1,720,965 research outputs found

    PENGARUH PENAMBAHAN VOLUME PARTIKEL KOMPOSIT JAMUR GANODERMA BONINENSE TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN MODULUS ELASTISITAS

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan volume filler partikel jamur ganoderma boninense terhadap kekuatan tarik, modulus elastisitas. Volume partikel penguat komposit bervariasi mulai dari 5%, 10%, 15%, dan 20%. Jamur di rendam dengan larutan NaOH selama 1 jam untuk menghilangkan kotoran dan getah yang bisa mengurangi ikatan antar matriks dan partikel. Setelah itu jamur dijadikan partikel berukuran mesh 50 dengan menggunakan blender yang memiliki putaran 28.000 rpm. Dari hasil pengujian dapat dilihat bahwa kekuatan  tarik tertinggi sebesar 23,21 MPa ada pada komposit dengan volume filler sebesar 5%. Penambahan volume partikel menjadi 10% membuat kekuatan tarik sedikit menurun menjadi 21.04 MPa. Penambahan volume filler menjadi 15%  dan 20 % menyebabkan kekuatan tarik kembali menurun  menjadi 20,55 MPa dan 19.68 MPa. Dari hasil pengujian dapat dilihat bahwa modulus elastisitas terendah ada pada ada komposit dengan volume filler sebesar 5%. Penambahan volume partikel menjadi 10% membuat modulus elastisitas naik menjadi 83.15 MPa. Penambahan volume filler menjadi 15%  dan 20 % menyebabkan modulus elastisitas bertambah naik   menjadi 126.77 MPa dan 159.10 MPa. Hal ini menunjukan semakin banyak kehadiran jamur ganoderma dalam komposit menyebabkan komposit menjadi semakin elastis, sehingga menaikkan modulus elastisitas dan menurunkan kekuatan tari

    HUBUNGAN ANTARA FOTO SEM DARI PERMUKAAN PATAHAN SPESIMEN UJI TARIK KOMPOSIT SERAT RUMPUT TEKI (CYPERUS ROTUNDUS) DENGAN KEKUATAN TARIK

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kekuatan tarik komposit dengan foto permukaan dari patahan 3 buah spesimen uji tarik. Dalam penelitian ini serat yang digunakan adalah rumput teki (cyperus rotundus), serat jenis ini dipilih karena teki adalah gulma pertanian yang belum dimanfaatkan secara maksimal, sulit di musnahkan dan banyak dijumpai di lahan terbuka. Panjang serat yang digunakan yaitu 1 cm, 2 cm, dan 3 cm dengan kekuatan tarik masing – masing sebesar 23,99 MPa, 30,10 MPa, dan 18,91 MPa.Hasil foto SEM permukaan patahan komposit dengan panjang serat 2 cm dan kekuatan tarik 30,10 MPa menunjukkan bahwa serat putus serta tidak ada rongga antara matriks dan serat. Maka dapat disimpulkan bahwa ikatan antara matriks dan serat terjadi dengan baik sehingga kekuatan tariknya menjadi yang tertinggi dibandingkan dengan 2 spesimen yang lain.Foto permukaan patahan komposit dengan panjang serat 1 cm dan kekuatan tarik 23,99 MPa. menunjukkan bahwa serat tersebut putus, namun ada sedikit rongga antara matriks dan serat. Maka dapat disimpulkan bahwa ikatan antara matriks dan serat kurang baik sehingga kekuatan tarik komposit lebih rendah dari serat 2 cm.Foto permukaan patahan komposit dengan panjang serat 3 cm dan kekuatan tarik 18,91 MPa menunjukkan bahwa ada rongga yang cukup terbuka di sepanjang serat, rongga ini menginformasikan bahwa tidak terjadi ikatan yang sempurna antara matriks dan serat. Sehingga walaupun dari foto terlihat serat putus, namun rongga tersebut tetap mengurangi kekuatan tarik komposit sehingga menjadi yang terendah yaitu sebesar 18,91 MPa

    KUAT TARIK, MODULUS ELASTISITAS, DAN MAKROSTRUKTUR KOMPOSIT SERAT ALAM DENGAN PARTIKEL RUMPUT TEKI (CYPERUS ROTUNDUS) SEBAGAI PENGUAT

