1,721,019 research outputs found

    Physical and Mechanical Properties of Palm Oil Frond and Stem Bunch for Developing Pruner and Harvester Machinery Design

    No full text
    A development of oil palm pruner and harvester machinery design implemented in the field still faces a problem due to the lack of effective and efficient design which is need to be solved. It was noted that in order to develop the design, an early data and information of physical and mechanical properties of palm oil frond and stem fruits is critically important. The objective of the research was to obtain the physical and mechanical properties of palm oil frond and stem in order to develop the design of pruner and harvester machinery. The result showed that tool machinery was been advantageous by the physical properties of the plant i.e. the total weight of frond and leaf which enable to support the cutting process. The average of total weight of frond and leaf was 16.8 kg. The diagonal cutting trajectory was been more advantageous because of total weight and frond shape toward to the different of the plant tissue area. The measurement result shows that cutting curve follows the time required for cutting. The comparison among cutting curve shows differences in cutting thickness or length. In this case, the thickness is linear with cutting time. Besides, those curves show differences at the height which determine the maximum value of tested material cutting resistance. Alternative solution for machinery development design is pruner-harvester for height plant below 6 m and among 6 to 12 m. For below 6 m, pruner-harvester was designed by incorporating motor as power source and cutter-disc as the knife cutter. That condition was relied on that estate which was maintenance intensively commonly used cutter-disc. Pruner-harvester above 6 m and up to 12 m was improved based on manual egrek-designed by adding fresh fruit bunch alley supply glide in order to keep the fruits still in intact form. The consideration was based on affectivity and efficiency. It also considers homogenous ecological of palm oil plant which should be maintained to reduce global warming effect. Information obtained in this research could become positive consideration and alternative solution to provide problem solvingat early development design of palm oil pruner and harvester machinery. Doi: http://dx.doi.org/10.12777/ijse.4.2.2013.69-74 [How to cite this article: Intara, Y.I., Mayulu, H., and Radite, P.A.S. (2013). Physical and Mechanical Properties of Palm Oil Frond and Stem Bunch for Developing Pruner and Harvester Machinery Design. International Journal of Science and Engineering, 4(2),69-74. Doi: http://dx.doi.org/10.12777/ijse.4.2.2013.69-74

    KAJIAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA KUE TAT CITRA SARI DI KOTA BENGKULU

    Full text link
    Usaha kecil menengah merupakan salah satu motor penggerak dalam perekonomian Indonesia karena telah terbukti mampu bertahan pada masa krisis ekonomi dan menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi pasca krisis ekonomi. Industri makanan jadi merupakan bagian dari sektor industri pengolahan yang mempunyai peranan penting dalam pemenuhan dan penganekaragaman pangan. Bisnis makanan kue atau sejenisnya menjadi pilihan yang paling menarik, dikarenakan bisnis ini mudah dilakukan dan memiliki banyak peminat. Akan tetapi, hal yang terpenting dalam membangun suatu bisnis atau usaha adalah kreatifitas dalam memproduksi produk yang dihasilkan. Panganan manis yang digemari oleh hampir seluruh kalangan masyarakat atas, menengah, sampai dengan masyarakat kalangan bawah salah satunya adalah kue tat. Salah satu UKM kue tat yang ada di Kota Bengkulu adalah Citra Sari. Penelitian ini merumuskan faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pengembangan usaha kue tat Citra Sari. Penelitian menggunakan jenis data primer dan data sekunder. Metode analisis yang digunakan yaitu matriks IFE, EFE, dan matriks SWOT. Hasil analisis matriks IFE menunjukkan bahwa berdasarkan pemberian bobot dan rating pada matriks IFE diperoleh hasil perhitungan skor total sebesar 2,821, Hasil total skor menunjukkan bahwa UKM Citra Sari memiliki faktor internal yang kuat karena skor total berada di atas rata-rata 2,5. Analisis matriks EFE memperoleh skor total sebesar 2,734 yang menunjukkan bahwa UKM Citra Sari mempunyai faktor eksternal yang kuat. Hasil analisis diagram SWOT menunjukkan bahwa posisi UKM Citra Sari berada pada kuadran V yang berarti posisi pertahankan dan pelihara

