159 research outputs found

    Peran lamun (Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, dan Cymodocea rotundata) dalam peyerapan karbon di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

    No full text
    Peningkatan gas CO2 di atmosfer dapat memicu terjadinya pemanasan global. Lamun merupakan ekosistem perairan laut yang dapat mengurangi atau menyerap karbon. Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, dan Thalassia hemprichii merupakan tiga jenis lamun yang dominan di Pulau Pramuka. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung serapan C-organik dari tiga jenis lamun yang dominan di Pulau Pramuka. Pengamatan dilaksanakan pada bulan Desember 2019 hingga Januari 2020. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan pengukuran kandungan C-organik dilakukan dengan metode Walkley dan Black. Berdasarkan Kepmen Lingkungan Hidup Nomor 51 tahun 2004 kondisi kualitas air di Pulau Pramuka tergolong dalam keadaan normal atau cocok bagi kehidupan lamun. Cymodocea rotundata merupakan jenis lamun dengan nilai persentase tutupan (32,95%), kerapatan (263,64 ind/m2), dan kandungan C-organik (656,28 mg/l) tertinggi dibanding jenis lainnya yaitu E. acoroides dan T. hemprichii. Persentase tutupan lamun dan kerapatan lamun mempengaruhi kandungan C-organik yang tersimpan pada lamun di suatu kawasan

    Pengelolaan Wisata Pantai Berbasis Konservasi Penyu Hijau (Chelonia Mydas) Di Pangumbahan Kabupaten Sukabumi Jawa Barat

    No full text
    Pantai Pangumbahan ditetapkan sebagai Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan. Penetapan kawasan dilakukan untuk menjamin kelestarian populasi Penyu Hijau dengan mengembangkan kawasan sebagai kawasan ekowisata. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Mengevaluasi kesesuaian kawasan untuk peneluran Penyu Hijau dan pengembangan kegiatan ekowisata pantai. 2) Menghitung daya dukung (carrying capacity) kawasan konservasi penyu untuk kegiatan ekowisata pantai. 3) Merencanakan arahan pengelolaan ekowisata pantai di kawasan konservasi yang berkelanjutan. Berdasarkan kesesuaiaan habitat di Pangumbahan aktivitas peneluran Penyu Hijau relatif rendah. Persentase kesesuaian kawasan untuk peneluran penyu kategori S1(sangat sesuai) 35,27% sisanya dikategorikan N (tidak sesuai) 64,73%. Persentase kesesuaian kawasan untuk wisata pantai 26,86 % kategori S1(sangat sesuai) dan kategori S2 (sesuai) 73,14%. Daya dukung kawasan untuk wisata pantai adalah 119 orang/hari, sedangkan daya dukung wisata penyu adalah 18 orang/hari. Kawasan untuk habitat peneluran penyu adalah Stasiun 1, 2 dan 3. Kawasan untuk wisata pantai adalah Stasiun 4, 5 dan 6. Hasil analisis WTP diperoleh nilai surplus konsumen atau nilai WTP wisatawan Rp 1,053,258,434 per tahun. Nilai WTP dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan jumlah tanggungan. Hasil perhitungan nilai rata-rata WTP wisatawan yaitu tiket masuk Rp.13.858/orang, melihat tempat peneluran penyu Rp 13.426/orang, pemutaran film Rp.18.202/orang sedangkan WTP melihat penyu bertelur Rp 56.393/orang. Jika dibandingkan dengan nilai WTP potensialnya diperoleh hasil WTP potensial lebih besar dibandingkan biaya transaksional yang dikeluarkan. Penetapan retribusi yang sesuai diharapkan menjadi sumber pendanaan bagi pengelolaan kawasan konservasi

