5,908 research outputs found

    Homogeneity constraints on the mixed moments of velocity gradient and pressure Hessian in incompressible turbulence

    No full text
    In homogeneous turbulent flow, a relation for the correlation between velocity gra dient mij = aui ax j and pressure Hessian hpij = a2 p axiaxjwas found recently: (tr(mhpm)) = 2((tr(m2))2). We discuss the implications of this relation to the velocity gradient dy 1 namics: together with the Poisson equation for pressure, the homogeneity relation yields an identity between ((tr(m2))2) and the integration of a two point fourth order correlation function of velocity gradient for isotropic flows. Our results indicate that the main contri butions to (tr(mhpm)) come from scales less than roughly 20 times the Kolmogorov scale. Also, the homogeneity relation provides restrictions to the parameters in the closure models of pressure Hessian in velocity gradient dynamics. We further discuss the generalization of this homogeneity relation to turbulent shear flows, and we show numerically that this relation between (tr(mhpm)) and ((tr(m2))2) is approximately satisfied even in the presence of a shear and of a wall, as it occurs in turbulent channel flows.</p

    UJI COBA KESTABILAN TEGANGAN OUTPUT DAN EFISIENSI ADAPTOR TYPE PF 500, PF 1000 DAN PFC 500

    Full text link
    Penelitian in1 dimaksudkan untuk mengetahui Kestabilan tegangan output dan ef1sieos1 daya pada adaptor type PF 500, PF 1000, dan PFC 500. Ternyata dari hasil penel1tiankestabilan tegangan PF 500 dan PF 1000 kurang baik ya1tu untuk PF 500 tegangan terendah 8 volt mestinya tidak kurang dar~ 15 volt dan ef1siensi dava 60% dan adaptor tersebut panas. Sedang adaptor PF 1000 tegangannya turun paling rendah 11 volt mestinva sekitar 15 volt dan efisiensinva juga paling rendah 60%. dan juga panas. Yang terbaik adalah adaptor PFC 500 dimana tegangan terendah 12.5 volt mestinva sekitar 15 volt dan efisiensl dayanya terendah 84,03% dan tidak panas. Jadi paling balk adalah adaptor PFC,500 sedang yang lainnya kurang baik dlpakai karena panas dan te~an~annva berubah banvak

    Peculiar double-layered transition metal hydroxide nanosheets

    No full text
    Multi-layered nanosheets with controllable layer numbers may feature intrinsic physicochemical properties distinct from their single-layered counterparts. In this issue of Chem Catalysis, Ma and colleagues propose a new synthesis protocol to fabricate double-layered transition metal hydroxide nanosheets in bulk quantity, which exhibit intrinsically higher electrocatalytic activity than their single-layered counterparts for oxygen evolution reaction.No Full Tex

    Contextual metrical invisibility

    No full text
    In some languages, certain vowels are invisible to syllable-sensitive processes, but only in certain contexts. This paper argues that metrically invisible vowels are undominated by a syllable node in prosodic structure. Considering mainly Mohawk and Passamaquoddy, the behavior of these "weak vowels" is derived from pressure to avoid using weak vowels as syllable nuclei, countered by pressure to realize underlying segments in well-formed syllables. Because not only epenthetic vowels can be weak vowels, their unsuitability as syllable nuclei is derived representationally, through amount of underlying prosodic structure. Existing analyses of the data are critiqued, and the theoretical implications and potential extensions are discussed.The definitive version of this paper was published in PF: Papers at the Interface (1997) and is available at http://mitwpl.mit.edu/catalog/mwpl30/Hagstrom, P. (1997). Contextual metrical invisibility. In B. Bruening, Y. Kang, & M. McGinnis (Eds.) PF: Papers at the interface (pp. 113-181). Cambridge, MA: Department of Linguistics and Philosophy, Massachusetts Institute of Technology