    ANALISIS DESAIN KEMASAN KOPI ROBUSTA RAFFLESIA COFFEE MENGGUNAKAN METODE KANSEI ENGINEERING

    Full text link
    Desain kemasan merupakan bagian penting dalam hal mempromosikan produk yang akan dipasarkan. Permasalahan desain kemasan produk unggulan suatu daerah terutama Bengkulu saat ini seharusnya menjadi perhatian khusus bagi pihak-pihak terkait dalam upaya promosi produk agroindustri serta upaya pembangunan ekonomi di daerah Bengkulu pada umumnya. Salah satu komoditas unggulan Provinsi Bengkulu yaitu kopi. Tingginya produksi kopi di Provinsi Bengkulu juga diikuti dengan munculnya berbagai industri pengolahan kopi diantaranya industri Rafflesia Coffee. Rafflesia Coffee merupakan salah satu industri kopi yang mengolah biji kopi Robusta dan Arabica menjadi kopi bubuk dalam kemasan. Kemasan pada kopi bubuk menjadi daya tarik tersendiri dalam indsutri kopi. Agar dapat bersaing dengan kopetitornya, maka setiap industri kopi harus memiliki keunggulan dan daya tarik yang tidak dimiliki oleh kompetitornya. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui kesan konsumen melalui kata-kata Kansei terhadap kemasan kopi robusta Rafflesia Coffee yang sudah ada dengan menggunakan metode Kansei Engineering. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2019 hingga Januari 2020 bertempat di Rafflesia Coffee House, Jl. Semeru No. 21 Pematang Gubernur, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kansei Engineering yaitu metode untuk menerjemahkan emosi atau perasaan terhadap suatu produk. Setelah melalui tahap pengumpulan kata-kata Kansei, strukturisasi kata-kata Kansei, diperoleh kata-kata Kansei hasil wawancara dengan konsumen dan referensi jurnal sebanyak 156 kata Kansei, wawancara dengan konsumen diperoleh sebanyak 48 kata, didapatkan dari jurnal sebanyak 108 kata, setelah dilakukan rekapitulasi, uji validitas, reliabilitas, dan analisis faktor didapatkan sebanyak 11 kata Kansei yang mencirikan kemasan Kopi Robusta Rafflesia Coffee berdasarkan pendapat konsumen, diantaranya: 1)Kemasan unik, 2)Kemasan menarik, 3)Kemasan yang berciri khas daerah, 4) Kemasan meyakinkan, 5)Kemasan praktis, 6)Kemasan rapi, 7)Kemasan tahan lama, 8) Kemasan dengan merk yang jelas, 9)Kemasan informatif, 10)Kemasan yang menggambarkan kopi, dan 11)Kemasan Berkualitas

    PENGARUH PERBANDINGAN LIMBAH PADAT JERUK KALAMANSI DAN KOTORAN SAPI DALAM PEMBUATAN BIOGAS DENGAN PENAMBAHAN EFFECTIVE MICROORGANISM 4 (EM4)

