159 research outputs found

    Kebiasaan Makan Ikan Kuniran Upeneus moluccensis (Bleeker, 1855) Hasil Tangkapan di Perairan Selat Sunda

    No full text
    Dibawah bimbingan Yonvitner dan Ali Mashar. Ikan kuniran (Upeneus moluccensis) adalah salah satu ikan demersal yang cukup dominan tertangkap di perairan Selat Sunda dan didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Labuan, Banten. Tingginya permintaan pasar terhadap ikan kuniran menyebabkan aktifitas penangkapan terus meningkat. Hal ini dapat berpengaruh terhadap jumlah stok dan kelestarian sumberdaya ikan kuniran di daerah perairan Selat Sunda, Banten. Upaya untuk mencegah agar ikan kuniran tidak punah dan tetap lestari memerlukan langkah kebijakan yang tepat, untuk itu diperlukan informasi lengkap tentang aspek biologi dan ekologi ikan kuniran. Salah satu aspek biologi yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan kuniran ialah makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebiasaan makan dan pola makan ikan kuniran. Penelitian ini dilakukan di PPP Labuan, Provinsi Banten. Ikan contoh yang diperoleh dari PPP Labuan merupakan hasil tangkapan nelayan di sekitar perairan Selat Sunda, Banten. Data yg diambil berupa data primer. Pengambilan data primer dilakukan setiap satu kali dalam sebulan mulai bulan Maret 2011 hingga September 2011. Data yang diambil berupa panjang total ikan dan bobot basah ikan, panjang usus serta berat isi lambung. Analisis data yang dilakukan adalah ISC (Index of Stomach Content), faktor kondisi, IP (Index of Preponderance) dan analisa statistik kelompok. Ikan kuniran yang digunakan dalam penelitian ini adalah spesies Upeneus moluccensis. Nilai indeks isi lambung pada ikan kuniran jantan mulai bulan Maret hingga September adalah 0,6832 (21%); 0,4757 (15%); 0,3674 (11%); 0,6029 (19%); 0,3744 (12%); 0,3822 (12%); 0,3038 (10%) sedangkan nilai indeks isi lambung pada ikan kuniran betina dari bulan Maret hingga September adalah 0,6363 (19%); 0,6527 (20%); 0,2951 (9%); 0,4558 (14%); 0,5355 (16%); 0,4276 (13%) dan 0,2809 (9%). Ikan kuniran jantan memiliki nilai ISC tertinggi pada bulan Maret sedangkan ikan kuniran betina pada bulan April. Jenis makanan ikan kuniran adalah oleh udang dan ika

    REKONSTRUKSI UU SISTEM BAGI HASIL PERIKANAN PRO NELAYAN KECIL

    Get PDF
    RINGKASANUU Bagi hasil No 16 Tahun 1964  mengatur pembagian yang seimbang antara nelayan pemilik dan penerima. Perahu layar minimum 75 % dari hasil bersih, dan perahu motor minimum 40% dari hasil bersih untuk nelayan penggarap. Penetapan ini menjadi sebab, belum dapat optimalnya sistem bagi hasil yang memuaskan dan adil pada pelaku usaha perikanan.  Nelayan pendega umum berpenghasilan lebih besar dari nelayan ABK.  Pola ini juga menunjukkan tingkat kesejahteraan mereka dimana nelayan ABK lebih miskin dari nelayan pendega. Proporsi bagi hasil senantiasa tetap, dengan proporsi terbesar terletak menjadi milik juragan. Padahal makin lama tingkat kegunaan dari asset itu mulai berkurang.  Implikasi turunya nilai asset (kapal, mesin, dan alat tangkap) akan mengurangi tingkat efektivitas dan optimalisasi asset tersebut.  Selanjutnya untuk mendapatkan hasil yang tetap, nelayan harus bekerja lebih keras (karena pengaruh penurunan asset).  Kerja keras nelayan tersebut, menurut bagi hasil dihargai sama, baik secara teknis dan ekonomis nilai aset mulai berubah.  Hasil lapang menunjukkan nilai penyusutan (depresiasi) aset (alat, mesin dan kapal) dibebankan kepada biaya kotor, tidak ditanggung juragan atau pemilik kapal.Kata kunci: nelayan ABK, sistem bagi hasil tangkapan, nelayan pendeg

    Kekuatan Penempelan Bysus Kerang Hijau (Perna viridis) Pada Media Penempel

    Get PDF
    Green mussel is a mollusk class that has been developing to culture system. The perna viridis culture using bagan with rope as settling media. Settlement of perna on rope that strongly will support the survival rate of mussel. This research done to assessing bysus on rope media in water column. Sampel take from culturing area in Muara Kamal station. The Measurement of bysus strength use Shimadzu Autograp AGS-D Series. Data collected analyzed are descriptive and principal component analyses. Water quality that measure are temperature (30,1 oC), current (0,115 m/dt), Salinity (28,89 promil). Bysus elongasi strength between 4,598-7,892 with bysus line reach 20-60 piece. Break point yarn much happen at plaque site from bysus

