1,721,068 research outputs found
Analisis Kepuasan Peternak Plasma Terhadap Pola Kemitraan Ayam Broiler Studi Kasus Kemitraan Dramaga Unggas Farm Di Kabupaten Bogor
Keterbatasan modal dan teknologi dalam melakukan usaha peternakan ayam broiler telah menyebabkan berkurangnya persentase peternak mandiri, dimana sebagian besar memilih untuk bergabung dengan perusahaan kemitraan. Dramaga Unggas Farm (DUF) merupakan salah satu perusahaan peternakan ayam broiler berbasis kemitraan yang memanfaatkan peluang tersebut. Dalam kemitraan DUF, setiap kegiatan dalam budidaya ayam broiler disepakati dalam suatu kontrak kerjasama. Dengan pola kemitraan ini peternak memperoleh keuntungan dari segi permodalan, sedangkan perusahaan inti diuntungkan karena bisa memasarkan hasil produksi berupa sarana produksi peternakan. Permasalahan yang sering terjadi adalah adanya perusahaan inti yang kurang bertanggung jawab pada peternak plasmanya, hal ini disebabkan ketidakseimbangngan posisi tawar antara inti dan plasma pada perjanjian yang disepakati. Pihak inti dengan latar belakang yang lebih kuat, baik dari modal, SDM, dan manajemen menentukan seluruh isi perjanjian, sedangkan peternak plasma hanya dapat menerima saja. Indikasi dari ketidakpuasan peternak plasma dirasakan oleh DUF, yaitu ditunjukkan oleh tingginya frekuensi keluar masuk peternak plasma di perusahaan dan jumlahnya yang cenderung berkurang dalam satu tahun terakhir. Tingkat kepuasan peternak plasma terhadap perusahaan inti akan membawa dampak positif bagi kelangsungan usaha kemitraan. Peternak plasma yang merasa puas, cenderung loyal dan tidak akan mencari perusahaan kemitraan lain. Berdasarkan kondisi yang ada, penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui secara jelas tentang bagaimana karakteristik peternak plasma, bagaimana kedudukan dan hubungan antara inti dan plasma dalam perjanjian kemitraan, serta bagaimana tingkat kepuasan plasma terhadap pelaksanaan kemitraan DUF. Pola kemitraan yang dijalankan adalah inti plasma, dimana masing-masing memiliki hak dan kewajiban sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam perjanjian kemitraan. Inti berperan membantu plasma dalam hal permodalan, sedangkan plasma menyediakan kandang dan biaya pemeliharaan. Pemasaran hasil panen dilakukan oleh inti dengan harga yang telah disepakati dalam kontrak. Namun, dalam kenyataannya peternak plasma menjadi pihak yang lebih lemah posisinya karena kontrak kemitraan yang disodorkan merupakan aturan baku yang dibuat oleh inti untuk diterima tanpa adanya perundingan mengenai isi kontrak tersebut. Berdasarkan analisis IPA, disimpulkan bahwa atribut yang memiliki tingkat kepentingan tinggi namun kinerjanya dinilai masih rendah adalah penerapan harga kontrak DOC, harga kontrak pakan, dan pemberian bonus. Berdasarkan hasil analisis tingkat kesesuaian skor kepentingan dan kinerja, ketiga atribut tersebut juga memiliki tingkat kesesuaian terendah dan menjadi prioritas ii utama untuk diperbaiki kinerjanya. Secara umum peternak plasma sudah merasa puas dengan kinerja-kinerja atribut kemitraan DUF, dimana hasil perhitungan Customer Satisfaction Index adalah sebesar 69.68 persen. Sebagian besar peternak plasma mengeluhkan harga kontrak DOC dan pakan yang terlalu mahal dan tidak pernah diperbaharui, terutama saat harga pasar mengalami penurunan yang cukup besar. Inti dapat melakukan penyesuaian terhadap kontrak harga dalam kemitraan. Sejalan dengan itu, inti dapat mengadakan pertemuan berkala untuk membahas keluhan-keluhan peternak dan sekaligus melakukan sosialisasi tentang penetapan kontrak. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan kepercayaan plasma terhadap inti. Saat ini penyebaran informasi sudah sangat cepat dan memungkinkan peternak-peternak untuk saling bertukar informasi mengenai harga DOC maupun pakan di pasar. Dalam perjanjian kemitraan yang disepakati bersama, secara hukum kedua belah pihak mempunyai kedudukan yang seimbang karena tidak ada unsur paksaan dalam melakukan perjanjian tersebut. Tetapi dengan latar belakang yang berbeda, baik dari segi permodalan, teknologi, dan sumberdaya manusia, maka kedua belah pihak harus mempunyai itikad yang baik dan komitmen kuat dalam melaksanakan perjanjian kemitraan dengan prinsip saling menguntungkan
Analisis kinerja keuangan dan strategi pengembangan koperasi perikanan mina usaha (studi kasus: koperasi perikanan mina usaha desa Jetis, kecamatan Nusawungu, kabupaten Cilacap, propinsi Jawa Tengah)
Keberadaan koperasi mempunyai manfaat bagi anggota khususnya dan masyarakat luas umumnya. Koperasi dapat memberikan manfaat dalam peningkatan skala usaha dan efisiensi anggota, peningkatan nilai tawar (bargaining position), dan manfaat sosial. Koperasi merupakan bangunan perusahaan yang sesuai dengan perekonomian yang disusun sebagai usaha bersama atas dasar kekeluargaan. Hal ini sesuai dengan prinsip koperasi menurut ICA (International Cooperation Alliance), dimana tujuan utama koperasi adalah anggota. Perkembangan koperasi di Indonesia mengalami pasang surut mulai dari jaman penjajahan Jepang, era kemerdekaan, orde baru, sampai era pasar bebas sekarang ini. Pada saat terjadi krisis tahun 1997, hampir semua sektor terkena imbasnya bahkan sampai ada yang gulung tikar. Meskipun tidak terkena imbas krisis secara telak, koperasi mampu bertahan bahkan diantaranya, terutama yang bergerak dalam komoditas ekspor justru menuai keuntungan akibat depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serika
Analisis kelayakan finansial usahatani jambu biji melalui penerapan irigasi tetes di Desa Ragajaya, Kec. Bojong Gede Kab. Bogor
Berdasarkan analisis karakteristik usahatani jambu biji di Desa Ragajaya diketahui bahwa dari jumlah populasi petani jambu biji, luas lahan yang dimiliki petani dengan status sewa adalah 47,2 persen menyewa lahan kurang dari 0,5 hektar, 44,4 persen menyewa lahan antara 0,5 sampai satu hektar, dan 8,40 persen menyewa lahan dengan luas lebih dari satu hektar. Irigasi tetes digunakan untuk meningkatkan jumlah produksi pada musim kemarau yang turun hingga 75 persen dibandingkan saat musim hujan, dengan memanfaatkan air dari dalam tanah secara efisien untuk memenuhi kebutuhan 45 liter air per hari. Terpenuhinya kebutuhan air maka jumlah produksi meningkat sebesar 75 persen sesuai harapan petani yang ingin dapat menjual hasil produksi dengan jumlah yang setara saat musim hujan, agar petani dapat memperoleh keuntungan
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keputusan Petani Terhadap Penjualan Hasil Panen Lada putih (Studi Kasus : Petani Lada Putih di Desa Bukit Layang Kecamatan Bakam Kabupaten Bangka).
Lada (Pipper nigrum L.) merupakan tanaman tahunan yang tumbuh
memanjat. Sifat tanaman lada yang tahunan menyebabkan terjadinya over supply.
Adanya over supply pada hasil panen lada sedangkan demand tetap
mengakibatkan harga lada putih turun. Sehingga respon petani lada putih adalah
dengan melakukan tunda jual terhadap hasil panennya, namun ada juga yang
melakukan langsung jual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola
penjualan petani lada putih berdasarkan karakteristik petani, usahatani dan
penjualannya dan faktor yang memengaruhi keputusan petani terhadap penjualan
hasil panen lada putih. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey.