    Full text link
    Biogas merupakan salah satu energi terbarukan yang dihasilkan oleh aktivitas microorganisme anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan organik, seperti kotoran manusia dan hewan, limbah domestik atau rumah tangga, sampah organik yang mudah diurai (biodegradable). Biogas merupakan bahan bakar alternatif masa depan berupa gas yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun untuk menghasilkan listrik termasuk untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga. Energi biogas dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik dengan proses anaerob pada lingkungan tanpa oksigen bebas (terisolasi). Persentase gas metana yang terkandung dalam biogas mencapai 55%-75%. Proses fermentasi biogas sebagian besar menghasilkan gas metana (CH4) dan karbondioksida (CO2). Semakin tinggi kandungan metana maka semakin besar kandungan energi biogas yang dihasilkan dan sebaliknya semakin kecil kandungan gas maka semakin sedikit pula biogas yang dihasilkan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan pengaruh perbandingan limbah padat jeruk kalamansi dan kotoran sapi dalam pembuatan biogas dengan penambahan effective microorganism 4 (EM4) terhadap tekanan dan temperatur biogas yang dihasilkan. Bahan utama dalam penelitian ini yaitu limbah padat jeruk kalamansi, kotoran sapi, dan Effective Microorganism 4 (EM4). Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan alat digester sebagai dasar pengelompokannya. Faktor yang digunakan adalah faktor tunggal perbandingan limbah padat jeruk kalamansi dan kotoran sapi (B/B) dengan 4 perlakuan yaitu 0%:100%, 40%:60%, 30%:70%, 20%:80%. Seluruh perlakuan diamati selama 14 hari terhadap tekanan dan temperatur biogas yang dihasilkan. Data yang didapat dianalisis dengan metode ANOVA dan Uji DMRT menggunakan aplikasi SPSS 23. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan kotoran sapi dengan limbah padat jeruk kalamansi dalam pembuatan biogas dengan penambahan EM4 memberi pengaruh terhadap tekanan dan temperatur biogas yang dihasilkan selama 14 hari pengamatan. Tekanan biogas pada hari ke-1 dan ke-2 memberikan pengaruh tidak nyata dengan nilai tingkat signifikansi 0,330 dan 0,219 lebih besar dari 0,05, namun berpengaruh nyata pada hari ke-3 sampai hari ke-14 dengan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05. Temperatur biogas pada hari ke-2, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 13, dan 14 memberikan pengaruh tidak nyata dengan nilai ii iii signifikansi lebih besar dari 0,05, namun memberi pengaruh nyata pada hari ke-1, 3, 4, dan 8 dengan nilai signifikansi 0,004, 0,037, 0,010, dan 0,45 lebih kecil dari 0,05

    KAJIAN PENGERINGAN GABAH MENGGUNAKAN ALAT PENGERING KONVEKSI PAKSA DARI SUMBER PANAS PEMBAKARAN BIOMASSA

    No full text
    Gabah merupakan bulir padi penghasil beras sebagai makanan pokok bagi sebagaian besar penduduk dunia termasuk Indonesia. Gabah siap panen umumnya mempunyai kandungan air sekitar 21-28% tergantung cuaca saat panen berlangsung. Pengeringan merupakan proses yang ditujukan untuk menurunkan kandungan air bahan sampai dengan tingkat yang aman untuk penyimpanan dan pada proses lainnya. Pengeringan gabah pada penelitian ini menggunakan alat tipe rak cabinet dengan metode konveksi paksa yaitu udara panas di paksa masuk dari ruang bakar menuju ruang pengering yang bertujuan untuk mempercepat waktu pengeringan. Pembakaran biomassa diperlukan sebagai sumber energi panas jika tidak ada sinar matahari atau matahari tidak terik seperti pada malam hari atau musim penghujan. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendapatkan karakteristik gabah yang dikeringkan dengan ketebalan yang berbeda dan menentukan karakteristik tumpukan gabah yang berbeda terhadap laju pengeringan Rancangan penelitian ini menggunakan deskrisi kuantitatif terhadap grafik nilai rata-rata dari ulangan perlakuan untuk tinggi tumpukan gabah dalam suatu wadah. Perlakuan yang dilakukan terdiri dari 3 taraf perlakuan dengan 3 kali pengulangan sehingga didapatkan 9 unit percobaan. Perlakuan pada penelitian ini adalah sebagai berikut K1 (Tinggi tumpukan gabah 1 cm), K2 (Tinggi tumpukan gabah 2 cm), K3 (Tinggi tumpukan gabah 3 cm). Parameter pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu uji kadar air, lama pengeringan dan laju pengeringan gabah. Berdasarkan hasil penelitian, lama pengeringan yang di butuhkan untuk mencapai kadar air ≤14 % membutuhkan waktu sekitar 7 – 9 Jam pengeringan dimana hanya pada tinggi tumpkan 1 cm yang hanya membutuhkan waktu 7 jam dengan mencapai kadar air 13,67%. Sedangakan pengeringan gabah tinggi tumpukan 2 cm membutuhkan waktu 8 jam dengan mencapai kadar air 13,58%, dan tinggi tumpukan 3 cm membutuhkan waktu 9 jam perngeringan dengan mencapai kadar air 13,87%. Sedangkan laju pengeringan gabah diamati selama pengeringan berlangsung, dan didapat laju pengeringan setelah 9 jam pada tumpukan 1 cm sebesar 1,50% bk/jam, tumpukan 2 cm sebesar 1,41% bk/jam dan tumpukan 3 cm sebesar 1,33% bk/jam. Hal ini menunjukan bahwa masa air gabah yang diuapkan lebih tinggi pada pengeringan gabah tumpukan 1 cm. Kata kunci :biomassa, gabah, kadar air, konveksi paksa, pengeringa