    BAHAN BAKU: URAT NADI INDUSTRI PENGOLAHAN PERIKANAN MIKRO KECIL DAN MENENGAH

    Get PDF
    RINGKASANSejak pencanangan industrialisasi perikanan 2011 dan menjadi makin populer tahun 2012 sektor perikanan mulai melakukan pembenahan. Pembenahan tersebut dimulai dengan mendorong peningkatan produksi perikanan untuk komoditas yang potensial dikembangkan secara ekonomi. Beberapa komoditas unggulan diantaranya adalah udang, ikan patin, dan komoditas budidaya lainnya.  Sementara itu komoditas tangkap terus digenjot untuk mendukung industri UMKM (pengolahan) seperti ikan asin, asap dan pindang.  Namun setelah beberapa tahun berjalan, belum terlihat perkembangan yang signifikan dari tahapan pencapaian program tersebut.  Permasalahan terus menggeluti usaha ini mulai dari bahan baku yang langka, logistik yang tidak tersedia, sampai pada kebijakan impor dari pemerintah. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan bahan baku yang ada di perairan mencukupi untuk bahan baku industri pengolahan ikan kelompok UMKM nasional.Kata kunci: stok ikan, bahan baku, industri pengolahan ikan, logistik perikana

    Laju Pertumbuhan dan Penempelan Kerang Hijau (Perna viridis, Linn, 1789)

    Get PDF
    Green mussel inclusive of pelecypoda class of mollusc group that a lot of in coastal water like Jakarta Bay. Green mussel in Jakarta Bay has been culturing by society that used a collecting media that called bagan tancap. The increasing of human being activity, also to increase of the bagan reach to 3000 unit. Information about the settling ability and growth of mussel in bagan it important to studied. This research aims to know growth rate green mussel population and settling ability. To evaluate of growth used Bartalanfy plot and FISAT II, 2003. Result of growth rate from 0,42 - 0,92 up at middle, infinity length reach 12, 73 cm. The settlement rate fastest in offshore for others site

    Status Kualitas Lingkungan Sekitar Kampus Institut Pertanian Bogor (Studi Kasus Desa Babakan Raya, Darmaga).

    No full text
    Desa Babakan Darmaga memiliki jumlah penduduk yang padat dan tidak diiringi oleh upaya peningkatan daya dukung lingkungan secara memadai sehingga mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan status dan kualitas lingkungan berdasarkan parameter perairan, kebersihan, serta kondisi permukiman masyarakat di kawasan desa sekitar kampus Institut Pertanian Bogor, Darmaga. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2017. Analisis data terdiri dari analisis kualitas lingkungan, analisis spasial, dan analisis statistik regresi parsial. Hasil dari penelitian ini menunjukkan desa Babakan Raya sangat padat sehingga ditemukan parameter yang tidak sesuai dengan baku mutu diantaranya Escherichia coli dan pH setiap lokasi. Masyarakat melakukan kegiatan pengelolaan sampah meliputi kerja bakti, biopori, dan membersihkan halaman. Analisis kualitas lingkungan menggunakan lima parameter meliputi Escherichia coli, pH, BOD, suhu, dan TSS menghasilkan mutu lingkungan perairan dengan status sedang

    BIODIVERSITY AND ABUNDANCE OF DEMERSAL FISHS STOCK IN TAMBELAN WATER, NATUNA SEA

    Get PDF
    Understanding on fish diversity is essential for fish stock conservation specifically in Tambelan Island waters with a high fish diversity. This research was conducted in November 2010 at 6 sampling site around Tambelan Island. Samples were taken using trawl gear within sweeping technique. The para-meters of collected data were kind of species, number of fish, total length, and total weight. Data analyses were stock abundance (based on time trawling), diversity, richness, equity, and similarity between site sampling. The total fishes that were caugth were 1.224 individual that consisted of 105 species and 44 family of fishes. Total weight of sample was 55.3 kg, with the average stock abundance 0.27 kg/hour. Fishes catch composition were Apogonidae family 11,4%, Mulliidae family 35.7%, Nemipteridae family 16.3%, and Lutjanidae family 7,7%.  Richness value index ranged of 1862 –3.121. Equitability index ranged of 0.329 – 0.576.  Similarity index for station 3 and 6 was at 33.89% level; for station 1, 4, and 5 was at 20.31 % level,  and for station 4 and 5 was at 45,30% level from the maximum value of 100%

    Pengelolaan Multispesies Sumber Daya Ikan Demersal Pada Perikanan Dogol Di Perairan Selat Sunda.