    Full text link
    Serat alami telah menunjukkan keunggulan dalam beberapa tahun terakhir.Keunggulan dari serat alami adalah harganya murah, densitas rendah. bahan terbarukan dan tidak berbahaya bagi kesehatan.Rumput teki merupakan salah satu serat alami dari gulma pertanian yang belum dimanfaatkan secara maksimal dan banyak dijumpai dilahan terbuka. Penelitian ini memanfaatkan rumput teki yang dijadikan serbuk sebagai penguat dengan matrik dan polyester resin. Dalam penelitian ini akan dilakukan uji tarik untuk mendapatkan kuat tarik dan uji makro struktur untuk dapat melihat patahan spesimen. Uji tarik dilakukan dengan standar ASTM D 638-02a type I dengan 4 komposisi yaitu komposisi A, B, C, dan D. Uji Makrostruktur dilakukan dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran sampai 5000 kali. Komposisi A memiliki nilai kuat tarik lebih besar dengan nilai sebesar 23.7895 MPa dan memiliki modulus elastisitas sebesar 137.745 MPa dan komposisi B memiliki kuat tarik sebesar 17.1835 MPa dan komposisi C memiliki kuat tarik sebesar 13.723MPa. Dan komposisi D memiliki nilai kuat tarik lebih kecil dengan nilai sebesar 11.5255 MPa dan nilai modulus elastisitas sebesar 137.745 Mpa. Pada uji makrostruktur, komposisi A memiliki hasil yang paling halus 1 titik porositas dengan ukuran diameter 0.8544 mm pada area luas 3 mm2. Uji makrostruktur pada komposisi D memiliki hasil yang paling kasar dengan 9 titik porositas dengan ukuran diameter yang paling besar 0.664 mm pada area luas 3 mm2

    PERBANDINGAN MASSA JENIS KOMPOSIT GANODERMA BONINENSE DENGAN VARIASI MATRIKS DAN VOLUME FILLER

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan massa jenis dari komposit ganoderma boninense dengan variasi matriks dan volume filler. Dalam penelitian ini serat yang digunakan adalah jamur Ganoderma Boninense.Data menunjukkan dengan matriks polester resin massa jenis rata – rata terkecil adalah 1,19 gr/cm3, penambahan volume filler menjadi 10%, 15%, 20% menyebabkan massa jenis meningkat menjadi 1,21 gr/cm3, 1,24 gr/cm3, dan 1,28 gr/cm3. Sedang dengan matriks epoxy  massa jenis rata – rata terkecil adalah 0,88 gr/cm3, penambahan volume filler menjadi 10%, 15%, 20% menyebabkan massa jenis meningkat menjadi 1,04 gr/cm3, 1,12 gr/cm3, dan 1,14 gr/cm3. Peningkatan massa jenis ini terjadi karena penambahan volume filler ketika komposit dibuat, karena penambahan volume juga berarti penambahan massa filler. Tapi dapat dilihat bahwa massa jenis dengan resin epoxy secara keseluruhan lebih kecil dari resin poliester, artinya massa komposit dengan resin epoxy lebih ringan dari komposit dengan resin poliester

