6 research outputs found

    SISTEM INFORMASI PELAYANAN PASIEN RAWAT INAP PADA RUMAH SAKIT BINA SEHAT JEMBER BERBASIS WEB

    Get PDF
    Rumah Sakit Bina Sehat Jember adalah tempat rujukan dari beberapa puskesmas di daerah jember dan sekitarnya, tentunya setiap hari banyak pasien yang dating berkunjung, baik pasien dengan penyakit ringan sampai dengan pasien dengan penyakit berat. Dengan semakin banyak pasien yang datang tentunya secara otomatis pihak rumah sakit akan mengalami kendala atau kesulitan dalam melayani pasien, baik dari sisi pencatatan kunjungan, pencatatan tindakan, serta pencatatan pembayaran tagihan pasien tersebut, bila semua itu masih dilakukan secara manual tentunya akan membutuhkan waktu yang lama.  Proses pencatatan manual ini menjadi salah satu penyebab terhambatnya pelayanan rumah sakit. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dibuat suatu sistem informasi untuk pelayanan pasien rawat inap pada rumah sakit bina sehat jember sebagai obyek tugas akhir. Bahasa pemrograman yang dipakai untuk membuat sistem informasi ini menggunakan bahasa pemrograman PHP dan didukung dengan MySQL sebagai databasenya. Website Sistem Informasi Pelayanan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Bina Sehat Jember ini dibangun dalam bentuk website dinamis. Hasil penelitian ini membuat sistem pencatatan baru yang lebih fleksibel dan dinamis. Tugas akhir ini pembuatan sistem informasi pelayanan pasien rawat inap pada rumah sakit bina sehat jember berbasis web telah berhasil diimplementasikan

    SISTEM PENGONTROLAN PERSEDIAAN OBAT BERBASIS WEB DI APOTEK BUANA FARMA JEMBER

    Get PDF
    Pengontrolan persedian obat merupakan aktifitas penting untuk memastikan bahwa obat selalu tersedia dalam kondisi baik atau tidak kadaluarsa. Obat memiliki rentang waktu tertentu untuk dikonsumsi secara aman. Penggunaan obat diluar batas waktu aktif atau expired akan menimbulkan efek berbahaya seperti keracunan, bahkan kematian. Oleh karena itu, setiap apotek harus memperhatikan batas kadaluarsa obat sehingga diperlukan suatu sistem pengontrolan persediaan obat dalam berbagai jenis dan satuan. Kualitas pengontrolan ini akan mempengaruhi kualitas pelayanan kepada para konsumen, perkembangan dan keberlanjutan usaha. Apotek Buana Farma merupakan apotek yang melayani penjualan obat berdasarkan resep dokter dan pembelian obat-obatan kepada para pemasok dari dalam maupun luar kota. Saat ini pengontrolan data obat masih manual, sehingga dibutuhkan suatu sistem pengontrolan otomatis persediaan obat berbasis web agar informasi persediaan obat dan retur obat expired dapat dilakukan setiap saat. Sistem ini dapat mempermudah dan mempercepat karyawan dalam menangani transaksi penjualan, pembelian, pengontrolan persediaan obat dan retur obat expired secara lebih efektif dan efisien

    Food Diversification: Strengthening Strategic Efforts to Reduce Social Inequality through Sustainable Food Security Development in Indonesia

    Get PDF
    Potential food resources can be utilized through food diversification as a part of the government's efforts to minimize socio-economic inequality with sustainable food security development program. The purpose of this study was to observe the role of food diversification in reducing social inequality through sustainable food security development. This study uses descriptive qualitative methods with secondary data collection techniques which include data references as well as documentation related to food security development. The results showed that in Indonesia, food diversification program has an impact on increasing income, household resilience and welfare with a decrease in the number of the rural poor population of 4.7% (from 16.31 people to 15.54 people). It was positively correlated with the increase in farmers' income by (IDR) 30.37 million per capita increase (4.47%). Then, followed by the level of food security in the district area reached 80.53% (335 regions) and for urban areas amounted to 92.85% (91 regions). National food security can be achieved through maximizing the potential use of food resources at the regional level, by diversifying food based on local wisdom and optimally local resources. It can be concluded that food diversification is a policy that can be used by the government to increase community economic income and reduce poverty and social inequality