Pengambilan sampel dilakukan dengan simple random sampling dengan jumlah
sampel sebanyak 60 petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik
petani yang melakukan langsung jual adalah memiliki usia yang lebih muda
dengan lama pengalaman cukup berpengalaman dan konsumsi pangan yang
tinggi. Sedangkan berdasarkan karakteristik usahatani, petani yang memiliki
produksi sedikit, memiliki penerimaan non lada putih kecil dan luas penguasaan
lahan kecil cenderung melakukan langsung jual. Selain itu, petani yang memiliki
karakteristik penjualan dekat dengan tempat penjualan cenderung melakukan
langsung jual. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik, faktor yang signifikan
memengaruhi keputusan petani terhadap penjualan hasil panen lada putih adalah
harga, konsumsi dan jarak ke tempat penjualan
Analisis Pendapatan dan Strategi Pengembangan Usaha Sate Sop Kambing (Kasus Penjual Sate Sop Kambing di Sepanjang Jalan Utama Dramaga-Jasinga, Kabupaten Bogor)
Sektor usaha kecil menengah memiliki kontribusi yang cukup penting di dalam pembangunan nasional. Kemampuannya untuk tetap bertahan di masa krisis ekonomi merupakan bukti bahwa sektor usaha kecil menengah ini merupakan bagian dari sektor usaha yang memiliki tingkat eksistensi yang relatif lebih kuat terhadap berbagai situasi perekonomian bangsa. Usaha kecil dan menengah merupakan salah satu alternatif kesempatan kerja yang menampung tenaga kerja untuk dapat bertahan dalam menghadapi krisis ekonomi dengan terlibat dalam aktivitas usaha kecil dan menengah terutama yang berkarakteristik sektor informal sehingga permasalahan peningkatan pengangguran dapat diatasi yang berakibat pada peningkatan pendapatan keluarga. Usaha kecil dan menengah mempunyai peranan dalam memperkokoh perekonomian nasional melalui berbagai keterkaitan usaha seperti fungsi pemasok untuk sarana produksi, fungsi produksi, fungsi penyalur dan pemasar bagi hasil produk-produk industri. Usaha kecil menengah seperti usaha sate sop kambing yang telah dijalankan oleh beberapa pelaku usaha sudah cukup memberikan keuntungan bagi pelaku usaha namun pendapatan tersebut masih tergolong kecil. Hal ini berati bahwa pendapatan yang diterima oleh pelaku usaha tersebut sudah dapat meningkatkan kesejahteraan hidup anggota keluarga sehingga dengan demikian pendapatan yang diperoleh dapat menunjang kehidupan keluarga mereka Untuk itu, dalam upaya pengembangan bisnis ini perlu terlebih dahulu menentukan dengan pasti berapa pendapatan yang diperoleh sehingga dapat merumuskan strategi untuk pengembangan usaha. Tujuan dari penelitian ini adalah 1. Mengidentifikasi karakteristik usaha sate sop kambing 2. Menganalisis pendapatan usaha sate sop kambing yang diusahakan 3. Memformulasikan strategi pengembangan usaha yang tepat bagi pelaku usaha sate sop kambing. Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu tahap identifikasi karakteristik pelaku usaha, analisis pendapatan, identifikasi lingkungan internal dan eksternal yang selanjutnya tahap pencocokan dengan menggunakan matrik SWOT. Rata-rata penerimaan yang diperoleh pelaku usaha sate sop kambing perbulan adalah sebesar Rp 13.200.000,00 pendapatan bersih yang diterima oleh pelaku usaha ini sebesar Rp 3.321.180,00 dari total penerimaan usaha. Dari hasil analisis R/C ratio diperoleh nilai 1,30 yang artinya pelaku usaha menerima Rp 1,30 untuk setiap Rp 1,00 biaya yang dikeluarkan, dapat disimpulkan usaha ini menguntungkan dan layak untuk dijalankan. ..