    ANALISA KEMAMPUAN PENGELASAN TERHADAP BEBAN IMPAK DAN TEKAN PADA BAJA C0.40-0.50%

    Full text link
    Penelitian bertujuan mengetahui nilai kekuatan sambungan las pada besi mal Nako baja C40-50% dengan variasi kuat arus, mengetahui hasil pengelasan terbaik dengan memvariasikan kuat arusnya, mengetahui nilai kekerasan sambungan las.Adapun ruang lingkup penelitian adalah proses pengelasan dengan busur listrik elektroda terbungkus (SMAW) terhadap sambungan besi mal Nako  baja C40-50% kuat arus (80, 100, 120) Ampere, tegangan 20 Volt dan kecepatan pengelasan 10 mm/s, jenis kawat las memakai E 6013,Ø 2,5 x 350 mm, jenis besi mal dengan sisi 10 mm, posisi pengelasan secara Flat (datar) dengan sudut kawat saat penelasan 700, analisa kekuatan Impak untuk mengetahui kekuatan Impak sambungan las dan analisa kekerasan menggunakan Brinnel Test.Dari seluruh kegiatan peneltian maka dapatlah disimpulkan beberapa kesimpulan sebagai berikut: Energi yang paling rendah diserap pada pengujian impack adalah 4,996 Joule pada pengelasan dengan kuat arus 80 Ampere. Energi yang paling tinggi diserap pada pengujian impack adalah 11,52 Joule pada pengelasan dengan kuat arus 120 Ampere. Nilai pukulan takik terendah pada pengujian impack adalah 0.0499 Joule/mm2 yaitu pada kuat arus pengelasan 120 Ampere. Nilai pukulan takik tertinggi pada pengujian impack adalah 0.1152 Joule/mm2 yaitu pada kuat arus pengelasan 80 Ampere. Semakin rendah kuat arus pengelasan maka sambungan pengelasan lebih bersifat ulet. Semakin tinggi kuat arus pengelasan maka sambungan pengelasan lebih bersifat getas. Nilai BHN terendah pada pengujian Brinnel Test adalah pada kuat arus pengelasan 80 Ampere. Nilai BHN tertinggi pada pengujian Brinnel Test adalah pada kuat arus pengelasan 120 Ampere. Semakin tinggi kuat arus pengelasan maka cairan elektroda yang membeku semakin keras. Kuat arus pengelasan mempengaruhi sifat mekanik sambungan pengelasan. Kuat arus 120 Ampere memiliki kemampuan meresap lebih dalam ke dalam spesimen daripada kuat arus 80 Ampere

    Correlation Between Tensile Test Specimen Surface Fault of Teki Grass (Cyperus Rotundus) Composite with Tensile Strength

    Full text link
    This study aims to determine the correlation between composite tensile strength with surface photo of 3 tensile specimens fault. In this research teki grass (cyperus rotundus) used as fiber, this type of fiber is selected because teki is agricultural weeds that have not been utilized to the maximum, difficult to eradicate and often found in the open fields. The length of fiber used are 1 cm, 2 cm, and 3 cm with each tensile strength of 23,99 MPa, 30,10 MPa and 18,91 MPa. SEM photo result of composite fault surface with a fiber length of 2 cm and tensile strength of 30.10 MPa indicates that the fiber is broken and there is no cavity between the matrix and the fiber. It can be concluded that the bond between the matrix and fiber is so good that make the tensile strength becomes the highest compared to the other 2 specimens. Photo of a composite fault surface with a fiber length of 1 cm and a tensile strength of 23.99 MPa shows that the fiber is broken, but there is little cavity between the matrix and the fibers. It can be concluded that the bond between the matrix and the fiber is not that good so that the composite tensile strength is lower than the 2 cm fiber. Composite fault surface photo with a fiber length of 3 cm has tensile strength of 18.91 MPa and shows that there is an open cavity along the fibers, this cavity informs that bond betwee

    Ідентифікація впливу методів газового дугового зварювання металу на механічні характеристики дуплексної нержавіючої сталі

