1,721,009 research outputs found

    Penyusunan Skala Hedonik Kebauan Beberapa Sumber Bau dengan Variasi Panelis.

    No full text
    Bau merupakan salah satu sumber gangguan lingkungan penting di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun skala hedonik kebauan, menentukan skala hedonik kebauan pada beberapa contoh tempat, mengukur kadar amonia (NH3) dan hidrogen sulfida (H2S), dan menganalisis survei persepsi bau. Pengukuran dilakukan pada bulan Oktober 2017-Mei 2018 langsung di lapangan dengan 2 (dua) metode, yaitu menggunakan panelis dan uji analisis kimia pada 10 (sepuluh) tempat yang diduga menimbulkan kesan bau negatif. Skala hedonik kebauan yang digunakan -4≤x≤4 dengan ketelitian 1 (satu) angka desimal. Skala hedonik -4≤x˂0 menunjukkan kesan bau tidak menyenangkan (negatif) sedangkan skala hedonik 0˂x≤4 menunjukkan kesan bau menyenangkan (positif). Skala kesan bau diurutkan dari skala terkecil hingga terbesar, tidak hanya oleh 4 (empat) kelompok suku, tetapi juga jenis kelamin. Panelis kelompok suku terdiri dari suku Sunda, Batak, Minang, dan Jawa dengan rata-rata sebesar - 2.0; -1.9; -1.8; -1.5 dan standar deviasi berturut-turut 1.3; 1.4; 1.3; 1.3. Hal ini menunjukkan toleransi terhadap bau negatif oleh suku Sunda lebih kecil dibanding 3 (tiga) suku lainnya. Hasil skala hedonik kebauan oleh panelis wanita menunjukkan kecenderungan lebih negatif dibanding pria. Berdasarkan survei persepsi bau, semua responden menyatakan mencium adanya bau sampah dalam radius 5 (lima) meter dari TPS. Sebagian besar (92%) responden menyatakan merasa terganggu dengan bau yang bersumber dari TPS

    Analisis Korelasi antara Bangkitan Debu Jatuh, Kecepatan Angin, dan Kadar Air Tanah

    No full text
    Naturally dustfall can be generated from dry soil that carried away by the wind. The aim of the research is to analyze the correlations between dustfall, wind speed, and soil moisture content on three main types of soil found in Java Island according to Standard Rev. SNI 13-4703-1998. The results of analysis showed that the generation of dustfall correlated positively with wind speed and correlated negatively with soil moisture content. Effect of wind speed on the generation of dustfall on Inceptisol soil is 19.6%, Ultisol is 36.6%, and Andisol is 22.5%. Effect of soil moisture content on the generation of dustfall on Inceptisol soil is 27.4% on the measurements in the field and 72.6% on the measurements in the laboratory, Ultisol soil is 37.5% on the measurements in the field and 79.5% on the measurements in the laboratory, Andisol soil is 29.3% on the measurements in the field and 78.7% on the measurements in the laboratory. Many outside factors influence on the measurements in the field resulted in the resulting correlation lower than measurements in the laborator

    Konversi Limbah Plastik dari Kampus IPB Darmaga Menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) Menggunakan Metode Pirolisis

    No full text
    Pirolisis merupakan alternatif pengolahan sampah plastik yang produknya berupa bahan bakar minyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur timbulan sampah plastik, menentukan komposisi sampah plastik, serta menentukan kelayakan ekonomi pengolahan sampah plastik menjadi BBM. Penelitian berlangsung pada bulan Februari hingga Juli 2020 menggunakan data primer hasil pengukuran di lapangan. Sampah plastik yang digunakan dalam proses pirolisis merupakan lima jenis plastik dari TPA Cikabayan Kampus IPB Darmaga yaitu low-density polyethylene (LDPE), high-density polyethylene (HDPE), polypropylene (PP), polyethylene terephthalate (PET), dan polystyrene (PS). Sampah dipisahkan dan ditimbang berdasarkan komposisinya kemudian diolah menjadi bahan bakar minyak dengan metode pirolisis. Rata-rata bangkitan sampah plastik yang dihasilkan sebesar 39,4 kg/hari. Berdasarkan hasil pirolisis, jenis plastik yang menghasilkan volume BBM tertinggi hingga terendah secara berturut-turut yaitu PP, LDPE, PS dan PET. Analisis kelayakan ekonomi menunjukkan bahwa jenis plastik LDPE, PP, PET dan PS tidak layak secara ekonomi