    Desain Pengembangan Ekowisata mangrove Istambul Demak, Jawa Tengah

    No full text
    Kabupaten Demak merupakan daerah pesisir di pantai utara Jawa Tengah yang memiliki potensi ekosistem mangrove yang masih alami. Ekosistem mangrove di Kabupaten Demak dapat dikembangkan untuk kegiatan ekowisata adalah ekosistem mangrove Istambul Demak, terletak di desa Tambakbulusan, Kecamatan Karang Tengah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan ekowisata mangrove melalui analisis kesesuaian ekowisata mangrove sebagai destinasi ekowisata, menghitung daya dukung kegiatan ekowisata, serta membuat strategi dan desain kegiatan ekowisata mangrove Istambul Demak. Hasil menunjukkan bahwa ekosistem mangrove Istambul sesuai untuk dijadikan sebagai kawasan ekowisata. Aktifitas ekowisata yang dapat dikembangkan di ekosistem tersebut yaitu tracking mangrove dengan daya dukung sebesar 122 orang perhari, berperahu dengan daya dukung sebesar 182 orang perhari, dan rekreasi pantai dengan daya dukung sebesar 40 orang perhari. Terdapat setidaknya 7 strategi yang dilakukan dalam pengembangan ekowisata mangrove Istambul

    Strategi Pemanfaatan Ekosistem Mangrove Berbasis Ekowisata di Teluk Pangpang Banyuwangi

    No full text
    Teluk Pangpang merupakan kawasan pesisir yang menjadi pusat kegiatan perikanan dan ekowisata di Kabupaten Banyuwangi menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat. Kerusakan mangrove yang terjadi menggambarkan bahwa dikawasan tersebut mangrove tidak dapat tumbuh dengan lestari akibat gangguan atau perubahan karakteristik lingkungan yang terlalu besar. Pengembangan ekowisata adalah bentuk upaya konservasi mangrove dengan melibatkan masyarakat lokal ke dalam pengelolaan ekowisata yang akan lebih menjamin keberlanjutan rehabilitasi dan konservasi mangrove serta memberikan manfaat lebih terkait peningkatan perekonomian masyarakat. Tujuan penelitian adalah (1) menilai potensi dan kondisi ekosistem mangrove di Teluk Pangpang, (2) menghitung tingkat kesesuaian dan daya dukung ekosistem mangrove di Teluk Pangpang untuk pengembangan ekowisata, dan (3) merumuskan strategi pengelolaan ekosistem mangrove untuk pengembangan ekowisata. Metode penelitian dengan pendekatan spasial dan survei, data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data ekologi mangrove, sosial masyarakat, pengunjung, dan stakeholder. Data sekunder yaitu hasil studi pustaka atau data dari jurnal dan buku sebagai data pendukung. Analisis data terdiri atas 1) analisis kerapatan mangrove diolah dengan rumus kerapatan mangrove dan di deskriptifkan untuk mendapatkan gambaran kondisi mangrove, 2) analisis kesesuaian dan daya dukung kawasan untuk memperoleh kelas kesesuaian ekowisata dan batas daya dukung wisatawan perhari, 3) analisis sosial untuk mendapatkan gambaran persepsi dan partisipasi masyarakat serta harapan pengunjung, 4) analisis stakeholder untuk memetakan pengaruh dan kepentingan stakeholder terkait pengembangan ekowisata 5) analisis Analytic Network Process (ANP) untuk menentukan prioritas strategi pengembangan ekowisata. Hasil penelitian menunjukkan kawasan mangrove Teluk Pangpang memiliki 9 jenis mangrove, berbagai biota akuatik dan burung air yang dilindungi seperti Bangau tong tong (Leptoptilos javanicus), dan akses yang sangat mudah dijangkau. Indeks kesesuaian ekowisata mangrove berdasarkan kerapatan mangrove, jenis mangrove, pasang surut dan objek biota dalam kategori sesuai, tetapi secara spasial dalam kategori sesuai dan tidak sesuai dengan daya dukung kawasan sebanyak 339 orang per hari. Strategi prioritas pengembangan ekowisata mangrove Teluk Pangpang yaitu 1) meningkatkan kesadaran dan pemberdayaan masyarakat, 2) pengembangan jasa dan produk ekowisata dengan melibatkan partisipasi masyarakat, dan 3) pemantapan koordinasi antar stakeholder

