139,101 research outputs found

    Mayfair Mei-Hui Yang (éd.), Chinese Religiosities : Afflictions of Modernity and State Formation

    Full text link
    Remoiville Julie. Mayfair Mei-Hui Yang (éd.), Chinese Religiosities : Afflictions of Modernity and State Formation. In: Perspectives chinoises, n°109, 2009. pp. 147-148

    Mayfair Mei-hui Yang, Gifts, Favors and Banquets. The Art of Social Relationships in China

    No full text
    Sabban Françoise. Mayfair Mei-hui Yang, Gifts, Favors and Banquets. The Art of Social Relationships in China. In: Annales. Histoire, Sciences Sociales. 54ᵉ année, N. 3, 1999. pp. 773-776

    KOHESI GRAMATIKAL DAN LEKSIKAL EDITORIAL THE JAKARTA POST

    Full text link
    berkaitan dengan kohesi pada editorial The Jakarta Post yang mempunyai tujuan mendeskripsikan kohesi gramatikal dan leksikal dalam membentuk keterpaduan wacana editorial. Penelitian ini juga bertujuan menjelaskan kegunaan kohesi gramatikal dan leksikal pada editorial The Jakarta Post. Penelitian ini membahas dua permasalahan yaitu: (1) bagaimana jenis dan penggunaan penanda kohesi gramatikal yang terdapat pada kolom editorial The Jakarta Post (2) bagaimana jenis dan penggunaan penanda kohesi leksikal yang terdapat pada kolom editorial The Jakarta Post Data penelitian ini adalah wacana dari editorial yang dimuat dalam media massa The Jakarta Post. Data yang dianalisis adalah empat editorial dari The Jakarta Post yang diambil setiap hari Senin dalam bulan Mei. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Metode yang digunakan untuk menganalisis aspek gramatikal dan leksikal wacana editorial The Jakarta Post adalah metode distribusional. Teknik yang digunakan adalah teknik bagi unsur langsung (BUL) dan analisis struktur mikro. Hasil analisis menunjukkan bahwa kohesi gramatikal dan leksikal banyak digunakan dalam editorial ini sehingga wacana editorial The Jakarta Post ini adalah wacana yang padu. Dari empat editorial ini ditemukan 206 penanda kohesi baik gramatikal maupun leksikal. Hasil analisis penelitian ini juga menemukan bahwa editorial The Jakarta Post menggunakan hampir semua aspek kohesi gramatikal kecuali substitusi yang tidak selalu ada di dalam editorial. Tetapi penggunaan aspek kohesi leksikal melingkupi seluruh wacana editorial ini. Penggunaan aspek kohesi yang terbanyak adalah aspek pengacuan persona (16.01%) khususnya kata ganti orang III tunggal it dan kata ganti terikat (11.65%) yang paling sering digunakan adalah their. It berfungsi sebagai pengganti nomina atau frasa nomina. Pengacuan demonstratif muncul 13.59% dan didominasi oleh this. Dalam hal ini, this lebih banyak berfungsi sebagai penjelas. Pengacuan komparatif (6.79%) selalu muncul dalam setiap editorial dalam wujud yang berbeda-beda tetapi menunjukkan adanya suatu perbandingan. Substitusi (1.94 %) jarang digunakan tetapi ellipsis (8,25%) selalu digunakan. Konjungsi sebesar (16.50%). Hasil ini membuktikan bahwa wacana editorial The Jakarta Post adalah padu. Kohesi leksikal dalam editorial ini wujud satuan lingualnya tidak dapat ditentukan tetapi satuan-satuan lingual itu bergantung kepada lingkup topik yang sedang dibicarakan. Reiterasi (16.99%) adalah kohesi leksikal yang paling banyak ditemukan sedangkan hiponimi (1.94%), kata umum (1.94%), dan kolokasi (4.37%) juga ditemukan walaupun tidak banyak digunakan

    Hong Kong cinema 1982-2002 : the quest for identity during transition

    No full text
    Electronic redacted version excludes material for which permission has not been granted by the rights holderThis thesis seeks to interpret the cinematic representations of Hong Kongers’ identity quest during a transitional state/stage related to the sovereignty transfer. The Handover transition considered is an ideological one, rather than the overnight polity change on the Handover day. This research approaches contemporary Hong Kong cinema on two fronts and the thesis is structured accordingly: Upon an initial review of the existing Hong Kong film scholarship in the Introduction, and its 1997-related allegorical readings, Part I sees new angles (previously undeveloped or underdeveloped) for researching Hong Kong films made during 1982-2002. Arguments are built along the ideas of Hong Kongers’ situational, diasporic consciousness, and transformed ‘Chineseness’ because Hong Kong has lacked a cultural/national centrality. This part of research is informed by the ideas of Jacques Derrida, Homi Bhabha and Stuart Hall, and the diasporic experiences of Ien Ang, Rey Chow and Ackbar Abbas. With these new research angles and references to the circumstances, Part II reads critically the text of eight Hong Kong films made during the Handover transition. In chronological order, they are Boat People (Hui, 1982), Song of the Exile (Hui, 1990), Days of Being Wild (Wong, 1990), Happy Together (Wong, 1997), Made in Hong Kong (Chan, 1997), Ordinary Heroes (Hui, 1999), Durian Durian (Chan, 2000), and Hollywood Hong Kong (Chan, 2002). They meet several criteria related to the undeveloped / underdeveloped areas in the existing Hong Kong film scholarship. Hamid Naficy’s ‘accented cinema’ paradigm gives the guidelines to the film analysis in Part II. This part shows that Hong Kongers’ self-transformation during transition is alterable, indeterminate, and interminable, due to the people’s situational, diasporic consciousness, and transformed ‘Chineseness’. This thesis thus contributes to Hong Kong cinema scholarship in interpreting films with new research angles, and generating new insights into this cinematic tradition and its wider context
    corecore