    Creative Fusion: Dim Sum Variation for Vegetarians Using White Tofu with Carrots, Bamboo Sprouts, and Mushroom Substitute

    Get PDF
    Dim sum typically contains items derived from animals, and the main ingredients in this vegetarian Dim sum are carrot white tofu, white tofu mushroom, and white tofu bamboo sprout, which the author makes without animal products. The aim of this study was to determine how well the vegetarian Dim sum carrot white tofu, white tofu bamboo sprout and white tofu mushroom tested for inventiveness. The data collection approach is organoleptic test evaluation and the method used is descriptive quantitative. Questionnaires were distributed in the Lebdosari III RT 02 Rw 05 region. The 81 respondents who participated in the quantitative data analysis evaluated the vegetarian Dim sum made of white tofu, carrots, bamboo shoots, and ear mushrooms. According to the results of the organoleptic test, 54.3% of the respondents liked the taste of the vegetarian Dim sum with bamboo sprouts, while 44.4% liked the smell. The carrot and white tofu vegetarian Dim sum was favored by 25.9% for its appearance and 70.4% for its texture

    Implementation of Government Regulation Number 23 of 2018 Related to Income Earned by Taxpayers in The Msme Sector

    Get PDF
    MSMEs have relatively contributed to the pressure during the pandemic now.This study aims to find out how the implementation related to government regulation number 23 of 2018 income earned by the MSME sector taxpayers in the Regency Bantaeng . This type of research used is descriptive method qualitative . This research data is sourced from the results of interviews with MSME tax payers and KPP Pratama employees who were processed . Data collection methods used in this research are observations, interviews, and document studies in which the author in a manner comes to location researchThe results of this study show a deep bottom application related to government regulation number 23 of 2018 income derived by taxpayers from the MSME sector KPP Pratama has tried to maximize the application of the 0.5% final income tax but not yet fully effective by looking at the realization of MSME tax data collection alone.As for who became a limitation in this study is limited to the territory of being the subject of this study, where this study is only for SMEs in the regional districts of Bantaeng just. And the characteristics / advantages of this study lie in the observation period related to the actual latest tax data that is year 202

    “Resepsi Khalayak Mengenai Imitasi Pada Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di Media Televisi”

    Get PDF
    ABSTRAKSI Nama : Amalia Dessy Witari NIM : D2C008007 Judul : “Resepsi Khalayak Mengenai Imitasi Pada Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di Media Televisi” Penelitian ini membahas tentang penerimaan pemirsa mengenai tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di media televisi, khsususnya mengenai peniruan yang dilakukan Boyband dan Girlband Indonesia. Tujuan tayangan ini sebenarnya untuk memberi hiburan pada pemirsa dan menonjolkan kekreatifan sebagai aspek penting dalam dunia musik, namun peniruan dan penggunaan suara palsu yang dilakukan Boyband dan Girlband Indonesia menuai baik opini pro maupun kontra dari masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerimaan masyarakat terhadap tayangan Boyband dan Girlband Indonesia. Teori yang digunakan adalah Teori Perbedaan Individual (Melvin D. Defleur, 1970), Teori Belajar Sosial (Albert Bandura, 1977) dan Budaya Populer (Storey, 2007). Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis resepsi untuk meneliti bagaimana interpretasi pemirsa mengenai tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di media televisi. Analisis resepsi dipilih karena memiliki cara pandang khusus tentang audiens atau dalam hal ini adalah pemirsa yang menonton tayangan Boyband dan Girlband Indonesia dimana pemirsa dipandang bukan hanya sebagai konsumen dari isi media tetapi juga sebagai producer of meaning. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebagai bagian dari interpretive communities, perbedaan pemaknaan antara masing-masing informan penelitian turut dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti selera dan kebiasaan menonton televisi. Namun latar belakang sosial serta tingkat pendidikan mereka juga menentukan pandangan dan argumen yang mendukung opini mereka. Pembacaan informan dalam memaknai tayangan Boyband dan Girlband Indonesia bervariasi. Informan yang menganggap bahwa tayangan Boyband dan Girlband Indonesia masih dalam batas wajar, memaknai tayangan Boyband dan Girlband Indonesia dengan media memiliki hubungan simbiosis mutualisme (dominant reading). Informan juga ada yang menganggap memilih bersikap negosiatif (negotiated reading). Informan menerima teks tayangan Boyband dan Girlband Indonesia yang ditawarkan tapi juga mengkritisi sesuai dengan kerangka pikir mereka. Namun sebagian informan cenderung berada dalam posisi radikal (oppositional reading). Informan memaknai tayangan Boyband dan Girlband mengandung unsur imitasi dan terdapat pembodohan publik karena dalam tayangannya menggunakan suara palsu atau lypsinc. Implikasi teoritis pada penelitian ini adalah informan terbagi menjadi tiga tipe pemaknaan. Implikasi praktis menunjukan bahwa media harus membuat tayangan atas keasadaran bersama untuk membangun masyarakat yang lebih bermoral dengan penyiaran hiburan yang sehat. Sedangkan implikasi sosial diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi para pemirsa untuk dapat melihat sedikit lebih dalam lagi nilai-nilai apa yang dilekatkan oleh media dalam tayangan Boyband dan Girlband Indonesia. ABSTRACT Nama : Amalia Dessy Witari NIM : D2C008007 Judul : “The Audience Reception Regarding to the Imitation of Indonesian Boyband and Girlband Show in Television Media” This study discussed the acceptance of audience impressions of the Indonesian Boyband and Girlband’show in television media, especially the impersonation done by the Indonesian Boyband and Girlband. The purposed of the show was actually to provide entertainment to the audience and highlight creativity as an important aspect in the world of music, but the impersonation and the vocal used by the Indonesian Boyband and Girlband arose both pros and cons opinions of the community. The purposed of the research is to find out how the public acceptance of the impressions of the Indonesian Boyband and Girlband. The author used Individual Differences Theory (Melvin D. Defleur, 1970), Social Learning Theory (Albert Bandura, 1977), and Popular Culture (Storey, 2007). The author used a qualitative approach with the reception analysis method to study how was the audience’s interpretation about the show of the Indonesian Boyband and Girlband in television media. Reception analysis chosen because it had a special perspective on the audience or in this case the audience watching the Indonesian Boyband and Girlband viewed not only as consumers from media content but also as a producer of meaning. The result of this study indicated that as part of the interpretive communities, the difference in meaning of each research informants was influenced by psychological factors such as taste and the habit of watching television. However, their social background and level education also determined the views and arguments that supported their opinions. Readings on the informants in interpreting the show of the Indonesian Boyband and Girlband varied. Informants who assumed that the show of the Indonesian Boyband and Girlband were still within a reasonable limit, interpreted that the Indonesian Boyband and Girlband with the media had a symbiotic relationship mutualism (dominant reading). Informants also assumed to be negosiatif (negotiated reading). Informants received a show text of the Indonesian Boyband and Girlband offered but also criticized according to their frameworks. However, some informants tended to be in a radical