    PENGARUH KETEBALAN TUMPUKAN PENGERINGAN RAK KEDUA TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK DAN ORGANOLEPTIK PELET IKAN

    No full text
    engeringan merupakan proses yang ditujukan untuk menurunkan kandungan air bahan sampai dengan tingkat yang aman untuk penyimpanan dan pada proses lainnya. Pengering kabinet atau tray dryer tergolong kedalam jenis pengering konveksi yang menggunakan aliran panas untuk mengeringkan produk. Jenis teknologi pengering ini cocok untuk proses pengeringan berbagai jenis bahan pangan dan bahan lainnya yang sensitif terhadap panas dan mudah berjamur seperti pelet ikan. Rancangan percobaan penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan satu faktor tunggal yaitu ketebalan tumpukan pengeringan pelet. Perlakuan yang dilakukan terdiri dari 4 taraf perlakuan dengan 3 kali pengulangan sehingga didapatkan 12 unit percobaan. Parameter pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu uji fisik meliputi kadar air, daya apung, tekstur, warna. Uji organoleptik meliputi warna, aroma, dan tekstur. Berdasarkan hasil uji organoleptik panelis lebih menyukai pelet ikan dengan perlakuan ketebalan tumpukan pengeringan 1cm. Tingkat kesukaan terhadap organoleptik warna 3,12 (coklat terang ) , aroma 3,4 (agak menyengat), dan tekstur 2,36 (keras

    KAJIAN PENGGUNAAN KIPAS PENDORONG PANAS DAN KIPAS TURBIN VENTILATOR TERHADAP PERGERAKAN SEBARAN SUHU DALAM RUANG RAK PENGERING

