1,721,036 research outputs found
Profil Hematologi Tikus Pascaimplantasi Biomaterial Logam Terdegradasi Berbahan Dasar Besi (Fe) Berpori Pada Tulang Femur
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Profil Hematologi Tikus Pascaimplantasi Biomaterial Logam Terdegradasi Berbahan Dasar Besi Berpori. Sebanyak 60 tikus strain Sprague Dawley dengan berat rata-rata 175 gram dibagi dalam 4 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 15 ekor tikus dengan perlakuan implan berpori 450 um, 580 um, 800 um, dan kontrol. Implantasi dilakukan pada diafise tulang paha dengan ukuran implan 5 x 2 x 0.5 mm3. Sampel darah diambil pada hari ke- 0 praimplantasi serta hari ke-7, 14, dan 30 pascaimplantasi. Hitung darah lengkap dilakukan dengan menggunakan alat hematology analyzer. Analisa statistik menggunakan ANAVA dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implantasi material Fe berpori tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (p>0.05) terhadap nilai kontrol pada semua parameter hematologi kecuali persentase limfosit. Bahan implan Fe berpori 450 μm paling dapat diterima oleh tubuh tikus berdasarkan uji statistik yang tidak menunjukkan perbedaan nyata secara konsisten terhadap nilai kontrol pada semua parameter hematologi. Kesimpulannya, implantasi material Fe berpori tidak berpengaruh secara signifikan terhadap parameter hematologi
Perbandingan Profil Platelet pada Kucing Domestik yang Dikastrasi dengan Metode Kimia atau Ligasi (Pinhole)
Populasi kucing yang melimpah menjadi permasalahan masyarakat.
Kastrasi kimia atau ligasi adalah metode yang digunakan untuk pengendalian
populasi kucing. Metode kastrasi kimia atau ligasi dapat menginduksi kerusakan
endotel pembuluh darah pada jaringan yang akan berdampak pada sirkulasi darah
dan total platelet di dalam tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui
perbandingan profil platelet kucing domestik yang dikastrasi dengan metode kimia
atau ligasi. Penelitian ini menggunakan delapan ekor kucing jantan sehat yang
dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok tersebut adalah kastrasi kimia dan ligasi,
dimana setiap kelompok memiliki masing-masing empat ekor kucing. Metode
kastrasi kimia dilakukan dengan menginjeksikan larutan besi (III) klorida
heksahidrat 5 % pada testis kanan sebanyak 0.2 ml/testis. Kastrasi ligasi dilakukan
dengan mengligasi funiculus spermaticus pada testis kanan dengan jarum (18 G)
dan benang sutera (3-0). Seluruh kucing berumur lebih dari satu tahun. Kastrasi
dan pengambilan sampel darah dilakukan dibawah pengaruh anestesi ketaminexylazine.
Sampel darah diambil dari vena cephalica sebelum (H-0) dan sesudah
(H-14) kastrasi dan diukur menggunakan alat Hematology Analayser Vet Scan
HM5®. Parameter penelitian ini adalah Platelet (PLT), Plateletcrit (PCT), Mean
Platelet Volume (MPV), dan Platelet Distribution Width (PDW). Hasil dari
penelitian ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata profil platelet pada metode
kastrasi kimia cenderung menurun, yang ditunjukkan oleh penurunan rata-rata PLT,
PCT, MPV, dan PDW. Sementara itu, profil platelet pada metode ligasi
menunjukkan peningkatan nilai rata-rata PLT dan PCT, dan penurunan pada MPV
dan PDW. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa metode kastrasi
ligasi setelah 14 hari tidak ada pengaruh terhadap profil platelet kucing dan kastrasi
kimia memiliki kecenderungan penurunan pada parameter PLT dan PCT. Hal
tersebut menunjukkan bahwa kastrasi ligasi lebih aman dari pada kastrasi kimi
Studi Kasus Helminthiasis pada Sapi Perah di Kabupaten Garut Tahun 2014 – 2018
Helminthiasis merupakan penyakit akibat infeksi cacing dalam tubuh.