    Potensi Sumberdaya Bulu Babi dengan Pendekatan Spasial untuk Pengelolaan di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta

    No full text
    Bulu babi merupakan biota laut yang banyak ditemukan di ekosistem terumbu karang dan lamun dan sangat umum dijumpai di perairan dangkal Pulau Pramuka. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis potensi ekologi dan sebaran spasial sumberdaya bulu babi dengan kaitannya dengan faktor fisik lingkungan untuk pengelolaan yang kelanjutan di Pulau Pramuka. Hasil menunjukkan bahwa bulu babi yang banyak ditemukan di Pulau Pramuka merupakan jenis dari Diadema setosum yang hidup berkoloni di bagian barat dan timur Pulau Pramuka dengan kepadatan rata-rata total yaitu sebesar 20 individu/m2. Tipologi habitat bulu babi terdiri dari pecahan karang, pasir kasar, pasir sedang, dan pasir halus. Terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk melakukan pengelolaan bulu babi yang berkelanjutan, yaitu (1) merancang usulan desain kawasan perlindungan dan pemanfaatan bulu babi, (2) melaksanakan sosialisasi tentang pengelolaan bulu babi, (3) melaksanakan monitoring secara berkala terhadap sumberdaya bulu babi, (4) menyusun program penelitian dengan objek kaji utama bulu babi

    Pengembangan Ekowisata Bahari dengan Pendekatan Penilaian Sumberdaya Terumbu Karang Taman Nasional Karimunjawa

    No full text
    Sumberdaya terumbu karang di Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ) memiliki peran penting bagi masyarakat yang kegiatan wisatanya masih rendah. Trend jumlah wisatawan TNKJ untuk kegiatan wisata berfluktuatif dari tahun 2008- 2016 (Statistik BTNKJ 2016). Kondisi ini menjadikan perlunya pengkajian pengelolaan terkait dengan keberadaan terumbu karang sebagai objek utama kegiatan wisata bahari. Penulis melakukan penelitian di wilayah ini terkait DDK wisata bahari dan valuasi ekonomi sebagai input pengelolaan pada bulan Agustus sampai September 2017. Tujuan dari penelitian ini adalah mengestimasi DDK dan valuasi ekonomi sumberdaya sehingga didapatkan strategi pengembangan wisata bahari terumbu karang di TNKJ melalui pendekatan penilaian sumberdaya. Metode yang digunakan adalah penentuan IKW dan DDK sebagai langkah awal penentuan kapasitas kawasan wisata bahari melalui analisis sumberdaya terumbu karang, serta valuasi ekonomi sumberdaya yang terdiri dari analisis TCM dan WTD wisatawan. Perumusan strategi pengelolaan menggunakan metode Gap Analysis sehingga dihasilkan strategi pengelolaan berdasarkan isu yang ada. Daya dukung kawasan zona pemanfaatan wisata bahari utama TNKJ meliputi Pulau Menjangan Kecil, Menjangan Besar, Barat Karimunjawa dan Tanjung Gelam adalah sebesar 1.115 orang/hari untuk wisata snorkeling dan sebesar 2.430 orang/hari untuk wisata diving yang tersebar dalam luasan terumbu karang seluas 886.302,7841 m2 untuk kedua kegiatan wisata tersebut. Nilai ekonomi terumbu karang berdasarkan valuasi sumberdaya melalui perhitungan surplus konsumen potensi wisata bahari adalah sebesar Rp16 945 068 651 840 pertahun, sedangkan nilai ekonomi kondisi eksisting adalah sebesar Rp474 535 386 835 pertahun. Strategi pengembangan wisata bahari terumbu karang di TNKJ dilakukan berdasarkan perumusan isu dan arahan pengelolaan sebelumnya, diantaranya adanya pengoptimalan kegiatan wisata bahari di TNKJ melalui promosi dengan tetap memperhatikan daya dukung kawasan di setiap area spot wisata. Promosi ditujukan berdasarkan hasil analisis permintaan wisata sehingga sesuai target dan memperhatikan sikap konservatif wisatawan. Terkait dengan peningkatan nilai ekonomi sumberdaya terumbu karang, nilai harga tiket tambahan dapat diterapkan dengan besaran maksimal Rp259 038 perorang/hari untuk wisata snorkeling dan Rp80 149 perorang/hari untuk wisata diving. Adanya alokasi biaya untuk kepentingan konservasi terumbu karang maksimal Rp206 250 perorang untuk wisata snorkeling dan maksimal Rp87 500 perorang untuk wisata diving. Perbaikan sistem data base terumbu karang dan revisi zona perlindungan bahari diharapkan dapat mendukung upaya pelestarian ekosistem terumbu karang agar dapat terus berkelanjutan