    No full text
    Ubi kayu (Manihot esculenta) merupakan sumber bahan makanan kedua di Indonesia setelah padi. Ubi kayu mempunyai kelemahan, antara lain menempati ruang yang besar dan memiliki kandungan air yang tinggi (40-70%) sehingga mudah rusak/tidak tahan simpan. Pengeringan merupakan suatu proses untuk memisahkan air dari bahan basah dengan introduksi panas. Proses ini digunakan dalam industri pangan dan obat untuk memurnikan produk, mengawetkan, serta menghemat biaya transportasi yang memiliki kandungan air di bawah 12% supaya tahan lama disimpan. Cabinet dryer merupakan alat pengering yang menggunakan udara panas dalam ruang tertutup (chamber). Panas yang dihasilkan dari pembakaran tersebut diarahkan kedalam rak pengering cabinet dryer dengan penggunaan alat berupa blower. Blower adalah mesin atau alat yang digunakan untuk meningkatkan tekanan udara dengan cara menyedot atau menghembuskan udara. Turbin ventilator menggunakan energi angin sebagai penggerak turbin ventilasi. Turbin ventilator digunakan sebagai ventilasi pertukaran udara panas didalam ruang rak cabinet pengering dengan udara luar alat pengering. Energi angin yang berhembus pada sudu turbin ventilator akan menghasilkan drag force dan menyebabkan turbin ventilator berputar. Berdasarkan uraian di atas maka dilakukan penelitian kajian kipas pendorong panas dan turbin ventilator bahan yang digunakan pada penelitian ini berupa singkong dengan perbedaan jumlah tumpukan. Terdapat perbedaan suhu panas pada rak alat pengering, selanjutnya perhitungan moisture content yang sejalan dengan bertambahnya moisture ratio yang berkurang. Terakhir kontur suhu yang tertinggi pada rak bagian atas dan terendah bagian bawah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil suhu Moisture Content sampel pada ruang pengering tipe rak cabinet dryer. Penelitian ini juga berguna untuk mendapatkan kontur sebaran suhu dalam ruang pengering saat proses pengeringan. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan rancangan teknis fungsional dan deskriptif, yaitu desain untuk mendapatkan fungsi pengeringan serta melihat secara deskripsi efektifitas kinerja alat pada proses aliran udara panas dalam sistem pengering dengan menggunakan instrumen pengukuran. Sampel bahan yang digunakan terdiri dari irisan singkong 2 mm dengan berbagai uji tumpukan yaitu 1 cm, 2 cm dan 3 cm. Proses pengeringan juga dilakukan perbandingan dengan pengeringan matahari (Konvensional) dengan alat pengering cabinet dryer. Proses pengambilan data kadar air dan suhu dilakukan setiap 20 menit sekali selama 6 jam. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan sampel 2 mm dengan berbagai uji tumpukan pada singkong sangat mempengaruhi proses pengeringan sehingga disimpulkan bahwa metode penggunaan tidak cocok pada pengeringan singkong semakin lama waktu pengeringan semakin menurun kadar air yang didapatkan. Suhu tertinggi di ruang pengering adalah 61,73°C dan terendah adalah 42,79°C. Pengeringan irisan singkong setebal 1 cm (K1) dengan menggunakan cabinet dryer menghasilkan kadar air akhir sebesar 24,26% sedangkan dengan menggunakan sinar matahari diperoleh kadar air sebesar 24,58%. Penurunan kadar air pada sampel K1 dengan metode cabinet dryer menghasilkan MR awal sebesar 0,87% dan MR akhir sebesar 0,05%. Sampel K2 (2 cm) diperoleh MR awal 0,060% dan MR akhir 0,14%. Sampel K3 (3 cm) diperoleh MR awal 0,94% dan MR akhir 0,24%. Pengeringan sinar matahari menghasilkan MR akhir sebesar 0,36% (K1), 0,21% (K2) dan 0,24% (K3). Perbedaan suhu pada setiap rak pengering disebabkan oleh adanya kipas panas dan penempatan bahan sampel. Kontur distribusi suhu 20 menit pertama pada rak 1 berkisar antara 42,79°C hingga 51,28°C. Kontur sebaran suhu selama 20 menit pertama pada rak 2 berkisar antara 46,86°C hingga 57,5°C. Kontur sebaran suhu selama 20 menit pertama pada rak 3 berkisar antara 47,03°C hingga 61,73°C dan pada rak 4 berkisar antara 45,46°C hingga 56,87°C. Kontur suhu setelah 4 jam 40 menit diperoleh suhu terendah 48,4°C di sudut kanan atas pada rak pengering 1 dan suhu tertinggi 62,8°C pada rak pengering 2. Distribusi kontur setelah 6 jam 40 menit mengalami turbulensi dengan temperatur rangka besi suhu terendah 37°C pada rak 1, dan temperatur tertinggi 81,3°C pada rak 3. Kata kunci : Distribusi Panas, Kabinet Pengering, Kadar Air, Kontur, Rasio Kelembaba