    No full text
    Dogol merupakan salah satu alat tangkap yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan di Perairan Selat Sunda. Pada umumnya, ikan-ikan tersebut didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Labuan, Banten. Operasi penangkapan yang dilakukan sepanjang tahun dengan intensitas penangkapan yang cukup tinggi akan memberikan tekanan terhadap kelestarian sumber daya ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi hasil tangkapan dogol, status ekploitasi dan tingkat eksploitasi optimal serta mengidentifikasi alternatif pengelolaan multispesies sumber daya ikan demersal pada perikanan dogol di Perairan Selat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari hingga Juli 2014 di PPP Labuan, Banten. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data primer (yang diperoleh melalui wawancara dan kuisioner kepada nelayan dan stakeholder lain) dan data sekunder (data statistik perikanan tangkap DKP Kabupaten Pandeglang). Analisis data meliputi catch per unit effort (CPUE), revenue per unit effort (RPUE), estimasi parameter biologi, estimasi parameter ekonomi, estimasi keuntungan ekonomi, model optimasi (statik dan dinamik), analisis laju degradasi dan laju depresiasi, analisis participatory fishing ground mapping dan analisis stakeholder. Komposisi hasil tangkapan dogol sangat beragam (multispesies), yang terdiri atas ikan demersal, ikan pelagis dan cumi-cumi. Ikan demersal merupakan kelompok ikan yang paling banyak tertangkap, seperti ikan kurisi, biji nangka, sebelah, peperek dan tigawaja. Daerah tangkapan ikan-ikan tersebut berada di sekitar Perairan Selat Sunda seperti Teluk Labuan, Pulau Papole, Pulau Rakata, Pulau Panaitan, Pulau Sebesi, Pulau Carita, Pulau Sebuku, Pulau Rakata Kecil, Pulau Anak Rakata dan Tanjung Lesung. Musim puncak penangkapan terjadi sekitar bulan Juli hingga November, sedangkan musim paceklik terjadi pada bulan Desember hingga Januari dan sisanya dianggap musim sedang. Status eksploitasi multispesies sumber daya ikan demersal pada perikanan dogol adalah eksploitasi penuh (fully exploited) dan tingkat eksploitasi optimal berada pada kondisi Maximum Economic Yield (MEY) dengan nilai hasil tangkapan 1 526 ton, 13 443 trip serta keuntungan sebesar Rp. 10 949 020 000. Berdasarkan hasil analisis stakeholder, nelayan merupakan pelaksana atau pemain utama dalam pengelolaan multispesies sumber daya ikan demersal pada perikanan dogol di Perairan Selat Sunda. Bebarapa alternatif pengelolaan yang dapat dilakukan adalah pembatasan upaya penangkapan dan kuota hasil tangkapan, peningkatan ukuran mata jaring, menerapkan sistem “reward and punishment” dan membangun kerjasama antar stakeholders

    Analisis Kerentanan Ikan Terhadap Dinamika Suhu Permukaan Laut di Perairan Selat Sunda

    No full text
    Selat sunda merupakan salah satu daerah penangkapan yang bersifat open access, yang dapat dimanfaatkan oleh semua orang sehingga upaya penangkapan ikan di Selat Sunda juga tinggi. Hasil tangkapan yang diperoleh dari berbagai jenis alat tangkap mengalami penurunan baik jumlah maupun ukuran tertangkap yang semakin kecil. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kerentanan sumberdaya ikan terhadap dinamika suhu permukaan laut di perairan Selat Sunda berdasarkan data produktivitas dan suseptabilitas. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai September 2018. Ikan contoh diperoleh di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Labuan, Banten. Metode yang digunakan untuk analisis kerentanan yaitu analisis produktivitas dan suseptibilitas (PSA). Hasil analisis PSA menunjukkan bahwa ikan kurisi (Nemipterus japonicus), kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta), kuniran (Upeneus moluccensis), dan selar kuning (Sardinella leptolepis) termasuk dalam kategori kerentanan rendah (<1,6) dalam kondisi suhu yang realitf stabil. Keempat jenis ikan memiliki pola yang berbeda-beda antara suhu permukaan laut dengan hasil tangkapan ikan. Ikan kunian dan ikan selar kuning mengalami perubahan pola dari tahun 2014 sampai 2017

    Status Stok Ikan Kembung Perempuan (Rastrelliger brachysoma Bleeker, 1851) di Perairan Selat Sunda

    No full text
    Salah satu hasil tangkapan perikanan pelagis di perairan Selat Sunda yang memiliki nilai ekonomis penting adalah ikan kembung perempuan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis status stok ikan kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma) di perairan Selat Sunda. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai dengan September 2016 di PPP Labuan Banten. Ikan kembung perempuan betina, jantan, dan gabungan memiliki pola pertumbuhan allometrik negatif. Panjang ikan pertama kali tertangkap lebih kecil daripada panjang pertama kali matang gonad. Laju eksploitasi ikan kembung perempuan telah melebihi laju eksploitasi optimum (0,5), sehingga mengalami eksploitasi berlebih. Analisis model produksi surplus dengan menggunakan model fox didapatkan hasil tangkapan maksimum lestari 439,43 ton per tahun dan upaya optimum 738 trip per tahun dengan status tangkap lebih (overfishing). Upaya pengelolaan yang dapat dilakukan dengan cara tidak melebihi jumlah tangkapan yang diperbolehkan (TAC) sebesar 395,49 ton per tahun
    corecore