    Pola Zonasi Habitat Mangrove dan Asosiasi Makrozoobentos di Wilayah Pantai Indah Kapuk, Jakarta

    No full text
    Ekosistem mangrove Pantai Indah Kapuk mengalami tekanan lingkungan yang dapat mempengaruhi zonasi mangrove serta makrozoobentos. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan zonasi mangrove dan makrozoobentos yang berasosiasi di Pantai Indah Kapuk, Jakarta. Pengambilan data vegetasi mangrove dilakukan dengan metode kuadrat dan pengambilan contoh makrozoobentos dengan corer. Mangrove asosiasi dan Avicennia marina ditemukan di daerah dekat laut serta daerah dekat darat, sedangkan mangrove campuran ditemukan di daerah tengah. Asosiasi makrozoobentos didominasi oleh kelas Oligochaeta, Polychaeta, dan Gastropoda yang melimpah di daerah tengah. Zonasi mangrove tersebut berkorelasi dengan beberapa kelas makrozoobentos, terutama Gastropoda dan Crustacea. Pengelolaan habitat dapat dilakukan dengan pengelolaan sampah, dan rehabilitasi habitat dengan penanaman Rhizophora

    Sumberdaya Lamun dan Biota Dasar yang Berasosiasi di Teluk Bumbang, Lombok, Nusa Tenggara Barat

    No full text
    Lamun sebagai tumbuhan laut yang membentuk ekosistem di perairan laut dangkal memiliki peran signifikan dan salah satunya sebagai habitat bagi biota dasar. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis, potensi, sebaran, asosiasi sumberdaya lamun dengan biota dasar, dan mengevaluasi beberapa parameter perairan di Teluk Bumbang. Pengamatan lamun dilakukan menggunakan metode stratified random sampling dengan transek kuadrat. Jenis Halodule pinifolia, Cymodocea rotundata, Halophila ovalis, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, dan Halophila spinulosa tersebar luas di perairan Teluk Bumbang. Halodule pinifolia memiliki pengaruh lebih besar terhadap ekosistem lamun dibanding jenis lainnya dengan rata-rata INP 2,35. Biota dasar yang ditemukan yaitu gastropoda, krustasea, holothuroidea, dan bivalvia. Hubungan lamun dengan biota dasar yang dominan terdapat pada C. rotundata dan H. ovalis berasosiasi dengan gastropoda dan krustasea pada kondisi perairan yang baik dan jenis substrat pasir berlumpur. Nilai korelasi kerapatan lamun terhadap kepadatan biota relatif rendah dan kerapatan lamun memberikan pengaruh sebesar 19,34% terhadap kepadatan biota serta selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain seperti parameter perairan, kedalaman air, dan sustrat dasa

    Peran Subsektor Perikanan dan Kelautan dalam Pengembangan Wilayah Kabupaten Jepara