    Implementasi LCA (Life Cycle Assessment) pada Bata Merah dan Batako

    No full text
    Red brick and brick are important materials on building project as like house. Purpose this research is determine the material between red brick and brick who have less impact to environment. LCA is one of method to evaluate impact assessment for a project or product. LCA ISO 14040 stage include goal definition and scoping, inventory analysis, impact assessment, and interpretation. Result this research is raw materials of red brick to make walls which function unit 1m2 wall soil 64 liter, and water 1 liter. Raw materials of brick to make 1 m2 walls is soil 45 liter, limestone 11 liter, and water 1 liter. Noise level of redbrick fabric is 83 dB(A). Noise level of brick fabric is 57 dB(A). Value the noise level of redbrick industry was exceeds the quality standards specified in the Decree of the Minister of Environment No.:KEP-48/MENLH/11/1996 pertaining on Noise Threshold. Energy consumption to make redbrick for 1 m2 walls was 2047 kcal whereas energy consumption for to make 1 m2 brick was 186 kcal. Based on the method of LCA (Life Cycle Assessment), the best material for make walls between redbrick and brick was a brick

    Penentuan Indeks Standar Pencemar Udara Berdasarkan Konsentrasi Nitrogen Dioksida (NO2) dalam Udara Ambien

    No full text
    Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang berlaku menetapkan parameter nitrogen dioksida (NO2) hanya mempunyai nilai ISPU dari 200 hingga 500 dengan konsentrasi minimum nilai ISPU 200 sebesar 1130 μg/Nm3. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi konsentrasi NO2 yang bernilai kurang dari 1130 μg/Nm3 dalam udara ambien dan menentukan nilai ISPU berdasarkan konsentrasi NO2. Data diperoleh dari kompilasi data sekunder dan pengukuran langsung di lapangan serta studi toksisitas NO2. Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret hingga Mei 2019. Prosedur untuk pengujian konsentrasi NO2 mengacu pada SNI 19-7119.2-2005. Kisaran konsentrasi NO2 yang diperoleh dari data pemantauan pada Provinsi Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur adalah 6-57 μg/Nm3, sedangkan berdasarkan hasil sampling sebesar 3-72 μg/Nm3. Konsentrasi NO2 dari data pemantauan dan sampling sangat rendah dibandingkan batas konsentrasi minimum NO2 pada ISPU. Nilai ISPU untuk konsentrasi NO2 maksimum di Pulau Jawa adalah 13 dan nilai tersebut cukup rendah dibandingkan standar minimum nilai ISPU NO2 yaitu 200. Batas konsentrasi NO2 yang relevan sebagai indikator awal untuk nilai ISPU 50 adalah 10-34 μg/Nm3 dan untuk nilai ISPU 100 sebesar 38-68 μg/Nm3 berdasarkan studi toksisitas NO2

    Indeks Standar Pencemar Udara Akibat Pembakaran Biomassa Dari Vegetasi Brachiaria Humidicola, Imperata Cylindrica, Dan Semak

    No full text
    Kebakaran biomassa akibat pembukaan lahan terjadi di Indonesia setiap musim kemarau. Pembakaran biomassa menghasilkan emisi yang cukup besar berupa gas dan dapat dinilai dengan indeks standar pencemar udara (ISPU). Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan apakah suhu udara ambien tertinggi di Indonesia dapat menyebabkan kebakaran vegetasi Brachiaria humidicola (BH), Imperata cylindrica (IC), dan semak, menganalisis kualitas udara ambien yang terkontaminasi asap akibat simulasi pembakaran biomassa dan menghitung nilai ISPU yang dihasilkan dari konsentrasi polutan asap pada udara ambien. Secara umum dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu udara ambien tertinggi di Indonesia tidak menyebabkan terbakarnya bahan uji sehingga suhu tersebut bukan merupakan faktor utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Brachiaria humidicola memiliki kadar air terkecil (7.5%) sehingga lebih cepat memanas dibandingkan vegetasi lain. Semak yang memiliki kadar air tertinggi (14%) pada awal pembakaran mengakibatkan suhu ambien menjadi 64C dan suhu meningkat menjadi 114.1C. Polutan yang mendominasi dalam penelitian ini adalah NO2 dan CO. Secara umum hasil penelitian menunjukkan nilai konsentrasi berada di bawah baku mutu sesuai PP 41/1999 kecuali konsentrasi CO pada semak (47898 μg/m3). Berdasarkan batas ISPU pada KEP-107/KABAPEDAL/11/1997, dihasilkan nilai ISPU tertinggi untuk parameter CO terdapat pada semak yakni 500

    Analisis Konsentrasi NO₂ di Jakarta, Bandung, dan Gresik untuk Menentukan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).

    No full text
    Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) merupakan standar kualitas udara yang berlaku di Indonesia. Salah satu parameter ISPU adalah nitrogen dioksida (NO₂) yang memiliki nilai konsentrasi minimum sebesar 1130 μg/Nm³ pada ISPU 200. Penelitian bertujuan mengevaluasi nilai minimum konsentrasi NO₂ pada ISPU dan menentukan nilai minimum konsentrasi NO₂. Penelitian berlangsung pada bulan Februari hingga April 2020 menggunakan data sekunder dan data primer yang diperoleh dari pengukuran langsung di lapangan. Pengujian konsentrasi NO₂ mengacu pada SNI 19-7119.2-2005. Konsentrasi NO₂ yang didapatkan dari hasil pemantauan di Jakarta, Bandung dan Gresik pada tahun 2016-2019 berkisar 6-57 μg/Nm³, sedangkan dari hasil pengukuran langsung di Gresik dan Surabaya didapatkan konsentrasi NO₂ sebesar 23-59 μg/Nm³. Nilai ISPU maksimum yang didapatkan dari tiga (3) lokasi hanya bernilai 10. Nilai ini jauh lebih rendah dibandingkan nilai minimum ISPU yang tertera dalam peraturan yang berlaku saat ini, yaitu sebesar 200. Bila temuan tersebut digabungkan dengan hasil studi toksisitas, maka konsentrasi NO₂ yang tepat untuk ISPU 50 adalah 11-39 μg/Nm³, sedangkan untuk ISPU 100 adalah 40-85 μg/Nm³