Analisis efisiensi produksi dan pendapatan usahatani brokoli di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat
Meningkatnya permintaan produk hortikultura pada dasarnya merupakan faktor penarik bagi pertumbuhan agribisnis hortikultura. Dalam jangka panjang, diperkirakan permintaan komoditas hortikultura akan terus meningkat, dengan laju lebih cepat dibanding komoditas pangan lainnya. Disamping akibat meningkatnya jumlah penduduk, hal tersebut dapat dirangsang oleh beberapa faktor antara lain dengan pertimbangan kesehatan konsumsi pangan cenderung bergeser pada bahan pangan non-kolesterol terutama pada kelompok rumah tangga berpendapatan tinggi atau di negara-negara maju. Permintaan produk hortikultura umumnya lebih elastis terhadap pendapatan dibanding permintaan produk pengan lainnya, sehingga kenaikan pendapatan rumah tangga akan diikuti dengan kenaikan permintaan produk hortikultura pada laju yang lebih besar daripada produk pangan lain. Konsumsi per kapita produk hortikultura dari laju kenaikan pendapatan rumah tangga umumnya lebih tinggi di daerah kota daripada daerah perdesaan, konsekuensinya adalah berkembangnya daerah perkotaan akan mendorong peningkatan permintaan produk hortikultura. Kabupaten Bandung Barat merupakan salah satu lokasi sentra pengembangan agribisnis sayuran di Jawa Barat. Kabupaten Bandung Barat merupakan kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Bandung. Pemekaran wilayah yang merupakan bagian dari otonomi ini dilaksanakan pada tahun 2007, dengan pertimbangan untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat sehingga diharapkan akan lebih mendorong penyediaan barang publik dan pelayanan publik serta memberikan kemampuan dalam pemanfaatan potensi daerah. Ada beberapa kecamatan yang menjadi pusat produksi sayuran di Kabupaten Bandung Barat, antara lain Kecamatan Lembang, Kecamatan Cisarua, dan Kecamatan Parongpong. Kecamatan Lembang merupakan lokasi yang luas lahan dan produksinya paling tinggi dibandingkan Kecamatan lain di Kabupaten Bandung Barat
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keputusan Petani Terhadap Penjualan Hasil Panen Lada putih (Studi Kasus : Petani Lada Putih di Desa Bukit Layang Kecamatan Bakam Kabupaten Bangka).
Lada (Pipper nigrum L.) merupakan tanaman tahunan yang tumbuh
memanjat. Sifat tanaman lada yang tahunan menyebabkan terjadinya over supply.
Adanya over supply pada hasil panen lada sedangkan demand tetap
mengakibatkan harga lada putih turun. Sehingga respon petani lada putih adalah
dengan melakukan tunda jual terhadap hasil panennya, namun ada juga yang
melakukan langsung jual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola
penjualan petani lada putih berdasarkan karakteristik petani, usahatani dan
penjualannya dan faktor yang memengaruhi keputusan petani terhadap penjualan
hasil panen lada putih. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey.
Pengambilan sampel dilakukan dengan simple random sampling dengan jumlah
sampel sebanyak 60 petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik
petani yang melakukan langsung jual adalah memiliki usia yang lebih muda
dengan lama pengalaman cukup berpengalaman dan konsumsi pangan yang
tinggi. Sedangkan berdasarkan karakteristik usahatani, petani yang memiliki
produksi sedikit, memiliki penerimaan non lada putih kecil dan luas penguasaan
lahan kecil cenderung melakukan langsung jual. Selain itu, petani yang memiliki
karakteristik penjualan dekat dengan tempat penjualan cenderung melakukan
langsung jual. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik, faktor yang signifikan
memengaruhi keputusan petani terhadap penjualan hasil panen lada putih adalah
harga, konsumsi dan jarak ke tempat penjualan
Analisis Risiko Produksi Bayam dan Kangkung Hidroponik pada Parung Farm Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat
Sayuran sebagai salah satu bagian dari hortikultura sayuran memiliki peran dan peluang usaha yang cukup baik. Berdasarkan data Ditjen Hortikultura dan Departemen Pertanian bahwa sayuran menyumbang sekitar 7,18 persen dari total PDB pada tahun 2008. Selain itu kenaikan volume impor sebesar 10,77% pda tahun 2008 yang menandakan bahwa terdapat bagian permintaan yang belum diisi oleh produksi dalam negeri atau produksi dalam negeri masih belum mampu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Ini merupakan peluang usaha bagi para petani dan perusahaan pertanian untuk membuka peluang usaha di bidang pertanian sayuran. Salah satu perusahaan pertanian yang bergerak dalam bidang produksi sayuran segar adalah Parung Farm. Parung Farm merupakan perusahaan pertanian yang menggunakan teknologi hidroponik dan greenhouse dalam menjalankan usahanya. Perusahaan memilih teknologi ini dengan tujuan untuk penurunan biaya produksi, minimalisasi resiko dan optimalisasi produksi. Perusahaan melakukan diversifikasi dalam kegiatan usahanya dengan mengusahakan bayam dan kangkung. Tiap komoditi sayuran memiliki ciri khas dan karakteristik yang khusus hingga memiliki sumber dan tingkat risiko yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah (1) Menganalisis sumber risiko produksi dan besarnya risiko yang terjadi pada komoditi bayam dan kangkung di Parung Farm dan (2) Membuat pemetaan risiko dan menganalisis manajemen risiko pada portofolio yang diterapkan untuk mengatasi risiko produksi yang dihadapi oleh usaha bayam dan kangkung pada Parung Farm. Penelitian ini dilakukan di Parung Farm yang berlokasi di Kecamatan Parung Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat. Waktu penelitian adalah selama bulan November hingga Desember 2010. Penelitian ini menggunakan analisis risiko yaitu Variance, Standard Deviation, dan Ceoficcient Variance serta melihat pengaruh divesifikasi untuk menekan risiko. Sumber-sumber risiko pengusahaan bayam dan kangkung hidroponik pada Parung Farm antara lain kondisi cuaca dan iklim, hama dan penyakit, kualitas sumber daya manusia, input, dan kerusakan peralatan. Berdasarkan analisis risiko pada komoditas tunggal menunjukkan bahwa bayam memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi daripada kangkung untuk pendapatan. Hasil analisis diversifikasi pada komoditas bayam dan kangkung menunjukkan bahwa diversifikasi berhasil menurunkan tingkat risiko walau tidak untuk semua komoditas. Saran yang direkomendasikan adalah Parung Farm lebih mempertimbangkan kombinasi diversifikasi yang memiliki risiko terkecil. Hal ini dapat dilakukan dengan mempertimbangkan proporsi luasan lahan untuk tanaman bayam dan kangkung. Bayam merupakan komoditas sayuran yang perlu dilkembangkan karena memiliki risiko yang lebih kecil dan permintaan pasar yang cukup tinggi. Selain itu perusahaan perlu mengadakan maajemen risiko lebih lanjut untuk cuaca
Audit pemasaran beras pandan wangi berlabel serta implementasinya terhadap strategi pemasaran CV Semesta Food
Bulir padi yang telah diolah dan dipisahkan dari sekamnya disebut beras. Beras inilah yang siap diperjualbelikan di tingkat konsumen dan menjadi makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Beras merupakan salah satu dari sekian banyak produk agronomi yang memiliki fungsi yang strategis, baik ditinjau dari aspek ekonomi, sosial, keamanan, maupun politik. Beras yang istimewa, khas, unik, dan cukup dikenal oleh konsumen adalah beras Pandan Wangi. Dengan keunikan, keunggulan, dan peluang pasar yang dimiliki beras Pandan Wangi maka banyak perusahaan yang berminat menjual beras varietas ini. Salah satu perusahaan tersebut adalah CV Semesta Food. CV Semesta Food adalah satusatunya perusahaan di Jakarta dan sekitarnya yang menjual beras Pandan Wangi berlabel atau bersertifikat. Label ini merupakan jaminan varietas Pandan Wangi asli (100 persen) dari Deptan. Merek dari beras tersebut adalah Xiang Mi. Penjualan beras Pandan Wangi milik CV Semesta Food menjadi semakin tidak stabil dan buruk. Hal ini didorong oleh permintaan Pandan Wangi yang semakin menurun akibat banyaknya kasus pengoplosan dan pemakaian pewangi kimia yang membuat konsumen kecewa dan tidak puas saat mengonsumsi beras Pandan Wangi. Selain itu jumlah pesaing dan produk substitusi yang banyak membuat konsumen memiliki banyak pilihan sehingga dapat memilih alternatif produk beras lainnya. Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi dan perumusan strategi pemasaran yang sesuai agar CV Semesta Food dapat menghadapi lingkungan persaingannya. Profil internal, posisi perusahaan, dan kondisi persaingan di masa yang akan datang perlu untuk dikaji melalui audit pemasaran. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menganalisis profil internal perusahaan CV Semesta Food, (2) menganalisis profil lingkungan bisnis yang dihadapi oleh CV Semesta Food, (3) menganalisis kesesuaian strategi pemasaran dan bentuk perusahaan dengan situasi persaingan yang ada, (4) menganalisis efektivitas sumber daya pemasaran yang dimiliki CV Semesta Food. Penelitian dilakukan di CV Semesta Food, Pademangan, Jakarta Utara. Penelitian ini menyangkut tentang analisis internal, konsumen, pesaing, dan perubahan dalam pemasaran perusahaan. Waktu penelitian dilakukan selama bulan Januari sampai Maret 2010. Penarikan sampel dilakukan dengan menggunakan judgment sampling method (purposive sampling). Responden yang dipilih adalah pihak yang dinilai mengetahui dengan baik mengenai informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini
Analisis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas susu segar sapi perah (Studi Kasus Anggota Koperasi Peternak Garut Selatan, Jawa Barat)
Pada masa mendatang, usaha peternakan di Indonesia dihadapkan pada persaingan yang makin tajam. Di dalam negeri sendiri, usaha peternakan yang berbasis lahan (land-based livestock farming) akan bersaing dengan usaha pertanian nonpeternakan dalam penggunaan sumberdaya lahan dan tenaga kerja, baik tanaman semusim maupun tanaman tahunan. Apabila kebijakan pemerintah lebih terfokus pada peningkatan produksi pangan dengan alasan ketahanan pangan, maka usaha peternakan berbasis lahan diperkirakan akan makin tergeser. Produk-produk peternakan Indonesia juga akan bersaing dengan produk-produk sejenis asal luar negeri, terutama daging dan susu. Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan sektor pertanian yang memiliki nilai strategis, antara lain dalam memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat akibat bertambahnya jumlah penduduk, peningkatan rata-rata pendapatan penduduk, dan penciptaan lapangan pekerjaan. Maka untuk memenangkan persaingan usaha peternakan Indonesia harus mempunyai daya saing yang makin kuat, utamanya dalam menghadapi persaingan dengan produk-produk sejenis asal luar negeri. Kekurangan produksi susu segar dalam negeri merupakan peluang besar peternak susu untuk mengembangkan usahanya. Namun demikian peternak masih menghadapi permasalahan, antara lain yaitu rendahnya kemampuan budidaya khususnya menyangkut kesehatan ternak dan mutu bibit yang rendah. Kekurangan tersebut selain mengakibatkan lambatnya pertumbuhan produksi susu juga berpengaruh terhadap kualitas susu yang dihasilkan. Selain itu mulai sulitnya lahan sebagai sumber rumput hijauan bagi ternak, tingginya biaya transportasi, serta kecilnya skala usaha sebagaimana telah dikemukakan di atas, juga menjadi penghambat perkembangan produksi susu domestik. Permasalahan lain adalah mekanisme penentuan harga dilakukan secara sepihak oleh IPS, peternak hanya menerima harga yang telah ditentukan oleh IPS. Berdasarkan permasalahan diatas secara umum, penelitan ini bertujuan untuk mengetahui daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas susu sapi perah di Kabupaten Garut. Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat keuntungan pengusahaan komoditas susu sapi perah di Kabupaten Garut khususnya anggota Koperasi Peternak Garut Selatan, Menganalisis daya saing komoditas susu sapi perah di Kabupaten Garut khususnya anggota Koperasi Peternak Garut Selatan dan Menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing komoditas susu segar sapi perah
- …
