1,720,988 research outputs found
HUBUNGAN KADAR BETA-SITE APP-CLEAVING ENZYME 1, BETA-AMYLOID, DAN 4 HYDROXINONENAL PLASMA DENGAN GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF PADA PENDERITA PASCASTROKE ISKEMIK
HUBUNGAN KADAR BETA-SITE APP-CLEAVING ENZYME 1, BETA-AMYLOID, DAN 4 HYDROXINONENAL PLASMA DENGAN GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF PADA PENDERITA PASCASTROKE ISKEMIK
Kadar beta-amyloid (Aβ) di cairan serebrospinal (CSS) dapat dijadikan sebagai penanda
telah terjadinya gangguan kognitif, namun karena teknik pengambilan CSS yang invasive,
maka perlu dicari biomarker yang relatif mudah, murah dan dapat dipercaya. Untuk itu
perhatian tertuju pada kadar beta-amyloid di plasma. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui hubungan kadar BACE-1, Aβ40, Aβ42 dan 4HNE plasma dengan fungsi
kognitif pascastroke iskemik.
Penelitian ini bersifat observasional dengan disain cross sectional, menggunakan
kasus dan kontrol. Mengikutkan 84 penderita pascastroke iskemik dan 42 subjek normal
sebagai kontrol. Kadar BACE1-1, Aβ40, Aβ42 dan 4HNE plasma diperiksa dalam 72 jam
onset stroke menggunakan metode ELISA dan pemeriksaan fungsi kognitif diperiksa 3
bulan pascastroke dengan test MoCA-Ina. Analisis data menggunakan program SPSS 21.
Analisis multivariat digunakan untuk menetapkan faktor mana yang paling dominan
hubungannya dengan terjadinya gangguan fungsi kognitif pascastroke iskemik.
Ditemukan hubungan yang bermakna antara gangguan kognitif pascastroke dengan
tingginya kadar BACE1 (p=0,004, OR= 4,714), rendahnya kadar Aβ40 (p=0,0001,
OR=14,80) dan rendahnya kadar Aβ42 (p=0,017, OR=3,44). Tidak ditemukan hubungan
yang bermakna antara kadar 4HNE dengan gangguan fungsi kognitif pascastroke. Pada
analisis multivariat, didapatkan rendahnya kadar Aβ40, tingginya kadar BACE-1 dan
rendahnya kadar Aβ42 plasma sebagai urutan kekuatan variabel yang berhubungan dengan
kejadian gangguan kognitif pascastroke iskemik.
Ada hubungan yang bermakna antara rendahnya kadar Aβ40, Aβ42 dan tingginya
kadar BACE-1 plasma dengan gangguan kognitif pascastroke iskemik.
Kata kunci : fungsi kognitif, stroke iskemik, beta-amyloid dan enzim beta secretas
Association between Serum Alpha-Synuclein Levels and Parkinson's Disease Stage (archive)
Parkinson's disease (PD) is the second most common neurodegenerative disease after Alzheimer's. It is chronically
progressive with the main symptoms of resting tremor, rigidity, bradykinesia, and postural disturbances. Lewy's
body and Lewy's neurite are the main findings in brain biopsies of patients with PD. The main component is alphasynuclein, a misfolding protein that plays an essential role in the pathogenesis of PD. This study aims to determine
the association between serum alpha-synuclein levels during the PD stage and compare the levels between PD
patients and healthy populations of the same age. A case-control study was conducted on 62 people with PD and
20 normal subjects as controls in the outpatient Department of Neurology of Dr. M. Djamil General Hospital and
Ibnu Sina Islamic Hospital, Padang, from March to September 2020. The ELISA method examined serum alphasynuclein examination, and the PD stage was assessed according to Hoehn and Yahr stages. The differences in alphasynuclein levels between cases and controls and between stages of PD were analyzed by the Mann-Whitney test.