    No full text
    Kabupaten Jepara merupakan salah satu kabupaten pesisir di Provinsi Jawa tengah dengan garis pantai sepanjang 82.73 km. Kegiatan pembangunan yang dilakukan pemerintah Kabupaten Jepara menitikberatkan pembangunan di wilayah perdesaan terutama di wilayah pesisir. Potensi sumber daya perikanan yang begitu besar menjadikan pembangunan kawasan pesisir begitu penting. Namun kontribusi subsektor perikananan dan kelautan kurang dari satu persen terhadap pembentukan PDRB dianggap sangat kecil terutama jika hanya mempertimbangkan nilai pasar produk komoditas primernya. Sektor-sektor perikanan dan kelautan dalam perekonomian kawasan pesisir dapat berperan secara tidak langsung jika memiliki keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan (forward linkage) maupun ke belakang (backward linkage) dengan sektor-sektor perekonomian utama di wilayah. Keterkaitan yang efektif dengan sektor-sektor utama ekonomi wilayah dapat membuat setiap pertumbuhan subsektor perikanan dan kelautan mampu menciptaan efek pengganda (multiplier effect) terhadap perekonomian wilayah. Peran subsektor perikanan dan kelautan tidak hanya sebatas pada hasil produksi yang dapat dihitung namun juga produksi yang sifatnya tak terukur (intangible) yang berasal dari keberadaan sumber daya alam di wilayah pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan prioritas pengembangan wilayah pesisir Kabupaten Jepara berdasarkan potensi perikanan dan kelautan. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dilakukan langkah untuk (1) mengidentifikasi peranan subsektor perikanan dalam ekonomi wilayah di Kabupaten Jepara; (2) menganalisis tingkat perkembangan wilayah berdasarkan sarana dan prasarana wilayah; (3) menganalisis cadangan sumber daya alam pesisir dan laut untuk menunjang perekonomian masyarakat pesisir di Kabupaten Jepara, dan (4) menggali persepsi stakeholders mengenai pengembangan kawasan pesisir Kabupaten Jepara. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi peran subsektor perikanan dan kelautan dalam perekonomian wilayah Kabupaten Jepara adalah analisis input-output. Tingkat perkembangan wilayah dianalisis menggunakan metode skalogram. Analisis valuasi sumber daya alam pesisir dan laut digunakan untuk menghitung cadangan sumber daya alam pesisir dan laut. Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk menganalisis persepsi para stakeholders mengenai pengembangan kawasan pesisir Kabupaten Jepara. Arahan pengembangan kawasan pesisir didapat dari menyintesiskan hasil dari keempat tujuan penelitian. Kegiatan usaha subsektor perikanan dan kelautan pada penelitian ini terbagi atas dua sektor yaitu sektor ikan laut dan hasil laut lainnya serta ikan darat dan hasil perairan darat. Sektor ikan laut dan hasil laut lainnya serta sektor ikan darat dan hasil perairan darat masing-masing mempunyai indeks kaitan langsung ke belakang sebesar 0.66 dan 0.80. Sektor ikan laut dan hasil laut lainnya mempunyai nilai indeks keterkaitan langsung ke depan sebesar 0.09. Sektor ikan darat dan hasil perairan darat dengan nilai indeks keterkaitan langsung ke depan sebesar 0.12. Sektor ikan laut dan hasil laut lainnya mempunyai indeks derajat penyebaran (IDP) sebesar 0.99 dan indeks derajat kepekaan (IDK) sebesar 0.81 sedangkan nilai IDP dan IDK untuk sektor ikan darat dan hasil perairan darat masing-masing sebesar 0.93 dan 0.80. Sektor ikan laut dan hasil laut lainnya mempunyai nilai multiplier output (1.04), multiplier NTB (0.89) dan multiplier pendapatan (0.84). Sektor ikan darat dan hasil perairan darat mempunyai multiplier output (1.03), multiplier NTB (0.85) dan multiplier pendapatan (0.80). Efek pengganda subsektor perikanan dan kelautan pada perekonomian wilayah Kabupaten Jepara perlu ditingkatkan dengan mendorong keterkaitan ke depan langsung maupun tidak langsung pada sektor-sektor perekonomian wilayah yang potensial untuk dikembangkan ke depannya melalui industri jasa maritim yakni pariwisata bahari. Kecamatan yang mempunyai tingkat perkembangan wilayah paling tinggi (hirarki I) adalah Kecamatan Kedung, Kecamatan Jepara, Kecamatan Keling dan Kecamatan Karimunjawa. Keempat kecamatan tersebut merupakan kecamatan yang terletak di wilayah pesisir sehingga fokus pengembangan kawasan pesisir perlu dilakukan agar perekonomian wilayah mampu meningkat. Desa pesisir yang mempunyai tingkat perkembangan wilayah yang tinggi (hirarki I) yaitu Desa Jobokuto dan Desa Demaan (Kecamatan Jepara), Desa Jambu (Kecamatan Mlonggo) serta Desa Bulakbaru (Kecamatan Kedung). Desa-desa tersebut unggul berdasarkan sarana dan prasarana penunjang perikanan dibandingkan desa pesisir lainnya. Hasil analisis cadangan sumber daya alam pesisir dan laut Kabupaten Jepara senilai Rp7 760 288 217 000 per tahun dihitung dari nilai manfaat ekosistem mangrove, ekosistem terumbu karang dan manfaat perikanan tangkap. Nilai produksi bruto subsektor perikanan berdasarkan PDRB Kabupaten Jepara tahun 2015 senilai Rp216 014 430 000 (ADHB). Bila dibandingkan produksi bruto sektor perikanan tahun 2015 dengan cadangan sumber daya alam pesisir dan laut Kabupaten Jepara pada tahun yang sama maka nilai ekonomi produksi hasil perikanan hanya sekitar tiga persen (3%) dari total perkiraan cadangan sumber daya pesisir dan laut di Kabupaten Jepara. Keterkaitan sektor kegiatan perikanan dengan sektor tersier melalui pariwisata bahari perlu ditunjang oleh kelengkapan sarana prasarana dan ketersediaan sumber daya alam pesisir di wilayah pesisir. Prioritas pengembangan kawasan pesisir sebagai arahan pengembangan kawasan pesisir Kabupaten Jepara berdasarkan persepsi stakeholder adalah Kawasan IV (Kecamatan Karimunjawa) melalui kegiatan pariwisata bahari