    Penyusunan Indeks Kesehatan Ekosistem Perkotaan di Pulau Jawa Sebagai Standardisasi Penilaian Nasional.

    No full text
    Indonesia masih belum memiliki standar dalam menilai kesehatan ekosistem. Laporan Indeks Kesehatan Lingkungan Hidup (IKLH) di Indonesia hanya mencakup kualitas udara, kualitas air dan tutupan hutan, sehingga dianggap kurang mewakili kesehatan ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan pendekatan kuantitatif untuk sistem penilaian ekosistem perkotaan dan untuk menentukan kesehatan ekosistem di beberapa kota di Jawa. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data dari dokumen pemerintah daerah dan mengolah data sehingga nilai masing-masing komponen berkisar dari 0 hingga 100. Dari hasil analisis diketahui bahwa nilai IKLH di Malang adalah 75.14, di Yogyakarta adalah 74.96, di DKI Jakarta adalah 71.64 dan di Bogor adalah 75.06. Empat kota memiliki kualitas udara dan kualitas air yang baik berkisar dari 75-100. Namun nilai tutupan hutan memiliki nilai yang sangat rendah berkisar 16-17, nilai keanekaragaman hayati flora dan fauna mulai dari 52-62, sementara nilai kesehatan masyarakat berkisar antara 82-87 dan nilai kesehatan lingkungan antara 96-98

    Kapasitas Penyerapan Emisi CO2, NO2, dan Debu Jatuh dari Sektor Transportasi, Industri, dan Peternakan oleh Kebun Raya Bogor

    No full text
    One of the environmental issue is the increasing of air pollution concentration. On the other hand, Bogor Botanical Gardens has high potential as an air quality controller. This study aims to calculating Bogor Botanical Gardens plants ability to reduce CO2, NO2, and dustfall, analyzing the correlation of leave morphology with the plant ability in absorb dustfall, and determine criteria of plant that can reduce CO2, NO2, and dustfall. Total amount of CO2, NO2, and dustfall emission and Bogor Botanical Garden sink ability was calculated by secondary data from multiple source unit and its corresponding emission factors. The ability of several plant to absorb dustfall calculated by gravimetric method using samples from Bogor Botanical Garden. The sample plant are Sansevieria trifasciata, Cinnamomum multiflorum, Callicarpa pedunculata, Carmona retusa, dan Antigonon leptopus. The analysis show that Bogor Botanical Gardens is be able to reduce CO2 emissions by 28.7%, NO2 by 2.2%, and dustfall by 11.4%. Plant ability to absorb dustfall are 0.02-0.7 mg/cm2. The most effective species to absorb dustfall is Carmona retusa with maximum capacity of 0.7 mg/cm2

    Penyusunan Indeks Kesehatan Ekosistem Perkotaan di Pulau Jawa Sebagai Masukan Standar Kesehatan Ekosistem Nasional

    No full text
    Metode penilaian kesehatan ekosistem di Indonesia saat ini masih berbeda-beda dan belum ada rujukan secara nasional untuk menilai kesehatan ekosistem perkotaan. Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung indeks kesehatan ekosistem perkotaan di Pulau Jawa dan menyusun pendekatan kuantitatif sistem penilaian kesehatan ekosistem perkotaan dengan enam parameter yaitu indeks pencemaran udara (IPU), indeks pencemaran air (IPA), indeks tutupan hutan (ITH), indeks keanekaragaman hayati (IKH), indeks kesehatan masyarakat (IKM), dan indeks kesehatan lingkungan (IKL). Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data dari dokumen pemerintah daerah dan dikompilasi sehingga didapatkan indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH) dengan rentang nilai 0-100. Hasil yang diperoleh adalah nilai kualitas ekosistem Kota Surabaya sebesar 77.47, Kota Cilegon sebesar 69.99, Kota Probolinggo sebesar 69.15, Kota Cirebon sebesar 67.23, Kota Cimahi sebesar 61.56, Kota Magelang sebesar 61.47, Kota Semarang sebesar 59.96, dan Kota Surakarta sebesar 58.12. Empat kota memiliki nilai kualitas ekosistem di atas nilai rata-rata kualitas ekosistem nasional yaitu sebesar 66.46
    corecore