Penyakit parasit biasanya tidak mengakibatkan kematian hewan ternak, namun
menyebabkan kerugian berupa penurunan kondisi badan dan penurunan daya
produktivitas yang cukup tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
kejadian kasus helminthiasis pada sapi perah di Kabupaten Garut. Penelitian ini
menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan analisis data
sekunder. Data sekunder mengenai kejadian helminthiasis pada tahun 2014 – 2018
dibagi menjadi dua semester setiap tahunnya, yaitu semester ganjil terdiri dari
bulan Januari-Juni dan semester genap terdiri dari bulan Juli – Desember. Hasil
penelitian menunjukkan tingkat kejadian yang bersifat fluktuatif. Gejala klinis
yang terlihat pada umumnya berupa diare, letargi, menurunnya nafsu makan, dan
rambut kusam. Terapi yang diberikan berupa antelmintik dan suplemen vitamin B
complex. Faktor higiene, sanitasi kandang, dan manajemen pakan dapat
memengaruhi tingkat kejadian helminthiasis
Body Condition Score pada Sapi Perah FH (Freisian Holstein) Periode Kering Kadang di Kunak Cibungbulang Bogor
Body Condition Score (BCS) merupakan metode penilaian subyektif menggunakan penglihatan dan perabaan untuk menduga cadangan lemak tubuh. Penerapan BCS pada sapi perah dapat digunakan secara praktis untuk menduga cadangan energi dari lemak tubuh untuk melahirkan maupun produksi susu. Untuk mengetahui kegunaan BCS telah dilakukan kajian terhadap 30 ekor sapi perah kering kandang di Kunak, Cibungbulang, Bogor. Sapi yang digunakan berada pada usia kebuntingan ±7 bulan (10 ekor),±8 bulan (10 ekor),±9 bulan (10 ekor). Dari data tersebut diperoleh hanya 5 ekor yang masuk kategori BCS ideal, sisanya (25 ekor) perlu memperoleh penanganan gizi
Perubahan Fisiologis Domba Garut Model Osteoartritis Setelah Terapi Human Warthon Jelly Mesenchymal Stem Cell
Penyakit osteoartritis merupakan penyakit degeneratif yang umum diderita
manusia pada usia 40-60 tahun. Saat ini, pengobatan penyakit osteoartritis hanya
berupa mengurangi rasa nyeri, pembedahan, dan alat bantu gerak. Stem cell
dikembangkan menjadi alternatif pengobatan osteoartritis dengan tujuan
memperbaharui sel-sel tulang rawan yang rusak. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui efek pemberian sediaan human Warthon Jelly Mesenchymal Stem Cell
(hWJ-MSC) terhadap respon fisiologis domba Garut model osteoartritis. Dua
Belas ekor domba Garut betina dengan berat badan 35 - 40 kg dijadikan model
osteoartritis dengan melakukan menisektomi. Kemudian hewan model
diinjeksikan hWJ-MSC secara intra atrikular. Parameter yang diamati dalam
penelitian ini adalah frekuensi jantung, freuensi denyut nadi, frekuensi napas, dan
suhu rektal. Hasil penelitian menunjukan terdapat perubahan respon fisiologis
domba Garut sebagai hewan model osteoartritis setelah terapi hWJ-MSC
Echocardiography of Endocardiosis Mitral Valve Disease in Dog.
Endocardiosis is a disease in dogs characterized by progressive myxomatous degeneration of the atrio-ventricular valves, especially in the mitral valve. The alteration that occurred in the mitral valve and expanded within endocardium, myocardium thickness and internal chamber dimensions of the heart were described in detail by using echocardiography technique in this study. Eight small-breed dogs-Pomeranian were used in this study. Brightness mode (B-mode) echocardiography techniques was used to see the echotexture condition of endocardium, mitral valve, and abnormalities of the valve movement. The results showed endocardium thickening, along with chronic fibrosis and nodular thickening of the free edges of the anterior and posterior mitral valve leaflet. Significant changes that occur are dependent on the degree of severity in each dog. Three of seven cases showed prolapsed of the mitral valve. Motion mode (M-mode) echocardiography was used in order to measure the left ventricle internal chamber dimension, myocardium thickness, the fractional shortening, and the left atrial and aortic dimension. The results showed myocardium thickening, along with left atrial chamber enlargement. Myocardium thickness and chambers dimension increases are dependent on the degree of