    KINERJA PENGERINGAN DAN KARAKTERISTIK FISIK KOPRA PADA PERLAKUAN JUMLAH TUMPUKAN POTONGAN DAGING KELAPA

    No full text
    Kelapa (Cocos nucifera L) merupakan salah satu komoditi perkebunan yang sangat penting dalam perekonomian nasional yaitu sebagai penghasil minyak nabati dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sebagai komoditas ekspor. Kopra merupakan salah satu produk tradisional utama yang diolah dari buah kelapa. Buah kelapa yang cocok untuk membuat kopra adalah buah kelapa tua dan belum bertunas. Pengeringan merupakan proses yang ditujukan untuk menurunkan kandungan air bahan sampai dengan tingkat yang aman untuk penyimpanan dan pada proses lainnya. Pengering kabinet atau tray dryer tergolong kedalam jenis pengering konveksi yang menggunakan aliran panas untuk mengeringkan produk. Jenis teknologi pengering ini cocok untuk proses pengeringan berbagai jenis bahan pangan dan bahan lainnya yang sensitif terhadap panas dan mudah berjamur seperti kelapa dan bahan pangan lainnya. Rancangan penelitian ini menggunakan observasi deskriptif kuantitatif terhadap perlakuan jumlah tumpukan kelapa dari alat pengeringan tipe rak. Perlakuan pada penelitian ini yaitu 1 tumpukan kelapa = K1, 2 tumpukan kelapa = K2, 3 tumpukan kelapa = K3, 4 tumpukan kelapa = K4 masing-masing ditempatkan dalam rak 1, 2, 3, 4 alat pengering. Wadah yang digunakan untuk pengeringan yaitu wadah kawat dengan ukuran panjang 25 cm, lebar 20 cm, tinggi 15 cm. Parameter pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu uji kadar air, lama pengeringan, laju pengeringan, tekstur dan analisis ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian kadar air tumpukan 1 sebesar 4,8%, tumpukan 2 sebesar 5,8%, tumpukan 3 sebesar 8,2%, dan tumpukan 4 sebesar 9,8%. Lama pengeringan yang di butuhkan untuk mencapai kadar air 5% membutuhkan waktu sekitar 19 Jam pengeringan. Sedangkan untuk tekstur yang tumpukan 1 dan tumpukan 3 sebesar 21,00mm/10s, pada tumpukan 2 dan 4 masing-masing sebesar 21,66mm/10s dan 21,67mm/10s. Perhitungan analisis ekonomi pengeringan kelapa yaitu nilai total fixed cost yaitu Rp. 165,67/jam, nilai variable cost yaitu Rp. 358.500/jam, dan jumlah jam kerja dalam sehari ialah 8 jam/hari. Kesimpulan dari perhitungan Biaya Pokok Produksi kopra sebesar Rp. 358.665,67/hari Kata kunci: biomassa, kadar air, kelapa, pengeringan (Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu)

    KAJIAN ASPEK TEKNIS DAN FINANSIAL PADA PABRIK MINI CPO ASAM TINGGI KAPASITAS 2 TON

    No full text
    Kelapa sawit tumbuh subur di Indonesia, wilayah tropis dengan perkebunan kelapa sawit yang tersebar hampir di seluruh pulau. Saat ini banyak bermunculan pabrik mini pengelola CPO berbasis industri kecil. Pabrik pengolahan kelapa sawit biasanya tidak menerima brondolan karena kadar asam lemak bebas yang tinggi, sementara perusahaan pengolahan menghasilkan CPO dengan ALB rendah. Oleh karena itu, industri kecil HACPO memberikan solusi bagi masyarakat yang kesulitan menjual brondolan ke pabrik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial, non-finansial, dan sensitivitas pembangunan pabrik mini CPO yang menggunakan brondolan sawit. Lokasi studi di Desa Pasar Bembah, Kecamatan Air Napal, Kabupaten Bengkulu Utara, yang merupakan wilayah penghasil kelapa sawit di Provinsi Bengkulu. Analisis finansial mencakup efisiensi biaya investasi, proyeksi keuntungan, dan kelayakan ekonomi, sedangkan aspek non-finansial meliputi faktor teknis, lingkungan, sosial, serta dukungan infrastruktur lokal. Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat dampak perubahan variabel kunci seperti harga bahan baku, biaya operasional, dan harga jual CPO. Metode penelitian meliputi pengumpulan data primer melalui observasi langsung dan data sekunder melalui literatur. Data dianalisis menggunakan kalkulator dan Microsoft Excel dalam bentuk tabulasi dan deskriptif. Analisis kuantitatif digunakan untuk menilai aspek finansial, termasuk arus kas tunai, biaya investasi, biaya operasional, harga jual, dan beli, serta kelayakan investasi dengan kriteria NPV, IRR, dan Payback Period. Hasil analisis menunjukkan proyek pembangunan pabrik mini CPO layak direalisasikan dengan indikator finansial yang positif. NPV sebesar Rp 129.360.329 menunjukkan keuntungan bersih setelah arus kas didiskonto. IRR mencapai 121,60%, jauh lebih tinggi dari suku bunga acuan. Payback Period hanya 10 bulan 3 hari, menandakan proyek ini menguntungkan bagi investor dan berpotensi meningkatkan pendapatan petani sawit lokal. Keberadaan pabrik ini diharapkan dapat mendorong ekonomi pedesaan, menciptakan lapangan kerja baru, dan mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di Desa Pasar Bembah. (Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu

    IDENTIFIKASI BIOMEKANIK KEGIATAN PEMANENAN KELAPA SAWIT MENGGUNAKAN DODOS DAN EGREK DI KEBUN MASYARAKAT DESA (KMD) DESA LUBUKNGIN MUSI RAWAS

    Full text link
    Kegiatan pemanenan merupakan hal yang paling penting yang harus di perhatikan dalam suatu estate/perkebunan kelapa sawit. Kegiatan mulai dari memotong tandan matang sesuai kriteria matang panen, mengumpulkan dan mengutip brondolan serta menyusun tandan di Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) berikut berondolannya merupkan bagian dari serangkaian proses pemanenan. Biomekanika merupakan kombinasi antar keilmuan mekanika, antropometri, dan dasar ilmu kedokteran (biologi dan fisiologi). Biomekanika menggunakan konsep fisika dan teknik untuk menjelaskan sistem kerja dan gaya yang bekerja pada berbagai macam postur tubuhdalam beraktivitas sehari-hari.Biomekanik merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antar pekerja dan peralatannya, lingkungan kerja dan lain-lain untuk meningkatkan produktifitas dan meminimalisasi kemungkinan cedera. Antropometri dapat diartikan secara jelas yaitu merupakan suatu ilmu yang berkaitan secara khusus menyangkut dimensi tubuh manusia. Dimensi statis merupakan pengukuran yang terkait dengan pengukuran dimensi tubuh manusia dalam keadaan diam atau dalam posisi yang dibakukan (Jennie dkk. 2017). Contohnya seperti tinggi badan, panjang lengan, tinggi siku, tebal paha, duduk dan sebagainya. Penelitian ini menggunakan data berupa kondisi umum lokasi penelitian yaitu di Kebun Masyarakat Desa (KMD) Desa Lubukngin Musi Rawas, data wawancara personal pemanen dan pertanyaan terkait keluhan sakit yang dialami, pengukuran fisik antropometri pemanen berupa pengukuran panjang tangan, lengan bawah, lengan atas, punggung, berat badan serta pengukuran berat beban dan data hasil pengamatan postur gerak tubuh pemanen kemudian dianalisis menggunakan metode Range Of Motion (ROM) serta perhitungan besar gaya tekan pada L5/S1. Hasil penelitian ini menunjukan pemanen melakukan kegiatan memotong TBS menggunakan dodos dan egrek dengan postur membungkuk, menunduk, berdiri, mondongak dan kuda-kuda. Postur membungkuk, menunduk, berdiri, mondongak dan kuda-kuda merupakan postur tidak alamiah yang beresiko menimbulkan cedera yang biasa dilakukan pemanen kelapa sawit. Postur membungkuk, menunduk, berdiri, mondongak dan kuda-kuda pada umumnya memiliki skor ROM yang besar. Pentingnya kenyamanan dan keselamatan pekerja penulis merasa perlu adanya suatu penelitian untuk mengetahui bagaimana biomekanik postur kerja pemanen pada saat kegiatan pemanenan dilakukan
    corecore