    No full text
    This study evaluates the effect of various Gas Metal Arc Welding (GMAW) methods on the mechanical properties of duplex stainless steel. The main objective is to identify the most effective GMAW process parameters in improving the mechanical properties of the material, including tensile strength, hardness, and corrosion resistance. The results of this study provide valuable insights into improving the weld quality, mechanical properties, and durability of duplex stainless steels in high-performance environments and corrosive conditions. Industries such as oil and gas, shipbuilding and chemical processing can greatly benefit from these findings by adopting optimized GMAW parameters to produce stronger and more durable weld joints. The findings also highlight the significant impact of welding and heat treatment on the alloy’s mechanical properties. The strength of the control material was recorded at 811.47 MN/m2, whereas the welded samples exhibited strengths between 177.07 and 257.32 MN/m2. The impact energy of the control material was 162.70 J, while the welded samples showed values ranging from 38.64 J to 56.20 J. Additionally, the study reveals that stress relief heat treatment resulted in the highest strength (A3=331 MN/m2) compared to quenching in lubricating oil (A2=329 MN/m2) and neem oil (A1=222 MN/m2), although variations in material toughness were observed. The uniqueness of this research lies in its systematic approach in correlating GMAW parameters with changes in microstructure and mechanical properties. The distinctiveness of this research stems from its structured methodology in linking GMAW parameters to variations in microstructure and mechanical properties, facilitating the identification of optimal welding conditionsЦе дослідження оцінює вплив різних методів газового дугового зварювання (ГДЗ) на механічні властивості дуплексної нержавіючої сталі. Основною метою є визначення найбільш ефективних параметрів процесу ГДЗ для покращення механічних властивостей матеріалу, включаючи міцність на розрив, твердість і стійкість до корозії. Результати цього дослідження дають цінну інформацію про покращення якості зварювання, механічних властивостей і довговічності дуплексних нержавіючих сталей у високоефективних середовищах і корозійних умовах. Такі галузі промисловості, як нафтогазова, суднобудівна та хімічна промисловість, можуть отримати значну вигоду з цих висновків, прийнявши оптимізовані параметри ГДЗ для отримання міцніших і довговічніших зварних з’єднань. Результати також підкреслюють значний вплив зварювання та термічної обробки на механічні властивості сплаву. Міцність контрольного матеріалу була зареєстрована на рівні 811,47 МН/м2, тоді як зварні зразки показали міцність від 177,07 до 257,32 МН/м2. Енергія удару контрольного матеріалу становила 162,70 Дж, а зварених зразків – від 38,64 Дж до 56,20 Дж. Крім того, дослідження показує, що термічна обробка для зняття напруги призвела до найвищої міцності (A3=331 МН/м2) порівняно з гартуванням у мастилі (A2=329 МН/м2) і олії німу (A1=222 МН/м2), хоча спостерігалися зміни в міцності матеріалу. Унікальність цього дослідження полягає в його системному підході до кореляції параметрів ГДЗ зі змінами мікроструктури та механічних властивостей. Особливість цього дослідження полягає в його структурованій методології зв’язку параметрів ГДЗ з варіаціями мікроструктури та механічних властивостей, полегшуючи визначення оптимальних умов зварюванн

    PENGUJIAN IMPAK KOMPOSIT SERBUK KAYU MAHONI DENGAN VARIASI VOLUME DAN PERLAKUAN ALKALI

    Full text link
    Komposit ini menggunakan serbuk kayu mahoni sebagai penguat yang dibersihkan dengan alkali (NaOH) dengan poliester resin sebagai matriks. Pengujian impak dilakukan dengan 3 komposisi untuk mengetahui kekuatan impak dan energi patah dari komposit. Hasil pengujian menunjukkan dengan volume serat 10% kekuatan impak yang terjadi adalah 34,05 J/cm2 dan energi patah 34,05 kgm2/s2. Penambahan serat menjadi 30% meyebabkan kekuatan impak naik menjadi 51,83 J/cm2 dan energi patah naik menjadi 41,98 kgm2/s2. Sedang penambahan serat menjadi 50% menurunkan kekuatan impak menjadi 51,33 J/cm2  energi patah menjadi 41,58 kgm2/s2. Dari hasil pengujian menunjukkan penambahan volume serat meningkatkan kekuatan impak dengan komposisi terbaik sebesar 30%, penambahan serat sampai 50% menyebabkan penurunan kekuatan impak, tapi tetap lebih tinggi dari volume serat 10%

    KONDISI PEMOTONGAN OPTIMUM PADA PEMESINAN BESI COR

    Full text link
    Dalam melakukan pemesinan terhadap produknya, secara umum industri logam kecil dan menegah yang ada di Sumatera Utara masih menggunakan teknologi konvensional sehingga berakibat rendahnya daya kompetitif produk yang dihasilkannya dibandingkan produk yang dihasilkan negara-negara maju yang telah menggunakan teknologi yang lebih baik untuk mendapatkan kondisi pemotongan yang optimum, kondisi pemotongan dapat dicari dari dua peringkat yaitu: dengan metode acak (peringkat sensitivitas) dan dengan metode tertentu (peringkat performa). Pada tulisan ini akan dipaparkan tentang analisa kondisi pemotongan besi cor pada peringkat Performa untuk mengetahui kondisi pemotongan yang akan digunakan pada  penelitian selanjutnya, yaitu desain dan implementasi CIM pada pemotongan material besi cor
    corecore