severity in each dog observed. Color flow Doppler echocardiography was used to confirm mitral valve regurgitation. Three of seven cases showed the presence of regurgitation signed by turbulence color of the mitral valve prolapsed. Based on the degree of the severity, scoring system used in this study, endocardiosis can be divided into three types that are mild, moderate and severe.Endokardiosis adalah penyakit pada anjing yang ditandai dengan adanya degenerasi myxomatous progresif pada katup atrio-ventrikular, terutama di katup mitral. Perubahan yang terjadi pada katup mitral dan semakin diperluas dengan adanya perubahan pada endokardium, penebalan pada miokardium dan perubahan ukuran dimensi internal ruang jantung sebelah kiri, digambarkan secara rinci dengan menggunakan teknik pencitraan ekhokardiografi dalam penelitian ini. Delapan anjing ras kecil-Pomeranian digunakan dalam penelitian ini. Teknik ekhokardiografi B-mode digunakan untuk melihat kondisi ekhotekstur endokardium, katup mitral, dan kelainan pergerakan katup. Hasil penelitian menunjukkan adanya penebalan endokardium, bersamaan dengan fibrosis kronis dan penebalan nodular dari tepi daun katup mitral anterior dan posterior. Perubahan signifikan yang terjadi tergantung pada tingkat keparahan masing-masing anjing. Tiga dari tujuh kasus menunjukkan katup mitral mengalami prolaps. Teknik ekhokardiografi M-mode digunakan untuk mengukur dimensi internal ruang ventrikel kiri, ketebalan miokardium, nilai dari fraksi pemendekan, serta ukuran dari dimensi ruang atrium kiri dan aorta. Hasil penelitian menunjukkan penebalan miokardium bersamaan dengan pembesaran ruang atrium sebelah kiri. Penebalan miokardium dan peningkatan dimensi ruang tergantung pada tingkat keparahan pada setiap anjing yang diamati. Ekhokardiografi color flow Doppler digunakan untuk menegaskan adanya regurgitasi katup mitral. Tiga dari tujuh kasus menunjukkan adanya kehadiran regurgitasi yang ditandai oleh warna turbulensi dari katup mitral yang prolaps. Berdasarkan tingkat keparahan penyakit, sistem pembobotan nilai digunakan dalam penelitian ini yang dapat membagi endokardiosis menjadi tiga tipe, yaitu ringan, sedang, dan parah
Profil Leukosit Anak Sapi Friesian Holstein yang Diinfeksi dengan Escherichia coli K-99 Pasca Pemberian Antibiotika Sulfadiazintrimethoprim.
Diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri Escherichia coli (kolibasilosis)
merupakan salah satu penyakit yang sering menginfeksi anak sapi. Penanganan
diare pada anak sapi yang biasa digunakan di lapang adalah pemberian antibiotika
sulfadiazin-trimethoprim. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil
leukosit anak sapi Friesian Holstein (FH) yang diinfeksi dengan bakteri
Escherichia coli (E. coli) K-99 pasca pemberian antibiotika sulfadiazintrimethoprim.
Sebanyak 12 ekor anak sapi FH berumur 5 hari yang digunakan
dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi 3 perlakuan, meliputi 1) kontrol
negatif/KN (tidak diinfeksi, tidak diberi sediaan apapun), 2) kontrol positif/KP
(diinfeksi, tidak diberi sediaan apapun), dan 3) perlakuan/AB (diinfeksi, diterapi
dengan antibiotika). Infeksi dilakukan dengan memberikan bakteri E. coli secara
oral dengan dosis 5x1010 CFU. Antibiotika diinjeksi secara intra-muskuler/IM
sekali sehari selama 3 hari berturut-turut setelah muncul gejala klinis. Sampel
darah diambil pada 0 jam (sebelum infeksi), 24, 48, dan 72 jam setelah infeksi
melalui vena jugularis externa kemudian dimasukkan dalam tabung darah
berantikoagulan K3EDTA. Sampel dianalisis terhadap jumlah leukosit total dan
diferensial leukosit. Kelompok KN menunjukkan jumlah leukosit total yang
fluktuatif pada waktu 0 jam hingga 72 jam pengamatan akibat adanya stres
kelahiran. Kelompok KP dan AB menunjukkan jumlah leukosit total yang tinggi
saat gejala klinis (diare) muncul. Kelompok KP pada 72 jam pengamatan masih
menunjukkan jumlah leukosit total yang tinggi. Kelompok AB cenderung
memperlihatkan penurunan jumlah leukosit total setelah injeksi antibiotika
sulfadiazin-trimethoprim
Sel Darah Putih Sapi Neonatus Friesian Holstein yang Diberi Kolostrum dan Ditantang dengan Escherichia coli