position (oppositional reading). Informants interpreted the show of Boyband and Girlband had an imitation and duping the public because they were using fake voice or lip sync. Theoretical implications of this research are divided into three types of informants meanings. Practical implications indicates that the media need to make impressions on mutual awareness to build a more moral society by broadcasting wholesome entertainment. While the social implications are expected to contribute for the viewers to be able to see a little deeper into what values attached by the media impressions of Indonesian Boyband and Girlband’s show. Resepsi Khalayak Mengenai Imitasi Pada Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di Media Televisi SUMMARY SKRIPSI Penyusun Nama : Amalia Dessy Witari NIM : D2C008007 JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012 Resepsi Khalayak Mengenai Imitasi Pada Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di Media Televisi Latah di dunia hiburan, khususnya televisi sudah mendarah daging dan menjadi fenomena klasik yang tidak kunjung selesai. Budaya latah ini seakan-akan justru menjadi warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. Fenomena ini dapat diamati sejak mulai menjamurnya stasiun televisi swasta baru. Stasiun televisi swasta baru, baik yang bersifat lokal maupun nasional, di satu sisi mampu menghadirkan program tayangan beragam. Variasi ini bisa memberikan keleluasaan penonton untuk memilih program yang sesuai dengan keinginannya. Akan tetapi dilain pihak, tingkat persaingan untuk memperoleh rating dan perhatian penonton juga semakian meningkat. Dampak negatifnya adalah penurunan kualitas tayangan yang disajikan kepada penonton karena hanya berorientasi kepada profit semata. Acara dari sebuah stasiun televisi yang baru dan fenomenal akan disambut masyarakat dengan rasa ingin tahu dan antusiasme yang tinggi. Dengan segera, rating acara tersebut melonjak menduduki peringkat teratas dalam industri hiburan. Tanpa menunggu aba-aba, stasiun televisi lain mulai berlomba-lomba membuat tayangan serupa yang secara langsung mengadopsi tema dasar dari tayangan pendahulunya. Fenomena terkini dari meledaknya populasi Boyband dan Girlband menjadi salah satu contoh nyata. Setelah sempat beberapa tahun media menyajikan hiburan musik dan menjadikan masyarakat demam akan band dan pop melayu, kini Boyband dan Girlband Indonesia hadir menyedot perhatian publik yang sudah mendominasi dan banyak bermunculan di industri musik dan pertelevisian Indonesia. Layaknya jamur yang tumbuh subur di musim hujan, Boyband dan Girlband pun tumbuh subur ditengah kejenuhan masyarakat akan musik melayu, dan seperti yang biasanya sudah terjadi, bila sesuatu tengah melanda negeri ini, maka tidak sedikit pihak yang akan memanfaatkan fenomena tersebut untuk mengambil keuntungan. Demikian pula dengan fenomena Boyband dan Girlband yang tengah membanjiri Indonesia. Media berlomba-lomba untuk mengorbitkan Boyband dan Girlband baru dengan tujuan utama yang tidak lain adalah uang dengan mengesampingkan kualitas, bahkan salah satu stasiun televisi, SCTV membuat program acara pencarian bakat untuk membentuk Boyband dan Girlband baru secara instant, hal itu dibuat untuk memanfaatkan sifat masyarakat Indonesia yang seleranya gampang berubah. Tidak dapat dipungkiri, hubungan media dengan Boyband dan Girlband layaknya suami istri yang saling membutuhkan satu sama lain. Tak mungkin Boyband dan Girlband Indonesia bisa terkenal tanpa bantuan media. Media memang sulit dipisahkan dalam setiap kali membahas persoalan komunikasi dalam masyarakat, yang sudah tentu dalam fenomena ini, terkait dengan media sebagai saluran untuk menyampaikan pesan kepada audiens (publik). Seperti yang dirumuskan Keith Tester, tujuan dari media itu dikembangkan untuk memenuhi suatu kebutuhan informatif, agen perubahan, dan yang tidak kalah penting adalah perubahan. Memang dapat dipahami bahwa media juga memiliki agenda setting yang beragam, tergantung target apa yang ingin dicapai dari agenda itu (Tester, 2003: 53). Seperti yang ditampilkan, media banyak menyuguhi tontonan Boyband dan