by PT. Wijaya Karya and PT. Nazma Tata Laksana. The scope of work for this project includes the construction of a 5.7 km railway track, the construction of the substructure of Tarik station, and the construction of a 250 m railway bridge. This project is considered interesting as it involves a wide range of civil engineering expertise. The internship program lasts for 2 months, starting from December 2022 to February 2023. Based on the project's planned S-curve, the project progress should have reached 76.5% at the start of the internship, while by the end of the internship, the construction project has achieved a progress of 82.8%. However, the actual progress of the project has experienced delays in certain aspects, namely the substructure works of the bridge, the construction of the second span bridge, and the soil reinforcement works. These works were observed during the internship program. Discussions with the contractor concluded that these delays were caused by the large and unpredictable flow of the river, which disrupted the implementation of the bridge structure works. Throughout the internship, PT. WIKA - NTL KSO provided guidance to always observe and monitor the ongoing works in the field and assigned several tasks related to issues encountered in the field. One of the assigned tasks was the analysis of the strength of structural elements in the river against the flow rate. This assignment was given due to the possibility of river flooding, which posed a risk of damaging the existing structural elements. The analysis revealed that certain structural elements such as access bridges and strong borepiles were able to withstand the river flow, while steel sheet piles required reinforcement using WF profile steel. Additionally, the internship program served as a platform to apply theoretical knowledge gained in the classroom to real-life situations in the field
Evaluasi dan Perencanaan Perbaikan Tanah Dasar Timbunan Jalan Kereta Api Mojokerto-Sepanjang KM. 48+800 s.d 48+850 dengan Prefabricated Vertical Drain (PVD)
— Proyek pembangunan jalur ganda lintas selatan yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) adalah salah satu bentuk upaya pemerintah untuk meningkatkan kapasitas transportasi kereta api di Pulau Jawa. Pada section Mojokerto – Sepanjang pekerjaan paket delapan (8) atau tepatnya pada ruas KM. 48+800 s.d KM. 48+850, direncanakan timbunan tinggi tanpa dilakukan perbaikan tanah terlebih dahulu. Kondisi tersebut perlu dievaluasi untuk mengetahui bagaimana keamanan tanah dasar terhadap pemampatannya. Sekaligus direncanakan bagaimana perbaikan tanah dengan Prefabricated Vertical Drain (PVD) untuk mempercepat pemampatan. Berdasarkan hasil analisis data tanah, tanah dasar pada KM 48+800 s.d 48+850 didominasi oleh tanah kohesif berkonsistensi sangat lunak hingga sedang dengan kedalaman 8,8 meter. Berdasarkan hasil analisis, tanah dasar timbunan pada ruas yang ditinjau tidak aman terhadap pemampatan tanah dasar yang terjadi, karena rate of settlementnya melebihi batas izin yang telah ditentukan oleh Kementerian PUPR (> 2 cm/tahun) selama lebih dari 4 tahun pertama proses konstruksi. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan tanah menggunakan Prefabricated Vertical Drain (PVD) pola persegi jarak 0,8 meter dengan kedalaman 9 meter. Dibutuhkan waktu 10 minggu untuk mencapai derajat konsolidasi 90% dan 24 minggu untuk mencapai derajat konsolidasi mendekati 100%. Proses pemampatan akan berlangsung ketika beban preloading berupa tanah timbunan setinggi 6,8 meter dengan rencana kecepatan penimbunan setinggi 0,6 meter/minggu telah berlangsung