DINAR PRASISTA BACHRI. The White Blood Cell of Neonates Friesian Holstein Cows were Given Colostrum and Challenged With Escherichia coli. Under directed Drh. Anita Esfandiari, M.Si and Drh. Retno Wulansari, M.Si, Ph.D The aim of this research is to determine total white blood cell neonates Friesian Holstein (FH) cows were given colostrum and challenged with Escherichia coli. Fourth neonates FH cows were used in this experiment and consisting of two treatment, the treatment were given colostrum from the cows vaccinated with E. coli K-99 polivalen vaccine (3 calves) whereas the other ones were given milk. Colostrum and milk were given at 0 hour of neonates cows age and then challenged with E. coli K-99 5X1010CFU per oral at the 12 hour of post nates. Blood sample were taken from jugular vein on 0, 12th, 24th, 48th, 72nd, and 168th hour. Based on the observation, it can be concluded that the total of white blood cell colostrum treatment increased faster than milk treatment. Keywords: White blood cell, colostrum, neonates FH cows, E. coli K-9
IPB (Bogor Agricultural University)
Upaya pencegahan yang diharapkan dapat menekan kasus mastitis subklinis
adalah celup puting ke dalam larutan desinfektan setelah pemerahan, namun
peternak belum menerapkannya secara kontinyu. Hambatan yang dihadapi
peternak antara lain, sulitnya membeli desinfektan dan memperoleh alat untuk
celup puting (teat dipper). Kendala lainnya yang dapat mempersulit peternak di
lapangan adalah, desain dan cara penggunaan alat yang tidak sesuai dengan
bentuk puting sapi perah serta tata laksana pemeliharaan di peternakan rakyat.
Penelitian ini bertujuan merancang bangun prototipe alat celup puting yang sesuai
dengan bentuk puting sapi perah Indonesia dan tata laksana pemeliharaan ternak
di peternakan rakyat.
Penelitian terdiri dari 3 tahapan. Pertama mengetahui prevalensi mastitis
subklinis, mengukur kadar kalsium dalam darah, dan membuat data dasar anatomi
puting sapi perah. Kedua, merancang bangun prototipe alat celup puting, dan
ketiga adalah uji coba daya kerja prototipe alat celup puting. Desain penelitian
adalah kajian lapang lintas sektoral. Sampel merupakan sapi perah dalam masa
laktasi normal, periode laktasi pertama sampai dengan keenam. Besaran sampel
yang diperoleh adalah 324 ekor sapi perah yang dipelihara di beberapa wilayah
peternakan rakyat Provinsi Jawa Barat, diantaranya peternakan Kunak Kabupaten
Bogor, peternakan Baros Kabupaten Sukabumi, peternakan KUD Cianjur Selatan
Kabupaten Cianjur, peternakan KUD Tandang Sari Kabupaten Sumedang,
peternakan KUD Cikajang Kabupaten Garut, peternakan KSU Mitra Jaya Mandiri
Ciwidey dan KPBS Pangalengan Kabupaten Bandung.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, prevalensi mastitis subklinis pada
sapi perah di Jawa Barat sebesar 70.99%. Sebanyak 45.06% sapi perah menderita
mastitis subklinis dengan tingkat keparahan berat, sedangkan tingkat keparahan
ringan sebesar 25.93%. Mastitis subklinis dialami oleh sebagian besar sapi perah
pada setiap periode laktasi, dengan kejadian paling tinggi dialami oleh sapi laktasi
kelima (75.00%).
Kadar kalsium dalam darah sapi perah berada dalam rentang 7.65-8.88
mg/dL. Rerata kadar kalsium darah (8.21±1.14 mg/dL) menandakan bahwa
sebagian besar sapi perah di Jawa Barat mengalami kondisi hipokalsemia
subklinis. Semakin tinggi periode laktasi pada sapi perah, maka kadar kalsium
darah semakin rendah. Rerata kadar kalsium darah terendah (7.61±0.55 mg/dL)
dimiliki oleh sapi perah laktasi keempat. Rerata kadar kalsium darah pada sapi
perah positif mastitis subklinis dengan tingkat keparahan berat adalah 7.95±0.85
mg/dL, sedangkan pada tingkat keparahan ringan sebesar 8.23±1.23 mg/dL.
Rerata kadar kalsium darah pada sapi perah dengan kondisi ambing sehat adalah
8.43±1.29 mg/dL dengan rerata produksi susu 12.94±4.53 L/hari. Berbeda
dengan sapi perah positif mastitis subklinis yang memiliki rerata kadar kalsium
8.08±1.05 mg/dL dan rerata susu yang dihasilkan 12.55±4.89 L/hari.
Data bentuk eksterior puting sapi perah peranakan Friesian Holstein (pFH)
digunakan sebagai dasar (acuan) dalam merancang prototipe alat celup puting.