Girlband, namun secara bersamaan pada sisi yang lain media juga menggelar debat dan kritik akan Boyband dan Girlband. Apa yang dapat dipetik dari tayangan itu adalah, sebenarnya ada semacam agenda yang tersembunyi yang sengaja ditawarkan oleh media kepada pemirsanya. Satu hal yang patut diingat, tingkat terpaan media di Indonesia masih diduduki oleh televisi. Diperkirakan 90% rumah tangga di Indonesia kini memiliki pesawat televisi (Iriantara, 2005: 70). Bayangkan apabila seluruh media menyajikan tayangan Boyband dan Girlband secara terus menerus dan dilihat hampir seluruh rumah tangga di Indonesia. Fenomena Boyband dan Girlband ini sangat menyedihkan sekali karena ini merupakan sebuah tanda bahwa masyarakat Indonesia sudah mulai kehabisan sosok berkualitas yang dapat dijadikan idola. Bayangkan, masyarakat kita sekarang ini lebih mengidolakan para Boyband dan Girlband tersebut, sedangkan rata-rata Boyband dan Girlband yang ada di Indonesia memiliki kualitas yang pas-pasan saja yang hanya mengandalkan ketampanan mereka. Berbeda dengan Indonesia, Boyband dan Girlband di Korea sebelum mereka semua diorbitkan, mereka dilatih dulu oleh perusahaan agensi yang merekrut mereka selama beberapa tahun. Mereka dilatih sejak mereka berumur masih belia, diseleksi dengan ketat. Jadi mereka tidak asal langsung menjadi artis, karena harus melewati waktu bertahun-tahun kemudian memulai debut menjadi artis. Menjamurnya Boyband dan Girlband Indonesia dalam sekali waktu ini merupakan manifestasi budaya latah. Bermodalkan wajah menarik, kemampuan menari yang bisa dilatih dan musikalitas yang pas-pasan, Boyband dan Girlband ternyata mampu menguasai panggung musik Indonesia. Fenomena Boyband dan Girlband ini terinspirasi oleh tren serupa yang sudah menunjukkan eksistensinya di negara tetangga, baik Jepang, Korea dan beberapa negara Asia lainnya. Kesuksesan Boyband dan Girlband di negara asalnya bukan terjadi dalam satu malam, namun melalui proses panjang untuk bisa menunjukkan karakter khas dari musik yang berkembang di negara tersebut. Pegiat musik Indonesia, melihat peluang ini sebagai ladang emas dan mencoba mengadaptasinya dengan menciptakan Boyband dan Girlband dadakan. Ketika Boyband pertama kali muncul di televisi, datang berbagai penilaian. Penilaian yang ada bukan hanya pro melainkan juga kontra. Masyarakat yang mendukung adanya fenomena ini pun berkomentar positif dan ikut serta dalam acara-acara musik yang sedang naik daun ini. Terlebih banyak dari mereka yang mendukung mengikuti trend dan gaya dari para personel Boyband dan Girlband tersebut. Lain lagi dengan yang menolak, masyarakat mengecam dan banyak yang menghina Boyband dan Girlband Indonesia dan dianggap tidak pantas untuk tampil karena sebagian besar dari mereka merupakan imitasi dan juga plagiat. Masyarakat mulai menunjukkan sikapnya dengan membuat forum-forum di jejaring sosial. Bukan hanya forum pendukung Boyband dan Girlband namun juga forum anti Boyband dan Girlband Indonesia. Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia mendatangkan permasalahan yang timbul seiring dengan kenyataan tentang dijadikannya tontonan ini sebagai bagian dari sebuah industri pertelevisian yang mendatangkan banyak keuntungan bagi stasiun televisi yang menyiarkan Boyband dan Girlband Indonesia. Pasalnya, Boyband dan Girlband yang banyak tampil di media televisi menunjukkan dengan kualitas mereka yang dianggap buruk. Artinya, mereka tampil dengan suara yang apa adanya, tak jarang mereka memilih lypsinc untuk tampil di depan panggung. Artinya media telah melakukan pembodohan kepada masyarakat yang harusnya mereka menyanyi Live melalui suara asli, justru ditutup dengan lypsinc. Stasiun televisi terkemuka seperti RCTI, SCTV, dan Trans TV setiap pagi hampir menampilkan acara musik Boyband dan Girlband Tanah Air. Tentunya media melakukan ini semua tanpa melakukan penyaringan Boyband dan Girlband yang berkualitas. Jadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah resepsi khalayak mengenai imitasi pada tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di media televisi? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui resepsi dari masyarakat mengenai imitasi terhadap tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di media televisi. Teori yang dipakai adalah teori pembacaan khalayak dari Stuart Hall, teori budaya pop dari John Storey, dan teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura. Penelitian ini menggunakan paradigm interpretif dengan pendekatan kualitatif. Adapun subjek penelitian ini adalah khalayak yang berumur 12-22 tahun yang pernah menonton tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di media televisi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis resepsi yang memiliki cara pandang khusus tentang audiens atau dalam hal ini adalah pemirsa televisi dimana analisis resepsi memandang pemirsa sebagai “producers of meaning”, bukan hanya sebagai konsumen media. Teks yang disajikan dalam tayangan tersebut mengarahkan khalayak kearah pembacaan yang diinginkan. Namun adanya perbedaan latar belakang, tingkat pendidikan dan pekerjaan menyebabkan terjadinya perbedaan dalam pembacaan, maka muncul tiga tipe terhadap teks tayangan Boyband dan Girlband Indonesia: 1. Dominant Hegemonic reading, Informan mengambil makna yang mengandung arti dari tayangan televisi dan meng-decode-nya sesuai dengan makna yang dimaksud (preferred reading) yang ditawarkan teks media. Informan sudah mempunyai pemahaman yang sama, tidak akan ada pengulangan pesan, pandangan yang ditampilkan media dengan audiens sama, langsung menerima. Informan yang berada pada posisi ini adalah informan III. Dalam arti, informan ini akan menerima begitu saja teks media sehingga hasil interpretasinya terhadap tayangan Boyband dan Girlband Indonesia sama dengan yang dihadirkan ditelevisi, yaitu tayangan Boyband dan Girlband Indonesia merupakan tayangan yang menyajikan hiburan. Tayangan ini dijadikan alat untuk mendongkrak popularitas para Boyband dan Girlband Indonesia yang sebelumnya tidak terkenal akan menjadi terkenal lewat tayangan ini. Jadi antara tayangan Boyband dan Girlband Indonesia dan televisi mempunyai hubungan simbiosis mutualisme. Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia membutuhkan grup Boyband dan Girlband untuk mendapatkan sumber hiburan, begitu juga Boyband dan Girlband membutuhkan program musik sebagai tempat untuk menaikkan popularitasnya sehingga dikomersiilkan oleh media. 2. Negotiated reading, Informan yang masuk posisi ini, akan menginterpretasikan tayangan Boyband dan Girlband Indonesia yang ditontonnya dengan pemaknaan mereka sendiri. Makna yang dimunculkan bersifat negosiatif, dalam arti pemaknaan informan terhadap tayangan Boyband dan Girlband Indonesia tidak berbeda secara keseluruhan dengan makna dominan, tetapi juga tidak sama dengan preferred reading yang ada. Informan menanggapi Boyband dan Girlband Indonesia yang ada sekarang ini bisa dari hasil meniru ataupun tidak, yang menganggap meniru karena karena Boyband dan Girlband Indonesia selalu memberikan tampilan yang dianggap sama dengan Boyband dan Girlband Korea. Sedangkan yang menganggap tidak meniru karena Boyband dan Girlband Indonesia hanya mengambil sesuatu yang positif dari hasil yang sudah ada pada Boyband dan Girlband di Korea 3. Oppositional reding, Informan akan memaknai langsung berlawanan dengan preferred reading, informan memiliki pemaknaan yang berbeda sama sekali dengan makna dominan. Informan secara radikal memunculkan pemaknaan dari tayangan Boyband dan Girlband Indonesia berbeda dan bertentangan dengan preferred reading. Informan menganggap dengan adanya tayangan Boyband dan Girlband Indonesia yang terus menerus justru bukan membuat nama Boyband dan Girlband Indonesia dikenal. Karena apa yang ditampilkan bukanlah suatu hiburan. Tapi suatu pembodohan dengan menyanyikan lagu mereka lewat lypsinc voice. Informan juga menganggap bahwa Boyband dan Girlband Indonesia telah melakukan banyak peniruan lewat tayangan Boyband dan Girlband yang sudah ada di Korea. DAFTAR PUSTAKA Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori. (2008). Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT. Bumi Aksara Barker, Chris. 2009. Cultural Studies, Teori dan Praktek. Yogyakarta: Kreasi Wacana Bulman, Rabbi Shabsi. 