    PROFIL KEPRIBADIAN 16 PF PADA SISWA KORBAN BULLYING

    Full text link
    Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Kasus kekerasan yang terjadi di sekolah semakin marak. Kasus-kasus kekerasan yang sering terjadi di sekolah seperti perpeloncoan, intimidasi, kekerasan fisik atau mental dan pengucilan biasanya disebut dengan bullying. Bullying adalah tindakan menyakiti yang dilakukan secara berulang-ulang oleh seorang guru atau sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang lain. Bullying bisa terjadi kepada siapa saja dan dengan karakteristik atau kepribadian seseorang yang berbeda-beda. Dalam ilmu psikologi untuk mengungkap kepribadian dapat menggunakan suatu alat tes, dimana profil atau gambaran kepribadian diperoleh dari test 16 PF yang diciptakan R.B.Cattell. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil kepribadian pada siswa korban bullying melalui tes 16 PF. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 53 siswa. Karakteristik subjek dalam penelitian ini adalah siswa yang menjadi korban bullying dari guru ataupun teman sebaya, dan korban yang berusia 16 tahun keatas. Metode yang dipakai dalam penelitian ini untuk mengumpulkan data adalah dengan angket dan alat tes 16 PF. angket digunakan untuk melihat korban bullying, sedangkan tes 26 PF digunakan untuk melihat profil kepribadian. Data dari 16 PF dianalisis dengan analisis deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa korban bullying dibagi dalam 2 kategori yaitu korban murni dan korban sekaligus pelaku. Pada umumnya karakteristik kepribadian yang dimiliki korban murni dan korban pelaku hampir sama, namun ada beberapa faktor yang unik dan berbeda dari keduanya. Karakteristik kepribadian yang dimiliki korban murni bullying adalah umumnya mereka mempunyai sikap yang kaku, dingin, sulit bergaul, kurang mampu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Korban murni bullying juga mempunyai kepribadian yang lemah, sering menyendiri, pemalu, penakut, mempunyai intelegensi yang rendah, dan kurang mempunyai rasa kepercayaan diri. Pada korban pelaku lebih menunjukkan sifat yang agresif dan lebih impulsive

    Dynamic interaction patterns of oblique detonation waves with boundary layers in hypersonic reactive flows

    No full text
    Due to their high thermal cycle efficiency and compact combustor, oblique detonation engines hold great promise for hypersonic propulsion. Previous numerical simulations of oblique detonation waves have predominantly solved the Euler equations, disregarding the influence of viscosity and boundary layers. This work aims to study how the interaction between the oblique detonation wave and the boundary layer influences the detonation wave structures in confined spaces. Two-dimensional numerical simulations considering detailed chemistry are performed in a stoichiometric H2/air mixture. The results indicate that the wedge-induced oblique detonation wave generates a strong adverse pressure gradient upon impacting the upper wall, leading to boundary layer separation. The separation zone subsequently induces an oblique shock wave near the upper wall, and an increase in separation angle will cause the transition from an oblique shock wave to an oblique detonation wave. The formation of the separation zone reduces the actual flow area and may even lead to flow choking; its obstructive effect is similar to that of the Mach stem in inviscid flow. To establish a connection between the viscous recirculation zone and the inviscid Mach stem, we introduce a dimensionless parameter, eta , based on the inviscid assumption. It is defined as the ratio of the inviscid Mach stem height to the channel entrance height. This parameter can be used to identify three wave systems in a viscous flow field: separation shock-dominated wave systems, separation detonation-dominated wave systems, and unstable Mach stem- dominated wave systems. Among these, the appearance of detonation Mach stems leads to flow choking, and the shock-detonation wave system continually moves upstream, ultimately causing the failure of the oblique detonation combustion. The findings of this study provide new insights into the investigation of the influence of viscosity on the flow structure of oblique detonation waves

    PERTUMBUHAN DAN VIABILITAS PSEUDOMONAD FLUORESCENT ISOLAT PF-122 DALAM FORMULA CAIR

    Full text link
    Media semi alami adalah media pertumbuhan bakteri bahan-bahan yang mudah didapat dan tidak memerlukan biaya yang mahal. Media tumbuh dari media alami tersebut dinilai terjangkau dari aspek harga, kandungan protein tinggi, nutrisi yang baik serta mudah dalam mencari bahan tersebut terutama untuk bagi para kelompok tani yang akan memperbanyak Pseudomonad fluorescent isolat PF-122. Bahan alami yang cukup tinggi kandungan proteinnya yang dapat digunakan antara lain kacang lamtoro, kacang tunggak, kacang turi, keong, bekicot, dan kepiting sawah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Mengetahui pertumbuhan Pseudomonad fluorescent isolat PF-122 pada media semi alami dan daya tahan hidup Pseudomonad fluorescent isolat PF-122 pada formula cair dengan bahan pembawa media semi alami. Metode yang dilakukan pada penelitian ini dilakukan dalam 2 tahap yakni uji pertumbuhan Pseudomonad fluorescent isolat PF-122 pada media semi alami dan uji viabilitas Pseudomonad fluorescent isolat PF-122 dalam formula cair. Berdasarkan hasil penelitian, Pseudomonad flourescent isolat PF-122 mampu tumbuh dalam formula cair yang terbuat dari media alami bekicot, kepiting sawah dan lamtoro. Pertumbuhan terbaik terjadi pada formula cair kepiting sawah, pertumbuhan terlama pada formula cair lamtoro. Kata Kunci: Pseudomonad fluorescent isolat PF-122, media semi alami, formula cai
    corecore