    Potensi Sumberdaya Air Terjun Tilu Untuk Pengembangan Ekowisata Di Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat

    No full text
    Air Terjun Tilu Merupakan Perairan Yang Terbentuk Secara Alami Dan Terletak Di Desa Ciwangun, Kabupaten Bandung Barat. Penelitian Dilakuan Pada Bulan Mei Dan Juni 2015 Di Kawasan Wisata Air Terjun Tilu Yang Terdiri Dari Empat Lokasi. Kawasan Wisata Air Terjun Tilu Sesuai Untuk Kegiatan Bermain Air, Duduk Santai, Melihat Pemandangan, Dan Berkemah. Daya Dukung Untuk Lokasi 1 Sebesar 78 Orang, Lokasi 2 Sebesar 12 Orang, Lokasi 3 Sebesar 52 Orang, Dan Lokasi 4 Sebesar 3 Orang. Terdapat Tiga Strategi Pengelolaan Yang Diutamakan Yaitu Strategi S-T Untuk Menentukan Batas Wilayah Yang Boleh Dipergunakan Untuk Kegiatan Wisata, Strategi S-O 1 Untuk Mengembangkan Potensi Sumberdaya Air Terjun Tilu Yang Ada Melalui Kegiatan Wisata Air, Dan Strategi S-O 2 Untuk Meningkatkan Promosi Mengenai Kawasan Wisata Air Terjun Tilu
    corecore