2009. Yahudi Infotainment: Benarkah Media Indonesia telah terbuai dan dibeli?. Yogyakarta: Pustaka Solomon Creswell, John W. 2007. Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches 2nd Edition. Thousand Oaks: Sage Publications. Denscombe, Martyn. 2007. The Good Research Guide for small-scale social research projects. Third Edition. New York-USA: McGraw-Hill Education. Djoha. 2005. Psikologi Musik. Yogyakarta: Penerbit Buku Baik Yogyakarta Downing, John, Ali Mohammadi, Annabelle Sreberny-Mohammadi. 1991. Questioning The Media: A Critical Introduction. California: SAGE Production Effendy,Onong Uchjana. 2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Eko A. Meinarno, Bambang Widianto, Rizka Halida. 2011. Manusia dalam Kebudayaan dan Masyarakat. Jakarta: Salemba Humanika Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representations and Signifing Practicies. California: SAGE Production Halim, Syaiful. 2010. Gado-Gado Sang Jurnalis. Jakarta: Gramatama Publishing Hayuningtyas, Jufenda Winursito. 2007. Infotainment dan Televisi Swasta Indonesia, Peiode 01-30 April 2006. Yogyakarta: Skripsi-Ilmu Komunikasi-FISIP-UGM. Hurley, S & Nick Charter. 2005. Perspectives on Imitation. Cambridge, MA: MIR Press. Hurlock, E.B. 2006. Psikologi Perkembangan edisi keenam : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Penerbit Erlangga Iriantara, Yosal. 2005. Media Relations; Konsep, Pendekatan, dan Praktik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media Jensen, Klaus Bruhn, & Jankowski, Nicholas W (2003). A handbook of qualitative methodologies for mass communication research. London EC4P 4EE : 11 New Fetter Lane John, Fiske. 1990. Cultural & Communication Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif: Yogyakarta: Jalasutra Junaedi, Fajar. 2007. Komunikasi Massa: Pengantar Teoritis. Yogyakarta: Penerbit Santusta K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln Terjemahan Dariyantno dkk. 1994. Handbook of Qualitative Research. Thousand Oaks, California: SAGE Publications Kriyantono, Rahmat.2006. Teknik Praktis Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup Kuswarno, Engkus. 2009. Metode Penelitian Komunikasi Fenomenologi; Konsepsi, Pedoman dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjajaran Littlejohn, Stephen W.,1999, Theories of Human Communication ed.6rd, California, Wadsworth.. Livingstone, Sonia M. 1991. “Audience Reception: The Role of The Viewer in Retelling Romantic Drama” dalam Mass Media and Society. Edited by James Currran and Michael Gurevitch. GBR: Rowland Photosetting Limited Moleong, Lexy J. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya Morissan. 2005. Media Penyiaran: Strategi Mengelola Radio dan Televisi. Tangerang : Ramdina Prakarsa. Rakhmat, Jalaluddin. 2008. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya Richard West & Lynn H. Turner. 2008. Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika Ruben, B.D., & Lea P. Stewart. 1998. Communication and Human Behavior. Needham Heights: A Viacom Company Santrock, John, W. 2003. Adolescence: Perkembangan Remaja. Jakarta : Penerbit Erlangga Setiawan, Errie. 2008. Short Music Service Refleksi Ekstramusikal Dunia Musik Indonesia” (Propethic Freedom, 2008). Bandung. Sobur, Alex. 2004. Semiotika Komunikasi cet ke-2. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Sumadiria, AS Haris. 2006. Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature, cetakan Kedua. Bandung: PT Remaja Rodakarya Offse Tester, Keith 2003. Media, Budaya dan Moralitas. Yogyakarta : Juxtapose dan Tiara Wacana Yusuf, Syamsu, M.Pd., 2008. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Rosyda Karya, Tobs, Stewart L. & Sylvia Moss. 2005. Human Communication: Konteks-Konteks Komunikasi Buku Ke-2. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa Edisi Kedelapan. Jakarta: Kencana Winardi. 2003. Enterpreneur & Enterpreneurship. Bogor: Kencana Prenada Media Group Sumber Internet: http://www.kritikmusikindonesia.blogspot.com http://www.tabloidbintang.com/extra/lensa/18747-dari-21-Boyband dan Girlband-a-girlband-indonesia-mana-yang-berpotensi-menand
    corecore