Alpha-synuclein levels in PD patients were higher than in controls, and this difference was statistically significant
(p<0.05). On the other hand, alpha-synuclein levels were higher in the severe stage than in the mild stage but not
statistically significant (p>0.05). In conclusion, there was no association between alpha-synuclein levels and the
stage of Parkinson's disease. Still, serum alpha-synuclein levels in PD patients were significantly higher than in the
healthy populatio
Hubungan Kadar Glial Fibrillary Acidic Protein Serum dengan Severitas dan Luaran Cedera KepalaTraumatik
Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kadar GFAP dengan severitas dan luaran 6 bulan pascacedera kepala. Metode : Ini adalah studi potong lintang, dimana kadar GFAP dinilai dengan metode ELisa, saat kunjungan pasien di IGD. Pada saat bersamaan dinilai Glascow Coma Scale (GCS) untuk severitas dan luaran dinilai dengan Glasgow Outcome Scale (GOS) 6 bulan pascacedera. Analisa bivariate dilakukan untuk mengetahui hubungan GFAP dengan severitas dan outcome. Hasil : Sebagian besar subjek penelitian adalah laki-laki (72,7%) dengan median usia 36 tahun (18-60). Kadar GFAP serum lebih tinggi pada kelompok cedera kepala berat (CKB) dibandingkan kelompok cedera kepala sedang (CKS) dan cedera kepala ringan (CKS). Ditemukan hubungan bermakna antara kadar GFAP dengan severitas CKT (p=0,017). Tidak ada perbedaan kadar GFAP fase akut dengan baik buruknya luaran 6 bulan pascacedera (p=158). Kesimpulan : Ada hubungan kadar GFAP pada fase akut dengan severitas cedera kepala traumatik dan tidak ada hubungan kadar GFAP dengan luaran (GOS) 6 bulan pascacedera
Factors Associated with the Prevalence of External Compression Headache Attributed to Personal Protection Equipment Usage
Personal protective equipment (PPE) in the COVID-19 pandemic era is essential for healthcare workers to decrease the risk of infection. The PPE, such as N95 masks and goggles, can trigger external-compression headache (ECH). This study aimed to determine the factors associated with the prevalence of ECH attributed to PPE usage. It was an analytic-observational study with a cross-sectional design conducted at Dr. M. Djamil Hospital Padang in May 2020. The subjects were healthcare workers (doctors and nurses) who used level 3 PPE for a minimum of 4 hours. The diagnosis of ECH was determined by the International Classification of Headache Disorders (ICHD) 3rd edition criteria. The Headache Screening Questionnaire (HSQ) determined the pre-existing primary headaches. The association between variables was analyzed using chi-square and Kruskal-Wallis tests. P-value<0.05 was considered statistically significant. A total of 113 healthcare workers participated in this study, consisting of 46 (40.7%) males and 67 (59.3%) females. The median age was 30 (23–46) years. ECH occurred in 102 (90.3%) respondents. Pre-existing primary headaches were present in 79 (69.9%) respondents, including migraine in 28 (23.6%) and tension-type headaches (TTH) in 46 (40.7%) respondents. The frontalis (69%) and temporalis (50.4%) were the most affected muscles. In this study, the significant factor associated with ECH was pre-existing primary headache (p=0.001, OR=7.795). There was a significant association between the pre-existing TTH (p=0.022) and ECH. There was a non-significant association between pre-existing migraine and ECH (p=0.284). In conclusion, the pre-existing primary headache was associated with the prevalence of ECH attributed to PPE usage
The Relationship between Serum Cystatin-C Levels and Impaired Cognitive Function in Patients with Chronic Kidney Disease
Background: Cystatin-C acts as a neuroprotector in the central nervous system at normal levels, but high serum cystatin-C levels are associated with impaired cognitive function. Serum cystatin-C levels increase in impaired renal function, and cognitive impairment are comorbidities that can increase the morbidity and mortality of chronic kidney disease patients. This study aimed to assess the relationship between serum cystatin-C levels and cognitive function in chronic kidney disease patients.
Methods: This study used a cross-sectional design with 73 samples of non-hemodialysis chronic kidney disease patients. Cognitive function was assessed using the MoCa-Ina. Serum cystatin-C levels of all samples were measured by the ELISA method. Data analysis was carried out using SPSS.
Results: Impaired cognitive function in CKD patients was found to be 76.7%. The median serum cystatin-C level of CKD patients with impaired cognitive function (n=56) was 1.015 mg/dL, and without cognitive impairment (n=17) was 0.929 mg/dL. There was no significant relationship between serum cystatin-C levels (cut-off point 0.98 mg/dL) and impaired cognitive function (OR : 2.05, 95% CI : 0.680-6.175, p= 0.198).
Conclusion: There is no relationship between serum cystatin-C levels and cognitive function impairment in non-hemodialysis chronic kidney disease patients
Perbedaan Kadar NSE Berdasarkan Derajat Perlukaan Menurut Aspek Medikolegal Pada Korban Trauma Kepala di IGD RSUP Dr. M. Djamil Padang
Latar Belakang: Cedera otak traumatis (TBI) adalah penyebab utama kematian, terutama disebabkan oleh jatuh, kekerasan, dan kecelakaan lalu lintas. Dalam kasus kekerasan dan kecelakaan lalu lintas, polisi seringkali meminta visum et repertum, sebuah laporan tertulis yang menjelaskan luka korban dan diklasifikasikan menjadi tiga derajat luka. Namun, pemeriksaan ini kadang-kadang tidak akurat karena hanya melibatkan luka fisik yang terlihat. Oleh karena itu, pemeriksaan lebih lanjut diperlukan, seperti pemeriksaan biomarker, seperti neuron specific enolase (NSE)
Objektif: Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kadar NSE berdasarkan derajat perlukaan pada korban trauma kepala.
Metode: Ini adalah studi potong-lintang, dimana kadar NSE dinilai dengan Teknik ELISA, pada kunjungan korban trauma kepala di IGD. Derajat perlukaan diperoleh melalui catatan visum et repertum korban yang disimpan di bagian forensik dan medikolegal. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui perbedaan kadar NSE berdasarkan derajat perlukaan.
Hasil: Sebagian besar subjek penelitian adalah laki-laki (76,2%) dengan kelompok usia terbanyak di umur 12-45 tahun. Kadar NSE pada korban trauma kepala dengan derajat tiga lebih tinggi daripada korban trauma kepala dengan derajat dua. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan kadar NSE pada korban trauma kepala dengan derajat dua atau tiga (p=0.642).
Kesimpulan: Tidak ada perbedaan yang signifikan pada kadar NSE berdasarkan derajat perlukaan
- …