Puting sapi perah di Jawa Barat memiliki rerata ukuran pada ambing bagian
depan, yaitu 6.11 cm (panjang), 7.66-7.70 cm (lingkar), 2.42-2.44 cm (diameter).
Ambing bagian belakang memiliki ukuran yaitu, 4.88-4.94 cm (panjang), 7.07-
7.13 cm (lingkar), 2.24-2.25 cm (diameter). Jarak antara puting depan dan
belakang dari ambing bagian kanan dan kiri hampir sama (7.38 cm dan 7.27 cm)
dibandingkan dengan jarak antara puting kiri dan kanan pada ambing bagian
depan dan belakang yaitu 8.08 cm dan 3.02 cm. Jarak antara puting bagian depan
dengan lantai sebesar 54.65 cm dan bagian belakang dengan lantai, yaitu 55.62
cm.
Rancang bangun prototipe alat celup puting menghasilkan 2 alat yang
merupakan gabungan antara teknik semprot dan celup. Kelebihan prototipe alat
celup puting adalah: 1) lengan penyanggah yang memudahkan peternak sehingga
tidak perlu jongkok dalam melakukan celup puting; 2) dua cup untuk mencelup 2
puting depan-belakang secara bersamaan, diharapkan dapat mempercepat proses
pencelupan puting; 3) kedalaman cup yang sesuai dengan panjang puting sapi
perah sehingga seluruh permukaan puting dapat tercelup desinfektan; 4) bahan
yang tidak mudah rusak dan tahan lama; serta 5) gaya pompa untuk menghasilkan
tekanan sehingga desinfektan dapat mengalir ke atas mengisi cup tanpa perlu gaya
tekan manual (meremas botol) yang diharapkan dapat mempermudah peternak.
Uji coba alat dilakukan dengan menganalisis persentase selisih dari kualitas
mikrobiologik dan jumlah sel somatik dalam susu, sebelum dan setelah sapi diberi
perlakuan celup puting selama 2 minggu. Sapi perah yang diberi perlakuan celup
puting terbukti mengalami penurunan jumlah total mikroba, jumlah S. aureus,
jumlah koliform, dan jumlah sel somatik dalam susu. Berbeda dengan sapi perah
yang tidak diberi perlakuan celup puting, menunjukkan terjadinya peningkatan
jumlah total mikroba, jumlah S. aureus, jumlah koliform, dan jumlah sel somatik
secara signifikan.
Waktu yang diperlukan selama proses pencelupan puting menggunakan
prototipe alat celup puting lebih cepat dibandingkan dengan alat yang lama,
sedangkan waktu yang digunakan untuk membersihkan alat hampir sama diantara
ketiga alat. Berdasarkan keseluruhan parameter yang diuji, didapatkan daya kerja
dan efisiensi prototipe alat celup puting pompa samping lebih baik dibandingkan
dengan pompa atas dan alat celup puting lama. Penggunaan prototipe alat celup
puting terbukti efektif dalam proses desinfeksi puting setelah pemerahan. Celup
puting dapat menjadi solusi bagi peternak untuk meningkatkan kualitas
mikrobiologik dan menurunkan jumlah sel somatik dalam susu segar
Kejadian Penyakit Distemper dan Parvo pada Anjing Melalui Pendekatan Klinis, Studi di Rumah Sakit Hewan Institut Pertanian Bogor
Dog’s viral diseases, such as Distemper and Parvo have a high morbidity and mortality rate. There is no cure, the treatment is only based on the clinical signs which veterinarian could see. Vaccination is the only way to prevent these viral diseases. Based on Animal Hospital Bogor Agricultural University’s data, in Parvo case, pure breed dogs have a higher incidence rate than local and mix breed dogs. Then the age of infected dogs under 1 year with the highest incidence rate at age 3-6 months, whereas the male gender has a higher incidence rate than female. For the case of Distemper, mix breed dogs have a higher incidence rate compared with pure breed dogs. Age of Distemper infected dogs are varied between 2 months to 1 year and there is no gender specific has the higher-level events. Study which is conducted at Animal Hospital Bogor Agricultural University to obtain secondary data of the Distemper and Parvo suspects, as comparison to another secondary data of Bogor’s climate. Changes of rainfall amount as one of weather elements can indirectly affect the incidence of disease Parvo and Distemper, but has no specific pattern. This is seen in both Parvo and Distemper cases, but the number of Parvo cases more than Distemper because CPV is more resistant due to the environment and easily mutate
- …
